Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Bermacet-Macet di Koto Baru

Oleh Muhammad Subhan

KALAULAH Tuan berkendaraan ke Bukittinggi dari arah Padang atau sebaliknya dan melintas di jalan raya Padangpanjang-Bukittinggi tepatnya di Nagari Koto Baru, dan hari itu adalah hari Senin, bersiap-siaplah Tuan menahan hati. Bagi yang tak sabar mungkinlah Tuan akan mendengar kata umpatan dan caci maki dari sopir ataupun penumpang kendaraan umum yang entah ditujukan kepada siapa, sebab di sepanjang jalan terjadi kemacetan panjang.

Apa pasal di hari Senin itu? Rupanya, Senin adalah Hari Pasar (minang: hari pakan) di Koto Baru yang pasarnya memang terhampar di tepian jalan. Sudah tradisi di Minang ini bila pasar suatu nagari berhari pekan, bermacam orang dan pedagang datang membawa segala kebutuhan manusia yang hendak diperjualbelikan di hari itu. Khusus di Pasar Koto Baru, dominan dipenuhsesaki pedagang-pedagang sayur mayur yang datang dari nagari-nagari di sekitar Koto Baru, semisal Nagari Aie Angek, Pandai Sikek, Panyalaian, Koto Laweh, Padang Luar, Banuhampu, Padangpanjang, serta nagari-nagari lainnya. Dan karena hari pasar itu pula, berkarung-karung sayur mayur bertumpuk-tumpuk diletakkan orang di tepian jalan, penuh sesak pula pedagang dan pembeli hingga pasar tumpah ke badan jalan, lalu terjadilah kemacetan.

Kemacetan itu bukan 200-300 meter saja, tapi 2 hingga 3 kilometer panjangnya. Bila ditarik garis tengah dari Pasar Koto Baru, kemacetan terjadi hingga Panyalaian, Kecamatan X Koto Tanah Datar, atau hingga Padang Luar, Kabupaten Agam, menjelang masuk Kota Bukittinggi. Lama macet pun bukan lagi setengah jam, namun sudah hampir 1 jam. Belum lagi macet parah berjam-jam bila di hari pasar itu ada pula truck tronton yang mogok disalah satu ruas jalan menjelang Koto Baru. Yang lebih miris, pernah saya melihat sebuah ambulans yang membawa jenazah meraung-raung suara sirenenya meminta dibukakan jalan, tapi apa hendak dikata, ikutlah ambulans itu terjebak di tengah kemacetan. Bila tak ada aturan bagi ambulans yang membawa orang sakit atau jenazah di lampu merah, tapi di Koto Baru itu ambulans manapun tak dapat berkutik.

Disamping itu, tentulah banyak kerugian lainnya yang ditanggung pemilik kendaraan bila melintas di kawasan Pasar Koto Baru bila hari pasar tiba. Hitung-hitungan kerugiannya begini, kalau maksimal 1 jam saja kendaraan terjebak macet di Koto Baru di hari itu, dan menghabiskan Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 liter seharga minimal Rp4.500 per liter (ada kendaraan berbahan bakar bensin dan solar), maka kalikan saja sejumlah kendaraan yang melintas dari pagi hingga petang. Kalau sepanjang hari itu terjebak macet sekitar 3.000 unit kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, maka total uang yang terbuang sia-sia di hari itu sebanyak Rp13.500.000. Lalu dikali 4 pekan macet dalam sebulan, maka terbuanglah uang sebanyak Rp54.000.000, atau setahun sebanyak Rp648.000.000. Dalam masa dua tahun terbuang uang lebih dari satu miliar. Tentu sebuah angka nominal yang sangat fantatis dan semuanya adalah lembaran rupiah di tengah kehidupan rakyat yang sedang susah!

Nagari Koto Baru berada dalam wilayah administratif Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Namun jalan raya yang membelah nagari itu adalah Jalan Negara. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar masih “menunggu-nunggu” adanya perhatian Negara (Pemerintah Pusat) terhadap jalan itu dengan alasan Pemda Tanah Datar tidak memiliki dana untuk membuat pelebaran jalan ataupun membangun jalan alternatif. Pemerintah Provinsi Sumbar pun seolah “tak mau tahu” terhadap jalan tersebut sehingga bertahun-tahun kondisi kemacetan semakin parah. Gubernur berganti, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Prasarana Jalan berganti, bupati silih berganti, namun kondisi jalan di Koto Baru begitu-begitu saja. Tidak berubah. Meski memang ada pula yang diuntungkan bila terjadi kemacetan panjang, semisal pedagang kacang goreng dan bika bakar di sepanjang kawasan itu, walaupun musiman.

Meski Koto Baru jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan pusat pemerintahan Provinsi Sumatra Barat, semua orang mengakui bahwa kawasan Koto Baru dan sekitarnya adalah kawasan pertanian yang cukup potensial. Hanya di kawasan inilah orang dapat menikmati pemandangan alam yang indah, dan hari-hari tertentu dapat menyaksikan turunnya kabut disertai rinai jatuh di kaki Gunung Singgalang yang menjulang. Tak jauh dari Koto Baru berdiri Rumah Puisi yang dibangun Penyair Nasional Taufiq Ismail dan diharapkan menjadi basis kegiatan sastra di Tanah Datar khususnya dan Sumatra Barat umumnya. Di Nagari Aie Angek, nagari tetangganya, ada tempat pemandian air panas yang menjadi terapi kesehatan yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Rumah-rumah makan di sepanjang jalan raya pun bertumbuhan, demikian pula sebuah sekolah agama, MAN/MAPK Koto Baru yang mencetak banyak lulusan berkualitas dan meneruskan pendidikan mereka di Universitas Al Azhar Cairo, berada di kawasan ini.

Kemacetan yang terjadi setiap hari pasar atau empat kali dalam sebulan di kawasan itu tentu saja menjadi pemandangan yang menjemukan dan membuat banyak orang kecewa terhadap pelayanan pemerintah di bidang jalan raya. Kesalahan tentu saja ditimpakan kepada pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi yang seolah tak peduli terhadap kondisi kemacetan tersebut. Bahkan ada yang menyentil dengan guyonan, kota kecil Padangpanjang saja yang nyaris tidak ada kemacetan lalulintas malah mampu membangun jembatan layang (fly over), konon lagi Tanah Datar yang berwilayah luas dan memiliki PAD sedikit lebih besar. Padahal dana pembangunan fly over Padangpanjang sebagian besar dibiayai APBN, atau Pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang tidak jeli melobi pemerintah pusat sehingga kawasan Koto Baru yang sering macet itu bisa dapat bantuan dana untuk dibuatkan fly over pula.

Entahlah. Yang pasti beribu-ribu orang pengguna kendaraan di hari pasar Koto Baru itu tiap pekannya mengeluh yang tentu saja akan melahirkan citra buruk bagi daerah Tanah Datar di mata orang luar. Sebab, yang melintas di jalan itu, beragam daerah asalnya khususnya daerah-daerah disekitar Sumatra Barat, semisal Riau, Medan, Jambi, dan bus-bus yang membawa penumpang antar kota antar provinsi hingga ke Pulau Jawa. Semoga, harapan banyak orang, soal kemacetan lalulintas di kawasan Koto Baru itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan Gubernur Sumbar di tahun 2011 ini sehingga tidak ada kemacetan lagi. Sebab khawatir saya, bila masih macet juga, lalu melintas lagi ambulans pembawa jenazah dan ikut terjebak macet disana, alamat orang yang sudah mati itu hidup lagi, dan mencak-mencak di tengah jalan raya. Wallahu a’lam. ***

Sabtu, 15 Januari 2011

Bang OP, Selamat Jalan…


Catatan Muhammad Subhan

Selasa malam, 23 November 2010, telepon genggam saya berdering tanda ada pesan masuk. Saya buka pesan itu, pengirimnya dari Kanda Adeks Rossyi Mukri, Ketua PWI Bukittinggi. Saya sangat kaget membaca isi pesan Kanda Adeks yang mengabarkan bahwa Bang Osman Poerba, mantan wartawan Harian Singgalang telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa siang (23/11), pukul 13.45 WIB usai menikahkan anaknya.
Innalillahi wainna ilaihi raajiuun….

Sungguh, saya tak menduga Tuhan begitu cepat memanggil Bang OP—demikian saya akrab menyaba Bang Osman Poerba—untuk kembali kepangkuan-Nya. Ketika di awal tahun 2007 saya diamanahkan Pemimpin Redaksi Harian Haluan sebagai Korda Haluan Wilayah Bukittinggi dan sekitarnya, hampir setiap hari saya bersua Bang OP, khususnya saat rehat membaca koran di ruang Humas Pemko Bukittinggi. Dia ‘tidak murah’ senyum, tepatnya pendiam, tapi dia sangat baik. Selalu menyapa saya lebih dahulu, “apa kabar,” katanya ramah.

Selanjutnya perhubungan saya dan Bang OP layaknya persahabatan sesama rekan wartawan ketika bertugas di lapangan. Tapi ketika itu Bang OP sudah tidak produktif lagi menulis lantaran penyakit stroke yang merenggut kesehatannya. Berhari-hari ia terbaring sakit. Bahkan kawan-kawan PWI Bukittinggi dan Pemko Bukittinggi berinisiatif merawat Bang OP ke Malaysia. Rupanya, sejak lama Bang OP dan PWI Bukittinggi telah menjalin kemitraan yang cukup erat dengan rekan-rekan wartawan di negeri jiran itu, sehingga Bang OP pun mendapat kesempatan berobat di Malaysia dengan penjagaan pihak Malaysia. Dalam dokumen komputer kantor saya di Bukittinggi, sempat saya menyimpan foto Bang OP saat dirawat itu, tapi sayang sekarang entah kemana foto itu.

Di tahun 2008—saya lupa bulannya—saya bersua kembali Bang OP di Bukittinggi. Sakit strokenya berangsur pulih meski ia harus berjalan dengan dibantu sebuah tongkat. Ia tidak dirawat di Malaysia lagi. Semangatnya yang tinggi membuat gairah hidupnya tumbuh. Di ruang humas Pemko Bukittinggi pula, Bang OP bercerita kepada saya akan cita-citanya untuk membuat film dokumenter Buya Hamka. Ketika menyebut nama Buya Hamka itu, cerah wajah saya. Sebab sebulan sebelum bersua Bang OP, saya sempat menyinggahi Rumah Kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, Maninjau.

“Nanti Subhan saya ikutkan jadi pemeran pembantu, memanggil orang sembayang ke surau,” ujar Bang OP kepada saya saat itu. Tentu saja saya tersenyum, entah apa alasan Bang OP mengajak saya untuk menjadi “aktor” walau sebagai pemeran pembantu dalam film dokumenter yang akan digarapnya itu. (Saya tidak tahu apakah film dokumenter itu jadi dibuat Bang OP atau tidak).

