Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2010

Orang Minang Diami Pulau Simeulue Sejak Ratusan Tahun Lalu


Oleh: Muhammad Subhan

Falsafah Minang tentang keharusan merantau jika belum berguna di kampung halaman agaknya menjadi motivasi orang minang mengadu untung di negeri orang. Bisa disebut, tak sejengkal tanah pun di nusantara yang tak dijejaki orang minang. Bahkan ada guyon, kalaulah di bulan ada kehidupan di sana orang minang pun akan suka merantau.

Apa istimewanya sebuah pulau terpencil di wilayah Barat Nanggroe Aceh Darussalam bagi orang minang yang datang kesana mengadu nasib? Pulau kecil dan terpencil dan jauh dari daratan itu adalah Pulau Simeulue yang baru 10 tahun menjadi kabupaten definitif. Siapa sangka pula kalau orang minang yang mendiami pulau ini sekarang berjumlah sekitar 640 Kepala Keluarga (KK) atau lebih kurang 3000-an jiwa?

Menurut salah seorang pendiri Ikatan Keluarga Minang Simeulue (IKMS), Bagindo Sutan Mul Rivaz Koto (43 tahun), orang minang mendiami Pulau Simeulue sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum Belanda datang menjajah nusantara. Sejarah orang minang merantau ke Simeulue, ceritanya dari sumber yang dapat dipercaya, mulanya dari ekspedisi balatentara Kerajaan Pagaruyung yang melakukan pelayaran ke pulau itu. Salah seorang yang cukup disegani bernama Inyiak Tuo.

“Ada hubungan bilateral antara Kerajaan Aceh dan Kerajaan Pagaruyung di masa itu. Bahkan Sultan Aceh Iskandar Muda meminta seorang ulama asal Ulakan Padang Pariaman untuk menyebarkan agama Islam di Simeulue. Ulama itu kemudian di Simeulue dikenal sebagai nama Syekh Teungku Diujung,” ujar putra asal lereng Gunung Merapi, Canduang, Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam ini.

Syekh Teungku Diujung tentu cukup dihormati. Murid Syekh Burhanuddin Ulakan ini menyebarkan agama Islam ke seluruh wilayah Pulau Simeulue hingga pulau-pulau kecil di sekitarnya. Banyak penduduk Simeulue yang fanatik akan kesantunan dan ketinggian ilmu agamanya. Banyak pula murid-murid yang menuntut ilmu kepadanya.

“Bahkan sampai sekarang, makam Syekh Teungku Diujung di Kampung Air Simeulue selalu ramai diziarahi oleh banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah,” kata Mul Rivaz yang saat ini mengabdi sebagai anggota kepolisian di Polres Simeulue sejak 4 tahun lalu.

Dia menyebutkan, organisasi IKMS merupakan organisasi minang yang baru dibentuk di Simeulue. IKMS berdiri pada bulan Juli 2009 lalu dan sekarang diketuai oleh Edi Tanjung, S.E., dengan masa jabatan 2009-2011. Sebelumnya memang ada organisasi minang di Simeulue, namanya Minang Serantau. Tapi beberapa masa sempat vakum.

“Untuk menggalang silaturahim sesama urang awak maka kami bersepakat mendirikan IKMS sebagai wadah utama membangun persatuan sesama perantau,” ujar Mul Rivaz yang telah merantau ke Aceh selama 22 tahun.

Dari jumlah 640 KK orang minang yang terdata di IKMS, jelasnya, sebagian besar didominasi orang minang asal Kabupaten Padang Pariaman dan Tiku Kabupaten Agam. Dari jumlah KK itu, mereka tersebar di beberapa kecamatan di Simeulue, di antaranya di Kecamatan Simeulue Timur (250 KK), Kecamatan Simeulue Tengah (150 KK), Kecamatan Simeulue Barat (20 KK), Kecamatan Teupah Selatan (15 KK), Kecamatan Teluk Dalam (10 KK), Kecamatan Salang (18 KK) dan Kecamatan Alafan (8 KK).

“Lumrahnya orang minang yang merantau ke daerah lain, orang minang di Simeulue juga berniaga, mulai dari berdagang kain, membuka warung makan, hingga pekerjaan swasta lainnya,” jelas Mul Rivaz.

Mengapa orang Minang senang tinggal di Simeulue ternyata tidak lepas dari adat dan budaya Simeulue. Ada kemiripan bahasa Simeulue dan bahasa minang. Di daerah ini sebagian masyarakatnya juga berbahasa minang yang kemudian dikenal sebagai bahasa Jamee (baca: bahasa tamu). Bahasa Jamee merupakan salah satu bahasa yang dimiliki salah satu suku di Aceh yang merupakan percampuran darah Minang-Aceh setelah proses perkawinan.

