Minggu, 31 Januari 2010

Penyair Taufiq Ismail: Sastrawan Minang Beri Andil Besar terhadap Kemajuan Kesusasteraan Indonesia


Oleh: Muhammad Subhan

Di era 60an hingga 70an bisa disebut sastrawan-sastrawan asal minang menempati posisi penting dalam ranah kesusasteraan nusantara. Sejumlah karya besar mereka baik dalam bentuk puisi maupun prosa menjadi perbincangan dan rujukan banyak orang. Di sekolah-sekolah tingkat rendah hingga perguruan tinggi, buku-buku sastrawan minang menjadi bacaan wajib dan masuk dalam kurikulum pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sumatra Barat pun menjadi kiblat sastra tanah air.

Sederetan nama besar satrawan minang itu, di antaranya Hamka, Abdul Muis, Asrul Sani, Rivai Apin, Marah Rusli, Sutan Takdir Alisyahbana, Selasih, dan beberapa nama lainnya. Campur tangan Penerbit Balai Pustaka yang ternyata juga didominasi oleh orang-orang minang di dalamnya menjadikan karya-karya sastrawan minang semakin mendapat tempat dan meluas penyebarannya ke berbagai daerah.

Namun seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, setelah kejayaan itu mengekalkan citra Sumatra Barat sebagai gudangnya penulis dan sastrawan, kini semakin meredup kalau tidak dikatakan hilang sama sekali. Bahkan yang lebih ironis sebagian besar sekolah-sekolah di Indonesia, baik SLTP maupun SLTA tidak lagi merujuk bacaan siswa mereka pada karya-karya sastrawan minang layaknya di masa-masa sebelumnya. Apa gerangan yang terjadi terhadap eksistensi kesusasteraan minang di masa sekarang?

Menurut Penyair asal minang Taufiq Ismail, di era 70an dan tahun-tahun sebelumnya karya sastrawan-sastrawan minang memang mengambil peran besar terhadap kemajuan kesusasteraan Indonesia bahkan gaungnya menyebar hingga keluar nusantara. Namun memasuki era 80an hingga 90an gaung itu semakin meredup apalagi di era 2000an hingga hari ini.

“Tapi itu wajar, penduduk Indonesia kan semakin bertambah. Di samping itu pengajaran bahasa melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia sudah semakin meluas diajarkan di sekolah-sekolah,” kata Taufiq Ismail yang membangun Rumah Puisi di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.

Dampak meluasnya pengajaran bahasa melayu itu, paparnya, tidak lepas dari kiprah Kweek School (Sekolah Guru) di Bukittinggi (SMA Negeri 2 Birugo sekarang—red) dan di Yogyakarta. Kedua sekolah inilah yang melahirkan banyak guru-guru yang mengembangkan bahasa melayu yang kemudian menumbuhkan minat sastrawan-satsrawan baru di berbagai daerah di tanah air untuk berkarya dan berkompetisi dengan sastrawan-sastrawan di daerah lainnya.

“Kalau ada sastrawan yang muncul di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan bahkan Irian Jaya, itu sangat wajar sebab bahasa Indonesia sudah semakin berkembang seiring bertambahnya jumlah penduduk,” kata Taufiq Ismail.

Memperbandingkan Minang (Sumatera Barat) dengan Jawa, menurut Taufiq Ismail, bukanlah sebuah ukuran yang tepat untuk menilai maju mundurnya sastrawan minang hari ini. Meski nama-nama besar sebelumnya telah banyak yang meninggal dunia, tentu di Sumbar ada melahirkan sastrawan-sastrawan baru walau karya mereka belum begitu menonjol dibanding sastrawan-sastrawan angkatan sebelumnya.

“Berapa penduduk Sumbar sekarang? Berapa pula penduduk Jawa? Jawa itu kan luas, dan bahasa Indonesia yang semakin maju di Jawa tak heran kalau disana lahir pula sastrawan-sastrwan baru yang lebih produktif berkarya disamping jumlahnya yang semakin banyak,” ujarnya.

Sebenarnya menurut Taufiq Ismail bukan faktor turunnya jumlah sastrawan minang yang mewarnai khazanah kesusasteraan Indonesia modern, namun kepentingan yang lebih besar dari itu adalah turunnya minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda. Tidak hanya di Sumatera Barat namun meluas ke seluruh tanah air. Dampak dari turunnya minat membaca dan menulis menyebabkan minusnya karya sastra berbobot yang lahir di tanah air.

Wujud keprihatinan itulah Taufiq Ismail dan istrinya, Ati Ismail berinisiatif membangun Rumah Puisi yang dipusatkan di Nagari Aie Angek, Kabupaten Tanah Datar. Rumah Puisi diharapkannya kelak menjadi wadah yang dapat menyebarkan kembali semangat membaca dan menulis khususnya di kalangan generasi muda.

“Kenapa di bangun di Aie Angek, pertama karena Aie Angek dekat dengan Nagari Pandai Sikek, kampung ibu saya. Kedua, Rumah Puisi diharapkan menjadi pusat kegiatan sastra di Sumbar, umumnya di Indonesua,” jelas Taufiq Ismail.

Lebih lanjut dia memaparkan, Rumah Puisi tumbuh dari pengalaman kolektif Taufiq Ismail bersama tim redaktur Horison dan sastrawan se Indonesia dalam 10 program gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008. Melatih sekitar 2.000 guru dalam program MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) 6 hari di 11 kota; dengan tim 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA membacakan karya sastra dan bertanya jawab dengan siswa dan guru di 164 kota yang terletak di 31 provinsi dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya), menyalurkan tulisan siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit selama 11 tahun dalam majalah sastra Horison, menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen novel dan drama serta esai (tiras total 37.000 eksemplar, tebal 2.280.120 halaman) yang dikirimkan ke 4.500 perpustakaan SMA negeri dan swasta (2000-2004), membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia, adalah antara lain gugusan program tersebut yang sudah dilaksanakan.

“Tujuan gerakan ini adalah meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa,” kata Taufiq Ismail.

Nama Rumah Puisi, jelasnya, tidak bermakna bahwa kegiatannya semata-mata berkaitan dengan persajakan saja. Dia merangkum seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan literatur dan literasi, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisannya, dengan warna keindahan puitik sebagai intinya. Sesungguhnya seluruh karya sastra, yaitu sajak, cerita pendek, novel, drama, dan esai—semuanya pasti memiliki keindahan puitiknya masing-masing yang khas. Demikianlah istilah puisi menjadi kata sifat bersama dan payung dari seluruh karya sastra.

Mulai April 2010 mendatang Rumah Puisi menggelar kegiatan pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA se Sumatera Barat selama enam hari yang dibagi jadualnya antar kabupaten/kota yang diundang. Saat ini di areal Rumah Puisi sedang dibangun gedung pertemuan serta penginapan berjumlah 42 kamar. Penginapan ini dianggap penting mengingat cost yang akan sangat besar jika guru-guru yang dilatih itu nanti harus diinapkan di Padang Panjang maupun di Bukittinggi.

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA se Sumatera Barat adalah awal pelatihan yang diprogram Rumah Puisi, mengingat strategisnya peran mereka dalam mendidik generasi muda yang akan beranjak ke jenjang perguruan tinggi. Guru-guru yang dilatih itu nantinya diharapkan dapat memberikan warna baru tentang pengajaran sastra di ruang kelas mereka. Pengajaran sastra yang selama ini mungkin saja dianggap siswa sebagai pelajaran yang membosankan, maka setelah guru mengikuti pelatihan di Rumah Puisi pandangan itu akan dapat dirobah. Pengajaran sastra menjadi sesuatu yang asyik, menyenangkan, dan selalu dinanti-nanti para siswa. []

Bang Awkar di Mata Saya: Seorang Guru yang Bijak, Kawan yang Setia


Oleh: Muhammad Subhan

Merantau ke Kota Padang, Sumatera Barat, adalah keputusan akhir ketika ayah saya meninggal dunia pada Maret tahun 2000 di Krueng Geukueh, Aceh Utara. Ketika itu beberapa bulan lagi saya akan menamatkan SMA. Entah mengapa pilihan hati saya berat ke Padang, padahal tidak pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di kota itu sebelumnya.

Tapi inilah agaknya yang dinamakan takdir. Setamat SMA, pada Juni 2000, saya boyong ibu yang menjanda dan tiga orang adik yang masih kecil-kecil merantau ke Padang. Modal merantau cuma sedikit uang hasil penjualan perabotan di rumah peninggalan almarhum ayah yang nilainya tidak seberapa. Tapi saya sudah membulatkan tekad keluar Aceh karena kala itu konflik bersenjata sedang marak-maraknya di Bumi Tanah Rencong.

Di usia yang masih sangat belia, 19 tahun, saya sudah memikul beban tanggung jawab merawat ibu yang sakit-sakitan dan menyekolahkan tiga orang adik di kota yang tidak saya kenal. Tak ada seorang pun sanak family di Padang. Tak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah. Semuanya saya jalani dengan sabar dan lapang dada. Saya yakin janji Allah, di mana ada kesulitan di sana ada kemudahan.

Maka, sebagai seorang remaja yang baru tamat SMA saya coba melamar kerja ke sana kemari. Mengetuk satu pintu ke pintu lainnya perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Padang. Saya ajukan permohonan mengharapkan ada pekerjaan yang bisa memberikan saya sedikit gaji untuk menafkahi ibu dan adik-adik. Tapi nasib baik belum berpihak kepada saya, sebanyak lamaran yang saya masukkan sebanyak itu pula yang dikembalikan. Ya, saya ditolak mentah-mentah, tak ada pekerjaan bagi remaja seperti saya ketika itu.

Dalam mencari kerja ini, pernah saya tertipu—bersama puluhan pelamar lainnya—ketika sebuah iklan lowongan kerja yang saya baca di koran mengumumkan sebuah perusahaan perbankan membutuhkan karyawan minimal berijazah SMA. Merasa memenuhi persyaratan, saya kirim lamaran. Seminggu kemudian datang surat balasan melalui pos yang isinya menyebutkan saya diterima, namun persyaratannya harus mengirimkan uang administrasi sebesar Rp95 ribu, dan pada hari Minggu semua pelamar diminta berkumpul di sebuah hotel berbintang di Padang dengan mengenakan baju putih dan celana hitam. Usai mentransfer uang yang diminta, pada hari yang disebutkan berkumpullah saya dan teman-teman senasib di hotel tersebut. Tapi apa lacur, melalui seorang satpam hotel, disebutkan tidak ada perusahaan perbankan yang membuat acara rekrutmen karyawan di hotel. Duh, pengalaman kena tipu yang cukup telak!

Usai luntang lantung tak tentu arah, akhirnya saya memilih tinggal di sebuah mushalla di kawasan Air Tawar Barat, Padang. Saya menjadi gharin di sana. Alhamdulillah, meski bukan sebuah pekerjaan layaknya di perusahaan, sedikit banyak rezeki mengalir. Ada-ada saja jemaah yang memberi uang meski jumlahnya tidak banyak, membawakan lauk pauk, dan juga ‘menyedekahkan’ beras. Semuanya saya syukuri.

Ketika mengurus mushalla ini, saya menyewa sebuah rumah kecil untuk ibu dan adik-adik yang tidak jauh jaraknya dari tempat saya tinggal. Ketika ada jemaah yang memberikan kemurahan hatinya, rezeki itu saya bawa pulang, kami nikmati bersama-sama.

