Cerpen: Muhammad Subhan
Kelebat bayangan tubuh hitam itu semakin mendekat. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Sangat sigap. Ilmu olah kanuragannya cukup tinggi. Daun-daun pepohonan tak terdengar berisik. Begitupun tak ada suara ranting-ranting kayu yang patah.Lelaki itu masih terpaku mengamati gerak-gerik bayangan hitam itu. Sejak tadi ia telah memasang kuda-kuda tanda siaga. Tangkai golok yang menyelip dipinggangnya ia renggangkan. Waspada kalau-kalau bayangan tubuh manusia misterius itu menyerang dirinya. Malam semakin pekat. Suara lolongan anjing di puncak bukit terdengar sahut-menyahut. Pertanda ada kabar kurang baik. Suara burung hantu di tengah hutanpun terdengar menakutkan. Belum lagi dinginnya malam menegakkan bulu kuduk siapa saja yang berada di pinggiran hutan itu.Lelaki itu masih diam. Kedua matanya tetap awas mengamati kelebat bayangan hitam yang mendekat ke arahnya. Iapun menarik nafas dalam-dalam. Mengatur detak jantungnya yang terdengar semakin cepat.
Wusssshhh!!!
"Huph! Heaaahhkh....!!! Lelaki itu melompat beberapa langkah ke belakang. Benar saja, sosok tubuh hitam misterius itu menyerangnya. Pertarungan sengit pun tak terhindarkan. "Siapa kau! Apa maksudmu menyerangku?" lelaki itu menghardik. Tapi bukan jawaban yang dia terima, melainkan pukulan dan tendangan yang bagai kilat berkelebat menghunjam tubuhnya.Untung saja ilmu beladirinya mendekati sempurna. Sebelum meninggal, eyangnya Ki Rama Bikhu telah mewariskan jurus pamungkas kapas putih. Bagaikan kapas, tubuhnya pun melayang-layang menghindari serangan bertubi-tubi dari makhluk misterius itu.
Jurus demi jurus yang dikeluarkan manusia bertubuh hitam itu semakin cepat. Lelaki itu tampak kewalahan. Beberapa kali tangkisannya meleset sehingga pukulan telak menghantam perut dan dadanya.
"Hekhh! Achh!!" pukulan ke arah perutnya membuat lelaki itu terjungkal ke belakang. Belum sempat dia bangkit, satu tendangan lagi mendarat di lehernya. Untung saja dia mampu menangkis. Kalau tidak, mungkin dia bisa mati mendapatkan tendangan yang dipadukan dengan tenaga dalam tinggi. Secepat kilat lelaki itu melompat ke samping. Berguling-guling. Tubuh hitam itu pun terus mengejar. Semakin cepat. Mengunci langkah-langkah lelaki itu.Jurang dalam menganga lebar di belakang lelaki itu. Dia terjebak. Satu langkah saja ia mundur ke belakang, maka tamatlah riwayatnya. Tapi dia belum mau mati. Namun di benaknya tak ada terbayang cara lain untuk menyelamatkan diri.
Tubuh hitam itu tiba-tiba berhenti menyerang. Tubuhnya tepat berdiri tiga langkah di hadapan lelaki itu. Sorot matanya menatap tajam. Bersinar-sinar seolah menyimpan bara dendam yang menyala-nyala.
"Apa maumu, hei orang misterius?!," tanya lelaki itu. Nafasnya terdengar tersenggal-senggal. Makhluk bertubuh hitam itu tak segera menjawab. Ia mengepal tangannya. Terdengarlah suara gemeratak jari-jari tangannya yang kekar. "Aku Biju!. Kuingatkan untuk pertama dan terakhir kali, jangan coba-coba kau dekati lagi Lasmini. Kalau tidak, kau akan dapati tubuhmu menjadi tengkorak di bawah jurang sana!" suara lelaki bertubuh hitam itu terdengar lantang. Menggelegar di telinga lelaki itu.
Setelah mengucapkan kata-kata demikian, manusia bertubuh hitam bernama Biju itu melesat ke belakang. Melompati popon-pohon. Dan menghilang di tengah kegelapan malam. Ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna.
Lelaki itu masih diam ditempatnya. Tiba-tiba saja dia terduduk. Keletihan. Peluh-peluh membasahi sekujur tubuhnya. Golok masih terselip di pinggang kirinya. "Biju," gumam lelaki itu.
***
"Kau cantik sekali Lasmini," lelaki itu melingkarkan tangannya yang kekar ke pinggang perempuan di hadapannya. Menatapnya dengan nafsu. "Ah, Kakang Rangga, jangan." Perempuan itu menggeliat. Seperti ular. Ranjang kayu dalam bilik gubuk itu berderik-derik
Malam malu-malu menyaksikan nafsu dua anak manusia yang bergumul. Pada sebuah gubuk di pinggiran hutan.
"Kakang Rangga..." perempuan cantik bernama Lasmini itu merebahkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Tiba-tiba dia menangis. "Hei, Lasmini. Kenapa kau menangis?" tatap lelaki itu heran."Aku mengingat seseorang," jawab Lasmini.
"Siapa?" tanya lelaki itu penasaran."Biju." "Siapa Biju?" tanya lelaki itu lagi."Suamiku." "Bukankah dia sudah mati?""Entahlah. Dia pergi mengembara dua tahun silam. Aku selalu bermimpi bertemu dengannya." "Lupakan dia. Bukankah sekarang ada aku?"Malam semakin beranjak larut. Kokok ayam hutan mulai terdengar. Sebentar lagi fajar akan menyingsing.
***
"BIJU..." lelaki itu masih terduduk di pinggiran jurang. Nafasnya tersenggal-senggal. Otot-otot tubuhnya terasa sakit. Biju, suami Lasmini telah datang dan nyaris membunuhnya. Lelaki itu coba bangkit berjalan. Matanya berkunang-kunang. Perutnya mual. Dan tiba-tiba dia muntah. Darah kental berwarna hitam pekat melompat dari mulutnya."Hueekkkh!!!
Tubuh lelaki itu gemetar. Pandangannya gelap. Brraakk!!! Lelaki itu terjatuh. Pinsan.
***
"EEAAHHH... di mana aku?" lelaki itu mendapati tubuhnya terbaring di atas sebuah dipan kayu. Kedua matanya terasa sulit dibuka. "Kakang Rangga, kau sudah siuman?" dia mendengar suara lembut seorang perempuan yang cukup dikenalnya."Eahh... kau, Lasmini. Di mana aku?"' tanya lelaki itu.
"Kakang di kamarku. Pagi tadi aku temukan kakang pinsan di pinggiran hutan. Apa yang terjadi, Kakang? Sepertinya semalam kakang berkelahi," ujar Lasmini sembari membalurkan ramuan obat-obatan ke dada lelaki itu yang terlihat lembam.
"Ya, aku diserang seseorang," jawab lelaki itu. "Siapa yang menyerang Kakang?" tanya Lasmini penasaran."Biju!"
Bagai petir menyambar di telinga perempuan itu. Tubuhnya mundur selangkah. Wajahnya yang ayu tiba-tiba menjadi pucat pasi. Ketakutan.
"Kau jangan takut, Lasmini. Aku berjanji akan membunuhnya," ujar lelaki itu. Tiba-tiba perempuan itu menangis. Terisak-isak. Terbayang kesalahannya selama ini. Ia telah berselingkuh. Ia telah jadi pelacur bagi Rangga.Tapi salahkah Lasmini? Biju meninggalkannya tanpa pesan dua tahun silam. Pergi begitu saja. Lasmini mendengar dari penduduk kalau Biju, suaminya, sedang menuntut ilmu kedikjayaan di puncak Gunung Lawu.
"Biju tak akan mengganggu kita, Lasmini. Tunggu saja saatnya ketika kepalanya kupenggal dan tubuhnya kucincang-cincang," geram Rangga.
Lelaki itu masih memegang perutnya yang terasa sakit. Pukulan dan tendangan Biju begitu membunuh. Untung saja tenaga dalamnya ia kerahkan setiap kali pukulan dan tendangan Biju mendarat di tubuhnya.
***
MALAM kesepuluh setelah Biju datang tiba-tiba menyerang lelaki itu. Lasmini mendekat ke arah lelaki yang terbaring menatapnya. Pandangannya binal. Nafsunya menggebu-gebu.Lelaki itu tetap tak bergeming. Namun matanya buas menatap tubuh Lasmini yang berbalut kain selendang.
"Kakang, ayolah kemari..." Lasmini membentangkan kedua tangannya meminta lelaki itu agar segera mendekat kepadanya.
Belum sempat lagi Rangga bangkit dari pemberangannya, tiba-tiba gubuk yang mereka tempati bergetar. Suara angin diluar cukup kencang. Lasmini tersentak. Begitupun lelaki itu terhentak-hentak di atas dipan kayu. "Kakang, ada apa ini? apa yang terjadi?" Lasmini kelihatan ketakutan. Gubuk terus bergoyang. Suara pintu dan jendela terdengar berderit-derit.Rangga melompat cepat dari dipan kayu menuju arah jendela. Ia mengintip keluar. Namun alangkah kagetnya ia ketika melihat sesosok tubuh hitam kekar menghunus sangkur berdiri di bawah sebatang pohon besar di depan gubuk itu.
"Dia datang Lasmini," ujar Rangga terbata."Siapa, Kakang?" tanya Lasmini yang masih terlihat ketakutan. "Biju!""Biju?"
Mendengar nama itu, Lasmini gemetar. Secepat mungkin Lasmini melompat dan berlari ke arah lemari pakaian. Dia sambar selembar kain panjang dan secepat mungkin membalut tubuhnya yang tembus pandang.
"Kakang Biju pulang? Ah, Kakang Rangga, dia akan membunuh kita!" Lasmini semakin ketakutan. "Tenang Lasmini, sebelum kita dibunuh, biarkan aku yang lebih dahulu membunuhnya!" geram Rangga."Jangan, Kakang. Kakang tidak akan mampu menandingi ilmunya!" cegah Lasmini.
"Tidak! Nanti akan kita lihat golok siapa yang bermandi darah," ujar Rangga.
Setelah berkata demikian, Rangga melompat keluar rumah. Ilmu meringankan tubuh membuatnya melayang-layang di udara. Dan tubuhnya yang kekar mendarat tepat di atas tanah sepuluh tombak di hadapan Biju. "Kau datang lagi bedebah!" geram Rangga."Kali ini aku datang untuk membunuhmu!" secepat kilat Biju melompat menyerang Rangga. Pukulan dan tendangannya mematikan. Pertarungan sengit pun tak bisa dihindari.
"Huph! Heah...!!
"Ciaat..!!!" Dekk! Ahh! Hupshh!!!!
Ilmu Biju memang tampak sempurna dibanding Rangga. Rangga kelihatan terdesak. Tangkisan demi tangkisannya tak memberi arti. Tubuhnya tetap terkena pukulan dan tendangan Biju. "Bajingan! Rasakan ini, yeaahhh...!!! Rangga mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tubuhnya berputar-putar membentuk gulungan angin yang menghempas tubuh Biju.
Biju lebih gesit. Seperti orang sedang bersemedi, tubuhnya pun berputar-putar. Ilmu angin puting beliung yang dimiliki oleh keduanya beradu. Membentuk gulungan badai besar. Menghempas apa saja yang ada di sekitar mereka. "Kau memiliki ilmu puting beliung juga rupanya," ujar Biju. Jurus-jurus Biju terus mendesaknya. Kekuatannya memang lebih unggul.Rangga semakin terdesak ke belakang. Satu tendangan Biju lagi mendarat di perutnya.
"Achhhhhh... Hueakkh!!! Ranggga muntah darah. Tubuhnya terhempas ke belakang. Terguling-guling.
Secepat itu juga biju mengeluarkan sangkur beracunnya. Mata sangkur yang berkilat diterpa cahaya rembulan itu melesat secepat kilat dari sarangnya. "Jangan Kakang Biju.... Heakhhhh.....!!!" sangkur yang dilemparkan Biju melesat cepat menembus dada Lasmini yang tiba-tiba berlari ke arena pertarungan dan mencoba melindungi Rangga. Perempuan itu rebah bersimbah darah. Tubuhnya kejang-kejang sesaat, lalu diam."Lasmini.... Tidaakkk!!!" Rangga melompat menahan tubuh Lasmini. Darah segar dari mulutnya terus mengucur deras. Perempuan itu tak lagi bergerak.
Biju tak bergeming. Matanya menatap tajam ke arah dua insan yang bersimbah darah di hadapannya. Satu sosok lelaki yang saat ini menjadi musuhnya. Dan satunya lagi tubuh istrinya, Lasmini, yang telah dia tinggalkan dua tahun silam dan tertembus mata sangkurnya yang tajam.
"Bajingan, kubunuh kau Biju...!!!" Rangga mencoba berlari ke arah Biju dan menyerangnya. Belum sempat rangga mendekat, dua jarum beracun melesat cepat menembus ulu hatinya. Rangga terjungkal ke belakang. Tubuhnya tepat terjatuh di dekat kepala Lasmini. Kemudian diam tak bergerak. Angin masih mendesir kencang menyaksikan dua insan yang bersimbah darah itu. Daun-daun dari pepohonan berguguran. Malam semakin larut. Suara jangkrik tak berbunyi. Hanya sesekali lolongan anjing di tengah hutan memecah suasana yang semakin mencekam.
Lelaki itu, tak bergeming dari bumi pijakan kedua kakinya. Deru nafasnya begitu tenang.
Sebelum melangkah meninggalkan dua mayat di hadapannya, sesaat ia memandang ke sosok tubuh perempuan yang tak lagi bernyawa itu. Perempuan yang lebih sepuluh tahun ia gauli. Dan yang menemani hari-harinya.... "Kang Biju, kalau kita punya anak laki-laki, kau akan beri nama apa?" tanya Lasmini, dulu ketika masa-masa indah masih menemani kehidupan rumah tangga mereka."Tentu saja nama sepertiku, Biju Anggara. Ha, ha..." jawab lelaki itu sembari tertawa renyah.
Seolah tak menginjak bumi, lelaki kekar itu melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Malam yang pekat melenyapkan tubuhnya seiring fajar yang sebentar lagi akan menyingsing di ufuk timur. []
Bukittinggi, Januari 2007
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Januari 2010
Senin, 04 Januari 2010
Mak, Kenapa Ayah Dibunuh?
Oleh: Muhammad Subhan
AGAM menatap tubuh ayahnya yang terbujur kaku pada dipan kayu di sudut ruang tengah rumahnya. Inong adiknya, menangis tersedu sembari memeluk erat tubuh orang tua yang tak lagi bernyawa itu. Begitu pula dengan emaknya, Cut Hasanah, tak mampu membendung air mata yang membasahi pipinya yang mulai tampak berkerut. Di hari-hari menjelang usia senjanya itu, Cut Hasanah harus menanggung beban derita yang begitu berat bagi keluarganya.
Tengku Daud, suami Cut Hasanah, ayah Agam dan Inong, ditemukan tewas menggenaskan di tepi sungai. Tadi pagi, ketika orang-orang kampung hampir putus asa mencari Tengku Daud yang menghilang dua hari lalu. Di jasad tuanya yang hampir berumur lima puluh tahun itu, ditemukan dua liang bekas peluru. Tubuhnya membiru, dan pada lehernya tampak goresan hitam bekas lilitan tali kawat.
Tidak seperti ibu dan adiknya, Agam tak sedikitpun meneteskan air mata. Ia coba tegar menghadapi kenyataan itu. Seminggu lalu, ayah Ahmad, kawan sekolah Agam di SMP juga mengalami nasib serupa. Mati dengan luka tembak yang menganga. Bahkan lebih sadis, leher ayah Ahmad digorok dengan senjata tajam. Hampir putus.