Bisa dikatakan orang minang di Simeulue cukup erat rasa persatuan dan kesatuan mereka. Meski IKMS baru terbentuk dan seumur jagung, berbagai kegiatan telah dilakukan, khususnya kegiatan-kegiatan sosial seperti penyelenggaraan kematian, olahraga, bazaar murah, dan juga melakukan dakwah di desa-desa terpencil. Bahkan mendukung program Pemda Simeulue saat ini IKMS sedang bekerja keras mempromosikan serta mengelola Danau Mutiara di Kecamatan Teluk Dalam dengan harapan bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Simeuleu.

“Walau kami sebagai perantau di sini, kami merasa Simeulue sudah menjadi kampung halaman kami sendiri,” ujarnya.

Begitupun, sebagai wujud perhatian warga perantau di Simeulue terhadap Sumatera Barat yang mengalami musibah gempa bumi pada 30 September 2009 lalu, seluruh warga minang Simeulue menggalang dana hingga berhasil mengumpulkan bantuan sebesar Rp20 juta. Dana sumbangan itu dikumpulkan secara spontan dengan melakukan berbagai kegiatan amal.

“Ketika mendengar Ranah Minang dilanda gempa hingga banyak menimbulkan korban jiwa, kami di Simeulue merasa turut berduka. Kami mendoakan semoga arwah para korban mendapat tempat yang mulia di sisiNYa,” ujar Mul Rivaz.

Untuk itu, mewakili pengurus IKMS lainnya dia berpesan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk bangkit kembali menata kehidupan masyarakat. Khususnya mengenai bantuan gempa dia harapkan benar-benar merata dan tidak disalahgunakan.

“Kepada para korban gempa kami doakan semoga dapat bersabar dan kuat menghadapi ujian ini. Bangkitlah kembali untuk menata masa depan Ranah Minang yang lebih baik,” harapnya. []

Foto:
DIKELOLA ORANG MINANG – Danau Mutiara di Kecamatan Teluk Dalam Simeulue, Aceh, ini dikelola oleh Ikatan Keluarga Minang Simeulue (IKMS) dengan harapan bisa menjadi salah satu objek wisata andalan di Pulau itu.

Sabtu, 02 Januari 2010

Pantai Padang Masihkah Tetap Indah Sekarang?

Oleh: Muhammad Subhan

ANDA mungkin sudah tak asing lagi masuk rumah makan Padang dengan ciri khas masakan rendang dan citarasa yang pedas. Di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia, bertebaran rumah makan Padang meski pemiliknya tidak selalu orang Padang .

Tapi buat Anda yang berdomisili diluar kota Padang pernahkah berkunjung ke Kota Bingkuang ini? Mungkin di antara Anda sudah ada yang berkesempatan datang ke Kota Padang. Tapi tidak sedikit pula di antara Anda yang mungkin belum pernah menyinggahi kota itu.

Padang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat. Kota Padang memiliki potensi budaya dan pariwisata yang luar biasa. Kota seluas 694,96 km² ini dimukim oleh 787.740 jiwa (2004) penduduk yang didominasi muslim dan sebagian kecil beragama Kristen.

Pantai Air Manis tempat legenda Malinkundang yang dikutuk ibunya menjadi batu adalah salah satu objek wisata yang cukup diminati wisatawan. Namun selain pantai air Manis, di Padang juga terdapat objek wisata Pantai Padang yang setiap hari libur dibanjiri pengunjung yang ingin menikmati sunset (senja).

Kota Padang disebut Kota Bahari. Kota ini memiliki garis pantai sepanjang 84 km dan pulau kecil sebanyak 19 buah diantaranya yaitu Pulau Sikuai di Kecamatan Bungus Teluk Kabung seluas 38,6 km², Pulau Toran di Kecamatan Padang Selatan seluas 25 km², dan Pulau Pisang Gadang seluas 21,12 km² juga di Kecamatan Padang Selatan.

Di Pantai Padang pengunjung disuguhkan dengan keindahan pantai itu meski diakui abrasi selama puluhan tahun telah merusak bibir pantai Padang . Konon, dulunya pantai Padang berpasir putih, seperti pasir putih yang masih ditemui di sejumlah pulau-pulau kecil di pesisir kota itu.

Untuk mendukung sektor pariwisata, Pemerintah Kota Padang menyediakan tempat-tempat santai yang menyenangkan di pinggiran pantai itu. Puluhan pedagang kecil berjualan beragam aneka makanan dan minuman. Ciri khas di Pantai Padang yang dapat ditemui pengunjung, adalah pedagang buah kelapa muda, goreng tepung udang dan tentu saja sate Padang .

