Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Guru yang Menebarkan “Virus Menulis”


Kalaulah ada guru yang suka menebarkan “virus menulis” maka dialah Irzen Hawer namanya, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanahdatar. Cobalah bayangkan, dalam waktu dua tahun (2009-2010) beliau telah merampungkan empat buah novel dengan ketebalan antara 250-300an halaman. Berarti dalam setahun dua novel ditulisnya. Ini luar biasa!

Sungguh saya terkaget-kaget dibuatnya. Di usia yang tidak lagi muda, malah “darah muda” itu baru kini datangnya. Saya saja yang genap berusia 30 tahun saat novel Prosa Cinta di Kota Serambi ini diterbitkan, hanya baru mampu merampungkan satu judul novel. Ingin menulis novel kedua terasa berat kepala. Tapi semangat yang ditularkan Irzen Hawer—maaf, izinkan saya memanggil nama saja—ini, membuat saya tertantang untuk mengejar ketertinggalan meski sejujurnya peluang untuk menulis banyak buku bagi saya lebih besar dibanding Irzen Hawer yang jauh usianya di atas saya. Konon lagi bagi pecinta sastra yang berusia di bawah saya.

Pelajaran berharga yang diberikan pengarang yang sukses dengan novelnya Cinta di Kota Serambi (2010) ini adalah bahwa mengarang itu benar-benar gampang. Dalam mengarang cerita, beliau sendiri berangkat dari pengalaman masa kecil, khususnya di masa-masa sekolah seperti yang terlihat di dalam Cinta di Kota Serambi. Pengalaman masa kecil itulah yang didramatisir sedemikian rupa sehingga benar-benar menarik dibaca. Memang, cara gampang mengarang adalah dengan mengambil sumber ide cerita terdekat dari diri si pengarang, itulah pengalaman impirik atau juga pengalaman orang lain yang dilihat si pengarang. Irzen Hawer sudah membuktikan cara itu sangat efektif.

Motivasi menulis novel diawali Irzen Hawer ketika di akhir tahun 2008 silam ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Rumah Puisi Taufiq Ismail. Saat itu ia bertemu dengan Ahmad Tohari pengarang Ronggeng Dukuh Paruk, novelnya yang terkenal itu. Dari diskusi-diskusi singkat dengan Ahmad Tohari, Irzen Hawer tertarik pula menulis novel. Siapa sangka, pada tahun 2009 terjadi revolusi pada dirinya, ia mampu merampungkan novel Cinta di Kota Serambi yang terbit di awal tahun 2010—diterbitkan Kuflet Publishing, Padangpanjang. Berkat novel itu dalam sekejap namanya melejit, ia pun dikenal banyak orang, dan tentu saja prestasinya itu membanggakan bagi SMA Negeri 1 Batipuh tempat ia menyiram ilmu kepada murid-muridnya, juga khususnya kepada Padangpanjang kota kelahirannya.

Sejujurnya, atas semangatnya menulis novel itu, saya ‘tersengat’ pula dan ‘merasa iri’ untuk mengikuti jejaknya. Saya memotivasi diri agar bisa menulis panjang, duduk berlama-lama di depan kumputer, juga membaca banyak buku untuk menambah perbendaharaan kata, agar dapat pula saya menulis novel seperti dirinya. Alhamdulillah, asal ada niat jalan pun terbuka, dan berhasil pula saya menulis sebuah novel lalu terbit pada pertengahan Januari 2011 di Yogyakarta. Adapun novel yang saya karang itu berjudul Rinai Kabut Singgalang, yang ceritanya tak jauh-jauh juga dari suasana kota Padangpanjang yang sejuk dan molek ini.

Usai Rinai Kabut Singgalang terbit, seorang warga Padangpanjang lainnya secara tidak terduga diam-diam menulis novel pula. Namanya Berlian Persada. Novelnya berjudul Lafaz Cinta dari Surga diturunkan secara bersambung di media online Korandigital.com. Novel Berlian ini dalam waktu dekat juga akan diterbitkan, menyusul sukses tiga novel yang telah terbit dan beredar luas ke tengah masyarakat (Cinta di Kota Serambi, Rinai Kabut Singgalang, dan Prosa Cinta di Kota Serambi). Dan tak hanya Berlian Persada, seorang siswi MAN/MAPK Padangpanjang bernama Mardhiyan Novita M.Z disaat ia masih duduk di bangku kelas 3, merampungkan pula sebuah novel berjudul Penyair Merah Putih lalu terbit di Jakarta (2011). Mardhiyan adalah siswa Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufiq Ismail.

Nama-nama pengarang novel di atas adalah beberapa orang di antara sekian banyak warga Padangpanjang, yang saya kira, juga memiliki potensi yang sama di bidang tulis menulis dan perlu sama-sama diorbitkan. Eksistensi mereka adalah aset masa depan Kota Padangpanjang. Saya yakin banyak karya-karya besar lainnya yang ditulis oleh warga Padangpanjang namun belum mendapat kesempatan untuk diterbitkan. Semua potensi itu hendaknya menjadi perhatian serius banyak pihak, sebab dengan karya-karya mereka yang fenomenal dan dibaca banyak orang, nama Padangpanjang dengan sendirinya ikut terbawa harum. Andrea Hirata, pengarang Trilogi Laskar Pelangi sudah membuktikan hal itu. Hanya dengan menulis novel, Andrea Hirata telah mengangkat potensi Pulau Belitung kampungnya yang terpencil di tengah lautan, dan sekarang Belitung terkenal di mana-mana berkat Laskar Pelangi dan berbondong-bondong orang datang ke sana.

Tepatlah kiranya bila saya menyebut bahwa Irzen Hawer adalah seorang guru yang menebarkan “virus menulis” kepada banyak orang, memantik api semangat masyarakat untuk menulis, khususnya di Padangpanjang. Caranya ia membuktikan sendiri dengan menerbitkan novel-novel karangannya yang fenomenal dan diminati. Semua orang yang membaca kisah-kisah yang ditulisnya tertarik untuk mengarang lalu menerbitkan buku, sehingga semakin banyaklah warga Padangpanjang yang menulis buku.

Tahniah buat “Pak Guru” Irzen Hawer. Teruslah berkarya. Sesudah Cinta di Kota Serambi (2010) dan Prosa Cinta di Kota Serambi (2011) ini terbit, kita akan tetap menantikan karya-karya besarnya yang lain. Semoga.

*) Pengarang Novel Rinai Kabut Singgalang

Catatan:
Tulisan ini sebuah Prolog untuk Novel Prosa Cinta di Kota Serambi karya Irzen Hawer (2011)

Selasa, 22 Februari 2011

Lirik Lagu “Ode Rinai Kabut Singgalang by Muhammad Jujur


Resah ku menggema, mengganti duka nestapa
Apapun ku t'rima, semampu ku pendam
Tak sanggup ku terka, dan tak sempat ku bertanya
Diriku sendiri dalam sepi

Sunyi hati ini, sesunyi embun di gunung
Rinai kabut hati di puncak Singgalang
Aku pergi jauh melangkah di dalam sepi
Batu nisan ini lambang cinta

Cahaya redup kau terang menghias
Ku reguk... Tak kan ku lepaskan
Kau ku peluk... hening... sepi...
Janjimu, oh Rahima…
Walaupun di dunia ini kita terpisah
Ku nanti dikau di sana...
Cinta kita di dunia tak pernah nyata

Setiap waktu musim berlalu
Terkenang Rinai Kabut Singgalang
Menjadi saksi
Membisu….

(Song by: Muhammad Jujur)

(Videoklip “Ode Rinai Kabut Singgalang” dapat didownload di Youtube dengan mengklik tautan ini: http://www.youtube.com/watch?v=IF2P3EkL-8E)

Sabtu, 19 Februari 2011

Rinai Kabut Singgalang, Novel Baru yang Mengharu Biru


Salam Sastra!

Telah Terbit…!!!
Novel Berlatar Ranah Minang
“RINAI KABUT SINGGALANG”
Karya Muhammad Subhan
Terbit Januari 2011
Penerbit Rahima Intermedia, Yogyakarta
Tebal 396 halaman
Harga Rp 48.000 (Diluar ongkos kirim)
ISBN: 978-602-98158-0-1

Pesan Langsung ke Pengarangnya…!!!
Hubungi No Hp 0813 7444 2075 atau 0819 9351 6937
Atau via facebook: rinaikabutsinggalang@yahoo.com

Silahkan download lagu “Ode Rinai Kabut Singgalang” disini:
http://www.reverbnation.com/muhammadjujur

(Catatan: Bila info ini bermanfaat, kami sangat berterima kasih bila Anda berkenan menyebarkan pesan ini kepada rekan-rekan lainnya)

Salam kreatif!

*****

SINOPSIS NOVEL RINAI KABUT SINGGALANG

Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri), perempuan asal Pasaman (Sumatera Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekad menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang”, “orang di pinggang”, “orang yang tak berurat-berakar”. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medankota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orang tua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (gila), lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat. dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sebelum ke Padang, Fikri mencari mamaknya (paman) di Kajai, Pasaman. Di kampung asal ibunya itu, Fikri sempat merawat paman Safri yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Namun akhirnya Mak Safri tewas dibunuh akibat suatu perkelahian. Fikri pun meninggalkan Kajai hijrah ke Padang. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─ bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang”, “orang di pinggang”.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Annisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong Ningsih ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam kesendirian, dalam keterpiuhan perasaan lantaran pengkhianatan cinta. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Sampaikah Fikri dan Rahima bersua di kemudian hari ataukah pemuda malang itu hanya bertepuk sebelah tangan? Simak kelanjutan kisah yang mengharu-biru perasaan ini, dan menguras air mata dalam setiap babnya…

*****

SEJUMLAH ENDORSEMENT

Syarat sebuah novel adalah adanya konflik. Muhammad Subhan mampu membangun konflik yang kuat dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, hingga jalinan cerita mengalir bening. RKS mampu menerbitkan rasa penasaran untuk mengikuti cerita selanjutnya. Satu lagi yang memperkuat novel ini adalah setting, dan tradisi budayanya. Kearifan lokal dalam novel memang senantiasa mencipta aroma eksotik. (Dianing Widya Yudhistira, Novelis)

Awalnya saya tak percaya, ucapan Sutan Takdir Alisyahbana suatu hari, sastrawan besar akan terlihat dari novelnya. Memang, novel bukan ada cerita lantas sekadar ditulis. Ada riset, ada referensi, dan banyak lagi. Itu alasan STA. Dan Muhammad Subhan telah melakukannya dalam RKS, sehingga tidak kentara bahwa penulisnya adalah orang Aceh, karena terasa kaki Singgalang benar-benar tergambarkan dalam ceritanya. (Sutan Iwan Soekri Munaf, Penyair, Cerpenis)

Menikmati RKS, pengarang dengan cerdas mengelompokkan kata dalam latar, alur, dan konflik melalui para tokoh yang dihadirkannya. Sesungguhnya bila ditelisik lebih jauh, segala peristiwa merupakan realitas diri pengarang yang ditemuinya dalam lingkungan berkehidupan. Peristiwa inilah yang disebut realitas sastra. Kecerdasan novelis meramu tiga dimensi sastrawi; estetika-etika-logika yang ditransformasikannya sebagai medium pendidikan dan moralitas bagi pembaca. Ini yang membuat RKS berkualitas. (Sulaiman Juned, Penyair, Kolumnis, Sutradara Teater, Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang)

