Rabu, 11 Mei 2011

Guru yang Menebarkan “Virus Menulis”


Kalaulah ada guru yang suka menebarkan “virus menulis” maka dialah Irzen Hawer namanya, guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanahdatar. Cobalah bayangkan, dalam waktu dua tahun (2009-2010) beliau telah merampungkan empat buah novel dengan ketebalan antara 250-300an halaman. Berarti dalam setahun dua novel ditulisnya. Ini luar biasa!

Sungguh saya terkaget-kaget dibuatnya. Di usia yang tidak lagi muda, malah “darah muda” itu baru kini datangnya. Saya saja yang genap berusia 30 tahun saat novel Prosa Cinta di Kota Serambi ini diterbitkan, hanya baru mampu merampungkan satu judul novel. Ingin menulis novel kedua terasa berat kepala. Tapi semangat yang ditularkan Irzen Hawer—maaf, izinkan saya memanggil nama saja—ini, membuat saya tertantang untuk mengejar ketertinggalan meski sejujurnya peluang untuk menulis banyak buku bagi saya lebih besar dibanding Irzen Hawer yang jauh usianya di atas saya. Konon lagi bagi pecinta sastra yang berusia di bawah saya.

Pelajaran berharga yang diberikan pengarang yang sukses dengan novelnya Cinta di Kota Serambi (2010) ini adalah bahwa mengarang itu benar-benar gampang. Dalam mengarang cerita, beliau sendiri berangkat dari pengalaman masa kecil, khususnya di masa-masa sekolah seperti yang terlihat di dalam Cinta di Kota Serambi. Pengalaman masa kecil itulah yang didramatisir sedemikian rupa sehingga benar-benar menarik dibaca. Memang, cara gampang mengarang adalah dengan mengambil sumber ide cerita terdekat dari diri si pengarang, itulah pengalaman impirik atau juga pengalaman orang lain yang dilihat si pengarang. Irzen Hawer sudah membuktikan cara itu sangat efektif.

Motivasi menulis novel diawali Irzen Hawer ketika di akhir tahun 2008 silam ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Rumah Puisi Taufiq Ismail. Saat itu ia bertemu dengan Ahmad Tohari pengarang Ronggeng Dukuh Paruk, novelnya yang terkenal itu. Dari diskusi-diskusi singkat dengan Ahmad Tohari, Irzen Hawer tertarik pula menulis novel. Siapa sangka, pada tahun 2009 terjadi revolusi pada dirinya, ia mampu merampungkan novel Cinta di Kota Serambi yang terbit di awal tahun 2010—diterbitkan Kuflet Publishing, Padangpanjang. Berkat novel itu dalam sekejap namanya melejit, ia pun dikenal banyak orang, dan tentu saja prestasinya itu membanggakan bagi SMA Negeri 1 Batipuh tempat ia menyiram ilmu kepada murid-muridnya, juga khususnya kepada Padangpanjang kota kelahirannya.

Sejujurnya, atas semangatnya menulis novel itu, saya ‘tersengat’ pula dan ‘merasa iri’ untuk mengikuti jejaknya. Saya memotivasi diri agar bisa menulis panjang, duduk berlama-lama di depan kumputer, juga membaca banyak buku untuk menambah perbendaharaan kata, agar dapat pula saya menulis novel seperti dirinya. Alhamdulillah, asal ada niat jalan pun terbuka, dan berhasil pula saya menulis sebuah novel lalu terbit pada pertengahan Januari 2011 di Yogyakarta. Adapun novel yang saya karang itu berjudul Rinai Kabut Singgalang, yang ceritanya tak jauh-jauh juga dari suasana kota Padangpanjang yang sejuk dan molek ini.

Usai Rinai Kabut Singgalang terbit, seorang warga Padangpanjang lainnya secara tidak terduga diam-diam menulis novel pula. Namanya Berlian Persada. Novelnya berjudul Lafaz Cinta dari Surga diturunkan secara bersambung di media online Korandigital.com. Novel Berlian ini dalam waktu dekat juga akan diterbitkan, menyusul sukses tiga novel yang telah terbit dan beredar luas ke tengah masyarakat (Cinta di Kota Serambi, Rinai Kabut Singgalang, dan Prosa Cinta di Kota Serambi). Dan tak hanya Berlian Persada, seorang siswi MAN/MAPK Padangpanjang bernama Mardhiyan Novita M.Z disaat ia masih duduk di bangku kelas 3, merampungkan pula sebuah novel berjudul Penyair Merah Putih lalu terbit di Jakarta (2011). Mardhiyan adalah siswa Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufiq Ismail.

Nama-nama pengarang novel di atas adalah beberapa orang di antara sekian banyak warga Padangpanjang, yang saya kira, juga memiliki potensi yang sama di bidang tulis menulis dan perlu sama-sama diorbitkan. Eksistensi mereka adalah aset masa depan Kota Padangpanjang. Saya yakin banyak karya-karya besar lainnya yang ditulis oleh warga Padangpanjang namun belum mendapat kesempatan untuk diterbitkan. Semua potensi itu hendaknya menjadi perhatian serius banyak pihak, sebab dengan karya-karya mereka yang fenomenal dan dibaca banyak orang, nama Padangpanjang dengan sendirinya ikut terbawa harum. Andrea Hirata, pengarang Trilogi Laskar Pelangi sudah membuktikan hal itu. Hanya dengan menulis novel, Andrea Hirata telah mengangkat potensi Pulau Belitung kampungnya yang terpencil di tengah lautan, dan sekarang Belitung terkenal di mana-mana berkat Laskar Pelangi dan berbondong-bondong orang datang ke sana.

Tepatlah kiranya bila saya menyebut bahwa Irzen Hawer adalah seorang guru yang menebarkan “virus menulis” kepada banyak orang, memantik api semangat masyarakat untuk menulis, khususnya di Padangpanjang. Caranya ia membuktikan sendiri dengan menerbitkan novel-novel karangannya yang fenomenal dan diminati. Semua orang yang membaca kisah-kisah yang ditulisnya tertarik untuk mengarang lalu menerbitkan buku, sehingga semakin banyaklah warga Padangpanjang yang menulis buku.

Tahniah buat “Pak Guru” Irzen Hawer. Teruslah berkarya. Sesudah Cinta di Kota Serambi (2010) dan Prosa Cinta di Kota Serambi (2011) ini terbit, kita akan tetap menantikan karya-karya besarnya yang lain. Semoga.

*) Pengarang Novel Rinai Kabut Singgalang

Catatan:
Tulisan ini sebuah Prolog untuk Novel Prosa Cinta di Kota Serambi karya Irzen Hawer (2011)