Rabu, 02 Februari 2011

Kisah Kasih Tak Sampai dalam Novel "Rinai Kabut Singgalang"

Oleh Tiara Mairani*)

Secara umum mungkin orang berpikir bahwa novel hanyalah sekedar sebuah cerita perjalanan hidup dan kisah-kisah cinta seseorang. Sebuah cerita yang nyata jika dijelaskan dari covernya dan ada dari sebuah khayalan seorang pengarang.

Dapat dilihat banyak orang hanya membaca novel begitu saja dan setelah tamat ya sudah. Sekedar hiburan menghabiskan waktu luang. Tanpa memahami dan mengambil nilai-nilai yang ditanamkan pengarang dari cerita itu untuk dapat ditiru sisi baiknya. Dan, generasi muda sekarang lebih cenderung suka pada novel dari luar negeri dan diluar wilayah ranah Minang. Sementara penulis dan sastrawan terkenal banyak yang berasal dari ranah Minang. Sebut saja diantaranya, Buya Hamka dan Taufiq Ismail adalah sastrawan yang berasal dari ranah Minang dan diakui karya-karyanya yang membawa pencerahan. Sekarang ini, pengarang muda asal Padang Panjang, Muhammad Subhan yang baru menerbitkan novelnya berjudul "Rinai Kabut Singgalang" telah menjadi penerus Taufiq Ismail, Buya Hamka dan sastrawan lainnya.

Sebagai generasi muda hari ini kapan kita ingin berkarya dan mewarisi mereka? Siapa lagi yang akan menjadi penerus mereka kalau bukan kita? Hilangkanlah sifat malas yang telah tertanam dalam diri kita masing-masing. Ayolah mulai membaca dan menulis. Keluarkan inspirasi dan jadi penerus yang dapat dicontoh oleh generasi selanjutnya. Mari bersama-sama kita 'mambangkik batang tarandam'. Buktikan pada dunia bahwa kita mampu untuk berkarya dan menjadi penulis (sastrawan) terbaik.

Sekarang, mulailah kita mencintai karya dari negeri sendiri dan daerah kita masing-masing. Tentu kita tidak akan rugi untuk banyak membaca, karena membaca dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Mungkin, sebagian besar di antara kawan-kawan belum membaca novel RKS yang banyak mengandung nilai-nilai dan juga sangat mendidik. Novel ini terbit Januari 2011 diterbitkan Penerbit Rahima Intermedia Publishing, Yogyakarta. Prolog ditulis Damhuri Muhammad, seorang cerpenis dan esais nasional yang juga orang awak namun berdomisili di Jakarta.

Dalam novel ini, pengarang sangat pandai membangun konfik yang kuat dan ditulisnya dengan bahasa sederhana namun begitu mengesankan. Pembaca seolah ikut terlibat di dalamnya. Dalam bab per babnya, pengarang banyak menanamkan nilai-nilai luhur yang tentu saja pembaca dapat menjadikannya sebagai ibrah (pelajaran). Latar cerita sangat mendukung dan alur yang tidak mudah membuat pembaca bosan.

Pengarang menanamkan nilai agama yang kuat pada tokoh utama (Fikri). Fikri yang sangat taat dalam menjalani tugas dari Yang Maha Kuasa dan suaranya yang merdu membuat semua orang yang mendengar adzan yang dikumandangkannya serta irama bacaan Quran, banyak orang kagum dan bangga kepadanya. Fikri pun sempat menjadi guru untuk memberi pengajian kepada ibu-ibu majelis taklim yang dipimpin oleh Bu Aisyah (orangtua angkat Fikri di Padang).

Fikri mengenal Bu Aisyah pada saat ia menumpang bus dari Aceh kampung ayahnya menuju Kajai, kampung kelahiran ibunya. Fikri berdarah Aceh-Minang. Ibunya (Maimunah) berasal dari Kampung Kajai, Pasaman dan ayahnya (Munaf) berasal dari Aceh.

Dikisahkan, pernikahan Maimunah dan Munaf tidak direstui oleh keluarga ibunya. Dengan alasan Munaf orang datang. Terjadilah konflik itu, sementara Maimunah sangat mencintai Munaf. Lalu Maimunah menentang adat di kampungnya, ia pun tetap menikah dengan Munaf dengan cara pergi meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya. Kepergian Maimunah itu, membuat orang tuanya menanggung malu hingga jatuh sakit dan meninggal dunia. Sementara kakak Maimuna, Safri, ikut pula sakit--mengidap gangguan jiwa--hingga iapun dipasung orang kampung di tengah kebun manggis di kaki Gunung Talamau.

Singkat cerita, Fikri pergi meninggalkan kampung ibunya itu menuju Padang. Tujuannya untuk kuliah, disamping ia menghadapi cobaan dengan tewasnya mamaknya Safri akibat dianiaya oknum pemuda. Sejak itu, ujian dan cobaan terus menderanya.

Di Padang, ia bertemu Rahima, seorang gadis remaja yang molek parasnya dan baik budi bahasanya. Ia pun jatuh hati kepada gadis itu yang tak lain adalah putri Bu Aisyah. Dan, ternyata Bu Aisyah juga sangat sayang kepada Fikri. Bu Aisyah lah yang mempertemukan Fikri dengan Bu Rohana, orangtua angkat kedua Fikri dimana ia menumpang tinggal, di Teluk Bayur.

Perhubungan kasih antara Fikri-Rahima tak berjalan mulus dan berbuah kekecewaan. Ningsih, kakak Rahima, menentang hubungan itu, karena di mata Ningsih, Fikri dianggap orang miskin, tidak jelas asal usul dan hanya mempunyai orangtua angkat. Hingga terjadilah kasih tak sampai antra Fikri-Rahima yang keduanya saling mencintai.

Ningsih memaksa Rahima agar menikah dengan laki-laki pilihannya di Jakarta. Rahima berontak tapi ia tak kuasa. Selama ini Ningsih yang membiayai sekolahnya, demikian juga untuk kebutuhan Bu Aisyah. Hidup Rahima pun diatur Ningsih.

Pengarang membentuk karakter yang kuat pada tokoh Fikri, meski sekilas terkesan Fikri sosok yang lemah. Betapa tidak, saat masih di Aceh ayah Fikri meninggal dunia, disusul ibunya berpulang ke Rahmatullah ketika Fikri telah menginjakkan kaki di Padang. Tak lama kemudian, adik yang disayanginya, Annisa, ikut pula meninggal akibat bencana tsunami yang menggulung Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Lengkaplah sudah penderitaan Fikri. Tinggallah ia sebatang kara di perantauan (Padang). Satu yang dia syukuri, bahwa semasa di Padang itu ia memiliki seorang sahabat karib yang selalu ada disampingnya ketika ia menghadapi suka dan duka. Dialah Yusuf, sahabat yang ia kenal sejak ia menginjakkan kaki pertama kali di Kajai, kampung ibunya.

Yusuf selalu menyadarkan Fikri ketika pemuda itu mulai putus asa. Yusuf yang memberinya semangat untuk tegar menjalani hidup. Hingga akhirnya Fikri terbangun dan mampu menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi sarjana dan berhasil jadi pengarang tersohor yang karyanya difilmkan. Banyaklah orang memujinya, bangga kepadanya.

Di sini pengarang menjelaskan bahwa seolah-olah Fikri melupakan segala masalahnya dengan cara berkarya. Sungguh sempurna sosok seorang Fikri yang selalu tabah dengan semua cobaan yang datang bertubi-tubi mendera dirinya. Walaupun setiap kali mengingat masa lalunya itu, Fikri selalu manangis berurai air mata. Seolah tampaklah kelemahannya sebagai seorang laki-laki. Tetapi sesungguhnya Fikri adalah sosok yang sangat kuat dan selalu bersemangat.

Pengarang juga mengingatkan kembali kekecewaan yang dialami Fikri. Pernikahan Rahima dengan laki-laki yang dijodohkan Ningsih tidaklah langgeng. Rumah tangga Rahima hancur, suaminya mati bunuh diri karena malu korupsi. Disinilah puncak penyesalan Ningsih yang salah pilih, sementara sesungguhnya Ningsih sayang kepada Rahima. Rupanya, perjodohan yang dibuat Ningsih itu lantaran Ningsih punya hutang budi kepada laki-laki yang menjadi suami Rahima.