Agam tetap berdiri mematung di sisi tubuh ibu dan adiknya. Mulutnya komat-kamit. Sekali-sekali terdengar gigi gerahamnya gemeretuk. Geram. Dan kedua jemari tangannya ia kepalkan erat-erat.
“Pue nyang nak geutenyoe peubuet jinoe, Gam….1)” Isak ibunya yang belum juga berhenti menangis. Agam tak menjawab. Ia tetap diam membisu. Sementara orang-orang kampung terus berdatangan. Ruangan rumahnya yang kecil semakin ramai oleh orang-orang kampung yang merasa iba melihat derita yang menimpa keluarganya.
Orang-orang kampung yang datang itu tak sekedar melayat saja. Diantara mereka ada yang membawa beras, uang, dan kue-kue untuk membantu keluarga Agam. Ada juga yang membaca Surat Yasin, tahlil dan rateb 2) untuk arwah almarhum Tengku Daud. Sementara yang lain ada yang menyiapkan kafan, tempat pemandian, juga peti mati tempat jenazah Tengku Daud akan disemayamkan.
“Mak, kenapa ayah dibunuh?” Inong, adik perempuan Agam, semakin tak tahan menanggung beban batinnya. Hampir ia jatuh pinsan, kalau saja seorang tetangganya tidak menyambut tubuh kecilnya yang kurus. Inong dijauhkan dari jasad ayahnya. Begitu juga Cut Hasanah, wanita itu dibimbing beberapa orang tua-tua, dan dihibur-hibur hatinya.
Agam tetap diam dengan pikirannya yang mulai berontak. Kalau saja ia tidak ingat pesan ayahnya ketika masih hidup, mungkin Agam akan berteriak histeris. Tapi itu tak mungkin Agam lakukan. Karena nasehat-nasehat ayahnya yang alim itu selalu ia junjung tinggi-tinggi.
“Agam, anak-anak Aceh itu pemberani. Dulu, ketika kaphe 3) Belanda hendak menjajah Aceh, banyak anak-anak Aceh yang jadi mata-mata untuk kepentingan pejuang,” cerita ayahnya suatu hari.
“Mata-mata, ayah?” tanya Agam mengulang.
“Ya.”
“Apa itu mata-mata, ayah?” tanya Agam lagi.
Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan Agam yang lugu itu.
“Mata-mata itu orang yang mengamati gerak-gerik musuh. Itu yang dilakukan anak-anak Aceh di zaman Belanda dulu. Mereka masuk kampung, kemudian pura-pura berniaga pada tentara-tentara Belanda, tetapi sebenarnya mereka memata-matai kelemahan musuh,” jawab Tengku Daud.
Agam mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Jawaban ayahnya sangat memuaskan hatinya.
Tengku Daud, ayah Agam, adalah seorang guru mengaji di meunasah 4) kampung. Ia seorang alim, taat beribadah dan begitu baik budi pekertinya. Orang-orang kampung sangat hormat dan segan pada Tengku Daud. Pada Tengku Daud lah orang-orang kampung bertanya tentang masalah-masalah agama. Sebagai santri lulusan sebuah dayah5) di Samalanga, Tengku Daud merasa bahagia bisa membagi-bagi ilmunya pada orang lain.
Sejak DOM diberlakukan di Aceh, kampung Agam tak pernah aman. Selalu saja ada berita kematian. Apalagi sejak tentara-tentara berbaju loreng membuat pos-pos keamanan di perbatasan kampung, penduduk semakin takut saja keluar rumah. Banyak sawah ladang terbengkalai tak diurus. Anak-anak tak bersekolah, karena gedung sekolah mereka di bakar orang-orang tak dikenal. Jam malam diberlakukan. Lewat pukul 22.00 WIB penduduk tidak diperbolehkan keluar rumah. Kalau kedapatan di luar rumah, keselamatan mereka terancam dan tak dijamin tentara-tentara berbaju loreng itu.
Begitulah keadaan yang selalu terjadi di kampung Agam. Orang-orang kampung tak bisa berbuat banyak. Mereka memilih pasrah pada Tuhan, semoga konflik yang terjadi di kampung mereka segera berakhir.
Jenazah Tengku Daud telah selesai diselenggarakan. Orang-orang kampung akan membawa jenazah Tengku Daud ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tandu telah disiapkan. Pemuda-pemuda kampung bertubuh kekar telah siap pula mengangkat peti mati jenazah Tengku Daud.
Dan berjalanlah keranda diiringi doa-doa. Tengku Daud adalah korban kesekian kali setelah korban-korban sebelumnya berjatuhan. Esok, lusa, entah siapa lagi yang mati. Yang jelas, kematian adalah sebuah kelumrahan yang terjadi di kampung ini. Orang-orang kampung pun telah terbiasa dengan kematian-kematian itu.
Agam ikut membantu menurunkan jenazah ayahnya ke liang lahat. Saat itulah Agam tak mampu membendung air matanya. Agam menangis. Barulah Agam merasakan detik-detik perpisahan dengan ayah yang sangat dicintainya itu.
Sampai liang kubur ayahnya ditimbuni tanah, Agam belum juga berhenti menangis. Matanya merah dan sembab. Ibunya, Cut Hasanah, merasakan kesedihan batin Agam. Dirangkulnya tubuh kecil Agam, anak lelaki satu-satunya yang ia miliki.
Sampai orang-orang kampung satu persatu meninggalkan taman pekuburan itu, tiga anak beranak itu belum juga beranjak dari duduknya. Agam berdiri mematung di sisi nisan kayu pusara ayahnya. Sementara ibunya, Cut Hasanah, dan adiknya Inong, terus membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, bersama isak tangis yang masih tertahan.
Senja telah turun. Matahari sore tak lagi menampakkan rupa. Yang tersisa hanya sinar kekuningan yang terpancar disela-sela pucuk daun Kamboja. Menebar keseluruh alam.
Setangkai kembang Kamboja jatuh tepat menimpa nisan kayu pusara Tengku Daud. Agam tersentak dari kebisuan dan kelarutannya pada jasad yang telah kembali pada alam. Agam sadar, setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada asal mula kejadiannya; tanah. Dan itu yang dulu pernah diajarkan almarhum ayahnya, Tengku Daud.
“Ayah, kenapa Allah menciptakan manusia?” Agam bertanya pada ayahnya ketika usianya baru menanjak lima tahun. Ketika itu, ayah Agam tersenyum mendengar pertanyaan agam yang kritis.
“Supaya manusia mau menyembah Allah yang menciptakannya.”
“Kalau sudah disembah, apa yang akan diberi Allah pada manusia?” tanya Agam lagi.
“Surga dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya?” jawab Tengku Daud.
“Surga itu indah ya, Ayah?”
“Ya. Seindah kehidupan orang-orang yang merindukan masuk ke dalamnya.”
“Ayah, Agam mau masuk surga bersama ayah, boleh tidak?”
Ketika itu Tengku Daud tak menjawab. Didekapnya tubuh mungil Agam, anak lelaki yang dicintainya itu. Agam pun membalas dekapan ayahnya dengan memeluk erat leher ayahnya. Kebahagiaan yang tak mungkin terulang, batin Agam.
“Gam, huro ka seupoet. Yak, tajak woe…,6)” sentuhan lembut jemari Cut Hasanah, Ibu Agam, di pundak lelaki remaja itu menyadarkan Agam dari lamunannya. Wajah teduh Tengku Daud, ayahnya yang membayang di pelupuk matanya beberapa saat lalu perlahan buyar. Dipandanginya alam disekitar taman pekuburan tempat pusara ayahnya bersemayam. Benarlah, hari mulai gelap. Walau merasa berat, Agam coba bangkit dari kenangan masa-masa kecilnya bersama ayah yang dicintainya.
Cut Hasanah membimbing kedua anaknya kembali pulang. Sekali-sekali ditolehnya pandangan kebelakang, menatap pusara suaminya yang basah disiram rinai yang turun. Ada kerinduan di mata perempuan separuh baya itu ketika suaminya, lelaki yang selama ini menemani hari-harinya, telah kembali kepangkuan Tuhan.
Di batin perempuan paruh baya itu, semoga Tuhan mempertemukan mereka kembali di suatu alam dimana kematian tak lagi memisahkan cintanya dan cinta anak-anak mereka.
Di atas dahan pohon Kamboja, seekor gagak hitam mengaminkan doa perempuan paruh baya yang merangkul erat tubuh kedua anaknya.
Padang, Maret 2000-Agustus 2003
(Ketika kerinduan pada pusara ayah di bumi Aceh yang belum sempat diziarahi, Allahummaghfirlahu….…)
Catatan:
1. Apa yang akan kita perbuat sekarang, Gam.
2. Zikir
3. Kafir
4. Mushalla/surau
5. Pesantren
6. Gam, hari sudah malam, mari kita pulang
AGAM menatap tubuh ayahnya yang terbujur kaku pada dipan kayu di sudut ruang tengah rumahnya. Inong adiknya, menangis tersedu sembari memeluk erat tubuh orang tua yang tak lagi bernyawa itu. Begitu pula dengan emaknya, Cut Hasanah, tak mampu membendung air mata yang membasahi pipinya yang mulai tampak berkerut. Di hari-hari menjelang usia senjanya itu, Cut Hasanah harus menanggung beban derita yang begitu berat bagi keluarganya.
Tengku Daud, suami Cut Hasanah, ayah Agam dan Inong, ditemukan tewas menggenaskan di tepi sungai. Tadi pagi, ketika orang-orang kampung hampir putus asa mencari Tengku Daud yang menghilang dua hari lalu. Di jasad tuanya yang hampir berumur lima puluh tahun itu, ditemukan dua liang bekas peluru. Tubuhnya membiru, dan pada lehernya tampak goresan hitam bekas lilitan tali kawat.
Tidak seperti ibu dan adiknya, Agam tak sedikitpun meneteskan air mata. Ia coba tegar menghadapi kenyataan itu. Seminggu lalu, ayah Ahmad, kawan sekolah Agam di SMP juga mengalami nasib serupa. Mati dengan luka tembak yang menganga. Bahkan lebih sadis, leher ayah Ahmad digorok dengan senjata tajam. Hampir putus.
Agam tetap berdiri mematung di sisi tubuh ibu dan adiknya. Mulutnya komat-kamit. Sekali-sekali terdengar gigi gerahamnya gemeretuk. Geram. Dan kedua jemari tangannya ia kepalkan erat-erat.
“Pue nyang nak geutenyoe peubuet jinoe, Gam….1)” Isak ibunya yang belum juga berhenti menangis. Agam tak menjawab. Ia tetap diam membisu. Sementara orang-orang kampung terus berdatangan. Ruangan rumahnya yang kecil semakin ramai oleh orang-orang kampung yang merasa iba melihat derita yang menimpa keluarganya.
Orang-orang kampung yang datang itu tak sekedar melayat saja. Diantara mereka ada yang membawa beras, uang, dan kue-kue untuk membantu keluarga Agam. Ada juga yang membaca Surat Yasin, tahlil dan rateb 2) untuk arwah almarhum Tengku Daud. Sementara yang lain ada yang menyiapkan kafan, tempat pemandian, juga peti mati tempat jenazah Tengku Daud akan disemayamkan.
“Mak, kenapa ayah dibunuh?” Inong, adik perempuan Agam, semakin tak tahan menanggung beban batinnya. Hampir ia jatuh pinsan, kalau saja seorang tetangganya tidak menyambut tubuh kecilnya yang kurus. Inong dijauhkan dari jasad ayahnya. Begitu juga Cut Hasanah, wanita itu dibimbing beberapa orang tua-tua, dan dihibur-hibur hatinya.
Agam tetap diam dengan pikirannya yang mulai berontak. Kalau saja ia tidak ingat pesan ayahnya ketika masih hidup, mungkin Agam akan berteriak histeris. Tapi itu tak mungkin Agam lakukan. Karena nasehat-nasehat ayahnya yang alim itu selalu ia junjung tinggi-tinggi.
“Agam, anak-anak Aceh itu pemberani. Dulu, ketika kaphe 3) Belanda hendak menjajah Aceh, banyak anak-anak Aceh yang jadi mata-mata untuk kepentingan pejuang,” cerita ayahnya suatu hari.
“Mata-mata, ayah?” tanya Agam mengulang.
“Ya.”
“Apa itu mata-mata, ayah?” tanya Agam lagi.
Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan Agam yang lugu itu.
“Mata-mata itu orang yang mengamati gerak-gerik musuh. Itu yang dilakukan anak-anak Aceh di zaman Belanda dulu. Mereka masuk kampung, kemudian pura-pura berniaga pada tentara-tentara Belanda, tetapi sebenarnya mereka memata-matai kelemahan musuh,” jawab Tengku Daud.
Agam mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Jawaban ayahnya sangat memuaskan hatinya.
Tengku Daud, ayah Agam, adalah seorang guru mengaji di meunasah 4) kampung. Ia seorang alim, taat beribadah dan begitu baik budi pekertinya. Orang-orang kampung sangat hormat dan segan pada Tengku Daud. Pada Tengku Daud lah orang-orang kampung bertanya tentang masalah-masalah agama. Sebagai santri lulusan sebuah dayah5) di Samalanga, Tengku Daud merasa bahagia bisa membagi-bagi ilmunya pada orang lain.
Sejak DOM diberlakukan di Aceh, kampung Agam tak pernah aman. Selalu saja ada berita kematian. Apalagi sejak tentara-tentara berbaju loreng membuat pos-pos keamanan di perbatasan kampung, penduduk semakin takut saja keluar rumah. Banyak sawah ladang terbengkalai tak diurus. Anak-anak tak bersekolah, karena gedung sekolah mereka di bakar orang-orang tak dikenal. Jam malam diberlakukan. Lewat pukul 22.00 WIB penduduk tidak diperbolehkan keluar rumah. Kalau kedapatan di luar rumah, keselamatan mereka terancam dan tak dijamin tentara-tentara berbaju loreng itu.
Begitulah keadaan yang selalu terjadi di kampung Agam. Orang-orang kampung tak bisa berbuat banyak. Mereka memilih pasrah pada Tuhan, semoga konflik yang terjadi di kampung mereka segera berakhir.
Jenazah Tengku Daud telah selesai diselenggarakan. Orang-orang kampung akan membawa jenazah Tengku Daud ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tandu telah disiapkan. Pemuda-pemuda kampung bertubuh kekar telah siap pula mengangkat peti mati jenazah Tengku Daud.
Dan berjalanlah keranda diiringi doa-doa. Tengku Daud adalah korban kesekian kali setelah korban-korban sebelumnya berjatuhan. Esok, lusa, entah siapa lagi yang mati. Yang jelas, kematian adalah sebuah kelumrahan yang terjadi di kampung ini. Orang-orang kampung pun telah terbiasa dengan kematian-kematian itu.
Agam ikut membantu menurunkan jenazah ayahnya ke liang lahat. Saat itulah Agam tak mampu membendung air matanya. Agam menangis. Barulah Agam merasakan detik-detik perpisahan dengan ayah yang sangat dicintainya itu.
Sampai liang kubur ayahnya ditimbuni tanah, Agam belum juga berhenti menangis. Matanya merah dan sembab. Ibunya, Cut Hasanah, merasakan kesedihan batin Agam. Dirangkulnya tubuh kecil Agam, anak lelaki satu-satunya yang ia miliki.
Sampai orang-orang kampung satu persatu meninggalkan taman pekuburan itu, tiga anak beranak itu belum juga beranjak dari duduknya. Agam berdiri mematung di sisi nisan kayu pusara ayahnya. Sementara ibunya, Cut Hasanah, dan adiknya Inong, terus membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, bersama isak tangis yang masih tertahan.
