Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wawancara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Januari 2010

Penyair Taufiq Ismail: Sastrawan Minang Beri Andil Besar terhadap Kemajuan Kesusasteraan Indonesia


Oleh: Muhammad Subhan

Di era 60an hingga 70an bisa disebut sastrawan-sastrawan asal minang menempati posisi penting dalam ranah kesusasteraan nusantara. Sejumlah karya besar mereka baik dalam bentuk puisi maupun prosa menjadi perbincangan dan rujukan banyak orang. Di sekolah-sekolah tingkat rendah hingga perguruan tinggi, buku-buku sastrawan minang menjadi bacaan wajib dan masuk dalam kurikulum pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sumatra Barat pun menjadi kiblat sastra tanah air.

Sederetan nama besar satrawan minang itu, di antaranya Hamka, Abdul Muis, Asrul Sani, Rivai Apin, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisyahbana, Selasih, dan beberapa nama lainnya. Campur tangan Penerbit Balai Pustaka yang ternyata juga didominasi oleh orang-orang minang di dalamnya menjadikan karya-karya sastrawan minang semakin mendapat tempat dan meluas penyebarannya ke berbagai daerah.

Namun seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, setelah kejayaan itu mengekalkan citra Sumatra Barat sebagai gudangnya penulis dan sastrawan, kini semakin meredup kalau tidak dikatakan hilang sama sekali. Bahkan yang lebih ironis sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia, baik SLTP maupun SLTA tidak lagi merujuk bacaan siswa mereka pada karya-karya sastrawan minang layaknya di masa-masa sebelumnya. Apa gerangan yang terjadi terhadap eksistensi kesusasteraan minang di masa sekarang?

Menurut Penyair asal minang Taufiq Ismail, di era 70an dan tahun-tahun sebelumnya karya sastrawan-sastrawan minang memang mengambil peran besar terhadap kemajuan kesusasteraan Indonesia bahkan gaungnya menyebar hingga keluar nusantara. Namun memasuki era 80an hingga 90an gaung itu semakin meredup apalagi di era 2000an hingga hari ini.

“Tapi itu wajar, penduduk Indonesia kan semakin bertambah. Di samping itu pengajaran bahasa melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia sudah semakin meluas diajarkan di sekolah-sekolah,” kata Taufiq Ismail yang membangun Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.

Dampak meluasnya pengajaran bahasa melayu itu, paparnya, tidak lepas dari kiprah Kweek School (Sekolah Guru) di Bukittinggi (SMA Negeri 2 Birugo sekarang—red) dan di Yogyakarta. Kedua sekolah inilah yang melahirkan banyak guru-guru yang mengembangkan bahasa melayu yang kemudian menumbuhkan minat sastrawan-satsrawan baru di berbagai daerah di tanah air untuk berkarya dan berkompetisi dengan sastrawan-sastrawan di daerah lainnya.

“Kalau ada sastrawan yang muncul di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan bahkan Irian Jaya, itu sangat wajar sebab bahasa Indonesia sudah semakin berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk,” kata Taufiq Ismail.

Memperbandingkan Minang (Sumatera Barat) dengan Jawa, menurut Taufiq Ismail, bukanlah sebuah ukuran yang tepat untuk menilai maju mundurnya sastrawan minang hari ini. Meski nama-nama besar sebelumnya telah banyak yang meninggal dunia, tentu di Sumbar ada melahirkan sastrawan-sastrawan baru walau karya mereka belum begitu menonjol dibanding sastrawan-sastrawan angkatan sebelumnya.

“Berapa penduduk Sumbar sekarang? Berapa pula penduduk Jawa? Jawa itu kan luas, dan bahasa Indonesia yang semakin maju di Jawa tak heran kalau disana lahir pula sastrawan-sastrwan baru yang lebih produktif berkarya disamping jumlahnya yang semakin banyak,” ujarnya.

Sebenarnya menurut Taufiq Ismail bukan faktor turunnya jumlah sastrawan minang yang mewarnai khazanah kesusasteraan Indonesia modern, namun kepentingan yang lebih besar dari itu adalah turunnya minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda. Tidak hanya di Sumatera Barat namun meluas ke seluruh tanah air. Dampak dari turunnya minat membaca dan menulis menyebabkan minusnya karya sastra berbobot yang lahir di tanah air.

Wujud keprihatinan itulah Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail berinisiatif membangun Rumah Puisi yang dipusatkan di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Rumah Puisi diharapkannya kelak menjadi wadah yang dapat menyebarkan kembali semangat membaca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda.

“Kenapa di bangun di Aie Angek, pertama karena Aie Angek dekat dengan Nagari Pandai Sikek, kampung ibu saya. Kedua, Rumah Puisi diharapkan menjadi pusat kegiatan sastra di Sumbar, umumnya di Indonesua,” jelas Taufiq Ismail.

Lebih lanjut dia memaparkan, Rumah Puisi tumbuh dari pengalaman kolektif Taufiq Ismail bersama tim redaktur Horison dan sastrawan se Indonesia dalam 10 program gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008. Melatih sekitar 2.000 guru dalam program MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) 6 hari di 11 kota; dengan tim 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA membacakan karya sastra dan bertanya jawab dengan siswa dan guru di 164 kota yang terletak di 31 provinsi dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya), menyalurkan tulisan siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit selama 11 tahun dalam majalah sastra Horison, menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen novel dan drama serta esai (tiras total 37.000 eksemplar, tebal 2.280.120 halaman) yang dikirimkan ke 4.500 perpustakaan SMA negeri dan swasta (2000-2004), membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia, adalah antara lain gugusan program tersebut yang sudah dilaksanakan.

“Tujuan gerakan ini adalah meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa,” kata Taufiq Ismail.

Nama Rumah Puisi, jelasnya, tidak bermakna bahwa kegiatannya semata-mata berkaitan dengan persajakan saja. Dia merangkum seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan literatur dan literasi, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisannya, dengan warna keindahan puitik sebagai intinya. Sesungguhnya seluruh karya sastra, yaitu sajak, cerita pendek, novel, drama, dan esai—semuanya pasti memiliki keindahan puitiknya masing-masing yang khas. Demikianlah istilah puisi menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.

Mulai April 2010 mendatang Rumah Puisi menggelar kegiatan pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA se Sumatera Barat selama enam hari yang dibagi jadualnya antar kabupaten/kota yang diundang. Saat ini di areal Rumah Puisi sedang dibangun gedung pertemuan serta penginapan berjumlah 42 kamar. Penginapan ini dianggap penting mengingat cost yang akan sangat besar jika guru-guru yang dilatih itu nanti harus diinapkan di Padang Panjang maupun di Bukittinggi.

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA se Sumatera Barat adalah awal pelatihan yang diprogram Rumah Puisi, mengingat strategisnya peran mereka dalam mendidik generasi muda yang akan beranjak ke jenjang perguruan tinggi. Guru-guru yang dilatih itu nantinya diharapkan dapat memberikan warna baru tentang pengajaran sastra di ruang kelas mereka. Pengajaran sastra yang selama ini mungkin saja dianggap siswa sebagai pelajaran yang membosankan, maka setelah guru mengikuti pelatihan di Rumah Puisi pandangan itu akan dapat dirobah. Pengajaran sastra menjadi sesuatu yang asyik, menyenangkan, dan selalu dinanti-nanti para siswa. []

Minggu, 03 Januari 2010

Buya Mas'oed Abidin: Qurban Lahirkan Sikap Kedermawanan


PENGANTAR:
Senin (8/12/2008) besok, seluruh umat Islam Indonesia dan satu setengah miliyar muslim di dunia membahanakan tahmid, takbir dan syukur atas nikmat Allah yang besar. Umat muslim berhari raya dengan datangnya Idul Adha 1429 H. Dari tahun ke tahun Idul Adha selalu datang menjelang. Namun apa sebenarnya hikmah ibadah di hari itu dimana jutaan penduduk dunia juga melakukan penyembelihan hewan qurban? Menjawab pertanyaan itu, wartawan Haluan Muhammad Subhan mewawancarai Penasihat MUI Sumbar Buya H. Mas’oed Abidin. Berikut petikan wawancaranya:

Buya, penyembelihan hewan qurban disebut pula sebagai jihad besar. Apa maksudnya?

Jihad di sini adalah jihad untuk mencari redha Allah, yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan qurban. Semata-mata karena hendak menjalankan perintah Allah SWT. Jihad dibuktikan dengan kerelaan berkorban, artinya setiap saat taqarrub ila Allah-menghampirkan diri kepada Allah Yang Maha Besar. Semua pengakuan perlu pembuktian, dengan amal perbuatan seperti yang telah dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail A’laihimas-salam. Kerelaan berkorban inilah namanya jihad besar.

Bagaimana qurbannya Nabi Ibrahim dan Ismail?

Ibadah qurban mengikut millah Nabi Ibrahim AS secara lengkap disebutkan dalam QS.37, Shaffat, ayat 100-113, simbol taqarrub (mendekatkan), tafakkur (memikirkan) serta tadzakkur (mengingat) nikmat Allah, yang telah ditetapkan sebagai manasik bagi setiap umat beriman. Ibadah adalah “persembahan hamba kepada Allah Yang Maha Kuasa” sebagai bukti ketaatan ‘abid (hamba) dalam menunaikan perintah, dan penerjemahan secara hakiki arti ibadah qurban itu. Beberapa ahli fiqh Islam meletakkan ibadah qurban tidak semata sunnat muakkad, bahkan menetapkannya pada taraf wajib bagi yang mampu. Refleksi ibadah ini adalah lahirnya sikap pengorbanan yang tulus, rela, sadar, menjadi bukti tanggung jawab yang tinggi dari makhluk terhadap khaliknya. Allah SWT menyediakan pahala besar dari ibadah ini, “hasanah pada setiap helai bulu ternak yang di korbankan”, dan menjadikan ibadah qurban satu amal paling disenangi Allah di yaumun-nahar (hari qurban), puncak kegembiraan muttaqin. Rasakan betapa redhanya Ibrahim a.s. mengorbankan anaknya, dan bagaimana ikhlasnya Ismail a.s dalam melaksanakan perintah Allah, menjadi ruh dari ibadah qurban ini.

Apa makna ibadah di sini?

Makna ibadah adalah lahirnya watak positif sebagai hasil jalinan hubungan komunikatif dengan ma’bud (hablum minallah), membentuk sisi kejiwaan (psychological side-effect) yang tampak pada sikap ikhlas (bersih), redha (siap sedia), shabar (tahan uji), istiqamah (disiplin), qanaah (hemat), jihad (rajin dan berani), taat (setia), syukur nikmat (pandai berterima kasih), yang merupakan dasar-dasar akhlaq mulia yang menjadi tugas pokok risalah keutusan Muhammad SAW.

Apakah ibadah hanya semata untuk Tuhan?

Hakikinya iya. Tapi ibadah juga mengokohkan hubungan mu’amalah atau hubungan sosial kemasyarakatan yang terlihat nyata pada jalinan tugas-tugas kebersamaan (hablum minan-naas), kesediaan meringankan beban orang lain, peduli dengan kaum fuqarak wal masakin, sedia memikul beban secara bersama, hidup dengan prinsip ta’awun (saling menolong, bekerja sama dan sama-sama bekerja). Maka hikmah ibadah pembuktian yang nyata dari tauhidiyah (shalat, nusuk, hidup-mati), ditujukan kepada Allah, dengan sikap prilaku hubbullah, menghidupkan sunnah al muwahhidin, dan membudayakan mawaddah wa rahmah (hubungan kasih sayang sesama manusia), syukur atas nikmat Allah, berarti tunduk, cinta, pengakuan, memuji, redha, mawas diri dengan tafakkur (berfikir) dan tadzakkur (berzikir) atas hidayah-Nya, dan ihsan, bersikap peduli sesama.

Semangat terpuji itu apakah ada korelasinya dengan semangat membangun bangsa?

Ya, amat sangat berguna di dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta, dengan keikhlasan, rela berkorban, semangat persatuan yang kuat, yang diraih dengan mabrur itu. Sejarah bangsa Indonesia banyak terkait dengan perjalanan Haji sampai kini. Sejak mula pertama kali sang Merah Putih berkibar di Padang Arafah (1946), jauh sebelum Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik, dan para mujahid sesudahnya, di antaranya, Syeikh DR. H. Abdullah Ahmad, DR. H. Abdul Karim Amarullah, dan kawan-kawan, diikuti oleh Ilyas Yakub, Muchtar Luthfie, Hamka, dan lain-lainnya. Bahkan sejak abad 11 hingga abad 21 ini–, sambung bersambung tidak terputus, dalam kurun sepuluh abad lamanya. Berbahagialah satu bangsa yang memiliki para Hujjaj yang mabrur, ketika kembali ke kampung halaman, mampu memberi contoh hajjan mabruran, sa’yan masykuran, dzanban maghfuran, dan tijaratan lan-taburan, dengan pengabdian membangun negeri, melawan kemelaratan, peduli terhadap mustadh’afin yang jumlahnya bertambah setiap hari, walau tanah air kita adalah negeri yang kaya, menggapai kebahagiaan tertinggi, maghfirah dan jannah.