Di mushalla inilah jiwa kepenulisan saya terbentuk dan semakin terasah. Di sisa-sisa waktu luang, saya menyempatkan menulis dan mengirimkannya ke beberapa surat kabar di Padang. Alhamdulillah, satu dua tulisan saya dimuat. Tulisan yang terbit tentu saja mendapat honor walau tidak besar, tapi cukuplah untuk membeli pena dan kertas. Setiap minggu saya nantikan tulisan-tulisan saya yang terbit di koran-koran itu.

Di awal tahun 2001 seorang kawan mengajak saya bekerja di sebuah koran mingguan. Tanpa meninggalkan rutinitas di mushalla tawaran itu saya terima. Mulanya saya mengira menjadi wartawan itu bergaji besar, ternyata tidak sama sekali. Beberapa tahun menjadi wartawan di beberapa koran mingguan bisa dikatakan saya tidak bergaji! Sangat memiriskan sekali. Karena tidak bergaji itu pula, saya lebih banyak bekerja di bagian redaksi, mengetik ulang naskah, mensortir surat yang masuk, memperhatikan cara melayout koran, bahkan mencari iklan. Walau demikian semua itu menjadi ilmu dan pengalaman yang sangat berharga buat saya hingga sekarang.

Di masa-masa sulit itulah, pada suatu hari, di pertengahan tahun 2001, pintu kamar saya diketuk orang. Saya buka pintu dan memperhatikan seorang lelaki bertubuh sedikit gemuk yang tersenyum kemudian menyalami saya. “Subhan ya, orang Aceh kan?” sapanya ramah. Saya balas salam dan senyum lelaki itu dan mempersilakannya masuk ke kamar saya. “Maaf, Bapak siapa, ya?” Saya masih heran dari mana ia tahu nama dan asal saya.

“Jangan panggil bapak, panggil abang saja. Saya Awaluddin Kahar. Bang Awkar,” ia memperkenalkan diri. Itulah perkenalan pertama saya dengan Bang Awkar, yang akhirnya saya ketahui ia berasal dari Pulau Simeulue, Aceh yang bekerja sebagai wartawan di beberapa koran di Padang. Ia mengetahui diri saya setelah mendapat informasi dari seorang kawan wartawan lainnya bahwa ada orang Aceh yang juga jadi wartawan di Padang.

Setelah merasa sama-sama senasib sepenanggungan, hari-hari berikutnya kami selalu bertemu, berdiskusi, bahkan meliput berita bersama. Tak jarang kami berboncengan sepeda motor miliknya. Jika lelah di lapangan kami cari kedai kopi atau rumah makan sembari merenung-renungkan nasib kapan hidup akan berubah. “Kita harus bekerja lebih keras, Dik. Jangan sampai rambutmu ikut habis seperti Abang,” ujarnya bercanda. Kami pun tertawa bersama.

Itulah keakraban kami sehari-hari. Karena di masa itu kami belum punya alat komunikasi handphone, setiap kali bertemu kami janjian esoknya ia akan menjemput saya di mana. Setiap kali berpisah ia pun tak sungkan memberikan saya sedikit uang yang tentu saja sangat berharga sekali bagi saya ketika itu.

Bisa dibilang proses pembentukan diri saya menjadi wartawan tak lepas dari campur tangan Bang Awkar. Dialah yang memperkenalkan saya kepada beberapa anggota DPRD Sumatera Barat, mengajarkan cara melakukan wawancara yang baik dan benar, berpakaian sopan dan rapi, bahkan di tahun 2004 mempromosikan saya bekerja di Harian Mimbar Minang yang sedikit banyak merubah jalan hidup saya dikemudian hari menjadi wartawan profesonal di Kota Padang.

Setelah benar-benar serius menekuni dunia kewartawanan, saya pun mohon izin kepada pengurus mushalla untuk sepenuhnya bekerja di surat kabar. Pengurus mengizinkan dan sebagai penggantinya saya titipkan adik laki-laki saya di sana. Sejak pertengahan 2004 itulah, setelah 4 tahun luntang-lantung di belantara Kota Padang yang gersang, saya memutuskan sepenuhnya bekerja di media. Dan ternyata, walau bergaji pas-pasan, saya menikmati pekerjaan itu. Bakat menulis saya semakin terasah, kawan-kawan baru mulai saya kenal, berbagai liputan penting saya ikuti, bahkan beberapa kali mendapat tugas keluar provinsi.

Setelah Harian Mimbar Minang bangkrut lalu berubah menjadi mingguan, Bang Awkar dan saya kemudian memutuskan hijrah ke media lain. Di tahun 2005, beberapa bulan usai tsunami Aceh, seorang kawan pengurus salah satu parpol Islam mengajak saya mendirikan surat kabar yang kemudian diberi nama Harian Serambi Minang. Koran ini terinspirasi dari Harian Serambi Indonesia Aceh. Namun sayang koran itu cuma bertahan tiga bulan karena minimnya tenaga profesional di dalamnya.

Usai saya keluar dari Serambi Minang, Bang Awkar direkrut dan dipercaya untuk menjadi Pemimpin Redaksinya. Beberapa bulan kemudian koran itu berjalan dengan edisi mingguan. Walau sudah keluar dari struktur redaksi namun saya tetap menjadi kontributornya, disamping saya bekerja di Harian Haluan hingga sekarang. Pendek kata, meski berpisah media, namun hati kami tetap satu, saling membutuhkan dan saling berbagi suka duka.

Di awal-awal menjadi wartawan bisa dibilang saya sering menumpang tidur di rumah Bang Awkar yang sederhana di Komplek Perumahan Belimbing Padang. Istrinya yang guru SDLB sangat ramah. Di rumah tangga saya perhatikan bagaimana anak-anak Bang Awkar diajar tentang sopan santun dan keramahtamahan. Jarang saya mendengar keributan. Zarra dan Ulfa, dua putri Bang Awkar juga anak-anak yang cerdas dan sangat hormat kepada kedua orang tuanya. Tentu saja, sebagai remaja yang masih bujangan ketika itu, apa yang saya lihat menjadi sebuah ilmu bagi saya ketika berumah tangga.

Mingguan Serambi Minang tak bertahan lama. Beberapa bulan terbit Bang Awkar memilih hijrah lagi. Suatu hari pernah saya mengatakan kepadanya, “Bang, sudah cukup Abang jadi wartawan. Sekarang jadilah Abang yang memimpin wartawan. Abang harus menjadi pimpinan apalagi usia Abang sudah di atas 40 tahun. Seharusnya sudah sangat matang karir Abang.” Ia mengangguk-anggukkan kepala sembari mengunyah-ngunyah kalimat saya.

Memang akhirnya Bang Awkar memutuskan untuk membangun media sendiri. Dengan berbekal kepercayaan beberapa orang relasinya, ia mendirikan Surat Kabar Serumpun, sebuah koran mingguan dengan misi penulisan berita yang santun dan Islami. Di dekat Kedai Mie Aceh “Bang Lah” di kawasan Tunggul Hitam Padang, ia mengontrak sebuah rumah sebagai kantornya. Bang Awkar mengajak saya untuk terlibat aktif, tapi saya tidak dapat melakukannya karena rutinitas kerja di koran Harian Haluan. Namun demikian kami selalu berdiskusi dan sekali-kali saya ikut menulis guna mewarnai surat kabarnya.

Karena kendala modal akhirnya Serumpun juga tidak dapat bertahan lama. Sekian bulan vakum. Bang Awkar dengan kesetiaannya tetap memberikan semangat kepada kru Serumpun untuk bersabar semoga media itu bisa terbit kembali. Tapi mungkin memang sudah takdir, persaingan media di Padang yang sangat ketat mengharuskan Serumpun untuk sementara waktu tidak terbit lagi.

Tapi yang membuat saya haru, suatu hari Bang Awkar menelpon saya tentang rencananya pulang ke kampung, Simeulue. Dia bilang akan mencari peruntungan di sana. Mencoba menjalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah Simeulue menerbitkan surat kabar yang mampu mempromosikan potensi Simeulue yang jauh dari daratan ke dunia luar. Bang Awkar meminta saya agar ikut ke Simeulue membantunya. Tapi lagi-lagi dengan sangat menyesal saya tidak dapat ikut bersama Bang Awkar. Di samping kendala keterikatan kerja di media harian tempat saya bekerja sekarang, saya juga sudah menekan kontrak sebagai Manajer Program Rumah Puisi Taufiq Ismail yang berorientasi pada pelatihan guru dan siswa di bidang sastra.

Saya kira Bang Awkar putus asa dengan penolakan saya itu. Tapi nyatanya tidak. Dengan tekad yang kuat dan modal pas-pasan ia memutuskan berangkat ke Simeulue. Beberapa bulan kemudian saya mendapat kabar darinya bahwa ia telah menerbitkan Surat Kabar Simeulue (SKS). Pemda Simeulue bersedia menjalin kerjasama. Luar biasa! Saya benar-benar salut kepadanya.

Sampai catatan ini dibuat, SKS telah berusia satu tahun. Meski relatif masih sangat muda namun berbagai gebrakan telah dilakukan media pimpinan Bang Awkar ini. Dari minggu ke minggu SKS bergerak manis meski diakuinya banyak kendala yang harus ia tangani, mulai masalah pembinaan SDM wartawan, iklan, hingga distribusi koran agar menyentuh ke seluruh sektor kehidupan masyarakat di Pulau itu. Walau demikian semua kendala itu tentu saja menambah pengalaman bagi Bang Awkar untuk lebih profesional dalam memimpin surat kabar yang dicita-citakannya sejak lama.

Ketika saya dimintanya menulis sedikit pengantar dari seorang sahabat untuk buku perdananya ini, lagi-lagi saya terharu dengan semangat kerja kerasnya untuk maju merubah jalan hidupnya. Saya resapi kalimat-kalimat dalam tulisan sederhananya yang kritis menyikapi berbagai persoalan, khususnya tentang kepeduliaannya terhadap bahasa Ulau yang kian terkikis di Simeulue. Banyak anak-anak Simeulue sekarang yang malu menggunakan bahasa ibunya itu. Padahal bak kata pepatah, bahasa menunjukkan bangsa. Maka, melalui surat kabar yang ia kemudikan biduknya, Bang Awkar ingin memperjuangkan bahasa Ulau sehingga menjadi bahasa “wajib” di tengah masyarakat Simeulue. Salah satu cara ia meminta Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan setempat agar memasukkan bahasa Ulau ke dalam kurikulum sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Bang Awkar, bagi saya adalah seorang guru yang arif dan bijaksana. Banyak yang yang ia ajarkan kepada saya pelajaran hidup, khususnya tentang semangat kerja keras dan pantang menyerah. Dan, sebagai seorang sahabat dia adalah kawan setia yang tidak melupakan sahabatnya meski kehidupannya sudah hampir mencapai puncak kesuksesan. Saya tetap dirangkulnya. Sumbang saran dan pemikiran saya tetap diharapkannya.

