Sabtu, 15 Januari 2011

Menerima Hadiah Buku dari Gubernur Sumbar


Mendapat kehormatan dari Gubernur Sumatera Barat, menerima buku karangan beliau yang diserahkan di hadapan 500an peserta Seminar Internasional "Saatnya Guru Menulis", Minggu 12 Desember 2010, di Graha Serambi Mekah Padang Panjang.

Bang OP, Selamat Jalan…


Catatan Muhammad Subhan

Selasa malam, 23 November 2010, telepon genggam saya berdering tanda ada pesan masuk. Saya buka pesan itu, pengirimnya dari Kanda Adeks Rossyi Mukri, Ketua PWI Bukittinggi. Saya sangat kaget membaca isi pesan Kanda Adeks yang mengabarkan bahwa Bang Osman Poerba, mantan wartawan Harian Singgalang telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa siang (23/11), pukul 13.45 WIB usai menikahkan anaknya.
Innalillahi wainna ilaihi raajiuun….

Sungguh, saya tak menduga Tuhan begitu cepat memanggil Bang OP—demikian saya akrab menyaba Bang Osman Poerba—untuk kembali kepangkuan-Nya. Ketika di awal tahun 2007 saya diamanahkan Pemimpin Redaksi Harian Haluan sebagai Korda Haluan Wilayah Bukittinggi dan sekitarnya, hampir setiap hari saya bersua Bang OP, khususnya saat rehat membaca koran di ruang Humas Pemko Bukittinggi. Dia ‘tidak murah’ senyum, tepatnya pendiam, tapi dia sangat baik. Selalu menyapa saya lebih dahulu, “apa kabar,” katanya ramah.

Selanjutnya perhubungan saya dan Bang OP layaknya persahabatan sesama rekan wartawan ketika bertugas di lapangan. Tapi ketika itu Bang OP sudah tidak produktif lagi menulis lantaran penyakit stroke yang merenggut kesehatannya. Berhari-hari ia terbaring sakit. Bahkan kawan-kawan PWI Bukittinggi dan Pemko Bukittinggi berinisiatif merawat Bang OP ke Malaysia. Rupanya, sejak lama Bang OP dan PWI Bukittinggi telah menjalin kemitraan yang cukup erat dengan rekan-rekan wartawan di negeri jiran itu, sehingga Bang OP pun mendapat kesempatan berobat di Malaysia dengan penjagaan pihak Malaysia. Dalam dokumen komputer kantor saya di Bukittinggi, sempat saya menyimpan foto Bang OP saat dirawat itu, tapi sayang sekarang entah kemana foto itu.

Di tahun 2008—saya lupa bulannya—saya bersua kembali Bang OP di Bukittinggi. Sakit strokenya berangsur pulih meski ia harus berjalan dengan dibantu sebuah tongkat. Ia tidak dirawat di Malaysia lagi. Semangatnya yang tinggi membuat gairah hidupnya tumbuh. Di ruang humas Pemko Bukittinggi pula, Bang OP bercerita kepada saya akan cita-citanya untuk membuat film dokumenter Buya Hamka. Ketika menyebut nama Buya Hamka itu, cerah wajah saya. Sebab sebulan sebelum bersua Bang OP, saya sempat menyinggahi Rumah Kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, Maninjau.

“Nanti Subhan saya ikutkan jadi pemeran pembantu, memanggil orang sembayang ke surau,” ujar Bang OP kepada saya saat itu. Tentu saja saya tersenyum, entah apa alasan Bang OP mengajak saya untuk menjadi “aktor” walau sebagai pemeran pembantu dalam film dokumenter yang akan digarapnya itu. (Saya tidak tahu apakah film dokumenter itu jadi dibuat Bang OP atau tidak).

Seminggu kemudian saya bersua kembali Bang OP. Dia baru kembali dari Maninjau, mengunjungi Rumah Kelahiran Buya Hamka. “Pak Afif kirim salam,” ujarnya. Pak Afif adalah pengelola Rumah Kelahiran Buya Hamka yang konon masih ada hubungan kekerabatan dengan Buya Hamka. “Waalaikumussalam,” jawab saya. Lalu Bang OP bercerita banyak tentang kekagumannya pada sosok Buya Hamka.

Di Malaysia, cerita Bang OP, Buya Hamka sangat dihormati dan disegani. Meski pendidikannya tak tamat sekolah rendah (SR), tapi Buya Hamka bergelar Profesor dan Doktor. Kedua gelar itu diperoleh Buya Hamka bukan dari pemerintah negerinya sendiri, melainkan dari luar negeri—Al Azhar Kairo dan UKM Malaysia.

“Pantas bila saya tertarik ingin mendokumentasikan riwayat hidup Buya Hamka dalam bentuk film,” ujar Bang OP lagi.

Saya terpekur mendengar cerita Bang OP itu. Semangatnya sungguh luar biasa. Meski dalam kondisi yang masih sakit, tapi dia tetap semangat untuk berbuat sesuatu. Dengan jalan yang susah payah ia masih sempat mendatangi sendiri Rumah Kelahiran Buya Hamka di Maninjau.

Di pertengahan tahun 2008, batin saya semakin terenyuh ketika suatu hari Ketua PWI Bukittinggi Kanda Adeks Rossyie Mukri mengajak saya mengunjungi Bang OP di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bukittinggi. Bang OP tinggal di panti itu. “Saya senang tinggal di sini, damai,” kata Bang OP singkat. Seorang pengurus panti kepada saya berbisik, ibadah Bang OP semakin rajin sejak ia tinggal di panti. Apa yang disebut pengurus panti itu bukanlah sebagai perintang-rintang hati buat Bang OP saja, saya juga melihat langsung air muka Bang OP yang cerah, selalu bersiram air wudhu.

Setelah mengunjungi Bang OP di panti asuhan itu, sejak itu pula saya tidak lagi bersua Bang OP. Oleh pimpinan kantor, saya ditarik kembali tugas ke Padang, lantaran masa tugas dua tahun di Bukittinggi berakhir sudah. Saya hanya mendapat kabar dari teman-teman saja tentang keadaan Bang OP yang semakin membaik sakitnya.