Qurban juga wujud seorang muslim mensyukuri nikmat, benarkah Buya?

Benar. Apabila kita tidak mampu memelihara nikmat, demokrasi akan menjadi laknat bertabur tindakan anarkis. Keadaan akan berubah dari terbaik bertukar menjadi terbalik, bertolak belakang 180 derajat. Ujungnya, masyarakat banyak akan dihimpit derita dan nestapa. Ketika itu, penguasa dan pengusaha akan berubah menjadi penindas dan penghisap. Di sampingnya akan tegak berhimpun para cendekiawan yang menjadi penghasut. Mau tidak mau, rakyat jelata terpaksa memikul beban berat, karena posisi rakyat hanya akan menjadi sekedar alat tunggangan untuk mencapai kedudukan semata. Maka, demokrasi tanpa akhlak akan membuka kesempatan kepada pemaksaan kehendak. Padahal ajaran demokrasi menetapkan satu pilihan demi kemashlahatan umat banyak dan terjaminnya kesejahteraan. Maka di sini, peran umarak amat menentukan.

Qurban juga menciptakan rasa kasih sayang sesama muslim?

Ya. Belum sempurna iman seorang muslim sebelum dia mampu menyayangi orang lain (saudaranya), sebagaimana dia menyayangi dirinya sendiri, demikian di antara bimbingan agama yang sudah lama kita ketahui. Makna lebih dalam adalah kebaikan atau kemuliaan seseorang diukur dengan berapa besar kepeduliannya terhadap umat di sekelilingnya. Apakah itu dalam lingkaran RT, lingkungan RW, atau lebih luas lagi sebagai warga kota, provinsi dan Negara sekalipun.

Ukuran kemuliaan lainnya?

Kemulian seseorang dapat juga diukur dari kepekaan hati dalam berbuat baik secara ikhlas terhadap orang-orang lain, yang belum bernasib baik (fuqarak wal masakin), dibandingkan dengan dirinya. Bukti dari semua ini dapat juga terlihat dari bertumbuhnya ruhul infaq (kerelaan berinfaq, bersedekah, membantu, atau menyumbang) bagi kemashalahatan orang banyak, lillahi ta’ala atau semata mencari redha Allah. Karena itu, membayarkan zakat, infaq, dan shadaqah, bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya (dhu’afak) sesuai bimbingan Rasulullah SAW, senyatanya adalah satu kewajiban asasi setiap peribadi berpunya, dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i).

Pesan Buya kepada masyarakat Sumbar?

Sebagai umat yang beradat dengan bimbingan agama Islam, khususnya di Sumatera Barat, dengan adaik basandi syarak, dan syarak basandi Kitabullah sangat dianjurkan memperhatikan keadaan karib kerabat (qarib ba’id), sesuku, sekampung, senagari, bahkan lebih makro adalah kepentingan nasional lebih diutamakan dari kepentingan-kepentingan lainnya, suatu sikap yang mendasari kepedulian dalam berbangsa dan bernegara. Hubbul wathan minal iman, artinya mencintai nagari dan negara adalah bahagian dari iman. Nilai-nilai ini telah melahirkan sikap rela berkorban di masa lalu, sejak 63 tahun Indonesia diproklamasikan, dan atau bahkan sejak ratusan tahun ketika mulai tumbuh cita-cita merintis kemerdekaan Indonesia, mempertahankan karakter bangsa yang bertuhan, dan berbudaya dalam membangun bangsa dan Negara. Mewujudkan masyarakat yang bertangan di atas tidaklah mudah, dan ini satu pekerjaan berat dan besar, karena terlebih dahulu harus ditumbuhkan keberpunyaan dalam arti seluasnya adalah punya harta, punya keinginan, punya kerelaan, punya sikap untuk memberi itu. Memberi adalah suatu izzah (kemuliaan) yang dimiliki oleh aghniya’, yakni orang atau bangsa, yang berpunya. []

Sabtu, 02 Januari 2010

Belajar Tentang Kesahajaan Hidup dari Seorang Inyiak Samiak

Oleh: Muhammad Subhan

Tak banyak orang betah menekuni profesi sebagai petani selama puluhan tahun. Namun tidak halnya dengan H. Adnan Sutan Samiak (73), peraih penghargaan Kalpataru tahun 1984 di bidang lingkungan hidup. Lelaki yang masih segar bugar meski usianya kian lanjut itu, kini masih giat bercocok tanam di kampungnya, Batu Bakaluak, Jorong Ampek Kampuang, Nagari Kamang Hilia, Kecamatan Kamang, Kabupaten Agam.

Tokoh yang mempopulerkan Limau (jeruk) Kamang di era tahun 1962 hingga tahun 1989 ini, menjadi inspirasi banyak orang untuk berusaha di bidang pertanian. Apa yang memotivasinya bekerja keras sehingga berbagai penghargaan, baik lokal maupun nasional, berhasil diraihnya?. Sebagai orang muda yang ingin banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan orang tua yang bersahaja ini:

***

Nagari Kamang yang indah, apakah dulu Anda tidak pernah berfikir untuk merantau?

Tradisi masyarakat Minang memang suka merantau. Tapi bagi saya, ketika itu merantau bukan segala-galanya. Yang terpikir oleh saya adalah bagaimana negeri yang dulu gersang ini bisa menjadi subur dan makmur dan bisa menciptakan lapangan kerja sehingga anak kamanakan tidak lagi harus merantau karena apa yang mereka cari bisa diusahakan di kampung sendiri.

Bisa Anda ceritakan tentang kondisi Nagari Kamang Hilia ini dulu?

Sebelum tahun 1963, di Kamang ini, banyak lahan masyarakat yang tidak jadi. Begitupun banyak tanaman yang ditanam tidak teratur. Lahan tidur ada dimana-mana sehingga tidak menghasilkan sama sekali bagi pergerakan ekonomi masyarakat. Ketika itu, masyarakat Kamang banyak yang bertukang. Selebihnya, seperti yang Anda katakan tadi, banyak yang merantau keluar Kamang untuk mencari peruntungan hidup.

Melihat kondisi itu, apa yang Anda pikirkan untuk “menghidupkan” Kamang ini?

Memang saya sering merenung, apa yang bisa saya perbuat untuk kampung halaman. Saya punya ide untuk menanam limau. Sebelumnya saya tidak pernah bercocok tanam limau. Apalagi melihat kondisi lahan di daerah ini yang ketinggiannya berada 900 meter dari permukaan laut. Rasanya sulit untuk bercocok tanam limau. Saya konsultasikan ke Jawatan (sekarang dinas—red) Pertanian Agam, kalau bertanam limau disarankan pada lahan yang tingginya lebih kurang 500 meter dari permukaan laut.

Apakah Anda menyerah melihat keadaan itu?

Tidak. Malah saya makin tertantang untuk terus berusaha dan mencoba. Dengan keyakinan yang kuat, di tahun 1962 saya beli bibit limau dari pasar minggu Kamang. Ketika itu saya punya lahan sekitar satu setengah hektare. Lahan yang cukup luas. Ketika mau mengolah tanah, saya bingung mengolah pakai apa lahan seluas itu. Lalu saya ajukan permohonan untuk meminjam traktor ke Jawatan Pertanian Agam, diberi sebuah traktor besar. Traktor datang dan dalam waktu dua jam tanah berhasil diolah. Ketika itu yang menarik, ratusan masyarakat datang melihat apa yang saya kerjakan. Masa itu traktor barang yang unik. Orang datang ramai hanya untuk melihat traktor, bukan tertarik berusaha seperti saya.

Wah menarik, tentunya masyarakat ketika itu bertanya-tanya anda sedang menanam apa?

Benar, banyak yang bertanya demikian. Saya katakan saya tanam limau. Ada juga bertanya limau itu apa? Saya jawab, buah seperti yang dijual di pasar Bukittinggi. Ditanya lagi, kalau sudah menghasilkan kemana pasarnya? Saya bilang, banyak, bisa ke Bukittinggi, Medan, Pekan Baru dan daerah lain. Tapi sampai disitu orang juga belum tertarik untuk mengikuti jejak saya.

Berapa bibit limau yang akan anda tanam ketika itu?

Ada sekitar 2.000 batang. Jumlah itu sudah cukup banyak, sementara lahan saya yang sehektar lebih hanya bisa ditanami sekitar 400 batang. Sedangkan 1.600 batang saya bagi-bagikan ke masyarakat. Tapi tetap juga tidak ada yang tertarik untuk bertani. Beberapa warga yang berminat untuk menanam satu dan dua batang saja di pekarangan rumah.

Tahun berapa pertama kali Anda memetik hasil limau itu?

Limau yang saya tanam baru panen sekitar tahun 1964. Memang hasil saya panen ketika itu belum benar-benar matang. Saya petik dan saya coba jual ke pasar Bukittinggi. Ketika itu yang banyak dijual orang limau Medan. Harga limau Medan mencapai Rp75,-/kg sedangkan limau Kamang yang saya jual hanya laku Rp25,-/kg. Bahkan ada yang meledek saya ketika itu, katanya ini limau apa? Kok kulitnya kuning seperti cahaya matahari. Baunya pun seperti bau kapindiang. Wah, mental saya kena juga ketika itu. Namun saya tidak menyerah. Untuk selanjutnya saya tunggu limau itu benar-benar matang di pohon. Ternyata ketika benar-benar matang, buah limau Kamang ini sangat bagus bentuknya, buahnya melebar dan besar. Baunya juga harum. Saya jual lagi ke pasar Bukittinggi. Dan ternyata harganya bisa berkali lipat. Kalau limau Medan dijual orang Rp75,-/kg, limau Kamang bisa saya jual Rp85.-/kg.

Artinya kerja keras Anda ketika itu sudah mulai menampakkan hasil, lalu bagaimana dengan reaksi masyarakat kampung Anda?

Di tahun 1966, saya sudah bisa membangun rumah permanen untuk orangtua saya. Di Kamang, ketika itu sangat jarang ada rumah warga yang dibuat permanen, kalau rumah-rumah kayu banyak. Nah, melihat itu, banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikuti jejak saya sebagai petani limau. Peluang itu saya tangkap. Lalu saya dan beberapa tokoh masyarakat membentuk kelompok, Persatuan Usaha Tani Kamang. Kelompok tani lain ketika itu belum ada. Nah, saat itulah dijelaskan prospek usaha limau Kamang. Makin populerlah istilah limau Kamang itu.

Apakah ketika itu ada kunjungan-kunjungan studi banding masyarakat dari luar Kamang?

Sangat banyak. Bahkan tamu-tamu berdatangan tidak saja dari Sumbar, tapi juga datang dari Aceh, Jawa hingga Kalimantan. Mereka telah mendengar tentang keaktifan petani di Kamang, dan ingin melihat budidaya tanaman limau Kamang yang ketika itu sudah sangat populer.

Apa dampaknya dari kesuksesan yang Anda raih bagi masyarakat?

Wajah Kamang lebih ‘tacelak’. Kampung lebih bersih dan rapi. Pertanian masyarakat teratur. Pembangunan pun menggeliat karena sudah banyak petani yang sukses. Kelompok tani pun mulai bermunculan di daerah-daerah sekitar Kamang. Yang lebih membanggakan, lapangan kerja makin terbuka, bahkan warga Kamang yang merantau banyak yang pulang untuk berusaha yang sama.

Apa saja penghargaan yang sudah Anda raih selama ini?

Ada sekitar 23 penghargaan diluar Kalpataru. Diantaranya penghargaan dari Menteri Sosial RI, Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, Departemen Peternakan, Departemen Lingkungan Hidup, dan sejumlah piagam dari pemerintah Kabupaten Agam dan Provinsi Sumbar. Saya juga sempat menjadi petani teladan Nasional pada tahun 1977, dan bersama 9 petani teladan lainnya se Indonesia kami melakukan studi banding ke Negara Korea Selatan melihat perkembangan pertanian disana. Beberapa ilmu yang saya dapatkan di Korea Selatan saya kembangkan di Kamang, diantaranya pemanfaatan jerami untuk budidaya jamur.

