Selasa, 22 Februari 2011

Lirik Lagu “Ode Rinai Kabut Singgalang by Muhammad Jujur


Resah ku menggema, mengganti duka nestapa
Apapun ku t'rima, semampu ku pendam
Tak sanggup ku terka, dan tak sempat ku bertanya
Diriku sendiri dalam sepi

Sunyi hati ini, sesunyi embun di gunung
Rinai kabut hati di puncak Singgalang
Aku pergi jauh melangkah di dalam sepi
Batu nisan ini lambang cinta

Cahaya redup kau terang menghias
Ku reguk... Tak kan ku lepaskan
Kau ku peluk... hening... sepi...
Janjimu, oh Rahima…
Walaupun di dunia ini kita terpisah
Ku nanti dikau di sana...
Cinta kita di dunia tak pernah nyata

Setiap waktu musim berlalu
Terkenang Rinai Kabut Singgalang
Menjadi saksi
Membisu….

(Song by: Muhammad Jujur)

(Videoklip “Ode Rinai Kabut Singgalang” dapat didownload di Youtube dengan mengklik tautan ini: http://www.youtube.com/watch?v=IF2P3EkL-8E)

Sabtu, 19 Februari 2011

Rinai Kabut Singgalang, Novel Baru yang Mengharu Biru


Salam Sastra!

Telah Terbit…!!!
Novel Berlatar Ranah Minang
“RINAI KABUT SINGGALANG”
Karya Muhammad Subhan
Terbit Januari 2011
Penerbit Rahima Intermedia, Yogyakarta
Tebal 396 halaman
Harga Rp 48.000 (Diluar ongkos kirim)
ISBN: 978-602-98158-0-1

Pesan Langsung ke Pengarangnya…!!!
Hubungi No Hp 0813 7444 2075 atau 0819 9351 6937
Atau via facebook: rinaikabutsinggalang@yahoo.com

Silahkan download lagu “Ode Rinai Kabut Singgalang” disini:
http://www.reverbnation.com/muhammadjujur

(Catatan: Bila info ini bermanfaat, kami sangat berterima kasih bila Anda berkenan menyebarkan pesan ini kepada rekan-rekan lainnya)

Salam kreatif!

*****

SINOPSIS NOVEL RINAI KABUT SINGGALANG

Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri), perempuan asal Pasaman (Sumatera Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekad menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang”, “orang di pinggang”, “orang yang tak berurat-berakar”. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medankota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orang tua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (gila), lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat. dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sebelum ke Padang, Fikri mencari mamaknya (paman) di Kajai, Pasaman. Di kampung asal ibunya itu, Fikri sempat merawat paman Safri yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Namun akhirnya Mak Safri tewas dibunuh akibat suatu perkelahian. Fikri pun meninggalkan Kajai hijrah ke Padang. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─ bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang”, “orang di pinggang”.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Annisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong Ningsih ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam kesendirian, dalam keterpiuhan perasaan lantaran pengkhianatan cinta. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Sampaikah Fikri dan Rahima bersua di kemudian hari ataukah pemuda malang itu hanya bertepuk sebelah tangan? Simak kelanjutan kisah yang mengharu-biru perasaan ini, dan menguras air mata dalam setiap babnya…

*****

SEJUMLAH ENDORSEMENT

Syarat sebuah novel adalah adanya konflik. Muhammad Subhan mampu membangun konflik yang kuat dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, hingga jalinan cerita mengalir bening. RKS mampu menerbitkan rasa penasaran untuk mengikuti cerita selanjutnya. Satu lagi yang memperkuat novel ini adalah setting, dan tradisi budayanya. Kearifan lokal dalam novel memang senantiasa mencipta aroma eksotik. (Dianing Widya Yudhistira, Novelis)

Awalnya saya tak percaya, ucapan Sutan Takdir Alisyahbana suatu hari, sastrawan besar akan terlihat dari novelnya. Memang, novel bukan ada cerita lantas sekadar ditulis. Ada riset, ada referensi, dan banyak lagi. Itu alasan STA. Dan Muhammad Subhan telah melakukannya dalam RKS, sehingga tidak kentara bahwa penulisnya adalah orang Aceh, karena terasa kaki Singgalang benar-benar tergambarkan dalam ceritanya. (Sutan Iwan Soekri Munaf, Penyair, Cerpenis)

Menikmati RKS, pengarang dengan cerdas mengelompokkan kata dalam latar, alur, dan konflik melalui para tokoh yang dihadirkannya. Sesungguhnya bila ditelisik lebih jauh, segala peristiwa merupakan realitas diri pengarang yang ditemuinya dalam lingkungan berkehidupan. Peristiwa inilah yang disebut realitas sastra. Kecerdasan novelis meramu tiga dimensi sastrawi; estetika-etika-logika yang ditransformasikannya sebagai medium pendidikan dan moralitas bagi pembaca. Ini yang membuat RKS berkualitas. (Sulaiman Juned, Penyair, Kolumnis, Sutradara Teater, Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang)

Lebih dari sekedar romantisme kejayaan sastrawan Minangkabau, utamanya pada era Balai Pustaka, RKS menghadirkan kekhasan dan nilai-nilai etis-etnik Minang, dengan kelancaran berselancar di atas alur kisah dan tukikan emosi, kadang landai kadang curam. Tentunya dengan nuansa baru. (Muhammad Nasrudin, Editor, Pegiat Buku)

Roman eksotis-romantis ini tak jemu mengajak saya hanyut seturut panorama alam nan elok dari negeri bernama Minangkabau. Pengarang cukup lihai meracik keelokan alam yang berkelok-kelok naik turun “disebangunkan” dengan kelokan ketegangan-ketegangan di dalam kisahnya. Asmara yang mengharu-biru. Betapa serunut “adat” asmara tak memiliki setitik pun kuasa, melawannya alamat menuai derita tak tertanggungkan. Pengusiran, cerai persaudaraan, stigma buruk, bahkan dituduh sebagai penyebab kematian orang-orang yang ditinggalkan. RKS mengajak pembaca menikmati hingga tanda titik paling akhir dari cerita ini. (Akhiriyati Sundari, Ketua Komunitas MATAPENA Yogyakarta)

Rasa minang hadir dalam kisah perkisah RKS. Pengarangnya mengingatkan kita pada Hamka yang populer dengan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Kisah yang mengharubirukan perasaan. Bahasanya halus, pengarang berhasil mendeskripsikan perasaan yang mendalam para tokohnya, hingga tak dinyana pembaca bagai dihanyutkan oleh tragedi cinta yang amat sentimentil, tragis, dan berurai air mata. (Irzen Hawer, Pengarang Novel Cinta di Kota Serambi)

******

TENTANG PENGARANG

RINAI KABUT SINGGALANG adalah novel pertama yang ditulis Muhammad Subhan. Ia lahir di Medan, Sumatera Utara, berdarah Aceh-Minang. Sejak masih sekolah di SMP Negeri 6 Krueng Geukueh dan SMA Negeri 1 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, ia sangat suka mengarang. Saat usia sekolah itu, sejumlah puisi, cerpen, dan artikelnya pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Aceh.

Bakat menulisnya terus berkembang sejak tahun 2000 ia memutuskan menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, Sumatera Barat, diantaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Garda Minang, Media WatchMimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010). Pernah menjadi editor Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com)Sabiliwww.korandigital.com yang berpusat di Belanda (2007-2010), dan kontributor Majalah Islam (2008-2010). Sejak April 2010 ia memimpin Media Online yang berbasis di Kota Serambi Mekah Padang Panjang. (2000-2003), Harian

Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Selain wartawan ia bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Koordinator Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi.

Beberapa puisi dan tulisannya terkumpul dalam antologi bersama, diantaranya; Lautan Sajadah (Antologi Puisi, Himabasindo FKIP/Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi, eSastera Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, Apsas, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Kumpulan Liputan Perburuhan, AJI Indonesia, 2009), dan Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Evaluasi Kredit Mikro Nagari yang ditulis bersama wartawan senior Asril Chaniago dan Ekoyanche Edrie, Bappeda Sumbar, 2009). Ia dapat dihubungi melalui surat elektronik di: aan_mm@yahoo.com atau Hp 081374442075. Add ia di facebook via email fb: rinaikabutsinggalang@yahoo.com.

COVER BUKU DAPAT DILIHAT DI: http://www.facebook.com/profile.php?id=100000023212114#!/photo.php?fbid=183580531652719&set=a.161592157184890.38374.100000023212114&theater

Salam Sastra!

Senin, 14 Februari 2011

Rinai Kabut Singgalang, Sebuah Novel yang Humanis

(Komentar Pembaca Novel Rinai Kabut Singgalang)

Sebuah novel yang humanis dan mampu memberikan inspirasi dan mengundang kita untuk berpikir serta merenungi makna kehidupan dan makna suatu perkawinan, juga makna dari 'harga diri'. Andaikan kita bisa lebih menempatkan sesuatu pada tempat yang tepat dan mampu memaknai kehidupan secara lebih terbuka maka berbagai tragedi kehidupan seperti yang dikisahkan dalam novel itu tentu tak perlu terjadi. Hidup memang perlu pemaknaan yang lebih luas dan dijalani dengan ikhlas karena tidak ada satu kejadian pun tanpa seizin Allah.

Manusia tidak harus menjadi 'hakim' atas setiap perjalanan kehidupan seseorang tetapi lebih baik sebagai bagian dari perjalanan yang penuh dinamika dan makna.

Mudah-mudahan novel tersebut dapat dibaca banyak orang dan pembacanya menjadi tercerahkan.

FB/49/Deltaco

Firdaus Badaruddin"

Dikirim ke Milis Silungkang

Jumat, 11 Februari 2011

Suatu Siang, di Kafe Samping Gedung Gramedia Padang

Catatan Tiara Mairani (Ala 'alaa Lazadouw)

Siang tadi, aku dan teman-teman mampir ke Toko Buku Gramedia di Jalan Damar Padang. Siang sangat teriknya. Udara membawa gerah. Kami berempat orang sepulang sekolah. Kawan-kawan mengajakku melihat-lihat novel terbitan terbaru di toko buku favoritku itu.

Maka bergegaslah kami masuk ke dalam gedung Toko Buku Gramedia yang besar. Di bagian rak buku-buku baru, aku dan teman-teman melihat novel-novel terbitan terbaru. Di sana ada Trilogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, ada Negeri Lima Menara dan Ranah 3 Warna karya A. Fuadi. Bersisian dengan novel Ranah 3 Warna karya A. Fuadi, ada novel yang covernya cukup menarik, novel itu berjudul Rinai Kabut Singgalang karya Muhammad Subhan.

Aku sih sudah lama memiliki Rinai Kabut Singgalang (RKS). Langsung aku pesan ke penulisnya plus dapat tanda tangan unik yang diberikan Bang Muhammad Subhan. Sejak aku memiliki RKS, buku itu tak dapat sejenak diam di tanganku, terus berpindah-pindah tangan dari satu orang ke orang yang lain. Bahkan istri adik ibuku yang bersama keluarganya bertugas di Aceh, juga ikutan membaca RKS. Jadi RKS yang ditandatangani penulisnya langsung itu, tidak bersamaku lagi sekarang. Sudah terbang jauh meninggalkan Padang ke negeri Tanah Rencong.

Siang itu, sebagai pengganti novel RKS yang aku kirim ke Aceh, aku dan teman-teman membeli novel RKS yang baru di Gramedia. Tentu saja novel RKS yang berlabel plastik dan masih baru itu tidak ada tanda tangan penulisnya. Tapi tak apalah, suatu waktu nanti bila bertemu aku minta lagi tanda tangan penulisnya. Eh, tahu tidak, aku membeli RKS juga diikuti ketiga orang temanku. Mereka ikut membeli RKS, katanya tertarik ingin membacanya, seperti apa isi novel itu. Jadilah semua kami membeli RKS siang itu. Pokoknya heboh, deh!