Setelah dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir saya dengan Bang OP itu, setelah saya tidak lagi bekerja di haluan, kemarin malam kabar meninggalnya Bang OP mengagetkan saya dan mengenangkan saya kembali akan semua ingatan tentang sosok wartawan yang ‘seolah tidak pernah tua’ itu. Semangat dan cita-citanya untuk maju dalam kondisi payah sekalipun, membuat saya merasa malu, di usia muda ini masih cenderung bermalas-malasan. Sungguh, Bang OP adalah teladan…

Selamat jalan Bang OP. Semoga goresan penamu menjadi ‘sitawa sidingin’ di alam yang membawamu menuju kepada keabadian. Doa kami menyertaimu…

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu….

Rumah Puisi, 24-11-2010, 14:19

Pernahkah Tuan Membaca Puisi Cinta Buya Hamka?


Tuan, pernahkah membaca puisi cinta Buya Hamka? Duhai, kalau Tuan membacanya, serasa puisi itu menceritakan diri Tuan sendiri. Siang ini saya temukan buku “Kenang-Kenangan Hidup” Buya Hamka (1951) di rak buku Rumah Puisi, saya baca puisi di dalam buku itu. Sungguh menggugah jiwa saya, mungkin juga jiwa Tuan.

Siapa tak kenal Buya Hamka? Seorang ulama dan sastrawan yang tersohor namanya itu, terutama lantaran kisah di dalam roman-roman kehidupan yang ditulisnya? Sungguh kagum saya akan goresan penanya, yang halus, yang melukiskan jiwa sang pujangga.

Simaklah puisi cintanya berikut ini:


BERJUMPA PULA
Oh kau kiranya, bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?
Di aku sudah! Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih berkesan di dadaku

15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya
Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan
Tidak ‘kan kuucapkan lagi
Aku takut,
Obat lekat pantang terlampau
Kembali penyakit lama
--Ah, tidak; Aku mulai tua

15 tahun
Sudah berapakah anakmu
Adakah suamimu sehat saja
Beruntung dalam rumah tangga
--Tak usah gugup!

15 tahun
Melihat kau sekarang, kuteringat kau yang dulu
Kau yang ada dalam kenanganku
Kau yang tergambar dalam hatiku
Aku teringat
Mudaku dan mudamu
Semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita
Padahal: Takdir tak mengizinkan kita bertemu
Hidup kita tak dapat dipadu menjadi satu
Kau mengambil jalanmu sendiri – terpaksa atau tidak
Dan aku pun
Mengambil jalanku pula

15 tahun
Aku telah berjalan, dan berjalan jua
Tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup
Kaulah pelitaku
Tanglongku
Dalam kegelapan malam yang senyap sunyi
Sehingga aku menjadi aku
Walaupun kau tak merasa. Barangkali

15 tahun
Tertawa aku, tertangis aku
Tersenyum tersedu
Mendaki ku menurun
Melereng ku mendatar
Pernah kunaik, pernah kujatuh
Jatuh dan bangkit lagi, lalu berjalan jua
Sahaja mati yang belum kurasai
Sehingga aku menjadi aku
Dan perjumpaan kita, 15 tahun yang telah lalu
Adalah pendorong perjuangan hidupku

Hari ini
Setelah 15 tahun
Kitapun berjumpa pula
Aku dengan engkau
Kau yang sekarang
Maka teringatlah aku. Kau yang dulu
Kalau bukan lantaran kau yang dulu
Tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi
Garam hidupku yang kulalui
Air mata itulah yang kususun kembali
Sesudah dia jatuh berderai bagai manik putus pengarang
Kujadikan gubahan buat kau. Kau yang dulu
Sehinggaku menjadi Aku

15 tahun…
Alangkah cepatnya putaran zaman
Wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku
Jangan engkau salah terima, Wahai kau yang sekarang
Sekiranya aku melihat tenang. Merenung wajahmu
Izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari
Aku ini kehilangan
Dia. Dia akan kucari dalam ruang matamu
Kau yang dulu

Berjalan lurus, dan teruslah
Pikullah kewajiban yang telah ditentukan Tuhan
Buat kau. Dan aku pun
Meneruskan jalanku pula
Berjalan dan berjalan jua
Mendatar, melereng, mendaki dan menurun
Kau lihat. Rambut putih telah mulai berjuntai di ubun-ubunku
Kau lihat. Tiga garis telah mulai ada di keningku
Alamat, sengitnya perjuangan yang telah kutempuh dulu dan kuhadapi lagi
Marilah sama-sama, meneruskan perjalanan
Melaksanakan hayat
Jauh… dan jauh lagi

Hanya sebuah harapanku tinggal
Semoga usia sama panjang
Dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang
Mau atau tidak mau
Kau… dan aku….

(Buya Hamka, dalam buku Kenang-kenangan Hidup, 1951)

Rabu, 10 November 2010

Korupsi

Korupsi adalah bencana kemanusiaan terbesar di negeri ini, sangat sistemik dan sistematis, yang mengundang bencana alam dan bencana-bencana sosial lainnya.

(Muhammad Subhan, 2010)

Kasih Ibu

Ketika ibu mengandung, sakit di atas sakit dirasakannya. Ketika kita lahir, ibu tersenyum. Kita yang pertama kali mengotori tangan dan tubuhnya dengan kotoran kita.
Ketika kita beranjak balita, ibu pula yang tak dapat tidur siang malam, agar seekor nyamuk pun jangan menyentuh tubuh kita. Ketika masuk sekolah, ibu rela berhutang sana sini agar kita dapat membusungkan dada seperti anak-anak lain yang memiliki sepatu dan buku. Ketika kita sudah mengenal cinta, di hadapan penghulu ibu menangis karena kita akan pergi meninggalkannya, mengikuti suami dan istri kita. Ketika kita sudah punya anak-anak dan sibuk dengan pekerjaan kita, ibu menunggu di muka rumah, duduk termenung di dekat tangga, kapan anaknya pulang. Bukan membawa uang untuknya, tapi memeluknya erat penuh cinta.

Ibu, maafkan anakmu ini...

(Muhammad Subhan, 2010)

Kata Mutiara

Kekerasan hati seorang laki-laki akan luluh ketika ia melihat air mata perempuan, apalagi air mata seorang ibu.

(Muhammad Subhan, 2010)

Sabtu, 31 Juli 2010

Hikmah Dibalik Bencana

Oleh Muhammad Subhan

BANYAK benar musibah yang melanda negeri ini. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang terjadi Selasa (6/3/2007) lalu, telah membuat masyarakat Sumatra Barat trauma, tak terkecuali di Bukittinggi. Sejumlah insfrastruktur hancur; perkantoran, sekolah, gedung-gedung tua, bahkan rumah ibadah sekalipun, rusak dihoyak gempa.