Anda memang luar biasa, apa harapan Anda kepada petani lainnya di Sumatera Barat?

Jangan pernah berhenti berusaha, dan yang terpenting ikhlas. Yakinlah, apapun yang ditanam pasti menghasilkan. Tinggal bagaimana lagi kita mensyukuri apa hasil dari jerih payah kita itu. Semuanya rezeki yang telah diberikan Tuhan untuk kita syukuri. []

Yalvema Miaz, Mantan Wartawan yang Jadi Kepala Dinas Pendidikan Bukittinggi


SEDIKIT PENGANTAR:

Di era tahun 1980-an hingga 1990-an, masyarakat Sumatera Barat, saban hari selalu menanti tulisan sosok tokoh satu ini di surat kabar Harian Haluan. Siapa lagi kalau bukan DR. Yalvema Miaz, MA, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi. Tulisan-tulisannya yang berrnas membuat ia cukup dikenal orang, khususnya di kalangan pejabat pemerintahan. Di Bukittinggi, Yalvema Miaz adalah wartawan senior di masanya. Bagaimana kisah hidup Yalvema Miaz yang murah senyum ini dan apa motivasinya menjadi wartawan dulu? Berikut catatan saya tentang riwayat hidup "Pak Yal" yang sukses membawa pendidikan Bukittinggi dalam mengukir banyak prestasi. Selamat membaca.

***

OBSESI saya sejak kecil adalah agar bisa menjadi seorang intelektual, atau guru dan pimpinan masyarakat. Dengan pengetahuan yang ada ingin turut bersama memajukan masyarakat untuk menjadi cerdas dan sejahtera. Tentu cita-cita itu sangat tinggi dan berat. Untuk itu, jalan pertama saya terlebih bermotivasi untuk mengasah dengan pengetahuan dan keterampilan dalam proses pendidikan dan pengalaman yang panjang. Obesi ini sangat didorong ayah/ibu, Abdul Miaz Maliky/Rostiam, mungkin karena beliau seorang tokoh masyarakat dan ibu saya, guru SD yang sudah punya pengalaman panjang.

Mungkin nama saya agak "aneh", banyak teman-teman yang bertanya bahkan ada yang mengatakan nama ini mungkin hanya satu-satunya di dunia. Itu ada benarnya. Nama itu sebenarnya adalah singkatan yang diberikan ayah bunda. Beliau bercita-cita kelak bila saya dewasa diimpikan beliau menjadi seorang pemimpin masyarakat. Beliau menuliskan di secarik kertas begitu saya lahir, "iYalah Perubah Masyarakat", singkatannya menjadi "Yalpema". Ketika di sekolah nama itu direvisi huruf "p" menjadi "v", maka menjadi "Yalvema" dan ditambah dengan nama ayah, "Miaz".

Keinginan menjadi cendikiawan yang intelektual atau pengarang, dimotivasi pula oleh salah seorang famili saya DR. Alfian yang menamatkan S3 di Universitas Wissconsin Amerika. Dia meraih gelar Ph.D dalam usia muda 30-an tahun. Pada masa itu yang punya titel DR boleh dihitung dengan jari di Indonesia. Terakhir beliau menjabat ketua LIPPI di Jakarta dan meninggal tahun 1980-an. Saya berfikir, kapan pula saya bisa menyandang gelar seperti abang saya itu?. Nah, terus terang itulah yang menjadi motivasi utama saya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkatan (strata) yang paling tinggi.

Ketika kecil, saya memang tidak seberuntung anak-anak sekarang. Penderitaan mendera kehidupan bangsa kita dan tentu juga kami sekeluarga. Menjelang peristiwa G30S/PKI, daerah ini dilanda oleh pergolakan daerah, perang saudara antara pemerintah pusat dengan PRRI/Permesta. Kami bersekolah di bawah desingan peluru, tak terhitung kerabat yang tewas dalam perang yang menakutkan itu. Ayah dituduh pula sebagai PRRI (istilah populernya Peri-peri) dan bergerilya bersama teman-teman beliau di hutan belantara. Akibatnya ibu yang guru SD tidak lagi menerima gaji layaknya guru sekarang, kenapa?. Ya, itu tadi ayah kami di cap sebagai pemberontak. Rumah kami diberi tanda silang (X) dengan cat tebal, dibawahnya ditulis dengan huruf capital "MIAZ", artinya ayah saya harus ditangkap oleh tentara "pusek" (pusat) baik dalam keadaan hidup atau mati.

Hidup di bawah tekanan dan ketakutan itulah, justeru membuat saya menjadi lebih arif memaknai kehidupan ini. Begitu usai perang dan sayapun tamat SD, berdua dengan ayah kami harus berangkat meninggalkan kampung halaman tercinta di Sumani-Solok menuju kota Padang dengan kereta api. Walaupun Presiden Soekarno sudah memberikan amnesti kepada para "pemberontak", namun ketidaknyamanan hidup di kampung mendorong ayah untuk pergi. Ayah sejak kecil menimba pengetahuan dan bersekolah di Parabek dekat Bukittinggi. Begitu tamat sekolah beliau menjadi guru di Manna Bengkulu, pindah ke Balai Selasa Pesisir Selatan. Kemudian menjadi PNS pada Departemen Sosial di Bangko Jambi dan akhirnya pindah ke Batusangkar, dan saat itulah saya lahir.

Ketika pecah perang dan beliau tinggalkan kota kecil itu untuk bergabung dengan teman-teman, saya sungguh tak mengerti kenapa tiba-tiba ayah pergi meninggalkan kami dengan ibu. Sama sekali kami tidak paham apa itu "PRRI", "Dewan Banteng", "Jauhkan Diri dari PKI" dan sebagainya.

Saya dengan dua kakak (Ratna Juita dan Nasri) dan adik saya Nadra harus berjuang untuk hidup dalam suasana yang amat kontradiktif dengan keadaan sebelumnya. Bayangkan ayah waktu itu adalah seorang pejabat penting (setingkat kepala dinas sekarang), ibu seorang guru, tentu kehidupan kami lumayan baik dibanding orang lain apalagi dengan petani masa itu. Kini, semua lenyap sudah entah kemana. Kami bersama ibu harus berjuang hidup, tapi nasib baik masih ada bersama kami, sebidang sawah dan ladang masih ada untuk digarap, walaupun hasilnya tidak mencukupi. Hama dan tikus bagaikan berebut makanan dengan kami. Bila bulir-bulir padi berisi, hama itu lebih akan duluan menyerbu. Mereka juga butuh makan. Ya, lapar. Ibu harus menambah penghasilan dengan membuat macam-macam kue termasuk bika yang proses masaknya dipanggang dengan bara api dari atas dan bawah wadahnya.

Tiap pagi seusai shalat subuh, abang dan saya harus berkeliling kampung menjualnya dengan menjaja sambil berteriak, "kue..., kue..., oi rang kampuang balilah ciek" (Oi, orang kampung belilah kue--red) teriak saya dengan suara kanak-kanak (waktu itu saya kelas 3 SD). Kadang-kadang untuk menghilangkan rasa bosan atau grogi dilihat teman-teman sepermainan, teriakan saya sorak soraikan dengan irama bagaikan lagu minang yang terkenal masa itu, "bika oi bika, balilah bika...., bika si mariana... (bika oi bika, belilah bika si mariana--red)

Sekelumit kepahitan perjuangan hidup itu pulalah yang memberi inspirasi dan semangat saya untuk merubah corak kehidupan. Saya harus bersekolah Menimba pengetahuan. Saya harus tinggalkan kampung ini, merantau ke kota Padang. Saya harus melanjutkan ke SMP sampai pergurauan tinggi. Sejak menjadi pelajar SMP itulah saya belajar berorganisasi. Sayapun menjadi pengurus OSIS, KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia-Angkatan 66), menjadi pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah, kantor saya di lantai II Masjid Muhammadiyah Padang. Kantor itu runtuh dan nasib baik saya ketika itu sedang tidak berada disana. Ketika di IKIP Padang (sekarang UNP), saya makin aktif dan menjadi pengurus Senat Mahasiswa dan terakhir Dewan Mahasiswa (sekarang istilahnya BEM) bersama Makmur Hendrik, Harris Effendi Thahar dan lain-lain.

Selama menjadi mahasiswa saya ikut masuk latihan dasar kemiliteran di Dodiklat Kodam III. Disitu pula saya banyak memperoleh pengetahuan kedisiplinan, ketangguhan fisik, self confidence, tentu juga keterampilan menggunakan senjata apabila terjadi perang. Kami tergabung dalam Resimen Mahasiswa Sumbar. Wadah itu kemudian dikenal dengan Menwa (Resimen Mahasiswa). Dengan pakaian tentara berlogo Kodam III, pelatih kami menyatakan, apabila tamat dan mau masuk tentara aktif akan langsung diberi pangkat Letnan Satu. Rupanya, ada diantara teman yang betul-betul masuk dinas ketentaraan, sekarang malah ada yang sudah menjadi Dan Dim bahkan Jenderal.

Masuk Dunia Jurnalistik

Ada satu bakat terpendam yang tiba-tiba muncul dalam diri saya dipicu ketika masih di bangku SLTA di Padang. Suatu hari, saya membaca rubrik remaja di koran "Aman Makmur" Pemred-nya Marthias Doeski Pandoe. Rubrik itu menampilkan karya-karya remaja seperti cerpen, puisi, karikatur remaja, klub pembaca remaja lengkap memuat nama, alamat, tempat bersekolah, hobi, dan tentunya juga ada foto diri. Awalnya saya kurang tertarik, namun ada sebuah keinginan bagaimana saya bisa menulis sebuah puisi dan dimuat di koran. Suatu malam saya mencoba menulis sebuah sajak berjudul "Peperangan". Isinya, "Di kampungku terjadi peperangan hebat. Huru hara di mana-mana, letusan berdetak seperti kacang goreng. Semua orang saling membunuh. Nenekku tertawa..., aku menyandang pelepah".

Itulah sajak saya pertama yang kemudian betul-betul dimuat di surat kabar itu, kemudian sajak itu saya revisi lagi dan ditambah beberapa judul sajak-sajak lain dan di muat pula di harian Haluan Padang. Sajak-sajak itu di hari yang sama dikomentari dalam sebuah resensi oleh penyair Rusli Marzuki Saria. Hati sayapun berbunga-bunga. Bersamaan dengan itu RRI Bukittinggi yang siarannya juga dapat ditangkap di Padang seminggu sekali menyiarkan "Puisi Album Angkasa Nada" di asuh "tante". Saya makin tertarik, karena puisi-puisi saya sering diudarakan. Sebagai penulis selain merasa sangat bangga, yang pasti telah memberikan motivasi untuk menulis lebih banyak lagi.

Ketika koran Haluan terbit kembali tahun 70-an, para mantan penulis muda koran Aman Makmur yang dibredel oleh rezim berkuasa waktu itu ramai-ramai pindah menulis ke harian Haluan tersebut. Saya dengan Wall Paragoan, Darman Moenir dan Masri Marjan (alm), Suhasril Sahir mulai menulis lagi. Tapi saya dan Wall Paragoan (terakhir wartawan Sinar Harapan Jakarta) boleh dikatakan sebagai "anak muda" yang dianggap paling kreatif menulis, tapi bukan sekadar puisi atau cerpen, malahan berita dan features. Berita yang saya kumpulkan hampir setiap hari dimuat pada halaman depan, tidak jarang selalu menjadi berita Headline (berita utama).

Mungkin berkat kinerja seperti itu, saya dan Wall Paragoan langsung diangkat menjadi wartawan/karyawan Haluan dan tidak lama kemudian diangkat pula menjadi angota PWI. Sebagai wartawan, tugas utama adalah sebagai reporter kota (Padang). Nama sayapun telah tercantum dalam box redaktur dengan jabatan Dewan Redaksi Haluan, dengan Pemimpin Redaksi, Annas Lubuk.

Kalau boleh saya sedikit bangga, hidup saya sudah berkecukupan (mulai tahun 1974), mungkin sudah agak berlebihan, padahal saya masih sedang kuliah. Gaji awalnya Rp350.000/bulan, ditambah uang beras, 6 kaleng susu cap Nona, satu pak sabun cuci cap Tombak dan sebuah kendaraan dinas Vespa. Rasanya masa itu orang yang pakai sepeda motor apalagi Vespa masih dapat dihitung dengan jari di kota Padang. Ini membuat saya menjadi pede dan bangga sebagai seorang wartawan. Saya tidak tahu kenapa pak Kasoema (Pemimpin Umum Haluan, alm) begitu "sayang" kepada saya, sementara rekan-rekan wartawan yang lain, termasuk Wall Paragoan, Darman Moenir dan Masri Marjan masih mengayuh sepeda "Unto", mereka belum diberi kendaraan dinas seperti itu. Akibatnya saya merasa tanggung jawab semakin berat, areal kerja saya semakin meluas di wilayah Sumatera Barat.