Seminggu kemudian saya bersua kembali Bang OP. Dia baru kembali dari Maninjau, mengunjungi Rumah Kelahiran Buya Hamka. “Pak Afif kirim salam,” ujarnya. Pak Afif adalah pengelola Rumah Kelahiran Buya Hamka yang konon masih ada hubungan kekerabatan dengan Buya Hamka. “Waalaikumussalam,” jawab saya. Lalu Bang OP bercerita banyak tentang kekagumannya pada sosok Buya Hamka.

Di Malaysia, cerita Bang OP, Buya Hamka sangat dihormati dan disegani. Meski pendidikannya tak tamat sekolah rendah (SR), tapi Buya Hamka bergelar Profesor dan Doktor. Kedua gelar itu diperoleh Buya Hamka bukan dari pemerintah negerinya sendiri, melainkan dari luar negeri—Al Azhar Kairo dan UKM Malaysia.

“Pantas bila saya tertarik ingin mendokumentasikan riwayat hidup Buya Hamka dalam bentuk film,” ujar Bang OP lagi.

Saya terpekur mendengar cerita Bang OP itu. Semangatnya sungguh luar biasa. Meski dalam kondisi yang masih sakit, tapi dia tetap semangat untuk berbuat sesuatu. Dengan jalan yang susah payah ia masih sempat mendatangi sendiri Rumah Kelahiran Buya Hamka di Maninjau.

Di pertengahan tahun 2008, batin saya semakin terenyuh ketika suatu hari Ketua PWI Bukittinggi Kanda Adeks Rossyie Mukri mengajak saya mengunjungi Bang OP di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bukittinggi. Bang OP tinggal di panti itu. “Saya senang tinggal di sini, damai,” kata Bang OP singkat. Seorang pengurus panti kepada saya berbisik, ibadah Bang OP semakin rajin sejak ia tinggal di panti. Apa yang disebut pengurus panti itu bukanlah sebagai perintang-rintang hati buat Bang OP saja, saya juga melihat langsung air muka Bang OP yang cerah, selalu bersiram air wudhu.

Setelah mengunjungi Bang OP di panti asuhan itu, sejak itu pula saya tidak lagi bersua Bang OP. Oleh pimpinan kantor, saya ditarik kembali tugas ke Padang, lantaran masa tugas dua tahun di Bukittinggi berakhir sudah. Saya hanya mendapat kabar dari teman-teman saja tentang keadaan Bang OP yang semakin membaik sakitnya.

Setelah dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir saya dengan Bang OP itu, setelah saya tidak lagi bekerja di haluan, kemarin malam kabar meninggalnya Bang OP mengagetkan saya dan mengenangkan saya kembali akan semua ingatan tentang sosok wartawan yang ‘seolah tidak pernah tua’ itu. Semangat dan cita-citanya untuk maju dalam kondisi payah sekalipun, membuat saya merasa malu, di usia muda ini masih cenderung bermalas-malasan. Sungguh, Bang OP adalah teladan…

Selamat jalan Bang OP. Semoga goresan penamu menjadi ‘sitawa sidingin’ di alam yang membawamu menuju kepada keabadian. Doa kami menyertaimu…

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu….

Rumah Puisi, 24-11-2010, 14:19

Sabtu, 31 Juli 2010

Hikmah Dibalik Bencana

Oleh Muhammad Subhan

BANYAK benar musibah yang melanda negeri ini. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang terjadi Selasa (6/3/2007) lalu, telah membuat masyarakat Sumatra Barat trauma, tak terkecuali di Bukittinggi. Sejumlah insfrastruktur hancur; perkantoran, sekolah, gedung-gedung tua, bahkan rumah ibadah sekalipun, rusak dihoyak gempa.

Yang menyedihkan, gempa juga merenggut korban jiwa, puluhan banyaknya. Data di Satkorlak Provinsi, korban meninggal di seluruh kabupaten dan kota mencapai 73 orang. Di Bukittinggi korban meninggal 10 orang. Sementara yang luka berat, ringan serta kerusakan bangunan, ratusan banyaknya.

Beberapa kali terjadi gempa di tahun-tahun sebelumnya di Sumbar, mungkin, gempa kali ini terasa yang paling kuat. Apalagi getaran gempanya tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali meski dalam waktu yang tidak bersamaan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang mencatat, setidaknya selama tiga hari paska gempa, terjadi 686 kali gempa susulan, baik yang dirasakan maupun tidak.

Di hari pertama gempa, banyak peristiwa-peristiwa human interest yang begitu merenyuh perasaan. Pekik tangis para pedagang di Pasar Wisata Bukittinggi yang petak-petak toko mereka terbakar. Wajah-wajah pasi warga yang berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum lagi ratusan warga pinggiran ngarai yang dilanda kecemasan paska longsornya hampir seluruh tebing Ngarai “Diam” (Sianok) yang tak lagi diam itu.

Bukittinggi pun berduka. Kota wisata yang cantik ini dalam hitungan detik berubah kusam dan muram. Kedamaian Bukittinggi terusik. Namun kabar yang terbetik, Bukittinggi masih lebih baik daripada Solok, Batusangkar, Agam maupun Padang Panjang.

Tapi, yang sungguh disedihkan, dalam hitungan detik itu pula, keempat sektor unggulan Bukittinggi terganggu total. Di sektor pariwisata, puluhan hotel rusak, banyak kamar retak-retak dihoyak gempa. Yang terparah Novotel, sehingga manajemen hotel memilih menutup sementara daripada menanggung resiko fatal.

Objek wisata apalagi. Kantor Persenibud Bukittinggi memerintahkan petugas menutup Lobang Japang yang disinyalir rusak parah. Taman Panorama juga terganggu dengan runtuhnya Ngarai Sianok. Pasar Wisata di Pasar Putih ludes dimamah si jago merah. Pasa Lereang nyaris rata dengan tanah. Jam Gadang sebagai simbolnya Koto Rang Bukittinggi dikabarkan pula mengalami retak di dinding bagian bawah, dan jarum jam berhenti berdetak.

Di sektor pendidikan, puluhan sekolah juga rusak. Sarana dan prasarana sekolah nyaris cair dihondoh gempa. Yang terparah, gedung SMK Negeri 3 Bukittinggi nyaris ambruk karena gedung bertingkat itu mengalami retak yang cukup parah. Sementara, ribuan pelajar Bukittinggi bulan depan mengikuti Ujian Nasional.

Di sektor kesehatan begitu pula. Gedung RSAM yang selama ini damai tiba-tiba menjadi gedung yang menakutkan paska gempa. Ratusan pasien terpaksa diungsikan di halaman dan jalan di depan rumah sakit. Begitupula di RS Yarsi Ibnu Sina dan RSUP Bukittinggi. Puluhan korban luka-luka akibat gempa, harus rela kedinginan di luar ruangan, meski berteduh di bawah tenda.

Sektor perdagangan yang paling menyedihkan. Ekonomi masyarakat Bukittinggi lumpuh total paska gempa dan kebakaran di Pasar Wisata. Ribuan toko tutup, PKL tak berani lagi berdagang. Bukan takut dikejar-kejar petugas Yustisi, tapi tak mau ambil resiko terhadap gempa yang diprediksi bakal berulang.

Lengkaplah sudah cerita tentang duka di Bukittinggi paska gempa. Namun, kedukaan tak pernah menyelesaikan masalah. Pak Wali selalu mewanti-wanti, kita harus bangkit membangun kota ini kembali.

Dan, kebersamaan itu pula yang saat ini begitu terasa di Bukittinggi, yang mungkin selama ini, sebelum gempa terjadi, suasana itu belum tentu ditemui.

Terharu saya, ketika Pak Wali bersama jajarannya sigap dan tanggap mendata korban, menyalurkan bantuan, tak pandang masyarakatnya miskin atau berada. Semua mendapat jatah rata. Posko Satkorlak dibentuk, bahkan hingga kecamatan dan kelurahan.

Lengkaplah kebersamaan itu. Tuhan selalu memberi hikmah dibalik bencana. Semoga selamanya. Dan, meminjam istilah partai Pak Wali pula, “bersama kita bisa”. []

(Dimuat di Kolom Detak Jam Gadang Koran Harian Haluan, 9 Maret 2007)

Kunjungi: www.korandigital.com

Antara Cut Tari, Luna Maya dan Saya


Oleh Muhammad Subhan

Saya tidak memasukkan nama Ariel pada judul diatas. Pertama, alasannya, terlalu panjang. Kedua, Ariel sudah cukup terkenal. Apalagi setelah terseret skandal vidoe seks, yang kebetulan, baru diributkan media massa. Dan, ketiga, mungkin saja saya bisa ikut numpang terkenal ketika menderetkan nama saya dengan para selebritis populer seperti Cut Tari dan Luna Maya.

Tapi apakah saya ikut-ikutan terseret skandal itu, ah, entahlah. Jujur, saya kenal dekat dengan Cut Tari dan Luna Maya, karena setiap pagi diam-diam saya ikut nguping tayangan gosip di televisi swasta yang diputar istri saya. Tapi apakah Cut Tari dan Luna Maya kenal saya, ini persoalan juga saya kira. Lalu apakah ada beredar pula video saya dengan kedua wanita itu, wah, tak tahu saya kalau itu sampai terjadi dan bagaimana bisa.

Terlepas ada tidaknya video saya dengan Cut Tari dan Luna Maya, saya benar-benar prihatin melihat penghakiman luar biasa yang dilakukan media massa terhadap kedua perempuan itu. Hampir setiap hari di televisi cerita tentang mereka menjadi berita utama, mengalahkan issue Century yang makin redup, lebih wah dari kasus pembantaian aktivis pro Palestina, lebih semarak dibanding perhelatan Pilkada kepala daerah yang tinggal menghitung hari.

Tentu, itu terjadi lantaran Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan sejumlah nama artis yang dikaitkan lainnya adalah publik figur di dunia hiburan yang gemerlap dan sering diperbincangkan dan menjadi idola sejumlah orang. Dan, persoalan seks sejak zaman baheula selalu menarik diperbincangkan karena terkait moral. Apalagi ketika skandal itu diekspose dan beredar, diunduh oleh jutaan orang, dimuat menjadi berita utama di koran-koran, atau menjadi kupasan bibir pembawa acara tayangan infotaintmen di layar kaca.

Tapi persoalannya apakah itu cukup penting menjadi tontonan publik yang juga punya hak privasi untuk dilindungi, khususnya anak-anak dan remaja? Selayak pertanyaan, apakah Ariel, Cut Tari dan Luna Maya masihkah punya moral, demikian pula apakah cukup bermoral media yang saban hari menyiarkan aib mereka? Siapakah yang paling bermoral, artis pelaku skandal seks atau media massa yang mengungkap skandal itu?

Siapapun tahu, dunia artis yang gemerlap rentan penyimpangan seks meski tidak semua mereka melakukan itu. Dan, kasus Ariel, Cut Tari, Luna Maya, hanya gunung es dari sekian kasus lainnya yang tak terungkap. Sama halnya dengan kasus suap menyuap yang melibatkan oknum aparat, kasus korupsi yang dilakoni oknum pejabat, maupun kasus-kasus lainnya yang terjadi di belahan bumi Nusantara yang menyebabkan orang miskin bertambah miskin dan bencana melanda dimana-mana.