Yang menyedihkan, gempa juga merenggut korban jiwa, puluhan banyaknya. Data di Satkorlak Provinsi, korban meninggal di seluruh kabupaten dan kota mencapai 73 orang. Di Bukittinggi korban meninggal 10 orang. Sementara yang luka berat, ringan serta kerusakan bangunan, ratusan banyaknya.

Beberapa kali terjadi gempa di tahun-tahun sebelumnya di Sumbar, mungkin, gempa kali ini terasa yang paling kuat. Apalagi getaran gempanya tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali meski dalam waktu yang tidak bersamaan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang mencatat, setidaknya selama tiga hari paska gempa, terjadi 686 kali gempa susulan, baik yang dirasakan maupun tidak.

Di hari pertama gempa, banyak peristiwa-peristiwa human interest yang begitu merenyuh perasaan. Pekik tangis para pedagang di Pasar Wisata Bukittinggi yang petak-petak toko mereka terbakar. Wajah-wajah pasi warga yang berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum lagi ratusan warga pinggiran ngarai yang dilanda kecemasan paska longsornya hampir seluruh tebing Ngarai “Diam” (Sianok) yang tak lagi diam itu.

Bukittinggi pun berduka. Kota wisata yang cantik ini dalam hitungan detik berubah kusam dan muram. Kedamaian Bukittinggi terusik. Namun kabar yang terbetik, Bukittinggi masih lebih baik daripada Solok, Batusangkar, Agam maupun Padang Panjang.

Tapi, yang sungguh disedihkan, dalam hitungan detik itu pula, keempat sektor unggulan Bukittinggi terganggu total. Di sektor pariwisata, puluhan hotel rusak, banyak kamar retak-retak dihoyak gempa. Yang terparah Novotel, sehingga manajemen hotel memilih menutup sementara daripada menanggung resiko fatal.

Objek wisata apalagi. Kantor Persenibud Bukittinggi memerintahkan petugas menutup Lobang Japang yang disinyalir rusak parah. Taman Panorama juga terganggu dengan runtuhnya Ngarai Sianok. Pasar Wisata di Pasar Putih ludes dimamah si jago merah. Pasa Lereang nyaris rata dengan tanah. Jam Gadang sebagai simbolnya Koto Rang Bukittinggi dikabarkan pula mengalami retak di dinding bagian bawah, dan jarum jam berhenti berdetak.

Di sektor pendidikan, puluhan sekolah juga rusak. Sarana dan prasarana sekolah nyaris cair dihondoh gempa. Yang terparah, gedung SMK Negeri 3 Bukittinggi nyaris ambruk karena gedung bertingkat itu mengalami retak yang cukup parah. Sementara, ribuan pelajar Bukittinggi bulan depan mengikuti Ujian Nasional.

Di sektor kesehatan begitu pula. Gedung RSAM yang selama ini damai tiba-tiba menjadi gedung yang menakutkan paska gempa. Ratusan pasien terpaksa diungsikan di halaman dan jalan di depan rumah sakit. Begitupula di RS Yarsi Ibnu Sina dan RSUP Bukittinggi. Puluhan korban luka-luka akibat gempa, harus rela kedinginan di luar ruangan, meski berteduh di bawah tenda.

Sektor perdagangan yang paling menyedihkan. Ekonomi masyarakat Bukittinggi lumpuh total paska gempa dan kebakaran di Pasar Wisata. Ribuan toko tutup, PKL tak berani lagi berdagang. Bukan takut dikejar-kejar petugas Yustisi, tapi tak mau ambil resiko terhadap gempa yang diprediksi bakal berulang.

Lengkaplah sudah cerita tentang duka di Bukittinggi paska gempa. Namun, kedukaan tak pernah menyelesaikan masalah. Pak Wali selalu mewanti-wanti, kita harus bangkit membangun kota ini kembali.

Dan, kebersamaan itu pula yang saat ini begitu terasa di Bukittinggi, yang mungkin selama ini, sebelum gempa terjadi, suasana itu belum tentu ditemui.

Terharu saya, ketika Pak Wali bersama jajarannya sigap dan tanggap mendata korban, menyalurkan bantuan, tak pandang masyarakatnya miskin atau berada. Semua mendapat jatah rata. Posko Satkorlak dibentuk, bahkan hingga kecamatan dan kelurahan.

Lengkaplah kebersamaan itu. Tuhan selalu memberi hikmah dibalik bencana. Semoga selamanya. Dan, meminjam istilah partai Pak Wali pula, “bersama kita bisa”. []

(Dimuat di Kolom Detak Jam Gadang Koran Harian Haluan, 9 Maret 2007)

Kunjungi: www.korandigital.com

Antara Cut Tari, Luna Maya dan Saya


Oleh Muhammad Subhan

Saya tidak memasukkan nama Ariel pada judul diatas. Pertama, alasannya, terlalu panjang. Kedua, Ariel sudah cukup terkenal. Apalagi setelah terseret skandal vidoe seks, yang kebetulan, baru diributkan media massa. Dan, ketiga, mungkin saja saya bisa ikut numpang terkenal ketika menderetkan nama saya dengan para selebritis populer seperti Cut Tari dan Luna Maya.

Tapi apakah saya ikut-ikutan terseret skandal itu, ah, entahlah. Jujur, saya kenal dekat dengan Cut Tari dan Luna Maya, karena setiap pagi diam-diam saya ikut nguping tayangan gosip di televisi swasta yang diputar istri saya. Tapi apakah Cut Tari dan Luna Maya kenal saya, ini persoalan juga saya kira. Lalu apakah ada beredar pula video saya dengan kedua wanita itu, wah, tak tahu saya kalau itu sampai terjadi dan bagaimana bisa.

Terlepas ada tidaknya video saya dengan Cut Tari dan Luna Maya, saya benar-benar prihatin melihat penghakiman luar biasa yang dilakukan media massa terhadap kedua perempuan itu. Hampir setiap hari di televisi cerita tentang mereka menjadi berita utama, mengalahkan issue Century yang makin redup, lebih wah dari kasus pembantaian aktivis pro Palestina, lebih semarak dibanding perhelatan Pilkada kepala daerah yang tinggal menghitung hari.