Sepeninggal suaminya yang telah tiada, dalam suatu acara launching film yang diangkat dari novel karya Fikri di Jakarta, tanpa diduga bertemulah Ningsih, Rahima dan Fikri. Sesudah pertemuan itu Rahima jatuh sakit. Pada saat itulah Ningsih timbul ibanya dan menyesal akan segala perbuatannya kepada Fikri dan Rahima dulu. Akhirnya Ningsih insaf dan memutuskan meminta maaf kepada Fikri dan menjilat ludahnya sendiri. Ia meminta Fikri yang telah tinggal di Bukittinggi agar berkenan menjenguk Rahima di Jakarta.

Maukah Fikri datang menjenguk Rahima, orang yang pernah menjadi kekasihnya itu? Yusuf, sahabat Fikri, mulanya menentang keinginan Fikri berangkat ke Jakarta menejnguk Rahima, karena kakak perempuan itu (Ningsih) itu telah menghancurkan hidupnya. Tapi akhirnya Fikri tetap berangkat. Di titik ini pengarang menjelaskan betapa mulianya hati seorang Fikri yang sedikit pun tak menaruh dendam meski ia pernah disakiti. Fikri memenuhi undangan Ningsih menjenguh Rahima yang terbaring sakit.

Ketika Fikri menjenguk Rahima, perempuan itu mulai pulih dari sakitnya. Ningsih pun ingin mempertemukan kembali kasih mereka yang dulu tak sampai. Tapi saat itu Fikri seolah tak lagi memiliki rasa dan ia berkeras ingin kembali pulang ke Bukittinggi. Ningsih menahannya, dengan cara mengajaknya pulang bersama ke Padang menjenguk pusara ibunya.

Musibah tak dapat ditolak. Pada saat Fikri dan Rahima ke Padang dari Jakarta menumpang pesawat udara, kendaraan yang mereka tumpangi itu tergelincir. Ningsih tewas, Rahima selamat sedangkan Fikri mengalami geger otak dan dirawat di rumah sakit.

Di sini pengarang mampu membuat ending cerita yang menakjubkan. Karena merasa tidak memenuhi syarat lagi sebagai suami Rahima, Fikri meminta sahabatnya Yusuf agar mau menikahi Rahima. Dan, saat itu Yusuf telah membeli sebuah rumah di Koto Baru, di kaki Gunung Singgalang. Di sanalah akhir cerita novel ini. Pada saat Yusuf mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu, disaksikan Fikri yang sedang terbaring sakit, saat itulah Fikri menghembuskan nafas terakhirnya. Sangat terpukullah hati Yusuf dan Rahima.

Namun sesudah kematian Fikri itu, beberapa bulan kemudian Rahima jatuh sakit dan akhirnya ia pun meninggal dunia, menyusul kekasihnya itu. Meski telah menikah secara sah, dimasa hidupnya tak sedikit pun Yusuf menyentuhnya, layaknya antara istri dan suami. Sebab Yusuf tahu sungguh besar cinta Rahima kepada Fikri, sahabatnya itu. Atas permintaan Rahima, berkuburlah perempuan itu disamping pusara Fikri, di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. Dalam setiap doanya, Yusuf meminta kepada Tuhan agar kedua kekasih yang saling mencintai itu dipertemukan di surga.

Sungguh, banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari kisah yang tersurat dalam novel yang penuh air mata disetiap babnya ini. RKS lahir dengan kondisi kekinian meski ditulis dengan gaya tutur yang akrab ditemukan pada roman-roman pujangga baru, semacam roman-roman yang ditulis Buya Hamka, pengarang Minang yang tersohor namanya itu. ***

*) Tiara Mairani, siswi SMA Negeri 15 Padang, penikmat buku-buku sastra, tinggal di Padang

Rinai Kabut Singgalang, Sebuah Novel Pembelajaran Tentang “Maut”

Oleh Irzen Hawer

Awal kisah, di sebuah kampung kecil di pesisir pantai Aceh Utara, tokoh Fikri tak kuasa menghadapi situasi ayahnya yang sedang meregang nyawa (maut).

Di paruh kisah, di depan matanya, Mak Syafri mamaknya merenggang ‘maut’ kerena ditikam oleh orang –yang sebenarnya dialah (Fikri) target penganiayaan oleh beberapa pemuda yang tidak senang kehadirannya di Kajai-Pasaman, sebuah dusun tanah kelahiran ibunya.

Setelah Fikri hijrah ke Padang, selanjutnya orang-orang yang dekat, malah sangat dicintainya, beruntun menghadapi ‘maut’. Mulai Maimunah ibunya Fikri yang meninggal di Aceh, Bu Aisyah ibu angkatnya yang meninggal karena tekanan perasaan di Padang, adiknya Annisa beserta suami dan anaknya turut meninggal akibat bencana tsunami Aceh, Ningsih yang meninggal sekeluarga akibat kecelakaan pesawat menuju Padang –yang kunjungan ini dalam rangka merekat kembali hubungan adiknya Rahima dengan Fikri, alhasil Fikri yang juga sepesawat dengan Ningsih, juga meninggal dunia. Dan terakhir di ending cerita Rahima juga menyusul Fikri menghadapi ‘maut’.

Novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) yang tebalnya 396 halaman, yang membuat saya terpaku dan terharu membaca dan menghabiskan waktu 30 jam menamatkannya –yang menurut perkiraan saya novel ini bakal jadi pembicaraan di mana-mana-- oleh pengarangnya, kita diajak menemui sang guru, yaitu ‘maut’.

Maut atau kematian itu sendiri memberikan nasehat kepada kita, seperti hadist Rasulullah SAW:

“Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menhadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat". (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunya)

“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya)

Fikri (tokoh utama cerita), telah menjadi pemuda cerdik dari kausalitas peristiwa ‘maut’ yang beruntun ini. Mengapa tidak? Andai saja. Ya, andai ayahnya masih segar bugar dia akan jadi anak yang selalu hidup di bawah ketiak orang tuanya, bercengeng-cengeng, manja seperti segelintir anak yang lain. Andai mamaknya terus hidup dia akan terjebak ‘menebus dosa’ ibunya dulu dengan menghabiskan umur merawat mamaknya yang terlantar, terpasung di tengah rimba di kampung Kajai-Pasaman. Andai Bu Aisyah masih hidup, agak sulit alasan Ningsih ‘melarikan’ Rahima ke Jakarta –yang menyebabkan Fikri terkapar berdarah-darah patah hati --yang kemudian dengan kejadian ini telah menyulapnya jadi pengarang besar dan tersohor.

Siapa yang kuasa melawan ‘maut? Mengapa maut datang silih berganti? Ada apa di balik maut dan bagaimana menyikapinya bila melanda orang-orang yang dicintai? Inilah pembelajaran moral yang ditawarkan Muhammad Subhan pengarang novel ini kepada kita, seperti kutipan dalam novel ini:

“Apa lagi yang kau pikirkan? Kita orang beriman, serahkan semua urusan pada Allah” (hal. 222). Inilah nasehat Ustad Rahman kepada Fikri di tenda posko relawan pasca benca tsunami Aceh.

“Tapi saya tak ingin menyerah dalam hidup ini. Saya ingin terus berjalan sampai akhir perjalanan itu. Alhamdulillah, pendidikan di panti menggembleng mental saya untuk tegar. Saya terus belajar, khususnya mendalami agama. Dalam agama inilah saya menemukan ketenangan dan memahami makna hidup sebenarnya…”(hal. 223).

Hikmah yang kita tuai dari novel yang banyak mendeskripsikan keelokan alam ranah Minang ini adalah; Pertama, di balik peristiwa maut ada beberapa nasehat untuk kita. Kedua, kita harus berani hijrah ke tempat lain bila tempat yang semula tidak kondisif dari segi sosial, ekonomi dan pendidikan seperti yang dilakukan tokoh Fikri. Ketiga, kita harus sabar menghadapi berbagai badai penderitaan dan selalu berpegang teguh pada tali Allah.

Sebenarnya bicara tentang hikmah yang tersirat dalam RKS ini sangat banyak tergantung intuisi dan apresiasi kita. Yang pasti novel adalah kritik sosial terhadap kehidupan semasa pengarang hidup. Dalam RKS ini banyak kita temui kritik-kritik moral –adat yang kaku– perkawinan yang tidak berlandaskan cinta, dan lain sebagainya.