Saya tidak paham benar apakah pemberitaan tentang skandal seks Ariel, Cut Tari, Luna Maya itu salah satu bentuk hiburan semata yang disuguhkan media massa atau berupaya memberikan pendidikan seks kepada generasi muda. Ya, pendidikan disertai contoh bahwa apa yang diungkapkan media adalah salah satu jenis dampak seks yang menyimpang plus akibat yang terjadi jika dilakukan. Tapi cukup pentingkah bagi generasi muda yang selama ini mereka masih pusing memikirkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, lapangan kerja yang sulit, atau biaya hidup yang kian melangit?

Atau pemberitaan itu malah melahirkan kasus-kasus serupa yang dilakoni para remaja kita seperti yang sebelumnya pernah dihebohkan di berbagai daerah; remaja usia pelajar yang melakukan mesum di bilik kost lalu direkam di dalam kamera handphone, bahkan ada pula yang berani melakukannya di ruang kelas mereka sendiri? Entah kenistaan apa lagi yang pantas diungkapkan.

Tapi inilah wajah Indonesia yang sulit ditutupi lantaran topeng yang membalut bopeng itu telah rusak dan diinjak-injak. Media massa yang seharusnya berfungsi edukasi malah lebih senang ngerumpi. Walau tidak semua media terjebak di lobang yang sama, setidaknya sebagian besar pengelola media di negeri ini ‘sepakat’ menayangkan aib demikian dengan alasan mendongkrak rating dan pasar.

Entahlah, pening saya. Walau sejujurnya saya kenal dekat dengan Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, saya tidak mau mempersoalkan apakah mereka kenal atau tidak dengan saya. Yang pasti, kalau profesi saya sebagai Penghulu, saya akan nikahkah mereka, meski tak segampang yang saya kira. []

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=7560

Jumat, 30 April 2010

Susah Jadi ‘Orang Susah'

Susah Jadi ‘Orang Susah'
Oleh: Muhammad Subhan

KATA orang susah, sangat susah jadi ‘orang susah’. Ya, jelas saja, semuanya serba susah. Tak punya rumah susah, anak banyak susah, utang berserak susah, anak tak sekolah susah, tak punya kerja susah. Lalu kesusahan demi kesusahan pun menghantui setiap hari.

Tapi salahkah orang susah menjadi susah hidupnya karena terhempas dari beratnya persaingan hidup? Kata pepatah, “bukan salah bunda mengandung”. Lalu, siapa yang disalahkan? Tuhan? Bukan! Jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Bisa ‘cilako’ awak!

Tuhan Maha Besar. Maha Bijaksana. Maha Pengasih dan Penyayang. Tak sedikit pun Tuhan ingin melihat hamba-hamba-Nya hidup di dalam kesusahan. Agama mengajarkan; “fiddun ya hasanah, wafil akhirati hasanah”. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lalu, siapa yang menyusahkan hidup orang susah? Kata seorang Buya dalam ceramahnya di masjid; diri ‘awak’ lah yang membuat ‘awak’ susah. Awak menyusahkan diri sendiri!.

Seorang jemaah protes, “baa model tu kaji Buya? Sia pulo yang ingin dirinyo susah? Tapi kesusahan tu bana yang tibo tanpa awak undang,” sanggah si jemaah.

Buya tersenyum. Lalu dengan bijaksana menjawab; beristighfarlah kita pada Allah. Bermohon ampunlah. Jangan sekali-kali kufur akan nikmat yang diberikan-Nya. Bersyukurlah.

Lalu Buya membaca ayat-ayat Alquran, surat Ar-Rahman. Ayat yang berulang-ulang. Artinya ditafsirkan Buya; ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’ Allah telah memberikan mata, telinga, tangan, kaki, namun manusia sering tidak menggunakan semua itu secara baik. Bahkan, karena lemah menghadapi kesusahan, banyak pula orang yang menjual harga diri; meminta-minta, jadi pengemis, bahkan melacur. Padahal, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Memberi lebih baik dari menerima.

Panjang lebar Buya mengaji. Buya ingin menekankan pentingnya rasa syukur. Manusia jangan mudah kalah pada lika liku hidup. Semuanya proses yang harus dihadapi. Manusia harus berjuang.

Jemaah menekur. Mengangguk-angguk. Sebagian ‘takantuak-kantuak’.

Tapi itulah jadinya kalau awak kurang ‘tamakan kaji’. Ketika Buya ceramah di masjid semangat tiba-tiba bergairah kembali. Tapi ketika keluar masjid, kadang kalah lagi awak hadapi kesusahan hidup. Di masjid Buya kaji teori, di luar masjid awak menghadapi realitas hidup hari ini.

Di negeri ini siapa bilang tak ada orang susah. Di mana-mana orang pun sering mengaku hidupnya susah. Kalau tidak percaya, cobalah sekali-kali ‘tes’ awak meminjam ‘pitih’. Jawaban yang akan awak dengar, “Wah, lagi susah. Awak lagi butuh ini itu, segala macam. Susah, lah. Jangan sekarang pinjamnya. Lain waktu saja.” Begitulah kira-kira.

Gambaran orang susah yang sebenar susah pun dapat dilihat jika awak berjalan di kawasan pasar. Hitunglah berapa banyak peminta-minta di sana. Ada pengemis yang dipapah istrinya, dituntun anaknya. Ada yang mengemis sendiri dengan papan roda didudukinya. Ada pula yang berbaring. Ada yang setengah memaksa meminta sedekah. Wah, benar-benar pemandangan susah yang menyusahkan hati orang-orang yang melihatnya.

Konon kabarnya, orang-orang susah itu bukan orang kota. Datang dari kota-kota pinggiran. Datang pagi pulang sore. Begitu saban hari. Tapi kok teganya pemerintah membiarkan begitu terus. Katanya ada petugas yang menertibkan. Tapi kenapa orang-orang susah itu semakin banyak saja di lapangan. Siapa yang salah? Orang susah yang mencari hidup ke kota atau petugas yang setengah hati menertibkan mereka? Walah, serba susah juga.

Yang jelas, Kota Padang yang cantik ini bukan hanya untuk orang-orang yang senang saja hidupnya. Multi kehidupan ada di sini. Dan, alangkah indahnya dunia ini, jika orang-orang senang bermurah hati menyantuni yang susah, dan yang susah pun bersyukur akan nikmat yang didapatkannya dari pemberian orang-orang senang. Melalui pembinaan, pendidikan, kasih sayang, sehingga orang-orang susah itu tidak lagi meminta-minta di tengah kesusahannya. Wallahu a’llam. []

Rabu, 28 April 2010

Gempa Pemikiran

Oleh: Muhammad Subhan

TERBAKARNYA Ustano Basa Pagaruyung di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar, banyak orang mempredeksi sebagai awal bencana demi bencana yang terjadi di Sumbar. Sepekan paska kebakaran Ustano yang kini di polemikkan banyak pihak, gempa bumi berkekuatan 6,2 SR menguncang Sumbar.

Musibah yang tak diduga itu, mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, ribuan rumah dan fasilitas umum rusak, tak terkecuali masjid dan musalla, roboh pula dihoyak gempa.

Ustano Pagaruyung terbakar pada Selasa (27/2/2007), dan gempa besar mengguncang Sumbar juga pada Selasa (6/3/2007). Bedanya, Ustano terbakar pada Selasa malam, sedangkan gempa terjadi pada Selasa siang. Saya tak dapat membayangkan jika gempa terjadi pada malam hari, ketika masyarakat lelap dalam mimpi, entah berapa nyawa pula yang melayang. Beryukurlah karena Tuhan masih sayang pada kita.

Sebelum Ustano terbakar, banyak orang tua di Pagaruyung kaget melihat ribuan lebah yang bersarang di bawah atap bagian depan Ustano menghilang. Pergi entah kemana. Peristiwa itupun menjadi pertanda bahwa akan ada musibah besar yang menimpa Tanah Datar, Sumbar umumnya.

Wartawan Kompas Yurnaldi jauh hari sebelum terbakarnya Ustano menulis tentang keberadaan lebah itu yang menarik perhatian pengunjung. Lebah yang akrab dan tak mengganggu orang-orang yang datang mengagumi keindahan Ustano. Bahkan, Puti Reno Raudha Thaib yang diwawancarai Yurnaldi mengatakan, jika lebah itu berpindah tempat akan ada pertanda buruk, ada bencana yang akan datang.

Wallahu a’llam. Tak ingin saya mengkait-kaitkan soal perginya lebah dan terjadinya kebakaran Ustano yang sepekan kemudian Sumbar dihoyak gempa. Namun, semua perestiwa yang terjadi itu, setidaknya mengingatkan kita bahwa bencana yang diturunkan Tuhan terkait erat dengan perbuatan manusia, hamba-hamba-Nya.

Gempa di Sumbar memang tak sedahsyat gempa 6,8 SR disusul tsunami yang terjadi di Aceh tiga tahun silam. Ratusan ribu nyawa manusia melayang di Aceh. Takjubnya, ribuan masjid yang dihoyak gempa dan dihantam tsunami tetap berdiri kokoh, utuh. Lalu masjid pun dijadikan tempat berlindung.

Di Sumbar, gempa tanpa tsunami telah merobohkan banyak masjid. Bahkan jemaah yang menunaikan salat di dalam masjid, nyaris di”impok” reruntuhan masjid. Beberapa hari lamanya, orang ‘tak berani’ mendatangi masjid.

Dan, paska gempa di Sumbar, timbul bencana baru yang lebih dahsyat; “gempa pemikiran” (istilah saya—red). Nyaris, hampir setiap hari, baik di media massa maupun di lapau-lapau, orang meributkan soal pembangunan kembali Ustano. Tampaknya Ustano lebih penting daripada Masjid Agung di Padang yang entah kapan pula mulai dibangun.

Yang lebih parah, “gempa pemikiran” itu sudah melangkahi norma-norma keintelektualan yang bermuara pada hujat-menghujat, caci memaki, dan fitnah memfitnah. Sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang ‘netral’ belum pula bersuara untuk menengahi.

Padahal, sebagai orang Minang, budaya duduk mufakat, “raso jo pareso, kato nan ampek, maluruihan nan kusuik”, sangat dijunjung tinggi. Begitupula, “mancaliak ka nan sudah”—musibah gempa yang terjadi—hendaknya menjadi bahan perenungan, bukan olok-olokan yang mengundang ‘gempa-gempa’ baru. Dan, kita berharap, dengan perenungan itu, berjayalah kembali “Minangkabau”! []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Harian Haluan, 28 Maret 2007)

Bukittinggi Pulih

Oleh: Muhammad Subhan

IBARAT sembuh dari sakit, Bukittinggi kembali pulih pascagempa 6,2 SR di Sumbar, Selasa (6/3/2007) lalu, yang ikut mengguncang kota wisata ini. Empat sektor unggulan yang menjadi andalan Bukittinggi, seperti pariwisata, perdagangan, pendidikan dan kesehatan, sempat terganggu dan membuat kota ini menjadi sorotan luas masyarakat luar Sumbar.