Kebanggaan bertambah, mulai gubernur, pejabat sampai bupati walikota, pemuka masyarakat bahkan kusir bendi masa itu kenal dengan saya. Karena selain wartawan pak Kasoema menambah pekerjaan sambilan untuk saya yaitu; mencari langganan koran dan tentu saja iklan. Pekerjaan itu bagaikan salesman yang keluar masuk kantor atau rumah orang. Yang difikirkan tiap hari, cari berita atau cari langganan koran. Ayah dan ibu sering saya beri uang dari hasil pencaharian saya itu.

Suatu hari pak Kasoema dan Pemimpin Redaksi Bang Annas Lubuk memanggil saya. Kesimpulannya saya akan dimutasikan ke Bukittinggi untuk membuka Kantor Perwakilan Haluan wilayah Sumatera Barat bagian utara, sebelumnya sudah ada Perwakilan (Biro) Riau dan Jambi. Maka, 2 Januari 1974 dengan sedan Holden-nya pak Kasoema bersama nyonya dengan sopir Alfian Kasoema, sayapun diantarkan ke kota sejuk ini. Hari itu tak seorangpun yang saya kenal di kota ini, kecuali petugas rumah makan ACC di dekat Jam Gadang atau Simpang Raya di sebelah Masjid Raya Pasar Atas, disini tempat saya minum dan makan tiap hari. Tentu, dalam usia yang masih terbilang muda (23 tahun) saya harus memikul tanggung jawab manejer, sebagai kepala kantor membawahi beberapa orang wartawan. Selain itu, tidak kurang dari 3.000 eksemplar koran Haluan harus tidak bersisa, didistribusikan untuk pelanggan atau dijual secara eceran.

Itulah awal dari hidup mandiri jauh dari orang tua dan teman-teman sebaya di Padang. Sebagai wartawan yang berpantang menyerah dalam situasi dan kondisi apapun, saya makin kreatif menulis berita. Bahkan ketika terjadi peristiwa Galodo di Agam dan di Tanah Datar, selain saya jadikan laporan berita, juga saya tulis dari sisi lain yang menyentuh emosional pembaca. Pernah saya menulis peristiwa ini sebanyak 64 kali penerbitan bersambung setiap hari di Haluan. Koran saya luar biasa laris, sampai di cetak ulang dua, tiga kali sehari. Bahkan pak Djufri (waktu itu bertugas di Batusangkar, dan sekarang Walikota Bukittinggi) mengenal saya justeru dari tulisan-tulisan saya itu. Akhirnya kami suatu masa jumpa juga di Bukittinggi, beliau menjadi walikota dan saya diambil menjadi stafnya memimpin Dinas Pendidikan.

Apakah ada korelasi "ketertarikan" dengan tulisan itu sehingga pak Djufri memberikan kepercayaan kepada saya menjadi kepala dinas, sayapun tak tahu. Logikanya tentu tidak mungkin itu yang menjadi pertimbangan pak Djufri. Mungkin yang agak tepat karena latar pengalaman kerja di dunia pendidikan yang sebelumnya yaitu menjadi guru di SPG dan dosen UNP, wallahu ‘alam.

Dunia Pendidikan

Ayah dan ibu menginginkan saya agar belajar agama secara intensif sebelum masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selama di kampung semasa di SD, tiap malam dengan berbekal kain sarung yang lusuh (karena hanya itu yang ada), tiap malam saya belajar membaca Alquran dengan guru Ustadz Bulidar dan Mohamad Amin. Tiap malam belajar dan tidur di surau "Parak Pisang", atapnya ijuk, lantai papan dengan penerangan sebuak lampu petromax. Sekitar jam 22.00 WIB selesai mengaji, langsung tidur di surau itu dengan diterangi lampu togok (lampu kecil minyak tanah dengan sumbu dari kain asapnya hitam). Selesai salat subuh pulang ke rumah dan siap-siap pergi ke sekolah tak jauh dari rumah.

Tamat SD itu, saya melanjutkan pendidikan ke Padang mencari sekolah umum tapi pelajaran agamanya lebih intensif. Waktu itu belum ada MTs atau MA, maka dipilihkan SMP Islam dibawah naungan Yayasan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) sebuah sekolah yang didirikan oleh H. Abdullah Achmad. Disini belajar sangat ketat, dengan kurikulum ilmu umum dan agama seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) sehingga ada 18 mata pelajaran tiap hari. Setamat SMP Islam, saya coba masuk ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) masih di Jati Padang, kemudian gedungnya pindah ke Gunung Pangilun. Oleh karena di PGA ini pelajaran agamanya lebih tinggi lagi, saya cukup susah mengikutinya, karena langsung meloncat dan diterima di kelas 5 PGA itu, apa boleh buat pelajaran yang agak sulit terutama bahasa Arab dengan nahu saraf, ilmu mantiq, ilmu hadits, dan lain-lain. Tapi syukur saya berhasil juga tamat.

Tamat PGAN itu, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena amanah pesan ayah/ibu agar saya mesti tahu dasar-dasar pengetahuan agama sebagai bekal kelak apabila dewasa sedikit sudah terisi. Ada lagi dua cita-cita untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, ingin menjadi sarjana teknik elektro atau guru bidang teknik tersebut. Apadaya kandas sudah karena syarat masuk harus berijazah SMA bidang IPA baik ke Universitas atau ke IKIP. Dengan setengah kecewa, saya cari-cari jurusan yang mungkin mendekati dan sesuai cita-cita di IKIP Padang. Sekali lagi bagi tamatan PGA hanya bisa masuk ke Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP (Jurusan BK, Kurikulum, Administrasi Pendidikan).

Setelah bolak-balik di tengah terik matahari di kampus Air Tawar Padang, rupanya ada dibuka jurusan baru, Geografi di Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial. Mulanya saya ditolak karena hanya menerima tamatan SMA atau SPG, kepada panitia penerimaan calon mahasiswa baru, saya memohon agar diberi pengecualian kepada saya yang berijazah PGA itu. Setelah mereka berembuk (mungkin juga dengan Dekan atau Rektor) akhirnya saya lolos diterima sekadar untuk pendaftaran sebagai peserta Ujian Masuk PTN itu.

Setelah dilakukan seleksi dan ujian, tentu menunggu hasilnya sangat mendebarkan. Kalau tidak diterima, saya harus melanjutkan kemana?. Sebagian besar teman-teman di PGA telah melanjutkan ke IAIN Padang atau Jakarta. Cita-cita saya rasanya hampir sampai ketika nama saya diumumkan lulus seleksi, saya diterima sebagai mahasiswa baru di Fakultas tersebut. Dengan motivasi besar dan belajar yang intensif, akhirnya saya berhasil menempatkan diri sejajar dengan teman-teman yang semuanya dari lulusan sekolah menangah atas. Walaupun pada semester pertama nilai saya sangat amburadul, tetapi semester berikutnya tanpa disadari saya termasuk kelompok mahasiswa yang nilainya rata-rata baik. Ketika kuliah banyak juga pertanyaan dosen yang membuat saya kikuk, "Tamat PGA kok bisa masuk ke sini, ha?" (maksudnya jurusan Geografi yang kajiannya banyak mengenai sains geologi, klimatologi, kartografi, oceanografi dan kajian sosial lainnya). Terus terang ilmu-ilmu (IPA) itu secara konsep tidak pernah saya pelajari semasa di PGA.

Untuk mengejar "ketertinggalan" dasar-dasar pengetahuan terutama ilmu sains tadi, saya belajar dengan teman-teman termasuk yang berjasa mengajar saya adalah Drs. Zaini (sekarang Pengawas di Dinas Pendidikan Sumbar, Karni Dt. Tumbijo (alm) bekas Kepala SMPN 6 Bukittinggi dan lain-lain). Tapi ironisnya teman-teman saya itu akhirnya berhasil saya "kalahkan", bahkan saya lebih dahulu diwisuda menjadi sarjana.

Dengan langkah mantap saya bulatkan tekad untuk menjadi guru Geografi ketika SK pertama di tempatkan mengajar di SMA Negeri Muara Labuh Solok Selatan. Di balik kegembiraan itu dengan berat hati saya tak sempat melaksanakan tugas disana secara penuh, karena Muara Labuh waktu itu terasa sangat jauh jaraknya dari Padang. Kota kecil itu indah dan menyenangkan, tapi saya masih ingin dekat dengan orang tua. Maka dengan permohonan kepada Kakanwil P dan K Sumbar akhirnya saya dimutasikan ke SPG Negeri Bukittinggi (1976). Sekali lagi tentu syukur kepada Allah SWT tidak putus-putusnya saya panjatkan kepada-Nya.

Sebagai guru di SPG saya tentu akan mengajar Geografi, tapi saya kecewa lagi di SPG ini tidak ada mata pelajaran itu. Kepala Sekolah menugaskan saya mulanya mengajar olahraga, kemudian bahasa Inggeris dan terakhir PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sekali lagi saya harus belajar ketiga mata pelajaran itu sebelum mengajar siswa. Praktis selama bertugas di SPG tidak pernah saya mengajar Geografi itu. Tetapi ketika saya memutuskan untuk mutasi pindah menjadi dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 1991, barulah saya memberikan mata kuliah yang sesuai dengan latar berlakang akademis saya Geografi dan Sains Sosial.

Entah ide dari mana, Walikota Bukittinggi (waktu itu) Drs. H. Oemar Gafar menelpon saya ketika saya sedang asik mengajar di SPG Belakang Balok. Tidak lama datang sebuah mobil Toyota Hardtop merah maron yang sehari-hari digunakan Sekda Drs. H. Hawari Siddik menjemput saya. Apa pula gerangan?. Ringkasnya, saya diminta pak Oemar Gafar dilantik menjadi anggota DPRD kota Bukittinggi sebagai mengisi kursi kelompok wakil rakyat dari "non ABRI". Saya tidak bisa berfikir banyak karena waktu pelantikan anggota DPRD periode 1982-1987 hasil Pemilu 1982 akan dilakukan seminggu lagi.

Dari 20 orang anggota DPRD itu, 4 orang diangkat sesuai undang-undang Pemilu waktu itu, tiga orang berasal dari ABRI (TNI AD dan Polri) dan saya dari kelompok Non ABRI. Pada Pemilu 1987, Undang-undang Pemilu berubah, tidak ada lagi kelompok non ABRI, yang diangkat semua harus dari ABRI. Waktu itu Golkar menawarkan agar saya ikut bertarung sebagai calon anggota DPRD periode 1987-1992, dan Golkar menang mayoritas lalu jadilah saya kembali melanjutkan pengabdian di DPRD kota Bukittinggi. Artinya, saya cukup lama mengabdikan diri sebagai wakil rakyat, 10 tahun!

Sayapun sampai tidak bisa membagi waktu, bayangkan tiga pekerjaan dalam satu hari harus dilaksanakan, anggota DPRD, guru SPG dan wartawan Haluan. Rupanya, karena aturan yang berlaku bagi PNS yang menjadi anggota DPR/D, membolehkan saya meninggalkan tugas di SPG. Sekarang saya memfokuskan diri dengan tugas wakil rakyat dan wartawan, tentu ini sangat sesuai dan saling mendukung.

Bagaimanapun, awal tahun 1990 SPG Bukittinggi dan SPG lain dibubarkan pemerintah. Teman-teman saya, guru-guru SPG tersebut terpaksa harus pindah tugas ke sekolah sederajat di Bukittinggi seperti ke SMA, SMEA (SMKN 2), STM (SMKN1) dan lain-lain. Tapi, saya dengan beberapa teman mencoba untuk bisa dimutasi ke IKIP Padang, rupanya diterima. Setelah mengalami proses administrasi dan kelayakan akademis, akhirnya saya menjadi dosen IKIP Padang sejak tahun 1991.

Saya fikir dengan S1 suatu saat kelak saya pasti akan kalah bersaing dengan dosen senior yang sudah ada di lingkungan IKIP (sekarang UNP) terutama dari latar belakang akademis dan pengalaman. Ratusan Profesor dan Doktor sudah ada di UNP. Keinginan melanjutkan studi makin bertambah. Maka tiga tahun kemudian dengan izin Rektor saya melanjutkan pendidikan S2 ke Universiti Kebangsaan Malaysia dengan biaya sendiri. Setamat S2 (MA) tanpa pikir panjang saya teruskan melanjutkan S3 (Phillosophy Doctor).