Tak hanya itu, jika pegunjung ingin menyantap makanan pengisi perut di siang hari, banyak juga terdapat rumah makan dengan masakan spesifik ikan bakar atau cumi-cumi bakar. Rumah makan itu tidak harus berkelas mewah dengan harga yang mahal, tapi juga ada pondok-pondok ikan bakar di tepian pantai sembari pengunjung dapat menikmati sepoinya angin pantai.

Untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung anak-anak, di Pantai Padang juga terdapat areal bermain anak. Di sana para orangtua bersama anak-anak mereka bisa naik kereta api wisata yang berukuran mini dengan rute sepanjang jalan lokasi wisata Pantai Padang.

Tahukah Anda, tak jauh dari objek wisata Pantai Padang terdapat objek wisata gunung Padang yang dipisahkan oleh sebuah sungai bernama Muaro Padang. Di gunung Padang itu, konon terdapat kuburan Siti Nurbaya seperti dikisahkan dalam Roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli yang terbit di tahun 1922. Namun kuburan itu hanya legenda saja, bukanlah sebenarnya.

Untuk menuju ke lokasi objek wisata Gunung Padang Anda bisa melewati Jembatan Siti Nurbaya atau menaiki perahu menyeberangi Batang Arau (Muaro Padang). Gunung Padang ini berdiri dengan tegar menghadap ke lautan Hindia.

Memasuki kawasan tersebut, Anda akan melalui pemukiman masyarakat yang rumah-rumah mereka terdapat di lereng-lereng bukit Gunung Padang. Kira-kira lima menit perjalanan akan sampai di kaki Gunung Padang. Di sana anda akan disuguhi pemandangan meriam peninggalan Perang Dunia II yang moncongnya mengarah ke muara sungai. Untuk menuju puncak Anda harus melewati jalan setapak bertangga-tangga yang terbuat dari semen hingga sampai di lokasi Taman Makam Siti Nurbaya.

Di sekitar gunung ini ditumbuhi oleh ragam pepohonan sehingga suasananya terasa sangat nyaman. Namun demikian, kondisi jalan atau tangga tersebut konon tidak sebaik lima belas tahun silam. Mencapai puncak terdapat beberapa lubang bekas tempat persembunyian dan pengintaian (bunker) peninggalan tentara Jepang.

Dari puncak Gunung Padang, pengunjung dapat menikmati keindahan panorama Samudera Hindia, Batang Arau, dan Kota Padang dengan segala aktivitasnya. Dari sini disajikan pemandangan Pantai Air Manis dan dari kejauhan tampak beberapa pulau yang menghijau di tengah birunya samudera.

Gunung Padang berada di ketinggian sekitar 400 meter dan perjalanan yang lumayan menguras tenaga seakan lenyap dengan rehat sejenak di puncak Gunung Padang. Asyik, sambil tiduran atau berselonjor di atas bebatuan berukuran besar atau hamparan rumput hijau pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan ditemani minuman ringan atau sebungkus nasi hangat.

Jika Anda telah bosan menikmati pemandangan Kota Padang dari puncak Gunung Padang, Anda dapat turun kembali lalu menyinggahi pemandangan Kota Tua dari atas Jembatan Siti Nurbaya. Yang dimaksud Kota Tua adalah bangunan-bangunan bersejarah yang masih terdapat di sepanjang Muaro Padang. Bangunan itu merupakan peninggalan Belanda namun sekarang mayoritas dihuni oleh warga Tionghoa.

Nah, jika penat menyinggahi pantai Padang dan Gunung Padang, pergilah ke Pasar Raya Padang dimana di sana Anda dapat membeli beragam aneka kerajinan yang bisa Anda jadikan buah tangan sekembali dari Kota Padang.

Mencapai lokasi objek wisata Pantai Padang, Gunung Padang, Jembatan Siti Nurbaya dan Pasar Raya Padang tidaklah terlalu sulit. Lokasi tersebut mudah diakses alat transportasi yang tersedia cukup memadai di kota itu. Jika Anda mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumbar, Anda bisa menyewa taksi menuju lokasi yang Anda ingin di objek wisata itu. Untuk ongkos dari BIM menuju ke lokasi menghabiskan ongkos sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu.

Alternatif lain lokasi itu bisa dijangkau dengan menaiki angkutan umum dari Pasarraya Padang. Jika dari BIM bisa naik bus khusus penumpang dari bandara menuju Pasarraya dengan tarif Rp15 ribu per orang. Sementara dari Pasarraya dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Pantai Padang dengan membayar Rp2 ribu per orang. Bagi anda yang menggunakan sepeda motor, tentu akan lebih sangat mudah menjangkaunya. []