Tak ada rangkaian kata yang indah saya kira selain ucapan selamat atas semua pencapaian karir Bang Awkar sekarang. Sebagai seorang adik, sahabat, dan saudara se kampung halaman (Aceh), saya menyatakan bangga kepadanya. []

Padang Panjang, 25 Januari 2009

Kadal

Oleh: Muhammad Subhan

Kadal adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk kelompok reptil. Secara luas, pengertian kadal atau kerabat kadal (bahasa Inggris: lizards) juga mencakup kelompok cecak, tokek, bunglon, cecak terbang, biawak, iguana dan lain-lain. Sedangkan secara sempit, istilah kadal dalam bahasa Indonesia biasanya merujuk terbatas pada kelompok kadal yang umumnya bertubuh kecil, bersisik licin berkilau, dan hidup di atas tanah.

Kadal-kadal tertentu, misalnya bunglon, dapat berganti warna sesuai kondisi lingkungan atau suasana hati. Meski kebanyakan hidup di daratan, umumnya kadal dapat berenang. Beberapa jenisnya, seperti biawak, bahkan beradaptasi dengan baik di lingkungan perairan.

Tapi ini bukan kadal sebenar kadal seperti didefinisikan di atas. Kadal ini lengkapnya disisipkan kata “pil” di depannya, sehingga menjadi kata “Pilkadal”. Sutan Ongok menjelaskan kata Pilkadal itu sebagai “Pemilihan Kepala Daerah Langsung” yang di kampungnya sebentar lagi akan digelar aleknya. Tinggal menghitung bulan saja lagi. Sutan Ongok pun sudah sibuk ke sana kemari, sebab jauh-jauh hari ia telah mengumumkan kepada warga kampung akan maju sebagai salah seorang calon “kada”.

Ufh, jangan salah mengartikan kata “kada”. Sebab menurut kamus Minang, “kada” itu berarti borok, kudis, korengan, yang merupakan penyakit kulit yang menjijikkan. “Kada” yang dimaksud Sutan Ongok adalah kependekan dari “Kepala Daerah”. Ya, di kampungnya Sutan Ongok ingin sekali menjadi seorang kepala daerah. Tentu setelah dia melihat banyak benar enaknya jadi pejabat seperti kawannya yang sudah menjadi “kada” di kampung tetangga.

Betapa tidak, dengan menjadi “kada” segala fasilitas akan dimiliki Sutan Ongok dan dapat diwariskan kepada anak kemenakannya. Kemana-mana akan ada ajudan yang mengawal, kalau perlu ini-itu gampanglah karena ada staf yang mengatur. Kalau mau pergi jauh ada mobil sedan berkilat yang harganya ratusan juta. Kalau mau makan dengan menu sehat bisa pesan kursi di sebuah restoran mewah. Kalau bosan tidur di rumah dinas, bisa menyewa kamar di hotel berbintang empat. Pokoknya kalau sudah menjadi “kada” gampanglah itu diatur. Dan, menjelang suksesi Pilkadal Sutan Ongok benar-benar tidak dapat tidur siang malam.

Tentu saja, siang malam pula Sutan Ongok berperang dengan pikirannya bagaimana cara mengatur strategi agar menang menjadi “kada” pada Pilkadal nanti. Bermacam cara dilakukan Sutan Ongok agar suara orang kampungnya nanti masuk ke kotak suaranya. Melalui tim sukses yang siap tempur bermacamlah cara dilakukan. Mulai mengadakan wirid pengajian ini-itu, gelar bazaar untuk orang miskin, jumpa pers, gotong royong massal, donor darah, gelar malam kesenian paguyuban, cetak kalender lalu dibagi-bagikan kepada orang kampung, hingga siap diundang menjadi pembicara dalam seminar ini-itu walau tanpa dibayar sekalipun. Kepada tim suksesnya dia mewanti-wanti, jelang Pilkadal harus sesering mungkin cari simpati, jual muka, jual program, bangun wacana hingga tebar pesona.

Tapi suatu malam jelang pencontrengan Pilkadal, Sutan Ongok bermimpi yang amat mengerikan. Di seluruh tubuhnya yang sehat tiba-tiba bermunculan “kada” sebenar kada. Mulai dari kepala hingga ujung kaki penyakit kada menggerogoti tubuhnya. Tidak hanya itu, tiba-tiba muncul puluhan kadal sebenar kadal yang menggigit kada di tubuhnya. Meraung-raunglah ia menahan sakit. Terbayang di benaknya uang yang dibagi-bagikan kepada tim suksesnya bukan uang halal, melainkan uang yang ia dapatkan dari berbagai cara, termasuk menjual tanah ulayat kampungnya. Dia sebagai mamak merasa berhak mendapat harta warisan, tanpa peduli nasib anak kemenakan. Lalu dengan uang itu pula ia sogok orang kampung agar memilihnya saat pencontrengan. Orang kampung yang ‘ongok’ pula tentu senang menerima uang, apalagi di zaman yang sedang sulit mencari uang.

Dalam mimpi itu nyaris nyawa Sutan Ongok direnggut oleh ratusan kadal yang dengan lahapnya menggigit kada-kada yang tumbuh di kulit tubuhnya. Tapi untunglah, ketika puncak kesakitan dirasakannya tiba-tiba seluruh tubuhnya menikmati siraman air yang sejuk. Ketika itu juga Sutan Ongok terjaga. Tapi alangkah kagetnya dia karena melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 11.00 siang, sementara di sisi ranjangnya sang istri berkacak pinggang sambil memegang ember air. “Lah tinggi hari masih bakaruah juo, laki macam apo uda ko?!” []

Selasa, 12 Januari 2010

Semua Orang Bisa Menikmati Kebahagiaan


Judul : Road To Happiness
Penulis : Tatang Hidayat & Anjar Ramdhan
Penerbit : Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Grup)
Cetakan : I, 2009
Tebal : 244 halaman
ISBN : 978-979-1164-18-4

Jika ditanya, tak seorang pun di muka bumi ini yang ingin hidup menderita. Alasannya sederhana, hidup menderita itu tidak enak, memuakkan, menyusahkan orang lain, serta suram masa depan. Maka, jika derita tidak disuka, kebahagiaanlah tujuan semua orang.

Ya, semua sepakat bahwa setiap orang ingin bahagia. Bahagia itu menyenangkan, indah, membuat hati berbunga-bunga. Tapi, masing-masing orang punya definisi sendiri tentang bahagia itu, sesuai dengan kebutuhannya. Bahagianya orang pincang ketika ia memiliki kaki, bisa dipakai berjalan seperti kebanyakan orang. Bahagianya orang yang ingin terkenal adalah kepopuleran, di mana ketika berjalan, semua orang mengenalnya, menyalami bahkan hormat kepadanya. Bahagianya orang miskin, jika punya uang menumpuk. Punya makanan untuk dirinya dan keluarga di rumah. Dan, begitu seterusnya.

Tapi, kata sebagian ulama, kebahagiaan itu keriangan hati, kelapangan dada, ketenangan. Kebahagiaan bukan milik pribadi dan dibatasi oleh masa. Bahagia itu bukan Istana Abdul Malik bin Marwan, cek yang dicairkan, atau kendaraan mewah. Tapi, bahagia menurut Said bin Al-Musayyib, adalah pemahaman terhadap Rabbnya. Al Bukhari merasa menjadi orang yang sangat bahagia ketika ia bisa memasukkan sebuah hadist sahih dalam kitabnya. Imam Syafii merasa bahagia ketika bisa menyimpulkan hukum-hukum yang diaturnya. Begitupun, Imam Ahmad bin Hambal, merasa bahagia karena memiliki sikap wara’. Sedangkan Tsabit Al-Bunani bahagia karena kekhusyukan ibadahnya.

Rasullullah SAW pernah hidup dalam kefakiran, tempat tidur hanya pelepah korma. Tapi sejarah mencatatnya sebagai manusia yang paling bahagia. Dan, menurut orang-orang beriman, bahagia itu ada, ketika tidak berbuat dosa dan hidup penuh dengan amal shaleh. Bahagia adalah ketika dekat dengan Sang Pencipta, “ Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub”, yang artinya “Dengan mengingat Tuhan itu, hati kalian merasakan ketenangan”.

Isi buku ini menarik karena memberikan motivasi kepada pembaca untuk menggapai kebahagiaan itu. Buku ini juga dilengkapi dengan kisah-kisah hikmah yang menggugah sehingga dapat menjadi inspirasi dalam menemukan kebahagiaan. Tata letak isinya pun menarik karena dilengkapi gambar-gambar unik.

Meski banyak resep yang ditawarkan buku ini tentang bahagia, namun intinya, seperti dikatakan Dale Carnige, kebahagiaan bukanlah apa yang anda miliki, siapa diri anda, di mana anda berada, atau apa yang anda lakukan, tetapi ditentukan oleh apa yang anda pikirkan. (*)

Resensiator: Muhammad Subhan, wartawan dan peminat buku, berdomisili di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat

Senin, 11 Januari 2010

Kisah Petualangan Aladdin, Ali Baba dan Sinbad


Judul : Sahara
Penulis : Nugraha Wasistha
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : 335 halaman
ISBN : 978-979-024-173-2

Apa yang akan terjadi jika tiga tokoh berlainan karakter dan hidup dalam zaman khayalan berbeda bertemu dalam sebuah cerita? Bisa ditebak tentu akan sangat menghebohkan. Inilah novel itu, “Sahara”, yang mempertemukan Sinbad, petualang yang menjadi muballig dengan si pencuri cilik, Ali Baba dan seorang Sultan muda yang misterius bernama Aladdin. Ketiganya menjadi kawan sekaligus lawan.

Kisah petualangan ketiga tokoh ini diawali dengan kehidupan glamour Abdul Karir, seorang pengusaha kaya yang juga sahabat Sinbad. Abdul Karir seorang yang durhaka kepada Allah karena hidup dalam kemaksiatan. Dia memiliki sebuah permata yang mahal dan diincar banyak orang, khususnya pencuri. Salah satu pencuri itu adalah Ali Baba.

Abdul Karir meinta bantuan Sinbad untuk menangkap Ali Baba yang berhasil mencuri permata itu, dan terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan. Sinbad punya misi menyadarkan Ali Baba agar tidak tersesat hidupnya, meski Abdul Karir sendiri seorang yang inkar kepada perintah Allah. Karena kehebatannya Sinbad berhasil menangkap Ali Baba dan terjebak oleh prajurit Abdul Karir yang juga memburunya. Ketika itu, Abdul Karir meminta Sinbad agar menyerahkan Ali Baba kepadanya, namun Sinbad menolak lantaran ia ingin menyadarkan kejahatan yang dilakukan Ali Baba selama ini. Penolakan Sinbad itu membuat Abdul Karir berang lalu memrintahkan prajuritnya membunuh Sinbad dan Ali Baba. Namun sebelum bedil menyalak, tiba-tiba muncul permadani terbang yang merobohkan seluruh prajurit Abdul Karir. Di atas permadani itu duduk Aladdin.

Aladdin mulanya pemilik lampu ajaib dan ditolong jin sehingga menjadi sultan di sebuah negeri di Gurun Sahara . Ketika Aladdin sadar selama ini ia telah menyekutukan Allah, Aladdin berniat melenyapkan lampu ajaib itu. Namun permaisurinya menolak lalu menguasai lampu dan jin penghuni lampu ajaib itu. Aladdin pun tersingkir dari istana lalu kerajaannya dipimpin sang permaisuri bersama jin sakti.

Seorang perampok makam yang jahat, Roughstone dan anak buahnya, sejak lama berniat mencari lampu ajaib itu. Ketika Aladdin bersama Ali Baba dan Sinbad datang ke Sahara mereka bertemu dan bekerjasama menaklukkan jin sakti yang tidak lagi bertuan lantaran pemaisuri yang menguasai lampu itu telah meninggal dunia. Jin sakti pun menjadi makhuk jahat dan ingin membunuh mereka semua.