Ketiadaan beasiswa untuk belajar membuat saya kembali mengalami kesulitan biaya hidup apalagi biaya kuliah dan penelitian di luar negeri. Akhirnya saya teringat petuah orang alim bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Maka saya mencoba membuka usaha/bisnis restoran di kampus UKM Malaysia. Modal?, saya pinjam dari seorang teman warganegara Malaysia yang sangat baik hati. Pendeknya, bisnis restoran itu maju pesat. Menunya saya sediakan untuk lidah internasional, tentu tidak lupa dengan masakan minang. Saya tidak hanya mampu hidup baik dan membiayai kuliah, bahkan dua orang anak turut saya bawa untuk mengambil S1 dan S2 di Universitas tersebut. Sekarang kedua anak tersebut sudah tamat Master of Sciences (M.Sc) bidang teknik dan Pharmasi (apoteker).

Di UNP selain saya mengajar, juga banyak menulis karya-karya ilmiah yang dimuat dalam jurnal atau menjadi narasumber terutama yang menyangkut masalah pendidikan. Waktu itu saya juga mendapat tugas tambahan sebagai kepala PGSD UNP dan pimpinan kampus V UNP di Bukittinggi.

Suatu hari bulan April 2003, saya dipanggil Walikota Bukittinggi pak Dufri untuk berbincang-bincang mengenai pengembangan pendidikan di kota ini. Waktu itu beliau juga menawarkan untuk menjabat Kepala Dinas Pendidikan. Tentunya ibarat pepatah, jika manis tentu tidak langsung ditelan, jika pahit tidak pula harus dibuang cepat-cepat. Beberapa hari kemudian ibarat pikir itu pelita hati, saya akhirnya menyatakan sikap dan siap untuk memangku jabatan mulia itu.

Pertama kali memangku jabatan, walau sangat berat tapi saya optimis, tugas utama untuk memimpin tidak kurang dari 140 sekolah dengan 34.000 pelajar dan guru 2000 orang lebih. Saya harus melakukan pembenahan administrasi perkantoran dan manajerial sekolah sesuai visi dan misi serta aturan yang ada. Saya melihat tugas kepala dinas tak obahnya sebagai guru atau kepala sekolah.

Di dalam membuat program kemajuan pendidikan kota Bukittinggi, saya banyak terinspirasi dengan teori-teori selama menjadi dosen UNP dan studi banding yang pernah saya lakukan ke luar negeri termasuk ke Amerika Serikat berdua dengan pak Sekda Drs. H. Khairul. Akumulasi pengalaman itu kemudian diaplikasikan dalam manjemen pendidikan yang muaranya peningkatan mutu pendidikan kota ini secara menyeluruh di setiap jenjang pendidikan kita.

Mutu dan kualitas pendidikan kota Bukittinggi harus yang terbaik di tanah air ini. Oleh karena itu kita harus maju dan kerja keras. Untuk itu sarana dan prasarana pendukung sekolah, kualitas guru harus ditingkatkan. Apabila kompetensi guru meningkat, dia akan lebih profesional. Proses Belajar Mengajar yang baik dan menyenangkan dengan ketersediaan alat praktik akan mampu membangkitkan minat dan kompetensi pelajar. Ujungnya kualitas dan tingkat kecerdasan siswa akan pula naik. Oleh karena itu dimana-mana saya minta seluruh guru dan murid di Bukittinggi harus cerdas, terampil, kritis dan kompetitif. Seluruh guru dan siswa selain menguasai ilmu pengetahuan, dia juga harus mampu berkomunikasi dengan bahasa asing, mereka harus mampu pula menguasai Teknologi Informasi Komputer.

Semboyan dan tekad itu saya masukkan dalam visi dan misi pendidikan. Kita harus maju bersama, sekolah umum, sekolah kejuruan, madrasah, baik negeri atas swasta harus saling mendahului dalam kualitas dan mutu lulusan. Selain itu saya harus pula memperhatikan anak-anak yang usia sekolah tapi tidak bersekolah. Kita kumpulkan dimasukkan kembali ke sekolah formal dan non formal. Usaha itu berhasil bahkan APK (Angka Partisipasi Kasar) jenjang SLTP Bukittinggi tertinggi di Sumbar dan masuk 10 besar di Indonesia bersama kota Jogyakarta, Jakarta Selatan dan sebagainya.

Ujian Nasional yang penuh kontroversi di kalangan tertentu, bagi kita tidak menjadikan semangat mengendur. Seluruh jenjang pendidikan sekolah menengah/madrasah dipacu terus PBM-nya sehingga hasil UN sejak tahun 2003 sampai 2007 kota Bukittinggi tetap berada pada posisi teratas berbanding 19 kota/kabupaten di Sumbar. Keadaan itu bertahan terus sampai pra UN 2008, bahkan pra UAS BN yang digelar untuk pertama kali untuk SD kota Bukittinggi juga masih memperoleh yang terbaik seperti "kakaknya" SLTP dan SLTA.

Banyak lagi prestasi yang yang sudah ditoreh oleh dunia sekolah dan pendidikan umumnya di kota Bukittinggi dalam lomba-lomba akademis siswa, guru berprestasi, seni dan olah raga. Saya menjadi bangga sebagai guru, saya paling bahagia apabila anak-anak didik maju dan berhasil. Saya tetap komit dengan cita-cita yang masih panjang, suatu hari, kita akan bahagia lagi, bila ada pemimpin dunia, pemimpin bangsa, pemimpin masyarakat yang dulunya bekas murid yang berasal dari kota Bukittinggi.

BIODATA:

DR. Yalvema Miaz, MA

* Karir Dunia Pendidikan:

* 1. Guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bukittinggi (1976-1990).
* 2. Dosen Universitas Negeri Padang (1991-sekarang).
* 3. Dosen Universitas Kebangsaan Malaysia (1995-1997).
* 4. Dosen STAIN Bukittinggi (1998-2003).
* 5. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi (2003-sekarang)

* Karir Dunia Jurnalistik:

* 1. Koresponden Majalah berita Mingguan "Tribun" Jakarta (1977-1980)
* 2. Koresponden Majalah "Selecta Group" Jakarta (1980-1984)
* 3. Dewan Redaksi/Wartawan "Haluan" Padang (1974-1993)

* Karir Dunia Politik:

* 1. Anggota DPRD Kota Bukittinggi (1982-1987)
* 2. Anggota DPRD Kota Bukittinggi (1987-1992)

* Pendidikan terakhir :

Phillosophy of Doctor (Ph.D) National University of Malaysia.

* Kunjungan Studi Luar Negeri :

* - Negara-negara Asean (1978).
* - Jepang (2004)
* - Amerika Serikat (2004).

* Menulis artikel :

Surat Kabar dan Majalah Padang dan Jakarta

* Karya Ilmiah:

Jurnal ilmiah UNP, Univ.Padjadjaran dan UKM Malaysia Karya Penelitian:
- Hubungan Kelistrikan Desa dengan Pendapatan Pengrajin Industri Kecil di Kec. IV Angkat Candung Kab. Agam (UNP).
- Difusi Ruang Penyebaran Informasi Kesehatan di Kota Bukittinggi (UKM).
- The Voting Patterns of Bukittinggi General Election Between New Order and Reformation Order (UKM)

Isteri: Ny. Yusni Yalvema, BA.

* Anak :
1. Donny Wahyudi Miaz, B.Sc Eng.
2. Mira Febrina Miaz, S.Si, Apt, M.Sc Pharm.
3. Okki Trinanda Miaz, SE.
4. Febbi Abdul Mukti Miaz.

* Menantu

* 1. Zosmel Zuly, ST, M.Sc. Eng.
* 2. Devitri, SE, Akt.

Cucu

* 1. Athiyya Izzatul Syauqia.
* 2. Adhib Razzaqul Aufa

Rusdi Rais: Perguruan Tinggi Simeulue Bangun Masyarakat Entrepreneurship

PENGANTAR REDAKSI:
Rencana pendirian perguruan tinggi di Kabupaten Simeulue “Ate Fulawan” tidak saja mendapat dukungan penuh dari masyarakat di Pulau bagian Barat Provinsi Aceh itu, namun dukungan dan respon yang sama juga mengalir dari sejumlah tokoh masyarakat asal Simeulue di tanah perantauan. Salah satu tokoh itu, adalah Rusdi Rais, S.H., putra Simeulue yang kini sukses meniti karirnya di Kota Gudeg, Yogyakarta. Menurut Rusdi, kehadiran sebuah perguruan tinggi di Simeulue secara langsung akan mendokrak kredibilitas kabupaten ini di bidang pendidikan. Selama ini, generasi muda Simeulue, jika ingin melanjutkan sekolah mereka (kuliah), harus berjuang menyeberangi lautan, mengeluarkan biaya yang cukup besar, serta meninggalkan kampung halaman dalam jangka waktu lama. Namun, jika perguruan tinggi itu sudah ada, maka semua permasalahan yang dihadapi para orang tua yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan tinggi tidak akan kesulitan lagi. Bagi Rusdi Rais yang besar di rantau namun menyatakan cintanya yang luar biasa pada Simeulue, sudah saatnya Simeulue menunjukkan eksistensikan kepada dunia bahwa Simeulue bisa menjadi gerbang dunia, punya SDM unggul, serta siap bersaing menghadapi tantangan kompleks di era globalisasi sekarang ini. Bagaimana konkrit pemikiran-pemikiran tokoh Simeulue yang aktif di berbagai organisasi sosial kemasyrakatan ini? Berikut petikan wawancara Muhammad Subhan dengan Rusdi Rais dalam sebuah kesempatan berbincang-bincang di kediamannya Jalan Nogosari 43, Kadipaten, Kraton, Yogyakarta beberapa waktu lalu.

***

Apa Anda sudah mendengar tentang rencana pendirian perguruan tinggi di Simeulue?

Sudah. Saya sudah membacanya di SKS yang dikirim Pak Awal (Awaluddin Kahar, Pemred SKS—red). Beberapa kawan di Simeulue via telepon juga mengontak saya, menceritakan rencana tentang berita itu. Wah, sebuah langkah maju saya kira bagi Kabupaten Simeulue.

Apakah Anda mendukung?

Tentu. Sangat mendukung sekali. Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue yang cepat tanggap mendengar aspirasi masyarakat. Inilah cita-cita yang telah sekian lama dimimpikan masyarakat Simeulue. Dulu, di usia belia, saya selalu merasa iri melihat banyak orang bisa kuliah ke luar Simeulue, seperti ke Banda Aceh dan ke Medan. Lalu, saya berpikir juga, kenapa hanya ke Banda Aceh dan Medan saja kuliah. Saya pun nekat mencoba mengadu nasib ke Jawa, khususnya di Yogyakarta, lalu saya kuliah di sana. Tapi kan, kalau semua generasi muda Simeulue memilih kuliah di daerah orang, meninggalkan kampung halaman, otomatis mereka hanya menghidupkan negeri orang itu. Maka, sejak lama saya juga sudah berpikir, seandainya di Simeulue ada sebuah perguruan tinggi terbaik, Simeulue akan semakin maju dan berkembang.

Apa efeknya dengan adanya perguruan tinggi ini?

Sangat banyak tentu dampak bagi Simeulue. Sederhananya begini, jika perguruan tinggi itu sudah ada, anak-anak Simeulue semuanya akan kuliah di sini. Membangun universitas itu, yang mengerjakannya adalah masyarakat Simeulue. Setelah perguruan tinggi berdiri, disekitarnya akan tumbuh sentra-sentra ekonomi masyarakat, seperti rumah kost, pusat perbelanjaan kebutuhan mahasiswa, transportasi menghubungkan daerah-daerah terpencil ke komplek universitas, lalu ekonomi masyarakat bergerak, hidup. Masyarakat akan berpikir apa yang bisa mereka kerjakan untuk mendukung ekonomi keluarga lainnya dengan adanya perguruan tinggi itu.

Wah, sangat besar sekali dampaknya, ya?

Pasti. Dampak itu dengan sendirinya akan meringankan beban Pemkab Simeulue dalam rangka mengurangi angka kemiskinan. Bukankah kemiskinan terjadi lantaran terjadinya pengangguran serta masyarakat tidak memiliki ilmu alias tidak mengenyam pendidikan tinggi? Jadi, tujuan utama pendirian perguruan tinggi itu, adalah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat Simeulue. Sudah saatnya kita menghapus imej bahwa masyarakat kita sulit dirobah. Mereka bisa dirobah. Tentu, caranya yang paling utama adalah merobah cara pikirnya. Nah, salah satu alat merobah cara pikir ini adalah mencerdaskan generasi muda lewat jenjang pendidikan tinggi.