Di sektor pariwisata, meski sejumlah objek wisata rusak, seperti Lobang Japang dan Jenjang Seribu, demikian pula dengan beberapa hotel, namun tidak menyurutkan keinginan turis Malaysia untuk berkunjung ke kota Bukittinggi. Bahkan, negeri jiran itu bersimpati membantu meringankan beban korban gempa dengan memberikan sejumlah bantuan.

Di sektor pendidikan, aktivitas belajar mengajar kembali berjalan normal meski beberapa sekolah harus menggelar tenda di pekarangan sekolah akibat gedung mereka rusak dihoyak gempa. Siswa kelas tiga masing-masing tingkatan diimbau pula untuk meningkatkan jam belajar sehingga pada Ujian Nasional mendatang mendapatkan nilai terbaik.

Begitu pula di sektor perdagangan, sempat lumpuh akibat terbakarnya Pasar Wisata yang termasuk kawasan terpadat di Bukittinggi. Di beberapa pasar lainnya, para pedagang telah mulai membuka toko mereka. Suasana yang menggembirakan, terlihat di Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuning yang sangat ramai dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Apalagi, suasana pasar disemarakkan pula dengan banyaknya PKL yang menggelar dagangan.

Di sektor kesehatan, meski soal darah dan keterbatasan pen (besi) untuk korban patah tulang masih dipermasalahkan, namun setidaknya pasien tak lagi terlihat di pekarangan maupun di jalan-jalan depan rumah sakit. Pasien sudah dimasukkan kembali ke bilik-bilik rumah sakit yang bersih dan nyaman. Namun, untuk kesiagaan, seperti di RSAM dan RS Yarsi, tenda-tenda darurat masih dibentang.

Gempa memang dahsyat. Warga sangat trauma dengan bencana yang sebenarnya merupakan dampak informasi pada peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam. Tapi, untunglah di Sumbar tidak ada tsunami dan bangunan rusak akibat gempa tidak terlalu memprihatinkan seperti halnya Aceh.

Di Bukittinggi, yang sangat fenomenal dari bencana ini, adalah ketika RAPBD Kota Bukittinggi akan disahkan. Berawal dari beberapa masukan dari fraksi-fraksi di DPRD dan menit-menit menjelang ‘ketuk palu’, ketika itu pula gempa menghoyak kota wisata ini. Mungkin, secara tersirat, Tuhan cuma mau bilang, “jangan main-main sama uang rakyat”.

Wallahu a’llam, hanya Dia yang tahu. Namun yang jelas, banyak hikmah yang terkandung dari bencana yang Tuhan berikan. Meski kadangkala, dalam memberi hikmah itu, ada yang menjadi korban adapula yang membantu korban.

Tapi itulah realita kehidupan. Mungkin, selama ini yang kuat (pemimpin) lupa pada yang lemah (rakyat). Atau pula kezaliman dan kemaksiatan makin pula merajalela. Dan, janji Tuhan dalam kitab-Nya, ada ujian bagi yang beriman, petaka bagi yang ‘melawan’.

Bersyukurlah kita, dalam hitungan hari, Bukittinggi kembali berbenah. Bangkit dari ‘sakit’. Menatap masa depan. Dan, kembali berbuat yang terbaik untuk masyarakat kota ini.

Di sela-sela semangat itu, terdengar sayup-sayup doa dari bibir warga-warga di pengungsian. Mereka yang kedinginan di kala malam, kepanasan pula di kala siang. “Tuhan, ringankan langkah pemimpin kami, luaskan rezekinya, dan jadikan ia pemimpin yang sayang pada kami…”. []

Bencana dan Angka

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sebenarnya tidak begitu percaya pada angka-angka. Tapi ternyata, hidup ini juga penuh dengan angka-angka. Ibarat Matematika pula kata orang. Penuh misteri.

Begitupula soal bencana yang akhir-akhir ini beruntun menimpa tanah air. Tak hanya sekali dua kali. Sudah berkali-kali pula. Berulang. Berbilang dan selalu banyak nyawa melayang.

Anehnya, soal angka tadi, dari satu tragedi dengan tragedi lainnya, angka pada tanggal, bulan dan tahunnya, hampir ada pula kemiripan. Begitupula dengan bilangan-bilangan lainnya terkait bencana itu sendiri. Entahlah, apa bisa pula dikait-kaitkan, mana tahulah awak.

Dan, tiada niat hendak mendahului Tuhan atau ingin pula seperti ahli Astrologi berbicara soal tragedi dan angka-angka ini. Tapi, setidaknya beberapa fakta bencana di tanah air berikut ini, sedikit banyak terkait pula soal angka-angka.

Sebagai contoh, pada tanggal 1 bulan 1, pesawat Adam Air dan KM Senopati kecelakaan. Satu lawan satu, meski satu di udara dan satu di laut. Semua penumpang Adam Air belum ditemukan dan begitu pula sebagian penumpang KM Senopati juga belum ada kabar beritanya.

Tanggal 2 bulan 2, banjir hebat melanda Jakarta dan beberapa kota lainnya. Sekitar 70 nyawa melayang. Puluhan triliun untuk nilai infrastruktur yang rusak.

Begitupula, tanggal 3 bulan 3, KM Levina I juga merenggut nyawa manusia. Tak hanya penumpang, tapi juga wartawan yang meliput ke TKP. Dan, pada tanggal itu pula galodo terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Masih ada lagi, tanggal 7 bulan 3 tahun 2007 (7-3-07), pesawat Garuda Boeing “737” kecelakaan dan menewaskan 21 orang. Garuda terbakar pada jarak 400 meter dari landasan. Lagi-lagi tragedi pesawat udara.

Dan sehari sebelumnya, tanggal 6 bulan 3, gempa bumi berkekuatan 6,3 menghoyak Sumatra Barat. Sedikitnya 73 korban meninggal dunia. Ribuan rumah, gedung perkantoran, masjid, sekolah, rusak parah. Ranah Minang berduka.

Sekilas diperhatikan semua angka-angka itu, ada angka kembar dan punya kecocokan. Dan, semuanya terjadi pula setiap bulannya. Tak tahu kita, apapula bencana pada bulan 4 mendatang. Semoga saja tidak ada lagi bencana yang selalu menghadirkan air mata.

Namun yang jelas, sebagai umat beriman, hendaknya Tuhan kembali kita hadirkan di masing-masing hati kita. Sebab, bencana bukan hanya karena ada “niat” alam bosan bersahabat dengan manusia, tapi juga karena ada “kesempatan” kita melupakan Tuhan. Waspadalah, waspadalah!

Ya, agar jangan ada lagi angka-angka yang dikait-kaitkan dengan bencana. Bisa syirik kita. Semoga, selalu damailah dunia… Wallahu a’llam. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 15 Maret 2007)

Bus Khusus Perempuan

Oleh: Muhammad Subhan

PEKANBARU bukan kota yang menerapkan Syariat Islam. Namun, apa yang dilakukan pemerintah kota itu dengan meresmikan pemakaian bus kota khusus perempuan (Antara, 17 Februari 2007), nampaknya perlu ditiru oleh daerah-daerah yang menjalankan Qanun Syariat Islam. Bahkan setahu saya, Nanggroe Aceh Darussalam yang telah memulai Syariat Islam, bus kota di daerah itu belum ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan, apalagi mengkhususkan untuk laki-laki atau perempuan.

Pekanbaru setidaknya memulai alaf baru bagi dunia transportasinya. Ide mengadakan bus khusus perempuan itu, mengingat ‘nasib’ kaum hawa yang sering menjadi sasaran empuk kejahatan di dalam bus, seperti objek pelaku kriminal dan tindak pelecehan seksual.

Begitupun, pemakai bus umumnya adalah para wanita produktif dari kelas ekonomi bawah. Karena penumpang angkutan umum itu adalah perempuan semua, maka pemerintah kota itupun harus melengkapi bus khusus perempuan dengan fasilitas alarm serta menempelkan nomor-nomor penting kepolisian.

Keberadaan bus khusus perempuan ini tentu saja pertama ada di Indonesia. Karena khusus bagi perempuan, jelas saja kaum lelaki ‘dilarang’ naik--meski sopir dan kondekturnya masih laki-laki. Namun, pemerintah setempat juga berencana membuka lowongan sopir dan kondektur dari kaum hawa. Weleh!

Kehadiran bus kota tersebut juga dengan sendirinya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kaum perempuan di Pekanbaru yang banyak bekerja di luar rumah untuk berbagai keperluan.

Sampai saat ini, jumlah bus khusus itu masih terbatas. Baru 5 unit dan melayani rute yang jarang dilalui angkutan umum. Dan, setiap penumpang yang mempergunakan bus kota itu dikenai ongkos Rp2.000 per orang atau sama dengan tarif bus kota lainnya.

Dengan adanya bus itu, jelas saja kaum perempuan di Pekanbaru tidak ragu lagi keluar rumah, meski kejahatan tidak saja ada di dalam bus kota. Tapi setidaknya, kaum perempuan di sana merasa lebih leluasa karena di dalam bus itu hanya ada kaumnya.

Di Sumatra Barat, Kota Padang khususnya, keadaan bus kota sangat memprihatinkan. Jangankan mengadakan bus khusus perempuan, menata bus kota atau angkot saja Pemerintah Kota Padang sering kewalahan. Maka, keluhan penumpang di Kota Padang tidak lain; suara musik keras yang memekakkan gendang telinga, sopir ugal-ugalan dan kebut-kebutan, serta dinding bus atau angkot menggunakan kaca film sehingga memberi peluang bagi ‘anak bola’ untuk mencopet.

Beberapa kali teman-teman saya di Padang ‘dikompas’ di atas bus kota. Bahkan yang sangat berbahaya, oknum preman dalam bus kota membawa pisau lipat. Mereka tak pandang korban laki-laki atau perempuan. Semua disikat!

Sewajarnya, saya kira, ide bernas Pemerintah Kota Pekanbaru itu pantas pula ditiru Pemko Padang serta kota-kota lainnya di Sumbar. Memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan, mencerminkan juga budaya keislaman yang bermuara pada kenyamanan penumpang. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 22 Februari 2007)

Menata yang ‘Ketek’

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sepakat komentar Bung Kasra Scorpi yang menulis di kolom ini dua hari lalu bahwa orang-orang ‘ketek’ (Pedagang Kaki Lima—red), jangan digusur melainkan diatur. Sebab, keberadaan orang-orang ‘ketek’ itu sedikit banyak ikut pula berjasa bagi kemajuan Bukittinggi sebagai kota tujuan wisata di Sumatra Barat.