Dan, seusai membayar pembelian novel itu di bagian kasir, kami menyempatkan singgah di sebuah kafe di samping Gramedia. Kami makan minum di sana. Tak jauh dari tempat kami duduk, ada tiga orang ibu-ibu yang rupanya habis membeli buku juga di Gramedia. Aku lihat di tangan mereka memegang Novel Ranah 3 Warna dan Novel Rinai Kabut Singgalang. Mereka pun aku dengar memperbincangkan kedua novel itu yang ditulis oleh putra Minang. Rupanya, baik novel Ranah 3 Warna dan Rinai Kabut Singgalang itu sudah cukup dikenal di Sumatera Barat.

Karena duduk kami berdekatan, tentu saja aku mendengar jelas perbincangan mereka. Kadang mereka tertawa dan berbicara serius mendiskusikan novel itu. Kata seorang ibu yang berpakaian PNS, “Anak-anak sekarang kurang bangga dengan karya-karya sastra negeri mereka sendiri. Remaja sekarang lebih suka baca novel-novel terbitan asing.” Pendapat ibu itu diaminkan oleh teman-temannya yang lain.

Wah, pokoknya asyik sekali aku dan teman-teman menyimak perbincangan ibu-ibu itu. Tidak aku sangka bila kami sejodoh, sama-sama menyukai kedua novel itu.

Karena hari kian sore, kami pun segera beranjak meninggalkan kafe itu dan berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Teman-temanku berjanji akan menamatkan membaca Rinai Kabut Singgalang dan mendiskusikannya di sekolah nanti. Buat Bang A Fuadi dan Bang Muhammad Subhan, selamat deh, karyanya cukup inspiratif dan aku turut bangga sebagai orang Minang yang memiliki penulis-penulis muda yang hebat. Aku semangat juga untuk jadi penulis, neh. Amin…

Padang, 11.02.2011

7 Tips Pemasaran Buku Produk Self Publishing

1. Hindari bertumpu pada promosi online

Semua penulis buku melakukannya. Kompetisi terjadi tidak hanya sesama penulis self publishing. Penerbit mainstream rata-rata memiliki situs yang memajang setiap produknya. Mereka gencar memberi insentif bagi blog-blog yang meresensi setiap terbitan terbaru mereka. Penulis indie cenderung menaruh harapan sepenuhnya pada promosi online. Anda bisa melihat status facebook dan timeline twitter dibanjiri oleh promosi buku. Buku anda berada diantara kerumunan pasar. Anda tidak punya ’sesuatu’ yang bisa membuatnya ‘menonjol’. Sebagai salah satu cara, bolehlah. Tetapi sebagai satu-satunya cara, jangan!

2. Manfaatkan Komunitas spesifik anda

Umumnya penulis indie dewasa ini berangkat dari blog. Saya yakin anda punya pembaca, yang lebih dari sekali mengunjungi laman maya anda. Coba buka dashboard —-> Comment. Lihat, di bawah nama pemberi komentar ada tersisip alamat email-nya. Inventaris semua. Lalu, buatlah satu file attachments berisi foto sampul buku, sinopsis buku & testimoni pembaca yang mirip sales letter. Kirim sekaligus kedaftar email tersebut. Mereka suka blog anda, mereka akan suka buku anda.

Jangan lupa berikan sentuhan pribadi berupa tandatangan dan seuntai kalimat bagi pembeli jadi. Sentuhan ini akan jadi kenangan yang memudahkan penjualan buku kedua anda kelak :) (karena tandatangan dan kalimat terima kasih dari penulis Dee Dee Sabrina, saya berjanji akan membeli lagi buku kedua-nya kelak)

3. Testimoni tokoh

Penulis umumnya -hanya- meminta testimoni dari sesamanya penulis. Dan butuh mukjizat bagi penulis pemula untuk memperoleh testimoni dari penulis ternama. Testimoni adalah ‘pengaruh’. Saya sendiri menghindari membeli buku yang halaman belakangnya dipenuhi testimoni. Oleh penulis itu-itu lagi, yang royal mentestimoni semua buku di bawah naungan penerbitnya.

Manfaatkan ‘testimoni tidak tertulis’. Dee Dee Sabrina menceritakan pengalamannya memberikan secara cuma-cuma bukunya pada salah seorang dosen sastra. Tak lama setelah membacanya, Dosen bersangkutan ‘mereferensikan’ buku antologi fiksi ‘ISI’ sebagai bacaan yang ‘wajib’ kepada para mahasiswanya.

4. Berdayakan Media lokal (koran dan radio)

Media konvensional seperti Koran harus diakui lebih punya kredibilitas ketimbang media online. Tingkat kepercayaan publik telah dibangun media tersebut selama bertahun-tahun. Pembaca mempercayai koran langganannya.

Koran biasanya punya halaman budaya pada edisi hari minggu. Anda bisa menemukan kolom resensi buku disebelah cerpen atau puisi. Setiap daerah pasti bangga atas setiap pencapaian prestasi warganya sendiri. Koran lokal umumnya punya keberpihakan untuk memuat sinopsis -atau resensi- buku dari penulis yang punya keterkaitan dengan wilayah penyebarannya. Media gemar menampilkan sosok yang bisa menginspirasi lingkungannya. Kirimkanlah satu jilid buku anda kepada redakturnya. Antar sendiri lebih bagus, disertai dengan soft copy berisi sinopsis atau resensi siap unggah ke hard disk redaksi.

Dee Dee Sabrina mengungkapkan bagaimana dia mendatangi rekan-rekannya di komunitas radio di kota stabat Medan, untuk menampilkan profilnya sebagai penulis muda dalam satu sesi siaran. Radio butuh berita, jadi win-win solution, bukan ?

5. Datangi bekas sekolah/kampus anda

Sumbangkan satu jilid buku anda untuk perpustakaan kampus. Lebih bagus lagi jika kampus anda punya media internal (majalah/bulletin/koran/radio). Buat satu forum dimana anda bisa berbagi pengalaman dan inspirasi kepada yunior-yunior anda. Bawa beberapa contoh buku untuk direct selling. Pembaca buku suka membeli langsung dari tangan penulisnya. Jangan shock bila mereka meminta foto dan tanda tangan, yah.

6. Stok buku

Ini tips dari Vira Cla. Dia sengaja membeli bukunya sendiri dalam jumlah yang cukup signifikan sebagai stock. Ini berhubungan dengan psikologi masyarakat kita, yang lebih nyaman bertransaksi dengan manusia ketimbang situs. Yang perlu diingat dalam penjualan online adalah kejelasan profil penulis yang sekaligus merangkap sebagai pemasar. Buat calon pembeli merasa ‘aman’ berhubungan dengan anda, baik melalui blog pribadi maupun akun anda di jejaring sosial. Lengkapi data-data dan foto pribadi anda di akun tersebut. Penulis dengan nama alias/samaran tidak punya tempat di era web 2.0.

7. Kirim buku anda ke editor/kritikus nasional

Ini tidak berdampak langsung bagi penjualan, tapi umpan baliknya bisa diluar dugaan. Manfaatkan fitur pencarian teman di Facebook anda. Cari nama-nama besar semacam Nirwan Dewanto atau Nirwan Ahmad Arsuka. Cobalah untuk berteman dengan mereka. Mereka adalah orang yang ramah. Jika interaksinya sudah dirasa cukup, kirimkanlah satu jilid buku anda kepada mereka. Minta mereka memberi masukan, semata-mata demi perbaikan bagi cetakan buku anda selanjutnya. Mungkin mereka tidak akan meresensinya di Kompas. Paling tidak dia memberikan apresiasi, penyemangat bagi anda. Syukur-syukur dia menuliskannya di status FB atau tweet di timeline mereka. Bila itu terjadi, siap-siaplah untuk bolak-balik ke kantor pos.

Sumber kutipan: http://halaqah.net/v10/index.php?topic=13964.0

Kamis, 10 Februari 2011

Prosa dan Semesta Luka

Oleh Damhuri Muhammad

SEJUMLAH pengamat sastra menuding “warna-lokal”─sebagai ultimate concern prosa yang muncul sejak beberapa tahun belakangan─tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum, terminologi, bahkan peribahasa khas lokal dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya. Sebutlah misalnya, kumpulan cerpen Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2009) karya Ragdi F Daye, yang penuh-sesak oleh ungkapan khas Minangkabau semacam “melepongkan,” ‘basilemak,” dan “manggoro,” yang bila tidak merujuk pada glosarium yang terukur tentulah bakal membuat kening pembaca berkerut─utamanya pembaca berlatar belakang non-Minangkabau. Modus dan siasat literer serupa juga dapat ditemukan dalam Bulan Celurit Api (2010) karya Benny Arnas, dengan diktum khas melayu Lubuk Linggau (Sumsel) seperti “Singup,” “Pudur,” dan “Tarup.” Begitupun diksi khas Bugis yang berseliweran dalam antologi cerpen “Mengawini Ibu,” (2011) karya Khrisna Pabichara.

Sekilas-pintas klaim itu barangkali ada benarnya. Namun, bila ditelisik lebih menukik, “warna-lokal” tidaklah sesederhana sebagaimana yang diduga. Mewabahnya jenis prosa dengan ekspresi estetik yang tegak-berdiri di atas “warna-lokal” sejatinya bukan tanpa sebab, tidak taken for granted, sebagaimana wejangan yang meluncur dari langit ke tujuh. Sebab paling absah adalah karena realitas “Indonesia” yang selama berkurun-kurun hendak diniscayakan sebagai fondasi kepengarangan para sastrawan bertumpah-darah Indonesia, kini rapuh─untuk tidak menyebut “telah runtuh.” Megaproyek yang dirancang oleh para founding of the fathers guna memancangkan “Indonesia” sebagai realitas universal telah gagal. Tak disangkal bahwa secara teritorial realitas “Indonesia” masih terang-benderang, tapi secara kultural, adakah seorang pakar yang sanggup membulat-lonjongkan sebuah definisi tentang “kebudayaan Indonesia?” Alih-alih mengunci sebuah pemahaman yang paripurna tentang Indonesia sebagai entitas universal, yang kerap bersilang-pintang dalam keseharian kita adalah Indonesia rasa Jawa, rasa Makassar, rasa Toraja, rasa Batak, rasa Aceh, dan seterusnya. Maka inilah sebuah kurun tempat segala bentuk totalitas dan universalitas dirobohkan. Sebuah episode sejarah ketika segala rupa partikularitas terus-menerus menyesak, “yang pinggiran” senantiasa merangsek masuk, “yang terabaikan” bermunculan seperti cendawan musim hujan.

Kaum filsuf pasca-modernisme menyebut “yang partikular,” “yang pinggiran,” “yang tak terperhatikan” itu sebagai “yang lain” (the others). Bagi mereka, entitas “yang lain” (Minang, Batak, Bugis, Banjar, Toraja, dll) itu harus di-“afirmasi,” diakui, dihargai keberadaannya. Bila tidak, ia akan terus mengancam, dan menjadi benalu dalam entitas universal bernama “Indonesia” itu. Dalam kacamata pasca-modernisme, tidak ada pusat, tidak ada pula pinggiran. Semuanya berjalin-kelindan dalam sebuah jejaring permainan tanda bernama: Simulakra. Tak ada makna tunggal dalam lingkaran Simulakra. Sebab, makna selalu tenggelam─atau menenggelamkan diri─dalam keberbagaian pengalaman baca dan tafsir yang tiada berhingga. Differance, begitu Jacques Derrida (1930-2004) menamai kompleksitasnya.