Kehadiran novel Rinai Kabut Singgalang ini, telah memunculkan harapan baru dan berandil besar dalam menyemarakkan kesusasteraan Indonesia kembali. Terutama mengusung kearifan lokal Minang yang pernah berjaya pada Angkatan Balai Pustaka. Malah pangarang-pengarang Minang pernah merajai kesusasteraan Nusantara dulu, sebutlah Sutan Takdir Alisyahbana, Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Marah Rusli, Asrul Sani, AA Navis, Taufiq Ismail, Hamka, dll.

Seperti harapan yang digores Damhuri Muhammad dalam Prolog novel ini; “Kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sungguh dapat ditandai dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai diabaikan….” Juga harapan-harapan endorsement pada kulit belakang RKS (Dianing Widya Yudhistira, Sutan Iwan Soekri Munaf, Sulaiman Juned, Muhammad Nasruddin, Akhiriyati Sundari dan Irzen Hawer) yang mengungkap penuh semangat kemunculan RKS ini.

Semoga terbitnya RKS memotivasi pengarang-pengarang muda Minang untuk terus berkarya dan cepat merilis novelnya, dan terus mewarnai kesusasteraan Indonesia, hingga kapan pun dan dimana pun. Amin. []

Penulis peminat buku-buku sastra dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanah Datar.

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=13610

Cinta Minang, Lahirkan Novel Laris "Rinai Kabut Singgalang"

KEINDAHAN alam Ranah Minang menjadi inspirasinya melahirkan karya sastra. Dalam waktu relatif singkat, tiga bulan, di tahun 2010, ia merampungkan sebuah novel berlatar Minang berjudul "Rinai Kabut Singgalang". Novel itu terbit Januari 2011, di Yogyakarta, dan menjadi "pengobat rindu" para perantau Minang akan Ranah Bundo, Sumatera Barat yang permai. Saat ini, "Rinai Kabut Singgalang" termasuk novel terlaris.

Namanya Muhammad Subhan, kelahiran Medan namun berdarah Aceh-Minang. Obsesinya menjadi pengarang sudah tertanam sejak ia duduk di bangku kelas dua SMP di sebuah kampung kecil di Aceh Utara. Buku sastra favoritnya adalah roman-roman karangan Buya Hamka. Sejak 2000, di masa Aceh masih dalam konflik, ia hijrah meninggalkan Tanah Rencong dan menetap di Sumatera Barat.

Di Negeri "Urang Awak" itulah kemampuan menulisnya terasah. Disamping sejak tahun 2000 ia memutuskan menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, diantaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Garda Minang, Media Watch (2000-2003), Harian Mimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010). Pernah menjadi editor Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com) yang berpusat di Belanda (2007-2010), dan kontributor Majalah Islam Sabili (2008-2010). Sejak April 2010 ia memimpin Media Online www.korandigital.com yang berbasis di Kota Serambi Mekah Padang Panjang.

Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Selain wartawan ia bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Koordinator Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi.

Beberapa puisi dan tulisannya terkumpul dalam antologi bersama, diantaranya; Lautan Sajadah (Antologi Puisi, Himabasindo FKIP/Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi, eSastera Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, Apsas, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Kumpulan Liputan Perburuhan, AJI Indonesia, 2009), dan Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Evaluasi Kredit Mikro Nagari yang ditulis bersama wartawan senior Hasril Chaniago dan Ekoyanche Edrie, Bappeda Sumbar, 2009.

Suatu hari, seorang guru Bahasa Indonesia berkunjung ke Rumah Puisi Taufiq Ismail tempat Subhan bekerja. Guru itu berkeluh kesah bahwa novel-novel berlatar Minang sekarang tidak ditemukan lagi di pasaran. Padahal, tema-tema tentang Minang tidak pernah habis untuk digali dan selalu dicari para pembacanya. Orang rindu novel-novel yang ditulis secara sederhana, tidak picisan, tidak mengumbar syahwat seperti banyak ditemukan novel-novel dewasa ini.

"Berangkat dari uneg-uneg seorang guru itulah, saya tertarik menulis novel tentang Minang dan ditulis dengan bahasa sederhana," kata laki-laki yang memiliki seorang istri dan dianugerahi seorang putra ini.

Kata "rinai" berasal dari bahasa Minang yang telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya gerimis atau hujan rintik-rintik. Di daerah sekitar Gunung Singgalang di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Nagari Aie Angek, kawasan ini selalu memiliki ciri khas, yaitu senantiasa diselimuti kabut bila hujan rintik-rintik turun. Tentu saja, panorama itu sangat indah sekali.

"Terinspirasi dari pemandangan alam yang luar biasa itulah, novel ini saya tulis," ujar Subhan.

Sinopsis

Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri--tokoh utama), perempuan asal Pasaman (Sumatra Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekad menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang”, “orang di pinggang”, “orang yang tak berurat-berakar”. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orang tua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (gila), lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sebelum ke Padang, Fikri mencari mamaknya di Kajai, Pasaman. Di kampung asal ibunya itu, Fikri sempat merawat paman Safri yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Namun akhirnya Mak Safri tewas dibunuh akibat suatu perkelahian. Fikri pun meninggalkan Kajai hijrah ke Padang. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─ bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang”, “orang di pinggang”.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Annisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong suaminya ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam kesendirian, dalam keterpiuhan perasaan lantaran pengkhianatan cinta. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Di akhir kisah, Fikri digambarkan sebagai laki-laki yang terlahir kembali. Ia menjadi pengarang tersohor, bahkan salah satu novelnya dilayar-lebarkan. Banyak orang memujinya. Kabar tentang keberhasilan Fikri membuat Ningsih (orang yang telah memisahkannya dengan Rahima), tak segan-segan menjilat ludah sendiri. Lagi pula, pada saat yang sama, Rahima sedang tertimpa masalah; suaminya menjadi tersangka korupsi, dan bunuh diri di penjara. Sejatinya, rasa cinta Fikri pada Rahima tiada bakal punah, meski pengkhianatan itu sukar ia lupakan. Atas dasar itu pula Fikri memenuhi undangan Ningsih untuk datang ke Jakarta, perempuan itu hendak mempertemukan kembali “kasih tak sampai” yang telah membuat perasaan Fikri-Rahima telah tercabik-cabik. Namun, kisah novel ini disudahi dengan cara sangat tragis, kepulangan Ningsih, Rahima, dan Fikri ke Padang ternyata bukan kepulangan yang membahagiakan. Pesawat yang mereka tumpangi tergelincir. Rahima selamat, tapi Fikri mengalami geger-otak, dan karena itu ia merasa tak memenuhi syarat lagi untuk menjadi suami Rahima. Ia meminta sejawat karibnya, Yusuf, untuk menikahi Rahima. Saat ijab-kabul pernikahan itu berlangsung, Fikri menghembuskan napas penghabisan. Menutup mata untuk selamanya, dan dikubur di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. (*)

Bermacet-Macet di Koto Baru

Oleh Muhammad Subhan

KALAULAH Tuan berkendaraan ke Bukittinggi dari arah Padang atau sebaliknya dan melintas di jalan raya Padangpanjang-Bukittinggi tepatnya di Nagari Koto Baru, dan hari itu adalah hari Senin, bersiap-siaplah Tuan menahan hati. Bagi yang tak sabar mungkinlah Tuan akan mendengar kata umpatan dan caci maki dari sopir ataupun penumpang kendaraan umum yang entah ditujukan kepada siapa, sebab di sepanjang jalan terjadi kemacetan panjang.

Apa pasal di hari Senin itu? Rupanya, Senin adalah Hari Pasar (minang: hari pakan) di Koto Baru yang pasarnya memang terhampar di tepian jalan. Sudah tradisi di Minang ini bila pasar suatu nagari berhari pekan, bermacam orang dan pedagang datang membawa segala kebutuhan manusia yang hendak diperjualbelikan di hari itu. Khusus di Pasar Koto Baru, dominan dipenuhsesaki pedagang-pedagang sayur mayur yang datang dari nagari-nagari di sekitar Koto Baru, semisal Nagari Aie Angek, Pandai Sikek, Panyalaian, Koto Laweh, Padang Luar, Banuhampu, Padangpanjang, serta nagari-nagari lainnya. Dan karena hari pasar itu pula, berkarung-karung sayur mayur bertumpuk-tumpuk diletakkan orang di tepian jalan, penuh sesak pula pedagang dan pembeli hingga pasar tumpah ke badan jalan, lalu terjadilah kemacetan.