Dan, PKL yang orang ‘ketek’ itu, di kota manapun keberadaan mereka tak dapat dipungkiri. Di kawasan Tanah Abang Jakarta, Pasar Tembung Medan maupun di kawasan Malioboro Yogjakarta, banyak pula PKL yang berasal dari Minang dan sebagian besarnya orang Bukittinggi. Di sana, PKL diatur karena siapapun berhak mencari nafkah di bumi Allah ini.

Kalau di negeri orang PKL asal negeri kita diatur, kenapa pula PKL yang mencari nafkah di negeri sendiri digusur? Ini ironis kiranya. Bahkan, saya menemukan beberapa PKL paska Operasi Yustisi yang tertekan dan stres akibat gerobak atau barang dagangan mereka disita petugas. Belum lagi yang tertangkap dan nyata-nyata dianggap melanggar Perda. Mereka diminta membayar denda pula yang bagi mereka tidak kecil jumlahnya.

Saya termasuk yang tidak berharap persoalan orang-orang ‘ketek’ terangkat menjadi persoalan besar. Sebab, tak seorang pun dari warga kota ini—dan, siapapun kita—yang dulunya tiba-tiba menjadi orang besar (sukses, hebat, lebih baik, kaya, dll) tanpa lebih dulu menjalani masa-masa sulit yang sedang dihadapi orang-orang ‘ketek’ hari ini.

Wakil Walikota Bukittinggi H. Ismet Amzis sendiri kepada saya mengatakan bahwa beliau juga berasal dari keluarga ‘ketek’. Orang tua beliau adalah pedagang ‘ketek’ di kawasan Pasar Aur Kuning. Tentunya, saya kira, sebagai salah seorang pimpinan di pemerintahan kota yang berlatarbelakang keluarga orang ‘ketek’, Pak Wawa—demikian beliau akrab disapa—sangat peka terhadap nasib orang-orang ‘ketek’ lainnya. Apalagi Pak Walikota yang konon sosoknya sangat bijaksana dan berwibawa.

Menumpahkan kesalahan sepenuhnya kepada pemerintah kota, saya kira tak adil pula. Sebab, sudah tugas dan tanggung jawab pemerintah kota menata kotanya menjadi kota yang baik, tertib, aman, dan nyaman. Tujuannya, tidak lain untuk ketentraman warga juga. Karena sesungguhnya, penegakan aturan adalah wujud kewibawaan dan harga diri pemerintah, dimanapun ia diamanahkan untuk menerapkan aturan.

Dan, pemerintah Kota Bukittinggi telah menyatakan pula bahwa tak ada niat Pemko hendak ‘mematikan’ usaha PKL (Haluan, 9 Februari 2007). Namun, Pemko Bukittinggi saat ini seolah memakan buah simalakama. Satu sisi, PKL adalah juga warga kota (dan daerah sekitarnya—red) yang harus sejahtera, di sisi lain aktivitas PKL yang memakai fasilitas umum sebagai tempat berjualan semakin tidak bisa ditolelir. Maka itu Operasi Yustisi digelar.

Bayangkan, kata Pemko, pertumbuhan PKL di Bukittinggi tidak saja terjadi setiap bulan melainkan sudah tiap hari. Tak salah kalau pasar-pasar di Bukittinggi dan sejumlah kawasan umum lainnya ‘dipenuhsesaki’ PKL. Jalan sering macet, sampah berserak, gerak pejalan kaki terhambat, sehingga menimbulkan berbagai efek negatif lainnya.

Menyaksikan semua fenomena itu, menurut hemat saya, sudah sewajarnyalah pemerintah kota mengeluarkan kebijakan menata PKL—bukan menggusur. Ide memeratakan wilayah dagang PKL tak salah kiranya diterapkan. Tentu, pemerintah kota bekerjasama dengan Assosiasi PKL dan instansi terkait lainnya harus memiliki data berapa jumlah PKL di kota ini. Adanya izin berdagang, penyebaran wilayah dagang ke lokasi-lokasi yang tidak terlalu padat, serta membatasi jumlah PKL baru, sudah mendesak dilakukan. Tentunya, tetap melalui jalur musyawarah mufakat, mengkaji untung rugi, baik buruk, dan jangan sampai ada yang terzalimi.

Memang, persoalan nasib orang-orang ‘ketek’ selalu ada di mana saja. Mereka butuh ‘pembinaan’, bukan ‘pembinasaan’. Mereka butuh ‘perhatian, bukan ‘hardikan’. Dan, mereka butuh ‘cinta kasih’, bukan ‘pilih-pilih kasih’. ***

(Kolom Detak Jam Gadang Koran Haluan, 10 Februari 2007)

Senin, 26 April 2010

Waspada Demam Berdarah

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA kaget ketika seekor nyamuk hinggap dan hendak menggigit lengan saya, sore kemarin. Ukuran tubuh nyamuk itu lebih besar dibanding nyamuk-nyamuk ‘usil’ lainnya yang berukuran kecil dan memang sudah sering ‘langganan’ menggigit tatkala saya nyenyak tidur.

Sekilas saya amati, tubuh nyamuk itu agak ‘seksi’, berwarna hitam dan belang-belang putih. Tiba-tiba saya ingat kata guru SD saya dulu bahwa itu adalah ciri nyamuk Aedes Aegypti, istilah lain nyamuk Demam Berdarah yang membawa virus Dengue yang berbahaya.
Spontan, nyamuk itu saya tepis. Tidak saya bunuh—karena kebetulan saya punya rasa ‘kepribinatangan’ sedikit. Terbanglah nyamuk itu, dan entah hinggap ke tubuh siapa lagi.

Namun, sejenak saya merenung, Padang Panjang yang kotanya bersih dan sesejuk ini kok masih ada nyamuk Demam Berdarah? Biasanya, daerah-daerah tropis dan bertemperatur udara tinggilah yang lebih berpotensi nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) hidup dan berkembang biak.

Saya memang belum sempat mencari data berapa kasus DBD di Dinas Kesehatan setempat. Namun, DBD sejak tahun-tahun sebelumnya sudah diurutkan pemerintah sebagai kasus Kejadian Luar Biasa (KLB). Ya, sebab angka penderitanya benar-benar luar biasa! Ribuan kasus dilaporkan terjadi di 14 provinsi. Dari jumlah itu, 75 di antaranya berujung maut.

Sebenarnya, kenapa DBD diurutkan menjadi penyakit dengan kategori KLB? Secara etiologi, DBD adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus. Jika terserang virus itu, maka akan terjadi gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan yang juga menimbulkan kematian. Karena menggangu pembuluh darah, terjadi pula perdarahan-perdarahan.

Pembawa virus itu, nyamuk Aedes Aegypti, tidak dapat berkembang biak di selokan/got atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah. Nyamuk ini biasanya pula menggigit manusia pada pagi atau sore hari.

Namun, Aedes Aegypti dapat berkembang biak di tempat penampungan air dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang, seperti: bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, ban bekas, kaleng minuman, dll.

Gejala penyakit ini, biasanya penderita mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah lesu, suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih. Selain itu, juga tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Kadang pula terjadi perdarahan di hidung (mimisan) dan memungkinkan terjadi muntah darah atau berak darah.

Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, berkeringat, perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrointestinal, tempat suntikan atau di tempat lainnya. Kalau tak bisa juga disembuhkan, maka ajal tak segan-segan menjemput.

Karena berujung pada kematian itulah pemerintah mengkategorikan penyakit ini sebagai KLB. Pada setiap kesempatan, pemerintah melalui Dinas Kesehatan mengimbau, bila masyarakat menjumpai anggota keluarga atau tetangga di lingkungannya menderita DBD, segera dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan trombosit.

Mencegah memang lebih mudah dari mengobati. Istilah 3M; Menguras, Menutup, Mengubur barang bekas yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk, adalah cara efektif untuk pencegahan.

Sebab, DBD tak pandang nyamuk ini berdomisili di mana; Padang Panjang, Medan, Jakarta, Irian Jaya, atau Bukittinggi sekalipun, si nyamuk akan tetap mencari mangsa. Mungkin sudah itu pula tugas yang diberikan Tuhan kepadanya.

Namun yang terpenting, saya kira, DBD bukan saja terjadi karena ada ‘niat’ si nyamuk hinggap di tubuh manusia, tapi juga karena ada ‘kesempatan’ binatang kecil itu menggigit. Karena itu, waspadalah, waspadalah! []

Menatap Poso dari Sumbar

Catatan: Muhammad Subhan

PERTEMUAN di Malino pada akhir Desember 2001 yang kemudian menghasilkan Deklarasi Malino, sebenarnya, merupakan upaya rekonsiliasi yang dilakukan pemerintah untuk kelompok yang bertikai guna menciptakan Poso yang aman dan damai. Namun, tampaknya, beberapa pekan terakhir, Poso kembali bergejolak.

Gejolak itu, mengingatkan kita bahwa lebih dari 7 tahun Poso terus dilanda konflik. Perundingan dan kesepakatan damai pun terus dilakukan pemerintah. Namun, keadaan baik yang selama ini dicita-citakan rakyat Poso, nampaknya tak kunjung diraih.

Konflik itu berawal dari penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Antiteror terhadap 29 DPO (Daftar Pencarian Orang) yang diduga sebagai penyebab terjadinya kerusuhan Poso. Siapa kira, penggerebekan itu akhirnya berbuntut panjang dan awal pangkal bala.

Sejak peristiwa itu, rakyat Poso selalu dicekam ketakutan yang tiada henti. Yang menyedihkan, rakyat sipil selalu menjadi korban. Dan, konflik dimanapun, konon pula di Aceh dulu, korban rakyat sipil selalu berada dalam daftar panjang deretan para korban.

Sudah seharusnya, penyelesaian Poso ditindaklanjuti secara cepat dan tepat waktu. Masyarakat Poso saat ini dilanda kecemasan, sebab nyawa mereka ikut terancam.

Pemerintah, saya kira, dan juga pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab memulihkan Poso kembali, diharapkan kesungguhan dan keseriusannya. Bukan sekedar klise dan retorika. Pemerintah ditantang untuk menciptakan Poso yang aman dan damai. Harga diri pemerintah, sudah tentu, dipertaruhkan untuk keamanan Poso.

Begitu pula, tokoh masyarakat maupun tokoh agama di Poso hendaknya meningkatkan komunikasi dan memberikan pengertian antara kelompok-kelompok yang bertikai. Sebab, penyelesaikan Poso tidak harus selalu mengedepankan otot dan senjata, tapi juga nurani dan akal sehat.

Meski konflik Poso telah mengarah pada konflik SARA, namun, budaya komunikasi meski terus diupayakan. Masyarakat harus bisa saling menerima segala perbedaan; keragaman suku, budaya maupun agama yang ada.

Menurut saya, penyelesaian persoalan Poso bukan hanya sekedar melakukan perundingan atau negosiasi. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah hadir sepanjang waktu untuk memberi kedamaian bagi rakyat Poso.