Setelah perguruan tinggi ini ada, apa lagi yang penting diperhatikan khususnya oleh pemerintah daerah?

Setelah perguruan tinggi ini ada, ya robah pula cara berpikir lulusan kita. Jangan orientasinya melulu untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kalau itu orientasinya, kita akan gagal membangun masyarakat Simeulue yang cerdas dan bervisi maju. Berapalah porsi PNS yang tersedia di kantor-kantor pemerintah. Artinya, setelah mereka lulus, pemerintah daerah juga memikirkan untuk menyediakan lapangan kerja yang lebih luas kepada para lulusan di Simeulue. Jangan biarkan mereka, setelah lulus, pergi meninggalkan Simeulue lantaran tidak lapangan pekerjaan. Kalau setelah lulus mereka pergi, sangat rugi besar kita. Tentu yang mereka bangun kemudian adalah daerah orang. Uang yang mereka cari hanya untuk membangun daerah orang. Simeulue akan tetap tertinggal.

Selain pemerintah daerah menyediakan lapangan kerja non-PNS?

Yang terpenting juga, para lulusan punya pola pikir dan kesadaran untuk tidak selalu bergantung pada orang lain. Kalau selama ini, setelah lulus kuliah, orang mencari kerja, sekarang paradigma itu harus dibalik. Lulus kuliah harus mampu menciptakan lapangan kerja. Mereka harus memiliki kreativitas, punya inovasi dalam menciptakan peluang-peluang strategis di sektor kerja untuk menghidupkan diri mereka. Bukankah potensi Simeulue masih banyak yang perlu digarap? Tentu, setelah menjadi sarjana, mereka akan menjadi cerdas dalam menangkap berbagai peluang.

Menangkap berbagai peluang, menarik sekali kalimatnya. Menurut Anda, apa saja peluang yang bisa digarap di Simuelue nantinya oleh para sarjana kita yang lulus di perguruan tinggi Simeulue?

Wah, sagat banyak sekali itu. Saya seringkali mengatakan, Simeulue ini potensinya cukup besar. Tapi selama ini belum tergarap maksimal. Mungkin penyebab utama lantaran faktor SDM. Tapi, setelah banyak masyarakat kita lulus dari perguruan tinggi, tentu mereka akan lebih cerdas dari sebelumnya. Lihat sektor pariwisata kita, belum tergarap maksimal bukan? Belum lagi sektor pertaniannya, laut, hutan, perdagangan dan jasa, dan lain-lain. Sangat banyak sekali saya kira. Untuk menghidupkan semua itu, pemerintah daerah tentu tidak dapat bekerja sendirian. Pemda butuh tenaga-tenaga profesional yang handal dan siap pakai, baik dalam tataran konsep dan aplikasi di lapangan. Maka yang bisa mengerjakan itu adalah para sarjana kita dengan spesifikasi keilmuan yang mereka miliki. Nah, ini yang harus digiring.

Artinya, perguruan tinggi Simeulue nantinya harus menyiapkan fakultas atau jurusan yang bernilai jual. Setelah lulus nanti pekerjaan benar-benar jelas terbuka di depan mata?

Tepat sekali. Tiga fakultas yang akan dibangun Pemda Simeulue sudah sangat cocok, yaitu Fakultas Pertanian dan Perikanan, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Teknik. Tiga Fakultas ini benar-benar membuka peluang usaha yang lebih luas kepada masyarakat setelah mereka lulus nanti. Jika pun mereka tidak lulus PNS, tapi mereka bisa membuka usaha sendiri. Mereka bisa menjadi seorang wirausahawan sejati yang berjiwa entrepreneurship. Di kota-kota besar yang persaingannya lebih ketat dan berat, lulusan-lulusan sarjana lebih memilih menjadi wirausahawan dari pada aparatur pemerintah (PNS). Ini artinya, menjadi entrepreneurship lebih menjanjikan, berpenghasilan lebih besar serta bisa lebih luas berinovasi. Maka, harapan saya, adik-adik saya generasi muda di Simeulue, berpikirlah lebih luas dalam menangkap peluang pekerjaan.

Sebuah pemikiran yang sangat familiar. Ke depan, apa harapan Anda untuk Simeulue dengan berdirinya perguruan tinggi ini?

Harapan saya, perguruan tinggi ini benar-benar menjadi kebanggaan bagi rakyat Simeulue, baik yang berdomisili di Simeulue maupun di rantau. Sudah saatnya kita menunjukkan kepada dunia luar bahwa Simeulue bisa dan mampu menghasilkan sarjana-sarjana berkualitas yang lahir di daerah sendiri. Saya sebagai putra Simeulue sangat bangga dengan daerah ini. Ya, Simeulue adalah kebanggaan saya, dan kebanggaan kita semua. Suatu saat, saya impikan Simeulue menjadi daerah yang benar-benar berdaya saing, masyarakatnya menguasai teknologi serta berdiri sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia bahkan dunia. Tidak soal daerah kita jauh di pulau, tapi soal kemajuan menjadi komitmen kita bersama. Salut atas segala pembangunan yang telah dijalankan Pemkab Simeulue, dan masyarakat harus selalu mendukungnya. []

PROFIL RUSDI RAIS:

Lama di Rantau, Diminta Bangun Kampung Halaman

Sejauh-jauh terbangnya bangau pasti turunnya ke kubangan juga. Agaknya peribahasa inilah yang tepat ditujukan kepada sosok Rusdi Rais, S.H., putra Simeulue yang sukses merintis karirnya di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Meski puluhan tahun berkiprah di daerah orang, namun jiwanya resah ingin selalu pulang membangun kampung halaman. Ya, memberikan sumbangsih pemikiran maupun tenaganya untuk masa depan Simeulue yang lebih baik.

Bagi sejumlah tokoh masyarakat Simeulue, nama Rusdi Rais tidak asing lagi. Putra kelahiran Sinabang, 13 Agustus 1960 ini, sempat menjabat sebagai Kepala Bagian Umum Setwan Kabupaten Simeulue (2007). Walau hanya lebih kurang setahun menjabat di sana, namun ia cukup paham kondisi yang ada di Simeulue. Simeulue dengan segala pembangunannya, harus terus didukung. Pembangunan di berbagai sektor yang dikerjakan Pemerintah Daerah Simeulue, perlu terus diberikan apresiasi.

Selama ini, Rusdi Rais berkiprah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ceritanya, dulu, ia memilih hijrah ke Tanah Jawa lantaran ingin memperoleh kehidupan yang lebih baik. Usai menyelesaikan sekolah di SMP Negeri 1 Sinabang, oleh ayahnya ia dibawa ke Meulaboh, Aceh Barat. Di sanalah ia melanjutkan SMA yang diselesaikannya pada tahun 1979. Saat itu, kawan-kawannya yang lulus SMA banyak yang memilih kuliah di Medan dan Banda Aceh. Tidak terdengar generasi muda asal simeulue yang melanjutkan kuliah ke Jawa.

Di Meulaboh, di rumah yang dibeli ayahnya, Rusdi sering merenung, kapan ia bisa menjadi orang yang dapat memberikan sesuatu kepada khalayak banyak. Ketika itu ia mendengar di Jawa ada Universitas Gajah Mada (UGM) yang sangat hebat gaungnya hingga ke Aceh. Ia sangat berhasrat dapat kuliah di sana. Namun, setelah mendapat restu dari orang tuanya, Rusdi malah memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Di Kota Gudeg inilah ia mulai bergelut dengan berbagai suka dukanya menjadi seorang mahasiswa yang jauh dari kampung halaman.

Selama kuliah di Yogya, ia tidak terlalu teragantung pada kiriman uang orang tuanya. Maka, agar tetap bisa bertahan hidup serta kuliah, Rusdi tidak segan bekerja apa saja. Bahkan, ia sempat menjadi gharin (tenaga muazzin) di Masjid Syuhada, Kota Baru, Yogya. Di masjidlah jiwanya terasal. Kedekatannya pada Tuhan membuatnya menjadi sosok yang teguh dalam pendirian, bahwa persoalan rezeki dan masa depan sudah diataur oleh Yang Di Atas Sana.

Perjuangannya itu tentu saja membuahkan hasil. Tahun 1986 Rusdi lulus dari Fakultas Hukum UII dengan hasil memuaskan. Ia pun menjadi orang satu-satunya asal Simeulue di Yogya ketika itu yang berhasil menyandang gelar sarjana hukum.

Setelah menyandang gelar sarjana itu, di tahun 1990, Rusdi memutuskan memilih pasangan hidup yang sepaham dalam membangun bahtera rumah tangga serta seperjuangan dalam suka dan duka membangun masyarakat suatu saat kelak. Maka, pilihannya jatuh kepada Errin Kosnarti, lulusan Cumlaude di Jurusan Hukum Pidana UGM. Dari buah pernikahannya itu, mereka dianugerahi dua orang putra, Amirul Putra Justisia (16 tahun) dan Dimas Aria Putra Justia (14 tahun). Menyandangkan kata “justisia” di belakang nama kedua putranya itu, Rusdi berharap suatu saat keduanya menjadi orang-orang yang berjuang di jalan Allah dalam memperjuangkan dan menegakkan keadialan.

Di Yogyakarta, Rusdi Rais terbilang aktiv diberbagai organisasi sosial kemasytarakatan. Mulai jadi Ketua RT, hingga menjabat sebagai Sekretaris KONI. Di tahun 1983, ia pernah aktif di YLBHI yang dimotori pengacara kondang Adnan Buyung Nasution, dan sempat mendirikan Kantor Advokat Rusdi Rais & Associated Yogyakarta (1989-1990). Ia juga pernah menjadi anggota Assosiasi advokasi Indonesia (AAI) Yogyakarta (1989-1991). Selain itu ia juga berkecimpung dalam organisasi Muhammadiyah hingga pengurus PSSI Kota Yogyakarta.

Pengalaman jabatannya di berbagai pekerjaan tidak meragukan sosok itu pada segudang pengalamannya. Ia pernah menjadi Sekretaris di Pengadilan Agama Wates (1996-1998), Panitera Penganti di Pengadilan Agama yogyakarta (2000-2002), Panitera Tindakan hukum Pengadilan Agama Bantul (2000-2006), Kabag Umum Setwan simeulue (2007), dan Kepala Bidang Bidang Penegakan Peraturan Perundang-Undangan Dinas Polisi Pamong Pramaja dan Ketertiban Masyarakat Kabupaten Sleman (2007-sekarang). (*)

[Dimuat di Surat Kabar Simeulue edisi 28 Desember 2009-2 Januari 2010]

Jumat, 01 Januari 2010

Wawancara Bersama Buya Mas’oed Abidin Terkait Gempa Sumbar


Pengantar Redaksi:
Gempa bumi yang mengguncang Ranah Minang pada Rabu, 30 September 2009 lalu menyisakan trauma dan luka mendalam. Sepuluh hari pasca Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriyah, alam murka mengundang bencana yang tak pernah diduga sebelumnya. Lebih 700 jiwa kehilangan nyawa, ribuan luka-luka, ribuan jiwa lainnya terkubur di bawah puing-puing reruntuhan rumah-rumah mereka yang nyaris rata dengan tanah. Air mata berlinang. Sumatera Barat berduka.
Pertanyaannya, benarkah musibah demi musibah yang merundung bangsa Indonesia ini semata lantaran fenomena alam belaka? Ada apa dibalik semua bencana yang diturunkan Allah itu? Benarkah kemaksiatan semakin merajalela di mana-mana dan manusia semakin melupakan Tuhannya? Banyak orang berspekulasi tentang semua dugaan itu. Pro dan kontra. Para pakar memberi jawaban secara akademis berdasarkan teori-teori yang mereka pelajari. Yang awwam bertanya-tanya musibah apa lagi yang datang setelah ini.
Menurut pandangan Islam musibah yang melanda bumi bukanlah semata gejala alam belaka. Semuanya sudah tersurat dalam Kitab Lauh Mahfuzh. Seperti tersurat dalam al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 58: ”Tak ada satu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).”
Menyikapi fenomena gempa bumi di Ranah Minang ini, Reporter Sabili di Padang Muhammad Subhan, berkesempatan mewawancarai Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, Buya H. Mas’oed Abidin. Berikut petikan wawancaranya:

***

Pandangan Buya terhadap fenomena beruntunnya bencana di negeri ini?