Gaya bahasa novel ini mengalir. Dialog-dialognya cerdas. Tidak ada karakter hitam dan putih. Sinbad yang muballig ternyata memiliki dendam yang samar. Ali Baba, Roughstone dan anak buahnya pun memiliki kebaikan. Yang lebih mengesankan adalah plot twist di akhir yang sepertinya wajib dimiliki novel fantasi.

Tokoh-tokoh dalam nove ini memiliki kedalaman dimensi masing-masing. Sinbad tampak perkasa dan tanpa kompromi terhadap orang tak beriman, dalam perjalanan cerita menemukan pelajaran yang menggoyahkan kekerasan dogmanya. Ali Baba yang super cerdik, tumbuh dengan egoisme tinggi dari seorang yang survive di alam keras, akhirnya menumbuhkan compassion terhadap orang lain. Bahkan tokoh-tokoh antagonis pun digambarkan memiliki karakter yang berdimensi. Dan, satu ciri yang kuat dalam novel ini adalah tempo ceritanya yang gesit, cepat dan tidak betele-tele. ***

Resensiator: Muhammad Subhan, wartawan dan peminat buku, berdomisili di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat

Gempa Usai Lebaran

Oleh: Muhammad Subhan

Sisa-sisa kehancuran pascagempa bumi yang melanda Sumatera Barat memiriskan mata yang memandang. Rumah-rumah terlihat rata dengan tanah, khususnya di sebagian wilayah kota Padang, kabupaten Padang Pariaman, dan kabupaten Agam. Gempa benar-benar merusak. Ribuan warga masih tinggal di tenda-tenda darurat, dengan peralatan seadanya. Meski bantuan sudah berdatangan tapi penyaluran tidak merata, banyak warga yang belum menerima bantuan itu. Unjuk rasa sering terjadi.

Dua hari jelang lebaran, saya sibuk menghubungi kawan-kawan yang punya mobil untuk saya rental pulang mudik. Tak ada yang merespon, karena kendaraan mereka juga dipakai untuk kegiatan yang sama. Sehari menjelang hari H, saya berinisiatif menulis info di facebook mengharapkan ada tanggapan dari kawan-kawan yang lain. Saya tulis begini; “Bagi kawan-kawan yang berdomisili di Bukittinggi dan Padang Panjang, mohon info mobil yang bisa dirental, besok saya mau mudik…”

Alhamdulillah, tak lama kemudian pesan itu direspon oleh seorang kawan di Padang Panjang. “Saya punya mobil yang bisa dirental, harga sedikit mahal, Rp300 ribu sehari,” tawarnya. Biarlah, Rp300 ribu tidak jadi soal asal saya bisa memakai kendaraan itu, karena saya sudah berniat akan membawa istri, ibu dan seorang adik mudik dengan kendaraan ke kampung. Akan sangat menyulitkan tentunya jika menumpang kendaraan umum. Segera saya kontak kawan itu. Saya rental 3 hari. Esok paginya dia serahkan kunci mobil, dan kami pun sekeluarga berangkat.

Saya dan keluarga tinggal di Padang Panjang, kota kecil di kaki Gunung Merapi yang berhawa sejak. Padang Panjang juga disebut kota hujan. Sebab nyaris setiap hari gerimis turun. Tak jarang kota ini diselimuti kabut yang menambah indah pemandangan. Saya bersyukur bisa menetap di kota ini, karena sebagai seorang penulis saya membutuhkan suasana yang nyaman, aman dan tenang. Padang Panjang agaknya sangat tepat mendukung profesi saya.

Kampung istri saya di Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, sekitar 3 jam berkendaraan dari Padang Panjang. Sedangkan kampung ibu di Kajai, Kabupaten Pasaman Barat, lebih kurang 5 jam dari Padang Panjang. Hari itu, kami berangkat ke kampung istri dulu, menginap semalam sembari esok paginya ikut salat Idul Fitri berjamaah di masjid yang tidak jauh jaraknya dari rumah keluarga istri. Usai sungkem sana sini mohon maaf lahir dan batin khususnya pada mertua, siangnya kami berangkat ke kampung ibu di Kajai, Pasaman Barat. Ini adalah lebaran pertama bagi saya membawa istri, ibu dan adik dengan merental kendaraan, karena sebelumnya saya tidak pernah membawa mereka menggunakan kendaraan pribadi yang dirental. Maklumlah, keluarga kurang mampu.

Tentu saja sangat asyik mudik bersama keluarga. Di dalam kendaraan kami bercanda dan berangan-angan andai saya punya mobil sendiri kelak. Semuanya mengaminkan. Maka, saya minta istri, ibu, adik untuk berdoa semua di atas kendaraan yang kami tumpangi itu. Tentu saja, saya percaya doa istri, ibu, dan adik akan diijabah oleh Allah SWT, amin.

Selama tiga hari itu, kami menghabiskan waktu mengunjungi sanak keluarga. Benar-benar luar biasa ibu saya itu, sanak familinya banyak. Tak cukup rasanya dua hari menyinggahi semua rumah. Andai saja tidak dibatasi oleh masa rental mobil, ingin pula kami kunjungi semuanya karena saya tidak terlalu mengenal mereka.

Kami hanya bisa menyinggahi 5 rumah adik-adik ibu di Kapar, sekitar 30 menit perjalanan dari kampung ibu di Kajai. Luar biasa senangnya mereka menyambut kami. Ibu juga sudah lama tidak bertemu, karena sebelumnya kami berdomisili di Lhokseumawe, Aceh.

Tradisi di kampung setiap tamu yang datang diharuskan makan di rumah yang disinggahi. Adik ibu saat itu memasak gulai paku (pakis). Ibu tentu saja tidak dibolehkan makan karena ibu menderita rematik dan asam urat. Kata orang pantang penderita rematik dan asam urat makan sayur pakis.

Omong-omong soal gulai paku ini, ibu saya bercerita lucu tentang kenangan almarhum orang tua perempuan ibu, nenek saya. Kata ibu, nenek saya menikah di usia sangat muda, 12 tahun. Masa itu orang-orang kampung punya kebiasaan menikahkan anak-anak mereka di usia relatif muda. Sedikit yang bersekolah, maklumlah zaman penjajahan Belanda. Di usia yang sangat belia itu, mungkin juga hingus belum mampu lagi dilap, nenek menikah dengan kakek. Suatu hari, cerita ibu lagi, nenek disuruh memasak sayur paku (pakis). Sebagai seorang istri yang baik dan baru belajar memasak, nenek menurut. Tapi siapa sangka, yang digulai nenek bukan sayur paku (pakis) sebenarnya, melainkan paku dinding. Kakek berang, nenek pun diceraikannya.

Mendengar cerita itu semua kami tertawa, bahkan saya terpingkal-pingkal menahan tawa. Lucu sekali saya kira kejadian itu. Lalu kata ibu lagi, setelah diceraikan oleh suami pertamanya, nenek menikah lagi barulah lahir ibu. Jadi ayah ibu merupakan suami kedua dari nenek saya.

Makanya, bagi yang belum benar-benar siap menikah apalagi usia masih belia, jangan coba-coba nikah dini. Akibatnya nanti seperti apa yang dialami nenek saya itu. Sok menjadi istri malah tak pandai memasak sama sekali, tak bisa membedakan mana istilah sayur paku dengan paku sebenarnya. Kami pun tertawa lagi bersama-sama.

Pokoknya, lebaran kali ini adalah lebaran yang membahagiakan bagi kami sekeluarga. Karena kami semua dapat berkumpul mengunjungi sanak famili yang telah sekian lama tidak kami jenguk keadaan mereka. Maklumlah di kampung namanya, ekonomi mereka rata-rata di bawah garis kemiskinan.

Empat hari usai lebaran kami pulang kembali ke Padang Panjang. Beraktivitas seperti biasa lagi. Istri menyiapkan bahan-bahan ajarnya, karena Senin 28 September 2009 ia mulai masuk kelas lagi. Istri saya guru Bahasa Inggris di SD Negeri 08 Ganting, Padang Panjang. Sementara saya kembali beraktivitas pula seperti biasa, sibuk di depan komputer, mengetik tulisan, mengirim berita, dan juga menulis cerpen, puisi dan artikel-artikel yang saya ikutkan dalam lomba-lomba penulisan.

Rabu, 30 September 2009. Hari itu adalah hari bersejarah bagi masyarakat Sumatera Barat. Delapan hari usai lebaran, bumi Ranah Minang Minang berguncang. Gempa bumi. Memorakporandakan semuanya. Lebih 1.000 orang meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, dan ratusan orang dinyatakan hilang.

Sore, ba’da Ashar. Hari itu istri meminta saya mengantarnya ke pasar. Biasanya, jika saya bekerja, istri selalu berbelanja sendirian. Jarang minta diantar jika keadaan tidak mendesak. Tapi hari itu saya antar istri, karena kondisinya terlihat kurang sehat.

Pasar sangat ramai dengan aktivitas perdagangan. Suasana benar-benar hidup. Usai mengantar istri saya tidak langsung kembali ke rumah, saya keliling pasar saja dengan sepeda motor. Tak lama kemudian istri mengirim sms bahwa ia sudah selesai belanja. Dia menuju sebuah kedai minyak tanah, karena jerigen dititipkan di sana. Saya susul. Ketika ia datang ke kedai itu, minyak belum diisi. Masih kosong. Saya menunggu di depan kedai, sementara motor masih dalam kondisi hidup.

Ketika minyak akan diisi si pemilik kedai, tiba-tiba terasa getaran di tanah tempat saya berpijak. Awalnya terasa lambat. Saya yang duduk di atas motor ikut terguncang dan cepat menyadari bahwa itu gempa. Lalu guncangan semakin kuat. Saya berteriak kepada istri, gempa! Langsung motor saya larikan ke tepi jalan menjauh dari bangunan. Di sekitarnya berdiri ruko-ruko bertingkat dua.

Istri yang juga menyadari gempa, secepatnya meninggalkan belanjaannya lalu berlari mengikuti saya. Saya pegang tangan istri. Dia juga erat memegang lengan saya. Wajahnya pucat pasi. Orang-orang di sekitar pasar berhamburan. Suara gemuruh terdengar dari bangunan-bangunan. Bumi berguncang hebat. Getarannya vertikal. Terdengar pula pekik takbir. Wajah-wajah panik. Beberapa kendaraan roda empat di jalanan nyaris tabrakan. Sepeda motor yang parkir berjatuhan. Sempat saya menduga, kalau-kalau Gunung Merapi meletus.

Dalam kondisi itu, saya ingat ibu di rumah. Ibu yang sakit tak akan kuat berjalan. Di samping itu, akibat gempa-gempa terjadi yang terjadi sebelumnya, meski tak sekuat hari itu, telah merusak rumah kontrakan saya. Seluruh dinding retak-retak. Dinding ruang tengah saja nyaris hancur dan kondisinya sudah cembung ke dalam.

Ketika ingat ibu sendirian di rumah, saya tinggalkan istri di tempat yang aman dari bangunan. Dia juga menyuruh saya segera melihat ibu. Lalu saya meluncur ke rumah. Di sepanjang jalan banyak orang berdiri dan berjongkok dengan wajah penuh kepanikan. Sesampainya di rumah, saya lihat ibu sudah berada di luar bersama tetangga lainnya. Di wajah ibu menyemburat rona kepanikan.