Maka, baik “Indonesia” maupun “warna-lokal” tidak sebatas kata-kata, bukan pula benda-benda, artefak, melainkan “peristiwa” yang terus berubah, bermetamorfosa, beralih-rupa, dan oleh karena itu, akan terus ditunda kuasa tafsir tunggalnya. Di-“dalamkurungkan” semua asumsi dan presuposisi tentangnya. Epoche, begitu fenomenolog Edmund Husserl (1859-1938) menamainya. Namun, bila teks prosa melulu disibukkan oleh hasrat asali hendak merobohkan fondasi dan kedigdayaan pusat atau “yang universal,” sebagai karya artistik, di manakah pendekatan estetik dapat dilekatkan? Ini pertanyaan yang perlu segera didudukkan, karena selama ini terminologi “estetika” selalu identik dengan ukuran indah-buruk. “Estetika” berasal dari kata “aesthesia” yang berarti “kesadaran” (sensibility). Di dunia medis, kita mengenal suntikan “an-aesthesia” (“hilangnya kesadaran)” bagi pasien yang akan dioperasi. Berangkat dari situ, filsuf Jacques Ranciere dalam Disensus, On Politics and Aesthetics (2010) menegaskan bahwa estetika tidak ada hubungannya dengan parameter indah-buruk. Maka, seni yang berpijak pada fondasi “mimetik” (Plato) dan fondasi “etic” (Arisoteles), bagi profesor bidang estetika di Ecole Normale Superieure, Paris itu sudah lapuk. Ranciere menyebut orientasi “mimetic” dan “etic” dalam ekspresi seni sebagai aesthetic regime of art, dan karena itu harus dirobohkan. Baginya, dunia seni tidak lagi berperan menggambarkan realitas fakta-fakta keras, atau mengejar konsekuensi etis bagi para penikmatnya, melainkan sebagai upaya meredistribusikan kesadaran (redistribution of sensibility), termasuk kesadaran melawan aesthetic regime of art, dan kuasa tafsir tunggal.

Novel Rinai Kabut Singgalang (2011) karya Muhammad Subhan ini sedang meredistribusikan kesadaran terhadap luka personal untuk kemudian menjadi luka yang jamak dirasakan para pembacanya. Disebut “meredistribusi,” karena sebelum dituliskan, luka itu telah terdistribusi ke dalam imaji pengarang. Kata “rinai” pada redaksi judulnya mengingatkan saya pada sebuah lagu pop Minang bertajuk Rinai Pembasuh Luka. “Rinai” yang secara harfiah berarti “gerimis” tampaknya diarahkan pada maksud metaforik: membasuh luka yang bakal terus berdarah. Betapa tidak? Peristiwa luka yang dialami Fikri (tokoh utama) seperti menapaktilasi kembali luka yang pernah dialami ibu-bapaknya di masa lalu. Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri), perempuan asal Pasaman (Padang) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekat menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang,” “orang di pinggang,” yang tak berurat-berakar. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orangtua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa, lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Diceritakan, Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Di titik ini, ada perubahan paradigmatik dalam konsep merantau. Bila di masa lalu, merantau adalah pergi menuju sesuatu, tapi perantauan Fikri adalah sebuah ikhtiar meninggalkan sesuatu; luka. Riwayat perjalanan Fikri dimanfaatkan pengarang untuk merekam jejak-luka yang pernah menimpa ibunya, Maimunah. Di Pasaman, Fikri sempat merawat paman Safri─di Padang disebut “mamak─yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang,” “orang di pinggang.” Menurut hemat saya, alibi yang mengatasnamakan adat itu tampaknya tidak lagi terlalu penting, sebab alasan inti dari penolakan itu adalah karena Fikri laki-laki miskin. Di titik ini pengarang tidak saja melakukan redistribution of sensibility, tapi juga berupaya mengekalkan persepsi tentang luka itu dari pangkal hingga ujung novel ini. Jacques Ranciere menyebut upaya kreatif semacam ini sebagai petrification, membatukan pengalaman personal untuk menjadi kesadaran orang banyak.

Dari sisi kebaruan, novel ini belum terlalu menjanjikan. Sebab, eksplorasi tematiknya lebih banyak bergelimang dengan hal-ihwal usang yang dalam roman-roman karya pengarang Minang tahun 40-an sudah ramai diperbincangkan. Sebutlah misalnya roman-roman karya Buya Hamka seperti Merantau Ke Deli (1940) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939). Garis identifikasi tematiknya lebih kurang sama, meski latar-tempatan dan waktu pengisahannya berbeda. Sebentuk stok baru dari barang lama. Namun, pencapaian estetika novel tentu tidak bisa ditimbang semata-mata dengan aspek kebaruan. Oleh karena itu, kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sesungguhnya dapat ditandai dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai terabaikan. Nestapa cinta Fikri dan Rahima boleh jadi setali tiga uang dengan kasih tak sampai Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tapi romantika semacam ini dapat mengingatkan kembali bahwa keistimewaan roman berlatar lokalitas Minangkabau memang dapat tertandai di titik ini. Resistensi terhadap adat-istiadat, ketersingkiran kaum laki-laki lantaran kuatnya tikaman “garis ibu,” dan konsep keterusiran yang dilemah-lembutkan dengan terminologi “merantau.” Muhammad Subhan, sedang berusaha melakukan konservasi ingatan dan kenangan terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terus bergejolak di bawah permukaan.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Anisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong suaminya ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam keterpiuhan perasaan. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Penggambaran semesta kepiluan dan dukalara Fikri yang begitu dramatik─Fikri bahkan sempat berkeinginan menenggelamkan dirinya ke laut─dan sesekali berpola sinetronik, menurut hemat saya bertolak belakang dengan militansi dan watak pantang-menyerah laki-laki yang tumbuh-besar di bumi Serambi Mekah. Pada bagian eksplorasi kesedihan, Fikri tampak sebagai laki-laki yang gampang sekali menangis dan berlarut-larut dalam kesedihan. Sangat berbeda dengan watak Sidan, tokoh rekaan dalam Nirzona (2008), novel berlatar Aceh karya Abidah el-Khalieqy. Keras, tangguh, dan tak gampang dihempas gelombang.

Padahal, di penghujung kisah, Fikri menjadi laki-laki yang terlahir kembali. Ia pengarang tersohor, bahkan salah satu novelnya akan dilayar-lebarkan. Alur kisah yang mengingatkan saya pada ketokohan Zainudin dalam Tenggelamnya Kapal Vander Wick, yang pada akhirnya sukses sebagai dramawan terkemuka. Pada salah satu bagian tentang keberhasilan Fikri dituliskan “Hamka baru lahir kembali di Padang,” memperlihatkan obsesi kepengarangan yang terdorong oleh kekaguman pada riwayat kepengarangan Buya Hamka. Kabar tentang keberhasilan Fikri membuat Ningsih (orang yang telah memisahkannya dengan Rahima), tak segan-segan menjilat ludah sendiri. Lagi pula, pada saat yang sama, Rahima sedang tertimpa masalah; suaminya menjadi tersangka korupsi, dan bunuh diri di penjara. Sejatinya, rasa cinta Fikri pada Rahima tiada bakal punah, meski pengkhianatan itu sukar ia lupakan. Atas dasar itu pula Fikri memenuhi undangan Ningsih untuk datang ke Jakarta, perempuan itu hendak mempertemukan kembali “kasih tak sampai” yang telah membuat perasaan Fikri-Rahima tercabik-cabik. Namun, novel ini disudahi dengan cara sangat tragis, kepulangan Ningsih, Rahima, dan Fikri bukan kepulangan yang membahagiakan. Pesawat yang mereka tumpangi tergelincir. Rahima selamat, tapi Fikri mengalami geger-otak, dan karena itu ia merasa tak memenuhi syarat lagi untuk menjadi suami Rahima. Ia meminta sejawat karibnya, Yusuf, untuk menikahi Rahima. Saat ijab-kabul pernikahan itu berlangsung, Fikri menghembuskan napas penghabisan. Begitulah. Lantaran pada mulanya luka, pengarang pun menimbun romantikanya dengan luka.

DAMHURI MUHAMMAD
Cerpenis, esais Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada Bermukim di pinggiran Jakarta

Sabtu, 05 Februari 2011

Email Seorang Pembaca Novel "Rinai Kabut Singgalang"

Friday, February 4, 2011 9:33 AM
From: syamri_can@yahoo.com
Add sender to Contacts
To: aan_mm@yahoo.com

Ass, Bang Subhan. Maaf baru ini saya sempat menuliskan sebaris dua baris kata buat abang. Seperti yang saya konfirmasikan lewat sms kemaren, saya sangat kagum dan tertarik akan novel Anda yang berjudul "Rinai Kabut Singgalang". Saya selama ini memang sangat memuji buku-buku karangan Buya Hamka, bahkan untuk mendapatkan buku yang berjudul "Merantau ke Deli" saya harus bersusah payah untuk terbang ke Yogjakarta.

Dengan membaca buku karangan abang saya tersa membaca ulang Novel karangan Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck". Saya kira selama ini tidak akan ada lagi orang yang akan menulis dengan gaya tulisan Buya Hamka. Semoga abang tidak berhenti menulis sampai disitu. Saya berharap bakat menulis abang juga bisa dikembangkan ke buku-buku yang lain. Terus terang dengan membaca novel abang saya terbuai pada masa-masa yang saya sendiri tidak akan tahu kapan terjadinya. Selama ini saya memang menyukai novel dengan gaya penulisan yang berlatarkan budaya, seperti novel karangan Buya Hamka dan Andrea Hirata.

Saat ini saya juga lagi mencoba belajar menulis, namun belum dapat tersusun secara sistematis. Maklum sajalah bang. Oh ya, saya berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu dan berdiskusi lebih lanjut tentang berbagai hal. Saya juga berharap abang tidak keberatan untuk menerima salam perkenalan dari saya:

Nama: Syamri
Tempat tgl/lahir: Koto Salak, 10 Oktober 1982
Kota sekarang: Dharmasraya
Hp 0813 74 55 43 89

Saya juga berharap abang dapat memberikan saya info-info terbaru yang bersifat membangun lewat fasilitas email ini. Sekian dulu ya bang, semoga di kesempatan yang lain kita masih dapat menyambung silaturrahmi kita. Amin.

Wassalam
Syamri

Inilah balasan email dari saya:

Waalaikumussalam...

Syamri, senang sekali saya menerima email ini. Terima kasih telah memberikan apresiasi terhadap RKS, novel perdana saya. Sebagaimana kekaguman Syamri terhadap Buya Hamka, demikian pula halnya saya. Seluruh buku-buku yang ditulis Buya Hamka, sangat suka saya membacanya. Bahasanya halus, hanyut kita membaca hingga titik ke penghabisan. Memang sudah jarang buku-buku bergaya tulisan Buya Hamka, karena perubahan zaman yang kian pesat.

Sebagaimana harapan Syamri, insya Allah sesudah RKS saya sedang berupaya menerbitkan novel kedua, namun masih dalam proses penulisan. Doakanlah saya mudah-mudahan segera rampung novel itu dan dapat menemui pembacanya.

Oh ya, besar harapan saya bila Syamri berkenan mempromosikan RKS ke kawan-kawan lainnya, baik di Padang maupun di Dharmasraya agar manfaat novel ini dapat lebih luas dirasakan semua orang. Bila pun tidak ada manfaat, tapi setidaknya RKS mudah-mudahan dapat ikut mewarnai jumlah sastra modern yang saya bumbui gaya penulisan klasik.

Sekali lagi terima kasih. Salam saya buat keluarga.