Kemacetan itu bukan 200-300 meter saja, tapi 2 hingga 3 kilometer panjangnya. Bila ditarik garis tengah dari Pasar Koto Baru, kemacetan terjadi hingga Panyalaian, Kecamatan X Koto Tanah Datar, atau hingga Padang Luar, Kabupaten Agam, menjelang masuk Kota Bukittinggi. Lama macet pun bukan lagi setengah jam, namun sudah hampir 1 jam. Belum lagi macet parah berjam-jam bila di hari pasar itu ada pula truck tronton yang mogok disalah satu ruas jalan menjelang Koto Baru. Yang lebih miris, pernah saya melihat sebuah ambulans yang membawa jenazah meraung-raung suara sirenenya meminta dibukakan jalan, tapi apa hendak dikata, ikutlah ambulans itu terjebak di tengah kemacetan. Bila tak ada aturan bagi ambulans yang membawa orang sakit atau jenazah di lampu merah, tapi di Koto Baru itu ambulans manapun tak dapat berkutik.

Disamping itu, tentulah banyak kerugian lainnya yang ditanggung pemilik kendaraan bila melintas di kawasan Pasar Koto Baru bila hari pasar tiba. Hitung-hitungan kerugiannya begini, kalau maksimal 1 jam saja kendaraan terjebak macet di Koto Baru di hari itu, dan menghabiskan Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 liter seharga minimal Rp4.500 per liter (ada kendaraan berbahan bakar bensin dan solar), maka kalikan saja sejumlah kendaraan yang melintas dari pagi hingga petang. Kalau sepanjang hari itu terjebak macet sekitar 3.000 unit kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, maka total uang yang terbuang sia-sia di hari itu sebanyak Rp13.500.000. Lalu dikali 4 pekan macet dalam sebulan, maka terbuanglah uang sebanyak Rp54.000.000, atau setahun sebanyak Rp648.000.000. Dalam masa dua tahun terbuang uang lebih dari satu miliar. Tentu sebuah angka nominal yang sangat fantatis dan semuanya adalah lembaran rupiah di tengah kehidupan rakyat yang sedang susah!

Nagari Koto Baru berada dalam wilayah administratif Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Namun jalan raya yang membelah nagari itu adalah Jalan Negara. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar masih “menunggu-nunggu” adanya perhatian Negara (Pemerintah Pusat) terhadap jalan itu dengan alasan Pemda Tanah Datar tidak memiliki dana untuk membuat pelebaran jalan ataupun membangun jalan alternatif. Pemerintah Provinsi Sumbar pun seolah “tak mau tahu” terhadap jalan tersebut sehingga bertahun-tahun kondisi kemacetan semakin parah. Gubernur berganti, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Prasarana Jalan berganti, bupati silih berganti, namun kondisi jalan di Koto Baru begitu-begitu saja. Tidak berubah. Meski memang ada pula yang diuntungkan bila terjadi kemacetan panjang, semisal pedagang kacang goreng dan bika bakar di sepanjang kawasan itu, walaupun musiman.

Meski Koto Baru jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan pusat pemerintahan Provinsi Sumatra Barat, semua orang mengakui bahwa kawasan Koto Baru dan sekitarnya adalah kawasan pertanian yang cukup potensial. Hanya di kawasan inilah orang dapat menikmati pemandangan alam yang indah, dan hari-hari tertentu dapat menyaksikan turunnya kabut disertai rinai jatuh di kaki Gunung Singgalang yang menjulang. Tak jauh dari Koto Baru berdiri Rumah Puisi yang dibangun Penyair Nasional Taufiq Ismail dan diharapkan menjadi basis kegiatan sastra di Tanah Datar khususnya dan Sumatra Barat umumnya. Di Nagari Aie Angek, nagari tetangganya, ada tempat pemandian air panas yang menjadi terapi kesehatan yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Rumah-rumah makan di sepanjang jalan raya pun bertumbuhan, demikian pula sebuah sekolah agama, MAN/MAPK Koto Baru yang mencetak banyak lulusan berkualitas dan meneruskan pendidikan mereka di Universitas Al Azhar Cairo, berada di kawasan ini.

Kemacetan yang terjadi setiap hari pasar atau empat kali dalam sebulan di kawasan itu tentu saja menjadi pemandangan yang menjemukan dan membuat banyak orang kecewa terhadap pelayanan pemerintah di bidang jalan raya. Kesalahan tentu saja ditimpakan kepada pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi yang seolah tak peduli terhadap kondisi kemacetan tersebut. Bahkan ada yang menyentil dengan guyonan, kota kecil Padangpanjang saja yang nyaris tidak ada kemacetan lalulintas malah mampu membangun jembatan layang (fly over), konon lagi Tanah Datar yang berwilayah luas dan memiliki PAD sedikit lebih besar. Padahal dana pembangunan fly over Padangpanjang sebagian besar dibiayai APBN, atau Pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang tidak jeli melobi pemerintah pusat sehingga kawasan Koto Baru yang sering macet itu bisa dapat bantuan dana untuk dibuatkan fly over pula.

Entahlah. Yang pasti beribu-ribu orang pengguna kendaraan di hari pasar Koto Baru itu tiap pekannya mengeluh yang tentu saja akan melahirkan citra buruk bagi daerah Tanah Datar di mata orang luar. Sebab, yang melintas di jalan itu, beragam daerah asalnya khususnya daerah-daerah disekitar Sumatra Barat, semisal Riau, Medan, Jambi, dan bus-bus yang membawa penumpang antar kota antar provinsi hingga ke Pulau Jawa. Semoga, harapan banyak orang, soal kemacetan lalulintas di kawasan Koto Baru itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan Gubernur Sumbar di tahun 2011 ini sehingga tidak ada kemacetan lagi. Sebab khawatir saya, bila masih macet juga, lalu melintas lagi ambulans pembawa jenazah dan ikut terjebak macet disana, alamat orang yang sudah mati itu hidup lagi, dan mencak-mencak di tengah jalan raya. Wallahu a’lam. ***

Sabtu, 15 Januari 2011

Menerima Hadiah Buku dari Gubernur Sumbar


Mendapat kehormatan dari Gubernur Sumatera Barat, menerima buku karangan beliau yang diserahkan di hadapan 500an peserta Seminar Internasional "Saatnya Guru Menulis", Minggu 12 Desember 2010, di Graha Serambi Mekah Padang Panjang.

Bang OP, Selamat Jalan…


Catatan Muhammad Subhan

Selasa malam, 23 November 2010, telepon genggam saya berdering tanda ada pesan masuk. Saya buka pesan itu, pengirimnya dari Kanda Adeks Rossyi Mukri, Ketua PWI Bukittinggi. Saya sangat kaget membaca isi pesan Kanda Adeks yang mengabarkan bahwa Bang Osman Poerba, mantan wartawan Harian Singgalang telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa siang (23/11), pukul 13.45 WIB usai menikahkan anaknya.
Innalillahi wainna ilaihi raajiuun….

Sungguh, saya tak menduga Tuhan begitu cepat memanggil Bang OP—demikian saya akrab menyaba Bang Osman Poerba—untuk kembali kepangkuan-Nya. Ketika di awal tahun 2007 saya diamanahkan Pemimpin Redaksi Harian Haluan sebagai Korda Haluan Wilayah Bukittinggi dan sekitarnya, hampir setiap hari saya bersua Bang OP, khususnya saat rehat membaca koran di ruang Humas Pemko Bukittinggi. Dia ‘tidak murah’ senyum, tepatnya pendiam, tapi dia sangat baik. Selalu menyapa saya lebih dahulu, “apa kabar,” katanya ramah.