Lebih dari sekedar romantisme kejayaan sastrawan Minangkabau, utamanya pada era Balai Pustaka, RKS menghadirkan kekhasan dan nilai-nilai etis-etnik Minang, dengan kelancaran berselancar di atas alur kisah dan tukikan emosi, kadang landai kadang curam. Tentunya dengan nuansa baru. (Muhammad Nasrudin, Editor, Pegiat Buku)

Roman eksotis-romantis ini tak jemu mengajak saya hanyut seturut panorama alam nan elok dari negeri bernama Minangkabau. Pengarang cukup lihai meracik keelokan alam yang berkelok-kelok naik turun “disebangunkan” dengan kelokan ketegangan-ketegangan di dalam kisahnya. Asmara yang mengharu-biru. Betapa serunut “adat” asmara tak memiliki setitik pun kuasa, melawannya alamat menuai derita tak tertanggungkan. Pengusiran, cerai persaudaraan, stigma buruk, bahkan dituduh sebagai penyebab kematian orang-orang yang ditinggalkan. RKS mengajak pembaca menikmati hingga tanda titik paling akhir dari cerita ini. (Akhiriyati Sundari, Ketua Komunitas MATAPENA Yogyakarta)

Rasa minang hadir dalam kisah perkisah RKS. Pengarangnya mengingatkan kita pada Hamka yang populer dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Kisah yang mengharubirukan perasaan. Bahasanya halus, pengarang berhasil mendeskripsikan perasaan yang mendalam para tokohnya, hingga tak dinyana pembaca bagai dihanyutkan oleh tragedi cinta yang amat sentimentil, tragis, dan berurai air mata. (Irzen Hawer, Pengarang Novel Cinta di Kota Serambi)

******

TENTANG PENGARANG

RINAI KABUT SINGGALANG adalah novel pertama yang ditulis Muhammad Subhan. Ia lahir di Medan, Sumatera Utara, berdarah Aceh-Minang. Sejak masih sekolah di SMP Negeri 6 Krueng Geukueh dan SMA Negeri 1 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, ia sangat suka mengarang. Saat usia sekolah itu, sejumlah puisi, cerpen, dan artikelnya pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Aceh.

Bakat menulisnya terus berkembang sejak tahun 2000 ia memutuskan menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, Sumatera Barat, diantaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Garda Minang, Media WatchMimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010). Pernah menjadi editor Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com)Sabiliwww.korandigital.com yang berpusat di Belanda (2007-2010), dan kontributor Majalah Islam (2008-2010). Sejak April 2010 ia memimpin Media Online yang berbasis di Kota Serambi Mekah Padang Panjang. (2000-2003), Harian

Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Selain wartawan ia bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Koordinator Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi.

Beberapa puisi dan tulisannya terkumpul dalam antologi bersama, diantaranya; Lautan Sajadah (Antologi Puisi, Himabasindo FKIP/Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi, eSastera Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, Apsas, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Kumpulan Liputan Perburuhan, AJI Indonesia, 2009), dan Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Evaluasi Kredit Mikro Nagari yang ditulis bersama wartawan senior Asril Chaniago dan Ekoyanche Edrie, Bappeda Sumbar, 2009). Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik di: aan_mm@yahoo.com atau Hp 081374442075. Add ia di facebook via email fb: rinaikabutsinggalang@yahoo.com.

COVER BUKU DAPAT DILIHAT DI: http://www.facebook.com/profile.php?id=100000023212114#!/photo.php?fbid=183580531652719&set=a.161592157184890.38374.100000023212114&theater

Salam Sastra!

Jumat, 11 Februari 2011

Suatu Siang, di Kafe Samping Gedung Gramedia Padang

Catatan Tiara Mairani (Ala 'alaa Lazadouw)

Siang tadi, aku dan teman-teman mampir ke Toko Buku Gramedia di Jalan Damar Padang. Siang sangat teriknya. Udara membawa gerah. Kami berempat orang sepulang sekolah. Kawan-kawan mengajakku melihat-lihat novel terbitan terbaru di toko buku favoritku itu.

Maka bergegaslah kami masuk ke dalam gedung Toko Buku Gramedia yang besar. Di bagian rak buku-buku baru, aku dan teman-teman melihat novel-novel terbitan terbaru. Di sana ada Trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, ada Negeri Lima Menara dan Ranah 3 Warna karya A. Fuadi. Bersisian dengan novel Ranah 3 Warna karya A. Fuadi, ada novel yang covernya cukup menarik, novel itu berjudul Rinai Kabut Singgalang karya Muhammad Subhan.

Aku sih sudah lama memiliki Rinai Kabut Singgalang (RKS). Langsung aku pesan ke penulisnya plus dapat tanda tangan unik yang diberikan Bang Muhammad Subhan. Sejak aku memiliki RKS, buku itu tak dapat sejenak diam di tanganku, terus berpindah-pindah tangan dari satu orang ke orang yang lain. Bahkan istri adik ibuku yang bersama keluarganya bertugas di Aceh, juga ikutan membaca RKS. Jadi RKS yang ditandatangani penulisnya langsung itu, tidak bersamaku lagi sekarang. Sudah terbang jauh meninggalkan Padang ke negeri Tanah Rencong.

Siang itu, sebagai pengganti novel RKS yang aku kirim ke Aceh, aku dan teman-teman membeli novel RKS yang baru di Gramedia. Tentu saja novel RKS yang berlabel plastik dan masih baru itu tidak ada tanda tangan penulisnya. Tapi tak apalah, suatu waktu nanti bila bertemu aku minta lagi tanda tangan penulisnya. Eh, tahu tidak, aku membeli RKS juga diikuti ketiga orang temanku. Mereka ikut membeli RKS, katanya tertarik ingin membacanya, seperti apa isi novel itu. Jadilah semua kami membeli RKS siang itu. Pokoknya heboh, deh!

Dan, seusai membayar pembelian novel itu di bagian kasir, kami menyempatkan singgah di sebuah kafe di samping Gramedia. Kami makan minum di sana. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada tiga orang ibu-ibu yang rupanya habis membeli buku juga di Gramedia. Aku lihat di tangan mereka memegang Novel Ranah 3 Warna dan Novel Rinai Kabut Singgalang. Mereka pun aku dengar memperbincangkan kedua novel itu yang ditulis oleh putra Minang. Rupanya, baik novel Ranah 3 Warna dan Rinai Kabut Singgalang itu sudah cukup dikenal di Sumatera Barat.

Karena duduk kami berdekatan, tentu saja aku mendengar jelas perbincangan mereka. Kadang mereka tertawa dan berbicara serius mendiskusikan novel itu. Kata seorang ibu yang berpakaian PNS, “Anak-anak sekarang kurang bangga dengan karya-karya sastra negeri mereka sendiri. Remaja sekarang lebih suka baca novel-novel terbitan asing.” Pendapat ibu itu diaminkan oleh teman-temannya yang lain.

Wah, pokoknya asyik sekali aku dan teman-teman menyimak perbincangan ibu-ibu itu. Tidak aku sangka bila kami sejodoh, sama-sama menyukai kedua novel itu.

Karena hari kian sore, kami pun segera beranjak meninggalkan kafe itu dan berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Teman-temanku berjanji akan menamatkan membaca Rinai Kabut Singgalang dan mendiskusikannya di sekolah nanti. Buat Bang A Fuadi dan Bang Muhammad Subhan, selamat deh, karyanya cukup inspiratif dan aku turut bangga sebagai orang Minang yang memiliki penulis-penulis muda yang hebat. Aku semangat juga untuk jadi penulis, neh. Amin…

Padang, 11.02.2011

Kamis, 10 Februari 2011

Prosa dan Semesta Luka

Oleh Damhuri Muhammad

SEJUMLAH pengamat sastra menuding “warna-lokal”─sebagai ultimate concern prosa yang muncul sejak beberapa tahun belakangan─tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum, terminologi, bahkan peribahasa khas lokal dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya. Sebutlah misalnya, kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2009) karya Ragdi F Daye, yang penuh-sesak oleh ungkapan khas Minangkabau semacam “melepongkan,” ‘basilemak,” dan “manggoro,” yang bila tidak merujuk pada glosarium yang terukur tentulah bakal membuat kening pembaca berkerut─utamanya pembaca berlatar belakang non-Minangkabau. Modus dan siasat literer serupa juga dapat ditemukan dalam Bulan Celurit Api (2010) karya Benny Arnas, dengan diktum khas melayu Lubuk Linggau (Sumsel) seperti “Singup,” “Pudur,” dan “Tarup.” Begitupun diksi khas Bugis yang berseliweran dalam antologi cerpen “Mengawini Ibu,” (2011) karya Khrisna Pabichara.

Sekilas-pintas klaim itu barangkali ada benarnya. Namun, bila ditelisik lebih menukik, “warna-lokal” tidaklah sesederhana sebagaimana yang diduga. Mewabahnya jenis prosa dengan ekspresi estetik yang tegak-berdiri di atas “warna-lokal” sejatinya bukan tanpa sebab, tidak taken for granted, sebagaimana wejangan yang meluncur dari langit ke tujuh. Sebab paling absah adalah karena realitas “Indonesia” yang selama berkurun-kurun hendak diniscayakan sebagai fondasi kepengarangan para sastrawan bertumpah-darah Indonesia, kini rapuh─untuk tidak menyebut “telah runtuh.” Megaproyek yang dirancang oleh para founding of the fathers guna memancangkan “Indonesia” sebagai realitas universal telah gagal. Tak disangkal bahwa secara teritorial realitas “Indonesia” masih terang-benderang, tapi secara kultural, adakah seorang pakar yang sanggup membulat-lonjongkan sebuah definisi tentang “kebudayaan Indonesia?” Alih-alih mengunci sebuah pemahaman yang paripurna tentang Indonesia sebagai entitas universal, yang kerap bersilang-pintang dalam keseharian kita adalah Indonesia rasa Jawa, rasa Makassar, rasa Toraja, rasa Batak, rasa Aceh, dan seterusnya. Maka inilah sebuah kurun tempat segala bentuk totalitas dan universalitas dirobohkan. Sebuah episode sejarah ketika segala rupa partikularitas terus-menerus menyesak, “yang pinggiran” senantiasa merangsek masuk, “yang terabaikan” bermunculan seperti cendawan musim hujan.

Kaum filsuf pasca-modernisme menyebut “yang partikular,” “yang pinggiran,” “yang tak terperhatikan” itu sebagai “yang lain” (the others). Bagi mereka, entitas “yang lain” (Minang, Batak, Bugis, Banjar, Toraja, dll) itu harus di-“afirmasi,” diakui, dihargai keberadaannya. Bila tidak, ia akan terus mengancam, dan menjadi benalu dalam entitas universal bernama “Indonesia” itu. Dalam kacamata pasca-modernisme, tidak ada pusat, tidak ada pula pinggiran. Semuanya berjalin-kelindan dalam sebuah jejaring permainan tanda bernama: Simulakra. Tak ada makna tunggal dalam lingkaran Simulakra. Sebab, makna selalu tenggelam─atau menenggelamkan diri─dalam keberbagaian pengalaman baca dan tafsir yang tiada berhingga. Differance, begitu Jacques Derrida (1930-2004) menamai kompleksitasnya.