Setelah memastikan ibu aman, saya jemput istri di pasar. Di jalanan masih ramai. Sebuah masjid, tidak jauh dari rumah saya, menaranya retak-retak. Empat ruko berlantai empat, kaca-kaca dindingnya pecah berserakan. Empat lantai bagian paling atas tiang-tiangnya miring ke kiri, nyaris rubuh dan jatuh. Dinding sebuah rumah warga di tepi jalan raya juga jebol.

Saya dan istri segera mengambil belanjaan yang tertinggal. Sementara waktu saya minta ibu, istri dan seorang adik perempuan menumpang di rumah ketua RT, tetangga di sebelah rumah. Kebetulan, rumah RT itu terlihat aman, tidak bertingkat dan bangunannya pun kokoh. Usai mengamankan mereka bertiga, saya raih kamera, menyisiri Padang Panjang, melihat-lihat kondisi yang terjadi. Jalan-jalan tampak sepi. Rumah-rumah dan pertokoan di pinggiran jalan terlihat retak tidak terlalu parah.

Saya kembali ke rumah ketika adzan magrib usai berkumandang. Padang Panjang gelap gulita. Listrik mati. Hujan gerimis turun, sempat lebat beberapa saat. Istri teringat pada ibu dan kakaknya yang tinggal di Padang. Seorang adik saya juga tinggal di Padang. Sudah ditelepon berkali-kali tapi tidak ada sambungan. Jaringan hp sibuk. Anehnya kondisi sinyal penuh.

Untung saja, malam itu, sekitar pukul 21.00, listrik kembali hidup. Sesaat mati lagi. Lalu hidup lagi. Saya lihat kondisi rumah. Tiang-tiang penyangganya masih baik, namun nyaris seluruh dinding retak, terutama di kamar ibu di dekat ruang dapur. Ibu was-was melihat kondisi dinding seperti itu. Saya yakinkan bahwa bukan kita saja yang mengalaminya, banyak orang lain yang rumahnya lebih parah. Malam itu kami tetap tidur di rumah, namun membawa kasur di dekat pintu keluar, jaga-jaga kalau terjadi gempa susulan. Alhamdulillah, hingga pagi tidak terjadi gempa kuat, hanya gempa kecil saja, yang terasa sekitar dua kali, namun sempat juga mengagetkan.

Paginya, saya bilang sama istri bahwa saya akan ke Padang, melihat keluarga istri dan adik saya. Istri melarang karena belum tahu bagaimana kondisi Padang. Di pagi itu pula, melalui siaran televisi tersiar kabar kondisi Padang dan Padang Pariaman yang rusak parah pascagempa. Ratusan orang tewas terperangkap reruntuhan gedung-gedung besar, ribuan korban luka-luka, dan ratusan lainnya hilang.

Dari seorang polisi saya dapat informasi bahwa jalan di sepanjang perbukitan Silaing Padang Panjang hingga Lembah Anai putus total. Longsoran terjadi di 20 titik. Tiga titik terparah lokasinya. Dua buah batu sebesar truk tronton melintang di jalan, jatuh dari puncak bukit yang tinggi. Terdengar kabar pula, seorang pengendara sepeda motor tewas terseret longsor di lokasi itu. Sebuah mobil Avanza juga dihantam longsor dan nyaris jatuh ke dalam sungai berbatu yang cukup dalam di tepi jalan perbukitan itu. Sopirnya selamat dan dilarikan warga ke rumah sakit Padang Panjang.

Kamis, 1 Oktober 2009, kembali saya berniat menerobos kawasan yang terjadi longsor itu. Namun tidak juga bisa karena kondisinya masih sangat rawan. Sepeda motor saya harus kembali balik kanan. Suasana di Padang Panjang sendiri sepi. Ratusan truk berukuran besar parkir di pinggiran jalan sejak hari pertama gempa. Kendaraan dari arah Bukittinggi yang akan menuju Padang dialihkan ke jalur Solok. Ratusan petugas kepolisian dan TNI sibuk berjaga-jaga mengamankan arus lalu lintas. Dua SPBU di Padang Panjang diserbu ribuan kendaraan, dan dalam sekejab BBM habis. Beberapa penjual BBM eceran mematok harga Rp10.000-Rp15.000 per liter.

Jalur longsor baru berhasil saya tembus pada Jumat, 2 Oktober 2009 bersama istri yang minta ikut karena ingin memastikan kondisi ibu dan kakaknya di Padang. Sepanjang jalur longsoran itu, ribuan kendaraan merangkak bak jalan bekicot. Yang membawa sepeda motor masih beruntung dapat menyelip di antara ribuan kendaraan lainnya, namun malang bagi pengendara roda empat, jalan yang macet menyebabkan kendaraan-kendaraan itu diam tak bergerak selama berjam-jam. Kondisi itu terjadi lantaran sempitnya badan jalan, banyak kendaraan yang berebutan ingin mendahului, dan minusnya petugas pengatur lalu lintas di jalan. Di dalam kendaraan-kendaraan itu, tampak sopir dan penumpangnya kepanasan.

Di lokasi itu saja saya bertahan selama hampir empat jam, belum lagi memasuki perbatasan Padang Pariaman. Jalan benar-benar macet total. Seandainya terjadi gempa susulan diiringi longsor, sudah dipastikan akan lebih banyak lagi memakan korban. Namun syukurlah selama di tengah macet itu tidak terjadi apa-apa.

Di sepanjang jalan menuju Padang itu, mulai dari kawasan Sicincin Kabupaten Padang Pariaman sudah terlihat rumah-rumah warga di kiri kanan jalan yang roboh pascagempa. Macam-macam kondisinya dan sangat memprihatinkan. Semua pemandangan itu ternyata belum seberapa jika dibandingkan suasana di kota Padang. Hampir seluruh bangunan besar di Kota Bingkuang itu luluh lantak diamuk gempa. Empat hotel besar rusak binasa dan mengubur hidup-hidup 200-an orang di dalamnya. Toko-toko berisi barang dagangan mewah, seperti mobil, sepeda motor, perabotan, barang-barang elektronik, juga mall/plaza, pasar raya, hingga Kampung Cina di kawasan Kota Tua turut rusak binasa. Benar-benar dahsyat dampak gempa itu.

Di hari itu juga saya mencari keberadaan ibu dan kakak istri serta seorang adik saya. Di rumah adik saya di kawasan Tunggul Hitam Padang saya tidak menemukan keberadaannya. Kata tetangga ia tidak apa-apa, selamat dan sempat mengungsi ke kawasan kampus Universitas Andalas di Limau Manis. Dalam kondisi itu saya baru menyadari, putusnya komunikasi lantaran listrik mati di Padang, mungkin saja batre hp drop, di samping juga rusaknya jaringan telekomunikasi hingga hilangnya sinyal.

Mendengar adik saya itu aman, saya sedikit lega dan perjalanan dilanjutkan ke rumah kakak istri saya di kawasan By Pass. Di sepanjang jalan juga terlihat rumah-rumah penduduk yang rusak parah. Di rumah kakak ipar saya itu, saya dan istri tidak menemukan mereka. Menurut informasi tetangga, mereka bersama keluarga serta ibu mertua saya mengungsi ke rumah famili di kawasan Limau Manis. Rupanya, ketika terjadi gempa, tersebar isu tsunami sehingga banyak warga Padang menyelamatkan diri ke daerah-daerah ketinggian, termasuk keluarga kakak ipar saya itu.

Mengenai isu tsunami ini, menurut seorang warga, ketika gempa terjadi, lantai rumah warga banyak yang retak dan terbelah lalu memancurkan air berwana hitam pekat. “Seperti lumpur Lapindo. Kami semua panik. Ini mungkin tanda-tanda akan tsunami. Maka kami semua mengungsi,” ujar seorang warga. Wajahnya masih menyisakan kepanikan atas dahsyatnya musibah itu.

Saya di Padang Panjang saja merasakan kuatnya goncangan gempa, konon lagi bagi mereka yang rumahnya berada dekat dari pusat gempa. Kekuatannya tentu lebih besar lagi. Itu pula yang menyebabkan banyak bangunan dan rumah roboh. Di Padang, setiap gempa terjadi selalu muncul isu tsunami. Semua orang panik. Meski sudah latihan evakuasi tsunami beberapa kali, melihat kondisi seperti itu, saya berkesimpulan Padang belum siap menghadapi bencana selanjutnya. Sebab, di kota ini jalur evakuasi masih minus dan keadaannya sempit pula. Konon ketika terjadi kepanikan banyak orang membawa kendaraan menyelamatkan diri dan meninggalkan rumah menuju daerah-daerah ketinggian. Di jalan-jalan terjadi kemacetan lantaran banyaknya kendaraan yang melintas dan saling mendahului satu sama lain.

Setelah perjalanan ke Limau Manis yang lumayan jauh dari pusat kota ditempuh, akhirnya saya dan istri bertemu dengan keluarga di sana. Alhamdulillah, semua mereka selamat dan dalam keadaan baik. Malam itu pula saya sempat masuk kota melihat evakuasi terhadap korban anak-anak peserta kursus di Lembaga Pendidikan Gama yang masih tertimbun bangunan, puluhan orang diantaranya. Malam itu Padang benar-benar gelap gulita. Bagaikan kota mati.

Saya kembali ke Padang Panjang Sabtu 3 Oktober 2009 dengan suasana yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Saya lihat, di sejumlah SPBU, sudah mulai tampak petugas mengatur antrian kendaraan yang membeli BBM. Begitu pula, kemacetan di jalanan sudah mulai lengang. Di sepanjang jalan menuju Padang Panjang, setiap 100 meter, warga berinisiatif memungut sumbangan dari pengendara yang dikoordinir oleh masing-masing Posko. Beberapa warga juga mulai membenahi rumah-rumah mereka yang porak-poranda dihoyak gempa. Sejumlah tenda bantuan organisasi kemanusiaan mulai berdiri di halaman rumah-rumah warga. Berbagai kendaraan yang mengangkut bantuan khususnya makanan dan obat-obatan terus berdatangan memasuki kota Padang dan Padang Pariaman. Meski agak terlambat lantaran gangguan jalan serta komunikasi, namun hal tersebut masih lebih baik. Masyarakat bersyukur atas semua bantuan yang datang itu.

Ketika melintasi kawasan perbukitan di Lembah Anai hingga perbatasan Padang Panjang, jalan tidak lagi macet seperti hari pertama hingga hari ketiga pascagempa. Suasana sudah hampir normal. Kendaraan sudah berjalan sesuai jalurnya. Sisa-sisa longsoran mulai dibersihkan oleh alat-alat berat yang berdatangan ke titik-titik longsor.

Ya Rabbi. Sungguh banyak hikmah dari semua ujian dan cobaan yang Engkau berikan, dan dengan mata kepala saya menyaksikan kedahsyatannya. Semoga semua ini bukan adzab bagi hamba-hamba-Mu yang masih enggan bersujud dan banyak bergelimang noda dan dosa.