Dari padangan ajaran agama Islam, tidak terjadi sesuatu kecuali hanya atas izin Allah semata. Apa yang terjadi ini sudah menjadi ketentuan Allah. Memang sangat erat kaitannya, sebuah musibah itu dengan perangai atau kelakuan manusia. Banyak keterangan di dalam Alquran, dan juga pemberitaan hadist Rasulullah SAW (… jika kita memang masih mempercayainya, karena sudah banyak orang tidak mau merujuk kepada Alquran atau sunnah, dengan berbagai alasan ilmiah rasional yang dangkal…). Bagi Muslim Mukmin Muttaqin, Alquran adalah pedoman yang terang. Sunnah adalah penjelas yang jelas. Bila kita merujuk ke sana, kita mendapatkan pelajaran berharga. Banyak kisah Alquran menceritakan umat terdahulu itu binasa. Karena perangai mereka. Kepada mereka ditimpakan bencana. Melalui hukum Allah, alam bicara. Ada umat yang ditelan bumi (Qarun, kaya, bakhil). Ada umat yang ditenggelamkan air laut atau tsunami (Fir’aun, penguasa zalim, yang mendurhakai Allah, tidak mempercayai Rasul, bersilantas angan, etnic cleansing terhadap kaum Imran, tidak mempercayai hukum Allah). Ada pula yang dihancurkan dengan gempa besar (umat Nabi Shaleh, aniaya, menyiksa kaum lemah, mengurangi takaran dan timbangan, suka berkorupsi dsb).
Maka dari keterangan Alquran ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa antara kelakuan manusia berkaitan erat dengan musibah yang datang. Namun, kita tidak bisa mengatakan bahwa musibah gempa semata (100%) fenomena alam saja. Pasti ada kaitannya dengan perangai umat di dalam alam itu. Maka dari segi tauhid, ada yang perlu diperbaiki secara terus menerus. Dengan kekuatan penuh. Agar umat ini kembali memiliki sikap perangai yang baik (akhlaqul karimah). Ibadah yang teratur. Serta berpegang kepada agama. Bagi Negara Indonesia, kita masih mengakui Pancasila sebagai dasar Negara. Di sana masih terpateri dengan kuatnya, KETUHANAN YANG MAHA ESA. Menurut Buya itu tidak lain adalah berpegang kepada ajaran agama yang benar. Karena itu secara lebih jauh, kita mesti lakukan introspeksi dalam semua bidang dan semua kegiatan. Termasuk kurikulum pendidikan akhlak karimah (etika religi) yang tidak hanya mengandalkan kepada pemahaman-pemahaman rasional saja. Agar bangsa ini tidak menjadi luluh lantak dari sisi mental spiritual. Bila tidak, maka umat ini akan menjadi umat yang “too much science too little faith”… Inilah bencana lebih besar.

Hubungan Bencana yang beruntun di Indonesia dengan maraknya kemaksiatan dan minimnya orang-orang shalih? (Ka’ab Bin Malik mengatakan, “Tidaklah bumi berguncang, kecuali karena ada kemaksiatan yang dilakukan di atasnya. Bumi bergetar karena takut Rabbnya melihatnya.”

Sudah jelas sekali. Ada warning dari Rasulullah, yang tidak dapat tidak mesti diyakini dan dipercayai oleh setiap mukmin muttaqin. Warning (peringatan) Rasulullah ini, mesti disikapi dengan peraturan hidup bernegara yang tegas dan jelas. Perlu disikapi dengan kurikulum pendidikan di segala bidang yang baik. Kita tidak dapat acuh tak acuh dengan warning agama ini. Walau ada kenyataan kini, bahwa telah mulai tumbuh generasi EGP (emang gue pikiran) terhadap peringatan agama ini. Ada pendapat bahwa agama hanya untuk ritual dan seremonial. Soal hidup bernegara, tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Jika pendapat ini terus dibiarkan berkembang, maka musibah tidak lagi semata fenomena alam. Akibat lebih berat akan dirasakan oleh generasi ini, dari masa ke masa. Binasa dan hilang dari peta budaya.

Membaca keterangan Rasulullah, Umar Bin Khathab, Siti Aisyah, dan Ka’ab Bin Malik sepertinya, ada keterkaitan antara ketidakadaan (minimnya) orang-orang shaleh dan syahid di jalan Allah, merajalelanya kemaksiatan, dan kezaliman penguasa dengan terjadinya bencana. Pandangan Buya tentang ini?

Kesalehan menjadi sangat penting. Kesalehan adalah sesuatu pengamalan dari bimbingan agama. Kesalehan sesuatu bentuk dari keikhlasan karena Allah. Kesalehan ada dalam bingkai redha Allah. Kesalehan tidak boleh dipilah-pilah menjadi saleh pribadi, saleh sosial dan sebagainya, yang terpisah satu dan lainnya. Kesalehan adalah utuh, baik secara pribadi ataupun secara sosial. Tidak mungkin orang yang saleh pribadi menjadi tidak acuh dengan lingkungan sosialnya. Sebaliknya tidak bakal terjadi orang yang saleh terhadap lingkungannya tapi bangkrut terhadap pribadinya. Kesalahan utama kita ialah hilangnya kesalehan.

Ada banyak orang yang tak acuh bila terjadi kemaksiatan di sekelilingnya. Alasannya sederhana. Biarkan saja selama bukan kita yang melakukannya. Bila ini terjadi, maka prinsip amar makruf nahi munkar hilang. Akibat lebih jauh doa tidak diijabah lagi. Ini akan mengundang beribu kemelut. Baik dari dalam diri (tekanan emosional) maupun dari dalam masyarakat (cheos). Kadang-kala kita terperangkap kepada pengertian HAM yang salah. Maka menurut pandangan orang pintar-pintar di mana saja, HAM itu harus diterjemahkan bijak dengan kearifan lokal yang dipunyai satu bangsa. Tidak boleh ditelan mentah-mentah.

Masyarakat Indonesia di Nusantara, sudah terkenal sebagai masyarakat yang mengutamakan kegotongroyongan. Tetapi ketika musibah datang mendera, gotong royong (taawun) itu hilang. Berganti dengan nafsi-nafsi (individualism). Jadinya beban semakin berat. Bahkan di mana-mana sering terjadi penjarahan. Karena tidak rapinya pendistribusian. Mungkin lantaran surat jalan belum ditekan, sehingga lahir sikap materialism itu. Tidak dapat tidak, antara satu sikap dengan lainnya kait berkait dengan ajaran etika religi, atau kesalehan agama.

Rentetan waktu terjadinya gempa dengan peringatan Allah dalam al-Qur’an:

a. Gempa Jawa Barat (Tasikmalaya) terjadi pukul 15:04 Wib. Jam 15.04 identik dengan al-Qur’an Surat al-Hijr (15) ayat 4: ”Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.”

b. Gempa Sumbar terjadi pukul 17:16 Wib. Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 16: ”Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

c. Gempa Susulan di Sumbar terjadi pukul 17:58 Wib. Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Israa’ (17) ayat 58: ”Tak ada satu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

d. Gempa di Jambi terjadi pukul 08:52 Wib. Ini identik dengan al-Qur’an Surat al-Anfaal (08) ayat 52: ”(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”

Pertanyaan: ayat-ayat di atas dan waktu terjadinya gempa apakah hanya kebetulan atau memang merupakan peringatan Allah SWT?

Ayat Alquran di atas memang benar. Allah tidak bermain-main dengan wahyu Nya. Akan tetapi perlu di ingat bahwa jangan dikaitkan peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu. Isi ayat Alquran ini menjadi peringatan keras untuk kita. Jangan dilanggar. Ikuti dengan benar, kalau mau selamat. Tapi tidak ada kaitannya peristiwa gempa dengan angka-angka ayat itu. Bila ini dibiarkan terus, maka eksistensi Alquran akan berubah jadi klenik. Alquran tidak sama dengan prambon, yang banyak dipakai oleh paranormal dan cara akal-akalan semata, kadang-kadang tidak diterima oleh akal sehat. Dan gempa tidak ada satu kaitanpun dengan angka-angka. Satu contoh, bila umpamanya terjadi gempa pada tanggal 31 Januari, apakah kita akan mengaitkan dengan ayat 31 surat 1 (?), sementara surat 1 itu hanya jumlah ayatnya 7 saja? Atau dikaitkan dengan surat 31 ayat 1, di mana artinya sudah berbeda (ALIF LAM MIM) pendahuluan dari Surat Lukman itu?.

Buya memandang beruntunnya bencana di negeri ini, merupakan peringatan atau azab Allah? Apa konsekuensi dari masing-masing jenis ini?

Alhamdulillah, Umat Muhammad tidak serta merta diazab oleh Allah sebagaimana ketika umat terdahulu mendapatkan azab tersebab perbuatan dosa mereka. Lihat saja betapa Umat Nabi Luth dihimpit oleh tanah, sehingga mereka hilang ke dalam perut bumi. Umat Ad dan Tsamud yang dibinasakan dengan bencana gempa serta angin puting beliung. Bangsa Saba dengan angin gurun yang kering, sehingga tanah mereka menjadi kering kerontang. Umat Nabi Musa yang menjadi terpecah belah dan menjadi bangsa yang berperang sepanjang masa. Umat Nabi Nuh tenggelam di air bah dan tsunami. Alhamdulillah, umat Muhammad masih diberi ujian dan cobaan. IMTIHAN dan FITNAH. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dengan bertaubat dan kesalehan. Allah masih mengampuni kesalahan umat Muhammad. Betapapun besar dosanya, selama mereka mau bertaubat. Taubaatan Nashuha, artinya mengubah perangai, membenci kesalahan, membenci perbuatan dosa. Kemudian mengikuti keburukan lalu dengan kebaikan, di masa ini dan masa datang.

Artinya ada recovery terhadap jiwa dan keimanan. Dan ini dapat dilakukan terus menerus. Tidak hanya sekali sekali saja ketika Ramadhan datang. Kemudian menjadi jalang lagi kalau Ramadhan telah pergi. Atau menjadi shaleh ketika pergi umrah dan menjadi Thaleh (calih, bhs. Minang) artinya khianat sesudahnya. Hendaknya jangan dijadikan agama sekedar pakaian selebriti. Dakwah seperti tontonan. Menjauh dari tuntunan Allah dan Rasulullah.

Hanya satu dosa yang tidak pernah diampuni oleh Allah. Musyrik. Musyrik bisa jadi Khafiy (tersembunyi) yakni riya, atau beramal semata hanya ingin dilihat dan dipuji oleh orang banyak, artinya hilangnya kesalehan dalam arti sesungguhnya. Mungkin dari titik ini kita mengundang bencana.

Apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam yang awam dalam ilmu agama? Minang terkenal dengan adat basandi syara, syara basandi kitabullah. Kecil disurau besar merantau, bagaimana realitanya?

Kembalilah kepada ajaran agama yang benar. Kembalilah kepada ajaran Alquran dan Sunnah. Artinya jangan hanya dijadikan agama itu pakaian di surau atau masjid saja. Bawalah ajaran agama itu di dalam berjual beli di pasar (jujur, amanah, tidak menipu, menjaga kualitas). Jangan terjadi hendaknya karena ada kesempatan kita mengambil keuntungan besar di saat orang lain sempit. Perangai ini bukan perorangan orang yang mengamalkan ajaran agama dengan benar. Bawa jugalah agama itu ke sekolah-sekolah dan kantor-kantor. Tampaknya setiap kantor dan sekolah kini sudah punya sarana ibadah. Ada masjid ada mushalla. Ada pula guru agama. Tetapi ketika datang panggilan shalat, kita abaikan. Masjid dan mushalla yang dibangun hanya menjadi monument, menandakan di negeri itu ada umat Islam, walaupun tidak pernah diramaikan untuk kegiatan shalat. Ada kebiasaan baik kini, kalau terdengar adzan, orang diam dan tafakur sejenak. Rapat-rapat dan meeting diam seketika. Kenapa tidak diskors saja untuk beberapa menit. Pemimpin rapat dari semua tingkatan itu, semestinya menyatakan kita shalat dulu. Nanti selesai shalat kita sambung lagi. Mari kita belajar kepada rapat-rapat kabinet dan di saat pertama kita akan atau sudah merdeka. Shalat kita pelihara dengan baik, walau pengeras suara belum ada. Walau masjid/mushalla baru amat sederhana. Dari sisi ini kita tidak dapat mengatakan bahwa kita sudah maju, walau 63 tahun telah kita lalui. Kita jadi mundur. Dalam cara berbakti juga begitu. Berapa banyak harta yang rela dikorbankan. Emas perak dan perhiasan yang ditanggalkan. Semuanya untuk perjuangan kemerdekaan. Tidak ada harap balas dari pemerintah masa itu. Yang ada hanya harap balas dari Allah semata. Ini namanya kesalehan pribadi yang membekas kepada kesalehan sosial. Kini sebaliknya yang terjadi. Orang tidak mau berbuat banyak bagi umat dan lingkungannya. Ketika musibah datang banyak sumbangan datang. Banyak pula penjarah berkembang. Banyak pula merek ditempelkan. Agar mendapat sanjungan dan pujian dari khalayak ramai. Hilang keikhlasan. Hendaknya jangan terjadi, musibah dijadikan ajang kampanye, pilihlah kami. Bila ini terjadi musibah dalam bentuk lain akan dituai pula. Banyak kita yang sudah meninggalkan kearifan berbangsa dan bernegara dalam bimbingan etika agama (akhlaqul karimah). Banyak pula yang menggantinya dengan semata mengharapkan pamor dan pujian. Ini juga akan menuai musibah satu ketika. Na’udzuibilah min dzalik.