Senja telah turun. Matahari sore tak lagi menampakkan rupa. Yang tersisa hanya sinar kekuningan yang terpancar disela-sela pucuk daun Kamboja. Menebar keseluruh alam.
Setangkai kembang Kamboja jatuh tepat menimpa nisan kayu pusara Tengku Daud. Agam tersentak dari kebisuan dan kelarutannya pada jasad yang telah kembali pada alam. Agam sadar, setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada asal mula kejadiannya; tanah. Dan itu yang dulu pernah diajarkan almarhum ayahnya, Tengku Daud.
“Ayah, kenapa Allah menciptakan manusia?” Agam bertanya pada ayahnya ketika usianya baru menanjak lima tahun. Ketika itu, ayah Agam tersenyum mendengar pertanyaan agam yang kritis.
“Supaya manusia mau menyembah Allah yang menciptakannya.”
“Kalau sudah disembah, apa yang akan diberi Allah pada manusia?” tanya Agam lagi.
“Surga dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya?” jawab Tengku Daud.
“Surga itu indah ya, Ayah?”
“Ya. Seindah kehidupan orang-orang yang merindukan masuk ke dalamnya.”
“Ayah, Agam mau masuk surga bersama ayah, boleh tidak?”
Ketika itu Tengku Daud tak menjawab. Didekapnya tubuh mungil Agam, anak lelaki yang dicintainya itu. Agam pun membalas dekapan ayahnya dengan memeluk erat leher ayahnya. Kebahagiaan yang tak mungkin terulang, batin Agam.
“Gam, huro ka seupoet. Yak, tajak woe…,6)” sentuhan lembut jemari Cut Hasanah, Ibu Agam, di pundak lelaki remaja itu menyadarkan Agam dari lamunannya. Wajah teduh Tengku Daud, ayahnya yang membayang di pelupuk matanya beberapa saat lalu perlahan buyar. Dipandanginya alam disekitar taman pekuburan tempat pusara ayahnya bersemayam. Benarlah, hari mulai gelap. Walau merasa berat, Agam coba bangkit dari kenangan masa-masa kecilnya bersama ayah yang dicintainya.
Cut Hasanah membimbing kedua anaknya kembali pulang. Sekali-sekali ditolehnya pandangan kebelakang, menatap pusara suaminya yang basah disiram rinai yang turun. Ada kerinduan di mata perempuan separuh baya itu ketika suaminya, lelaki yang selama ini menemani hari-harinya, telah kembali kepangkuan Tuhan.
Di batin perempuan paruh baya itu, semoga Tuhan mempertemukan mereka kembali di suatu alam dimana kematian tak lagi memisahkan cintanya dan cinta anak-anak mereka.
Di atas dahan pohon Kamboja, seekor gagak hitam mengaminkan doa perempuan paruh baya yang merangkul erat tubuh kedua anaknya.
Padang, Maret 2000-Agustus 2003
(Ketika kerinduan pada pusara ayah di bumi Aceh yang belum sempat diziarahi, Allahummaghfirlahu….…)
Catatan:
1. Apa yang akan kita perbuat sekarang, Gam.
2. Zikir
3. Kafir
4. Mushalla/surau
5. Pesantren
6. Gam, hari sudah malam, mari kita pulang
Ketika Wajahnya Menghias Malam

Oleh: Muhammad Subhan
OMBAK berdebur. Menjilati bibir pantai berpasir putih. Angin laut mendendangkan syair alam yang terdengar syahdu. Camar mengepakkan sayapnya, menukik menangkap ikan-ikan kecil di atas permukaan laut. Nun, jauh di tengah samudra, tongkang-tongkang bermuatan kayu arang tampak timbul tenggelam. Dari cerobongnya mengeluarkan asap hitam yang mengepul ke udara.
Senja telah turun. Matahari yang seharian lelah menerpa bumi, hampir terbenam di balik kaki langit. Laut menelan matahari. Yang tersisa hanya sinarnya berwarna merah darah yang terpancar ke seluruh jagat raya. Di atas horison sana, sepasang burung elang terbang melayang mengikuti arah mata angin. Ke utara.
Senja itu kuresapi dalam-dalam. Ada sepenggal kerinduan tertinggal di sini. Di pantai ini. Sebelum perpisahan memupus semuanya.
“Kau akan pergi juga, Vi?” tanyaku pada gadis itu.
“Ya.”
“Secepat itukah?” tanyaku lagi.
Dia diam. Sejenak ia memandang ke arahku. Matanya tampak berkaca-kaca. Di wajahnya yang teduh itu, kulihat ada beban derita yang berat sedang ia pikul. Bibirnya bergetar.
Titik air yang berkumpul di kelopak matanya yang bening itu, akhirnya jatuh. Membasahi pipinya, membentuk aliran kecil yang menganak sungai. Dia menangis.
Ada perasaan bersalah ketika aku melihatnya menangis. Secepat itu kuusap bening air mata yang membasahi pipinya. Sementara, nun, di pondok bambu, angin membawa alunan suara gitar yang dipetik teman-teman kuliahku. Mereka menyanyikan tembang-tembang cinta yang terdengar sendu.
“Vi, maafkan. Aku tak bermaksud membuat kau berduka,” kataku merasa bersalah.
“Tidak, Jim. Semuanya salahku,” akhirnya gadis itu berkata.
Tiba-tiba gadis itu berdiri, kemudian berjalan ke arah laut. Aku pun bangkit dari duduk, mengikutinya. Ia baru menghentikan langkah ketika ombak laut menjilati kakinya yang berdebu. Kaki kami sama-sama dijilati ombak.
Lama ia berdiri mematung. Menentang laut. Angin laut yang kurang bersahabat menampar-nampar wajahnya yang sendu. Jilbabnya yang berwarna merah kehitam-hitaman, dipermainkan angin. Tapi ia diam saja.
“Aku benci dengan keputusan kakakku!” katanya lagi.
“Tak baik kau berkata begitu, Vi,” ujarku menenangkannya.
“Aku tak sudi dinikahkan dengan orang yang tak kucintai!”
Tangisnya kembali meledak. Kedua tangannya ia katupkan ke wajahnya. Dadanya bergemuruh. Tubuhnya yang mungil berguncang-guncang menahan sesegukan.
***
PAGI itu kuantar ia ke terminal. Akhirnya ia pergi juga. Ke Jakarta. Menemui kakaknya yang telah mengekang masa depannya. Kuliahnya yang tinggal satu semester, terpaksa ia tunda. Semuanya, semata-mata menuruti kehendak kakaknya.
Sebelumnya, aku sempat berbincang-bincang dengan kakak perempuan yang menemaninya ke Jakarta. Pada kakaknya, aku minta maaf telah mengganggu perasaan gadis itu, dan mengharap Vi tidak menghentikan kuliahnya. Sebab, bagiku, Vi adalah gadis yang cerdas. Sayang masa depannya harus ia korbankan hanya karena kesalahpahaman ini.
Kakaknya di Jakarta tak merestui hubungan kami. Vi harus menikah dengan orang sekampungnya. Dan, itu yang tidak Vi suka. Gadis itu dan aku telah menjalin hubungan kasih setahun yang lalu. Orangtuanya di kampung merestui. Kecuali kakaknya di Jakarta yang memang tidak kukenal.
“Jim, aku pergi. Aku segera menyelesaikan masalah ini. Dan berjanjilah, nantikan aku di kota ini,” kata gadis itu menjelang keberangkatannya.
Kata-kata itu ia ucapkan bersama air mata yang membasahi pipinya. Aku hanya diam. Ia menjabat erat tanganku dan menghunjamkan pandangan tajam ke wajahku. Ada suatu pengharapan di wajahnya yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.
Aku melepas kepergiannya dengan doa. Semoga kepergiannya untuk kembali kepadaku. Walau harapan itu semu, tapi Tuhanlah pemutus segalanya.
***
SEMINGGU setelah kepergiannya.
Malam itu ia kirimkan kabar lewat telepon. Interlokal. Katanya, ia dalam keadaan sehat, tapi sayang, ia tak bisa segera kembali ke kota ini. Kehendak kakaknya di Jakarta begitu keras, katanya. Namun sebelumnya, ia berjanji akan mengirimkan surat.
“Maafkan aku, Jim. Kau harus bersabar menanti kepulanganku. Dalam waktu dekat, aku akan kirim surat,” katanya di seberang sana.
Aku hanya diam. Mengiyakan, berharap janjinya berkirim surat buatku benar. Tapi, dua minggu sejak ia menelepon, tak sehelai surat pun yang kuterima. Sejak itu pula, aku tak tahu bagaimana kabarnya kini.
***
SEBULAN sepeninggal gadis itu.
“Jim, Vi akan menikah. Semalam ia menelepon ke rumah. Menitipkan salam buatmu dan meminta maaf karena telah menyakiti hatimu. Ia terpaksa menuruti kehendak kakaknya yang keras kepala. Itu ia lakukan demi orang tua dan adik-adiknya di kampung yang masih mengharapkan kiriman biaya dari kakaknya.”
Kabar bagai suara petir yang menyambar itu kudengar dari Lusi, sahabat gadis itu. Gadis berjilbab itu menyampaikannya ketika aku baru selesai mengetik cerpen terakhir tentang Vi. Aku seolah tak percaya dengan apa yang baru kudengar. Lama aku terpekur di depan layar komputer yang menyala. Tuts keybord di atas meja tak kuasa kutekan. Tanganku terasa kaku, sekaku hatiku yang pilu.
Kutarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diri dan bersabar. Aku yakin, ini adalah bagian dari ujian Tuhan yang menimpa hidupku. Mungkin Tuhan tidak berkenan menjodohkan aku dengan gadis itu. Dan, keputusan Tuhan selalu kusyukuri.
***
PELAUT tangguh adalah yang mampu menundukkan gelombang. Sebesar apapun badai yang menerpa biduknya, ia tetap tegar bersama layarnya, walaupun telah terkoyak-koyak.
Syair itu kudengar di antara riak gelombang laut. Di pantai ini. Ketika senja telah turun. Entah siapa yang mendendangkannya. Syair itu terdengar syahdu. Membawa birahi alam yang membuncah di hatiku.
Di senja ini, kuturutkan langkah kaki yang membawa tubuhku menyisiri pantai. Membiarkan ombak yang melenguh menjilati kakiku yang kotor berdebu. Dalam perjalanan itu, memoriku terkenang jauh ke masa silam. Ketika hari-hari bersama gadis itu begitu indah terasa.
“Hai, Jim…. Ayo, kejar aku!” teriak gadis itu berlari di antara batang nyiur yang menjulang di pantai ini.
“Vi…, kau jahat!. Tadi tanganmu sudah kutangkap!” teriakku sembari mengejar gadis itu.
“Belum!”
“Sudah!”
“Belum!”
“Kau curang!”
Azan Magrib yang berkumandang dari perkampungan penduduk, membuyarkan kenanganku tentang gadis itu. Malam telah turun. Angin laut yang menampar-nampar rambutku terasa dingin. Sedingin hatiku yang beku.
Sementara, nun, di tengah samudra, wajah gadis itu menghias malam. Malam yang meninggalkan duka setelah perpisahan memupus segalanya. []
Padang-Jakarta, Akhir Mai 2003
Lelaki yang Berteman Dengan Sunyi

Oleh: Muhammad Subhan
LELAKI itu selalu berteman dengan sunyi. Padahal dia tahu, sunyi tak pernah memberi sesuatu hal yang berarti dalam hidupnya. Bahkan tak jarang sunyi selalu mentertawakan tingkah polahnya yang membuat banyak orang tak mengerti. Dia memang lelaki misterius.
Pagi itu, ketika matahari belum lagi bangkit dari peraduannya, kutemui sosok kurus lelaki itu di antara nisan di taman pekuburuan dekat bungalaw. Dia berjalan di antara rimbunnya rumput yang masih basah oleh titik-titik air embun yang turun dari langit. Seperti ada yang dia cari, tapi tak pernah kutahu apa yang dicarinya itu. Dan ketika dia tahu aku mengikuti langkahnya dari belakang, dia hanya tersenyum tipis tanpa makna. Bahkan lelaki itu seperti membiarkan aku mengamati gerak-geriknya yang membuatku semakin penasaran.
Aku baru berhenti mengikuti langkahnya yang tertatih ketika dia berhenti pada sebuah nisan yang tak bernama. Lama dia mematung menatap gundukan yang basah oleh titik-titik air embun itu. Dinginnya angin pagi yang menusuk tulang tampaknya tak begitu dia hiraukan. Dia tetap diam membisu di atas pusara yang entah milik siapa. Sementara, nun, di antara ranting-ranting pepohonan terdengar kicau Murai yang berdendang merdu.
Aroma kembang Kamboja harum menyeruak di sekitar alam. Ada kerinduan di mata lelaki itu menatap pusara yang tetap diam membisu. Angin berdendang, rumput bergoyang. Menghadirkan birahi alam yang membuncah di dadanya. Aku ikut membisu ketika lelaki itu merendahkan tubuhnya, kemudian duduk bersila di sisi pusara itu.
Lama dia termenung menatap nisan putih yang terbuat dari batu pualam. Jemari tangannya yang kurus meraba-raba nisan yang berbentuk kubah mesjid. Kurasakan getaran di dadanya yang membuncah. Ada tangis yang dia tawarkan di antara bibirnya yang pucat kedinginan. Dan tiba-tiba, kulihat dari sisi matanya yang redup bergulir setetes butiran bening yang membentuk alur kecil di pipinya. Lelaki itu menangis. Dan aku tak tahu apa yang dia tangisi setelah lama memandang pusara di hadapannya.
Bibir lelaki itu bergetar. Seperti ada sesuatu yang hendak dia ucapkan. Sementara sayup-sayup kudengar angin bercerita tentang sosoknya yang misterius.
Pusara di hadapan lelaki itu adalah pusara kekasihnya yang telah pergi selama-lamanya. Dan jasad kekasih yang dia cintai itu selalu hadir dalam bayang-bayang mimpi dan khayalnya.
“Gadisnya menikah setelah cinta mereka tak direstui,” kata angin.
“Benarkah?”
“Ya.”
Angin mendesir lembut menampar-nampar wajahnya yang lusuh. Tapi lelaki itu diam saja. Sementara, nun, di atas sana, matahari mulai menampakkan rupa. Menebar sinar kehidupan ke seluruh jagat raya.
Sinar matahari yang berwarna merah kekuningemasan itu memancar di sela-sela pucuk daun Kamboja. Sekali-sekali sinarnya menerpa tubuhnya yang dekil, kotor berdebu, sebab berhari-hari tak membersihkan diri. Tapi, lagi-lagi lelaki itu diam membisu tanpa peduli semuanya.
“Lelaki itu terlibat sebagai anggota pemberontak yang menentang negara. Ayah kekasihnya adalah aparat pemerintah. Keterlibatan lelaki itu sebagai GPK membuat cinta mereka tak pernah bersatu,” cerita angin lagi.
Merinding aku mendengar cerita angin. Tak kusangka kalau lelaki itu bekas anggota gerakan pengacau keamanan (GPK), yang akhir-akhir ini semakin merajalela di kampungku. Mereka menuntut berpisah dari Republik. Membentuk negara sendiri.
Banyak cerita tentang orang-orang yang mati di kampungku. Mati karena dibunuh. GPK dan aparat pemerintah saling baku tembak. Bunuh-membunuh. Tapi yang selalu menjadi korban selalu rakyat sipil yang tak berdosa.
“Ketika lelaki itu tahu kekasihnya akan menikah, betapa hancur perasaannya. Dia bertekad menggagalkan pernikahan itu.”
“Lalu, apa yang diperbuat lelaki itu?” tanyaku penasaran pada angin.