Wassalam
Muhammad Subhan

Rabu, 02 Februari 2011

Kisah Kasih Tak Sampai dalam Novel "Rinai Kabut Singgalang"

Oleh Tiara Mairani*)

Secara umum mungkin orang berpikir bahwa novel hanyalah sekedar sebuah cerita perjalanan hidup dan kisah-kisah cinta seseorang. Sebuah cerita yang nyata jika dijelaskan dari covernya dan ada dari sebuah khayalan seorang pengarang.

Dapat dilihat banyak orang hanya membaca novel begitu saja dan setelah tamat ya sudah. Sekedar hiburan menghabiskan waktu luang. Tanpa memahami dan mengambil nilai-nilai yang ditanamkan pengarang dari cerita itu untuk dapat ditiru sisi baiknya. Dan, generasi muda sekarang lebih cenderung suka pada novel dari luar negeri dan diluar wilayah ranah Minang. Sementara penulis dan sastrawan terkenal banyak yang berasal dari ranah Minang. Sebut saja diantaranya, Buya Hamka dan Taufiq Ismail adalah sastrawan yang berasal dari ranah Minang dan diakui karya-karyanya yang membawa pencerahan. Sekarang ini, pengarang muda asal Padang Panjang, Muhammad Subhan yang baru menerbitkan novelnya berjudul "Rinai Kabut Singgalang" telah menjadi penerus Taufiq Ismail, Buya Hamka dan sastrawan lainnya.

Sebagai generasi muda hari ini kapan kita ingin berkarya dan mewarisi mereka? Siapa lagi yang akan menjadi penerus mereka kalau bukan kita? Hilangkanlah sifat malas yang telah tertanam dalam diri kita masing-masing. Ayolah mulai membaca dan menulis. Keluarkan inspirasi dan jadi penerus yang dapat dicontoh oleh generasi selanjutnya. Mari bersama-sama kita 'mambangkik batang tarandam'. Buktikan pada dunia bahwa kita mampu untuk berkarya dan menjadi penulis (sastrawan) terbaik.

Sekarang, mulailah kita mencintai karya dari negeri sendiri dan daerah kita masing-masing. Tentu kita tidak akan rugi untuk banyak membaca, karena membaca dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Mungkin, sebagian besar di antara kawan-kawan belum membaca novel RKS yang banyak mengandung nilai-nilai dan juga sangat mendidik. Novel ini terbit Januari 2011 diterbitkan Penerbit Rahima Intermedia Publishing, Yogyakarta. Prolog ditulis Damhuri Muhammad, seorang cerpenis dan esais nasional yang juga orang awak namun berdomisili di Jakarta.

Dalam novel ini, pengarang sangat pandai membangun konfik yang kuat dan ditulisnya dengan bahasa sederhana namun begitu mengesankan. Pembaca seolah ikut terlibat di dalamnya. Dalam bab per babnya, pengarang banyak menanamkan nilai-nilai luhur yang tentu saja pembaca dapat menjadikannya sebagai ibrah (pelajaran). Latar cerita sangat mendukung dan alur yang tidak mudah membuat pembaca bosan.

Pengarang menanamkan nilai agama yang kuat pada tokoh utama (Fikri). Fikri yang sangat taat dalam menjalani tugas dari Yang Maha Kuasa dan suaranya yang merdu membuat semua orang yang mendengar adzan yang dikumandangkannya serta irama bacaan Quran, banyak orang kagum dan bangga kepadanya. Fikri pun sempat menjadi guru untuk memberi pengajian kepada ibu-ibu majelis taklim yang dipimpin oleh Bu Aisyah (orangtua angkat Fikri di Padang).

Fikri mengenal Bu Aisyah pada saat ia menumpang bus dari Aceh kampung ayahnya menuju Kajai, kampung kelahiran ibunya. Fikri berdarah Aceh-Minang. Ibunya (Maimunah) berasal dari Kampung Kajai, Pasaman dan ayahnya (Munaf) berasal dari Aceh.

Dikisahkan, pernikahan Maimunah dan Munaf tidak direstui oleh keluarga ibunya. Dengan alasan Munaf orang datang. Terjadilah konflik itu, sementara Maimunah sangat mencintai Munaf. Lalu Maimunah menentang adat di kampungnya, ia pun tetap menikah dengan Munaf dengan cara pergi meninggalkan kampung halaman dan kedua orang tuanya. Kepergian Maimunah itu, membuat orang tuanya menanggung malu hingga jatuh sakit dan meninggal dunia. Sementara kakak Maimuna, Safri, ikut pula sakit--mengidap gangguan jiwa--hingga iapun dipasung orang kampung di tengah kebun manggis di kaki Gunung Talamau.

Singkat cerita, Fikri pergi meninggalkan kampung ibunya itu menuju Padang. Tujuannya untuk kuliah, disamping ia menghadapi cobaan dengan tewasnya mamaknya Safri akibat dianiaya oknum pemuda. Sejak itu, ujian dan cobaan terus menderanya.

Di Padang, ia bertemu Rahima, seorang gadis remaja yang molek parasnya dan baik budi bahasanya. Ia pun jatuh hati kepada gadis itu yang tak lain adalah putri Bu Aisyah. Dan, ternyata Bu Aisyah juga sangat sayang kepada Fikri. Bu Aisyah lah yang mempertemukan Fikri dengan Bu Rohana, orangtua angkat kedua Fikri dimana ia menumpang tinggal, di Teluk Bayur.

Perhubungan kasih antara Fikri-Rahima tak berjalan mulus dan berbuah kekecewaan. Ningsih, kakak Rahima, menentang hubungan itu, karena di mata Ningsih, Fikri dianggap orang miskin, tidak jelas asal usul dan hanya mempunyai orangtua angkat. Hingga terjadilah kasih tak sampai antra Fikri-Rahima yang keduanya saling mencintai.

Ningsih memaksa Rahima agar menikah dengan laki-laki pilihannya di Jakarta. Rahima berontak tapi ia tak kuasa. Selama ini Ningsih yang membiayai sekolahnya, demikian juga untuk kebutuhan Bu Aisyah. Hidup Rahima pun diatur Ningsih.

Pengarang membentuk karakter yang kuat pada tokoh Fikri, meski sekilas terkesan Fikri sosok yang lemah. Betapa tidak, saat masih di Aceh ayah Fikri meninggal dunia, disusul ibunya berpulang ke Rahmatullah ketika Fikri telah menginjakkan kaki di Padang. Tak lama kemudian, adik yang disayanginya, Annisa, ikut pula meninggal akibat bencana tsunami yang menggulung Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Lengkaplah sudah penderitaan Fikri. Tinggallah ia sebatang kara di perantauan (Padang). Satu yang dia syukuri, bahwa semasa di Padang itu ia memiliki seorang sahabat karib yang selalu ada disampingnya ketika ia menghadapi suka dan duka. Dialah Yusuf, sahabat yang ia kenal sejak ia menginjakkan kaki pertama kali di Kajai, kampung ibunya.

Yusuf selalu menyadarkan Fikri ketika pemuda itu mulai putus asa. Yusuf yang memberinya semangat untuk tegar menjalani hidup. Hingga akhirnya Fikri terbangun dan mampu menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi sarjana dan berhasil jadi pengarang tersohor yang karyanya difilmkan. Banyaklah orang memujinya, bangga kepadanya.

Di sini pengarang menjelaskan bahwa seolah-olah Fikri melupakan segala masalahnya dengan cara berkarya. Sungguh sempurna sosok seorang Fikri yang selalu tabah dengan semua cobaan yang datang bertubi-tubi mendera dirinya. Walaupun setiap kali mengingat masa lalunya itu, Fikri selalu manangis berurai air mata. Seolah tampaklah kelemahannya sebagai seorang laki-laki. Tetapi sesungguhnya Fikri adalah sosok yang sangat kuat dan selalu bersemangat.

Pengarang juga mengingatkan kembali kekecewaan yang dialami Fikri. Pernikahan Rahima dengan laki-laki yang dijodohkan Ningsih tidaklah langgeng. Rumah tangga Rahima hancur, suaminya mati bunuh diri karena malu korupsi. Disinilah puncak penyesalan Ningsih yang salah pilih, sementara sesungguhnya Ningsih sayang kepada Rahima. Rupanya, perjodohan yang dibuat Ningsih itu lantaran Ningsih punya hutang budi kepada laki-laki yang menjadi suami Rahima.

Sepeninggal suaminya yang telah tiada, dalam suatu acara launching film yang diangkat dari novel karya Fikri di Jakarta, tanpa diduga bertemulah Ningsih, Rahima dan Fikri. Sesudah pertemuan itu Rahima jatuh sakit. Pada saat itulah Ningsih timbul ibanya dan menyesal akan segala perbuatannya kepada Fikri dan Rahima dulu. Akhirnya Ningsih insaf dan memutuskan meminta maaf kepada Fikri dan menjilat ludahnya sendiri. Ia meminta Fikri yang telah tinggal di Bukittinggi agar berkenan menjenguk Rahima di Jakarta.

Maukah Fikri datang menjenguk Rahima, orang yang pernah menjadi kekasihnya itu? Yusuf, sahabat Fikri, mulanya menentang keinginan Fikri berangkat ke Jakarta menejnguk Rahima, karena kakak perempuan itu (Ningsih) itu telah menghancurkan hidupnya. Tapi akhirnya Fikri tetap berangkat. Di titik ini pengarang menjelaskan betapa mulianya hati seorang Fikri yang sedikit pun tak menaruh dendam meski ia pernah disakiti. Fikri memenuhi undangan Ningsih menjenguh Rahima yang terbaring sakit.

Ketika Fikri menjenguk Rahima, perempuan itu mulai pulih dari sakitnya. Ningsih pun ingin mempertemukan kembali kasih mereka yang dulu tak sampai. Tapi saat itu Fikri seolah tak lagi memiliki rasa dan ia berkeras ingin kembali pulang ke Bukittinggi. Ningsih menahannya, dengan cara mengajaknya pulang bersama ke Padang menjenguk pusara ibunya.

Musibah tak dapat ditolak. Pada saat Fikri dan Rahima ke Padang dari Jakarta menumpang pesawat udara, kendaraan yang mereka tumpangi itu tergelincir. Ningsih tewas, Rahima selamat sedangkan Fikri mengalami geger otak dan dirawat di rumah sakit.

Di sini pengarang mampu membuat ending cerita yang menakjubkan. Karena merasa tidak memenuhi syarat lagi sebagai suami Rahima, Fikri meminta sahabatnya Yusuf agar mau menikahi Rahima. Dan, saat itu Yusuf telah membeli sebuah rumah di Koto Baru, di kaki Gunung Singgalang. Di sanalah akhir cerita novel ini. Pada saat Yusuf mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu, disaksikan Fikri yang sedang terbaring sakit, saat itulah Fikri menghembuskan nafas terakhirnya. Sangat terpukullah hati Yusuf dan Rahima.

Namun sesudah kematian Fikri itu, beberapa bulan kemudian Rahima jatuh sakit dan akhirnya ia pun meninggal dunia, menyusul kekasihnya itu. Meski telah menikah secara sah, dimasa hidupnya tak sedikit pun Yusuf menyentuhnya, layaknya antara istri dan suami. Sebab Yusuf tahu sungguh besar cinta Rahima kepada Fikri, sahabatnya itu. Atas permintaan Rahima, berkuburlah perempuan itu disamping pusara Fikri, di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. Dalam setiap doanya, Yusuf meminta kepada Tuhan agar kedua kekasih yang saling mencintai itu dipertemukan di surga.