Selanjutnya perhubungan saya dan Bang OP layaknya persahabatan sesama rekan wartawan ketika bertugas di lapangan. Tapi ketika itu Bang OP sudah tidak produktif lagi menulis lantaran penyakit stroke yang merenggut kesehatannya. Berhari-hari ia terbaring sakit. Bahkan kawan-kawan PWI Bukittinggi dan Pemko Bukittinggi berinisiatif merawat Bang OP ke Malaysia. Rupanya, sejak lama Bang OP dan PWI Bukittinggi telah menjalin kemitraan yang cukup erat dengan rekan-rekan wartawan di negeri jiran itu, sehingga Bang OP pun mendapat kesempatan berobat di Malaysia dengan penjagaan pihak Malaysia. Dalam dokumen komputer kantor saya di Bukittinggi, sempat saya menyimpan foto Bang OP saat dirawat itu, tapi sayang sekarang entah kemana foto itu.

Di tahun 2008—saya lupa bulannya—saya bersua kembali Bang OP di Bukittinggi. Sakit strokenya berangsur pulih meski ia harus berjalan dengan dibantu sebuah tongkat. Ia tidak dirawat di Malaysia lagi. Semangatnya yang tinggi membuat gairah hidupnya tumbuh. Di ruang humas Pemko Bukittinggi pula, Bang OP bercerita kepada saya akan cita-citanya untuk membuat film dokumenter Buya Hamka. Ketika menyebut nama Buya Hamka itu, cerah wajah saya. Sebab sebulan sebelum bersua Bang OP, saya sempat menyinggahi Rumah Kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, Maninjau.

“Nanti Subhan saya ikutkan jadi pemeran pembantu, memanggil orang sembayang ke surau,” ujar Bang OP kepada saya saat itu. Tentu saja saya tersenyum, entah apa alasan Bang OP mengajak saya untuk menjadi “aktor” walau sebagai pemeran pembantu dalam film dokumenter yang akan digarapnya itu. (Saya tidak tahu apakah film dokumenter itu jadi dibuat Bang OP atau tidak).

Seminggu kemudian saya bersua kembali Bang OP. Dia baru kembali dari Maninjau, mengunjungi Rumah Kelahiran Buya Hamka. “Pak Afif kirim salam,” ujarnya. Pak Afif adalah pengelola Rumah Kelahiran Buya Hamka yang konon masih ada hubungan kekerabatan dengan Buya Hamka. “Waalaikumussalam,” jawab saya. Lalu Bang OP bercerita banyak tentang kekagumannya pada sosok Buya Hamka.

Di Malaysia, cerita Bang OP, Buya Hamka sangat dihormati dan disegani. Meski pendidikannya tak tamat sekolah rendah (SR), tapi Buya Hamka bergelar Profesor dan Doktor. Kedua gelar itu diperoleh Buya Hamka bukan dari pemerintah negerinya sendiri, melainkan dari luar negeri—Al Azhar Kairo dan UKM Malaysia.

“Pantas bila saya tertarik ingin mendokumentasikan riwayat hidup Buya Hamka dalam bentuk film,” ujar Bang OP lagi.

Saya terpekur mendengar cerita Bang OP itu. Semangatnya sungguh luar biasa. Meski dalam kondisi yang masih sakit, tapi dia tetap semangat untuk berbuat sesuatu. Dengan jalan yang susah payah ia masih sempat mendatangi sendiri Rumah Kelahiran Buya Hamka di Maninjau.

Di pertengahan tahun 2008, batin saya semakin terenyuh ketika suatu hari Ketua PWI Bukittinggi Kanda Adeks Rossyie Mukri mengajak saya mengunjungi Bang OP di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bukittinggi. Bang OP tinggal di panti itu. “Saya senang tinggal di sini, damai,” kata Bang OP singkat. Seorang pengurus panti kepada saya berbisik, ibadah Bang OP semakin rajin sejak ia tinggal di panti. Apa yang disebut pengurus panti itu bukanlah sebagai perintang-rintang hati buat Bang OP saja, saya juga melihat langsung air muka Bang OP yang cerah, selalu bersiram air wudhu.

Setelah mengunjungi Bang OP di panti asuhan itu, sejak itu pula saya tidak lagi bersua Bang OP. Oleh pimpinan kantor, saya ditarik kembali tugas ke Padang, lantaran masa tugas dua tahun di Bukittinggi berakhir sudah. Saya hanya mendapat kabar dari teman-teman saja tentang keadaan Bang OP yang semakin membaik sakitnya.

Setelah dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir saya dengan Bang OP itu, setelah saya tidak lagi bekerja di haluan, kemarin malam kabar meninggalnya Bang OP mengagetkan saya dan mengenangkan saya kembali akan semua ingatan tentang sosok wartawan yang ‘seolah tidak pernah tua’ itu. Semangat dan cita-citanya untuk maju dalam kondisi payah sekalipun, membuat saya merasa malu, di usia muda ini masih cenderung bermalas-malasan. Sungguh, Bang OP adalah teladan…

Selamat jalan Bang OP. Semoga goresan penamu menjadi ‘sitawa sidingin’ di alam yang membawamu menuju kepada keabadian. Doa kami menyertaimu…

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu….

Rumah Puisi, 24-11-2010, 14:19

Pernahkah Tuan Membaca Puisi Cinta Buya Hamka?


Tuan, pernahkah membaca puisi cinta Buya Hamka? Duhai, kalau Tuan membacanya, serasa puisi itu menceritakan diri Tuan sendiri. Siang ini saya temukan buku “Kenang-Kenangan Hidup” Buya Hamka (1951) di rak buku Rumah Puisi, saya baca puisi di dalam buku itu. Sungguh menggugah jiwa saya, mungkin juga jiwa Tuan.

Siapa tak kenal Buya Hamka? Seorang ulama dan sastrawan yang tersohor namanya itu, terutama lantaran kisah di dalam roman-roman kehidupan yang ditulisnya? Sungguh kagum saya akan goresan penanya, yang halus, yang melukiskan jiwa sang pujangga.

Simaklah puisi cintanya berikut ini:


BERJUMPA PULA
Oh kau kiranya, bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?
Di aku sudah! Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih berkesan di dadaku

15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya
Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan
Tidak ‘kan kuucapkan lagi
Aku takut,
Obat lekat pantang terlampau
Kembali penyakit lama
--Ah, tidak; Aku mulai tua

15 tahun
Sudah berapakah anakmu
Adakah suamimu sehat saja
Beruntung dalam rumah tangga
--Tak usah gugup!

15 tahun
Melihat kau sekarang, kuteringat kau yang dulu
Kau yang ada dalam kenanganku
Kau yang tergambar dalam hatiku
Aku teringat
Mudaku dan mudamu
Semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita
Padahal: Takdir tak mengizinkan kita bertemu
Hidup kita tak dapat dipadu menjadi satu
Kau mengambil jalanmu sendiri – terpaksa atau tidak
Dan aku pun
Mengambil jalanku pula

15 tahun
Aku telah berjalan, dan berjalan jua
Tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup
Kaulah pelitaku
Tanglongku
Dalam kegelapan malam yang senyap sunyi
Sehingga aku menjadi aku
Walaupun kau tak merasa. Barangkali

15 tahun
Tertawa aku, tertangis aku
Tersenyum tersedu
Mendaki ku menurun
Melereng ku mendatar
Pernah kunaik, pernah kujatuh
Jatuh dan bangkit lagi, lalu berjalan jua
Sahaja mati yang belum kurasai
Sehingga aku menjadi aku
Dan perjumpaan kita, 15 tahun yang telah lalu
Adalah pendorong perjuangan hidupku

Hari ini
Setelah 15 tahun
Kitapun berjumpa pula
Aku dengan engkau
Kau yang sekarang
Maka teringatlah aku. Kau yang dulu
Kalau bukan lantaran kau yang dulu
Tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi
Garam hidupku yang kulalui
Air mata itulah yang kususun kembali
Sesudah dia jatuh berderai bagai manik putus pengarang
Kujadikan gubahan buat kau. Kau yang dulu
Sehinggaku menjadi Aku

15 tahun…
Alangkah cepatnya putaran zaman
Wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku
Jangan engkau salah terima, Wahai kau yang sekarang
Sekiranya aku melihat tenang. Merenung wajahmu
Izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari
Aku ini kehilangan
Dia. Dia akan kucari dalam ruang matamu
Kau yang dulu

Berjalan lurus, dan teruslah
Pikullah kewajiban yang telah ditentukan Tuhan
Buat kau. Dan aku pun
Meneruskan jalanku pula
Berjalan dan berjalan jua
Mendatar, melereng, mendaki dan menurun
Kau lihat. Rambut putih telah mulai berjuntai di ubun-ubunku
Kau lihat. Tiga garis telah mulai ada di keningku
Alamat, sengitnya perjuangan yang telah kutempuh dulu dan kuhadapi lagi
Marilah sama-sama, meneruskan perjalanan
Melaksanakan hayat
Jauh… dan jauh lagi

Hanya sebuah harapanku tinggal
Semoga usia sama panjang
Dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang
Mau atau tidak mau
Kau… dan aku….