Apa yang harus dilakukan oleh penguasa di negeri ini?

Ikhlaslah, jujurlah, dan amanahlah di dalam menunaikan tugas berat ini. Jika semua itu dapat dilakukan, Insyaallah kemashalahatan umat akan terjaga, Negara akan aman sejahtera, baldatun thayyibah wa rabbun ghafuur.

Apa karena umat Islam terus diperangi, (terorisme) sehingga alam pun protes?

Pertanyaan ini ngelantur dari jalurnya. Umat Islam itu tidak teroris. Kata-kata teroris adalah kata import. Sumbernya tidak jelas produk siapa. Bila terror diartikan fasad, maka Alquran tegas melarang fasad ini. Kata-kata jihad pun perlu diterjemahkan secara lurus dan benar. Arti jihad itu semata adalah kesungguhan di jalan Allah. Li I’laa I kalimati l-Llah. Semata upaya meninggikan kalimat Allah. Jihad tidaklah menghancurkan orang lain. Jihad bukan membunuh. Teror kalimat berasal dari mana? .

Komentar Buya terhadap bantuan dari luar negeri, dari Minang perantau dan dari umat Islam sendiri?

Bantuan dari luar negeri dan dari perantau itu bagus. Dan ini membuktikan bahwa kesetiakawanan kita tumbuh dengan sempurna dan baik. Bayangkan saja ketika gempa terjadi di Sumbar pukul 17.16 WIB. Pada waktu subuh besoknya, dua helicopter dari Swiss sudah masuk ke Padang. Mereka datang dengan peralatan pemantauan korban yang canggih. Kita belum punya itu. Kemudian datang pula bantuan lainnya, dari Korea, Jepang dan sebagainya. Mereka datang dengan transportasi cepat tanggap.

Alhamdulillah, tandanya persaudaraan terjalin baik antar bangsa. Adakah kehadiran ini satu yang salah? Rasanya tidak salah. Sementara kita semua masih takut dan trauma. Cuma sayangnya kita belum siap menerima tamu. Banyak cerita mengenaskan dan mencemaskan terjadi. Sehingga orang yang harus membantu terpaksa harus bayar dengan harga yang tinggi di Bandara. Ini kabar cerita yang berkembang. Sewa kenderaan membubung tinggi. Memang ada juga yang mencari kesempatan di dalam kesempitan yang dialami orang lain. Perbuatan ini sebenarnya perbuatan terlaknat. Di mana salahnya? Karena pendekatan kita selama ini pariwisata. Buka kesantunan manusiawi. Bukan kemuliaan berbangsa. Di sini letak salahnya. BBM memang sulit dicari. Tapi ada juga orang yang menjualnya sampai harga 20.000 rupiah per liter. Artinya lebih dari 4 kali lipat harga bissa. Ini perbuatan terkutuk. Tidak menggambarkan sikap beragama yang benar. Apalagi akan memakaikan kata adat bersendi syarak. Walau yang melakukan itu belum tentu orang Minang. Sebab pedagang itu tidak semuanya dan selamanya orang Minang. Ada juga dari suku lainnya. Tetapi karena terjadinya di tanah Minang, yah, akibatnya ranah ini jadi robek menderita fisik dan pencitraan. Air PAM sulit, listrik mati, akibat gempa. Tapi ada juga masjid yang pintar. Yang memerintahkan dibuka 24 jam. Menghidupkan genset masjid terus menerus. Memompa air sumur. Menyediakan air minum untuk penduduk lingkungan. Walau secara berkecil-kecil mereka telah berbuat.

Nampaknya sisi buruk dan baik selalu ada dalam kehidupan. Masyarakat yang arif, tidak semata melihat dari kacamata buruk saja. Masyarakat yang cerdas tidak pernah menggeneralisir yang buruk di tengah yang baik itu. Lihat jugalah perbuatan baik yang telah dilakukan. Di antaranya mengumpulkan bantuan dari mana saja. Membagikannya sampai ke daerah terpencil. Di Sumatera Barat kini, 7 kabupaten/kota amat parah menderita. Seperti Kota Padang ( 11 Kecamatan), Kota Pariaman (Utara Tengah, Selatan), Kabupaten Padang Pariaman (17 Kecamatan, 71 desa), Pesisir Selatan (12 Kecamatan), Pasaman Barat, Pasaman, Agam (Tanjung Mutiara, Tanjung Raya, Manggopoh, Palembayan, Malalak). Semuanya terjadi pada saat bersamaan. Hanya beberapa menit dan detik saja. Umat jadi kalut. Anak-anak menangis meraung. Gedung runtuh. Rumah terban. Negeri ditimbun longsor di Tandikek. Lebih 1.434 Masjid/Mushalla rubuh. Rusak berat dan ringan. Lebih 100 pasar yang hancur. Lebih 206.500 bangunan dan rumah yang hancur. Sebanyak 715 orang meninggal. Lebih dari 2.500 orang luka berat dan ringan serta yang hilang atau mengungsi. Berat penderitaan umat. Ini terjadi seketika. Sekejap mata. Bagaimana mengatasinya? Dalam kondisi seperti ini maka bantuan amat diperlukan. Sangat berguna. Pandai-pandailah berterima kasih. Ini adalah pelajaran besar. Ini adalah latihan besar. Kesatuan bangsa. Kegotong-royongan. Asa antakrahuu syai-an wa huwa khairun lakum … mungkin yang buruk menimpamu ada hal baik di balik itu. Husnudz-dzanlah kepada Allah. Nah, jika terjadi keterlambatan, anggaplah itu satu hal yang wajar. Mungkin saja, karena yang membantu, juga ada di dalam kesulitan yang sama. Bukan malah mencaci maki, menghujat, yang malah akan mengundang masalah baru.

Apa menemukan Kristenisasi di tengah gempa?

Selama ini belum terlihat. Mudah-mudahan tidak ada. Sungguhpun begitu harus hati-hati juga. Karena kada l-faqru an yakuuna kufran. Kefakiran sering membawa kepada kekufuran.

Tapi ada koreksi jauh terhadap umat Islam ini. Ketika umat Islam kurang berkeinginan membantu. Maka jangan disalahkan, kalau orang di luar Islam lebih banyak berbuat, dan mereka akan mendapat pujian. Ketika orang diluar Islam banyak berbuat, maka “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah”. Sebenarnya kekuatan umat Islam itu ada pada kebersamaan. Saling sedekah, saling meringankan beban orang lain. Man salimal muslimun min lisanihi wa bi yadihi. Kalimat ini sering disebut, tetapi mulai lemah dalam pengamalannya. Semestinya umat Islam harus berani mengatai dirinya. Memulai dari yang lemah. Menghidupkan saling membantu. Ruhul infaq kita mulai hilang pula. Musibah sering terjadi ketika manusia terlalu cinta dan sayang terhadap hartanya. Takut hartanya habis jika bersedekah. Manusia menjadi kikir. Bersedekah justru membawa keberkahan, menambah kekayaan lebih banyak dan menyebabkan seseorang terhindar dari musibah. Seseorang yang senang bersedekah itu akan dicintai. Dibela dan didukung usahanya oleh masyarakat. Seseorang yang kikir, enggan bersedekah untuk kepentingan ummat, menyebabkan ia dibenci. Dijauhi, serta didoakan jelek oleh masyarakat. Kekikiran (kebakhilan) membuka jalan bagi datangnya musibah. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” (HR. Ath Thabrani), dan juga Allah SWT berfirman: “Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya”. (Q.S. As Saba’: 39)

Sering Bantuan hanya diberikan kepada kelompok kita saja. Persis seperti disindirkan Allah di dalam Alquran, kullu hizbin bimaa ladayhim farihuun … Mereka lebih mementingkan kelompoknya saja. Ini juga perlu diawasi. Padahal semua umat Islam harus tahu akan kaedah man lam yahtamma bi amril muslimin fa laisa minhum. Artinya yang tidak mau tahu dengan urusan sesama muslim, sebenarnya mereka tidak pantas digolongkan ke dalam kelompok muslim itu.

Banyak masjid dan sekolah Islam roboh demikian pula lembaga-lembaga Islam Konsep dakwah ke depan idealnya seperti apa?

Bangun kembali. Jangan berhenti tangan mendayung. Mulai dari apa yang ada. Bawa umat kembali kepada ajaran agama. Jangan jadikan dakwah sekedar event pengisi acara di televisi, atau program selebriti. Ajarkan kembali akhlaqul karimah. Menjadi pekerjaan utama Diknas dan Depag. Depag jangan hanya fokus kepada urusan haji saja. Urusan shalat juga menjadi kerjaan Depag dan para ulama di negeri ini. Urusan membangun keluarga jannah mulai dengan perilaku yang santun, mulia dan saling membantu. Tidak mungkin masyarakat akan dapat dibangun kalau akhlaq dilupakan. Anggaran Negara bukan hanya teruntuk pendidikan sekuler, IT, dan keterampilan saja. Utamakan akhlaqul karimah. Dari sini akan bangkit masyarakat kuat. Berkaitan dengan gempa. Gempa tidak pernah membunuh. Cuma yang banyak membawa celaka itu adalah bangunan yang dibangun tidak menurut aturan. Di Ranah Minang, di Mandailing, bangunan-bangunan tradisional tidak rusak dan runtuh. Rumah gadang tetap utuh. Kenapa? Karena ada soko gurunya. Ada tiang tuanya. Begitu juga dakwah mesti ada soko gurunya. Soko guru dakwah adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul. Perlu ada ulama yang teguh, istiqamah, qanaah, dan ikhlas mencari redha Allah.

Hubungan Manusia dengan alam, manusia serakah mengeksploitasi alam ?

Musibah merupakan ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan kedatangannya, baik ujian kehilangan harta benda, kecelakaan, maupun kematian, baik ujian itu besar maupun kecil. Meskipun demikian, ujian itu tetap datang kepada setiap manusia, kapan saja dan di mana saja. Walaupun manusia lari dari musibah itu, iapun tetap datang menghampirinya. Setiap musibah, dalam kaca mata “iman” adalah takdir atau ketentuan Allah. Segala sesuatu yang terjadi, semata atas izin dan ketentuan Allah. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah itu dapat terjadi. Musibah dapat datang karena manusia mengundangnya dengan melakukan perbuatan dan tingkah laku yang salah.

Musibah akan ditimpa musibah, karena melupakan Allah dan lalai atas segala perintah-perintah-Nya. Seseorang yang melupakan Allah, cepat maupun lambat, suatu saat musibah akan datang kepadanya. Allah SWT berfirman “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” (Q.S. Al An’am: 44)

Musibah datang karena manusia berbuat kerusakan, seperti penebangan liar hutan dan lain-lain. Yang pada akhirnya akan berdampak negatif bagi manusia, seperti banjir, tanah lonsor dll. Manusia diminta untuk senantiasa akrab dan menjaga fungsi alam. Tidak boleh membuat kerusakan di permukaan bumi, agar bencana tidak datang menimpa. Alam difungsikan untuk menjaga keberadaan manusia, memberikan keselamatan terhadap kehidupan itu sendiri, dalam satu siklus hidup yang aman dan menyejahterakan manusia sepanjang masa.

Bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang baik-baik (shaleh). “… dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur – juga dalam Taurat, dan setiap kitab suci, -- sesudah (Kami tulis dan tetapkan di dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS.21,al Anbiya’:105). []