“Dia berniat melarikan kekasihnya.” Jawab angin.
“Berhasilkah?”
“Tidak!”
Angin diam sejenak. Hawanya yang sejuk menerpa wajahku dan wajah lelaki itu. Rambutku yang panjang meliuk-liuk ditiup angin. Angin juga menjatuhkan daun-daun kamboja yang telah menguning. Suara angin yang gemerisik menambah sendunya suasana di pagi itu.
Aku juga diam. Menunggu angin kembali bercerita tentang sosok lelaki itu. Kupalingkan wajah menatap tubuh lelaki yang masih asyik menatap gundukan basah dihadapannya. Kulihat bibirnya komat-kamit. Entah apa yang diucapkannnya.
“Ketika terjadi peperangan di hutan sebelah utara, lelaki itu tertembak kakinya. Dia ditangkap aparat, kemudian ditawan berhari-hari lamanya.” Cerita angin lagi.
Aku semakin serius menyimak cerita angin.
“Gadisnya menikah dengan seorang aparat yang tak dicintainya. Tapi pernikahan itu tak berlangsung lama, sebab gadis yang dicintai lelaki itu bunuh diri.”
“Bunuh diri?” aku kaget.
“Ya.”
Aku tercenung mendengar penuturan angin. Tak kusangka, demi sebuah cinta, gadis yang dicintai lelaki itu bunuh diri.
“Lalu, bagaimana dengan lelaki itu?” desakku pada angin.
“Mendengar kekasih yang dicintainya bunuh diri, iman lelaki itu goyah. Malam itu, di ruang tahanannya, lelaki itu berniat hendak mengakhiri hidupnya juga. Lelaki itu memukul-mukul kepalanya ke dinding sel tahanan hingga berdarah. Namun niatnya untuk bunuh diri berhasil digagalkan aparat penjaga tahanan. Sosoknya yang lemah dilarikan ke rumah sakit. Tapi sayang, syarafnya rusak. Dan akhirnya….. dia gila!” kata angin.
Aku menahan nafas. Langkahku surut ke belakang. Bersamaan dengan itu lelaki itu menoleh menatapku dengan tajam. Tubuhku gemetar. Jangan-jangan lelaki itu akan berniat buruk terhadapku.
Tapi pikiran itu cepat-cepat kuhilangkan. Kubalas tatapan liar lelaki itu dengan senyum. Perlahan tampak kelopak mata lelaki itu meredup. Dia pun tersenyum, tapi tak lama. Kemudian dia menjerit histeris sembari memukul-mukul tanah pekuburan yang mulai mengering diterpa panas sinar matahari.
Melihat tingkah polah lelaki itu aku tak dapat berbuat apa-apa. Sebagai wanita, walau dia gila, aku turut merasakan kependihan lelaki itu. Kubiarkan lelaki itu menumpahkan semua isi hatinya. Pada tanah, pada angin, pada pepohonan, dan pada sunyi yang selalu menemani hari-harinya.
Perlahan kumelangkah meninggalkan sosok lelaki kurus di atas pusara kekasih yang dicintainya. Hari semakin tinggi, dan aku harus kembali pulang. Aku tak berniat mengganggu ketenangan lelaki yang selalu berteman dengan sunyi. Kubiarkan semuanya ia nikmati.
***
SEMINGGU semenjak peristiwa itu, tak lagi kutemukan sosok lelaki kurus yang selalu hadir di pekuburan dekat bungalaw. Dia seolah hilang ditelan bumi. Raib tak berjejak dan tanpa meninggalkan kabar berita. Sunyi yang selalu menyeruak di taman pekuburan semakin sunyi tanpa sosok lelaki itu. Pusara kekasih lelaki itu pun tetap diam membisu bersama waktu yang terus meranjak menapaki hari-hari.
mungkin embun yang berkata
pada rumput yang basah
dan pada tanah yang lembab
tentang sunyi yang menyeruak
di antara pusara-pusara yang menyimpan
misteri jasad-jasad rapuh di dalamnya……
Padang, Pertengahan Agustus 2003
Ketika Sabang Kutinggalkan

Oleh: Muhammad Subhan
PAGI yang indah. Namun tak seindah yang aku rasakan. Pandanganku menerawang jauh menatap hijaunya bukit-bukit yang menjulang di pulau Sabang ini. Hutan yang asri mengukir sejuta pesona yang menyibak tabir rahasia dibaliknya. Membawa aroma harum yang menggetarkan birahi. Kabut putih tipis yang perlahan turun merayapi puncak bukit itu, seolah melambaikan salam perpisahan. Sangat syahdu. Rasanya, baru saja ada secercah kenangan yang tinggal di sini.
Dua hari yang lalu…
“Aku tak yakin kau akan kembali untukku, Han.” Keraguan gadis itu lagi-lagi menghias wajahnya. Aku diam. Kutarik nafas dalam-dalam. Dan, perlahan menghempaskannya begitu saja. Dadaku terasa sesak.
Pagi itu, kami berada di sebuah cottage tempat ia menginap. Ia sakit, sebab angin pantai yang kurang bersahabat. Wajahnya tampak pucat dan sembab. Mungkin ia kurang tidur semalaman. Berkali-kali pula sahabatnya, Ros, memintaku untuk menemaninya. Tapi selalu saja ada hal lain yang membuatku tak dapat menjaganya.
Sementara, nun di pinggiran pantai, sayup-sayup terdengar riuh suara teman-temanku yang bernyanyi. Membawa lagu-lagu kenangan yang terasa sendu. Begitu sejuk di pendengaran kami.
“Diah.” Suaraku bergetar. Perlahan kugenggam erat jemari mungilnya yang halus itu. Kukecup sekali. Seolah tak ingin aku lepaskan. Ada gemuruh bergejolak di dadaku.
“Kau harus bersabar, Diah. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kata-kataku ini.” Kutatap sorot matanya dalam-dalam. Kutemui kedamaian di sana. Namun, masih jelas terlihat kalau ia ragu akan kata-kataku.
“Aku tak akan sanggup menanti kepulanganmu, Han,” ia mulai menangis. Secepat itu pula kukatup bibirnya yang terasa berat bergetar. Aku tak ingin ia melanjutkan kata-katanya. Dan aku tak ingin ia berputus asa dalam penantian.
Sungguh berat perpisahan ini. Batinku berontak. Aku harus pergi. Dan kepergianku bukan untuk hal yang sia-sia. Kepergianku adalah untuk kembali kepadanya.
Sebenarnya keinginan untuk merantau sudah lama aku rencanakan. Apalagi sekolahku telah selesai. Aku ingin mencoba mengadu nasib di negeri orang. Mencari peruntungan. Sebab, aku telah lama hidup miskin. Aku bosan. Aku ingin merubah hidup ini menjadi sesuatu yang berarti. Dan juga untuk membahagiakannya kelak.
Di luar, angin pantai masih terus menampar-nampar kaca jendela cottage tempat kami berbincang-berbincang. Seolah ia tak setuju dengan keputusanku untuk meninggalkan Diah. Sebab, Diah sangat mencintaiku. Ia takut, kalau-kalau sekembalinya aku nanti, Diah telah menjadi milik orang lain. Ah, tidak! Aku tak ingin itu terjadi.
Kalau aku tak salah, setahun sudah hubungan kami. Waktu yang panjang, namun terasa begitu singkat bagi kami. Aku masih ingat, saat pertama kali ia mengirim surat untukku… “Han, maafkan aku, ya. Kalau selama ini aku berdoa kau menjadi kekasihku…” tulisnya dalam surat itu.
Sangat bahagia sekali aku membacanya ketika itu. Ternyata, gadis yang selama ini hadir dalam mimpi-mimpi purbaku, rupanya juga menaruh perasaan sama terhadapku. Sejak saat itu, aku semakin sayang kepadanya. Tak sekali-kali kubiarkan ia bersedih. Lalu aku berjanji untuk membahagiakannya kelak.
Ah, terlalu indah memori itu untuk kukenang kembali. Ingin rasanya aku pinta pada waktu agar ia mengulang semua memori itu. Aku ingin selalu menemaninya, membelai rambutnya yang indah, atau juga menggodanya. Mengapa waktu begitu cepat berlalu?
Lagi-lagi ia gelisah. Matanya tampak berkaca-kaca. Giginya yang putih tertata apik itu, menggigit-gigit bibirnya yang tampak basah. Dadanya bergemuruh hebat.
Sementara hari terus beranjak. Kicau burung di ranting-ranting pohon tak lagi terdengar. Mungkin mereka sibuk mencari makan. Dan, angin pun sibuk dengan lagu-lagu yang tak jelas bentuk. Mencari sela-sela lorong tempat ia mengalirkan nafas kehidupan.
Nun, jauh di dermaga Balohan, tampak Very Syanghiang perlahan merapatkan tubuhnya ke pinggiran. Melempar sauh, tanda tugas telah selesai. Kemudian tampak penumpang-penumpang turun dengan berdesak-desakan. Dan senyum-senyum ceria menghias bibir-bibir mereka. Mereka bersyukur, penyeberangan berjalan lancar. Ternyata Tuhan masih sayang kepada hamba-Nya.
Perlahan, ia bangkit dari duduknya. Lalu beranjak mendekati sisi jendela. Angin masih saja mengetuk-ngetuk kaca jendela yang berwarna hitam itu. Ada titik-titik air melekat di sana. Tampaknya, gerimis mulai turun.
“Kau benar, Han. Aku tak pantas menghalangi kepergianmu.” Entah mengapa, tiba-tiba ia berkata demikian. Seperti tanpa beban ia berucap. Air matanya pun ia biarkan mengering. Sementara aku masih bisu dalam kata.
“Kau rela melepaskanku, Diah…” aku mencari kepastian di antara keyakinan dan keraguannya. Tapi ia diam saja. Pandangan matanya menerawang jauh menatap lautan.
***
ENAM tahun sudah berlalu tanpa terasa. Waktu sepanjang itu aku habiskan di perantauan. Aku semakin dewasa di negeri orang ini. Walau setahun lebih aku sempat menganggur dan terombang-ambing tak tentu arah, akhirnya pekerjaan aku dapatkan juga. Waktu itu, tulisan-tulisanku semakin banyak dimuat di koran-koran. Bahkan, ada sebuah perusahaan koran ternama yang memintaku untuk mengasuh sebuah rubrik budaya. Tentu saja peluang itu kusambut baik. Dan tak lama kemudian, aku pun diterima sebagai redaktur sekaligus sebagai wartawan lepas di beberapa koran lain.
Selama aku menjadi redaktur di perusahaan koran tempatku bekerja, banyak pengalaman berharga aku dapatkan. Terutama aku banyak mengenal penulis-penulis ternama maupun yang masih amatiran. Dari mereka itulah aku banyak belajar. Berbagai macam karakter penulis aku kenal. Hingga suatu ketika, ada tawaran dari beberapa orang penulis ternama itu padaku untuk bekerjasama mendirikan sebuah perusahaan koran sendiri. Untung tak dapat diraih, rugi tak dapat ditolak. Tawaran itu pun aku setujui. Dan akhirnya, aku punya perusahaan koran sendiri.
Walau hidupku senang, namun belum juga aku berhasrat untuk mengambil seorang gadis sebagai istri. Pikiranku masih saja menerawang jauh ke kampung halaman. Wajah Diah, gadis yang aku cintai itu selalu saja membayang di mataku. Hatiku semakin gelisah memikirkannya. Apa kabarnya kini.
***
SUATU hari, aku pulang ke kampung. Berhasrat untuk meminang Diah pada orangtuanya. Aku ingin membawanya ke kota ini. Dan membahagiakannya.
Walau kampung halamanku belum banyak perubahan, tapi rumah Diah telah berubah.Aku tak melihat balai-balai bambu tempat kami bercinta dulu. Pohon kelapa tempat terukir nama kami berdua pun tak lagi terlihat di sana. Sepertinya, kenangan-kenangan indah yang dulu pernah kami ukir bersama telah hilang tenpa bekas. Raib tak berimba.
Aku pun memasuki pekarangan rumah yang indah itu. Mataku masih saja memandang tak percaya dengan apa yang aku lihat. Seolah aku berada di suatu tempat yang sangat asing.
Sejurus kemudian, keluarlah dari rumah itu seorang gadis kecil berlari menghampiriku. Di tangannya tampak sebuah boneka beruang berwarna ungu. Wajahnya…, hei, wajah itu sangat mirip dengan Diah. Ya, gadis kecil itu sangat mirip sekali dengan Diah, gadis yang aku cintai. Matanya, bibirnya, cara ia berbicara, dan… tanda hitam di mata kakinya itu juga milik Diah.
“Om mencari siapa?” sapaan lembut gadis itu membuyarkan lamunanku tentang Diah. Aku kikuk. Kata-kata di bibirku hilang begitu saja.
Gadis kecil itu masih saja mengamat-amatiku. Hatiku mulai ragu kalau rumah ini bukan lagi milik Diah.
Sejenak kurendahkan tubuhku, seraya merangkul pergelangan tangan gadis kecil itu.
“Kalau Om boleh tahu, apa benar ini rumah Mbak Diah, Dik?” tanyaku mencari kepastian di antara binar indah matanya. Gadis kecil itu segera membalikkan tubuhnya, kemudian berlari kecil ke dalam rumah itu.
Lamunanku terkenang kembali, tatkala kami berkejar-kejaran di pantai dan mencari kerang-kerangan. Saat itu, sepatu Diah terbawa oleh air laut. Lalu dipermainkan ombak ke sana-ke mari. Dan akhirnya hilang di dasar laut. Ia menangis, sebab sepatu itu adalah hadiah dariku saat ia berulang tahun. Ah, sangat indah nian kenangan itu.
“Ma, Om ini mencari Mama.” Tanpa aku sadari, gadis kecil itu telah berdiri kembali di hadapanku. Kali ini bersama….
“Han, kau telah kembali…?”
Bibir wanita yang dipanggil mama oleh gadis kecil itu bergetar hebat. Tiba-tiba saja ia menangis, sembari mendekap tubuh bocah kecil di sampingnya. Sementara aku tak dapat berkata-kata. Kuusahakan sekuat tenaga untuk mengukir senyum di bibirku, walau hatiku berontak. Dadaku bergemuruh hebat, memendam rindu bertahun lamanya.
Diah, gadis yang aku cintai itu, kini bukan lagi milikku. Cinta kami tak lagi abadi. Kesetianku bertahun-tahun lamanya ternyata sia-sia. Dan kini cintanya dengan laki-laki lain telah berbuah, bocah kecil di sampingnya itu…
Tak lagi aku tatap mata teduh gadis yang pernah aku cintai itu. Mataku terasa berkunang-kunang. Dan langkahku gontai.
Kutinggalkan sosok dua insan yang saling mengasihi itu. Tak lagi aku menoleh ke belakang. Kuturuti langkah kakiku yang tak tahu ke mana harus kutuju. Yang jelas, ia terus melangkah meniti sinar matahari yang perlahan redup. Kemudian hilang bersama kabut tipis yang turun merayapi bukit-bukit di pulau Sabang ini. Sayup-sayup, dari belakang sana, kudengar suara, “Ma, mengapa mama menangis…”
Oh, Tuhan! Kuresapi kata-kata itu, lembut. Ya, suara gadis kecil yang tak paham tentang cinta kami berdua.