Sungguh, banyak sekali hikmah yang dapat dipetik dari kisah yang tersurat dalam novel yang penuh air mata disetiap babnya ini. RKS lahir dengan kondisi kekinian meski ditulis dengan gaya tutur yang akrab ditemukan pada roman-roman pujangga baru, semacam roman-roman yang ditulis Buya Hamka, pengarang Minang yang tersohor namanya itu. ***

*) Tiara Mairani, siswi SMA Negeri 15 Padang, penikmat buku-buku sastra, tinggal di Padang

Rinai Kabut Singgalang, Sebuah Novel Pembelajaran Tentang “Maut”

Oleh Irzen Hawer

Awal kisah, di sebuah kampung kecil di pesisir pantai Aceh Utara, tokoh Fikri tak kuasa menghadapi situasi ayahnya yang sedang meregang nyawa (maut).

Di paruh kisah, di depan matanya, Mak Syafri mamaknya merenggang ‘maut’ kerena ditikam oleh orang –yang sebenarnya dialah (Fikri) target penganiayaan oleh beberapa pemuda yang tidak senang kehadirannya di Kajai-Pasaman, sebuah dusun tanah kelahiran ibunya.

Setelah Fikri hijrah ke Padang, selanjutnya orang-orang yang dekat, malah sangat dicintainya, beruntun menghadapi ‘maut’. Mulai Maimunah ibunya Fikri yang meninggal di Aceh, Bu Aisyah ibu angkatnya yang meninggal karena tekanan perasaan di Padang, adiknya Annisa beserta suami dan anaknya turut meninggal akibat bencana tsunami Aceh, Ningsih yang meninggal sekeluarga akibat kecelakaan pesawat menuju Padang –yang kunjungan ini dalam rangka merekat kembali hubungan adiknya Rahima dengan Fikri, alhasil Fikri yang juga sepesawat dengan Ningsih, juga meninggal dunia. Dan terakhir di ending cerita Rahima juga menyusul Fikri menghadapi ‘maut’.

Novel Rinai Kabut Singgalang (RKS) yang tebalnya 396 halaman, yang membuat saya terpaku dan terharu membaca dan menghabiskan waktu 30 jam menamatkannya –yang menurut perkiraan saya novel ini bakal jadi pembicaraan di mana-mana-- oleh pengarangnya, kita diajak menemui sang guru, yaitu ‘maut’.

Maut atau kematian itu sendiri memberikan nasehat kepada kita, seperti hadist Rasulullah SAW:

“Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menhadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat". (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunya)

“Perbanyaklah mengingat kematian, sebab yang demikian itu akan menghapuskan dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya)

Fikri (tokoh utama cerita), telah menjadi pemuda cerdik dari kausalitas peristiwa ‘maut’ yang beruntun ini. Mengapa tidak? Andai saja. Ya, andai ayahnya masih segar bugar dia akan jadi anak yang selalu hidup di bawah ketiak orang tuanya, bercengeng-cengeng, manja seperti segelintir anak yang lain. Andai mamaknya terus hidup dia akan terjebak ‘menebus dosa’ ibunya dulu dengan menghabiskan umur merawat mamaknya yang terlantar, terpasung di tengah rimba di kampung Kajai-Pasaman. Andai Bu Aisyah masih hidup, agak sulit alasan Ningsih ‘melarikan’ Rahima ke Jakarta –yang menyebabkan Fikri terkapar berdarah-darah patah hati --yang kemudian dengan kejadian ini telah menyulapnya jadi pengarang besar dan tersohor.

Siapa yang kuasa melawan ‘maut? Mengapa maut datang silih berganti? Ada apa di balik maut dan bagaimana menyikapinya bila melanda orang-orang yang dicintai? Inilah pembelajaran moral yang ditawarkan Muhammad Subhan pengarang novel ini kepada kita, seperti kutipan dalam novel ini:

“Apa lagi yang kau pikirkan? Kita orang beriman, serahkan semua urusan pada Allah” (hal. 222). Inilah nasehat Ustad Rahman kepada Fikri di tenda posko relawan pasca benca tsunami Aceh.

“Tapi saya tak ingin menyerah dalam hidup ini. Saya ingin terus berjalan sampai akhir perjalanan itu. Alhamdulillah, pendidikan di panti menggembleng mental saya untuk tegar. Saya terus belajar, khususnya mendalami agama. Dalam agama inilah saya menemukan ketenangan dan memahami makna hidup sebenarnya…”(hal. 223).

Hikmah yang kita tuai dari novel yang banyak mendeskripsikan keelokan alam ranah Minang ini adalah; Pertama, di balik peristiwa maut ada beberapa nasehat untuk kita. Kedua, kita harus berani hijrah ke tempat lain bila tempat yang semula tidak kondisif dari segi sosial, ekonomi dan pendidikan seperti yang dilakukan tokoh Fikri. Ketiga, kita harus sabar menghadapi berbagai badai penderitaan dan selalu berpegang teguh pada tali Allah.

Sebenarnya bicara tentang hikmah yang tersirat dalam RKS ini sangat banyak tergantung intuisi dan apresiasi kita. Yang pasti novel adalah kritik sosial terhadap kehidupan semasa pengarang hidup. Dalam RKS ini banyak kita temui kritik-kritik moral –adat yang kaku– perkawinan yang tidak berlandaskan cinta, dan lain sebagainya.

Kehadiran novel Rinai Kabut Singgalang ini, telah memunculkan harapan baru dan berandil besar dalam menyemarakkan kesusasteraan Indonesia kembali. Terutama mengusung kearifan lokal Minang yang pernah berjaya pada Angkatan Balai Pustaka. Malah pangarang-pengarang Minang pernah merajai kesusasteraan Nusantara dulu, sebutlah Sutan Takdir Alisyahbana, Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Marah Rusli, Asrul Sani, AA Navis, Taufiq Ismail, Hamka, dll.

Seperti harapan yang digores Damhuri Muhammad dalam Prolog novel ini; “Kedalaman galian Rinai Kabut Singgalang, sungguh dapat ditandai dengan upaya Muhammad Subhan dalam mempertahankan identitas roman berlatar alam Minangkabau yang belakangan mulai diabaikan….” Juga harapan-harapan endorsement pada kulit belakang RKS (Dianing Widya Yudhistira, Sutan Iwan Soekri Munaf, Sulaiman Juned, Muhammad Nasruddin, Akhiriyati Sundari dan Irzen Hawer) yang mengungkap penuh semangat kemunculan RKS ini.

Semoga terbitnya RKS memotivasi pengarang-pengarang muda Minang untuk terus berkarya dan cepat merilis novelnya, dan terus mewarnai kesusasteraan Indonesia, hingga kapan pun dan dimana pun. Amin. []

Penulis peminat buku-buku sastra dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanah Datar.

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=13610

Cinta Minang, Lahirkan Novel Laris "Rinai Kabut Singgalang"

KEINDAHAN alam Ranah Minang menjadi inspirasinya melahirkan karya sastra. Dalam waktu relatif singkat, tiga bulan, di tahun 2010, ia merampungkan sebuah novel berlatar Minang berjudul "Rinai Kabut Singgalang". Novel itu terbit Januari 2011, di Yogyakarta, dan menjadi "pengobat rindu" para perantau Minang akan Ranah Bundo, Sumatera Barat yang permai. Saat ini, "Rinai Kabut Singgalang" termasuk novel terlaris.

Namanya Muhammad Subhan, kelahiran Medan namun berdarah Aceh-Minang. Obsesinya menjadi pengarang sudah tertanam sejak ia duduk di bangku kelas dua SMP di sebuah kampung kecil di Aceh Utara. Buku sastra favoritnya adalah roman-roman karangan Buya Hamka. Sejak 2000, di masa Aceh masih dalam konflik, ia hijrah meninggalkan Tanah Rencong dan menetap di Sumatera Barat.

Di Negeri "Urang Awak" itulah kemampuan menulisnya terasah. Disamping sejak tahun 2000 ia memutuskan menggeluti dunia jurnalistik dan bekerja sebagai wartawan di sejumlah suratkabar di Padang, diantaranya; SKM Gelora, Gelar Reformasi, Garda Minang, Media Watch (2000-2003), Harian Mimbar Minang (2003-2004), Harian Haluan (2004-2010). Pernah menjadi editor Harian Online Kabar Indonesia (www.kabarindonesia.com) yang berpusat di Belanda (2007-2010), dan kontributor Majalah Islam Sabili (2008-2010). Sejak April 2010 ia memimpin Media Online www.korandigital.com yang berbasis di Kota Serambi Mekah Padang Panjang.

Ia juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai pelatihan/seminar tentang kepenulisan/jurnalistik di sejumlah sekolah dan perguruan tinggi. Selain wartawan ia bekerja di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Koordinator Sanggar Sastra Siswa Rumah Puisi.

Beberapa puisi dan tulisannya terkumpul dalam antologi bersama, diantaranya; Lautan Sajadah (Antologi Puisi, Himabasindo FKIP/Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, 2009), Ponari for President (Antologi Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Antologi Puisi, eSastera Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Antologi Puisi, Apsas, 2009), Hujan Batu Buruh Kita (Kumpulan Liputan Perburuhan, AJI Indonesia, 2009), dan Melawan Kemiskinan dari Nagari (Buku Evaluasi Kredit Mikro Nagari yang ditulis bersama wartawan senior Hasril Chaniago dan Ekoyanche Edrie, Bappeda Sumbar, 2009.

Suatu hari, seorang guru Bahasa Indonesia berkunjung ke Rumah Puisi Taufiq Ismail tempat Subhan bekerja. Guru itu berkeluh kesah bahwa novel-novel berlatar Minang sekarang tidak ditemukan lagi di pasaran. Padahal, tema-tema tentang Minang tidak pernah habis untuk digali dan selalu dicari para pembacanya. Orang rindu novel-novel yang ditulis secara sederhana, tidak picisan, tidak mengumbar syahwat seperti banyak ditemukan novel-novel dewasa ini.

"Berangkat dari uneg-uneg seorang guru itulah, saya tertarik menulis novel tentang Minang dan ditulis dengan bahasa sederhana," kata laki-laki yang memiliki seorang istri dan dianugerahi seorang putra ini.

Kata "rinai" berasal dari bahasa Minang yang telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya gerimis atau hujan rintik-rintik. Di daerah sekitar Gunung Singgalang di Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Nagari Aie Angek, kawasan ini selalu memiliki ciri khas, yaitu senantiasa diselimuti kabut bila hujan rintik-rintik turun. Tentu saja, panorama itu sangat indah sekali.

"Terinspirasi dari pemandangan alam yang luar biasa itulah, novel ini saya tulis," ujar Subhan.

Sinopsis

Dikisahkan, Maimunah (ibu Fikri--tokoh utama), perempuan asal Pasaman (Sumatra Barat) telah dicoret dari ranji silsilahnya lantaran nekad menikah dengan Munaf (ayah Fikri), laki-laki asal Aceh. Munaf dianggap sebagai “orang-datang”, “orang di pinggang”, “orang yang tak berurat-berakar”. Menerima laki-laki itu sama saja dengan mencoreng kehormatan keluarga sendiri. Namun, diam-diam Maimunah melarikan diri ke Medan dan melangsungkan pernikahan dengan Munaf di kota itu. Setelah menikah, Maimunah tinggal di Aceh, dan tak pernah kembali pulang ke Pasaman. Sementara itu, orang tua Maimunah hidup berkalang malu, sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal dunia. Safri, kakak kandung Maimunah bahkan sampai mengalami gangguan jiwa (gila), lantaran menanggung aib karena ulah adiknya melawan adat.