Tentu, itu terjadi lantaran Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan sejumlah nama artis yang dikaitkan lainnya adalah publik figur di dunia hiburan yang gemerlap dan sering diperbincangkan dan menjadi idola sejumlah orang. Dan, persoalan seks sejak zaman baheula selalu menarik diperbincangkan karena terkait moral. Apalagi ketika skandal itu diekspose dan beredar, diunduh oleh jutaan orang, dimuat menjadi berita utama di koran-koran, atau menjadi kupasan bibir pembawa acara tayangan infotaintmen di layar kaca.

Tapi persoalannya apakah itu cukup penting menjadi tontonan publik yang juga punya hak privasi untuk dilindungi, khususnya anak-anak dan remaja? Selayak pertanyaan, apakah Ariel, Cut Tari dan Luna Maya masihkah punya moral, demikian pula apakah cukup bermoral media yang saban hari menyiarkan aib mereka? Siapakah yang paling bermoral, artis pelaku skandal seks atau media massa yang mengungkap skandal itu?

Siapapun tahu, dunia artis yang gemerlap rentan penyimpangan seks meski tidak semua mereka melakukan itu. Dan, kasus Ariel, Cut Tari, Luna Maya, hanya gunung es dari sekian kasus lainnya yang tak terungkap. Sama halnya dengan kasus suap menyuap yang melibatkan oknum aparat, kasus korupsi yang dilakoni oknum pejabat, maupun kasus-kasus lainnya yang terjadi di belahan bumi Nusantara yang menyebabkan orang miskin bertambah miskin dan bencana melanda dimana-mana.

Saya tidak paham benar apakah pemberitaan tentang skandal seks Ariel, Cut Tari, Luna Maya itu salah satu bentuk hiburan semata yang disuguhkan media massa atau berupaya memberikan pendidikan seks kepada generasi muda. Ya, pendidikan disertai contoh bahwa apa yang diungkapkan media adalah salah satu jenis dampak seks yang menyimpang plus akibat yang terjadi jika dilakukan. Tapi cukup pentingkah bagi generasi muda yang selama ini mereka masih pusing memikirkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, lapangan kerja yang sulit, atau biaya hidup yang kian melangit?

Atau pemberitaan itu malah melahirkan kasus-kasus serupa yang dilakoni para remaja kita seperti yang sebelumnya pernah dihebohkan di berbagai daerah; remaja usia pelajar yang melakukan mesum di bilik kost lalu direkam di dalam kamera handphone, bahkan ada pula yang berani melakukannya di ruang kelas mereka sendiri? Entah kenistaan apa lagi yang pantas diungkapkan.

Tapi inilah wajah Indonesia yang sulit ditutupi lantaran topeng yang membalut bopeng itu telah rusak dan diinjak-injak. Media massa yang seharusnya berfungsi edukasi malah lebih senang ngerumpi. Walau tidak semua media terjebak di lobang yang sama, setidaknya sebagian besar pengelola media di negeri ini ‘sepakat’ menayangkan aib demikian dengan alasan mendongkrak rating dan pasar.

Entahlah, pening saya. Walau sejujurnya saya kenal dekat dengan Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, saya tidak mau mempersoalkan apakah mereka kenal atau tidak dengan saya. Yang pasti, kalau profesi saya sebagai Penghulu, saya akan nikahkah mereka, meski tak segampang yang saya kira. []

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=7560

Sabtu, 01 Mei 2010

Kemarau di Desa Bangkirai

Taufiq Ismail

Seekor anjing melolong larut di lereng bukit bertubir
Bulan merah di sungai bulat mengapung. Hangus dan pijar
Kurus lembah kuning patah daun tebu didukung punggung gunung
Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh

Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh
Kemarin tengah hari udara meleleh
Di Padang Panjang Kerbau si Sati, kambing coklat mengah-ngah
Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus

Di ladang padi sekeping bumi kering makin retak-meretak
Di jantung penghuni rindu dan dahaga tetak-menetak

Kami terbaring di pondok pelupuh
Malam Ramadan ngilunya lagi
Ketika teriakan siamang bertalu membelahi lembah
Sati melompat bangkit menerjang daun jendela: Hitam kental mencat daerah sangsai

Lereng huma padi mendenting kehausan
Musim manis pabila tiba?

hari berhujan sayang subuh berasap tungku tengguli

Tapi malam kemarau belah teriakan siamang bertalu-talu*)
Menopan ke jantung penghuni mengentali deru
Musim hujan datang! Musim hujan datang!

Hujan oooi, hujaaaaan!
Hujan oooi, hujaaa – aaa aa – aaan!

Kisah, no 7, thn. III, Juli 1955

*) Penduduk sekitar Baruh di kaki gunung Singgalang bertahayul, bahwa apabila di larut malam siamang berteriak-teriak, maka keesokannya tentu akan terjadi apa-apa yang luar biasa.

Rimba Jati (Alas Roban)

Taufiq Ismail

Mendenyut kemarau ke jantung rimba
Hutan Roban jati mengujur bukit
Kehidupan coklat terbentang di sela musim

Seekor elang menyelinap hitam dahan-dahan botak telanjang
Lengking menikam ruang terkabar daun-daun kesat membumi
Tanah mersik menua, jati dewasa di dada

Mendesing musim ranggas kuning-kuning bercenungan
Bukit penyimak peristiwa terbungkuk tua
Mengujurkan kakinya ke laut kelabu

Gairah terbaring pada satu hanya musim
Depan rimba jati, mendenting pada satu titik api
Gairah terik musim membakar jantung rimba jati

Menerjang asin ombak ke kaki bukit terbungkuk tua
Bumi mersik lekah di puncak demam makin melela
Demam rimba jati dituang ke satu titik api musim di muka.

Siasat, no 416, thn. IX, 29 Mei 1955

Dadang, Pemetik Kecapi Tua

Kepada Bahrum Rangkuti

Taufiq Ismail

Dilingkarkannya angin pegunungan pada denting-denting selalu di suara sendu berlagu margasatwa

Bila Dadang tiba tua, dan ada bersua senyap angin bening lembah

Kumandanglah kumandang timang desir lena angin subuh bambu-bambu berlagu selalu rindu

Sepagi embun Dadang tua tiba, menyingkap cadar hari berlagu lembah biru dan burung pagi mengitari dada bumi.