Kupejamkan mata, menghilangkan segala kenangan indah yang pernah hadir dalam mimpi-mimpi purbaku. Lalu, akupun bergumam, “Semoga engkau bahagia, Diah…”
Dan, kembali sabang aku tinggalkan.[]
Banda Aceh, Medio Mei 2000
Minggu, 03 Januari 2010
Kau Berkata Tentang Senja
Oleh: Muhammad Subhan
MENGAPA senja yang selalu kau tuliskan dalam cerpen-cerpenmu, Rey. Seolah ada memori yang kau sembunyikan tentang sepotong senja dan tak pernah mau kau ungkapkan padaku. Begitu berartikah senja bagimu?. Sehingga hampir setiap sore kutemui kau berdiri di tepi pantai ini sekedar menunggu kedatangan senja. Walau kutahu, kadangkala kau harus kecewa karena senja yang kau rindukan tak menampakkan rupa. Sebab, bukankah beberapa hari ini hujan dan mendung menutupi kedatangan senja?.
Kau selalu diam ketika kutanya semua alasan itu. Kau tak pernah mau bicara jika topik yang kuutarakan adalah tentang senja. Kau diam membisu dan selalu mengalihkan pembicaraan, asalkan aku tak membicarakan tentang senja.
Dan ada-ada saja yang kau katakan jika aku telah berada bersamamu di pantai ini. Tentang sekolahku, tentang ibu, dan tentang pacarku. Padahal aku tak pernah suka dengan semua perkataanmu itu. Karena yang kuharap kau mau bercerita tentang senja. Ya, senja yang selalu membuat aku penasaran. Sehingga aku mau menunggu dan berdiri di sisimu di pantai ini. Berjam-jam lamanya, sembari menanti senyum yang terukir indah di bibirmu, ketika senja datang perlahan membawa kabar yang entah apa isinya.
Rey. Tahukah kau kalau aku menyukai senyumanmu itu? Seperti aku menyukai sikapmu yang lembut dan penyabar. Tapi sayang, kau terlalu dingin buatku. Sedingin es di puncak Himalaya yang enggan mencair walau panas menerpanya. Sehingga kadang aku merasa risih berada di sisimu ketika sikapmu itu mulai kau tampakkan. Ingin aku menangis dan menumpahkan semua kekesalanku padamu ketika kau mulai egois. Ya, kau egois ketika bersikap dingin, Rey. Aku benci padamu. Walau benci itu tak mampu kuungkapkan, sebab aku…. Ah, haruskah kuberterusterang kalau aku mulai mencintaimu, Rey.
Dan, seperti minggu-minggu kemarin, kutemui lagi senja dalam cerpenmu yang dimuat koran pagi ini. Kau menulis: Senja melukai batinku untuk kesekian kali. Luka yang teramat dalam, sementara luka-luka kemarin yang ia torehkan belum mengering. Ada pilu, nyeri, juga sakit yang tak tertahankan. Sementara senja selalu tersenyum menatap semuanya. Tanpa berdosa...
Ah, Rey. Apa maksud kau menuliskan kata-kata itu? Apakah kau selalu bermain dengan majas dan kias pada setiap kata dalam cerpen yang kau tuliskan?. Kata yang membuatku semakin penasaran. Karena senja yang kau ciptakan adalah senja yang berjiwa. Hidup dan bercerita. Hingga jujur kukatakan kalau aku cemburu pada senja yang kau tulis itu. Cemburu yang melebihi cemburuku ketika adik-adik kelas perempuan di kampus menggodamu.
Rey. Tak adakah topik yang lebih indah dari sepotong senja dalam cerpenmu itu?
Di kalimat lain kau menulis: Maafkan aku. Kusadari, semua kulakukan semata untuk membahagiakanmu, senja. Aku selalu merasa bersalah jika melihat rupamu tak lagi bersinar seperti dulu. Aku rindu senyummu, aku rindu canda dan tawamu. Bukankah sudah kukatakan, aku tak sekedar ingin menjadi sahabat yang mau kau ajak tertawa. Tapi aku juga ingin menjadi sahabat yang mau menangis ketika kau dirundung duka. Bahagiamu adalah bahagiaku, senja. Deritamu deritaku juga…
Semakin yakinlah aku, bahwa senja yang kau maksudkan bukan sekedar senja, Rey. Kau telah mendustai aku. Kau pernah berkata bahwa kau tidak punya wanita yang dekat di hatimu selain aku. Buktinya, semua tulisanmu melukiskan kerinduan seorang lelaki pada kekasih yang dicintainya. Dan aku yakin, lelaki itu adalah dirimu.
“Aku menyayangimu, Dee. Seperti aku menyayangi adik-adikku sendiri.” Katamu suatu hari di pantai ini.
“Sekedar itukah?” tanyaku karena kau menganggapku tak lebih dari seorang adik.
“Ya.”
Aku kecewa dengan kata-katamu ketika itu, Rey. Kau selalu menganggapku sebagai seorang adik. Tak lebih. Padahal kau tahu aku telah dewasa. Sama sepertimu, walau kau dua tahun lebih tua dariku. Dan, telah lama aku memendam perasaan kepadamu, Rey. Cinta. Ya, aku mulai mencintaimu ketika kau tak merasakan apa-apa terhadapku. Kau kejam, Rey. Kau jahat!.
Satu kelemahanku, Rey. Aku tak pernah mampu menumpahkan semua amarah dan kecewaku di hadapanmu. Semuanya aku pendam. Sebab aku takut kau akan membenciku jika aku melukai perasaanmu. Aku takut kehilanganmu, Rey. Takut sekali. Aku tak ingin berpisah darimu, walau kau selalu membuatku cemburu. Cemburu dengan senja yang selalu kau puja. Dalam cerpen-cerpenmu yang hampir tiap minggu kubaca.
***
MINGGU kedua setelah hujan berhenti.
Rey, aku pulang. Mungkin untuk beberapa waktu aku tak berada di sisimu di tepi pantai, tempat biasa kau menanti senja. Ibu sakit. Tapi aku tak ingin lama tinggal di kampung. Aku akan segera kembali bersamamu. Doakan semoga ibu cepat sembuh.
Dari Dee.
Surat pertama kukirimkan untukmu, Rey. Surat biasa, dan bukan surat cinta. Aku hanya hendak mengabarkan padamu bahwa ibu sakit. Dan aku harus segera pulang. Walau berat berpisah darimu, tapi aku yakin kau tak merasa kehilanganku. Bukankah begitu, Rey. Ya. Sebab kau menganggapku tak lebih dari seorang adik. Adik yang manja, ingin selalu diperhatikan olehmu. Semanja kedua adikmu yang masih kecil di rumah.
Tapi, dua hari setelah surat itu kukirim padamu, kau malah mengirim balasannya ke kampung. Aku tak menyangka kalau suratku itu kau balas. Kau menulis:
Kesunyian semakin menerpaku ketika senja tak datang menemani hari-hariku. Senja pergi. Pergi begitu saja tanpa secarik pesan yang biasa ia kabarkan lewat angin. Aku merindukannya. Dan kuharap ia segera kembali kepadaku….
Rey, aku tersenyum membaca surat ringkasmu itu. Ternyata, tak hanya dalam cerpen kau menuliskan kata-kata puitis tentang senja. Tapi, dalam surat buatku pun kau menuliskannya. Aku semakin bingung dan penasaran, Rey. Kau selalu misterius buatku.
Surat itu tak kubalas, karena kuyakin kau tak mengharap balasannya. Karena suratmu tak sedikit pun menyinggung tentang diriku, atau tentang ibu yang sedang terbaring sakit. Kau hanya menulis tentang senja. Ya, senja yang tak pernah kumengerti tabir apa dibaliknya.
Sehari, dua hari berlalu. Surat ringkasmu itu masih tergeletak di atas lemari kain ibu. Entah mengapa, tak sedikit pun tergerak di hatiku untuk membalasnya. Namun begitu, ada kekuatan gaib yang mendorongku untuk mengambilnya, kemudian membacanya kembali. Berkali-kali. Dan aku selalu tersenyum sendiri.
Esoknya. Lagi, setelah hujan berhenti.
Aku menerima suratmu untuk kedua kali. Di kampung ini. Ketika ibu belum juga sembuh dari sakitnya. Dalam surat kedua itu kau menulis:
Haruskah aku menunggu berabad-abad lamanya hanya untuk menanti kedatanganmu, senja? Tiadakah kau berperasaan sehingga tega meninggalkan aku sendirian di sini, di kota sepi ini?. Kembalilah senja. Aku rindu menatap bening matamu. Canda dan gelak tawamu. Di pantai ini. Seperti hari-hari kemarin yang pernah kita jalani. Bersama….
Lama aku termenung setelah membaca suratmu, Rey. Berulang kali aku mencoba memahami makna kata demi kata yang tersirat dibaliknya. Kau menyebutku senja. Senja yang selalu kau tulis dalam cerpen-cerpenmu yang dimuat koran hampir setiap minggu. Benarkah kerinduan itu kau tujukan kepadaku, Rey?. Kau rindu padaku karena aku tak ada di sisimu?.
Aku semakin bingung. Malamnya aku tak bisa tidur hanya memikirkan kata-kata yang kau tulis dalam suratmu itu. Kau memang misterius, Rey. Aku tak pernah mampu memahami sikap dan hatimu kepadaku.
***
SAKIT ibu telah sembuh. Ibu sudah dapat melakukan aktivitasnya kembali di rumah. Dan aku akan kembali ke kota. Menemuimu, Rey. Menanyakan tentang maksud surat-surat yang kau kirimkan buatku. Dan aku harus menemukan jawabannya darimu.
Tapi, di sore ini, ketika aku mencari-cari sosokmu di pantai ini. Tempat biasa kau berdiri bermenung menanti kedatangan senja. Aku tak menemui tubuhmu di sana. Kemanakah engkau pergi, Rey? Padahal hujan tak turun sore ini. Dan, sebentar lagi, senja yang kau rindukan akan segera hadir bersama ronanya yang indah.
Hampir seharian aku mencarimu di pantai ini. Tapi kau tak juga menampakkan rupa. Senja pun telah kembali ke peraduannya. Seiring malam yang datang bersama angin dingin yang menusuk tulang. Purnama juga tak tahu di mana kini kau berada, Rey.
Malam itu, untuk pertama kali aku berkunjung ke bilik kostmu, Rey. Mencari tahu, apakah kau sakit sehingga tidak bisa keluar sore tadi menunggu kedatangan senja. Atau kau sedang ada tugas kuliah yang menumpuk hingga tak menyempatkan dirimu keluar rumah. Semuanya ingin kutahu, Rey. Karena aku rindu padamu.
Tapi, di tempat kostmu itu, aku hanya mendapatkan sepucuk surat yang kau titipkan pada seorang kawanmu. Dalam surat itu kau menulis:
Dee…
Kini giliranku pulang kampung. Sebab, ibuku juga sakit. Aku juga tak ingin berlama-lama di kampung. Aku segera kembali ke kota. Menemuimu. Menikmati hari-hari yang pernah kita jalani. Di tepi pantai, ketika senja hadir bersama rindu dan cinta yang dibawanya.
Dee…
Kau bertanya tentang senja? Kurasa kau telah cukup dewasa untuk memahami kata-kata yang kutulis dalam cerpen-cerpenku. Senja tak lain adalah dirimu, Dee. Senja yang kucintai. Karena kaulah yang selalu menemani hari-hariku.
Dee, maafkan aku.
Dari Rey
Ah, Rey. Hampir tak percaya aku membaca suratmu itu. Tanganku gemetar dan dadaku bergemuruh ketika kata demi kata dalam suratmu kuresapi satu persatu. Kau berkata bahwa senja yang kau tulis dalam cerpen-cerpenmu adalah aku. Sungguhkah, Rey?. Bersungguh-sungguhkah kau mencintai aku?
Rey. Aku tak ingin misteri yang kau suguhkan selalu menjadi tanda tanya buatku. Lekaskah kembali. Aku ingin kau berkata jujur. Aku ingin kata-kata itu keluar dari mulutmu. Ya, sejujur hatiku kalau aku mencintaimu.
Ah, Rey. Lihatlah, pipiku basah oleh air mata bahagia… []
Kau Panggil Aku Natasya

Oleh: Muhammad Subhan
KEMBALI kutemui sosok lelaki itu di pantai ini. Ia selalu berdiri di bawah sebatang pohon nyiur sembari menatap laut. Memandang dengan penuh harap, seolah ada yang ia tunggu datang dari lautan luas sana. Ombak dan gelombang laut yang melenguh mencium bibir pantai, tak pernah ia peduli. Begitu juga dengan burung camar yang mengepakkan sayapnya menangkap ikan-ikan. Semuanya ia diamkan, sediam hatinya yang beku.
Angin datang kepadaku membawa cerita tentang dirinya. Dia datang dari seberang, katanya. Sebulan sudah ia berada di pantai ini. Menunggu kekasih yang ia cintai dan belum juga kembali. Kata angin, ia tipe lelaki setia. Cinta dan cita-cita adalah segala-galanya. Seperti kekasihnya yang juga mencintai dirinya.
Aku Ragu dengan cerita angin itu. Karena angin mengucapkannya dengan nada cemooh kepada lelaki itu. Kata angin, demi sekeping cinta ia rela mengorbankan apa saja. Tak peduli waktu, harta, tenaga yang telah ia habiskan untuk menanti kepulangan kekasihnya. Padahal, orang yang dicintainya itu tidak akan kembali lagi ke pantai ini. Gadisnya telah menjadi milik orang lain di sebrang sana. Cintanya telah ia jual demi sepenggal kehormatan di mata orang-orang di tanah jiran. Dan, yang pasti, ia telah melupakan lelaki itu untuk selama-lamanya.
Benarkah? Lagi-lagi aku ragu akan cerita angin itu. Maka di senja ini, ketika lelaki itu menatap horison di kaki langit sana, aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Tentang dirinya. Tentang kekasihnya. Dan tentang kesetiaan, cinta dan rasa yang ia miliki.
“Kau salalu berdiri di pantai ini. Adakah yang kau tunggu?” tanyaku ragu-ragu di antara diam dan sayunya tatapan mata lelaki itu.
Ia tak menjawab ketika itu. Sepertinya, ia gelisah setelah mendengar kata-kata yang kutanyakan. Lalu ia alihkan pandangan menatap butir-butir pasir yang mengotori kakinya. Seolah mencari jawaban di sana.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu,” kataku lagi. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah. Lalu aku pun diam, ikut melemparkan pandangan menatap birunya laut.
Tiba-tiba ia memandangku. Matanya yang sayu itu terlukis harapan. Tapi sangat semu. Aku pun membalas tatapannya di antara keraguan, apakah ia marah dengan kata-kataku tadi.
“Tak ada yang perlu aku maafkan,” katanya kemudian.
“Mengapa?” tanyaku, sebab ia telah mau berkata-kata.
“Karena kau tak bersalah.” Dia mengucapkannya sembari menjatuhkan pantatnya menduduki pasir pantai. Di bawah rindangnya sebatang pohon nyiur yang melambai ditiup angin. Aku pun duduk menurutinya.
Ia kembali diam. Jemarinya yang kekar meraih sebatang ranting kayu yang tergeletak tak jauh di depannya. Lalu dengan ranting itu ia melukis sebuah nama di permukaan pasir di sisi kakinya. Natasya, begitu tulisnya. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja ia menghapuskannya. Seperti ada kekecewaan di matanya ketika melihat tulisan nama itu.
“Siapa pemilik nama itu? Dan, mengapa tiba-tiba kau menghapusnya?” tanyaku heran melihat tngkah lakunya.
Lagi-lagi ia diam sebelum menjawab pertanyaanku. Kembali ia memandangku, lembut. Ada pesona tersendiri ketika aku membalas pandangan pemilik mata sayu itu. Ia begitu tampan. Dan entah mengapa, tiba-tiba aku menundukkan wajah menghindari tatapan matanya. Seolah ada kekuatan gaib yang keluar dari bening matanya itu. Dan hendak menghipnotisku.