Luka serupa kelak juga dialami Fikri. Fikri merantau ke Padang, karena ia bercita-cita hendak melanjutkan sekolah di perguruan tinggi. Sebelum ke Padang, Fikri mencari mamaknya di Kajai, Pasaman. Di kampung asal ibunya itu, Fikri sempat merawat paman Safri yang mengidap penyakit selepas kepergian Maimunah ke Aceh─dan karena itu ia dipasung di tengah hutan. Namun akhirnya Mak Safri tewas dibunuh akibat suatu perkelahian. Fikri pun meninggalkan Kajai hijrah ke Padang. Semasa di Padang, Fikri bertemu dengan Rahima, yang kemudian menjadi kekasih pujaannya. Namun, cintanya bagai bertepuk sebelah tangan. Keluarga Rahima─utamanya Ningsih (kakak Rahima)─ bulat-bulat menolak pinangan Fikri, lagi-lagi dengan alasan: Fikri “orang-datang”, “orang di pinggang”.

Remuk-redamnya perasaan Fikri bersamaan dengan luluhlantaknya Aceh, tanah asal Fikri, selepas megabencana Gempa dan Tsunami (2004). Annisa, adik kandungnya digulung gelombang besar, rumah tempat ia dibesarkan tak bisa ditandai lagi titiknya. Ibu-bapaknya telah meninggal sebelum bencana. Fikri hidup sebatangkara. Dan, begitu kembali ke Padang, persoalan berat sudah menunggunya. Betapa tidak? Rahima telah dijodohkan dengan laki-laki lain. Akhirnya perempuan itu diboyong suaminya ke Jakarta. Sementara di Padang, Fikri terpuruk dalam kesendirian, dalam keterpiuhan perasaan lantaran pengkhianatan cinta. Belakangan, Fikri mendengar kabar, Ningsih menjodohkan adiknya (Rahima) dengan laki-laki lain ternyata atas dasar hutang budi. Kabar ini membuat Fikri semakin karam di kerak kepedihan.

Di akhir kisah, Fikri digambarkan sebagai laki-laki yang terlahir kembali. Ia menjadi pengarang tersohor, bahkan salah satu novelnya dilayar-lebarkan. Banyak orang memujinya. Kabar tentang keberhasilan Fikri membuat Ningsih (orang yang telah memisahkannya dengan Rahima), tak segan-segan menjilat ludah sendiri. Lagi pula, pada saat yang sama, Rahima sedang tertimpa masalah; suaminya menjadi tersangka korupsi, dan bunuh diri di penjara. Sejatinya, rasa cinta Fikri pada Rahima tiada bakal punah, meski pengkhianatan itu sukar ia lupakan. Atas dasar itu pula Fikri memenuhi undangan Ningsih untuk datang ke Jakarta, perempuan itu hendak mempertemukan kembali “kasih tak sampai” yang telah membuat perasaan Fikri-Rahima telah tercabik-cabik. Namun, kisah novel ini disudahi dengan cara sangat tragis, kepulangan Ningsih, Rahima, dan Fikri ke Padang ternyata bukan kepulangan yang membahagiakan. Pesawat yang mereka tumpangi tergelincir. Rahima selamat, tapi Fikri mengalami geger-otak, dan karena itu ia merasa tak memenuhi syarat lagi untuk menjadi suami Rahima. Ia meminta sejawat karibnya, Yusuf, untuk menikahi Rahima. Saat ijab-kabul pernikahan itu berlangsung, Fikri menghembuskan napas penghabisan. Menutup mata untuk selamanya, dan dikubur di kaki gunung Singgalang yang selalu disinggahi rinai dan kabut. (*)

Bermacet-Macet di Koto Baru

Oleh Muhammad Subhan

KALAULAH Tuan berkendaraan ke Bukittinggi dari arah Padang atau sebaliknya dan melintas di jalan raya Padangpanjang-Bukittinggi tepatnya di Nagari Koto Baru, dan hari itu adalah hari Senin, bersiap-siaplah Tuan menahan hati. Bagi yang tak sabar mungkinlah Tuan akan mendengar kata umpatan dan caci maki dari sopir ataupun penumpang kendaraan umum yang entah ditujukan kepada siapa, sebab di sepanjang jalan terjadi kemacetan panjang.

Apa pasal di hari Senin itu? Rupanya, Senin adalah Hari Pasar (minang: hari pakan) di Koto Baru yang pasarnya memang terhampar di tepian jalan. Sudah tradisi di Minang ini bila pasar suatu nagari berhari pekan, bermacam orang dan pedagang datang membawa segala kebutuhan manusia yang hendak diperjualbelikan di hari itu. Khusus di Pasar Koto Baru, dominan dipenuhsesaki pedagang-pedagang sayur mayur yang datang dari nagari-nagari di sekitar Koto Baru, semisal Nagari Aie Angek, Pandai Sikek, Panyalaian, Koto Laweh, Padang Luar, Banuhampu, Padangpanjang, serta nagari-nagari lainnya. Dan karena hari pasar itu pula, berkarung-karung sayur mayur bertumpuk-tumpuk diletakkan orang di tepian jalan, penuh sesak pula pedagang dan pembeli hingga pasar tumpah ke badan jalan, lalu terjadilah kemacetan.

Kemacetan itu bukan 200-300 meter saja, tapi 2 hingga 3 kilometer panjangnya. Bila ditarik garis tengah dari Pasar Koto Baru, kemacetan terjadi hingga Panyalaian, Kecamatan X Koto Tanah Datar, atau hingga Padang Luar, Kabupaten Agam, menjelang masuk Kota Bukittinggi. Lama macet pun bukan lagi setengah jam, namun sudah hampir 1 jam. Belum lagi macet parah berjam-jam bila di hari pasar itu ada pula truck tronton yang mogok disalah satu ruas jalan menjelang Koto Baru. Yang lebih miris, pernah saya melihat sebuah ambulans yang membawa jenazah meraung-raung suara sirenenya meminta dibukakan jalan, tapi apa hendak dikata, ikutlah ambulans itu terjebak di tengah kemacetan. Bila tak ada aturan bagi ambulans yang membawa orang sakit atau jenazah di lampu merah, tapi di Koto Baru itu ambulans manapun tak dapat berkutik.

Disamping itu, tentulah banyak kerugian lainnya yang ditanggung pemilik kendaraan bila melintas di kawasan Pasar Koto Baru bila hari pasar tiba. Hitung-hitungan kerugiannya begini, kalau maksimal 1 jam saja kendaraan terjebak macet di Koto Baru di hari itu, dan menghabiskan Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 liter seharga minimal Rp4.500 per liter (ada kendaraan berbahan bakar bensin dan solar), maka kalikan saja sejumlah kendaraan yang melintas dari pagi hingga petang. Kalau sepanjang hari itu terjebak macet sekitar 3.000 unit kendaraan, baik roda empat maupun roda dua, maka total uang yang terbuang sia-sia di hari itu sebanyak Rp13.500.000. Lalu dikali 4 pekan macet dalam sebulan, maka terbuanglah uang sebanyak Rp54.000.000, atau setahun sebanyak Rp648.000.000. Dalam masa dua tahun terbuang uang lebih dari satu miliar. Tentu sebuah angka nominal yang sangat fantatis dan semuanya adalah lembaran rupiah di tengah kehidupan rakyat yang sedang susah!

Nagari Koto Baru berada dalam wilayah administratif Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Namun jalan raya yang membelah nagari itu adalah Jalan Negara. Pemerintah Kabupaten Tanah Datar masih “menunggu-nunggu” adanya perhatian Negara (Pemerintah Pusat) terhadap jalan itu dengan alasan Pemda Tanah Datar tidak memiliki dana untuk membuat pelebaran jalan ataupun membangun jalan alternatif. Pemerintah Provinsi Sumbar pun seolah “tak mau tahu” terhadap jalan tersebut sehingga bertahun-tahun kondisi kemacetan semakin parah. Gubernur berganti, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Prasarana Jalan berganti, bupati silih berganti, namun kondisi jalan di Koto Baru begitu-begitu saja. Tidak berubah. Meski memang ada pula yang diuntungkan bila terjadi kemacetan panjang, semisal pedagang kacang goreng dan bika bakar di sepanjang kawasan itu, walaupun musiman.

Meski Koto Baru jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan pusat pemerintahan Provinsi Sumatra Barat, semua orang mengakui bahwa kawasan Koto Baru dan sekitarnya adalah kawasan pertanian yang cukup potensial. Hanya di kawasan inilah orang dapat menikmati pemandangan alam yang indah, dan hari-hari tertentu dapat menyaksikan turunnya kabut disertai rinai jatuh di kaki Gunung Singgalang yang menjulang. Tak jauh dari Koto Baru berdiri Rumah Puisi yang dibangun Penyair Nasional Taufiq Ismail dan diharapkan menjadi basis kegiatan sastra di Tanah Datar khususnya dan Sumatra Barat umumnya. Di Nagari Aie Angek, nagari tetangganya, ada tempat pemandian air panas yang menjadi terapi kesehatan yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit tertentu. Rumah-rumah makan di sepanjang jalan raya pun bertumbuhan, demikian pula sebuah sekolah agama, MAN/MAPK Koto Baru yang mencetak banyak lulusan berkualitas dan meneruskan pendidikan mereka di Universitas Al Azhar Cairo, berada di kawasan ini.

Kemacetan yang terjadi setiap hari pasar atau empat kali dalam sebulan di kawasan itu tentu saja menjadi pemandangan yang menjemukan dan membuat banyak orang kecewa terhadap pelayanan pemerintah di bidang jalan raya. Kesalahan tentu saja ditimpakan kepada pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi yang seolah tak peduli terhadap kondisi kemacetan tersebut. Bahkan ada yang menyentil dengan guyonan, kota kecil Padangpanjang saja yang nyaris tidak ada kemacetan lalulintas malah mampu membangun jembatan layang (fly over), konon lagi Tanah Datar yang berwilayah luas dan memiliki PAD sedikit lebih besar. Padahal dana pembangunan fly over Padangpanjang sebagian besar dibiayai APBN, atau Pemerintah Kabupaten Tanah Datar yang tidak jeli melobi pemerintah pusat sehingga kawasan Koto Baru yang sering macet itu bisa dapat bantuan dana untuk dibuatkan fly over pula.

Entahlah. Yang pasti beribu-ribu orang pengguna kendaraan di hari pasar Koto Baru itu tiap pekannya mengeluh yang tentu saja akan melahirkan citra buruk bagi daerah Tanah Datar di mata orang luar. Sebab, yang melintas di jalan itu, beragam daerah asalnya khususnya daerah-daerah disekitar Sumatra Barat, semisal Riau, Medan, Jambi, dan bus-bus yang membawa penumpang antar kota antar provinsi hingga ke Pulau Jawa. Semoga, harapan banyak orang, soal kemacetan lalulintas di kawasan Koto Baru itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dan Gubernur Sumbar di tahun 2011 ini sehingga tidak ada kemacetan lagi. Sebab khawatir saya, bila masih macet juga, lalu melintas lagi ambulans pembawa jenazah dan ikut terjebak macet disana, alamat orang yang sudah mati itu hidup lagi, dan mencak-mencak di tengah jalan raya. Wallahu a’lam. ***

Sabtu, 15 Januari 2011

Menerima Hadiah Buku dari Gubernur Sumbar


Mendapat kehormatan dari Gubernur Sumatera Barat, menerima buku karangan beliau yang diserahkan di hadapan 500an peserta Seminar Internasional "Saatnya Guru Menulis", Minggu 12 Desember 2010, di Graha Serambi Mekah Padang Panjang.

Bang OP, Selamat Jalan…


Catatan Muhammad Subhan

Selasa malam, 23 November 2010, telepon genggam saya berdering tanda ada pesan masuk. Saya buka pesan itu, pengirimnya dari Kanda Adeks Rossyi Mukri, Ketua PWI Bukittinggi. Saya sangat kaget membaca isi pesan Kanda Adeks yang mengabarkan bahwa Bang Osman Poerba, mantan wartawan Harian Singgalang telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa siang (23/11), pukul 13.45 WIB usai menikahkan anaknya.
Innalillahi wainna ilaihi raajiuun….