Maka, baik “Indonesia” maupun “warna-lokal” tidak sebatas kata-kata, bukan pula benda-benda, artefak, melainkan “peristiwa” yang terus berubah, bermetamorfosa, beralih-rupa, dan oleh karena itu, akan terus ditunda kuasa tafsir tunggalnya. Di-“dalamkurungkan” semua asumsi dan presuposisi tentangnya. Epoche, begitu fenomenolog Edmund Husserl (1859-1938) menamainya. Namun, bila teks prosa melulu disibukkan oleh hasrat asali hendak merobohkan fondasi dan kedigdayaan pusat atau “yang universal,” sebagai karya artistik, di manakah pendekatan estetik dapat dilekatkan? Ini pertanyaan yang perlu segera didudukkan, karena selama ini terminologi “estetika” selalu identik dengan ukuran indah-buruk. “Estetika” berasal dari kata “aesthesia” yang berarti “kesadaran” (sensibility). Di dunia medis, kita mengenal suntikan “an-aesthesia” (“hilangnya kesadaran)” bagi pasien yang akan dioperasi. Berangkat dari situ, filsuf Jacques Ranciere dalam Disensus, On Politics and Aesthetics (2010) menegaskan bahwa estetika tidak ada hubungannya dengan parameter indah-buruk. Maka, seni yang berpijak pada fondasi “mimetik” (Plato) dan fondasi “etic” (Arisoteles), bagi profesor bidang estetika di Ecole Normale Superieure, Paris itu sudah lapuk. Ranciere menyebut orientasi “mimetic” dan “etic” dalam ekspresi seni sebagai aesthetic regime of art, dan karena itu harus dirobohkan. Baginya, dunia seni tidak lagi berperan menggambarkan realitas fakta-fakta keras, atau mengejar konsekuensi etis bagi para penikmatnya, melainkan sebagai upaya meredistribusikan kesadaran (redistribution of sensibility), termasuk kesadaran melawan aesthetic regime of art, dan kuasa tafsir tunggal.

Novel Rinai Kabut Singgalang (2011) karya Muhammad Subhan ini sedang meredistribusikan kesadaran terhadap luka personal untuk kemudian menjadi luka yang jamak dirasakan para pembacanya. Disebut “meredistribusi,” karena sebelum dituliskan, luka itu telah terdistribusi ke dalam imaji pengarang. Kata “rinai” pada redaksi judulnya mengingatkan saya pada sebuah lagu pop Minang bertajuk Rinai Pembasuh Luka. “Rinai” yang secara harfiah berarti “gerimis” tampaknya diarahkan pada maksud metaforik: membasuh luka yang bakal terus berdarah. Betapa tidak? Peristiwa luka yang dialami Fikri (tokoh utama) seperti menapaktilasi kembali luka yang pernah dialami ibu-bapaknya di masa lalu. Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri), perempuan asal Pasaman (Padang) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekat menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang,” “orang di pinggang,” yang tak berurat-berakar. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orangtua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa, lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Diceritakan, Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Di titik ini, ada perubahan paradigmatik dalam konsep merantau. Bila di masa lalu, merantau adalah pergi menuju sesuatu, tapi perantauan Fikri adalah sebuah ikhtiar meninggalkan sesuatu; luka. Riwayat perjalanan Fikri dimanfaatkan pengarang untuk merekam jejak-luka yang pernah menimpa ibunya, Maimunah. Di Pasaman, Fikri sempat merawat paman Safri─di Padang disebut “mamak─yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang,” “orang di pinggang.” Menurut hemat saya, alibi yang mengatasnamakan adat itu tampaknya tidak lagi terlalu penting, sebab alasan inti dari penolakan itu adalah karena Fikri laki-laki miskin. Di titik ini pengarang tidak saja melakukan redistribution of sensibility, tapi juga berupaya mengekalkan persepsi tentang luka itu dari pangkal hingga ujung novel ini. Jacques Ranciere menyebut upaya kreatif semacam ini sebagai petrification, membatukan pengalaman personal untuk menjadi kesadaran orang banyak.

Dari sisi kebaruan, novel ini belum terlalu menjanjikan. Sebab, eksplorasi tematiknya lebih banyak bergelimang dengan hal-ihwal usang yang dalam roman-roman karya pengarang Minang tahun 40-an sudah ramai diperbincangkan. Sebutlah misalnya roman-roman karya Buya Hamka seperti Merantau Ke Deli (1940) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939). Garis identifikasi tematiknya lebih kurang sama, meski latar-tempatan dan waktu pengisahannya berbeda. Sebentuk stok baru dari barang lama. Namun, pencapaian estetika novel tentu tidak bisa ditimbang semata-mata dengan aspek kebaruan. Oleh karena itu, kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sesungguhnya dapat ditandai dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai terabaikan. Nestapa cinta Fikri dan Rahima boleh jadi setali tiga uang dengan kasih tak sampai Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tapi romantika semacam ini dapat mengingatkan kembali bahwa keistimewaan roman berlatar lokalitas Minangkabau memang dapat tertandai di titik ini. Resistensi terhadap adat-istiadat, ketersingkiran kaum laki-laki lantaran kuatnya tikaman “garis ibu,” dan konsep keterusiran yang dilemah-lembutkan dengan terminologi “merantau.” Muhammad Subhan, sedang berusaha melakukan konservasi ingatan dan kenangan terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terus bergejolak di bawah permukaan.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Anisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong suaminya ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam keterpiuhan perasaan. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Penggambaran semesta kepiluan dan dukalara Fikri yang begitu dramatik─Fikri bahkan sempat berkeinginan menenggelamkan dirinya ke laut─dan sesekali berpola sinetronik, menurut hemat saya bertolak belakang dengan militansi dan watak pantang-menyerah laki-laki yang tumbuh-besar di bumi Serambi Mekah. Pada bagian eksplorasi kesedihan, Fikri tampak sebagai laki-laki yang gampang sekali menangis dan berlarut-larut dalam kesedihan. Sangat berbeda dengan watak Sidan, tokoh rekaan dalam Nirzona (2008), novel berlatar Aceh karya Abidah el-Khalieqy. Keras, tangguh, dan tak gampang dihempas gelombang.

Padahal, di penghujung kisah, Fikri menjadi laki-laki yang terlahir kembali. Ia pengarang tersohor, bahkan salah satu novelnya akan dilayar-lebarkan. Alur kisah yang mengingatkan saya pada ketokohan Zainudin dalam Tenggelamnya Kapal Vander Wick, yang pada akhirnya sukses sebagai dramawan terkemuka. Pada salah satu bagian tentang keberhasilan Fikri dituliskan “Hamka baru lahir kembali di Padang,” memperlihatkan obsesi kepengarangan yang terdorong oleh kekaguman pada riwayat kepengarangan Buya Hamka. Kabar tentang keberhasilan Fikri membuat Ningsih (orang yang telah memisahkannya dengan Rahima), tak segan-segan menjilat ludah sendiri. Lagi pula, pada saat yang sama, Rahima sedang tertimpa masalah; suaminya menjadi tersangka korupsi, dan bunuh diri di penjara. Sejatinya, rasa cinta Fikri pada Rahima tiada bakal punah, meski pengkhianatan itu sukar ia lupakan. Atas dasar itu pula Fikri memenuhi undangan Ningsih untuk datang ke Jakarta, perempuan itu hendak mempertemukan kembali “kasih tak sampai” yang telah membuat perasaan Fikri-Rahima tercabik-cabik. Namun, novel ini disudahi dengan cara sangat tragis, kepulangan Ningsih, Rahima, dan Fikri bukan kepulangan yang membahagiakan. Pesawat yang mereka tumpangi tergelincir. Rahima selamat, tapi Fikri mengalami geger-otak, dan karena itu ia merasa tak memenuhi syarat lagi untuk menjadi suami Rahima. Ia meminta sejawat karibnya, Yusuf, untuk menikahi Rahima. Saat ijab-kabul pernikahan itu berlangsung, Fikri menghembuskan napas penghabisan. Begitulah. Lantaran pada mulanya luka, pengarang pun menimbun romantikanya dengan luka.

DAMHURI MUHAMMAD
Cerpenis, esais Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Bermukim di pinggiran Jakarta

Sabtu, 05 Februari 2011

Email Seorang Pembaca Novel "Rinai Kabut Singgalang"

Friday, February 4, 2011 9:33 AM
From: syamri_can@yahoo.com
Add sender to Contacts
To: aan_mm@yahoo.com

Ass, Bang Subhan. Maaf baru ini saya sempat menuliskan sebaris dua baris kata buat abang. Seperti yang saya konfirmasikan lewat sms kemaren, saya sangat kagum dan tertarik akan novel Anda yang berjudul "Rinai Kabut Singgalang". Saya selama ini memang sangat memuji buku-buku karangan Buya Hamka, bahkan untuk mendapatkan buku yang berjudul "Merantau ke Deli" saya harus bersusah payah untuk terbang ke Yogjakarta.

Dengan membaca buku karangan abang saya tersa membaca ulang Novel karangan Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck". Saya kira selama ini tidak akan ada lagi orang yang akan menulis dengan gaya tulisan Buya Hamka. Semoga abang tidak berhenti menulis sampai disitu. Saya berharap bakat menulis abang juga bisa dikembangkan ke buku-buku yang lain. Terus terang dengan membaca novel abang saya terbuai pada masa-masa yang saya sendiri tidak akan tahu kapan terjadinya. Selama ini saya memang menyukai novel dengan gaya penulisan yang berlatarkan budaya, seperti novel karangan Buya Hamka dan Andrea Hirata.

Saat ini saya juga lagi mencoba belajar menulis, namun belum dapat tersusun secara sistematis. Maklum sajalah bang. Oh ya, saya berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu dan berdiskusi lebih lanjut tentang berbagai hal. Saya juga berharap abang tidak keberatan untuk menerima salam perkenalan dari saya:

Nama: Syamri
Tempat tgl/lahir: Koto Salak, 10 Oktober 1982
Kota sekarang: Dharmasraya
Hp 0813 74 55 43 89

Saya juga berharap abang dapat memberikan saya info-info terbaru yang bersifat membangun lewat fasilitas email ini. Sekian dulu ya bang, semoga di kesempatan yang lain kita masih dapat menyambung silaturrahmi kita. Amin.

Wassalam
Syamri

Inilah balasan email dari saya:

Waalaikumussalam...

Syamri, senang sekali saya menerima email ini. Terima kasih telah memberikan apresiasi terhadap RKS, novel perdana saya. Sebagaimana kekaguman Syamri terhadap Buya Hamka, demikian pula halnya saya. Seluruh buku-buku yang ditulis Buya Hamka, sangat suka saya membacanya. Bahasanya halus, hanyut kita membaca hingga titik ke penghabisan. Memang sudah jarang buku-buku bergaya tulisan Buya Hamka, karena perubahan zaman yang kian pesat.

Sebagaimana harapan Syamri, insya Allah sesudah RKS saya sedang berupaya menerbitkan novel kedua, namun masih dalam proses penulisan. Doakanlah saya mudah-mudahan segera rampung novel itu dan dapat menemui pembacanya.

Oh ya, besar harapan saya bila Syamri berkenan mempromosikan RKS ke kawan-kawan lainnya, baik di Padang maupun di Dharmasraya agar manfaat novel ini dapat lebih luas dirasakan semua orang. Bila pun tidak ada manfaat, tapi setidaknya RKS mudah-mudahan dapat ikut mewarnai jumlah sastra modern yang saya bumbui gaya penulisan klasik.

Sekali lagi terima kasih. Salam saya buat keluarga.

Wassalam
Muhammad Subhan

Rabu, 02 Februari 2011

Kisah Kasih Tak Sampai dalam Novel "Rinai Kabut Singgalang"

Oleh Tiara Mairani*)

Secara umum mungkin orang berpikir bahwa novel hanyalah sekedar sebuah cerita perjalanan hidup dan kisah-kisah cinta seseorang. Sebuah cerita yang nyata jika dijelaskan dari covernya dan ada dari sebuah khayalan seorang pengarang.