Tiba-tiba jemari kekarnya mendarat di daguku, lalu perlahan mengangkatnya. Kembali kutemui pandangan lembut pemilik wajah tampan itu. Kemudian ia berkata pelan. “Natasya…” Nama itu diucapkannya untukku. Aku kikuk, dan kutepis jemari tangannyn yang menyentuh daguku.
“Namaku bukan Natasya!” Aku protes, sebab ia memanggilku dengan nama itu. Nama yang tidak kukenal.
“Ya. Kau bukan Natasya. Tapi bolehkah aku memanggilmu dengan nama itu?” katanya kemudian.
“Mengapa harus dengan nama itu? Dan siapa Natasya?” tanyaku lagi.
Dia diam. Kembali ia menghempaskan pandangannya menatap laut. Seolah ada yang ia cari di sana. Di antara gelombang, angin dan ombak yang berdebur meninggalkan pecahan-pecehan buih putih. Di kaki langit, matahari senja telah turun. Meleburkan dirinya ke laut. Di angkasa, sinarnya berwarna merah darah. Sangat indah. Mengundang birahi alam yang membuncah di hati lelaki itu.
“Natasya…” gumamnya, nama itu diucapkannya lagi. Begitu pelan, seolah untuk pendengarannya sendiri.
“Natasya kekasihmu?” tanyaku ingin tahu.
Ia mengangguk pelan. Lalu ia kembali berdiri. Memandang sejenak ke arahku yang masih duduk. Kemudian ia pun melangkah ke arah pantai. Sampai ketika ombak menjilati kakinya yang berdebur, ia berhenti. Kembali menantang laut.
Lagi-lagi aku tercenung melihat tingkah polahnya. Dan aku pun bangkit mengikuti jejaknya ke pantai. Kemudian berdiri di sisi tubuhnya. Kakiku pun dijilati ombak, seperti ombak telah menjilati kakinya.
Ada kedamaian ketika tubuhku berdiri di sisi lelaki itu. Ia masih memandang ke laut.
“Natasya pernah berjanji di pantai ini. Ia akan kembali ,” kata lelaki itu.
“Kau mencintainya?” tanyaku.
“Ya.”
“Kau begitu setia.”
Dia tersenyum. Tapi senyum yang begitu pahit.
“Aku telah mencoba untuk menjadi lelaki setia. Seperti yang kau ucapkan tadi. Tapi apa arti kesetiaan bagiku, ketika orang yang kucintai mengkhianati kesetiaanku,” katanya seperti tanpa beban.
“Darimana kau tahu kalau kekasihmu itu mengkhianatimu?”
“Angin!”
“Angin?” aku terkejut.
“Ya. Angin telah mengabarkan semuanya. Natasya, gadis yang kucintai itu, telah menjadi milik orang lain. Dan telah melupakanku untuk selama-lamanya!” Ia mengucapkan kata-kata itu dengan bibir bergetar. Ada mendung menggayut di kelopak matanya.
Aku hanya menunduk mendengar ceritanya. Hatiku ikut terenyuh menyaksikan kenyataan itu. Tak kusangka, perempuan, kaumku yang katanya paling setia cintanya dari laki-laki, tega melacurkan diri dan berbuat khianat. Lelaki itu, yang aku pun belum tahu namanya, menepis mitos orang-orang yang berkata, lelakilah yang sering mengkhianati kekasihnya. Tetapi tidak halnya dengan lelaki itu. Ia telah membuktikan kesetiaan kepada kekasih yang dicintainya. Walau berhari-hari lamanya ia harus menanti kepulangan kekasihnya itu. Di pantai ini.
Angin berdesir lembut. Menampar-nampar wajahku yang masih larut merenungi kata-kata lelaki itu. Dan, angin pun seolah mentertawakanku, bahwa perempuan, kaumku itu, adalah makhluk yang lemah, tapi menjadi khilaf ketika cintanya telah berbagi. Angin pun berfilsafat, kesetiaan tiada selamanya menjamin cinta akan abadi. Ah, begitu indah kata-kata angin itu. Aku pun malu dibuatnya.
Matahari senja telah hilang di telan laut. Yang tinggal hanya rona kuning keemasan yang terpancar dari permukaan kaki langit yang datar. Malam pun turun. Bersama bintang–bintang yang mulai bermunculan satu-persatu. Sementara, nun di tengah gelombang laut, tampak biduk-biduk kecil yang berlayar menentang ganasnya laut. Menggantang harapan, di antara mimpi dan kenyataan.
***
HARI Ini tak kutemui lelaki itu berdiri di bawah batang pohon nyiur. Di tepi pantai. Tempat biasa ia berdiri bermenung sembari memandang laut. Ia seolah raib, tak berjejak dan berimba.
Tapi, lelaki itu tidak pergi begitu saja. Kutemui sepucuk surat yang terselip di antara pelepah nyiur yang rindang itu. Surat bersampul putih polos. Sepolos hatinya yang setia menanti kepulangan kekasihnya.
Kubuka isi surat itu dengan tangan gemetar. Kubayang-bayangi apa yang tertulis dalam selebar kertas itu. Lalu aku pun membacanya.
Kau pasti kembali ke pantai ini. Seperti hari-hari kemarin, kauselalu setia menemaniku memandang laut. Walau ku tahu, laut tak akan memberi apa-apa untukku. Karena orang yang kunanti tak akan pernah kembali lagi.
Natasya… maaf, aku memanggilmu dengan nama itu. Jujur kukatakan, wajahmu mengingatkanku dengan gadis yang kucintai. Tapi sayang, kau bukan gadisku.
Maafkan aku, Natasya.
Tulisan yang begitu singkat. Kuresapi kata demi kata yang tertulis di atas kertas itu. Natasya… nama yang begitu indah. Seindah wajah tampan lelaki yang mecintai pemilik nama itu.
***
KEESOKAN harinya kubaca berita di suratkabar bahwa ditemukan sesosok mayat lelaki tak dikenal yang terdampar di antara batu-batu penyangga dermaga. Perkiraan sementara pihak kepolisian, lelaki itu mati bunuh diri dengan menerjunkan tubuhnya ke laut. Berdasarkan hasil visum dokter, lelaki itu mengalami ganguan jiwa, sehingga berbuat nekat menghabisi nyawanya dengan jalan bunuh diri. Dan, di dada bidang lelaki itu terukir sebuah nama yang sangat kukenal; Natasya! []
Pengharapan yang Kandas

Oleh: Muhammad Subhan
SENJA kian menepi. Angin berhembus lembut menerpa kalbu. Sejuk terasa. Deburan ombak memecah sunyi. Mengikuti nyanyian camar yang beranjak pulang ke sarang. Nun, di bibir pantai, tampak biduk-biduk yang ditarik nelayan ke tengah laut. Berlabuh. Mencari rezeki yang telah dijanjikan Tuhan. Panorama senja itu kuresapi dalam-dalam.
"Jim." Sapaan lembut membuyarkan lamunanku.
"Kok, di sini?" tanya suara lembut itu kepadaku.
"Ingin sendiri saja." Jawabku singkat.
"Tentu mereka akan mencarimu."
"Mungkin." Ia menghempaskan pantatnya menduduki pasir putih. Kemudian menyandarkan tubuhnya pada batang nyiur yang tumbuh rindang di belakang kami.
“Kau akan pergi juga, Jim?" suaranya agak sedikit berbisik. Seolah untuk pendengarannya sendiri. Bening matanya menatap jauh ke arah laut.
Aku terdiam. Tak kuasa aku menjawab pertanyaannya itu. Kugenggam jemari mungilnya yang lembut. Kukecup sekali.
"Tekadku telah bulat, Diah. Aku harus meninggalkan negeri ini." Ucapku parau.
"Secepat itukah?" tatapan matanya meredup.
Aku kembali diam. Semakin berat kumenjawab pertanyaannya. Nun, jauh di pondok bambu, sayup-sayup terdengar petikan gitar yang dimainkan kawan-kawanku. Alunan tembang cinta. Begitu syahdu.
Di senja ini, kami tengah menikmati liburan akhir semester. Sebab sekolah telah usai. Dan, besok pengumuman lulus.
"Jim, kau belum menjawab pertanyaanku." Diah menuntut. Sejenak kutatap air mukanya yang lembut. Kutemui kedamaian di sana. Bening matanya kian mengharap agar aku tetap tinggal di negeri ini.
"Di sini bukan tempatku, Diah. Kumohon kau mengerti..."
"Tapi kau bisa menundanya, Jim!"
"Mungkin. Tapi itu mustahil."
"Apa yang mustahil?"
"Korban telah berjatuhan. Semua itu saudaraku, Diah. Kedatangan kami di sini tidak dikehendaki."
Aku menunduk. Tanpa terasa, setetes butiran panas mengalir di pipiku.
"Tidak, Jim. Tidak! Jangan pernah kau ucapkan kata-kata itu!." Diah menggenggam erat jemari tanganku. Ia pun menangis. Aku paham kalau ia sangat mencintaiku.
Memang, aku berbeda suku dengannya. Karena perbedaan itulah yang menghendaki kami harus berpisah. Ini semua berawal karena krisis yang tengah melanda bangsaku. Bangsa yang dulu damai. Tapi kini tak ubah bagai di neraka.
"Diah." Kurangkul tubuhnya bangkit berdiri. "Kau masih ingat ukiran ini? Dua tahun yang lalu kita yang mengukirnya, bukan?" ucapku meraba ukiran nama yang melekat pada batang nyiur yang menjulang. Diah mengangguk. Namun tak lama ia menatap ukiran nama kami berdua itu. Dialihkannya pandangan menatap butir-butir pasir yang mengotori kakinya.
"Tak perlu kau membuka memori itu kembali, Jim." Ucapnya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyaku heran.
Air matanya kembali berlinang. Menetes lembut bak mutiara manikam di pipinya yang putih. Bibir mungilnya terkatup rapat. Seolah menahan birahi yang bergejolak di dadanya.
Sementara waktu kian jauh beranjak. Malam bergulir lembut bak tetes air di dedaunan. Seiring suara jangkrik malam yang mendesing. Purnama perlahan menampakkan rupa. Tersenyum ramah. Seolah menjadi saksi bisu atas ucapan kami berdua. Ucapan duka yang mengharuskan kami berpisah. Benarlah kata pepatah, bukan salah bunda mengandung. Baik dan buruk harus kuterima di negeri orang. Negeri yang kukhayal dapat merobah hidupku. Tapi kini sebaliknya. Yang lebih ironis, mereka membenci sukuku. Membunuh saudara-saudaraku. Padahal kami satu naungan Tuhan. Satu agama. Hanya ras yang berbeda.
"Jim. Kau tak ingin aku bersedih, bukan?" suara paraunya merenyahkan hatiku. Aku tertunduk. Memang aku merasa bersalah kalau melihat ia bersedih.
"Tidak, Diah. Tak kubiarkan engkau bersedih." Ucapku sembari mendekap tubuhnya erat.
"Tapi kau pergi juga, Jim."
"Diah, percayalah. Aku pergi untuk kembali kepadamu." Janjiku sungguh-sungguh.
"Kau bohong, Jim." Semakin erat kudekap tubuh gadis yang sangat kucintai itu. Sungguh tak kuasa aku melepas ia sendirian di sini. Di kota ini. Cinta yang telah lama kami rajut tak menghendaki berpisah. Tapi apa hendak dikata, terompet kapal tujuan tanah Sunda esok pagi akan memanggilku.
Angin laut semakin terasa tajam menusuk tulang. Dingin sekali. Aroma harum yang membawa birahi alam sangat menyengat penciuman. Seolah melukis warna baru, menghias malam. Gemerlap bintang yang bersinar terang mengguratkan panorama indah malam itu. Bertaburan tak terhitung jumlahnya. Bagai butir-butir mutiara yang diserak untuk dibagi-bagikan kepada siapa yang ingin memiliki. Sungguh kuasa Tuhan Sang Pencipta.
Kami yang telah hanyut dalam birahi alam itu, seolah melayang jauh ke angkasa. Menelusuri sendi-sendi kehidupan baru yang tak berwatas. Entah di mana. Bak tangan-tangan gaib yang menuntun kami untuk melangkah jauh meninggalkan dunia. Begitu asing.
***
KUTEMUI sepucuk surat terselip di bawah pintu kamar kostku. Bersampul putih, berhiaskan bunga-bunga. Sandi-sandi mungil terukir manis di bibir atas sampul itu. Telah kutebak siapa pengirimnya. Sejurus kubuka surat itu. Membacanya. Tulisan yang begitu singkat.
“Jim, kusimpan janji-janjimu. Walau sampai kapan pun aku tetap menantimu. Demi benih yang kau tanam, pergilah.”
Kukecup surat mungil itu. Kudekap. Pengharapan yang begitu tulus dari seorang gadis. Gadis yang kucintai. Semakin terasa berat langkahku untuk meninggalkanya sendiri. Meninggalkan negeri yang telah mempertemukanku dengannya. Tapi apa hendak dikata, perpisahan ini tak mungkin ditunda. Berita nasional negeri ini tadi pagi mengumumkan bahwa kapal-kapal untuk memulangkan warga transmigran akan berangkat pukul sebelas nanti. Dan esok lusa, mereka mengumandangkan proklamasi kemerdekaan yang disaksikan oleh seluruh penduduk dunia. Dan negeri Diah akan bebas. Bebas menentukan nasib mereka sendiri dari tangan-tangan tirani.
Dua koper hitam telah penuh berisi pakaian-pakaianku. Kamar kost yang telah empat tahun kuakrabi, seolah bersedih menatap kepergianku. Foto mungil Diah yang menggantung di bilik kamarku, tak memancarkan senyum. Menatapku sayu.
Kujumpai bangku kosong di samping dek. Kurebahkan tubuhku di sana. Di dermaga, di sisi kapal, masih banyak orang-orang sesukuku yang berdesakan menaiki tangga. Mereka berebutan mencari tempat. Wajah-wajah mereka tak terpancar keceriaan. Aroma keringat begitu menyengat di sepanjang anak tangga. Terasa panas. Hari ini juga kami akan dipulangkan ke kampung halaman. Kampung yang dulu jauh dari peradaban. Tapi tak tahu bagaimana kabar sekarang.
***
TUJUH tahun sudah kutinggalkan negeri Diah. Negeri gadis yang dulu kucintai. Entah bagaimana kabarnya kini. Mungkin ia telah disanding orang yang bisa membahagiakan hidupnya. Dan memiliki bocah-bocah manis yang menemani hari-harinya. Sementara di sini, aku telah memiliki dua putera. Hasil perkawinan dari gadis pilihan orang tuaku.
"Itu lebih baik bagimu daripada bersanding dengan gadis yang bukan beradat kita," kata ayahku suatu hari yang menyesakkan dadaku. Sungguh, biar bagaimanapun aku tak dapat melupakan Diah. Aku tetap mencintainya. Sosok Diah bagiku adalah sosok yang tulus. Sulit mencari gadis seperti dia. Kesetiaan itulah yang membuatku betah membujang selama lima tahun. Hingga kemudian menikah.
Hari terus bergulir. Bulan silih berganti. Seiring perubahan masa dan pertukaran waktu. Tak terasa, hidup telah kian panjang kujalani. Peradaban demi peradaban terus berubah. Tukar menukar sesuai zaman. Tanpa terasa, rambut di kepalaku mulai memutih. Tenagaku semakin lemah. Pertanda liang kubur kian dekat menanti.
Januari 2030.....
Entah angin mana yang membawaku kembali ke tanah kelahiran Diah, gadis yang kucintai. Yang jelas, aku bermaksud menemuinya. Kerinduan yang berpuluh tahun kupendam, terasa kembali seperti dahulu. Membuka memori. Namun permata yang kucari tak juga menampakkan rupa. Hilang tak tentu jejak. Hingga suatu hari kutemui tubuhnya di antara tubuh-tubuh lain yang telah kembali pada alam. Kembali pada keagungan Tuhan.