Secara historis, memang, tak ada kaitan Poso dengan Sumbar. Namun, secara geografis, Poso dan Sumbar sama-sama berada di antara pulau-pulau yang menghiasi bumi Khatulistiwa. Begitu pula, sejujurnya, masyarakat Negeri Minang ini, merindukan kedamaian itu kembali ada di Poso. Dan, semoga, negeri ini akan selalu damai, selamanya. []

(Catatan Dibuang Sayang, dimuat di Haluan, kolom Refleksi, 4 Februari 2007)

Bahaya SUTET

Oleh: Muhammad Subhan

PROTES warga Kenagarian Gadut, Tilatang, Kabupaten Agam, tentang rencana PLN membangun jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di daerah mereka, saya kira perlu disikapi secara bijaksana. Pertanyaan sederhana, mungkin, apa keuntungan keberadaan SUTET bagi warga dan apa pula dampak yang akan ditimbulkannya?

Apalagi, konon kabarnya, pemasangan pancang-pancang rencana jaringan SUTET itu, tidak pula sepengetahuan warga. Berdasarkan laporan wartawan koran ini, setidaknya ada sekitar 15 tonggak pancang telah dipasang dengan kode ‘PLN BKT’ di beberapa jorong di Kenagarian Gadut (Haluan, 31 Januari 2007).

Keberadaan tonggak-tonggak pancang itu, tak seorang warga atau pejabat jorong setempat tahu siapa yang memancang. Akibatnya, beberapa warga merusak tonggak-tonggak yang dipancang itu. Warga cemas, jika benar daerah mereka dijadikan lokasi pemasangan jaringan SUTET, kesehatan warga merasa terancam.

Meski belum bisa dipastikan secara ilmiah bahaya dari SUTET, namun sebenarnya, ada sederetan bahaya serius yang mengintai bagi warga sekitar. Dari beragam kajian medis yang saya rangkum, ada pro dan kontra ihwal imbas negatif SUTET terhadap kesehatan manusia.

Studi yang dilakukan Wertheimer dan Leeper (1979) di AS, digambarkan adanya hubungan kenaikan risiko kematian akibat kanker pada anak dengan jarak tempat tinggal yang dekat jaringan transmisi listrik tegangan tinggi. Tapi, studi ini dikoreksi oleh ilmuwan lain, yakni Savitz dan Fulton yang justru menyatakan tidak ada hubungan antara tempat tinggal yang berdekatan dengan SUTET terhadap risiko kematian.

SUTET merupakan saluran atau hantaran udara untuk mentransmisikan daya elektrik pada tegangan 500.000 volt atau 500 kilo volt (kv). Tegangan setinggi ini diperlukan untuk menekan susut daya dan susut tegangan di saluran transmisi yang panjang.

Tegangan ekstra tinggi banyak dipakai di Eropa dan Asia . Tegangan ultra tinggi, 765 kv dan 1.100 kv dipakai di Amerika dan Rusia. Pada tegangan yang sangat tinggi ini, saluran udara dipilih karena biaya konstruksinya jauh lebih murah dibanding bila menggunakan kabel bawah tanah.

Bahaya elektrik pertama yang harus dihindari adalah sentuhan atau sengatan listrik. Tingkatan bahaya akibat sengat elektrik sebanding dengan besarnya arus yang mengalir melalui tubuh manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus sengat baru akan terasa jika besarnya lebih dari 1 ma atau seperseribu Ampere.

Bahaya kedua adalah panas dan daya ledak SUTET saat terjadi hubungan singkat akibat kecelakaan atau kerusakan alat. Karena tegangannya sangat tinggi, arus yang sangat besar akan mengalir jika SUTET mengalami hubungan singkat.

Bahaya lain, adanya risiko tegangan bocor yang mungkin saja terjadi. Pada 1970-an di Kanada, Amerika dan Australia , sempat heboh adanya tegangan bocor dan pengaruhnya pada hewan ternak. Di sepanjang saluran transmisi terdapat konduktansi dan kapasitansi bocor. Arus mengalir melalui kapasitansi bocor dan kembali melalui tanah. Studi tentang tegangan bocor sampai hari ini belum pernah dilakukan di Indonesia .

Protes warga Gadut itu, membuktikan bahwa warga sudah cerdas dengan bahaya yang akan ditimbulkan SUTET. Jikapun rencana itu dilaksanakan juga, pejabat terkait, PLN khususnya, mesti melakukan sosialisasi, duduk mufakat dengan warga, sehingga tidak terjadi benturan-benturan yang tak diinginkan dikemudian hari. Bak pepatah Minang pula, “mengurai benang dalam tepung”. Benang tak putus, tepung pun tak berserak pula. []

(Dimuat di Haluan kolom Detak Jam Gadang Bukittinggi, 1 Februari 2007)

Memanusiakan Manusia

Oleh: Muhammad Subhan

ENTAH di mana, suatu kali saya pernah membaca sebuah tulisan seorang filsuf. Katanya, ‘kematian seribu orang adalah statistik, sedangkan kematian satu orang adalah tragedi’.

Sebuah ungkapan yang menarik saya kira. Kalimat itu tiba-tiba saya ingat ketika kematian seorang lelaki berusia 41 tahun dan dianggap ‘tidak waras’ saya baca di koran. Tidak headline memang, tapi berita itu begitu menggugah. Hampir setiap tempat yang saya kunjungi kemarin, orang-orang pun membincangkan soal itu.

Syahdan, disebutkan lelaki itu mulanya diantarkan orang ke Padang Hijau, Gadut. Tak jelas di mana pula lelaki yang dianggap berpanyakit gangguan jiwa itu ditemukan. Warga Padang Hijau resah, diantar pula lelaki itu ke Mapolresta Bukittinggi.

Nasib baik, memang, kadangkala jarang berpihak pada orang-orang susah. Di Mapolres, lelaki itu ‘diopor’ pula ke Kantor Dinas Sosial setempat. Mungkin, soal penanganan orang-orang terlantar, Dinas Sosial-lah yang bertanggung jawab.

Untung tak dapat diraih, rugi tak pula dapat di tolak. Mungkin sudah takdir, lelaki itu menghembuskan nafasnya di Kantor Dinas Sosial, tempatnya terakhir ‘diopor-opor’ orang. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.

Oleh Dinas Sosial, jenazah lelaki malang itu diantar pula ke RSAM Bukittinggi. Tiga hari lamanya, jenazah lelaki itu membisu dalam hening dan dinginnya kamar jenazah RSAM Bukittinggi.

Kemarin, pihak keluarga dari mayat lelaki di RSAM yang kemudian diketahui bernama Khairulman alias Buyung, datang menjemput jenazahnya. Almarhum Khairulman dibawa pulang ke kampung halamannya di Padang Pariaman. Tak ada pengibaran bendera setengah tiang, karena lelaki itu ‘bukan siapa-siapa’.

Konon pula, usut punya usut, ternyata Khairulman adalah mantan fotografer amatir di Taman Margasatwa Kinantan. Hampir semua teman seprofesinya kenal dengan ‘lelaki baik itu’. Hanya saja, konon pula ia kehilangan kamera sehingga tak bisa lagi bekerja. Malang menimpa, penyakit ayan hinggap pula di tubuhnya.

Sampai kini, belum ada yang bertanggung jawab atas kematian lelaki malang itu. Konon, pihak kepolisian akan memintai keterangan beberapa saksi terkait kematian orang yang telah lama menjadi warga kota ini.

Susah memang menjadi ‘orang susah’. Apalagi, sampai dianggap orang tidak waras. Kematian yang menimpa almarhum Khairulman, mantan tukang ‘kodak-kodak’ itu, adalah sebuah ‘tragedi’ yang memilukan.

Di kota manapun di negeri ini, saya lihat, penanganan terhadap orang-orang terlantar, anak jalanan, fakir miskin, apalagi orang tidak waras, begitu sangat lemah. Kadang pula, saya malu membaca Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat 1 yang menyebutkan, ‘fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’. Kenyataannya, semua ‘orang-orang susah’ itu seringkali terlantar dan ‘tak terpelihara oleh negara’.

Di Bukittinggi, pemerintah kotanya, saya kira, turut pula bertanggung jawab atas tragedi kematian lelaki malang itu. Lemahnya penanganan Dinas Sosial terhadap orang-orang terlantar, membuat kota ini, mau tidak mau, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ‘orang-orang terlantar’ akan terus bertambah setiap hari. Dan, mereka akan menjadi ‘pemandangan’ baru kota yang sangat ‘cantik’ ini.

Jika mau jujur, kadangkala, sulit kita ‘memanusiakan manusia’. Dan, sulit pula kita tidak menyusahkan ‘orang susah’. Padahal, sesungguhnya, orang yang kita anggap susah dan terlantar itu, adalah juga manusia. []

(Dimuat di Haluan, kolom Detak Jam Gadang Bukittinggi, 25 januari 2007)

Senin, 15 Maret 2010

Fenomena Lafadz Allah

Oleh : Muhammad Subhan

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tampaknya harus memiliki badan khusus yang bertugas meneliti, mengkaji dan menyiarkan kepada umat tentang fenomena pemberitaan munculnya "lafadz Allah" di berbagai kejadian. Sebab, di samping umat awam bertanya-tanya tentang fenomena itu, sebagian lainnya mengkhawatirkan akan terjadinya kemusyrikan baru jika ada oknum-oknum tertentu yang berkepentingan merekayasa tulisan "Lafdhul Jalalal Allah" yang suci itu pada benda-benda mati maupun makhluk bernyawa, apalagi sampai mengkultuskannya untuk kepentingan-kepentingan di luar syariat.

Seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, banyak pemberitaan munculnya lafadz Allah, mulai dari jilatan api di Lapindo Brantas, pohon di Pekanbaru, bulu kucing di Tangerang, awan di Jakarta, Jogyakarta maupun di Padang, tulisan Laa Ilaha Ilallah di tempat pembakaran lemang di Pasaman, di dinding bukit di Padang Panjang dan telinga bayi, getah pohon di Tilatang Kamang, Agam, bulu kambing, kulit telur dan mungkin masih banyak lagi.

Fenomena seperti itu, saya kira, memang sering kali ditemui. Misalnya pohon-pohon atau benda lainnya yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip "lafdhul-jalalal, Allah". Namun pertanyaannya, pertanda apakah semua itu? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?

Menurut hemat saya, fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu dicermati secara teliti dan hati-hati. Sebab kemudahan rekayasa di zaman digital memungkinkan apa saja dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa teknologi. Tapi yang perlu dipertimbangkan, seberapa besar nilai positif dan produktif pada manusia yang melihatnya dari semua penampakan itu. Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin salat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, judi, korupsi dan berbuat zhalim? Dan apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan? Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?

Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh manusia sendiri, dan juga seluruh alam ini, sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alqur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53) Ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda-tanda itu adalah berbentuk ‘tulisan Allah'. Tanda-tanda itu maksudnya adalah ‘tanda kebesaran' Allah SWT. Orang-orang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan Allah itu.

"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran: 191)

Namun, kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir perjalanan para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Alquran yang merupakan miracle-pun mereka ingkari.

Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) Kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Alquran yang tak terbantahkan. Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon, kulit telur, dinding bukit, telinga bayi dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak akan menambah apa-apa. ***

http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20070805110525

Rabu, 10 Maret 2010

Perda Rokok Padangpanjang

Catatan: Muhammad Subhan

Pemerintah Kota Padangpanjang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Tertib Rokok. Perda itu telah disahkan pada 5 November 2008 lalu. Gebrakan Padangpanjang itu diharapkan diikuti pula oleh kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat.

Meski baru dilahirkan, namun dampak positif adanya Perda tersebut membuat masyarakat di Padangpanjang mulai menyadari bahaya serta ancaman rokok. Dan, Walikota Padangpanjang dr. H. Suir Syam menginstruksikan seluruh pegawai di lingkungan Pemko Padangpanjang untuk tidak merokok di ruangan kerja. Jikapun ada pegawai yang merokok dan sudah ketergantungan terhadap rokok, di kantor-kantor pemerintahan disediakan ruangan khusus bagi perokok (smoking area).

Setahun ke depan, Perda itu disosialisasikan kepada masyarakat Kota Padangpanjang bahkan konon kabarnya, perusahaan rokok tidak diperkenankan lagi mensponsori kegiatan-kegiatan tertentu di Padangpanjang termasuk pemasangan iklan/reklame di Kota Serambi Mekah itu.

Di Indonesia, bahaya rokok masih menjadi isu pinggiran. Pemerintah dan tokoh masyarakat (seperti ulama) masih setali tiga uang. Bahkan umumnya ulama di Indonesia hanya menganggap rokok hukumnya makruh (parahnya banyak ulama di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat merokok!) berbeda dengan kebanyakan ulama di Timur Tengah, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz, Muhammad al-Utsaimin, Yusuf al-Qardhawi, termasuk ulama di Malaysia dan Brunai Darussalam, memanfawakan bahwa rokok haram hukumnya.

Dari kesehatan bahaya rokok sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi, lebih dari 70 artikel ilmiah serta penelitian sejumlah ahli membuktikan itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4.000 racun kimia berbahaya, dan 43 di antaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Akibatnya berbagai penyakit kanker mengintai, seperti: kanker paru-paru (90% kanker paru pada laki-laki disebabkan oleh rokok, dan 70% untuk perempuan), kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronkitis, mati mendadak pada bayi, impoten pada pria, bahkan rusaknya kesuburan wanita.

Memang tidak ada yang mati mendadak ketika menghisap rokok. Dampak rokok baru terasa setelah 10-20 tahun pasca penggunaannya. Dan, dampak rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (active smoker) saja, bahkan punya dampak yang sangat serius bagi yang tidak merokok (passive smoker). Yaitu, para perokok pasif ini akan mendapat racun dua kali lipat dari perokok aktif. Sangat tidak adil; tidak merokok tapi menghirup racun dua kali lipat. Menyikapi semua ancaman itu, Padangpanjang menyatakan komitmennya untuk berkata “tidak” terhadap rokok. Yang telah terlanjur dihimbau untuk segera “sadar” sebelum kematian mengancam.

Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya di Sumbar? Agak sulit kiranya membuat kebijakan seperti yang dilakukan Pemko Padangpanjang, jika mungkin saja gubernur merokok, atau bupati dan walikota juga merokok. Wallahu a’lam. []

Rabu, 03 Maret 2010

Warga Bukittinggi Asal Aceh

Oleh: Muhammad Subhan

Bukittinggi sebagai Kota Perdagangan di Sumatera menyebabkan banyak orang datang untuk berniaga dan bermukim di daerah ini. Itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ketika Bukittinggi masih menjadi daerah jajahan Belanda bersamaan dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera. Keberadaan Jam Gadang yang dibangun Belanda serta adanya Pasar Atas dan Pasar Lereng telah menghipnotis banyak orang diluar Bukittinggi untuk datang ke kota ini.

Salah satu kelompok masyarakat yang datang bermukim di Bukittinggi adalah warga asal Aceh. Saat ini jumlah mereka mencapai sekitar 900 Kepala Keluarga atau lebih kurang 3.000-an jiwa. Mereka bekerja di berbagai sektor, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, TNI/Polri, Dokter, Perdagangan/Jasa, mahasiswa, dan lapangan pekerjaan lainnya.

Menurut sesepuh warga Bukittinggi asal Aceh, Teungku Ali Basya, yang saat ini usianya sudah lebih 80 tahun, mulanya warga Bukittinggi asal Aceh bermukim di kota wisata ini semata untuk menuntut ilmu agama, khususnya di Pesantren Thawalib Parabek dan Canduang. Banyak santri-santri yang berdatangan ke pesantren-pesantren ternama ini dari berbagai daerah di pelosok Aceh. Sepulang dari menuntut ilmu banyak di antara mereka yang menjadi ulama, salah seorangnya almarhum Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh.

Seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, keindahan Kota Bukittinggi di mata santri-santri asal Aceh menyebar ke berbagai pelosok kampung halaman mereka.. Dari mulut ke mulut, banyak orang Aceh lainnya yang tertarik untuk datang ke kota ini. Maka selanjutnya terjadilah gelombang kedatangan warga asal Aceh yang tidak hanya menuntut ilmu agama di sejumlah pesantren di Bukittinggi dan sekitarnya, namun juga bermukim di kota ini dalam waktu lama, bahkan berasimilasi lewat perkawinan dengan penduduk pribumi.

Meski sejarah mencatat konflik berkepanjangan terjadi di Aceh, namun warga Bukittinggi asal Aceh yang tinggal di kota berhawa sejuk ini hidup dalam kondisi aman dan nyaman. Suasana ini tentu tidak didapatkan di kampung halaman yang di masa itu mereka sangat akrab dengan ledakan mesiu dan selongsong peluru. Tapi syukurlah, Aceh kini telah damai dan mampu bangkit dari ketertinggalan dan siap menjadi daerah terdepan di sektor pembangunannya.

Sebagai warga Bukittinggi yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) Bukittinggi, pada pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Walikota dan Wakil Walikota) Bukittinggi, warga asal Aceh juga turut serta berpartisipasi. Namun kemana pandangan politik warga Bukittinggi asal Aceh ini, tentu kembali kepada individu mereka masing-masing. Tidak ada intervensi organisasi keluarga Aceh (Ikatan Keluarga Aceh Taman Syiah Kuala) dalam hal satu ini. Yang pasti, warga Bukittinggi asal Aceh akan memilih calon walikota dan calon wakil walikota yang amanah, bertanggung jawab, jujur, dan mampu mensejahterakan masyarakat secara umum. Tidak memilah dan memilih kepentingan satu kelompok masyarakat saja, tetapi benar-benar menyamakan seluruh kepentingan warga Bukittinggi meski mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Memang, Bukittinggi menjadi “kota yang hidup” hari ini lantaran dihuni oleh berbagai macam suku di Indonesia. Semua hidup dalam suasana rukun dan damai. Warna kulit, ras, dan agama boleh berbeda, namun semangat toleransi, hormat menghormati, harus tetap terjaga, walau siapapun yang memimpin kota ini nanti. Selamat menyongsong Pilkada Bukittinggi. []

Senin, 08 Februari 2010

Perantau Ongeh

Oleh: Muhammad Subhan

Mulia benar pepatah awak, “Karakatau Madang Diulu, Babauah Babungo Balun. Marantau Bujang Daulu, di Kampuang Paguno Balun”. Karena pepatah itu pula ‘urang saisuak’ di masa muda mereka beramai-ramai meninggalkan kampung halaman menuju daerah-daerah perantauan di berbagai pelosok tanah air, bahkan keluar negeri. Mengadu nasib. Dan, memang banyak yang berhasil.

Sutan Ongeh salah seorangnya. Beberapa tahun lalu dia tinggalkan kampung halaman merantau ke Jakarta ikut semendanya berdagang di pasar Tanah Abang. Dia merantau bukan karena belum berguna di kampung, tapi memang tidak berguna sama sekali. Semasa di kampung kerjanya cuma berjudi saja di lepau, mengganggu anak gadis orang yang lewat ke surau, menyabung ayam, dan suka begadang sambil mabuk-mabukan sesama teman sebayanya yang tak berguna pula.

Penat sudah orang kampung melihat perangai dia. Bermacam nasihat tak lagi termakan olehnya. Pak Kapolsek sudah bosan pula menangani kasusnya yang itu keitu saja. Tak jera-jera dia. Tak peduli dia sudah buat malu ninik mamaknya di kampung. Hukum adat pun hendak ditalakkan kepada dirinya, tapi menimbang raso dan pareso juga lembaga adat masih memberi belas kasihan. Maka, ketika semendanya pulang kampung, seorang mamaknya berbisik agar Sutan Ongeh diajak serta merantau ke Jakarta. Semendanya setuju. Sutan Ongeh setuju pula.

Di Jakarta Sutan Ongeh membantu semendanya berdagang kain. Singkat cerita, seiring tahun berganti, sukseslah dia berniaga di Ibukota. Sudah punya toko kain pula dia sekarang. Mainnya ekspor-impor. Jiwa bagaknya semasa di kampung dulu menjadikan dia orang cukup disegani di Tanah Abang. Tak seorang jua preman mengganggu usaha dia.

Karena sudah merasa berhasil di negeri orang, teringatlah Sutan Ongeh pada kampung halaman. Apalagi sekarang sudah berbini pula dia. Gadis Betawi pilihannya. Cantik tentunya. Buah perkawinannya itu dapatlah dia dua orang putra, gagah-gagah perawakannya. Seperti dirinya semasa muda dulu.

Sebagai perantau sukses tentu telah necis pula gayanya. Pulang ke kampung beroto sedan. Ada ajudan pula yang jadi sopirnya. Dasar Sutan Ongeh, ongeh pula cara dia bicara, berjalan, dan makan. Melihat orang dengan sudut mata saja. Karena dia sudah jadi orang kaya segan juga orang kampung kepadanya.

Salah seorang kawannya di masa muda dulu, Sutan Ongok, tak mau berdekat-dekat dengan dia. Takut tertular sifat “ongeh” si Sutan Ongeh. Biarlah mancalik-calik saja dari jauh, katanya. Sejak “jadi orang” di rantau, Sutan Ongeh memilih-milih kawan pula. Begitupun, kalau diminta menderma di surau, dia sebutkan kepada pengurus surau agar menulis namanya besar-besar di papan pengumuman; “Infak dari Sutan Ongeh (Jakarta) sebesar Rp15 juta”. Meski pengurus tahu itu riya, tapi karena surau juga butuh uang, diterima saja permintaan Sutan Ongeh. Yang penting ada pemasukan. Kalau tidak siapa pula yang akan menyumbang ke surau, pikir pengurus. Jemaah biasa paling beri infak uang recehan.

Semakin muaklah Sutan Ongok melihat perangai Sutan Ongeh. Dari dulu hingga sekarang tak lepas-lepas ongehnya. Tercium juga kalau Sutan Ongeh berminat pula jadi calon “kada”, maksudnya calon kepala daerah. Ya, helat Pilkada tak lama lagi digelar. Gelagatnya itu terlihat sejak akhir-akhir ini dia sering pulang kampung, membuat acara ini-itu. Jika benar maksudnya ingin jadi “kada”, ini yang membuat resah Sutan Ongok. Akan jadi apa negeri ini kalau punya pemimpin ongeh seperti itu?