Sungguh, saya tak menduga Tuhan begitu cepat memanggil Bang OP—demikian saya akrab menyaba Bang Osman Poerba—untuk kembali kepangkuan-Nya. Ketika di awal tahun 2007 saya diamanahkan Pemimpin Redaksi Harian Haluan sebagai Korda Haluan Wilayah Bukittinggi dan sekitarnya, hampir setiap hari saya bersua Bang OP, khususnya saat rehat membaca koran di ruang Humas Pemko Bukittinggi. Dia ‘tidak murah’ senyum, tepatnya pendiam, tapi dia sangat baik. Selalu menyapa saya lebih dahulu, “apa kabar,” katanya ramah.

Selanjutnya perhubungan saya dan Bang OP layaknya persahabatan sesama rekan wartawan ketika bertugas di lapangan. Tapi ketika itu Bang OP sudah tidak produktif lagi menulis lantaran penyakit stroke yang merenggut kesehatannya. Berhari-hari ia terbaring sakit. Bahkan kawan-kawan PWI Bukittinggi dan Pemko Bukittinggi berinisiatif merawat Bang OP ke Malaysia. Rupanya, sejak lama Bang OP dan PWI Bukittinggi telah menjalin kemitraan yang cukup erat dengan rekan-rekan wartawan di negeri jiran itu, sehingga Bang OP pun mendapat kesempatan berobat di Malaysia dengan penjagaan pihak Malaysia. Dalam dokumen komputer kantor saya di Bukittinggi, sempat saya menyimpan foto Bang OP saat dirawat itu, tapi sayang sekarang entah kemana foto itu.

Di tahun 2008—saya lupa bulannya—saya bersua kembali Bang OP di Bukittinggi. Sakit strokenya berangsur pulih meski ia harus berjalan dengan dibantu sebuah tongkat. Ia tidak dirawat di Malaysia lagi. Semangatnya yang tinggi membuat gairah hidupnya tumbuh. Di ruang humas Pemko Bukittinggi pula, Bang OP bercerita kepada saya akan cita-citanya untuk membuat film dokumenter Buya Hamka. Ketika menyebut nama Buya Hamka itu, cerah wajah saya. Sebab sebulan sebelum bersua Bang OP, saya sempat menyinggahi Rumah Kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, Maninjau.

“Nanti Subhan saya ikutkan jadi pemeran pembantu, memanggil orang sembayang ke surau,” ujar Bang OP kepada saya saat itu. Tentu saja saya tersenyum, entah apa alasan Bang OP mengajak saya untuk menjadi “aktor” walau sebagai pemeran pembantu dalam film dokumenter yang akan digarapnya itu. (Saya tidak tahu apakah film dokumenter itu jadi dibuat Bang OP atau tidak).

Seminggu kemudian saya bersua kembali Bang OP. Dia baru kembali dari Maninjau, mengunjungi Rumah Kelahiran Buya Hamka. “Pak Afif kirim salam,” ujarnya. Pak Afif adalah pengelola Rumah Kelahiran Buya Hamka yang konon masih ada hubungan kekerabatan dengan Buya Hamka. “Waalaikumussalam,” jawab saya. Lalu Bang OP bercerita banyak tentang kekagumannya pada sosok Buya Hamka.

Di Malaysia, cerita Bang OP, Buya Hamka sangat dihormati dan disegani. Meski pendidikannya tak tamat sekolah rendah (SR), tapi Buya Hamka bergelar Profesor dan Doktor. Kedua gelar itu diperoleh Buya Hamka bukan dari pemerintah negerinya sendiri, melainkan dari luar negeri—Al Azhar Kairo dan UKM Malaysia.

“Pantas bila saya tertarik ingin mendokumentasikan riwayat hidup Buya Hamka dalam bentuk film,” ujar Bang OP lagi.

Saya terpekur mendengar cerita Bang OP itu. Semangatnya sungguh luar biasa. Meski dalam kondisi yang masih sakit, tapi dia tetap semangat untuk berbuat sesuatu. Dengan jalan yang susah payah ia masih sempat mendatangi sendiri Rumah Kelahiran Buya Hamka di Maninjau.

Di pertengahan tahun 2008, batin saya semakin terenyuh ketika suatu hari Ketua PWI Bukittinggi Kanda Adeks Rossyie Mukri mengajak saya mengunjungi Bang OP di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Bukittinggi. Bang OP tinggal di panti itu. “Saya senang tinggal di sini, damai,” kata Bang OP singkat. Seorang pengurus panti kepada saya berbisik, ibadah Bang OP semakin rajin sejak ia tinggal di panti. Apa yang disebut pengurus panti itu bukanlah sebagai perintang-rintang hati buat Bang OP saja, saya juga melihat langsung air muka Bang OP yang cerah, selalu bersiram air wudhu.

Setelah mengunjungi Bang OP di panti asuhan itu, sejak itu pula saya tidak lagi bersua Bang OP. Oleh pimpinan kantor, saya ditarik kembali tugas ke Padang, lantaran masa tugas dua tahun di Bukittinggi berakhir sudah. Saya hanya mendapat kabar dari teman-teman saja tentang keadaan Bang OP yang semakin membaik sakitnya.

Setelah dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhir saya dengan Bang OP itu, setelah saya tidak lagi bekerja di haluan, kemarin malam kabar meninggalnya Bang OP mengagetkan saya dan mengenangkan saya kembali akan semua ingatan tentang sosok wartawan yang ‘seolah tidak pernah tua’ itu. Semangat dan cita-citanya untuk maju dalam kondisi payah sekalipun, membuat saya merasa malu, di usia muda ini masih cenderung bermalas-malasan. Sungguh, Bang OP adalah teladan…

Selamat jalan Bang OP. Semoga goresan penamu menjadi ‘sitawa sidingin’ di alam yang membawamu menuju kepada keabadian. Doa kami menyertaimu…

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu….

Rumah Puisi, 24-11-2010, 14:19

Pernahkah Tuan Membaca Puisi Cinta Buya Hamka?


Tuan, pernahkah membaca puisi cinta Buya Hamka? Duhai, kalau Tuan membacanya, serasa puisi itu menceritakan diri Tuan sendiri. Siang ini saya temukan buku “Kenang-Kenangan Hidup” Buya Hamka (1951) di rak buku Rumah Puisi, saya baca puisi di dalam buku itu. Sungguh menggugah jiwa saya, mungkin juga jiwa Tuan.

Siapa tak kenal Buya Hamka? Seorang ulama dan sastrawan yang tersohor namanya itu, terutama lantaran kisah di dalam roman-roman kehidupan yang ditulisnya? Sungguh kagum saya akan goresan penanya, yang halus, yang melukiskan jiwa sang pujangga.

Simaklah puisi cintanya berikut ini:


BERJUMPA PULA
Oh kau kiranya, bertemu pula
Setelah 15 tahun kita berpisah
Janganlah gugup. Sudahkah sembuh luka hatimu?
Di aku sudah! Tapi payah aku melipur jejaknya
Parutnya masih berkesan di dadaku

15 tahun, bertemu pula
Setelah kita lalui jalan hidup masing-masing
Maafkan daku. Bersiapakah aku mestinya
Adinda, kekasih, juwita yang pernah kuucapkan di mukamu dulu
Atau dalam surat-surat yang pernah kukirimkan
Tidak ‘kan kuucapkan lagi
Aku takut,
Obat lekat pantang terlampau
Kembali penyakit lama
--Ah, tidak; Aku mulai tua

15 tahun
Sudah berapakah anakmu
Adakah suamimu sehat saja
Beruntung dalam rumah tangga
--Tak usah gugup!

15 tahun
Melihat kau sekarang, kuteringat kau yang dulu
Kau yang ada dalam kenanganku
Kau yang tergambar dalam hatiku
Aku teringat
Mudaku dan mudamu
Semasa kita masih menyangka, alam boleh sekehendak kita
Padahal: Takdir tak mengizinkan kita bertemu
Hidup kita tak dapat dipadu menjadi satu
Kau mengambil jalanmu sendiri – terpaksa atau tidak
Dan aku pun
Mengambil jalanku pula

15 tahun
Aku telah berjalan, dan berjalan jua
Tapi dalam sudut hatiku, kau telah menjadi pelita yang hidup
Kaulah pelitaku
Tanglongku
Dalam kegelapan malam yang senyap sunyi
Sehingga aku menjadi aku
Walaupun kau tak merasa. Barangkali

15 tahun
Tertawa aku, tertangis aku
Tersenyum tersedu
Mendaki ku menurun
Melereng ku mendatar
Pernah kunaik, pernah kujatuh
Jatuh dan bangkit lagi, lalu berjalan jua
Sahaja mati yang belum kurasai
Sehingga aku menjadi aku
Dan perjumpaan kita, 15 tahun yang telah lalu
Adalah pendorong perjuangan hidupku

Hari ini
Setelah 15 tahun
Kitapun berjumpa pula
Aku dengan engkau
Kau yang sekarang
Maka teringatlah aku. Kau yang dulu
Kalau bukan lantaran kau yang dulu
Tentulah air mataku tidakkan titik ke bumi
Garam hidupku yang kulalui
Air mata itulah yang kususun kembali
Sesudah dia jatuh berderai bagai manik putus pengarang
Kujadikan gubahan buat kau. Kau yang dulu
Sehinggaku menjadi Aku

15 tahun…
Alangkah cepatnya putaran zaman
Wahai orang yang sekian lama terlukis di sudut hatiku
Jangan engkau salah terima, Wahai kau yang sekarang
Sekiranya aku melihat tenang. Merenung wajahmu
Izinkanlah sejenak, aku mencari, mencari
Aku ini kehilangan
Dia. Dia akan kucari dalam ruang matamu
Kau yang dulu

Berjalan lurus, dan teruslah
Pikullah kewajiban yang telah ditentukan Tuhan
Buat kau. Dan aku pun
Meneruskan jalanku pula
Berjalan dan berjalan jua
Mendatar, melereng, mendaki dan menurun
Kau lihat. Rambut putih telah mulai berjuntai di ubun-ubunku
Kau lihat. Tiga garis telah mulai ada di keningku
Alamat, sengitnya perjuangan yang telah kutempuh dulu dan kuhadapi lagi
Marilah sama-sama, meneruskan perjalanan
Melaksanakan hayat
Jauh… dan jauh lagi

Hanya sebuah harapanku tinggal
Semoga usia sama panjang
Dapat berjumpa pula 15 tahun yang akan datang
Mau atau tidak mau
Kau… dan aku….

(Buya Hamka, dalam buku Kenang-kenangan Hidup, 1951)

Rabu, 10 November 2010

Korupsi

Korupsi adalah bencana kemanusiaan terbesar di negeri ini, sangat sistemik dan sistematis, yang mengundang bencana alam dan bencana-bencana sosial lainnya.

(Muhammad Subhan, 2010)

Kasih Ibu

Ketika ibu mengandung, sakit di atas sakit dirasakannya. Ketika kita lahir, ibu tersenyum. Kita yang pertama kali mengotori tangan dan tubuhnya dengan kotoran kita.
Ketika kita beranjak balita, ibu pula yang tak dapat tidur siang malam, agar seekor nyamuk pun jangan menyentuh tubuh kita. Ketika masuk sekolah, ibu rela berhutang sana sini agar kita dapat membusungkan dada seperti anak-anak lain yang memiliki sepatu dan buku. Ketika kita sudah mengenal cinta, di hadapan penghulu ibu menangis karena kita akan pergi meninggalkannya, mengikuti suami dan istri kita. Ketika kita sudah punya anak-anak dan sibuk dengan pekerjaan kita, ibu menunggu di muka rumah, duduk termenung di dekat tangga, kapan anaknya pulang. Bukan membawa uang untuknya, tapi memeluknya erat penuh cinta.