(Buya Hamka, dalam buku Kenang-kenangan Hidup, 1951)

Rabu, 10 November 2010

Korupsi

Korupsi adalah bencana kemanusiaan terbesar di negeri ini, sangat sistemik dan sistematis, yang mengundang bencana alam dan bencana-bencana sosial lainnya.

(Muhammad Subhan, 2010)

Kasih Ibu

Ketika ibu mengandung, sakit di atas sakit dirasakannya. Ketika kita lahir, ibu tersenyum. Kita yang pertama kali mengotori tangan dan tubuhnya dengan kotoran kita.
Ketika kita beranjak balita, ibu pula yang tak dapat tidur siang malam, agar seekor nyamuk pun jangan menyentuh tubuh kita. Ketika masuk sekolah, ibu rela berhutang sana sini agar kita dapat membusungkan dada seperti anak-anak lain yang memiliki sepatu dan buku. Ketika kita sudah mengenal cinta, di hadapan penghulu ibu menangis karena kita akan pergi meninggalkannya, mengikuti suami dan istri kita. Ketika kita sudah punya anak-anak dan sibuk dengan pekerjaan kita, ibu menunggu di muka rumah, duduk termenung di dekat tangga, kapan anaknya pulang. Bukan membawa uang untuknya, tapi memeluknya erat penuh cinta.

Ibu, maafkan anakmu ini...

(Muhammad Subhan, 2010)

Kata Mutiara

Kekerasan hati seorang laki-laki akan luluh ketika ia melihat air mata perempuan, apalagi air mata seorang ibu.

(Muhammad Subhan, 2010)

Sabtu, 31 Juli 2010

Hikmah Dibalik Bencana

Oleh Muhammad Subhan

BANYAK benar musibah yang melanda negeri ini. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang terjadi Selasa (6/3/2007) lalu, telah membuat masyarakat Sumatra Barat trauma, tak terkecuali di Bukittinggi. Sejumlah insfrastruktur hancur; perkantoran, sekolah, gedung-gedung tua, bahkan rumah ibadah sekalipun, rusak dihoyak gempa.

Yang menyedihkan, gempa juga merenggut korban jiwa, puluhan banyaknya. Data di Satkorlak Provinsi, korban meninggal di seluruh kabupaten dan kota mencapai 73 orang. Di Bukittinggi korban meninggal 10 orang. Sementara yang luka berat, ringan serta kerusakan bangunan, ratusan banyaknya.

Beberapa kali terjadi gempa di tahun-tahun sebelumnya di Sumbar, mungkin, gempa kali ini terasa yang paling kuat. Apalagi getaran gempanya tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali meski dalam waktu yang tidak bersamaan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang mencatat, setidaknya selama tiga hari paska gempa, terjadi 686 kali gempa susulan, baik yang dirasakan maupun tidak.

Di hari pertama gempa, banyak peristiwa-peristiwa human interest yang begitu merenyuh perasaan. Pekik tangis para pedagang di Pasar Wisata Bukittinggi yang petak-petak toko mereka terbakar. Wajah-wajah pasi warga yang berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum lagi ratusan warga pinggiran ngarai yang dilanda kecemasan paska longsornya hampir seluruh tebing Ngarai “Diam” (Sianok) yang tak lagi diam itu.

Bukittinggi pun berduka. Kota wisata yang cantik ini dalam hitungan detik berubah kusam dan muram. Kedamaian Bukittinggi terusik. Namun kabar yang terbetik, Bukittinggi masih lebih baik daripada Solok, Batusangkar, Agam maupun Padang Panjang.

Tapi, yang sungguh disedihkan, dalam hitungan detik itu pula, keempat sektor unggulan Bukittinggi terganggu total. Di sektor pariwisata, puluhan hotel rusak, banyak kamar retak-retak dihoyak gempa. Yang terparah Novotel, sehingga manajemen hotel memilih menutup sementara daripada menanggung resiko fatal.

Objek wisata apalagi. Kantor Persenibud Bukittinggi memerintahkan petugas menutup Lobang Japang yang disinyalir rusak parah. Taman Panorama juga terganggu dengan runtuhnya Ngarai Sianok. Pasar Wisata di Pasar Putih ludes dimamah si jago merah. Pasa Lereang nyaris rata dengan tanah. Jam Gadang sebagai simbolnya Koto Rang Bukittinggi dikabarkan pula mengalami retak di dinding bagian bawah, dan jarum jam berhenti berdetak.

Di sektor pendidikan, puluhan sekolah juga rusak. Sarana dan prasarana sekolah nyaris cair dihondoh gempa. Yang terparah, gedung SMK Negeri 3 Bukittinggi nyaris ambruk karena gedung bertingkat itu mengalami retak yang cukup parah. Sementara, ribuan pelajar Bukittinggi bulan depan mengikuti Ujian Nasional.

Di sektor kesehatan begitu pula. Gedung RSAM yang selama ini damai tiba-tiba menjadi gedung yang menakutkan paska gempa. Ratusan pasien terpaksa diungsikan di halaman dan jalan di depan rumah sakit. Begitupula di RS Yarsi Ibnu Sina dan RSUP Bukittinggi. Puluhan korban luka-luka akibat gempa, harus rela kedinginan di luar ruangan, meski berteduh di bawah tenda.

Sektor perdagangan yang paling menyedihkan. Ekonomi masyarakat Bukittinggi lumpuh total paska gempa dan kebakaran di Pasar Wisata. Ribuan toko tutup, PKL tak berani lagi berdagang. Bukan takut dikejar-kejar petugas Yustisi, tapi tak mau ambil resiko terhadap gempa yang diprediksi bakal berulang.

Lengkaplah sudah cerita tentang duka di Bukittinggi paska gempa. Namun, kedukaan tak pernah menyelesaikan masalah. Pak Wali selalu mewanti-wanti, kita harus bangkit membangun kota ini kembali.

Dan, kebersamaan itu pula yang saat ini begitu terasa di Bukittinggi, yang mungkin selama ini, sebelum gempa terjadi, suasana itu belum tentu ditemui.

Terharu saya, ketika Pak Wali bersama jajarannya sigap dan tanggap mendata korban, menyalurkan bantuan, tak pandang masyarakatnya miskin atau berada. Semua mendapat jatah rata. Posko Satkorlak dibentuk, bahkan hingga kecamatan dan kelurahan.

Lengkaplah kebersamaan itu. Tuhan selalu memberi hikmah dibalik bencana. Semoga selamanya. Dan, meminjam istilah partai Pak Wali pula, “bersama kita bisa”. []

(Dimuat di Kolom Detak Jam Gadang Koran Harian Haluan, 9 Maret 2007)

Kunjungi: www.korandigital.com

Antara Cut Tari, Luna Maya dan Saya


Oleh Muhammad Subhan

Saya tidak memasukkan nama Ariel pada judul diatas. Pertama, alasannya, terlalu panjang. Kedua, Ariel sudah cukup terkenal. Apalagi setelah terseret skandal vidoe seks, yang kebetulan, baru diributkan media massa. Dan, ketiga, mungkin saja saya bisa ikut numpang terkenal ketika menderetkan nama saya dengan para selebritis populer seperti Cut Tari dan Luna Maya.

Tapi apakah saya ikut-ikutan terseret skandal itu, ah, entahlah. Jujur, saya kenal dekat dengan Cut Tari dan Luna Maya, karena setiap pagi diam-diam saya ikut nguping tayangan gosip di televisi swasta yang diputar istri saya. Tapi apakah Cut Tari dan Luna Maya kenal saya, ini persoalan juga saya kira. Lalu apakah ada beredar pula video saya dengan kedua wanita itu, wah, tak tahu saya kalau itu sampai terjadi dan bagaimana bisa.