Siasat, no 372, thn VIII, 25 Juli 1954

Doa dalam Lagu

Taufiq Ismail

Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.

1953

Jumat, 30 April 2010

Susah Jadi ‘Orang Susah'

Susah Jadi ‘Orang Susah'
Oleh: Muhammad Subhan

KATA orang susah, sangat susah jadi ‘orang susah’. Ya, jelas saja, semuanya serba susah. Tak punya rumah susah, anak banyak susah, utang berserak susah, anak tak sekolah susah, tak punya kerja susah. Lalu kesusahan demi kesusahan pun menghantui setiap hari.

Tapi salahkah orang susah menjadi susah hidupnya karena terhempas dari beratnya persaingan hidup? Kata pepatah, “bukan salah bunda mengandung”. Lalu, siapa yang disalahkan? Tuhan? Bukan! Jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Bisa ‘cilako’ awak!

Tuhan Maha Besar. Maha Bijaksana. Maha Pengasih dan Penyayang. Tak sedikit pun Tuhan ingin melihat hamba-hamba-Nya hidup di dalam kesusahan. Agama mengajarkan; “fiddun ya hasanah, wafil akhirati hasanah”. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lalu, siapa yang menyusahkan hidup orang susah? Kata seorang Buya dalam ceramahnya di masjid; diri ‘awak’ lah yang membuat ‘awak’ susah. Awak menyusahkan diri sendiri!.

Seorang jemaah protes, “baa model tu kaji Buya? Sia pulo yang ingin dirinyo susah? Tapi kesusahan tu bana yang tibo tanpa awak undang,” sanggah si jemaah.

Buya tersenyum. Lalu dengan bijaksana menjawab; beristighfarlah kita pada Allah. Bermohon ampunlah. Jangan sekali-kali kufur akan nikmat yang diberikan-Nya. Bersyukurlah.

Lalu Buya membaca ayat-ayat Alquran, surat Ar-Rahman. Ayat yang berulang-ulang. Artinya ditafsirkan Buya; ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’ Allah telah memberikan mata, telinga, tangan, kaki, namun manusia sering tidak menggunakan semua itu secara baik. Bahkan, karena lemah menghadapi kesusahan, banyak pula orang yang menjual harga diri; meminta-minta, jadi pengemis, bahkan melacur. Padahal, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Memberi lebih baik dari menerima.

Panjang lebar Buya mengaji. Buya ingin menekankan pentingnya rasa syukur. Manusia jangan mudah kalah pada lika liku hidup. Semuanya proses yang harus dihadapi. Manusia harus berjuang.

Jemaah menekur. Mengangguk-angguk. Sebagian ‘takantuak-kantuak’.

Tapi itulah jadinya kalau awak kurang ‘tamakan kaji’. Ketika Buya ceramah di masjid semangat tiba-tiba bergairah kembali. Tapi ketika keluar masjid, kadang kalah lagi awak hadapi kesusahan hidup. Di masjid Buya kaji teori, di luar masjid awak menghadapi realitas hidup hari ini.

Di negeri ini siapa bilang tak ada orang susah. Di mana-mana orang pun sering mengaku hidupnya susah. Kalau tidak percaya, cobalah sekali-kali ‘tes’ awak meminjam ‘pitih’. Jawaban yang akan awak dengar, “Wah, lagi susah. Awak lagi butuh ini itu, segala macam. Susah, lah. Jangan sekarang pinjamnya. Lain waktu saja.” Begitulah kira-kira.

Gambaran orang susah yang sebenar susah pun dapat dilihat jika awak berjalan di kawasan pasar. Hitunglah berapa banyak peminta-minta di sana. Ada pengemis yang dipapah istrinya, dituntun anaknya. Ada yang mengemis sendiri dengan papan roda didudukinya. Ada pula yang berbaring. Ada yang setengah memaksa meminta sedekah. Wah, benar-benar pemandangan susah yang menyusahkan hati orang-orang yang melihatnya.

Konon kabarnya, orang-orang susah itu bukan orang kota. Datang dari kota-kota pinggiran. Datang pagi pulang sore. Begitu saban hari. Tapi kok teganya pemerintah membiarkan begitu terus. Katanya ada petugas yang menertibkan. Tapi kenapa orang-orang susah itu semakin banyak saja di lapangan. Siapa yang salah? Orang susah yang mencari hidup ke kota atau petugas yang setengah hati menertibkan mereka? Walah, serba susah juga.

Yang jelas, Kota Padang yang cantik ini bukan hanya untuk orang-orang yang senang saja hidupnya. Multi kehidupan ada di sini. Dan, alangkah indahnya dunia ini, jika orang-orang senang bermurah hati menyantuni yang susah, dan yang susah pun bersyukur akan nikmat yang didapatkannya dari pemberian orang-orang senang. Melalui pembinaan, pendidikan, kasih sayang, sehingga orang-orang susah itu tidak lagi meminta-minta di tengah kesusahannya. Wallahu a’llam. []

Kamis, 29 April 2010

BIMBANG

Muhammad Subhan

aku menatap harap dalam gelap
di kisi waktu yang membeku
bukan jiwa kehilangan rasa
hanya hati yang tak yakin diri

Padang Panjang, 2010

Rabu, 28 April 2010

Gempa Pemikiran

Oleh: Muhammad Subhan

TERBAKARNYA Ustano Basa Pagaruyung di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar, banyak orang mempredeksi sebagai awal bencana demi bencana yang terjadi di Sumbar. Sepekan paska kebakaran Ustano yang kini di polemikkan banyak pihak, gempa bumi berkekuatan 6,2 SR menguncang Sumbar.

Musibah yang tak diduga itu, mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, ribuan rumah dan fasilitas umum rusak, tak terkecuali masjid dan musalla, roboh pula dihoyak gempa.

Ustano Pagaruyung terbakar pada Selasa (27/2/2007), dan gempa besar mengguncang Sumbar juga pada Selasa (6/3/2007). Bedanya, Ustano terbakar pada Selasa malam, sedangkan gempa terjadi pada Selasa siang. Saya tak dapat membayangkan jika gempa terjadi pada malam hari, ketika masyarakat lelap dalam mimpi, entah berapa nyawa pula yang melayang. Beryukurlah karena Tuhan masih sayang pada kita.

Sebelum Ustano terbakar, banyak orang tua di Pagaruyung kaget melihat ribuan lebah yang bersarang di bawah atap bagian depan Ustano menghilang. Pergi entah kemana. Peristiwa itupun menjadi pertanda bahwa akan ada musibah besar yang menimpa Tanah Datar, Sumbar umumnya.