Dapat dilihat banyak orang hanya membaca novel begitu saja dan setelah tamat ya sudah. Sekedar hiburan menghabiskan waktu luang. Tanpa memahami dan mengambil nilai-nilai yang ditanamkan pengarang dari cerita itu untuk dapat ditiru sisi baiknya. Dan, generasi muda sekarang lebih cenderung suka pada novel dari luar negeri dan diluar wilayah ranah Minang. Sementara penulis dan sastrawan terkenal banyak yang berasal dari ranah Minang. Sebut saja diantaranya, Buya Hamka dan Taufiq Ismail adalah sastrawan yang berasal dari ranah Minang dan diakui karya-karyanya yang membawa pencerahan. Sekarang ini, pengarang muda asal Padang Panjang, Muhammad Subhan yang baru menerbitkan novelnya berjudul "Rinai Kabut Singgalang" telah menjadi penerus Taufiq Ismail, Buya Hamka dan sastrawan lainnya.

Sebagai generasi muda hari ini kapan kita ingin berkarya dan mewarisi mereka? Siapa lagi yang akan menjadi penerus mereka kalau bukan kita? Hilangkanlah sifat malas yang telah tertanam dalam diri kita masing-masing. Ayolah mulai membaca dan menulis. Keluarkan inspirasi dan jadi penerus yang dapat dicontoh oleh generasi selanjutnya. Mari bersama-sama kita 'mambangkik batang tarandam'. Buktikan pada dunia bahwa kita mampu untuk berkarya dan menjadi penulis (sastrawan) terbaik.

Sekarang, mulailah kita mencintai karya dari negeri sendiri dan daerah kita masing-masing. Tentu kita tidak akan rugi untuk banyak membaca, karena membaca dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Mungkin, sebagian besar di antara kawan-kawan belum membaca novel RKS yang banyak mengandung nilai-nilai dan juga sangat mendidik. Novel ini terbit Januari 2011 diterbitkan Penerbit Rahima Intermedia Publishing, Yogyakarta. Prolog ditulis Damhuri Muhammad, seorang cerpenis dan esais nasional yang juga orang awak namun berdomisili di Jakarta.

Dalam novel ini, pengarang sangat pandai membangun konfik yang kuat dan ditulisnya dengan bahasa sederhana namun begitu mengesankan. Pembaca seolah ikut terlibat di dalamnya. Dalam bab per babnya, pengarang banyak menanamkan nilai-nilai luhur yang tentu saja pembaca dapat menjadikannya sebagai ibrah (pelajaran). Latar cerita sangat mendukung dan alur yang tidak mudah membuat pembaca bosan.

Pengarang menanamkan nilai agama yang kuat pada tokoh utama (Fikri). Fikri yang sangat taat dalam menjalani tugas dari Yang Maha Kuasa dan suaranya yang merdu membuat semua orang yang mendengar adzan yang dikumandangkannya serta irama bacaan Quran, banyak orang kagum dan bangga kepadanya. Fikri pun sempat menjadi guru untuk memberi pengajian kepada ibu-ibu majelis taklim yang dipimpin oleh Bu Aisyah (orangtua angkat Fikri di Padang).

Fikri mengenal Bu Aisyah pada saat ia menumpang bus dari Aceh kampung ayahnya menuju Kajai, kampung kelahiran ibunya. Fikri berdarah Aceh-Minang. Ibunya (Maimunah) berasal dari Kampung Kajai, Pasaman dan ayahnya (Munaf) berasal dari Aceh.

Dikisahkan, pernikahan Maimunah dan Munaf tidak direstui oleh keluarga ibunya. Dengan alasan Munaf orang datang. Terjadilah konflik itu, sementara Maimunah sangat mencintai Munaf. Lalu Maimunah menentang adat di kampungnya, ia pun tetap menikah dengan Munaf dengan cara pergi meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya. Kepergian Maimunah itu, membuat orang tuanya menanggung malu hingga jatuh sakit dan meninggal dunia. Sementara kakak Maimuna, Safri, ikut pula sakit--mengidap gangguan jiwa--hingga iapun dipasung orang kampung di tengah kebun manggis di kaki Gunung Talamau.

Singkat cerita, Fikri pergi meninggalkan kampung ibunya itu menuju Padang. Tujuannya untuk kuliah, disamping ia menghadapi cobaan dengan tewasnya mamaknya Safri akibat dianiaya oknum pemuda. Sejak itu, ujian dan cobaan terus menderanya.

Di Padang, ia bertemu Rahima, seorang gadis remaja yang molek parasnya dan baik budi bahasanya. Ia pun jatuh hati kepada gadis itu yang tak lain adalah putri Bu Aisyah. Dan, ternyata Bu Aisyah juga sangat sayang kepada Fikri. Bu Aisyah lah yang mempertemukan Fikri dengan Bu Rohana, orangtua angkat kedua Fikri dimana ia menumpang tinggal, di Teluk Bayur.

Perhubungan kasih antara Fikri-Rahima tak berjalan mulus dan berbuah kekecewaan. Ningsih, kakak Rahima, menentang hubungan itu, karena di mata Ningsih, Fikri dianggap orang miskin, tidak jelas asal usul dan hanya mempunyai orangtua angkat. Hingga terjadilah kasih tak sampai antra Fikri-Rahima yang keduanya saling mencintai.

Ningsih memaksa Rahima agar menikah dengan laki-laki pilihannya di Jakarta. Rahima berontak tapi ia tak kuasa. Selama ini Ningsih yang membiayai sekolahnya, demikian juga untuk kebutuhan Bu Aisyah. Hidup Rahima pun diatur Ningsih.

Pengarang membentuk karakter yang kuat pada tokoh Fikri, meski sekilas terkesan Fikri sosok yang lemah. Betapa tidak, saat masih di Aceh ayah Fikri meninggal dunia, disusul ibunya berpulang ke Rahmatullah ketika Fikri telah menginjakkan kaki di Padang. Tak lama kemudian, adik yang disayanginya, Annisa, ikut pula meninggal akibat bencana tsunami yang menggulung Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Lengkaplah sudah penderitaan Fikri. Tinggallah ia sebatang kara di perantauan (Padang). Satu yang dia syukuri, bahwa semasa di Padang itu ia memiliki seorang sahabat karib yang selalu ada disampingnya ketika ia menghadapi suka dan duka. Dialah Yusuf, sahabat yang ia kenal sejak ia menginjakkan kaki pertama kali di Kajai, kampung ibunya.

Yusuf selalu menyadarkan Fikri ketika pemuda itu mulai putus asa. Yusuf yang memberinya semangat untuk tegar menjalani hidup. Hingga akhirnya Fikri terbangun dan mampu menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi sarjana dan berhasil jadi pengarang tersohor yang karyanya difilmkan. Banyaklah orang memujinya, bangga kepadanya.

Di sini pengarang menjelaskan bahwa seolah-olah Fikri melupakan segala masalahnya dengan cara berkarya. Sungguh sempurna sosok seorang Fikri yang selalu tabah dengan semua cobaan yang datang bertubi-tubi mendera dirinya. Walaupun setiap kali mengingat masa lalunya itu, Fikri selalu manangis berurai air mata. Seolah tampaklah kelemahannya sebagai seorang laki-laki. Tetapi sesungguhnya Fikri adalah sosok yang sangat kuat dan selalu bersemangat.

Pengarang juga mengingatkan kembali kekecewaan yang dialami Fikri. Pernikahan Rahima dengan laki-laki yang dijodohkan Ningsih tidaklah langgeng. Rumah tangga Rahima hancur, suaminya mati bunuh diri karena malu korupsi. Disinilah puncak penyesalan Ningsih yang salah pilih, sementara sesungguhnya Ningsih sayang kepada Rahima. Rupanya, perjodohan yang dibuat Ningsih itu lantaran Ningsih punya hutang budi kepada laki-laki yang menjadi suami Rahima.

Sepeninggal suaminya yang telah tiada, dalam suatu acara launching film yang diangkat dari novel karya Fikri di Jakarta, tanpa diduga bertemulah Ningsih, Rahima dan Fikri. Sesudah pertemuan itu Rahima jatuh sakit. Pada saat itulah Ningsih timbul ibanya dan menyesal akan segala perbuatannya kepada Fikri dan Rahima dulu. Akhirnya Ningsih insaf dan memutuskan meminta maaf kepada Fikri dan menjilat ludahnya sendiri. Ia meminta Fikri yang telah tinggal di Bukittinggi agar berkenan menjenguk Rahima di Jakarta.

Maukah Fikri datang menjenguk Rahima, orang yang pernah menjadi kekasihnya itu? Yusuf, sahabat Fikri, mulanya menentang keinginan Fikri berangkat ke Jakarta menejnguk Rahima, karena kakak perempuan itu (Ningsih) itu telah menghancurkan hidupnya. Tapi akhirnya Fikri tetap berangkat. Di titik ini pengarang menjelaskan betapa mulianya hati seorang Fikri yang sedikit pun tak menaruh dendam meski ia pernah disakiti. Fikri memenuhi undangan Ningsih menjenguh Rahima yang terbaring sakit.

Ketika Fikri menjenguk Rahima, perempuan itu mulai pulih dari sakitnya. Ningsih pun ingin mempertemukan kembali kasih mereka yang dulu tak sampai. Tapi saat itu Fikri seolah tak lagi memiliki rasa dan ia berkeras ingin kembali pulang ke Bukittinggi. Ningsih menahannya, dengan cara mengajaknya pulang bersama ke Padang menjenguk pusara ibunya.

Musibah tak dapat ditolak. Pada saat Fikri dan Rahima ke Padang dari Jakarta menumpang pesawat udara, kendaraan yang mereka tumpangi itu tergelincir. Ningsih tewas, Rahima selamat sedangkan Fikri mengalami geger otak dan dirawat di rumah sakit.

Di sini pengarang mampu membuat ending cerita yang menakjubkan. Karena merasa tidak memenuhi syarat lagi sebagai suami Rahima, Fikri meminta sahabatnya Yusuf agar mau menikahi Rahima. Dan, saat itu Yusuf telah membeli sebuah rumah di Koto Baru, di kaki Gunung Singgalang. Di sanalah akhir cerita novel ini. Pada saat Yusuf mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu, disaksikan Fikri yang sedang terbaring sakit, saat itulah Fikri menghembuskan nafas terakhirnya. Sangat terpukullah hati Yusuf dan Rahima.

Namun sesudah kematian Fikri itu, beberapa bulan kemudian Rahima jatuh sakit dan akhirnya ia pun meninggal dunia, menyusul kekasihnya itu. Meski telah menikah secara sah, dimasa hidupnya tak sedikit pun Yusuf menyentuhnya, layaknya antara istri dan suami. Sebab Yusuf tahu sungguh besar cinta Rahima kepada Fikri, sahabatnya itu. Atas permintaan Rahima, berkuburlah perempuan itu disamping pusara Fikri, di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. Dalam setiap doanya, Yusuf meminta kepada Tuhan agar kedua kekasih yang saling mencintai itu dipertemukan di surga.