"Ia mati muda. Konon ia berkasih-kasihan dengan lelaki yang sangat dicintainya. Lelaki itu berada di negeri yang jauh dari negeri ini. Lelaki itu berjanji akan kembali dan menikahinya. Namun hingga akhir hayatnya, tak juga ia bertemu dengan lelaki pujaannya itu. Anaknya yang masih bayi saat itu tak lama menatap dunia. Kemudian meninggal karena penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya. Sebelum ia menyusul buah hatinya itu, sempat ia berwasiat kepadaku untuk menyerahkan potongan batang nyiur ini yang terukir namanya dan nama kekasihnya jika kekasihnya itu kembali. Karena taman pantai tempat mereka memadu kasih dahulu, kini telah berdiri bangunan-bangunan megah yang menghilangkan kenangan mereka." Cerita penjaga makam suatu hari.
Aku termenung. Kusimak cerita haru itu dengan deraian air mata. Kesetiaan yang sungguh luar biasa ia korbankan untukku. Mustahil bagi seorang gadis sepertinya sanggup menanti berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan kesetian itu benar-benar ia buktikan kini.
Kutaburi kembang kamboja di atas pusara yang terseyum menatapku. Harum semerbak. Seharum tetes air yang bergulir lembut dari daun keladi. Tetesan air itu jatuh tepat menyentuh batu pualam putih yang berukirkan nama ‘Halimatussakdiah-Wafat, Agustus 2020'. Lembut. Seolah ia bersuara melantunkan syair-syair rindu yang terngiang merdu.
semilir bayu membawa kita jauh
jauh menyelami waktu
menapaki kehidupan semu
yang bergulir meraih asa
namun tak teraba
Aceh-Padang, 2000
Edelweis

Oleh: Muhammad Subhan
AKU menemukan bunga itu di tepi jalan pagi tadi. Ketika itu gerimis sedang turun. Bunga itu tampak kotor, tapi tetap kelihatan segar. Aku memungutnya dan menyelipkannya di dalam saku. Terasa hangat tubuhku.
Sayang, bunga seindah ini dibuang orang, pikirku. Tak henti-hentinya aku mengagumi bunga itu.
Edelweis, kutahu nama bunga itu dari seorang teman. Kata temanku itu, bunga Edelweis melambangkan cinta, pengorbanan dan ketulusan. Sesuai dengan warnanya yang putih halus dan lembut. Selembut salju.
Aku menggantungkan bunga itu di dinding kamarku. Kupaku agar ia tak dicuri orang. Kembang-kembangnya yang halus kuperciki dengan air hangat. Bunga itu tampak mekar kembali. Seolah ia tersenyum padaku. Aku tertegun lama setelah menggantungkan bunga itu. Aku bagai terhipnotis.
Semenjak kehadiran bunga itu di kamarku, hampir setiap malamnya aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku didatangi seorang gadis cantik bak seorang bidadari dari negeri khayangan. Gadis itu bermahkotakan intan berlian yang menyilaukan pandanganku. Pakaiannya sangat indah, berwarna putih dan bercahaya. Di tangan gadis cantik itu menggenggam sebuah tongkat kecil yang dikitari oleh bintang-bintang yang berkilau indah. Seolah-olah aku sedang menyaksikan sosok putri Cinderella, tokoh putri sahabat boneka kayu Pinokio, film kartun yang sangat kugemari semasa kecil dulu.
Entah mengapa, setiap gadis itu datang dalam mimpi-mimpiku, aku merasakan suatu kebahagiaan. Ada getaran aneh yang meresap dalam batinku. Bahkan, aku selalu mengharapkan kehadiran gadis itu selalu. Dalam alam nyata, alam di mana kini aku hidup.
Suatu malam, gadis itu datang lagi dalam mimpiku. Namun, kali ini raut wajahnya tampak lain. Sepertinya ia sedang bersedih. Ada beban derita terlukis di wajahnya yang ayu.
“Kau menangis?” tanyaku. Dia diam saja. Diangkatnya wajahnya yang sedari tadi menunduk. Kemudian menghunjamkan sorot matanya ke wajahku. Aku kikuk. Salah tingkah.
“Kau kejam!” ucapnya tiba-tiba.
“Aku kejam?” tanyaku heran.
“Ya.”
Aku bingung. Gadis itu menuduhku kejam. Padahal, aku tak mengenalnya. Yang kutahu, ia adalah gadis manis penghias tidurku. Tapi, benarkah aku kejam?
“Kau telah menyiksa bunga itu!”
“Edelweis, maksudmu?”
“Ya.!”
“Kenapa dengan bunga itu?”
“Tidakkah kau tahu, kalau setiap saat ia menjerit? Ia berdarah sebab kau paku. Dan darah itu menetes setiap saat. Tapi kau hanya tersenyum puas menatapnya!”
“Tapi, aku tak menyiksanya. Aku hanya ingin merawatnya, menjaganya dari dingin, panas dan hujan. Dan lagi, agar ia tak dicampakkan orang begitu saja.”
“Bunga itu tersiksa. Ia meronta. Dan ia selalu berontak ingin bebas. Kau telah mengekangnya!”
“Tidak! Jangan kau katakan seperti itu. Akulah yang memungutnya dari jalan. Aku juga yang membersihkan tubuhnya dari kotor. Dan kini, ia telah bersih kembali.”
Gadis itu diam. Hilang kata-kata. Sorot matanya yang teduh masih saja menghunjam ke wajahku. Aku pun membalas tatapan matanya itu, lembut.
Malam selanjutnya, gadis itu datang lagi. Seperti malam-malam kemarin, ia menuntutku agar aku melepaskan bunga Edelweis yang kugantungkan di dinding kamarku beberapa waktu lalu.
“Aku mencintainya,” kataku pada gadis itu.
“Bohong. Kau hanya menyakitinya.”
“Tidak! Aku benar-benar mencintainya.”
“Kau sama saja seperti laki-laki yang telah mencampakkannya.”
“Tapi, aku bukan laki-laki itu.”
“Cih! Munafik!”
Gadis itu menghilang. Sepertinya ia tak senang atas pengakuanku. Kau munafik, katanya. Benarkah?
Malam itu, aku terjaga dari mimpiku. Seluruh tubuhku basah oleh keringat. Kutatap sejenak bunga Edelweis yang masih tergantung di dinding kamarku. Kembang-kembangnya masih mekar. Aku tak menemukan penderitaan di sana. Tapi, mengapa gadis dalam mimpiku itu berkata aku telah mengekangnya? Ah, aku tak mengerti sama sekali. Padahal, aku mulai mencintainya. Aku merindukan bunga itu selalu. Aku ingin agar ia selalu berada di dinding kamarku.
Esoknya, tak kutemukan bunga itu di dinding. Ia raib, tak berbekas. Padahal, baru dua jam lalu ketika ku terjaga dari tidur, ia masih tergantung di dinding. Tapi kemana ia kini?
Kucari bunga itu ke sana ke mari. Laci-laci meja kubongkar. Kolong tempat tidur kugeledah, dalam lemari kain, di bawah alas kaki, di kamar mandi dan bahkan di dapur. Tapi, bunga itu tak juga kunjung tampak.
Oh, Tuhan! Kemana gerangan bunga itu? Jangan-jangan gadis dalam mimpiku itu telah mencurinya. Tapi, apa mungkin? Gadis itu fiktif dalam mimpiku. Ia tak pernah ada. Huh, sialan! Siapa gerangan yang mengambil bungaku?
Aku terus saja mencari. Aku tanyakan pada orang-orang seisi rumah. Tapi, tak seorang pun mengaku mengambilnya. Aku bingung. Aku cemas. Bunga itu pasti akan kedinginan. Ia akan kotor kembali seperti saat kutemukan di atas lumpur beberapa hari lalu.
Tuhan! Di mana bunga itu gerangan?
Seharian aku mencari bunga itu. Tapi tak juga ketemu. Ia telah pergi dari kamarku. Dari hatiku.
Malamnya, aku bermimpi didatangi gadis itu lagi. Kali ini wajahnya tampak berseri. Matanya berbinar-binar. Ia tersenyum padaku.
“Terima kasih, kau telah menjaga Edelweis.” Katanya.
“Edelweis… di mana Edelweis ku?” tanyaku.
Gadis itu kembali tersenyum.
“Kau mencurinya?” tanyaku lagi.
Gadis itu mengangguk. Kemudian menggerak-gerakkan tongkat ajaib di tangannya. Tiba-tiba muncul cahaya yang berkilau. Sangat terang sekali. Kamarku bermandikan cahaya dan bunga-bunga. Harum semerbak. Lalu, kulihat muncul sesosok wanita cantik di hadapanku. Lebih cantik dari gadis itu.
“Siapa dia?” tanyaku takjub.
“Edelweis,” kata gadis itu.
“Edelweis, bunga itu?”
“Ya.”
Gadis perwujudan bunga Edelweis itu memandangku dalam-dalam. Betapa cantiknya dia, pikirku.
Edelweis, oh, edelweis! Aku larut dalam angan-angan. Benarkah dia bunga itu?
Entahlah! Yang jelas, gadis itu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku… []
Ketika Tasya Bertanya tentang Tuhan

Oleh: Muhammad Subhan
ADA gejolak yang tersembunyi di hati Tasya. Tuhan. Ya, Tasya bertanya tentang Tuhan. Tuhan yang selama ini ia dengar dari bibir mama, papa, dan juga dari khotbah guru-gurunya di sekolah.
“Tuhan itu apa, sih?” Tasya bertanya dalam hatinya. Pertanyaan yang membuatnya bingung. Kenapa orang-orang senang membicarakan Tuhan. Padahal setahu Tasya, orang-orang itu tak pernah melihat Tuhan.
“Tuhan itu ada di hatimu, Tasya,” kata temannya suatu kali.
“Di hatiku? Kapan Tuhan masuk ke hatiku?” tanya Tasya bingung.
“Ketika kamu sedang sembahyang,” jawab temannya.
“Ah, nggak mungkin. Aku tak pernah lihat Tuhan, kok,” kata Tasya lugu.
Tasya memang anak yang kritis. Usianya baru enam tahun. Sejak kecil Tasya sudah mendengar cerita dari mama, papa dan gurunya tentang Tuhan. Tuhan yang tidak pernah membuatnya mengerti. Ketidakmengertiannya itulah membuat Tasya selalu bertanya kepada siapa saja.
Tapi Tasya tak pernah puas. Jawaban yang diberikan orang-orang kepadanya tak pernah menghentikan pencariannya tentang Tuhan. Tasya selalu mengajukan pertanyaan yang benar-benar membuat orang menjawabnya kelabakan.
“Tuhan itu seperti apa, sih?” tanya Tasya suatu hari kepada mamanya.
“Tuhan tak bisa dilihat oleh manusia, Tasya,” jawab mamanya bijak.
“Kalau tak bisa dilihat kenapa Tuhan disembah, Mama?” tanya Tasya lagi. Mamanya bingung.
“Duh, Tasya, nanti kalau sudah dewasa kamu mengerti sendiri,” jawab mamanya ringkas.
Tasya tidak puas. Apa yang diucapkan mamanya tidak memberi jawaban akan pertanyaannya. Lalu Tasya pun bertanya kepada papanya. Papa Tasya seorang insinyur.
“Apa beda Tuhan dengan manusia, Pa?” tanya Tasya lagi.
Papanya yang sedang asyik membaca koran sore kaget. Kelabakan. Tapi ia tetap berusaha memberikan jawaban yang bijak. Agar Tasya, anaknya, tidak salah mengartikan Tuhan yang dipahaminya sebagai seorang anak yang masih kecil.
“Tasya, Tuhan itu Sang Pencipta. Manusia adalah makhluk yang diciptakannya,” jawab papanya sembari merangkul tubuh Tasya yang mungil.
Sesaat Tasya mengangguk. Sepertinya ia paham. Tapi tiba-tiba bertanya lagi.
“Lalu, siapa yang menciptakan Tuhan, Pa?”
Dek! Papanya kaget. Jantungnya berdebar cepat. Papanya tidak menyangka kalau Tasya akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Anak ajaib, gumamnya.
“Tasya bobok dulu ya. Nanti kalau sudah bangun papa jelaskan lagi,” jawab papanya. Papa Tasya tak ingin anaknya berpikir berlebihan. Tasya masih kecil, gumam papanya.
Lagi-lagi Tasya kecewa. Jawaban mama dan papanya tidak memberi kepuasan di hatinya. Tasya kesal. Tasya menangis dalam hatinya. Kenapa mama dan papanya tidak mau menjelaskan tentang Tuhan sejelas-jelasnya?.
***
DALAM tidurnya Tasya bermimpi. Tasya bermain-main di sebuah taman yang sangat indah. Di sana-sini bertumbuhan bunga-bunga beraneka warna. Kupu-kupu terbang menari-nari. Cahaya matahari bersinar lembut dan meresap ke pori-pori kulitnya.
Di kiri kanan taman bunga itu, Tasya melihat tiga sungai yang mengalir tenang. Panjangnya berliku-liku. Sungai yang satu berwarna putih susu, satunya lagi berwarna bening bagai madu, dan sungai lainnya mirip seperti warna anggur.
Tasya bermain-main di pinggir sungai itu. Sepertinya Tasya senang sekali. Dari pinggir sungai-sungai itu Tasya dapat melihat ikan-ikan kecil yang bermain-main di dasar sungai. Tasya ingin menangkap ikan-ikan itu.
Ketika Tasya ingin masuk ke dalam sungai, tiba-tiba Tasya dikejutkan suara lembut dari arah belakangnya. Suara itu melarang Tasya menangkap ikan-ikan di sungai.
“Tasya, jangan kau tangkap ikan-ikan kecil itu,” seru suara dibelakangnya.
Tasya terkejut. Iapun menoleh ke belakang. Tasya melihat sesosok wanita cantik dengan pakaian yang begitu gemerlap. Putih bercahaya. Di tangan wanita itu ada sebuah tongkat yang bersinar. Di sekeliling tongkat itu berterbangan bintang-bintang mungil beraneka warna.
“Siapakah engkau, wahai ibu?” Tasya bertanya dalam keheranannya. Takjub.
“Jangan takut anakku. Ibu adalah bidadari penghuni taman ini,” kata wanita yang menatap Tasya dengan lembut.
Tasya mendekat ke arah wanita itu. Tasya merasakan aroma harum yang keluar dari tubuh bidadari dihadapannya.
“Ibu bidadari, kenapa saya tidak boleh menangkap ikan-ikan yang indah itu?” tanya Tasya sembari memegang gaun bidadari yang gemerlapan warnanya.
Bidadari taman itu tersenyum.
“Tasya, ikan-ikan kecil itu milik Tuhan. Kalau kamu mengambilnya, nanti Tuhan marah,” jawab bidadari itu lembut.
“Tuhan? Di mana Tuhan, Ibu Bidadari?” tanya Tasya lagi.
Bidadari penghuni taman itu tersenyum lagi.
“Tasya, kamu anak yang cerdas. Selagi makhluk ciptaan Tuhan masih tinggal di dunia, mereka belum dibolehkan melihat Tuhan,” jawab Bidadari.
“Kenapa, Ibu? Salahkah kalau kita ingin melihat Tuhan agar kita lebih yakin Tuhan itu ada?” tanya Tasya lagi.
Lagi-lagi bidadari itu tersenyum. Senyum yang indah dengan lesung pipit di kedua pipinya yang putih bercahaya.