Wartawan Kompas Yurnaldi jauh hari sebelum terbakarnya Ustano menulis tentang keberadaan lebah itu yang menarik perhatian pengunjung. Lebah yang akrab dan tak mengganggu orang-orang yang datang mengagumi keindahan Ustano. Bahkan, Puti Reno Raudha Thaib yang diwawancarai Yurnaldi mengatakan, jika lebah itu berpindah tempat akan ada pertanda buruk, ada bencana yang akan datang.

Wallahu a’llam. Tak ingin saya mengkait-kaitkan soal perginya lebah dan terjadinya kebakaran Ustano yang sepekan kemudian Sumbar dihoyak gempa. Namun, semua perestiwa yang terjadi itu, setidaknya mengingatkan kita bahwa bencana yang diturunkan Tuhan terkait erat dengan perbuatan manusia, hamba-hamba-Nya.

Gempa di Sumbar memang tak sedahsyat gempa 6,8 SR disusul tsunami yang terjadi di Aceh tiga tahun silam. Ratusan ribu nyawa manusia melayang di Aceh. Takjubnya, ribuan masjid yang dihoyak gempa dan dihantam tsunami tetap berdiri kokoh, utuh. Lalu masjid pun dijadikan tempat berlindung.

Di Sumbar, gempa tanpa tsunami telah merobohkan banyak masjid. Bahkan jemaah yang menunaikan salat di dalam masjid, nyaris di”impok” reruntuhan masjid. Beberapa hari lamanya, orang ‘tak berani’ mendatangi masjid.

Dan, paska gempa di Sumbar, timbul bencana baru yang lebih dahsyat; “gempa pemikiran” (istilah saya—red). Nyaris, hampir setiap hari, baik di media massa maupun di lapau-lapau, orang meributkan soal pembangunan kembali Ustano. Tampaknya Ustano lebih penting daripada Masjid Agung di Padang yang entah kapan pula mulai dibangun.

Yang lebih parah, “gempa pemikiran” itu sudah melangkahi norma-norma keintelektualan yang bermuara pada hujat-menghujat, caci memaki, dan fitnah memfitnah. Sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang ‘netral’ belum pula bersuara untuk menengahi.

Padahal, sebagai orang Minang, budaya duduk mufakat, “raso jo pareso, kato nan ampek, maluruihan nan kusuik”, sangat dijunjung tinggi. Begitupula, “mancaliak ka nan sudah”—musibah gempa yang terjadi—hendaknya menjadi bahan perenungan, bukan olok-olokan yang mengundang ‘gempa-gempa’ baru. Dan, kita berharap, dengan perenungan itu, berjayalah kembali “Minangkabau”! []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Harian Haluan, 28 Maret 2007)

SENJA DI DERMAGA

Muhammad Subhan

kulabuhkan rindu
pada dermaga berlaut biru
tapi tak kutemukan kata
di riaknya yang menawar cinta
angin berbisik
elang mengulik
sudah nampakkah tanah daratan itu?
entahlah
biduk kehilangan kayuh
sauh pun tak mampu menggapai dasar laut
kalut
jalan kehilangan arah
resah

Padangpanjang, 2010

Bukittinggi Pulih

Oleh: Muhammad Subhan

IBARAT sembuh dari sakit, Bukittinggi kembali pulih pascagempa 6,2 SR di Sumbar, Selasa (6/3/2007) lalu, yang ikut mengguncang kota wisata ini. Empat sektor unggulan yang menjadi andalan Bukittinggi, seperti pariwisata, perdagangan, pendidikan dan kesehatan, sempat terganggu dan membuat kota ini menjadi sorotan luas masyarakat luar Sumbar.

Di sektor pariwisata, meski sejumlah objek wisata rusak, seperti Lobang Japang dan Jenjang Seribu, demikian pula dengan beberapa hotel, namun tidak menyurutkan keinginan turis Malaysia untuk berkunjung ke kota Bukittinggi. Bahkan, negeri jiran itu bersimpati membantu meringankan beban korban gempa dengan memberikan sejumlah bantuan.

Di sektor pendidikan, aktivitas belajar mengajar kembali berjalan normal meski beberapa sekolah harus menggelar tenda di pekarangan sekolah akibat gedung mereka rusak dihoyak gempa. Siswa kelas tiga masing-masing tingkatan diimbau pula untuk meningkatkan jam belajar sehingga pada Ujian Nasional mendatang mendapatkan nilai terbaik.

Begitu pula di sektor perdagangan, sempat lumpuh akibat terbakarnya Pasar Wisata yang termasuk kawasan terpadat di Bukittinggi. Di beberapa pasar lainnya, para pedagang telah mulai membuka toko mereka. Suasana yang menggembirakan, terlihat di Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuning yang sangat ramai dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Apalagi, suasana pasar disemarakkan pula dengan banyaknya PKL yang menggelar dagangan.

Di sektor kesehatan, meski soal darah dan keterbatasan pen (besi) untuk korban patah tulang masih dipermasalahkan, namun setidaknya pasien tak lagi terlihat di pekarangan maupun di jalan-jalan depan rumah sakit. Pasien sudah dimasukkan kembali ke bilik-bilik rumah sakit yang bersih dan nyaman. Namun, untuk kesiagaan, seperti di RSAM dan RS Yarsi, tenda-tenda darurat masih dibentang.

Gempa memang dahsyat. Warga sangat trauma dengan bencana yang sebenarnya merupakan dampak informasi pada peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam. Tapi, untunglah di Sumbar tidak ada tsunami dan bangunan rusak akibat gempa tidak terlalu memprihatinkan seperti halnya Aceh.

Di Bukittinggi, yang sangat fenomenal dari bencana ini, adalah ketika RAPBD Kota Bukittinggi akan disahkan. Berawal dari beberapa masukan dari fraksi-fraksi di DPRD dan menit-menit menjelang ‘ketuk palu’, ketika itu pula gempa menghoyak kota wisata ini. Mungkin, secara tersirat, Tuhan cuma mau bilang, “jangan main-main sama uang rakyat”.

Wallahu a’llam, hanya Dia yang tahu. Namun yang jelas, banyak hikmah yang terkandung dari bencana yang Tuhan berikan. Meski kadangkala, dalam memberi hikmah itu, ada yang menjadi korban adapula yang membantu korban.