Inilah pengalaman saya yang paling berkesan usai lebaran. []

Padang Panjang, 19 November 2009

Minggu, 10 Januari 2010

Sumbangan Perantau Silungkang Bangun Kampung Halaman

Oleh: Muhammad Subhan

Tujuan utama dari pendirian Persatuan Keluarga Silungkang (PKS) adalah untuk menjalin dan mempererat tali silaturahim antara sesama perantau asal Silungkang. Sebagai implementasinya, pengurus PKS Jakarta hampir setiap tahun berusaha mengadakan acara halal bihalal di setiap bulan Syawal. Sebelum adanya gedung pertemuan yang sekarang, acara halal bihalal diadakan di berbagai tempat, misalnya di Gedung Wanita di Jalan Diponegoro Jakarta pada tahun 1960, di Masjid Agung Al-Azhar Kebun Baru Jakarta pada tahun 1970, di GOR Bulungan Jakarta pada tahun 1980-an. Mulai tahun 1992, yaitu sejak berdirinya gedung pertemuan baru di Jalan Gotong Royong, Ciledug acara halal bihalal hampir setiap tahun diadakan di sana, dan selalu diramaikan dengan bazaar makanan khas dari kampuang halaman. Biasanya, warga PKS Jakarta tumpah ruah untuk menikmatinya sambil bersilaturahim dengan sesama.

Selain acara halal bihalal, sering juga diadakan acara Balai Okok yang banyak diminati warga selain untuk saling bertemu juga untuk malobuang makanan nostalgia dari kampuang. Di samping itu, pengurus PKS Jakarta juga selalu berusaha untuk hadir dalam setiap musibah yang dialami oleh warganya, misalnya dalam hal musibah kematian dan bencana lainnya.

Sumbangan untuk Kampung Halaman

Walaupun PKS adalah suatu perhimpunan bagi warga Silungkang di perantauan, namun setiap denyut kehidupan para dunsanak yang tinggal di kampung halaman PKS selalu berusaha hadir, baik dalam suka maupun duka. Sudah banyak bantuan-bantuan yang diberikan PKS kepada kampung halaman baik berupa bantuan pisik maupun dalam bentuk non pisik, antara lain:

1. Renovasi Gedung SDI

Pembangunan awal gedung sekolah (Sekolah Dagang Islam-SDI). Pada periode kepengurusan PKS Jakarta diketuai oleh H. Ajar Ruslan, yaitu pada tahun 1980 diselenggarakan acara reuni alumni SDI bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR) Bulungan, Jakarta. Reuni ini dihadiri oleh Pengurus PKS dan perantau yang tergabung dalam IK SDI. Dalam acara reuni ini dicapai kesepakatan untuk merenovasi gedung SDI karena dinilai kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan kurang layak untuk sarana pendidikan. Dana pertama untuk biaya renovasi tersebut berasal dari kas PKS Jakarta sebesar Rp8.240.000 dan kemudian ditambah dengan zakat perantau yang diperuntukkan bagi biaya renovasi gedung SDI ini sebesar Rp18.500.000. Pengumpulan dana selanjutnya untuk seluruh biaya renovasi yang mencakup penambahan dari 5 lokal menjadi 14 lokal kelas dimotori oleh H. Agusman Saleh. Akhirnya pekerjaan renovasi selesai pada tahun 1984. Peresmian pemakaian SDI setelah direnovasi dilakukan oleh Ir. H. Azwar Anas yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat.

2. Puskesmas

Dipertengahan tahun 1980, dr. Nurlaili A. Fatah St. Malano, salah seorang putri dari A. Fatah St. Malano menghubungi Syafar Habib, S.H yang waktu itu menjabat sebagai ketua PKS Jakarta. Dr. Nurlaili menginformasikan bahwa pemerintah sedang mendorong partisipasi masyarakat untuk membangun Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), sedangkan seluruh isi dan kelengkapan yang dibutuhkan oleh Puskesmas akan disediakan oleh pemerintah.

Informasi yang disampaikan oleh dr. Nurlaili tersebut kemudian dibahas dalam suatu pertemuan dikediaman H. Tommy H. Hamid yang dihadiri oleh beberapa orang tokoh masyarakat Silungkang di Jakarta. Dari pertemuan tersebut terkumpul sumbangan dari yang hadir sekitar Rp8 juta. Belakangan ditambah sumbangan dari perantau di Solo dan Surabaya hingga menjadi Rp10 juta.

Setelah dana terkumpul, langkah selanjutnya mencari lahan yang cukup untuk pembangunan Puskesmas tersebut. Dalam rangka itu, H. Munir Taher dan Syafar Habib pulang ke Silungkang. Di Silungkang mereka bertemu dengan Muluk Djalaludin Ayahda yang punya tanah dengan luas yang cukup besar di Lubuak Kubang, Silungkang. Beliau menawarkan tanah tersebut untuk pembangunan Puskesmas dengan catatan bahwa beliau dibuatkan rumah tinggal berdampingan dengan Puskesmas. Akhirnya tawaran ini disepakati dan pembangunan Puskesmas serta rumah tinggal untuk Muluk Djalaludin Ayahda pun mulai dibangun pada tahun 1981. Peresmian pemakaian Puskesmas ini dilaksanakan bersamaan dengan peresmian pemakain SDI setelah direnovasi, yaitu pada tahun 1984.

3. Mesjid Raya Silungkang

Pada tahun 1994, berkumpul beberapa orang tokoh masyarakat Silungkang Jakarta pada acara batogak rumah H. Nazir Achmad di Lubuak Kubang Silungkang yang waktunya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Pembicaraan-pembicaraan akhirnya terfokus kepada masalah Masjid Raya Silungkang yang dinilai kondisinya perlu diperbaiki. Pada waktu itu secara spontan H. Firdaus, BA menyatakan bersedia menyumbang Rp100 juta dan Rp50 juta atas nama anak-anak beliau. Demikian juga dengan H. Djafar Turut, beliau juga langsung menyumbang sebesar Rp10 juta. Setelah rencana renovasi masjid ini siap, maka selain dari penyumbang di atas juga banyak masyarakat perantau yang menyumbang dalam jumlah yang bervariasi. Pekerjaan renovasi dimulai tahun 1995 dan selesai tahun 1996.

4. Tanah Sungai Kombuik

Pada tahun 1977, dalam suatu obrolan H. Harmon minta kepada H. Djamaris, Bupati Kabupaten Sawahlunto Sijunjung ketika itu yang sudah beliau kenal dengan baik untuk menghambat laju transmigrasi yang berasal dari Pulau Jawa masuk ke wilayah Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Caranya menurut H. Harmon, dengan merintis transmigrasi lokal. Jika disediakan lahan yang cukup, orang Silungkang bersedia untuk bertransmigrasi.

Sebagai tindak lanjut dari obrolan tersebut, atas permintaan Bupati Djamaris masyarakat Pulau Punjung akhirnya memberikan tanah seluas 100 hektare kepada orang Silungkang dengan syarat orang Silungkang harus membeli tanah seluas lebih kurang 1 hektare untuk sarana jalan menuju lokasi yang disediakan tersebut dengan harga pada waktu itu Rp2,5 juta. Untuk pembelian tanah seluas 1 hektare, ditawarkanlah kupon senilai Rp10 ribu kepada warga PKS Jakarta dengan imbalan dapat berusaha nantinya dilahan yang diberikan oleh masyarakat Pulau Punjung tersebut.

Sayangnya, setelah beberapa kali pergantian pengurus PKS Jakarta sampai sekarang pengurusan surat-surat kepemilikan tanah tersebut belum tuntas. Bukti yang ada pada PKS Jakarta hanya berupa dokumen serah terima yang ditanda-tangani oleh tujuh orang niniak mamak dari Pulau Punjung yang kabarnya sekarang tinggal satu orang yang masih hidup. Menurut keterangan pihak agraria, ada tiga hal yang berhubungan dengan kepemilikan tanah agar tidak diserobot orang, yaitu: 1) Surat yang sah, sertifikat atau surat girik, 2) ditempati atau digarap, dan 3) dipagar. Nah ketiga hal ini rupanya yang belum terlaksana.

5. Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang

Dengan tujuan untuk “mambangkik batang tarandam”, pada tanggal tanggal 12 Desember 2002 diselenggarakan acara Malewakan Pangulu Pucuak Nan Balimo dan Penobatan Irwan Husein sebagai Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang. Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang ini dilakukan oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung H.M.S Taufiq Thaib, S.H Gelar Tuanku Mudo Mahkoto Alam sebagai pewaris kerajaan Pagaruyung.

Dalam sambutannya, H.M.S Taufiq Thaib, S.H menjelaskan bahwa Gajah Tongga Koto Piliang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang dan sebagai pucuk adat Kanagarian Silungkang dan Padang Sibusuak. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Konon, di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang ini pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Bukit Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan menimbulkan bau yang sangat busuk, maka tempat itu kemudian dikenal dengan nama Padang Sibusuk.

Acara Malewakan Pangulu Pucuak Nan Balimo beserta seluruh perangkat adat dan Penobatan Irwan Husein sebagai Gajah Tongga Koto Piliang juga dihadiri oleh Gubernur Sumbar, Zainal Bakar dan Walikota Sawahlunto Drs. Soebari Sukardi serta ribuan warga Silungkang dan perantauan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi anak nagari Silungkang untuk mendalami dan memahami dasar-dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daya manusia anak nagari. Penyelenggaraan acara ini adalah juga wujud perhatian dan sumbangan PKS terhadap kampung halaman sendiri. []

[Sumber bahan tulisan dari Pengurus Persatuan Keluarga Silungkang Jakarta untuk Majalah Rantau Pemprov Sumbar, 2010]

Kumpulan Cerita Pendek Forum Lingkar Pena


Judul : Luka Adalah Cinta
Penulis : M. Irfan Hidayatullah, Dkk.
Penerbit : Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : 104 halaman
ISBN : 978-979-1397-57-5

“Dialah tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah...”

M. Irfan Hidayatullah menulis alur mundur dalam cerpennya Gadis yang Tergeletak di Trotoar yang dikutip pada kalimat pembuka di atas. Cerpen ini bercerita tentang dunia seorang gadis remaja berusia 17 tahun, yang hari-harinya penuh dengan keceriaan. Kedua orang tuanya pekerja sukses yang terlalu sibuk mengurusi kerjanya. Doktrin kepada anaknya, Bintang, agar selalu berprestasi di sekolah, aktif berorganisasi, cepat pulang ke rumah, dan rajin belajar. Namun siapa sangka, semua doktrin itu menjadikan si anak jenuh dan merasa terkungkung dengan rutinitas kehidupannya. “Namun, pada benak gadis itu berjejal cita-cita sederhana dari sebuah kecemburuan. Ia ingin seperti anak-anak tetangganya yang tertawa lepas...” (hal. 7)

Ending cerpen ini tragis. “Siang itu ia hanya menjerit sedikit. Ia tidak sempat berbuat apa. Ia dibekap kemudian terlelap. Di lorong parkir sebuah mall kehidupannya terhenti, padahal beberapa jam sebelumnya ia adalah gadis ceria yang mulai menemukan teman atau bahkan sahabat. Mereka mencari-cari cuaca di mall…” (hal. 8)

Cerpen Gadis yang Tergeletak di Trotoar adalah salah satu cerpen sederhana yang memiliki latar cerita menarik. Alur maju-mundur yang ditulis pengarang memberikan warna artistik dalam penulisan cerpen itu. Sejak awal membacanya sudah mengundang tanda tanya dan penasaran pembaca untuk terus membacanya hingga akhir. Sayang, cerpen ini terlalu pendek.