Sungguh, banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari kisah yang tersurat dalam novel yang penuh air mata disetiap babnya ini. RKS lahir dengan kondisi kekinian meski ditulis dengan gaya tutur yang akrab ditemukan pada roman-roman pujangga baru, semacam roman-roman yang ditulis Buya Hamka, pengarang Minang yang tersohor namanya itu. ***

*) Tiara Mairani, siswi SMA Negeri 15 Padang, penikmat buku-buku sastra, tinggal di Padang

Rinai Kabut Singgalang, Sebuah Novel Pembelajaran Tentang “Maut”

Oleh Irzen Hawer

Awal kisah, di sebuah kampung kecil di pesisir pantai Aceh Utara, tokoh Fikri tak kuasa menghadapi situasi ayahnya yang sedang meregang nyawa (maut).

Di paruh kisah, di depan matanya, Mak Syafri mamaknya merenggang ‘maut’ kerena ditikam oleh orang –yang sebenarnya dialah (Fikri) target penganiayaan oleh beberapa pemuda yang tidak senang kehadirannya di Kajai-Pasaman, sebuah dusun tanah kelahiran ibunya.

Setelah Fikri hijrah ke Padang, selanjutnya orang-orang yang dekat, malah sangat dicintainya, beruntun menghadapi ‘maut’. Mulai Maimunah ibunya Fikri yang meninggal di Aceh, Bu Aisyah ibu angkatnya yang meninggal karena tekanan perasaan di Padang, adiknya Annisa beserta suami dan anaknya turut meninggal akibat bencana tsunami Aceh, Ningsih yang meninggal sekeluarga akibat kecelakaan pesawat menuju Padang –yang kunjungan ini dalam rangka merekat kembali hubungan adiknya Rahima dengan Fikri, alhasil Fikri yang juga sepesawat dengan Ningsih, juga meninggal dunia. Dan terakhir di ending cerita Rahima juga menyusul Fikri menghadapi ‘maut’.

Novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) yang tebalnya 396 halaman, yang membuat saya terpaku dan terharu membaca dan menghabiskan waktu 30 jam menamatkannya –yang menurut perkiraan saya novel ini bakal jadi pembicaraan di mana-mana-- oleh pengarangnya, kita diajak menemui sang guru, yaitu ‘maut’.

Maut atau kematian itu sendiri memberikan nasehat kepada kita, seperti hadist Rasulullah SAW:

“Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menhadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat". (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunya)

“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya)

Fikri (tokoh utama cerita), telah menjadi pemuda cerdik dari kausalitas peristiwa ‘maut’ yang beruntun ini. Mengapa tidak? Andai saja. Ya, andai ayahnya masih segar bugar dia akan jadi anak yang selalu hidup di bawah ketiak orang tuanya, bercengeng-cengeng, manja seperti segelintir anak yang lain. Andai mamaknya terus hidup dia akan terjebak ‘menebus dosa’ ibunya dulu dengan menghabiskan umur merawat mamaknya yang terlantar, terpasung di tengah rimba di kampung Kajai-Pasaman. Andai Bu Aisyah masih hidup, agak sulit alasan Ningsih ‘melarikan’ Rahima ke Jakarta –yang menyebabkan Fikri terkapar berdarah-darah patah hati --yang kemudian dengan kejadian ini telah menyulapnya jadi pengarang besar dan tersohor.

Siapa yang kuasa melawan ‘maut? Mengapa maut datang silih berganti? Ada apa di balik maut dan bagaimana menyikapinya bila melanda orang-orang yang dicintai? Inilah pembelajaran moral yang ditawarkan Muhammad Subhan pengarang novel ini kepada kita, seperti kutipan dalam novel ini:

“Apa lagi yang kau pikirkan? Kita orang beriman, serahkan semua urusan pada Allah” (hal. 222). Inilah nasehat Ustad Rahman kepada Fikri di tenda posko relawan pasca benca tsunami Aceh.

“Tapi saya tak ingin menyerah dalam hidup ini. Saya ingin terus berjalan sampai akhir perjalanan itu. Alhamdulillah, pendidikan di panti menggembleng mental saya untuk tegar. Saya terus belajar, khususnya mendalami agama. Dalam agama inilah saya menemukan ketenangan dan memahami makna hidup sebenarnya…”(hal. 223).

Hikmah yang kita tuai dari novel yang banyak mendeskripsikan keelokan alam ranah Minang ini adalah; Pertama, di balik peristiwa maut ada beberapa nasehat untuk kita. Kedua, kita harus berani hijrah ke tempat lain bila tempat yang semula tidak kondisif dari segi sosial, ekonomi dan pendidikan seperti yang dilakukan tokoh Fikri. Ketiga, kita harus sabar menghadapi berbagai badai penderitaan dan selalu berpegang teguh pada tali Allah.

Sebenarnya bicara tentang hikmah yang tersirat dalam RKS ini sangat banyak tergantung intuisi dan apresiasi kita. Yang pasti novel adalah kritik sosial terhadap kehidupan semasa pengarang hidup. Dalam RKS ini banyak kita temui kritik-kritik moral –adat yang kaku– perkawinan yang tidak berlandaskan cinta, dan lain sebagainya.

Kehadiran novel Rinai Kabut Singgalang ini, telah memunculkan harapan baru dan berandil besar dalam menyemarakkan kesusasteraan Indonesia kembali. Terutama mengusung kearifan lokal Minang yang pernah berjaya pada Angkatan Balai Pustaka. Malah pangarang-pengarang Minang pernah merajai kesusasteraan Nusantara dulu, sebutlah Sutan Takdir Alisyahbana, Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Marah Rusli, Asrul Sani, AA Navis, Taufiq Ismail, Hamka, dll.

Seperti harapan yang digores Damhuri Muhammad dalam Prolog novel ini; “Kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sungguh dapat ditandai dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai diabaikan….” Juga harapan-harapan endorsement pada kulit belakang RKS (Dianing Widya Yudhistira, Sutan Iwan Soekri Munaf, Sulaiman Juned, Muhammad Nasruddin, Akhiriyati Sundari dan Irzen Hawer) yang mengungkap penuh semangat kemunculan RKS ini.

Semoga terbitnya RKS memotivasi pengarang-pengarang muda Minang untuk terus berkarya dan cepat merilis novelnya, dan terus mewarnai kesusasteraan Indonesia, hingga kapan pun dan dimana pun. Amin. []

Penulis peminat buku-buku sastra dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanah Datar.

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=13610

Cinta Minang, Lahirkan Novel Laris "Rinai Kabut Singgalang"

KEINDAHAN alam Ranah Minang menjadi inspirasinya melahirkan karya sastra. Dalam waktu relatif singkat, tiga bulan, di tahun 2010, ia merampungkan sebuah novel berlatar Minang berjudul "Rinai Kabut Singgalang". Novel itu terbit Januari 2011, di Yogyakarta, dan menjadi "pengobat rindu" para perantau Minang akan Ranah Bundo, Sumatera Barat yang permai. Saat ini, "Rinai Kabut Singgalang" termasuk novel terlaris.

Namanya Muhammad Subhan, kelahiran Medan namun berdarah Aceh-Minang. Obsesinya menjadi pengarang sudah tertanam sejak ia duduk di bangku kelas dua SMP di sebuah kampung kecil di Aceh Utara. Buku sastra favoritnya adalah roman-roman karangan Buya Hamka. Sejak 2000, di masa Aceh masih dalam konflik, ia hijrah meninggalkan Tanah Rencong dan menetap di Sumatera Barat.

Di Negeri "Urang Awak" itulah kemampuan menulisnya terasah. Disamping sejak tahun 2000 ia memutuskan menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, diantaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Garda Minang, Media Watch (2000-2003), Harian Mimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010). Pernah menjadi editor Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com) yang berpusat di Belanda (2007-2010), dan kontributor Majalah Islam Sabili (2008-2010). Sejak April 2010 ia memimpin Media Online www.korandigital.com yang berbasis di Kota Serambi Mekah Padang Panjang.

Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Selain wartawan ia bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Koordinator Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi.

Beberapa puisi dan tulisannya terkumpul dalam antologi bersama, diantaranya; Lautan Sajadah (Antologi Puisi, Himabasindo FKIP/Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi, eSastera Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, Apsas, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Kumpulan Liputan Perburuhan, AJI Indonesia, 2009), dan Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Evaluasi Kredit Mikro Nagari yang ditulis bersama wartawan senior Hasril Chaniago dan Ekoyanche Edrie, Bappeda Sumbar, 2009.

Suatu hari, seorang guru Bahasa Indonesia berkunjung ke Rumah Puisi Taufiq Ismail tempat Subhan bekerja. Guru itu berkeluh kesah bahwa novel-novel berlatar Minang sekarang tidak ditemukan lagi di pasaran. Padahal, tema-tema tentang Minang tidak pernah habis untuk digali dan selalu dicari para pembacanya. Orang rindu novel-novel yang ditulis secara sederhana, tidak picisan, tidak mengumbar syahwat seperti banyak ditemukan novel-novel dewasa ini.

"Berangkat dari uneg-uneg seorang guru itulah, saya tertarik menulis novel tentang Minang dan ditulis dengan bahasa sederhana," kata laki-laki yang memiliki seorang istri dan dianugerahi seorang putra ini.

Kata "rinai" berasal dari bahasa Minang yang telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya gerimis atau hujan rintik-rintik. Di daerah sekitar Gunung Singgalang di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Nagari Aie Angek, kawasan ini selalu memiliki ciri khas, yaitu senantiasa diselimuti kabut bila hujan rintik-rintik turun. Tentu saja, panorama itu sangat indah sekali.

"Terinspirasi dari pemandangan alam yang luar biasa itulah, novel ini saya tulis," ujar Subhan.

Sinopsis

Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri--tokoh utama), perempuan asal Pasaman (Sumatra Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekad menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang”, “orang di pinggang”, “orang yang tak berurat-berakar”. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orang tua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (gila), lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sebelum ke Padang, Fikri mencari mamaknya di Kajai, Pasaman. Di kampung asal ibunya itu, Fikri sempat merawat paman Safri yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Namun akhirnya Mak Safri tewas dibunuh akibat suatu perkelahian. Fikri pun meninggalkan Kajai hijrah ke Padang. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─ bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang”, “orang di pinggang”.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Annisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong suaminya ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam kesendirian, dalam keterpiuhan perasaan lantaran pengkhianatan cinta. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Di akhir kisah, Fikri digambarkan sebagai laki-laki yang terlahir kembali. Ia menjadi pengarang tersohor, bahkan salah satu novelnya dilayar-lebarkan. Banyak orang memujinya. Kabar tentang keberhasilan Fikri membuat Ningsih (orang yang telah memisahkannya dengan Rahima), tak segan-segan menjilat ludah sendiri. Lagi pula, pada saat yang sama, Rahima sedang tertimpa masalah; suaminya menjadi tersangka korupsi, dan bunuh diri di penjara. Sejatinya, rasa cinta Fikri pada Rahima tiada bakal punah, meski pengkhianatan itu sukar ia lupakan. Atas dasar itu pula Fikri memenuhi undangan Ningsih untuk datang ke Jakarta, perempuan itu hendak mempertemukan kembali “kasih tak sampai” yang telah membuat perasaan Fikri-Rahima telah tercabik-cabik. Namun, kisah novel ini disudahi dengan cara sangat tragis, kepulangan Ningsih, Rahima, dan Fikri ke Padang ternyata bukan kepulangan yang membahagiakan. Pesawat yang mereka tumpangi tergelincir. Rahima selamat, tapi Fikri mengalami geger-otak, dan karena itu ia merasa tak memenuhi syarat lagi untuk menjadi suami Rahima. Ia meminta sejawat karibnya, Yusuf, untuk menikahi Rahima. Saat ijab-kabul pernikahan itu berlangsung, Fikri menghembuskan napas penghabisan. Menutup mata untuk selamanya, dan dikubur di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. (*)

Senin, 26 April 2010

CATATAN TIGA HARI DI SEMEULUE: Dari Diskusi Jurnalistik Hingga Kagumi Pantai Babang yang Eksotik



Oleh: Muhammad Subhan

BANDARA Lasikin Pulau Simeulue masih basah ketika pesawat penumpang Susi Air berukuran kecil mendarat di landasannya Jumat, 16 April 2010, pagi itu. Jam baru menunjukkan pukul 7.45 WIB. Belum tampak aktivitas yang terlalu mencolok. Hanya beberapa petugas bandara dan penyambut tamu terlihat di ruang tunggu.

Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di Pulau Simeulue, Provinsi Aceh setelah sekian lama kerinduan itu membuncah dalam jiwa saya. Selama ini Simeulue hanya ada dalam mimpi-mimpi saya. Dan alhamdulillah mimpi itu terwujud setelah Pemimpin Redaksi Surat Kabar Simeulue (SKS) Awaluddin Kahar mengundang saya secara pribadi dalam rangka memberikan pelatihan jurnalistik sebagai upaya meningkatkan SDM karyawan dan wartawan SKS yang ia pimpin. Selain didampingi Bang Awkar–demikian saya akrab menyapa Awaluddin Kahar—ikut pula bersama kami Sekretaris Redaksi SKS Joni Kusma, putra Simeulue yang selama ini beraktivitas di Padang, Sumatera Barat.

Dari dalam pesawat ketika masih di udara, aura eksotisnya Pulau Simeulue telah terlihat. Mengenangkan saya pada Pulau Bali yang beberapa kali pernah saya singgahi. Sama-sama memiliki keindahan alam yang luar biasa. Hanya saja bedanya Bali telah berkembang pesat di sektor pariwisata dan mendatangkan banyak wisatawan, sedangkan Simeulue baru bangkit mengejar ketertinggalannya. Simeulue baru 10 tahun menjadi kabupaten definitif, bagian dari Provinsi Aceh. Tak mustahil kalau beberapa puluh tahun kemudian Simeulue bisa menjadi “Pulau Bali”nya Sumatera.

Tentu saja itu tidak sekedar mimpi. Simeulue memiliki potensi yang layak dikembangkan di sektor pariwisata. Keindahan pantai berbatu karang (pantai Babang), sebagian pantai berpasir putih dan landai (khususnya di Teupah Selatan), kekayaan laut baik lobster, ikan, maupun terumbu karang, serta kemajemukan budaya lokalnya, menjadikan Simeulue bernilai “layak jual”.

Semua potensi itulah yang kiranya menjadi jawaban atas pertanyaan saya selama ini, mengapa sosok Awaluddin Kahar berminat “pulang kampung” lalu membangun media di sebuah kabupaten yang masih muda. Rupanya, tekad pengabdian itu yang menggerakkan hati mantan wartawan Harian Singgalang Padang ini untuk ikut bersama pemerintah daerah mencerdaskan kehidupan masyarakat Simeulue agar melek media dan menggalakkan budaya membaca-menulis di kalangan generasi muda. Tentu saja, daerah-daerah yang berkembang pesat pembangunannya di luar Simeulue, adalah daerah yang masyarakatnya adiksi buku, suka membaca dan menulis.

Upaya mencerdaskan masyarakat lewat media massa ini pula yang mendasari saya tertarik berbagi pengalaman dengan kru SKS selama dua hari, sejak Jumat, 16 April 2010 hingga Sabtu, 17 April 2010, di kantor SKS Jalan Teungku Diujung, Desa Amiria Bahagia, Kota Sinabang. Disinilah saya bertemu langsung dengan wartawan-wartawan SKS yang sebagian besar berusia relatif muda namun punya potensi luar biasa menjadi jurnalis profesional.

Meski baru pertama kali ke Simeulue, namun saya tidak asing dengan kawan-kawan wartawan SKS, sebab sejak 2009 saya diamanahkan Pemred SKS Awaluddin Kahar menjadi editor “jarak jauh” koran ini. Dari Kota Padang Panjang, Sumatra Barat tempat saya tinggal, saya selalu memonitor perkembangan Simeulue melalui berita yang ditulis kawan-kawan. Tiga nama yang cukup saya kenal lantaran produktivitas mereka menulis adalah Tarmizi, Asmadi MS dan Sumadi. Di Simeulue itu saya bersua langsung dengan mereka. Membaca masing-masing karakter, serta berbagi pengalaman di bidang penulisan. Selain mereka, juga ada beberapa wartawan baru dan bagian distribusi/iklan, salah seorangnya Roni Aminesta yang selama di Padang saya cukup dekat dengannya.

Di antara wartawan SKS hanya Tarmizi yang terbilang senior karena ia juga bekerja sebagai koresponden salah satu koran harian terbitan Medan. Di SKS jabatannya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Tulisannya cukup baik dan sering diangkat menjadi berita utama (headline). Yang paling produktif adalah Asmadi MS, wartawan muda yang energik. Hanya saja dari segi penulisan berita yang ditulisnya masih perlu terus diasah, baik tata bahasa, ejaan, penggunaan kata serapan, maupun efektivitas kata dalam sebuah berita. Namun demikian, Asmadi seringkali menjadi “dewa penyelamat” ketika berita yang akan dilayout jumlahnya kurang. Asmadi inilah yang sering berkoordinasi dengan saya khususnya via telepon seluler. Tentu saja karena jabatannya cukup strategis, yaitu sebagai Koordinator Liputan (Korlip) yang membawahi tugas wartawan SKS lainnya.

Satu lagi wartawan SKS, namanya Sumadi. Oleh kawan-kawannya sering disapa dengan sebutan “Pak Keuchik”. Perawakannya tinggi besar. Murah senyum dan suka bercanda. Meski dalam menulis berita ia mengakui masih perlu banyak belajar, namun saya menilai Sumadi punya bakat jadi wartawan. Satu dua berita featurenya telah dimuat SKS, dan perlahan ia mulai memahami teknik penulisan feature. Yang mengagumkan saya, Sumadi tidak sungkan-sungkan bertanya jika ia benar-benar tidak tahu tentang suatu persoalan.

Selama dua hari itu saya konsentrasi memberikan materi pendalaman jurnalistik, masing-masingnya Teknik Menulis Berita, Kiat Wawancara, Teknik Menulis Feature, dan Foto Jurnalistik. Selain saya, materi juga diberikan Pemred SKS, Awaluddin Kahar, khususnya tentang manajemen media sekaligus memberikan motivasi kepada karyawan dan wartawan SKS agar lebih profesional bekerja.

“SKS ini perusahaan kita bersama. Untuk itu harus sama-sama kita hidupi, dengan bekerja bersungguh-sungguh,” ujarnya mengingatkan.

Dalam materi Teknik Menulis Berita saya menekankan pentingnya memasukkan unsur 5W + 1H (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, bagaimana). Unsur ini sangat urgen untuk mengetahui fakta dan data sebuah berita. Bagi wartawan pemula seringkali rumus ini tak diindahkan yang mengakibatkan berita menjadi kering data.

Pada materi Kiat Wawancara, kawan-kawan diarahkan untuk memahami teknik melakukan wawancara yang baik, agar narasumber bebas memberikan jawaban yang diajukan wartawan tanpa merasa diinterogasi. Di antara kiat itu, adalah pentingnya kesiapan wartawan dalam melakukan wawancara, baik siap fisik, mental, membuat daftar pertanyaan, buat daftar janji, dan juga kelengkapan alat tulis/perekam. Tentu akan tidak profesional ketika wawancara berlangsung si wartawan meminjam pena kepada nara sumber.

Dalam hal membuat janji seringkali wartawan tidak disiplin soal waktu. Ketidakdisiplinan ini akan berakibat fatal. Sebab umumnya narasumber dari kalangan pejabat hanya punya waktu sedikit. Mereka orang super sibuk. Maka jika wartawan berjanji akan melakukan wawancara pukul 9.00 pagi, hendaknya telah tiba di lokasi yang dijanjikan sebelum waktu yang ditentukan. Ya, wartawan harus lebih dulu tiba dari orang yang ditunggunya (narasumber).

Dalam materi Teknik Menulis Feature, kawan-kawan diarahkan untuk memahami pentingnya nilai sebuah feature di media massa. Media-media besar seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, tidak pernah meninggalkan feature masuk di setiap lembar halaman koran mereka. Umumnya feature mendapat tempat di kolom bagian kaki.

Secara sederhana, features ialah tulisan kreatif yang dirancang guna memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian dan situasi, atau aspek kehidupan seseorang. Features cenderung dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas, kadang-kadang dengan sentuhan subjektivitas si penulis terhadap peristiwa dan situasi. Bahasa yang digunakan pun khas, bahasa sastrawi, tidak sama dengan berita biasa (hard news, dll). Bahkan, Majalah Tempo hampir seluruh halamannya bergaya feature. Dan yang terpenting, feature lebih awet dan tahan lama dibanding berita biasa.

Materi terakhir adalah Foto Jurnalistik. Disini dijelaskan pentingnya menguasai seluk beluk kamera dan teknik pengambilan foto (fokus). Sebab, layaknya berita, sebuah foto sama nilainya dengan seribu kata. Foto bisa berbicara meski tanpa teks yang menyertai. Namun demikian, pemuatan teks foto bisa lebih mewarnai nilai sebuah foto jurnalistik.

Yang menarik, kawan-kawan juga saya berikan contoh beberapa foto hasil jepretan fotografer dunia yang memenangkan penghargaan Pulitzer, maupun juga foto pemenang Anugerah Adinegoro 2009, yaitu foto korban gempa hasil jepretan fotografer Harian Singgalang Padang, Muhammad Fitrah. Ternyata, hanya dengan keterampilan “mengkodak-kodak” seorang wartawan foto bisa sangat profesional setelah mendapat penghargaan nasional maupun internasional. Wartawan SKS tentu juga mempunyai peluang seperti itu.

Keempat materi itu tentu saja tidak cukup didalami selama waktu dua hari. Saya membaca ketidakpuasan kawan-kawan lantaran singkatnya waktu. Tapi apa hendak dikata, hasrat hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Keempat materi itu setidaknya menjadi pedoman dasar bagi kawan-kawan untuk mengembangkan tulisan yang lebih baik agar pembaca SKS puas dan menjadikan SKS sebagai media referensi di Simeulue.

Usai memberi pelatihan, semua kru SKS rehat di Pantai Babang, sebuah objek wisata yang dibuka TNI melalui kegiatan manunggal. Pantai yang cantik, meski masih banyak kekurangan, seperti tidak adanya pondokan tempat beristirahat pengunjung, MCK dengan air yang memadai, akses jalan masuk yang belum diaspal, serta tidak adanya kios-kios yang menjual minuman, makanan maupun souvenir. Namun yang pasti pantai ini bisa terus dikembangkan dan menjadi salah satu ikon pariwisata Simeulue.

Waktu yang tersisa sehari kami habiskan di Teupah Selatan, kampungnya Joni Kusma, salah seorang kawan saya. Inilah daerah yang menjadi pusat tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Kami berangkat malam hari melintasi jalan sisi pantai yang gelap. Awaluddin Kahar berboncengan dengan Joni Kusma, sedangkan saya sendiri dibonceng Roni Aminesta. Perjalanan yang mencekam dan membutuhkan waktu lebih kurang sejam. Yang lebih fatal, motor yang saya boncengi tidak berlampu depan, untung saja sepeda motor kami diiringi motor yang dibawa Joni Kusma.