Terlepas ada tidaknya video saya dengan Cut Tari dan Luna Maya, saya benar-benar prihatin melihat penghakiman luar biasa yang dilakukan media massa terhadap kedua perempuan itu. Hampir setiap hari di televisi cerita tentang mereka menjadi berita utama, mengalahkan issue Century yang makin redup, lebih wah dari kasus pembantaian aktivis pro Palestina, lebih semarak dibanding perhelatan Pilkada kepala daerah yang tinggal menghitung hari.

Tentu, itu terjadi lantaran Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan sejumlah nama artis yang dikaitkan lainnya adalah publik figur di dunia hiburan yang gemerlap dan sering diperbincangkan dan menjadi idola sejumlah orang. Dan, persoalan seks sejak zaman baheula selalu menarik diperbincangkan karena terkait moral. Apalagi ketika skandal itu diekspose dan beredar, diunduh oleh jutaan orang, dimuat menjadi berita utama di koran-koran, atau menjadi kupasan bibir pembawa acara tayangan infotaintmen di layar kaca.

Tapi persoalannya apakah itu cukup penting menjadi tontonan publik yang juga punya hak privasi untuk dilindungi, khususnya anak-anak dan remaja? Selayak pertanyaan, apakah Ariel, Cut Tari dan Luna Maya masihkah punya moral, demikian pula apakah cukup bermoral media yang saban hari menyiarkan aib mereka? Siapakah yang paling bermoral, artis pelaku skandal seks atau media massa yang mengungkap skandal itu?

Siapapun tahu, dunia artis yang gemerlap rentan penyimpangan seks meski tidak semua mereka melakukan itu. Dan, kasus Ariel, Cut Tari, Luna Maya, hanya gunung es dari sekian kasus lainnya yang tak terungkap. Sama halnya dengan kasus suap menyuap yang melibatkan oknum aparat, kasus korupsi yang dilakoni oknum pejabat, maupun kasus-kasus lainnya yang terjadi di belahan bumi Nusantara yang menyebabkan orang miskin bertambah miskin dan bencana melanda dimana-mana.

Saya tidak paham benar apakah pemberitaan tentang skandal seks Ariel, Cut Tari, Luna Maya itu salah satu bentuk hiburan semata yang disuguhkan media massa atau berupaya memberikan pendidikan seks kepada generasi muda. Ya, pendidikan disertai contoh bahwa apa yang diungkapkan media adalah salah satu jenis dampak seks yang menyimpang plus akibat yang terjadi jika dilakukan. Tapi cukup pentingkah bagi generasi muda yang selama ini mereka masih pusing memikirkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, lapangan kerja yang sulit, atau biaya hidup yang kian melangit?

Atau pemberitaan itu malah melahirkan kasus-kasus serupa yang dilakoni para remaja kita seperti yang sebelumnya pernah dihebohkan di berbagai daerah; remaja usia pelajar yang melakukan mesum di bilik kost lalu direkam di dalam kamera handphone, bahkan ada pula yang berani melakukannya di ruang kelas mereka sendiri? Entah kenistaan apa lagi yang pantas diungkapkan.

Tapi inilah wajah Indonesia yang sulit ditutupi lantaran topeng yang membalut bopeng itu telah rusak dan diinjak-injak. Media massa yang seharusnya berfungsi edukasi malah lebih senang ngerumpi. Walau tidak semua media terjebak di lobang yang sama, setidaknya sebagian besar pengelola media di negeri ini ‘sepakat’ menayangkan aib demikian dengan alasan mendongkrak rating dan pasar.

Entahlah, pening saya. Walau sejujurnya saya kenal dekat dengan Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, saya tidak mau mempersoalkan apakah mereka kenal atau tidak dengan saya. Yang pasti, kalau profesi saya sebagai Penghulu, saya akan nikahkah mereka, meski tak segampang yang saya kira. []

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=7560

Sabtu, 01 Mei 2010

Kemarau di Desa Bangkirai

Taufiq Ismail

Seekor anjing melolong larut di lereng bukit bertubir
Bulan merah di sungai bulat mengapung. Hangus dan pijar
Kurus lembah kuning patah daun tebu didukung punggung gunung
Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh

Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh
Kemarin tengah hari udara meleleh
Di Padang Panjang Kerbau si Sati, kambing coklat mengah-ngah
Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus

Di ladang padi sekeping bumi kering makin retak-meretak
Di jantung penghuni rindu dan dahaga tetak-menetak

Kami terbaring di pondok pelupuh
Malam Ramadan ngilunya lagi
Ketika teriakan siamang bertalu membelahi lembah
Sati melompat bangkit menerjang daun jendela: Hitam kental mencat daerah sangsai

Lereng huma padi mendenting kehausan
Musim manis pabila tiba?

hari berhujan sayang subuh berasap tungku tengguli

Tapi malam kemarau belah teriakan siamang bertalu-talu*)
Menopan ke jantung penghuni mengentali deru
Musim hujan datang! Musim hujan datang!

Hujan oooi, hujaaaaan!
Hujan oooi, hujaaa – aaa aa – aaan!

Kisah, no 7, thn. III, Juli 1955

*) Penduduk sekitar Baruh di kaki gunung Singgalang bertahayul, bahwa apabila di larut malam siamang berteriak-teriak, maka keesokannya tentu akan terjadi apa-apa yang luar biasa.

Rimba Jati (Alas Roban)

Taufiq Ismail

Mendenyut kemarau ke jantung rimba
Hutan Roban jati mengujur bukit
Kehidupan coklat terbentang di sela musim

Seekor elang menyelinap hitam dahan-dahan botak telanjang
Lengking menikam ruang terkabar daun-daun kesat membumi
Tanah mersik menua, jati dewasa di dada

Mendesing musim ranggas kuning-kuning bercenungan
Bukit penyimak peristiwa terbungkuk tua
Mengujurkan kakinya ke laut kelabu

Gairah terbaring pada satu hanya musim
Depan rimba jati, mendenting pada satu titik api
Gairah terik musim membakar jantung rimba jati

Menerjang asin ombak ke kaki bukit terbungkuk tua
Bumi mersik lekah di puncak demam makin melela
Demam rimba jati dituang ke satu titik api musim di muka.

Siasat, no 416, thn. IX, 29 Mei 1955

Dadang, Pemetik Kecapi Tua

Kepada Bahrum Rangkuti

Taufiq Ismail

Dilingkarkannya angin pegunungan pada denting-denting selalu di suara sendu berlagu margasatwa

Bila Dadang tiba tua, dan ada bersua senyap angin bening lembah

Kumandanglah kumandang timang desir lena angin subuh bambu-bambu berlagu selalu rindu

Sepagi embun Dadang tua tiba, menyingkap cadar hari berlagu lembah biru dan burung pagi mengitari dada bumi.

Siasat, no 372, thn VIII, 25 Juli 1954

Doa dalam Lagu

Taufiq Ismail

Ibuku karena engkau merahimiku
Merendalah tenteram karena besarlah anakmu

Ayahku karena engkau menatahku
Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu

Tuhanku karena aku karat di kakiMu
Beri mereka kesejukan dalam dan biru.

1953

Jumat, 30 April 2010

Susah Jadi ‘Orang Susah'

Susah Jadi ‘Orang Susah'
Oleh: Muhammad Subhan

KATA orang susah, sangat susah jadi ‘orang susah’. Ya, jelas saja, semuanya serba susah. Tak punya rumah susah, anak banyak susah, utang berserak susah, anak tak sekolah susah, tak punya kerja susah. Lalu kesusahan demi kesusahan pun menghantui setiap hari.

Tapi salahkah orang susah menjadi susah hidupnya karena terhempas dari beratnya persaingan hidup? Kata pepatah, “bukan salah bunda mengandung”. Lalu, siapa yang disalahkan? Tuhan? Bukan! Jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Bisa ‘cilako’ awak!

Tuhan Maha Besar. Maha Bijaksana. Maha Pengasih dan Penyayang. Tak sedikit pun Tuhan ingin melihat hamba-hamba-Nya hidup di dalam kesusahan. Agama mengajarkan; “fiddun ya hasanah, wafil akhirati hasanah”. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lalu, siapa yang menyusahkan hidup orang susah? Kata seorang Buya dalam ceramahnya di masjid; diri ‘awak’ lah yang membuat ‘awak’ susah. Awak menyusahkan diri sendiri!.