“Tasya, kekuatan manusia tak sebanding dengan kekuatan Tuhan yang menciptakan. Manusia itu hanya setitik debu, sedangkan Tuhan adalah Maha Penggenggam debu-debu,” jawab bidadari lembut.
“Apa tubuh kita akan hancur bila melihat Tuhan?” tanya Tasya lagi. Ia makin penasaran.
“Tentu saja Tasya, karena kita tak punya kekuatan apa-apa,” kata Bidadari.
“Lalu, bagaimana agar manusia bisa melihat Tuhan, Bu?”
“Nanti, setelah manusia lulus ujian Tuhan, lalu mereka masuk surga,” jawab Bidadari lagi.
“Lulus ujian? Masuk surga?” tasya bergumam sediri.
Tiba-tiba ia tersentak. Tasya memandangi kesekelilingnya. Tasya melihat taman-taman luas yang indah. Banyak gedung-gedung megah bagai istana. Sungai mengalir. Burung-burung berterbangan. Langit cerah. Dan angin sejukpun berhembus sepoi-sepoi.
“Apakah ini taman surga, Ibu Bidadari?” tanya Tasya lagi.
Tapi kali ini Tasya tidak melihat tubuh wanita bidadari yang tadi berdiri dihadapannya. Tasya melihat ke kiri kanan. Muka belakang, tapi tetap juga Tasya tidak menemukan sosok bidadari yang baik hati itu.
“Ibu Bidadari, dimanakah engkau? Apakah ini surga? Di mana Tuhan? Ibu Bidadari….” Tasya terus berteriak-teriak.
“Tasya, Tasya… Bangun, Nak. Kamu kenapa berteriak-teriak?” Mama Tasya tersentak dari tidurnya. Ia mendapati tubuh Tasya yang menggigil berkeringat. Tasya terus mengingau memanggil-manggil nama bidadari, surga dan Tuhan.
Papa Tasya juga bangun dari tidurnya. Mama dan papanya cemas melihat kondisi Tasya yang tidak seperti biasa. Malam itu juga mama dan papanya membawa Tasya ke rumah sakit.
***
“ADA apa dengan anak kami dokter?” tanya mama Tasya pada dokter yang menangani perawatan Tasya. Mama dan papa Tasya cemas. Tasya belum juga sadarkan diri.
“Tenang, Bu. Anak Ibu tidak apa-apa. Tidak ada gejala penyakit yang saya temukan,” jawab dokter menenangkan mama Tasya. Dokter itu terus bekerja memeriksa keadaan Tasya. Ia dibantu dua perawat laki-laki yang menyiapkan segalanya.
“Tidak apa-apa bagaimana, Dok? Sejak tadi anak saya belum sadarkan diri,” ucap mama Tasya lagi.
Sejenak suasana hening. Mama dan papa Tasya diam. Menunggu dengan kecemasan. Dokter dan perawat terus bekerja.
Tiba-tiba Tasya terbangun dari tidurnya. Tasya berteriak-teriak. Tasya berontak.
“Ibu bidadari, dimanakah engkau? Apakah ini surga? Di mana Tuhan?” Tasya terus berontak. Berteriak-teriak menyebut bidadari, surga dan Tuhan.
Mama Tasya menangis. Papa tasya cemas. Dokter dan dua perawat kelabakan.
“Ambilkan suntik penenang,” perintah dokter pada perawat. Dokter pun menyuntik lengan Tasya. Perlahan Tasya tidak berontak lagi. Diam. Tasya tertidur. Papa Tasya memeluk tubuh mamanya yang belum berhenti menangis menyaksikan keadaan Tasya, buah hatinya.
***
DALAM tidurnya, Tasya dibimbing bidadari di antara taman-taman bunga yang indah. Ada kupu-kupu berterbangan. Ada sungai. Ada jembatan. Ada istana-istana mungil yang megah.
“Kita mau pergi kemana, Ibu Bidadari?”
“Meniti Cahaya Tuhan.”
Tasya dan Biadadari tersenyum.
Bahagia. ***
2004
Sabtu, 02 Januari 2010
Cerita tentang Senja di Pantai Padang

Oleh: Muhammad Subhan
Kalau Tuan dan Puan datang pada senja hari di Kota Padang, singgahlah sebentar di tepian Muara Pantai Padang. Di sana akan Tuan dan Puan dapati sederetan pohon nyiur yang melambai ditiup sepoinya angin pantai. Tuan dan Puan juga akan mendengar lenguhan ombak yang berdebur menjilati bibir pantai, bersama nyanyian camar yang menangkap ikan-ikan. Pasir pantai yang putih berkilauan diterpa sinar matahari senja yang berwarna kuning keemasan akan menambah semarak pemandangan senja yang selalu ramai dinanti anak muda remaja yang sedang jatuh cinta. Tuan dan Puan akan merasakan betapa indahnya pesona matahari senja itu yang bertengger seperti lempengan perak di atas kaki langit sana.
Kalau Tuan dan Puan melepaskan pandangan ke tengah samudera, Tuan dan Puan akan menyaksikan biduk-biduk yang mengembangkan layar menantang ganasnya gelombang. Tuan dan Puan juga akan terpesona menyaksikan pulau-pulau kecil di tengah lautan yang mengapung seperti permadani yang dihamparkan. Sekali-sekali Tuan dan Puan akan menyaksikan kapal-kapal yang mendaratkan badannya di tepian pulau-pulau itu. Namun ada pula kapal-kapal itu hanya sekedar melintas saja tanpa hendak melemparkan sauhnya pada pulau-pulau yang konon menurut cerita orang memiliki pantai-pantai terindah.
Dan jika Tuan dan Puan menoleh ke belakang, Tuan dan Puan akan mendapati perkampungan kecil nelayan yang saban hari penduduknya berkutat dengan pukat, ikan, jaring dan biduk. Setiap senja datang, Tuan dan Puan akan melihat sekelompok anak-anak nelayan bertelanjang dada berlarian di tepian pantai. Mereka berkejar-kejaran ke sana-ke mari menikmati kehadiran senja dan selalu terpancar rona kegembiraan di wajah anak-anak itu. Tuan dan Puan tak akan mendapati wajah kuyu dan sedih pada roman mereka yang dijuluki orang “anak-anak laut”.
Di perkampungan tepian pantai itu pula, Tuan dan Puan akan melihat sekelompok perempuan tua yang mengumpulkan ikan-ikan kering yang telah selesai dijemur. Mereka selalu senang dengan pekerjaan yang membuat bau keringat anyir dan pakaian lusuh. Tuan dan Puan akan kagum dengan perempuan-perempuan tua itu yang tetap semangat walau usia mereka telah senja. Meski begitu mereka juga selalu merindukan kedatangan senja dan tiada pernah peduli bahwa kehadiran senja bukan untuk menemui mereka.
Setelah semua panorama itu Tuan dan Puan nikmati, jangan lupa tolehkan pula pandangan Tuan dan Puan ke atas bukit tepian Muara. Tuan dan Puan akan melihat indahnya panorama Gunung Padang yang menjulang tempat bersamayamnya pusara Siti Nurbaya, kekasih Syamsul Bahri korban kawin paksa adat Minangkabau di masa silam yang Tuan dan Puan baca kisahnya dalam roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli. Di Gunung Padang itu pula Tuan dan Puan akan menemui sejumlah meriam tua peninggalan tentara Jepang sebagai benteng pertahanan untuk menghalau musuh yang hendak masuk ke bibir Muara Pantai Padang.
Untuk dapat naik ke puncak Gunung Padang itu Tuan dan Puan harus mendaki ratusan anak jenjang yang panjang berliku-liku. Kalau Tuan dan Puan merasa keletihan, cobalah sejenak hamparkan pandangan Tuan dan Puan ke arah kanan. Tuan dan Puan akan menyaksikan indahnya riak gelombang laut biru dan semaraknya gedung-gedung yang menjulang di tengah Kota Padang. Semua panorama itu akan mehilangkan kepenatan kaki Tuan dan Puan mendaki ratusan anak jenjang, sehingga Tuan dan Puan senantiasa memuji keindahan alam ciptaan Tuhan.
Sesampainya Tuan dan Puan pada jenjang ke tiga ratus, berhentilah sejenak. Tuan dan Puan dapat beristirahat pada sebuah pondok mungil yang menghadap ke laut. Di pondok mungil itu akan Tuan dan Puan dapati seorang perempuan berusia sekitar 45 tahun dengan baju lusuh dan aroma tubuh yang kurang sedap. Jangan sekali-kali Tuan dan Puan mengusik perempuan itu, karena ia akan berang dan memaki-maki orang yang usil mengganggunya. Tapi sebenarnya perempuan itu tidak sejahat prasangka orang-orang yang sering memperbincangkan dirinya.
Tuan dan Puan akan berjumpa dengan perempuan itu jika Tuan dan Puan berkunjung ke sana pada senja hari. Jika pagi dan siang hari Tuan dan Puan datang, maka jangan harap perempuan itu akan menampakkan rupanya. Dia selalu mengunci rapat pintu bilik pondok yang tampaknya memang dikhususkan sebagai tempat rehabilitasi perempuan yang tinggal sendirian itu. Menurut cerita orang, konon perempuan itu adalah salah seorang anak gadis sebuah keluarga miskin yang tinggal di perkampungan nelayan di tepian Muara. Perempuan itu diasingkan kedua orang tuanya ke lereng Gunung Padang dua puluh lima tahun silam karena dirinya mengidap penyakit jiwa yang tak kunjung sembuh.
Konon, menurut cerita penduduk di kampung nelayan di tepian Muara itu, sewaktu usia perempuan itu masih muda belia ia pernah memadu kasih dengan seorang lelaki pelaut yang selalu mendaratkan biduknya ketika senja tiba. Lelaki itu berasal dari pulau seberang yang kedatangannya ke tepian Muara Pantai Padang selalu dirindukan perempuan itu. Bertahun-tahun lelaki pelaut dan perempuan itu menjalin hubungan kasih, hingga suatu ketika perempuan itu hamil. Penduduk di kampung nelayan di tepian Muara tidak mengetahui siapa gerangan ayah pemilik janin yang dikandung perempuan itu, sehingga perempuan itu diusir dari kampung nelayan tempat tinggalnya. Tetapi setelah anak yang dikandung perempuan itu lahir, perempuan itu kembali ke kampung nelayan di tepian Muara membawa bayi laki-laki yang selalu tertidur di gendongannya. Tapi malang nasib yang ditanggung perempuan itu, anak lelaki hasil hubungannya dengan lelaki pelaut kekasihnya harus ia relakan dipanggil Yang Kuasa karena mengidap suatu penyakit yang menyebabkan kematian.
Sejak kehilangan bayi dan ditinggal lelaki pelaut yang tak lagi pernah datang berkunjung ke tepian Muara Pantai Padang, membuat perempuan itu jadi hilang ingatan. Perempuan itu selalu tertawa dan bicara sendiri sembari menyebut nama lelaki pelaut dan bayinya yang telah mati. Orang-orang di kampung nelayan merasa kasihan melihat penyakit yang diidap perempuan malang itu. Akhirnya penduduk di kampung nelayan itu mengusulkan pada orang tua perempuan itu untuk mengasingkannya pada sebuah pondok di lereng Gunung Padang. Maka tinggallah perempuan malang yang selalu merindukan kedatangan senja dan sosok lelaki pelaut kekasihnya di lereng Gunung Padang seorang diri.
Tapi itu cerita orang-orang kampung nelayan di tepian Muara Pantai Padang. Kebenaran cerita tentang perempuan itu hanya kedua orang tuanyalah yang tahu. Sayang, kedua orang tua perempuan itu telah lama meninggal dunia. Namun demikian, Tuan dan Puan tak usah ragu untuk berbicara dengan perempuan itu walau ingatannya tidak lagi waras. Perempuan itu akan menjawab pertanyaan Tuan dan Puan jika topik pembicaraan Tuan dan Puan adalah tentang senja, pantai, ombak dan angin. Tuan dan Puan akan melihat indahnya mata perempuan itu yang berbinar jika Tuan dan Puan mau bertanya tentang kesukaannya pada senja. Maka perempuan itu akan menjawab pertanyaan Tuan dan Puan dengan senyum indah yang menyungging di bibirnya yang mungil. Jika pemandangan itu yang Tuan dan Puan saksikan, maka Tuan dan Puan sungguh akan menyayangkan mengapa perempuan secantik itu harus gila.
“Aku suka pada senja karena ia menjadi saksi cintaku pada lelaki pelaut,” kata perempuan itu jika Tuan dan Puan bertanya padanya tentang kesukaannya pada senja.
Dan jika Tuan dan Puan meneruskan pertanyaan tentang kesukaannya pada pantai, ombak dan angin maka ia akan menjawab: “Aku suka pada pantai karena pantai tempat kami berkejar-kejaran.”
“Aku suka pada ombak karena ia yang membawa biduk kekasihku ke tepian.”
“Aku suka pada angin karena ia yang mengabarkan berita tentang kehadiran kekasihku ke pantai ini. Dan ketika senja hampir terbenam, kekasihku itu akan datang dengan segala cinta yang dibawanya.”
Begitulah. Tuan dan Puan akan terpesona dengan jawaban perempuan yang berdiri mematung menatap ke arah laut menentang senja yang tergantung di atas kaki langit sembari menunggu kedatangan kekasihnya. Tapi apa yang dijawab perempuan itu tidak lebih dari igauan nisbi yang menemani hari-harinya setiap kali senja datang dan pergi.
Dan ketika senja akan kembali ke peraduannya, Tuan dan Puan akan menyaksikan pemandangan yang berubah pada diri perempuan itu. Tiba-tiba Tuan dan Puan akan melihat perempuan itu menangis sedu-sedan yang mengundang iba orang-orang yang melihatnya. Tapi di tengah tangisnya itu, Tuan dan Puan akan lebih terpesona menyaksikan kecantikan perempuan itu yang berbinar bersama hilangnya senja.
Itulah panorama senja yang dinikmati orang-orang yang berkunjung ke tepian Muara Pantai Padang. Tuan dan Puan pasti tidak akan puas menikmati indahnya senja tanpa lebih dahulu menyaksikan perangai perempuan yang tinggal seorang diri di lereng Gunung Padang. Perempuan itu, walau ia tidak waras, adalah lambang “kesetiaan” ribuan perempuan-perempuan yang menjadi korban “ketidaksetiaan” lelaki pelaut yang selalu datang dan pergi dari satu pulau ke pulau lain di belahan bumi ini. Hanya sayangnya, tidak banyak media yang mengekspos lika-liku kehidupan perempuan yang selalu berdiri termenung di depan gubuknya menanti kedatangan senja di lereng Gunung Padang sana.
Seandainya Tuan dan Puan kembali pulang meninggalkan Kota Padang, hendaklah kisah tentang perempuan yang setia menanti kedatangan senja ini diceritakan pada semua orang. Semoga kelak, suatu saat yang tidak pasti, lelaki pelaut yang pernah mendaratkan biduknya di tepian Muara Pantai Padang mendengar kisah tentang perempuan itu, dan lelaki pelaut kembali dengan segala cinta yang pernah ditawarkannya.
Ketika senja telah tenggelam dalam peraduannya, di lereng Gunung Padang itu Tuan dan Puan akan mendengar sayup-sayup suara perempuan itu bersyair:
laut adalah kehidupan
semua akan kembali ke laut
seperti senja yang membenamkan dirinya pada laut
begitu juga tubuhku yang merindukan laut
menyelam ke dasar laut
meneguk kenikmatan nisbi yang pernah titipkan
lelaki pelaut pada laut
Padang, Agustus 2003
(Ketika senja menebarkan pesona indah di tepian Muara Pantai Padang, tujuh tahun lalu ...)
Langganan:
Postingan (Atom)