Yang mendebarkan, malam itu kami juga melintasi pemukiman yang tak lagi dihuni penduduknya. Terlihat di kiri kanan jalan rumah-rumah kosong, gedung sekolah, dan juga masjid dalam kondisi tak terawat. “Dulunya pemukiman disini ramai, sekarang sudah ditinggalkan pascatsunami,” ujar Joni Kusma. Jelas saja ditinggalkan, karena pemungkiman itu dekat laut, dan pusat gempa serta tsunami enam tahun lalu. Hanya saja masyarakat Simeulue punya kearifan lokal dalam kesiagaan menghadapi gempa dan tsunami. Saat terjadi gempa besar semua penduduk lari gunung menyelamatkan diri, sehingga saat terjadi tsunami korban jiwa tidak seberapa.

Di Teupah Selatan inilah kami bermalam, di rumah orang tua Joni Kusma. Makan gulai ikan yang masih segar. Lalu paginya menanti kedatangan fajar yang menyingsing di ufuk timur. Lanscap alam yang sangat indah. Menggundang rasa yang mengharu biru. Mendatangkan kedamaian.

Hingga Minggu, 18 April 2010, siang, saya dan Awaluddin Kahar harus meninggalkan Simeulue, bertolak ke Medan lalu ke Banda Aceh. Di Bandara Lasikin Sinabang, ketika pesawat Susi Air meninggalkan landasan, ada perasaan yang tak bisa saya lukisan dengan kata-kata. Entah mengapa, saya merasa rindu untuk berlama-lama disini.

Dan, dari dalam pesawat yang terbang rendah, saya melihat seolah pulau itu melambai-lambaikan tangan meminta saya datang kembali. Ya, Simeulue Ate Fulawan, suatu saat saya berjanji akan datang lagi, meski entah kapan. []

Jumat, 12 Februari 2010

Saya, di Sebuah Persimpangan Titik Balik Hidup


Oleh: Muhammad Subhan

Sejak kecil, saya terobsesi ingin menjelajahi dunia. Maka, menjadi wartawan adalah pilihan hidup saya. Meski saya tahu, dunia wartawan bukanlah dunia yang bisa mewujudkan impian dalam sekejap. Berbagai tantangan pasti akan saya hadapi. Bahkan, ibu kandung saya, awalnya tak merestui niat saya menjadi wartawan. Dalam benak ibu, menjadi wartawan artinya saya harus siap menjadi ‘orang miskin’.

Meski tidak selalu benar, namun logika ibu masuk akal. Delapan tahun melanglang buana diberbagai media, hidup saya biasa-biasa saja. Bahkan selama empat tahun saya sempat berjalan kaki memburu berita. Tak punya sepeda motor, alat komunikasi, apalagi komputer. Gaji pas-pasan. Namun empat tahun kemudian, sesudah masa-masa ujian itu, alhamdulillah hidup saya mulai menampakkan perobahan. Bahkan, setelah ibu menjanda, kebutuhan ibu dan tiga orang adik sayalah yang menafkahi. Semua dari hasil keringat saya sebagai wartawan. Cita-cita yang semula tidak direstui ibu itu.

Meski tidak restu, tapi kasih ibu terhadap saya tidak berkurang. Ia benar-benar sangat menyayangi saya, juga kepada ketiga adik saya. Ibulah yang selalu memotivasi saya agar giat bekerja. Meski ia sedih tak bisa membantu lantaran sakit, tapi keteguhan jiwanya, kesabaran dan kesalehannya, menjadi pemicu semangat saya untuk dapat membahagiakannya kelak, membuatkan rumah, atau mewujudkan impiannya agar bisa menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji ke Tanah Suci.

Saya lahir di Medan 3 Desember 1980. Sejak kelas 2 SMP saya telah menulis. Di SMP pula, saya sempat memprakarsai terbitnya majalah dinding. Hobi menulis berlanjut hingga SMA dan kuliah. Masa SMP dan SMA saya habiskan di Kruenggeukueh, Aceh Utara. Meski gelar sarjana tidak mampu saya raih hingga kini, namun setidaknya saya pernah mengenyam dunia kampus, khususnya di Jurusan Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perdagangan, Padang dan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, Sekolah Tinggi Agama Islam, Yayasan Kebangkitan Islam (STAI-YKI), Sumatera Barat di Padang.

Seringkali orang bertanya, mengapa saya tidak menyelesaikan kuliah. Saya menjawab, ketika itu saya benar-benar fokus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ibu dan ketiga adik saya yang masih sekolah. Memang, sebuah pilihan pahit. Hasrat hati ingin kuliah, tapi selalu berbenturan dengan masalah keuangan. Kuliah tidak sedikit menghabiskan uang, sementara di rumah ibu butuh obat, makanan, dan adik-adik juga harus sekolah agar masa depan mereka lebih baik dari saya. Setiap kali orang bertanya tentang kuliah, saya merasa sedih. Bahkan, setiap kali meliput acara wisuda beberapa perguruan tinggi, tak jarang diam-diam saya menahan air mata.

Bisa dibilang, sejak kecil saya belum pernah merasakan hidup berkecukupan. Almarhum ayah saya, Abdul Manaf, hanya seorang pekerja kasar. Ibu saya seorang buruh cuci yang mengharapkan upah dari satu rumah ke rumah lain. Penghasilan kedua orang tua saya hanya cukup untuk sehari makan dan menyimpan sedikit uang untuk membayar kontrakan rumah. Kami tidak pernah memiliki rumah sendiri, selalu pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.

Meski hidup miskin, saya sangat bangga dengan kedua orang tua yang pekerja keras. Nasihat ayah yang sangat saya cintai selalu memotivasi saya. Ayah sering bilang, jangan pernah menyerah dengan keadaan, terus berjuang, dan jangan meminta-minta. Kata-kata itu lekat terpatri dalam benak saya untuk merobah keadaan. Saya bertekad, suatu saat nanti saya harus bisa membahagiakan orang tua.

Sampai kelas 2 SD, saya tinggal bersama orang tua di Medan. Ketika naik kelas 3 SD, kami pindah ke Lhokseumawe, Aceh Utara. Di kota itu ayah bekerja sebagai tukang sol sepatu. Setiap pagi, usai sarapan dan minum secangkir kopi, saya lihat ayah menyandang ransel berisi peralatan menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakukan ayah karena ayah bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi. Ayah tidak tamat SMP, begitu juga ibu, hanya tamatan SD.

Di awal-awal bekerja sebagai tukang sol sepatu di daerah yang baru, benar-benar terasa sangat berat dan sulit. Bahkan seharian tak ada orang yang memanfaatkan jasa ayah. Dengan raut wajah sedih, ayah sering pulang dengan tangan hampa, tanpa membawa apa-apa. Sering pula saya dengar ayah dan ibu cekcok hanya gara-gara persoalan tak ada uang untuk belanja. Namun ayah adalah seorang yang sangat sabar. Ibadahnya rajin, doanya panjang, dan ayah sangat menyayangi saya dan adik-adik.

Ketika duduk di bangku SMA, dengan inisiatif sendiri saya membantu ayah bekerja. Saya pun belajar menjahit sepatu. Awalnya ayah tidak setuju, namun karena keseriusan saya membantu ayah, akhirnya pekerjaan itu pun kami lakoni berdua. Terkadang, ketika ayah sakit, sayalah yang menggantikannya bekerja.

Bekerja sebagai tukang sol sepatu bukanlah pekerjaan menjanjikan. Nasib-nasiban. Terkadang ada orang, terkadang pula tidak ada sama sekali. Sehari hanya dua tiga orang yang memanfaatkan jasa tukang sol sepatu. Uang yang paling banyak dibawa pulang sehari tidak lebih dari Rp15.000. Dengan penghasilan yang sangat kecil itulah ayah menafkahi kami dan menyekolahkan saya dan adik-adik.

***

Tanggal 15 Maret 2000, adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Orang yang paling saya cintai, ayah, berpulang ke Rahmatullah dalam usia 62 tahun. Ujian yang teramat berat kami rasakan. Pupuslah harapan saya untuk membahagiakan ayah kelak. Ketika itu usia saya masih sangat belia.

Sebelum ayah meninggal, saya pernah menyampaikan kepada ayah bahwa saya akan melanjutkan pendidikan ke kota Padang, Sumatera Barat. Saya ingin kuliah di sana. Namun agaknya ayah tidak setuju. Ayah berharap saya dapat membantunya bekerja setamat SMA karena usia ayah telah lanjut dan sering sakit-sakitan. Agaknya persoalan itu menjadi pikiran ayah. Beberapa hari setelah itu ayah jatuh sakit. Ia terkena stroke. Tiga hari kemudian ayah meninggal dunia.

Ketika itu, saya, ibu, dan ketiga orang adik benar-benar tidak siap kehilangan ayah, tulang punggung keluarga. Pendidikan saya di SMA tinggal beberapa bulan lagi tamat. Sempat saya berniat untuk memutuskan sekolah karena tak punya uang membayar biaya sekolah. Namun, atas motivasi guru-guru di sekolah serta kemauan untuk terus belajar, saya berhasil menamatkan SMA dengan hasil memuaskan.

Sepeninggal ayah, Nurhayati, ibu saya, juga mulai sakit-sakitan. Rematik dan asam urat menyerang tubuhnya. Mulanya ibu bekerja sebagai buruh cuci dan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang camat. Namun sejak ibu sakit, tak ada lagi orang yang membantu mencari nafkah. Siang malam saya berpikir apa yang bisa saya kerjakan untuk membantu ibu dan adik-adik yang masih kecil dan harus bersekolah. Seorang adik laki-laki saya ketika itu masih duduk di kelas 2 MAN (Madrasah Aliyah Negeri), dan dua adik perempuan saya, satu di kelas 6 SD dan satu lagi kelas 2 SD. Saya sangat berharap mereka mampu menyelesaikan pendidikan meski hanya sampai sekolah menengah.

***

Setamat SMA, saya menyampaikan kepada ibu agar pulang saja ke Sumatera Barat. Ayah saya asal Aceh, ibu Minang. Kampung halaman ibu di sebuah desa kecil bernama Kajai di Pasaman Barat. Mulanya ibu menolak pulang kampung. Namun, setelah saya berangkat sendiri melihat kampung ibu, saya lihat banyak sanak famili ibu. Namun, sayangnya kampung itu berada di kawasan pedalaman dan bukan daerah berkembang. Mayoritas masyarakatnya juga berpenduduk miskin.

Setelah bermusyawarah dengan sanak famili ibu di kampung dan menceritakan keadaan keluarga di Aceh sepeninggal ayah, mereka setuju agar ibu dan adik-adik dibawa saja ke kampung. Akhirnya saya kembali ke Aceh menjemput ibu dan adik-adik. Setelah saya yakinkan bahwa keadaan hidup akan berobah di Sumatera Barat, akhirnya dengan berat hati ibu pun berkenan pulang kampung. Sakit asam urat ibu yang sudah akut menyulitkan ibu berjalan jauh. Ibu harus dipapah naik turun bis. Biaya keberangkatan itu, pada pertengahan 2000, semua perabotan yang ada di rumah kontrakan peninggalan almarhum ayah kami jual sebagai bekal perjalanan.