Tapi itulah realita kehidupan. Mungkin, selama ini yang kuat (pemimpin) lupa pada yang lemah (rakyat). Atau pula kezaliman dan kemaksiatan makin pula merajalela. Dan, janji Tuhan dalam kitab-Nya, ada ujian bagi yang beriman, petaka bagi yang ‘melawan’.

Bersyukurlah kita, dalam hitungan hari, Bukittinggi kembali berbenah. Bangkit dari ‘sakit’. Menatap masa depan. Dan, kembali berbuat yang terbaik untuk masyarakat kota ini.

Di sela-sela semangat itu, terdengar sayup-sayup doa dari bibir warga-warga di pengungsian. Mereka yang kedinginan di kala malam, kepanasan pula di kala siang. “Tuhan, ringankan langkah pemimpin kami, luaskan rezekinya, dan jadikan ia pemimpin yang sayang pada kami…”. []

Bencana dan Angka

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sebenarnya tidak begitu percaya pada angka-angka. Tapi ternyata, hidup ini juga penuh dengan angka-angka. Ibarat Matematika pula kata orang. Penuh misteri.

Begitupula soal bencana yang akhir-akhir ini beruntun menimpa tanah air. Tak hanya sekali dua kali. Sudah berkali-kali pula. Berulang. Berbilang dan selalu banyak nyawa melayang.

Anehnya, soal angka tadi, dari satu tragedi dengan tragedi lainnya, angka pada tanggal, bulan dan tahunnya, hampir ada pula kemiripan. Begitupula dengan bilangan-bilangan lainnya terkait bencana itu sendiri. Entahlah, apa bisa pula dikait-kaitkan, mana tahulah awak.

Dan, tiada niat hendak mendahului Tuhan atau ingin pula seperti ahli Astrologi berbicara soal tragedi dan angka-angka ini. Tapi, setidaknya beberapa fakta bencana di tanah air berikut ini, sedikit banyak terkait pula soal angka-angka.

Sebagai contoh, pada tanggal 1 bulan 1, pesawat Adam Air dan KM Senopati kecelakaan. Satu lawan satu, meski satu di udara dan satu di laut. Semua penumpang Adam Air belum ditemukan dan begitu pula sebagian penumpang KM Senopati juga belum ada kabar beritanya.

Tanggal 2 bulan 2, banjir hebat melanda Jakarta dan beberapa kota lainnya. Sekitar 70 nyawa melayang. Puluhan triliun untuk nilai infrastruktur yang rusak.

Begitupula, tanggal 3 bulan 3, KM Levina I juga merenggut nyawa manusia. Tak hanya penumpang, tapi juga wartawan yang meliput ke TKP. Dan, pada tanggal itu pula galodo terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Masih ada lagi, tanggal 7 bulan 3 tahun 2007 (7-3-07), pesawat Garuda Boeing “737” kecelakaan dan menewaskan 21 orang. Garuda terbakar pada jarak 400 meter dari landasan. Lagi-lagi tragedi pesawat udara.

Dan sehari sebelumnya, tanggal 6 bulan 3, gempa bumi berkekuatan 6,3 menghoyak Sumatra Barat. Sedikitnya 73 korban meninggal dunia. Ribuan rumah, gedung perkantoran, masjid, sekolah, rusak parah. Ranah Minang berduka.

Sekilas diperhatikan semua angka-angka itu, ada angka kembar dan punya kecocokan. Dan, semuanya terjadi pula setiap bulannya. Tak tahu kita, apapula bencana pada bulan 4 mendatang. Semoga saja tidak ada lagi bencana yang selalu menghadirkan air mata.

Namun yang jelas, sebagai umat beriman, hendaknya Tuhan kembali kita hadirkan di masing-masing hati kita. Sebab, bencana bukan hanya karena ada “niat” alam bosan bersahabat dengan manusia, tapi juga karena ada “kesempatan” kita melupakan Tuhan. Waspadalah, waspadalah!

Ya, agar jangan ada lagi angka-angka yang dikait-kaitkan dengan bencana. Bisa syirik kita. Semoga, selalu damailah dunia… Wallahu a’llam. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 15 Maret 2007)

Bus Khusus Perempuan

Oleh: Muhammad Subhan

PEKANBARU bukan kota yang menerapkan Syariat Islam. Namun, apa yang dilakukan pemerintah kota itu dengan meresmikan pemakaian bus kota khusus perempuan (Antara, 17 Februari 2007), nampaknya perlu ditiru oleh daerah-daerah yang menjalankan Qanun Syariat Islam. Bahkan setahu saya, Nanggroe Aceh Darussalam yang telah memulai Syariat Islam, bus kota di daerah itu belum ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan, apalagi mengkhususkan untuk laki-laki atau perempuan.

Pekanbaru setidaknya memulai alaf baru bagi dunia transportasinya. Ide mengadakan bus khusus perempuan itu, mengingat ‘nasib’ kaum hawa yang sering menjadi sasaran empuk kejahatan di dalam bus, seperti objek pelaku kriminal dan tindak pelecehan seksual.

Begitupun, pemakai bus umumnya adalah para wanita produktif dari kelas ekonomi bawah. Karena penumpang angkutan umum itu adalah perempuan semua, maka pemerintah kota itupun harus melengkapi bus khusus perempuan dengan fasilitas alarm serta menempelkan nomor-nomor penting kepolisian.

Keberadaan bus khusus perempuan ini tentu saja pertama ada di Indonesia. Karena khusus bagi perempuan, jelas saja kaum lelaki ‘dilarang’ naik--meski sopir dan kondekturnya masih laki-laki. Namun, pemerintah setempat juga berencana membuka lowongan sopir dan kondektur dari kaum hawa. Weleh!

Kehadiran bus kota tersebut juga dengan sendirinya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kaum perempuan di Pekanbaru yang banyak bekerja di luar rumah untuk berbagai keperluan.

Sampai saat ini, jumlah bus khusus itu masih terbatas. Baru 5 unit dan melayani rute yang jarang dilalui angkutan umum. Dan, setiap penumpang yang mempergunakan bus kota itu dikenai ongkos Rp2.000 per orang atau sama dengan tarif bus kota lainnya.