Seorang jemaah protes, “baa model tu kaji Buya? Sia pulo yang ingin dirinyo susah? Tapi kesusahan tu bana yang tibo tanpa awak undang,” sanggah si jemaah.

Buya tersenyum. Lalu dengan bijaksana menjawab; beristighfarlah kita pada Allah. Bermohon ampunlah. Jangan sekali-kali kufur akan nikmat yang diberikan-Nya. Bersyukurlah.

Lalu Buya membaca ayat-ayat Alquran, surat Ar-Rahman. Ayat yang berulang-ulang. Artinya ditafsirkan Buya; ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’ Allah telah memberikan mata, telinga, tangan, kaki, namun manusia sering tidak menggunakan semua itu secara baik. Bahkan, karena lemah menghadapi kesusahan, banyak pula orang yang menjual harga diri; meminta-minta, jadi pengemis, bahkan melacur. Padahal, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Memberi lebih baik dari menerima.

Panjang lebar Buya mengaji. Buya ingin menekankan pentingnya rasa syukur. Manusia jangan mudah kalah pada lika liku hidup. Semuanya proses yang harus dihadapi. Manusia harus berjuang.

Jemaah menekur. Mengangguk-angguk. Sebagian ‘takantuak-kantuak’.

Tapi itulah jadinya kalau awak kurang ‘tamakan kaji’. Ketika Buya ceramah di masjid semangat tiba-tiba bergairah kembali. Tapi ketika keluar masjid, kadang kalah lagi awak hadapi kesusahan hidup. Di masjid Buya kaji teori, di luar masjid awak menghadapi realitas hidup hari ini.

Di negeri ini siapa bilang tak ada orang susah. Di mana-mana orang pun sering mengaku hidupnya susah. Kalau tidak percaya, cobalah sekali-kali ‘tes’ awak meminjam ‘pitih’. Jawaban yang akan awak dengar, “Wah, lagi susah. Awak lagi butuh ini itu, segala macam. Susah, lah. Jangan sekarang pinjamnya. Lain waktu saja.” Begitulah kira-kira.

Gambaran orang susah yang sebenar susah pun dapat dilihat jika awak berjalan di kawasan pasar. Hitunglah berapa banyak peminta-minta di sana. Ada pengemis yang dipapah istrinya, dituntun anaknya. Ada yang mengemis sendiri dengan papan roda didudukinya. Ada pula yang berbaring. Ada yang setengah memaksa meminta sedekah. Wah, benar-benar pemandangan susah yang menyusahkan hati orang-orang yang melihatnya.

Konon kabarnya, orang-orang susah itu bukan orang kota. Datang dari kota-kota pinggiran. Datang pagi pulang sore. Begitu saban hari. Tapi kok teganya pemerintah membiarkan begitu terus. Katanya ada petugas yang menertibkan. Tapi kenapa orang-orang susah itu semakin banyak saja di lapangan. Siapa yang salah? Orang susah yang mencari hidup ke kota atau petugas yang setengah hati menertibkan mereka? Walah, serba susah juga.

Yang jelas, Kota Padang yang cantik ini bukan hanya untuk orang-orang yang senang saja hidupnya. Multi kehidupan ada di sini. Dan, alangkah indahnya dunia ini, jika orang-orang senang bermurah hati menyantuni yang susah, dan yang susah pun bersyukur akan nikmat yang didapatkannya dari pemberian orang-orang senang. Melalui pembinaan, pendidikan, kasih sayang, sehingga orang-orang susah itu tidak lagi meminta-minta di tengah kesusahannya. Wallahu a’llam. []

Kamis, 29 April 2010

BIMBANG

Muhammad Subhan

aku menatap harap dalam gelap
di kisi waktu yang membeku
bukan jiwa kehilangan rasa
hanya hati yang tak yakin diri

Padang Panjang, 2010

Rabu, 28 April 2010

Gempa Pemikiran

Oleh: Muhammad Subhan

TERBAKARNYA Ustano Basa Pagaruyung di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar, banyak orang mempredeksi sebagai awal bencana demi bencana yang terjadi di Sumbar. Sepekan paska kebakaran Ustano yang kini di polemikkan banyak pihak, gempa bumi berkekuatan 6,2 SR menguncang Sumbar.

Musibah yang tak diduga itu, mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, ribuan rumah dan fasilitas umum rusak, tak terkecuali masjid dan musalla, roboh pula dihoyak gempa.

Ustano Pagaruyung terbakar pada Selasa (27/2/2007), dan gempa besar mengguncang Sumbar juga pada Selasa (6/3/2007). Bedanya, Ustano terbakar pada Selasa malam, sedangkan gempa terjadi pada Selasa siang. Saya tak dapat membayangkan jika gempa terjadi pada malam hari, ketika masyarakat lelap dalam mimpi, entah berapa nyawa pula yang melayang. Beryukurlah karena Tuhan masih sayang pada kita.

Sebelum Ustano terbakar, banyak orang tua di Pagaruyung kaget melihat ribuan lebah yang bersarang di bawah atap bagian depan Ustano menghilang. Pergi entah kemana. Peristiwa itupun menjadi pertanda bahwa akan ada musibah besar yang menimpa Tanah Datar, Sumbar umumnya.

Wartawan Kompas Yurnaldi jauh hari sebelum terbakarnya Ustano menulis tentang keberadaan lebah itu yang menarik perhatian pengunjung. Lebah yang akrab dan tak mengganggu orang-orang yang datang mengagumi keindahan Ustano. Bahkan, Puti Reno Raudha Thaib yang diwawancarai Yurnaldi mengatakan, jika lebah itu berpindah tempat akan ada pertanda buruk, ada bencana yang akan datang.

Wallahu a’llam. Tak ingin saya mengkait-kaitkan soal perginya lebah dan terjadinya kebakaran Ustano yang sepekan kemudian Sumbar dihoyak gempa. Namun, semua perestiwa yang terjadi itu, setidaknya mengingatkan kita bahwa bencana yang diturunkan Tuhan terkait erat dengan perbuatan manusia, hamba-hamba-Nya.

Gempa di Sumbar memang tak sedahsyat gempa 6,8 SR disusul tsunami yang terjadi di Aceh tiga tahun silam. Ratusan ribu nyawa manusia melayang di Aceh. Takjubnya, ribuan masjid yang dihoyak gempa dan dihantam tsunami tetap berdiri kokoh, utuh. Lalu masjid pun dijadikan tempat berlindung.

Di Sumbar, gempa tanpa tsunami telah merobohkan banyak masjid. Bahkan jemaah yang menunaikan salat di dalam masjid, nyaris di”impok” reruntuhan masjid. Beberapa hari lamanya, orang ‘tak berani’ mendatangi masjid.

Dan, paska gempa di Sumbar, timbul bencana baru yang lebih dahsyat; “gempa pemikiran” (istilah saya—red). Nyaris, hampir setiap hari, baik di media massa maupun di lapau-lapau, orang meributkan soal pembangunan kembali Ustano. Tampaknya Ustano lebih penting daripada Masjid Agung di Padang yang entah kapan pula mulai dibangun.

Yang lebih parah, “gempa pemikiran” itu sudah melangkahi norma-norma keintelektualan yang bermuara pada hujat-menghujat, caci memaki, dan fitnah memfitnah. Sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang ‘netral’ belum pula bersuara untuk menengahi.

Padahal, sebagai orang Minang, budaya duduk mufakat, “raso jo pareso, kato nan ampek, maluruihan nan kusuik”, sangat dijunjung tinggi. Begitupula, “mancaliak ka nan sudah”—musibah gempa yang terjadi—hendaknya menjadi bahan perenungan, bukan olok-olokan yang mengundang ‘gempa-gempa’ baru. Dan, kita berharap, dengan perenungan itu, berjayalah kembali “Minangkabau”! []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Harian Haluan, 28 Maret 2007)

SENJA DI DERMAGA

Muhammad Subhan

kulabuhkan rindu
pada dermaga berlaut biru
tapi tak kutemukan kata
di riaknya yang menawar cinta
angin berbisik
elang mengulik
sudah nampakkah tanah daratan itu?
entahlah
biduk kehilangan kayuh
sauh pun tak mampu menggapai dasar laut
kalut
jalan kehilangan arah
resah

Padangpanjang, 2010