Ibu, maafkan anakmu ini...

(Muhammad Subhan, 2010)

Kata Mutiara

Kekerasan hati seorang laki-laki akan luluh ketika ia melihat air mata perempuan, apalagi air mata seorang ibu.

(Muhammad Subhan, 2010)

Sabtu, 31 Juli 2010

Hikmah Dibalik Bencana

Oleh Muhammad Subhan

BANYAK benar musibah yang melanda negeri ini. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang terjadi Selasa (6/3/2007) lalu, telah membuat masyarakat Sumatra Barat trauma, tak terkecuali di Bukittinggi. Sejumlah insfrastruktur hancur; perkantoran, sekolah, gedung-gedung tua, bahkan rumah ibadah sekalipun, rusak dihoyak gempa.

Yang menyedihkan, gempa juga merenggut korban jiwa, puluhan banyaknya. Data di Satkorlak Provinsi, korban meninggal di seluruh kabupaten dan kota mencapai 73 orang. Di Bukittinggi korban meninggal 10 orang. Sementara yang luka berat, ringan serta kerusakan bangunan, ratusan banyaknya.

Beberapa kali terjadi gempa di tahun-tahun sebelumnya di Sumbar, mungkin, gempa kali ini terasa yang paling kuat. Apalagi getaran gempanya tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali meski dalam waktu yang tidak bersamaan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang mencatat, setidaknya selama tiga hari paska gempa, terjadi 686 kali gempa susulan, baik yang dirasakan maupun tidak.

Di hari pertama gempa, banyak peristiwa-peristiwa human interest yang begitu merenyuh perasaan. Pekik tangis para pedagang di Pasar Wisata Bukittinggi yang petak-petak toko mereka terbakar. Wajah-wajah pasi warga yang berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum lagi ratusan warga pinggiran ngarai yang dilanda kecemasan paska longsornya hampir seluruh tebing Ngarai “Diam” (Sianok) yang tak lagi diam itu.

Bukittinggi pun berduka. Kota wisata yang cantik ini dalam hitungan detik berubah kusam dan muram. Kedamaian Bukittinggi terusik. Namun kabar yang terbetik, Bukittinggi masih lebih baik daripada Solok, Batusangkar, Agam maupun Padang Panjang.

Tapi, yang sungguh disedihkan, dalam hitungan detik itu pula, keempat sektor unggulan Bukittinggi terganggu total. Di sektor pariwisata, puluhan hotel rusak, banyak kamar retak-retak dihoyak gempa. Yang terparah Novotel, sehingga manajemen hotel memilih menutup sementara daripada menanggung resiko fatal.

Objek wisata apalagi. Kantor Persenibud Bukittinggi memerintahkan petugas menutup Lobang Japang yang disinyalir rusak parah. Taman Panorama juga terganggu dengan runtuhnya Ngarai Sianok. Pasar Wisata di Pasar Putih ludes dimamah si jago merah. Pasa Lereang nyaris rata dengan tanah. Jam Gadang sebagai simbolnya Koto Rang Bukittinggi dikabarkan pula mengalami retak di dinding bagian bawah, dan jarum jam berhenti berdetak.

Di sektor pendidikan, puluhan sekolah juga rusak. Sarana dan prasarana sekolah nyaris cair dihondoh gempa. Yang terparah, gedung SMK Negeri 3 Bukittinggi nyaris ambruk karena gedung bertingkat itu mengalami retak yang cukup parah. Sementara, ribuan pelajar Bukittinggi bulan depan mengikuti Ujian Nasional.

Di sektor kesehatan begitu pula. Gedung RSAM yang selama ini damai tiba-tiba menjadi gedung yang menakutkan paska gempa. Ratusan pasien terpaksa diungsikan di halaman dan jalan di depan rumah sakit. Begitupula di RS Yarsi Ibnu Sina dan RSUP Bukittinggi. Puluhan korban luka-luka akibat gempa, harus rela kedinginan di luar ruangan, meski berteduh di bawah tenda.

Sektor perdagangan yang paling menyedihkan. Ekonomi masyarakat Bukittinggi lumpuh total paska gempa dan kebakaran di Pasar Wisata. Ribuan toko tutup, PKL tak berani lagi berdagang. Bukan takut dikejar-kejar petugas Yustisi, tapi tak mau ambil resiko terhadap gempa yang diprediksi bakal berulang.

Lengkaplah sudah cerita tentang duka di Bukittinggi paska gempa. Namun, kedukaan tak pernah menyelesaikan masalah. Pak Wali selalu mewanti-wanti, kita harus bangkit membangun kota ini kembali.

Dan, kebersamaan itu pula yang saat ini begitu terasa di Bukittinggi, yang mungkin selama ini, sebelum gempa terjadi, suasana itu belum tentu ditemui.

Terharu saya, ketika Pak Wali bersama jajarannya sigap dan tanggap mendata korban, menyalurkan bantuan, tak pandang masyarakatnya miskin atau berada. Semua mendapat jatah rata. Posko Satkorlak dibentuk, bahkan hingga kecamatan dan kelurahan.

Lengkaplah kebersamaan itu. Tuhan selalu memberi hikmah dibalik bencana. Semoga selamanya. Dan, meminjam istilah partai Pak Wali pula, “bersama kita bisa”. []

(Dimuat di Kolom Detak Jam Gadang Koran Harian Haluan, 9 Maret 2007)

Kunjungi: www.korandigital.com

Antara Cut Tari, Luna Maya dan Saya


Oleh Muhammad Subhan

Saya tidak memasukkan nama Ariel pada judul diatas. Pertama, alasannya, terlalu panjang. Kedua, Ariel sudah cukup terkenal. Apalagi setelah terseret skandal vidoe seks, yang kebetulan, baru diributkan media massa. Dan, ketiga, mungkin saja saya bisa ikut numpang terkenal ketika menderetkan nama saya dengan para selebritis populer seperti Cut Tari dan Luna Maya.

Tapi apakah saya ikut-ikutan terseret skandal itu, ah, entahlah. Jujur, saya kenal dekat dengan Cut Tari dan Luna Maya, karena setiap pagi diam-diam saya ikut nguping tayangan gosip di televisi swasta yang diputar istri saya. Tapi apakah Cut Tari dan Luna Maya kenal saya, ini persoalan juga saya kira. Lalu apakah ada beredar pula video saya dengan kedua wanita itu, wah, tak tahu saya kalau itu sampai terjadi dan bagaimana bisa.

Terlepas ada tidaknya video saya dengan Cut Tari dan Luna Maya, saya benar-benar prihatin melihat penghakiman luar biasa yang dilakukan media massa terhadap kedua perempuan itu. Hampir setiap hari di televisi cerita tentang mereka menjadi berita utama, mengalahkan issue Century yang makin redup, lebih wah dari kasus pembantaian aktivis pro Palestina, lebih semarak dibanding perhelatan Pilkada kepala daerah yang tinggal menghitung hari.

Tentu, itu terjadi lantaran Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan sejumlah nama artis yang dikaitkan lainnya adalah publik figur di dunia hiburan yang gemerlap dan sering diperbincangkan dan menjadi idola sejumlah orang. Dan, persoalan seks sejak zaman baheula selalu menarik diperbincangkan karena terkait moral. Apalagi ketika skandal itu diekspose dan beredar, diunduh oleh jutaan orang, dimuat menjadi berita utama di koran-koran, atau menjadi kupasan bibir pembawa acara tayangan infotaintmen di layar kaca.

Tapi persoalannya apakah itu cukup penting menjadi tontonan publik yang juga punya hak privasi untuk dilindungi, khususnya anak-anak dan remaja? Selayak pertanyaan, apakah Ariel, Cut Tari dan Luna Maya masihkah punya moral, demikian pula apakah cukup bermoral media yang saban hari menyiarkan aib mereka? Siapakah yang paling bermoral, artis pelaku skandal seks atau media massa yang mengungkap skandal itu?

Siapapun tahu, dunia artis yang gemerlap rentan penyimpangan seks meski tidak semua mereka melakukan itu. Dan, kasus Ariel, Cut Tari, Luna Maya, hanya gunung es dari sekian kasus lainnya yang tak terungkap. Sama halnya dengan kasus suap menyuap yang melibatkan oknum aparat, kasus korupsi yang dilakoni oknum pejabat, maupun kasus-kasus lainnya yang terjadi di belahan bumi Nusantara yang menyebabkan orang miskin bertambah miskin dan bencana melanda dimana-mana.

Saya tidak paham benar apakah pemberitaan tentang skandal seks Ariel, Cut Tari, Luna Maya itu salah satu bentuk hiburan semata yang disuguhkan media massa atau berupaya memberikan pendidikan seks kepada generasi muda. Ya, pendidikan disertai contoh bahwa apa yang diungkapkan media adalah salah satu jenis dampak seks yang menyimpang plus akibat yang terjadi jika dilakukan. Tapi cukup pentingkah bagi generasi muda yang selama ini mereka masih pusing memikirkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, lapangan kerja yang sulit, atau biaya hidup yang kian melangit?

Atau pemberitaan itu malah melahirkan kasus-kasus serupa yang dilakoni para remaja kita seperti yang sebelumnya pernah dihebohkan di berbagai daerah; remaja usia pelajar yang melakukan mesum di bilik kost lalu direkam di dalam kamera handphone, bahkan ada pula yang berani melakukannya di ruang kelas mereka sendiri? Entah kenistaan apa lagi yang pantas diungkapkan.

Tapi inilah wajah Indonesia yang sulit ditutupi lantaran topeng yang membalut bopeng itu telah rusak dan diinjak-injak. Media massa yang seharusnya berfungsi edukasi malah lebih senang ngerumpi. Walau tidak semua media terjebak di lobang yang sama, setidaknya sebagian besar pengelola media di negeri ini ‘sepakat’ menayangkan aib demikian dengan alasan mendongkrak rating dan pasar.

Entahlah, pening saya. Walau sejujurnya saya kenal dekat dengan Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, saya tidak mau mempersoalkan apakah mereka kenal atau tidak dengan saya. Yang pasti, kalau profesi saya sebagai Penghulu, saya akan nikahkah mereka, meski tak segampang yang saya kira. []

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=7560

Sabtu, 01 Mei 2010

Kemarau di Desa Bangkirai

Taufiq Ismail

Seekor anjing melolong larut di lereng bukit bertubir
Bulan merah di sungai bulat mengapung. Hangus dan pijar
Kurus lembah kuning patah daun tebu didukung punggung gunung
Melantun bayang tetes pancuran: tubuh jerami merapuh

Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh
Kemarin tengah hari udara meleleh
Di Padang Panjang Kerbau si Sati, kambing coklat mengah-ngah
Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus

Di ladang padi sekeping bumi kering makin retak-meretak
Di jantung penghuni rindu dan dahaga tetak-menetak

Kami terbaring di pondok pelupuh
Malam Ramadan ngilunya lagi
Ketika teriakan siamang bertalu membelahi lembah
Sati melompat bangkit menerjang daun jendela: Hitam kental mencat daerah sangsai

Lereng huma padi mendenting kehausan
Musim manis pabila tiba?

hari berhujan sayang subuh berasap tungku tengguli

Tapi malam kemarau belah teriakan siamang bertalu-talu*)
Menopan ke jantung penghuni mengentali deru
Musim hujan datang! Musim hujan datang!

Hujan oooi, hujaaaaan!
Hujan oooi, hujaaa – aaa aa – aaan!

Kisah, no 7, thn. III, Juli 1955

*) Penduduk sekitar Baruh di kaki gunung Singgalang bertahayul, bahwa apabila di larut malam siamang berteriak-teriak, maka keesokannya tentu akan terjadi apa-apa yang luar biasa.