Tapi dia tak mau ambil pusing. Usai shalat Ashar di surau, Sutan Ongok berdoa dengan amat khusyuk: “Ya Rabbi, pertemukan kami kepada pemimpin-pemimpin yang amanah. Bertanggung jawab dan berjiwa mulia. Jauhkan kami dari pemimpin-pemimpin jahat yang mementingkan diri dan kelompoknya saja. Ya Allah, jadikan kami rakyat yang pandai bersyukur dan bersabar dalam menghadapi setiap ujian, amin tsumma amin… []

Minggu, 31 Januari 2010

Kadal

Oleh: Muhammad Subhan

Kadal adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk kelompok reptil. Secara luas, pengertian kadal atau kerabat kadal (bahasa Inggris: lizards) juga mencakup kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Sedangkan secara sempit, istilah kadal dalam bahasa Indonesia biasanya merujuk terbatas pada kelompok kadal yang umumnya bertubuh kecil, bersisik licin berkilau, dan hidup di atas tanah.

Kadal-kadal tertentu, misalnya bunglon, dapat berganti warna sesuai kondisi lingkungan atau suasana hati. Meski kebanyakan hidup di daratan, umumnya kadal dapat berenang. Beberapa jenisnya, seperti biawak, bahkan beradaptasi dengan baik di lingkungan perairan.

Tapi ini bukan kadal sebenar kadal seperti didefinisikan di atas. Kadal ini lengkapnya disisipkan kata “pil” di depannya, sehingga menjadi kata “Pilkadal”. Sutan Ongok menjelaskan kata Pilkadal itu sebagai “Pemilihan Kepala Daerah Langsung” yang di kampungnya sebentar lagi akan digelar aleknya. Tinggal menghitung bulan saja lagi. Sutan Ongok pun sudah sibuk ke sana kemari, sebab jauh-jauh hari ia telah mengumumkan kepada warga kampung akan maju sebagai salah seorang calon “kada”.

Ufh, jangan salah mengartikan kata “kada”. Sebab menurut kamus Minang, “kada” itu berarti borok, kudis, korengan, yang merupakan penyakit kulit yang menjijikkan. “Kada” yang dimaksud Sutan Ongok adalah kependekan dari “Kepala Daerah”. Ya, di kampungnya Sutan Ongok ingin sekali menjadi seorang kepala daerah. Tentu setelah dia melihat banyak benar enaknya jadi pejabat seperti kawannya yang sudah menjadi “kada” di kampung tetangga.

Betapa tidak, dengan menjadi “kada” segala fasilitas akan dimiliki Sutan Ongok dan dapat diwariskan kepada anak kemenakannya. Kemana-mana akan ada ajudan yang mengawal, kalau perlu ini-itu gampanglah karena ada staf yang mengatur. Kalau mau pergi jauh ada mobil sedan berkilat yang harganya ratusan juta. Kalau mau makan dengan menu sehat bisa pesan kursi di sebuah restoran mewah. Kalau bosan tidur di rumah dinas, bisa menyewa kamar di hotel berbintang empat. Pokoknya kalau sudah menjadi “kada” gampanglah itu diatur. Dan, menjelang suksesi Pilkadal Sutan Ongok benar-benar tidak dapat tidur siang malam.

Tentu saja, siang malam pula Sutan Ongok berperang dengan pikirannya bagaimana cara mengatur strategi agar menang menjadi “kada” pada Pilkadal nanti. Bermacam cara dilakukan Sutan Ongok agar suara orang kampungnya nanti masuk ke kotak suaranya. Melalui tim sukses yang siap tempur bermacamlah cara dilakukan. Mulai mengadakan wirid pengajian ini-itu, gelar bazaar untuk orang miskin, jumpa pers, gotong royong massal, donor darah, gelar malam kesenian paguyuban, cetak kalender lalu dibagi-bagikan kepada orang kampung, hingga siap diundang menjadi pembicara dalam seminar ini-itu walau tanpa dibayar sekalipun. Kepada tim suksesnya dia mewanti-wanti, jelang Pilkadal harus sesering mungkin cari simpati, jual muka, jual program, bangun wacana hingga tebar pesona.

Tapi suatu malam jelang pencontrengan Pilkadal, Sutan Ongok bermimpi yang amat mengerikan. Di seluruh tubuhnya yang sehat tiba-tiba bermunculan “kada” sebenar kada. Mulai dari kepala hingga ujung kaki penyakit kada menggerogoti tubuhnya. Tidak hanya itu, tiba-tiba muncul puluhan kadal sebenar kadal yang menggigit kada di tubuhnya. Meraung-raunglah ia menahan sakit. Terbayang di benaknya uang yang dibagi-bagikan kepada tim suksesnya bukan uang halal, melainkan uang yang ia dapatkan dari berbagai cara, termasuk menjual tanah ulayat kampungnya. Dia sebagai mamak merasa berhak mendapat harta warisan, tanpa peduli nasib anak kemenakan. Lalu dengan uang itu pula ia sogok orang kampung agar memilihnya saat pencontrengan. Orang kampung yang ‘ongok’ pula tentu senang menerima uang, apalagi di zaman yang sedang sulit mencari uang.

Dalam mimpi itu nyaris nyawa Sutan Ongok direnggut oleh ratusan kadal yang dengan lahapnya menggigit kada-kada yang tumbuh di kulit tubuhnya. Tapi untunglah, ketika puncak kesakitan dirasakannya tiba-tiba seluruh tubuhnya menikmati siraman air yang sejuk. Ketika itu juga Sutan Ongok terjaga. Tapi alangkah kagetnya dia karena melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 11.00 siang, sementara di sisi ranjangnya sang istri berkacak pinggang sambil memegang ember air. “Lah tinggi hari masih bakaruah juo, laki macam apo uda ko?!” []

Rabu, 06 Januari 2010

Mereka pun Bangga Jadi Warga “Bukittinggi Coret”

Oleh: Muhammad Subhan

SUATU hari, ketika duduk-duduk di kawasan GOR H. Agus Salim Padang, saya berjumpa dengan seorang kawan baru. Di sebuah lapau minuman kami berbincang-bincang panjang lebar tentang berbagai persoalan. Mulai dari masalah kesumpekan kota Padang hingga berdebat soal politik paska Pilpres. Kawan baru saya ini orangnya sangat supel. Enak diajak berdiskusi. Dia juga humoris.

Diujung diskusi saya berkesempatan menanyakan dimana asal daerahnya, sebab diawal pertemuan saya lupa mengungkit soal itu. Spontan dia bilang, di Bukittinggi. Oya, wajah saya tentu cerah, karena sempat dua tahun saya bertugas di Kota Jam Gadang itu. Tentu, saya punya banyak kenangan di Bukittinggi. Lalu saya tanya lagi, Bukittingginya dimana? Spontan pula dia menjawab, di Kapau. Mendengar nama Kapau, tentu tersenyum saya. Setahu saya, Kapau itu ada di Kecamatan Tilatang Kamang yang notabene berada di wilayah administratif Kabupaten Agam. Saya tidak protes, takut kawan saya itu malu. Biarlah.

Pertemuan dengan kawan baru di Padang itu mengingatkan saya pula pada cerita yang sama ketika beberapa tahun lalu saya berkesempatan singgah di Jakarta. Di Jakarta ada perkumpulan warga asal Kota Padangpanjang. Saya sempat pula bertemu dengan seorang kawan baru disana. Dia mengaku berasal dari Padangpanjang. Saya tanya Padangpanjangnya dimana? Ringan dia menjawab, di Batipuh. Saya pun mengernyitkan kening, bukankah Batipuh itu berada di wilayah Kabupaten Tanah Datar? Tapi lagi-lagi saya diamkan saja. Biarlah.

Bukittinggi memang sudah cukup dikenal. Popularitas kota ini menjadikannya sebagai ikon pariwisata Sumatera Barat. Tidak salah karena Bukittinggi memang indah, berkembang pesat, dan memiliki banyak objek wisata. Lebih 50 persen masyarakatnya hidup dari sektor pariwisata.

Karena perkembangan kota yang semakin padat, muncullah berbagai tuntutan khususnya dari kalangan tokoh masyarakat dan elit politik untuk memperluas wilayah kota ini. Lalu lahirlah PP 84/1999. Tentu saja PP ini menimbulkan pro kontra. Sebab inti dari PP adalah masuknya sebagian wilayah Agam ke Bukittinggi yang secara langsung nantinya akan mengurangi luas wilayah administratif Kabupaten Agam. Tapi syukurlah, persoalan PP 84/1999 ini tidak dipeributkan lagi, meski sebelumnya muncul wacana/isu pemekaran di Kabupaten Agam yang berbatasan dengan Kota Bukittinggi (Agam Timur).

Nah, sejumlah nagari yang dimasukkan kedalam PP 84/1999 inilah, kemudian muncul joke (guyon) di tengah masyarakat bahwa mereka menjadi warga “Bukittinggi Coret”. Dan, ternyata, seperti jawaban kawan saya itu, mereka pun senang menyebut asalnya dari Bukittinggi, meski sebenarnya berasal dari Agam. Tapi saya kira, biarlah. Tidak terlalu dipersoalkan selagi mereka tetap berkampung halaman di daerah asalnya.

Namun yang pasti, terlepas dari persoalan PP 84/1999, Bukittinggi dan Agam benar-benar tidak bisa dipisahkan. Bagai dua sisi mata uang. Bukittinggi itu “Kotonya Rang Agam”. Tidak ada yang membantah. Dulu, pusat pemerintahan Agam di Bukittinggi. Dan, bisa disebut pula perekonomian Bukittinggi digerakkan oleh masyarakat Agam. Pasar Atas, Pasar Bawah, Pasar Banto, Pasar Aur Kuning, mayoritas masyarakat Agamlah yang memasok kebutuhan pasar, mulai dari sayur mayur, beras, palawija, hingga hasil kerajinan dan konveksi. Begitupun, tanpa fasilitas pasar yang disediakan Bukittinggi, tentu kesulitanlah warga Agam memasarkan barang-barang produksi mereka. Disini berlaku hukum sebab-akibat, saling membutuhkan satu dengan yang lain.

Biarlah joke tentang warga “Bukittinggi Coret” itu berkembang di tengah masyarakat. Namun yang pasti, istilah itu tidaklah mengurangi semangat persatuan dan kesatuan kedua daerah untuk terus giat menggencarkan pembangunan. Dan, apa yang telah dilakukan pemerintah kedua daerah mengembangkan kedua kawasan harus terus dilanjutkan, lebih cepat lebih baik, untuk kesejahtera masyarakat kelas grass root (masyarakat kecil) yang faktanya mereka sering terlindas oleh pesatnya pembangunan kota. []