Dengan adanya bus itu, jelas saja kaum perempuan di Pekanbaru tidak ragu lagi keluar rumah, meski kejahatan tidak saja ada di dalam bus kota. Tapi setidaknya, kaum perempuan di sana merasa lebih leluasa karena di dalam bus itu hanya ada kaumnya.

Di Sumatra Barat, Kota Padang khususnya, keadaan bus kota sangat memprihatinkan. Jangankan mengadakan bus khusus perempuan, menata bus kota atau angkot saja Pemerintah Kota Padang sering kewalahan. Maka, keluhan penumpang di Kota Padang tidak lain; suara musik keras yang memekakkan gendang telinga, sopir ugal-ugalan dan kebut-kebutan, serta dinding bus atau angkot menggunakan kaca film sehingga memberi peluang bagi ‘anak bola’ untuk mencopet.

Beberapa kali teman-teman saya di Padang ‘dikompas’ di atas bus kota. Bahkan yang sangat berbahaya, oknum preman dalam bus kota membawa pisau lipat. Mereka tak pandang korban laki-laki atau perempuan. Semua disikat!

Sewajarnya, saya kira, ide bernas Pemerintah Kota Pekanbaru itu pantas pula ditiru Pemko Padang serta kota-kota lainnya di Sumbar. Memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan, mencerminkan juga budaya keislaman yang bermuara pada kenyamanan penumpang. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 22 Februari 2007)

Menata yang ‘Ketek’

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sepakat komentar Bung Kasra Scorpi yang menulis di kolom ini dua hari lalu bahwa orang-orang ‘ketek’ (Pedagang Kaki Lima—red), jangan digusur melainkan diatur. Sebab, keberadaan orang-orang ‘ketek’ itu sedikit banyak ikut pula berjasa bagi kemajuan Bukittinggi sebagai kota tujuan wisata di Sumatra Barat.

Dan, PKL yang orang ‘ketek’ itu, di kota manapun keberadaan mereka tak dapat dipungkiri. Di kawasan Tanah Abang Jakarta, Pasar Tembung Medan maupun di kawasan Malioboro Yogjakarta, banyak pula PKL yang berasal dari Minang dan sebagian besarnya orang Bukittinggi. Di sana, PKL diatur karena siapapun berhak mencari nafkah di bumi Allah ini.

Kalau di negeri orang PKL asal negeri kita diatur, kenapa pula PKL yang mencari nafkah di negeri sendiri digusur? Ini ironis kiranya. Bahkan, saya menemukan beberapa PKL paska Operasi Yustisi yang tertekan dan stres akibat gerobak atau barang dagangan mereka disita petugas. Belum lagi yang tertangkap dan nyata-nyata dianggap melanggar Perda. Mereka diminta membayar denda pula yang bagi mereka tidak kecil jumlahnya.

Saya termasuk yang tidak berharap persoalan orang-orang ‘ketek’ terangkat menjadi persoalan besar. Sebab, tak seorang pun dari warga kota ini—dan, siapapun kita—yang dulunya tiba-tiba menjadi orang besar (sukses, hebat, lebih baik, kaya, dll) tanpa lebih dulu menjalani masa-masa sulit yang sedang dihadapi orang-orang ‘ketek’ hari ini.

Wakil Walikota Bukittinggi H. Ismet Amzis sendiri kepada saya mengatakan bahwa beliau juga berasal dari keluarga ‘ketek’. Orang tua beliau adalah pedagang ‘ketek’ di kawasan Pasar Aur Kuning. Tentunya, saya kira, sebagai salah seorang pimpinan di pemerintahan kota yang berlatarbelakang keluarga orang ‘ketek’, Pak Wawa—demikian beliau akrab disapa—sangat peka terhadap nasib orang-orang ‘ketek’ lainnya. Apalagi Pak Walikota yang konon sosoknya sangat bijaksana dan berwibawa.

Menumpahkan kesalahan sepenuhnya kepada pemerintah kota, saya kira tak adil pula. Sebab, sudah tugas dan tanggung jawab pemerintah kota menata kotanya menjadi kota yang baik, tertib, aman, dan nyaman. Tujuannya, tidak lain untuk ketentraman warga juga. Karena sesungguhnya, penegakan aturan adalah wujud kewibawaan dan harga diri pemerintah, dimanapun ia diamanahkan untuk menerapkan aturan.

Dan, pemerintah Kota Bukittinggi telah menyatakan pula bahwa tak ada niat Pemko hendak ‘mematikan’ usaha PKL (Haluan, 9 Februari 2007). Namun, Pemko Bukittinggi saat ini seolah memakan buah simalakama. Satu sisi, PKL adalah juga warga kota (dan daerah sekitarnya—red) yang harus sejahtera, di sisi lain aktivitas PKL yang memakai fasilitas umum sebagai tempat berjualan semakin tidak bisa ditolelir. Maka itu Operasi Yustisi digelar.

Bayangkan, kata Pemko, pertumbuhan PKL di Bukittinggi tidak saja terjadi setiap bulan melainkan sudah tiap hari. Tak salah kalau pasar-pasar di Bukittinggi dan sejumlah kawasan umum lainnya ‘dipenuhsesaki’ PKL. Jalan sering macet, sampah berserak, gerak pejalan kaki terhambat, sehingga menimbulkan berbagai efek negatif lainnya.

Menyaksikan semua fenomena itu, menurut hemat saya, sudah sewajarnyalah pemerintah kota mengeluarkan kebijakan menata PKL—bukan menggusur. Ide memeratakan wilayah dagang PKL tak salah kiranya diterapkan. Tentu, pemerintah kota bekerjasama dengan Assosiasi PKL dan instansi terkait lainnya harus memiliki data berapa jumlah PKL di kota ini. Adanya izin berdagang, penyebaran wilayah dagang ke lokasi-lokasi yang tidak terlalu padat, serta membatasi jumlah PKL baru, sudah mendesak dilakukan. Tentunya, tetap melalui jalur musyawarah mufakat, mengkaji untung rugi, baik buruk, dan jangan sampai ada yang terzalimi.

Memang, persoalan nasib orang-orang ‘ketek’ selalu ada di mana saja. Mereka butuh ‘pembinaan’, bukan ‘pembinasaan’. Mereka butuh ‘perhatian, bukan ‘hardikan’. Dan, mereka butuh ‘cinta kasih’, bukan ‘pilih-pilih kasih’. ***

(Kolom Detak Jam Gadang Koran Haluan, 10 Februari 2007)