Setelah membawa ibu dan adik-adik pulang kampung, saya pun merantau ke kota Padang. Kota yang baru pertama kali saya jamah seumur hidup itu terasa menyeramkan, karena disana saya tak punya siapa-siapa. Berbagai pekerjaan pun saya coba lakukan. Mulanya saya menjadi salesman menjual barang-barang yang saya ambil dari sebuah perusahaan. Namun pekerjaan itu saya rasakan bertentangan dengan nurani. Beberapa perusahaan tempat saya bekerja saya tinggalkan begitu saja. Selain gaji kecil, kerja yang dilakoni pun terasa sangat berat.

***

Sejak kecil, ayah telah mengajarkan kami anaknya ilmu agama. Saya juga sempat belajar mengaji di sebuah balai pengajian. Dengan kemampuan sedikit ilmu agama itulah, ketika merantau di Kota Padang, saya berinisiatif bekerja menjadi gharin di sebuah mushalla di kawasan Air Tawar Barat, Padang. Tugas gharin adalah membersihkan mushalla, azan, imam, bahkan ceramah agama disaat ustaz yang diundang berhalangan hadir.

Pilihan menjadi gharin saya lakukan lantaran saya tidak juga menemukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya sering merasakan pedihnya menahan lapar. Dengan menjadi gharin saya pun mendapat jatah beras dan sedikit uang lauk pauk. Saya juga mengajarkan anak-anak sekitar mengaji. Selama menjadi gharin itulah kematangan diri saya mulai terasah.

Pengabdian menjadi gharin saya jalani sejak tahun 2000 hingga 2004. Di akhir tahun 2000, selain tetap menjadi gharin saya mulai menulis di surat kabar, khususnya di sejumlah koran mingguan yang ada di kota itu. Di akhir tahun itu pula saya mencoba melamar menjadi wartawan di sebuah surat kabar mingguan.

Pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mulanya saya berpikir pekerjaan wartawan adalah kerja yang menjanjikan dengan gaji besar. Ternyata harapan saya keliru, jauh panggang dari api. Sepanjang tahun 2000-2004, beberapa koran mingguan tempat saya bekerja itu tak satupun yang memberikan gaji layak selayaknya seorang pekerja profesional. Bahkan pernah saya berpikir untuk berhenti menjadi wartawan, namun keinginan itu cepat-cepat saya pupus karena dunia wartawan setelah saya renungi memiliki banyak kelebihan. Dengan menjadi wartawan, wawasan saya terus bertambah karena informasi terbaru selalu saya dapat setiap hari di media. Begitu pula, menjadi wartawan saya menemukan banyak kawan. Dan menjadi wartawan, saya pun berkesempatan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya datangi, baik di Sumatera Barat maupun beberapa daerah lainnya di Indonesia dalam berbagai perjalanan jurnalistik yang ditugaskan kepada saya.

Di tahun 2004, saya meninggalkan pekerjaan sebagai gharin. Hal itu saya lakukan semata untuk memfokuskan bekerja menjadi wartawan. Pilihan yang berat karena awalnya jemaah mushalla tempat saya tinggal keberatan melepas kepergian saya. Namun karena tekad yang kuat akhirnya saya pun berhenti menjadi gharin.

Di tahun itu pula, saya bekerja di Harian Mimbar Minang Padang. Namun hanya dua tahun saya mampu bertahan lantaran koran itu bangkrut dan menjadi koran mingguan. Jika saya kembali bekerja di koran mingguan, itu artinya saya gagal dan tidak ada kemajuan. Bersama beberapa kawan, usai melakukan perjalanan jurnalistik ke Aceh pascatsunami, saya pun mendirikan koran Harian Serambi Minang Padang. Namun koran itu hanya bertahan 3 bulan lantaran kehabisan modal.

Di akhir tahun 2004, saya diterima bekerja di Harian Haluan Padang, yang merupakan surat kabar tertua di Sumatera Barat. Mulanya saya tidak menyangka akan diterima di koran itu karena saya tidak memiliki ijazah sarjana, namun lantaran surat lamaran yang saya kirimkan banyak melampirkan sertifikat dan piagam penghargaan belasan pelatihan jurnalistik yang pernah saya ikuti, atas pertimbangan itulah saya diterima bekerja.

Selama bekerja di Harian Haluan kemampuan jurnalistik saya semakin terasah. Saya pun sering ditugaskan meliput kegiatan-kegiatan penting ke sejumlah daerah. Beberapa kali kunjungan Presiden dan Wakil Presiden serta menteri-menteri ke Sumatera Barat, sayalah yang diberikan tugas meliput. Alhamdulillah, kemahiran saya sedikit di bidang fotografi menghantarkan saya menjadi fotografer koran Haluan selama lebih kurang dua tahun. Begitu pun kesenangan saya menulis feature yang mengangkat berbagai persoalaan human interest masyarakat kelas grassroot membuat nama saya cepat dikenal.

Di awal 2007, oleh Pemimpin Redaksi Haluan saya ditugaskan ke Kota Bukittinggi dan diangkat menjadi Kepala Perwakilan Haluan di Kota Wisata itu. Penugasan itu tentu saja saya terima. Selama di kota itu pulalah saya mengembangkan diri. Di sisa-sisa waktu luang saya menjelajah dunia melalui internet. Saya pun berkawan dengan banyak orang di berbagai belahan dunia.

Awal 2009 lalu, saya mendapat kesempatan bergabung dalam manajemen Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Sastrawan besar Indonesia asal Sumatera Barat itu membangun rumah yang didedikasikan khusus untuk pengembangan dunia sastra Indonesia khususnya di Sumatera Barat. Di Rumah Puisi ini saya diamanahkan jabatan sebagai Manager Program. Saya pun bisa bertemu dengan banyak sastrawan dan guru-guru sastra yang berkunjung ke sana. Di sampung itu, 7.000-an judul buku koleksi Taufiq Ismail, merangsang minat baca saya yang selama ini haus lantaran tak mengecap pendidikan tinggi.

***

Orang yang paling bahagia atas semua perobahan hidup saya itu, tentulah ibu. Ibu yang kasihnya sepanjang jalan tak pernah berhenti berdoa siang malam untuk kebahagiaan saya. Bahkan, ketika saya menikah ibu ingin tinggal di kampung saja bersama famili di sana. Ibu ingin melihat saya bahagia bersama istri dan tidak memberatkan saya. Tentu saja, keinginan ibu itu tidak saya kabulkan. Ibu tetap saya bawa ikut bersama saya, tinggal di rumah saya meski kami masih tinggal di rumah kontrakan, pindah dari satu rumah ke rumah lainnya jika habis tahun. Sekarang kami tinggal di Kota Padangpanjang, kota kecil berhawa sejuk di kaki gunung Merapi.

Satu hal lagi yang saya kagumi dari sosok ibu, adalah ibadahnya yang sungguh luar biasa. Shalat Dhuhanya tak pernah tinggal. Bahkan, kebiasaan ibu bangun setiap pukul 3.00 dini hari, shalat tahajud, shalat hajat, zikir dan doa yang khusyuk dan panjang. Usai shalat malam itu, ibu tidak tidur lagi, ia tilawah Alquran hingga jelang Subuh. Bahkan, di Subuh itu pula, ibu menyempatkan memasak untuk sarapan saya dan istri. Saya selalu melarang ibu bangun terlalu pagi karena saya kuatir akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Tapi ibu tetap melaksanakan semua pekerjaan itu yang seharusnya dikerjakan oleh istri buat saya.

Ya Allah, satu permohonan saya kepada Engkau, panjangkan usia ibu dan kabulkan doa-doa saya agar dapat membawa orang yang saya kasihi itu ke Tanah Suci Mekah. Sebagaimana impian ibu dan juga impian saya. Sungguh, saya dan ibu ingin mencium Hajar Aswad, menggelilingi Ka’bah dan juga wukuf di Arafah… []

Padang Panjang, Februari 2010

Sebuah Testimoni Tentang Novel “Cinta di Kota Serambi”


Oleh: Muhammad Subhan

Mulanya, saya tidak begitu memperhatikan naskah Novel yang ditulis Pak Irzen Hawer berjudul “Cinta di Kota Serambi” ketika ia menyerahkannya kepada saya di Rumah Puisi Taufiq Ismail beberapa bulan lalu. Saya hanya menyarankan, cobalah dikirimkan ke Jakarta. Mana tahu ada penerbit yang berminat.

Tapi setelah saya baca keseluruhan isi novel tersebut, alangkah kagetnya saya bahwa ini adalah novel yang benar-benar luar biasa, yang ditulis oleh seorang putra Padangpanjang, Kota Serambi Mekah. Saya bawa novel itu ke Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang dimana sehari-hari saya berkecimpung berdiskusi sastra bersama kawan-kawan “senasib”, lalu membedahnya. Kesimpulan saya, novel ini layak mendapat tempat di hati pembaca.

Maka saya berpikir pula, kenapa harus menerbitkannya di Jakarta? Sedikit-sedikit Jakarta, apa hebatnya Jakarta? Padangpanjang meski sebuah kota kecil di wilayah administratif Propinsi Sumatera Barat namun saya kira juga memiliki potensi penerbitan buku. Pak Irzen Hawer pun berharap agar bukunya bisa diterbitkan oleh Komunitas Seni Kuflet melalui Divisi Penerbitannya, Kuflet Publishing. Dengan dana seadanya, kawan-kawan pun mulai bergerak. Komit, dan siap mengangkat novel ini hingga diterbitkan.

Maka, ketika covernya didesain oleh seorang anggota Kuflet, lalu dipromosikan melalui facebook dan situs jejaring sosial lainnya, dalam sekejab mendapat respon luar biasa dari berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat umum, namun juga teman-teman sastrawan yang cukup senior di Tanah Air, termasuk mancanegara. Pemesan pun mulai mengalir. Dan siapa sangka, kalau novel ini mendapat komentar luar biasa dari novelis besar Ahmad Tohari, Dianing Widya Yudhistira, Mustafa Ismail, D. Kemalawati, dan sejumlah nama lainnya.

Sampai saat ini, saya dan Kanda Sulaiman Juned, S.Sn, M.Sn belum dibayar sebagai tenaga editor dan yang menerbitkan novel ini. Dan, kami juga siap tidak dibayar asalkan penulis generasi baru (meski usia Pak Irzen Hawer sudah 50-an tahun) Padangpanjang ini bisa terekspose ke permukaan. Dia bisa menjadi “pahlawan” bagi Padangpanjang sebagai kota seni dan seniman serta gudangnya penulis di masa dahulunya.

Kami harapkan, dengan penerbitan novel ini nantinya dapat memotivasi generasi muda Padangpanjang khususnya untuk membudayakan gemar membaca dan menulis sebagai simbol peradaban bangsa-bangsa besar di dunia. Tak soal kita berdomisili di kota kecil namun kota kecil ini kelak bisa menjadi gerbang dunia yang didatangi banyak orang, layaknya Pulau Belitong yang terangkat potensinya lewat Novel Adrea Hirata, “Laskar Pelangi”.

Untuk itu, kami mengajak kerjasama berbagai pihak, khususnya tokoh-tokoh Padangpanjang baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan untuk memberikan bantuan baik moril maupun spirituil sehingga acara Peluncuran ini dapat berlangsung sukses dan membanggakan, bukan bagi kami saja di Komunitas Seni Kuflet namun juga bagi Padangpanjang tercinta. Insya Allah.
Berikut Proposal yang kami ajukan dan semoga mengetuk pintu hati Bapak/Ibu/Saudara/Sahabat untuk menjalin kerjasama (sekali lagi bukan buat kami) tapi buat masa depan Padangpanjang yang lebih baik. Klik Proposal di: http://penamuhammadsubhan.blogspot.com/2010/02/proposal-seminar-cara-hebat-jadi_11.html