Dalam buku ini terdapat 11 cerpen lainnya, selain yang ditulis M. Irfan Hidayatullah. Cerpenis-cerpenis itu adalah, Sakti Wibowo (Lutut), Afifah Afra (Menanti Cinta Sejati), Rahmadiyanti (Kepak Maut Kelelawar Hitam), Fahri Asiza (Ini Bukan Gerimis Terakhir), Gola Gong (Backpaker Surprise), Muthmainnah (Refund yang No Fund), Ifa Avianty (Keabadian), Rianna Wati (Aroma Masakan Tetangga), Aries Adenata (Wanita dan Air Surga), Deasylawati P (Pengangguran), dan Denny Prabowo (Dilarang Menjala Ikan di Hari Sabtu).

Cerpen lainnya yang cukup menarik berjudul “Lutut” yang ditulis Sakti Wibowo. Cerpen ini bercerita tentang seorang penjudi bernama Dirjo yang melihat keanehan pada lututnya. Lututnya membengkok ke belakang, sehingga susah berjalan. Ending dialognya sebagai berikut;

“ Ada apa dengan lututmu?”

“Tempurungnya berpindah ke belakang.”

“Oh, Tuhan! Lantas bagaimana kau rukuk dan sujud kepada Tuhan jika tempurungmu berada di belakang?”

“Aku tak pernah rukuk dan sujud.”

“Kalau begitu, bagaimana kau akan bertemu Tuhan?”

“Aku…”

“Kalau kau tak mau rukuk dan sujud, untuk apa kau menuntut takdir lututmu sekarang?”

“…!!!” (Cerpen Lutut, Sakti Wibowo, hal. 16)

Secara keseluruhan ke-12 cerpen yang dimuat dalam buku ini sangat menarik. Temanya beragam. Alur ceritanya pun dikemas secara sederhana namun memiliki kedalaman makna. Tak salah buku ini menjadi bahan bacaan keluarga anda. []

Resensiator: Muhammad Subhan, wartawan dan peminat buku, berdomisili di kota Padang Panjang, Sumatera Barat

Sabtu, 09 Januari 2010

Koperasi PKL Hindari Pedagang dari Jeratan Rentenir

Oleh: Muhammad Subhan

Zurni, 50 tahun, merasa beruntung mendapat pembinaan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bukittinggi. Kalaulah tidak ia tak akan pernah kenal dengan namanya koperasi. Dengan berkoperasi itu pula, lambat laun usahanya semakin berkembang. Omset bertambah, ekonomi keluarga pun terbantu.

Perempuan warga Birugo Bukittinggi ini adalah satu dari puluhan pedagang pakaian sekolah di Jalan Kumango Belakang Pasar Atas Bukittinggi. Ia berdagang di lokasi itu telah cukup lama, sejak tahun 1986. Kedai kecil pakaiannya ia berikan merek “Zurni Konveksi”.

Sebelum menjadi anggota koperasi PKL bisa dibilang pendapatannya senin kemis. Ia pun sering berhubungan dengan rentenir atau tengkulak yang ketika itu marak di Bukittinggi. Karena bunga pinjaman pada tengkulak tinggi, tak jarang pendapatannya terkuras hanya untuk mencicil bunga yang ia pinjam pada tengkulak. Ekonomi keluarganya pun makin morat marit.

“Secara tidak sadar para tengkulak itu bukannya membantu, melainkan malah mencekik pedagang, dan saya sangat merasakan itu,” ujar Zurni yang mempunyai tiga orang anak yang dua diantaranya masih duduk di bangku sekolah.

Zurni tertarik bergabung di koperasi PKL setelah ia mendapat penyuluhan dari petugas Perindagkop Bukittinggi tentang pentingnya berkoperasi bagi para pedagang. Rekan-rekan seprofesinya pun tertarik pula karena dengan berkoperasi mereka bisa mendapatkan bantuan modal usaha. Maka mulai akhir 2008 lalu Zurni resmi menjadi anggota Koperasi “Restu P2KL” (Persatuan Pedagang Kaki Lima) Pasar Atas Bukittinggi.

“Sejak menjadi anggota koperasi ini saya menyatakan putus hubungan dengan rentenir atau pun tengkulak,” ujar Zurni sembari tersenyum sumringah.

Jika sebelum menjadi anggota koperasi penghasilan Zurni hanya antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, kini penghasilannya bisa dibilang meningkat, menjadi rata-rata Rp200 ribu sehari. Itu juga lantaran ia tak lagi mencicil bunga pinjaman pada rentenir.

Besarnya manfaat berkoperasi itu juga dirasakan Nasrizal, 48 tahun, pedagang sandal dan baju merek jam gadang di Jalan Muka Pasar Atas No 01 Bukittinggi. Sejak mendapat pembinaan dan menjadi anggota koperasi usahanya semakin berkembang. Bahkan ia mengaku bisa berpenghasilan hingga Rp2.250.000 per minggu.

“Saya mendapat bantuan pinjaman modal dari Koperasi “Restu PKL” dan saya gunakan untuk menambah kebutuhan barang usaha,” ujar lelaki yang menamakan merek kedainya “Dara Minang Sandal”.

Nasrizal mulai bergabung menjadi koperasi “Restu P2KL” sejak akhir 2008 bersama PKL lainnya. Di lokasi yang sama, berdagang pula belasan pedagang sepatu dan pakaian merek jam gadang yang merupakan salah satu trade mark Bukittinggi. Banyaknya pengunjung yang datang ke Bukittinggi tentu saja berdampak baik bagi usaha mereka.

“Saya bukan saja bisa mendapatkan pinjaman modal usaha, namun juga terjalin rasa kebersamaan antara pengurus dan anggota koperasi serta antar sesama PKL,” ujar Nasrizal yang mulai berusaha sejak tahun 1998 silam.

Baik Zurni maupun Nasrizal adalah PKL yang beruntung dapat bergabung menjadi anggota Koperasi Restu P2KL Pasar Atas Bukittinggi. Koperasi ini mulai berdiri sejak Juni 2008 dan merupakan satu-satunya koperasi PKL di Bukittinggi yang telah berbadan hukum dengan nomor 29/BH/III-10/III.2009 tanggal 19 Maret 2009.

Koperasi Restu P2KL saat ini beranggotakan 123 orang dengan berbagai jenis usaha anggota seperti cenderamata, ikat pinggang, dompet, assesories HP, jam, pakaian, sandal dan lainnya. Koperasi ini diketuai H. Armen, dengan wakil ketua Yuza, sekretaris Noviandri dan bendahara Salman. Jam kantor buka pada hari Minggu dan Senin setiap minggunya.

”Simpanan dan angsuran pinjaman dijemput ke tempat anggota berdagang dan pemberian pinjaman diantar ke tempat anggota berdagang,” ujar Ketua P2KL H. Armen yang juga mengatakan jumlah simpanan pokok anggota Rp100 ribu per orang dan simpanan wajib Rp100 ribu per orang per minggu.

Ditambahkannya, dari asset simpanan pokok dan simpanan wajib anggota itu, Koperasi P2KL setiap minggunya sudah bisa memberikan pinjaman kepada 4 sampai 5 orang anggota dengan jumlah pinjaman maksimal Rp5 juta. Dengan adanya koperasi ini manfaat yang dirasakan anggota adalah, tersedianya sumber modal yang mudah dan murah sehingga PKL dapat mengembangkan usaha mereka ke arah lebih baik.

Menurut Kabid Koperasi pada Dinas Perindagkop Bukittinggi, Yetti Murni, S.E., pemberdayaan usaha mikro khususnya PKL di Bukittinggi telah dilakukan sejak tahun 2007 dengan berbagai kegiatan pembinaan bagi PKL dengan menggunakan pembiayaan yang bersumber dari dana APBD Kota Bukittinggi dan dana APBD Propinsi Sumatera Barat.

Sampai tahun 2008 telah dibina sebanyak 200 orang PKL di Kota Bukittinggi yaitu PKL yang berdagang di lokasi Pasar Atas (162 orang), TMSBK (24 orang) dan Jalan Perintis Kemerdekaan (14 orang). Pembinaan diarahkan kepada penumbuhan kehidupan berkoperasi di kalangan PKL, peningkatan kualitas SDM, dan peningkatan akses permodalan bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan PKM Propinsi Sumatera Barat serta perbankan.

Beberapa kegiatan pembinaan yang telah dilakukan, yaitu registrasi PKL, pemberian ID Card kepada PKL, peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan dengan pembiayaan dari APBD Kota Bukittinggi, diantaranya kewirausahaan, menejemen usaha kecil (MUK), menejemen keuangan, dinamika kelompok, penumbuhan kehidupan berkoperasi, bimbingan dan konsultasi, pengembangan koperasi PKL, perkuatan modal melalui koperasi dengan pemanfaatan dana APBD Sumbar, promosi barang dagangan PKL melalui pameran dan pengisian toko di Banto Trade Centre (BTC) serta fasilitasi kepada sumber modal terutama Bank Nagari Cabang Bukittinggi melalui penyaluran Kredit Peduli Usaha Mikro (KPUM).
Hasil dari kegiatan pembinaan PKL tersebut antara lain, tumbuhnya empat buah koperasi PKL yang merupakan wadah berorganisasi dan sarana pemenuhan kebutuhan modal bagi PKL, yaitu KSU Restu P2KL di Pasar Atas Bagian Barat (sudah berbadan hukum), Koperasi Badunsanak di Pasar Atas Bagian Timur dan Belakang Pasar, Koperasi Kebun Bunga di TMSBK, dan KSU Mitra Mulia di Jalan Perintis Kemerdekaan.

”Dengan adanya koperasi ini tentu saja makin tersedianya sumber modal yang lebih memadai dan menghindarkan PKL dari jeratan rentenir yang selama ini merupakan solusi bagi mereka dalam pemenuhan kebutuhan modal,“ ujar Yetti Murni.

Disamping itu, dengan adanya koperasi ini pula terjadi perobahan pola pikir dan pola kerja PKL terutama dalam pelayanan konsumen. Juga tersalurkannya dana perkuatan PKL yang bersumber dari dana APBD Propinsi Sumbar sebesar Rp300 ribu untuk masing-masing PKL serta tersalurkannya dana KPUM Bank Nagari Cabang Bukittinggi kepada PKL yang berdagang di TMSBK sebesar Rp129 juta (2008).

Sementara di tahun 2009 dilakukan pembinaan PKL dengan pola yang sama, yaitu sebanyak 77 orang diberikan dana perkuatan PKL masing-masing sebesar Rp500 ribu melalui dana APBD Propinsi Sumatera Barat, serta peningkatan kualitas SDM 125 orang PKL dengan menggunakan dana APBD Kota Bukittinggi untuk kegiatan kewirausahaan, menejemen usaha kecil (MUK), menejemen keuangan dan dinamika kelompok. []

[Tulisan ini sebagai bahan dalam buku Kredit Mikro Nagari (KMN) yang diterbitkan Bappeda Sumatera Barat, 2009]

Kakao, Bangkitkan Ekonomi Masyarakat


Oleh: Muhammad Subhan

Kakao (coklat) merupakan salah satu komoditi utama nasional dengan sebaran sentra penanaman yang cukup banyak dan tumbuh dengan baik di Indonesia. Kakao juga telah lama menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan Indonesia yang memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menghasilkan devisa negara.

Seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia, maka permintaan pasar untuk komoditi kakao juga akan meningkat. Ini merupakan peluang bagi Indonesia, khususnya Sumatera Barat, untuk terus meningkatkan produksi kakao. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kakao adalah dengan memperluas lahan penanaman. Hal ini masih mungkin dilakukan karena masih banyak lahan yang dapat dimanfaatkan untuk usaha perkebunan kakao di Sumbar.

Definisi sentra produksi nasional tersebut adalah kabupaten/kota yang memiliki luas lahan minimal 1.000 ha, sedangkan kabupaten/kota yang luas lahannya lebih kecil dari yang ditetapkan merupakan wilayah eksiting terbesar luasannya di wilayah provinsi tersebut. Sedangkan wilayah potensi yang dimaksud adalah bagian dari wilayah potensi pengembangan di tiap wilayah kabupaten/kota yang belum dikembangkan atau merupakan sisa lahan yang masih dapat dikembangkan untuk budidaya kakao.

Sentra pengembangan kakao di Provinsi Sumatera Barat adalah di Kabupaten Pasaman, Agam, Pasaman Barat, dan Padang Pariaman. Selain itu kakao juga terdapat di Kabupaten Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Sijunjung, Solok, Tanah Datar, kota Sawahlunto, dan kabupaten lainnya. Alasan Sumbar tertarik komodoti kakao lantaran luas lahan di daerah ini semakin terbatas, sementara kakao dapat ditanam di lahan pekarangan dan dapat ditanam di lahan kelapa. Umur panen kakao juga terbilang pendek, sekitar 2-2,5 tahun.

Sejak dicanangkan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada Maret 2006 silam, Sumbar telah bertekad untuk menjadi sentra kakao di wilayah Indonesia Bagian Barat. Target maksimal luas lahan kakao di Sumbar akan tercapai pada tahun 2010 mendatang. Maka, agar tujuan dari target itu tercapai upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Dinas Perkebunan adalah dengan pemenuhan target luas lahan.

Berdasarkan data di Dinas Perkebunan Sumbar, target 2008 lalu sudah tertanam kakao seluas 65 ribu hektar. Kemudian di tahun 2009 ditargetkan lagi untuk penanaman seluas 19 ribu hektar dan sisanya sekitar 20 ribu hektar lagi akan dituntaskan pada tahun 2010. Selain melalui perluasan lahan, upaya lainnya adalah dengan penyediaan bibit kakao. Di tahun 2009, telah disediakan bantuan sebanyak 1,5 juta bibit untuk mendukung penanaman kakao seluas 19 ribu hektar.

Di samping itu, yang lebih menggembirakan adalah produksi kakao Sumbar sudah sekitar 32 ribu ton per tahun. Harga di pasaran per kilonya mencapai Rp24 ribu. Namun demikian sejumlah permasalahan yang sering terjadi masih ditemui di lapangan, seperti pemeliharaan tanaman yang masih kurang, baik pemupukan, pemangkasan, dan pembasmian hama. Begitupun masih ditemui bibit yang kurang jelas mutunya. Mutu bibit yang kurang bagus itu lantaran petani cenderung mengambil buah produksi dijadikan bibit kembali.

Dalam menghadapi permasalahan ini, Dinas Perkebunan memberikan solusi diantaranya penyediaan bibit unggul. Di tahun 2007 misalnya, jumlah bibit yang disalurkan kepada petani sebanyak 824.718 batang. Jumlah penyaluran bibit ini semakin meningkat di tahun 2008 yaitu 1.149.612 batang.

Disamping bantuan bibit, juga dilakukan penangkaran bibit kakao yang dilaksanakan oleh kelompok tani dengan pola pemberdayaan kelompok yang dilaksanakan pada Kabupaten/Kota, di antaranya di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Limapuluh Kota, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Dharmasraya, Agam dan Kota Padang. Jumlah benih yang ditangkarkan pada tahun 2007 sebanyak 1.150.000 butir, sedangkan di tahun 2008 sebanyak 1.600.000 butir, dengan tambahan daerah tangkaran, Kabupaten Solok, Kota Payakumbuh dan Kota Solok.

Keseriusan Pemerintah Propinsi Sumbar terhadap sektor unggulan perkebunan ini terlihat, sejak tahun 2006 melalui APBD Propinsi Sumbar telah dianggarkan dana penyediaan benih kakao sebanyak 440.000 butir dengan anggaran Rp300 juta. Di tahun 2007 juga dianggarkan untuk kegiatan pengembangan kakao, pelatihan tugas tentang budidaya dan pengolahan kakao dengan anggaran Rp3.233.195.950, dengan jumlah benih sebanyak 2.400.000 butir. Di tahun 2008 juga dianggarkan pengembangan tanaman kakao dengan bibit sebanyak 770.000 bibit dengan anggaran Rp2.593.000.000. Dari semua kegiatan di tahun 2007, 2008, 2009, baik berupa pelatihan, penyediaan bibit/benih, pembudidayaan, pemeliharaan, promosi produk hingga revitalisasi kelembagaan petani kakao telah menelan anggaran sebesar Rp10.680.372.700.

Benarkah tanaman kakao bisa meningkatkan ekonomi masyarakat di Sumatera Barat?

Pertanyaan itu pantas dijawab Romer M, 27 tahun, warga Jorong Pasa Dama, Nagari Parit Malintang, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Guru honor di SMP Negeri 2 Enam Lingkung ini, sejak 2006 lalu telah bertani kakao dan sudah beberapa kali memetik hasilnya mengingat usia panen antara 2-2,5 tahun.

Ketika tanaman kakao dicanangkan Wakil Presiden 2006 silam, Romer dipercaya masyarakatnya sebagai ketua kelompok petani kakao di daerahnya. Kelompok pimpinannya diberi nama “Bukik Aneh”. Tak jelas apa alasan memberikan nama itu. Namun yang pasti melalui kelompoknya pula, masyarakat mendapat bantuan 50 ribu bibit dari Dinas Perkebunan Sumbar. Bantuan itu terus berlanjut. Di tahun 2007 kembali kelompoknya mendapat tambahan 100 ribu bibit dan 2008 sebanyak 40 ribu bibit. Dari jumlah itu dibagi kepada masyarakat dengan jumlah variatif, antara 300 hingga 700 batang. Romer sendiri di lahannya sekarang memiliki 600 batang kakao.

Selama ini, masyarakat di Parit Malintang mayoritas bertani sawah dan palawija. Melihat prospek tanaman kakao yang cukup menjanjikan sebagian masyarakat mulai beralih ke tanaman kakao. Tentu saja hal itu berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Di kebun kakaonya yang kurang dari setengah hektar, Romer memperlihatkan batang-batang kakao yang ditumbuhi buahnya yang lebat meski belum matang seluruhnya. ”Coba lihat itu! Berapa rata-rata buah kakao dalam satu pohon? Kalau saya hitung, di sini bisa mencapai 300-400 buah per pohon,” katanya sembari menunjukkan satu batang pohon terdekat di pinggir jalan.

Pohon kakao berbuah merah hati yang dimaksud Romer itu memang benar-benar lebat. Cukup terawat. Dia pun mulai menjelaskan apa rahasia yang dilakukan para petani kakao di Parit Malintang dalam membudidayakan tanaman itu. Dari batang-batang kakao, tampak banyak semut hitam. Mengganggukah hewan itu?

“Ini rahasianya. Semut hitam ini justru menangkal serangan hama dan penyakit. Dan, yang penting tak menggugurkan bunga. Berbeda kalau pakai pestisida. Waktu nyemprot malah banyak bunga gugur,” ujarnya.

Namun demikian, hama yang sulit diberantas adalah hama tupai. Bahkan sering diburu dengan bedil. Salah satu cara menantisipasinya adalah dengan memperketat pengawasan dan pemeliharaan tanaman.

Menurut Romer, rata-rata petani kakao di Parit Malintang bisa mengantongi pendapatan antara Rp750 ribu hingga Rp2 juta per bulannya. Itu juga tergantung dari luas lahan dan jumlah pohon kakao yang ditanam. Semakin banyak pohonnya tentu semakin banyak pula hasil buahnya yang bisa diproduksi.

“Harga permentasi kakao di pasaran Rp22 ribu/kg dan yang tidak permentasi Rp18 ribu/kg,” ujarnya.

Dia mengaku merasa terbantu dengan program bantuan benih dan bibit kakao dari Dinas Perkebunan. Di samping itu, melalui kantor wali nagari petani kakao juga mendapatkan penyuluhan dari tenaga lapangan terkait menanam kakao yang baik dan benar serta menguntungkan.

Untuk meningkatkan kesejahteraan kelompoknya, Romer dan petani kakao di daerahnya membentuk wadah koperasi. Saat ini anggota koperasinya berjumlah 20 orang. Anggota dikenakan dana simpanan wajib Rp25 ribu dan simpanan pokok Rp25 ribu. Koperasinya itu telah berdiri sejak tahun 2007.

“Koperasi ini juga untuk mengantisipasi para tengkulak yang sering memperdaya petani dengan cara membeli hasil taninya dengan harga murah,” ujar Romer.

Romer tertarik bertanam kakao lantaran perawatannya yang murah dan tidak repot. Di samping itu setelah ia mengikuti penyuluhan kakao di nagari, ia merasa jatuh hati untuk lebih serius membudidayakan kakao. Dia mengatakan kakao diekspor ke banyak negara, waktu panennya juga sangat singkat sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.

Dari bekal pengetahuan tersebut, kemudian dia mencoba mempraktikkan di kebun miliknya dengan bibit bantuan Dinas Perkebunan Sumbar. Setelah menunggu 3 tahun ia pun menuai hasil yang cukup memuaskan.

Petani kakao lainnya yang juga mendulang hasil menggembirakan dari tanaman itu adalah Santi, 35 tahun, anggota kelompok binaan Romer dan kawan-kawannya. Wanita ini mulanya hanya bertani palawija, namun ia mengaku tertarik bertanam kakao setelah mendapat bantuan bibit sebanyak 500 batang.

“Lahan saya tidak luas, tapi jadilah untuk membudidayakan kakao karena masyarakat di sini umumnya bertanam kakao,” ujar wanita dua anak ini.

Dengan bertanam kakao itu, sebulannya ia bisa berpenghasilan minimal Rp1 juta. Tentu saja hal itu sangat membantu ekonomi keluarganya dan suaminya yang juga seorang petani.

Bagi masyarakat Parit Malintang, ujar Santi, sumbangsih dan perhatian Pemerintah Propinsi Sumbar memberikan pengetahuan dalam bertanam kakao serta bantuan bibit/benih, menjadikan nagari yang tadinya miskin menjadi maju. Kini, Parit Malintang menjadi sorotan banyak orang lantaran nagari ini tempat pencanangan sentra kakao oleh wapres sementara masyarakatnya pun telah menanam kakao sebelumnya. Dan lihatlah di sana, hampir tidak ada masyarakat yang tidak bertanam kakao meski di halaman rumahnya sekalipun. []

[Tulisan ini sebagai bahan dalam Buku Kredit Mikro Nagari (KMN) yang diterbitkan Bappeda Sumatera Barat, 2009]

Tentang Romusha

Muhammad Subhan

kegetiran hidup anak bangsa
yang dipaksa dan disiksa
jadi romusha di jaman penjajah
ditendang
dipukul
dihantam popor senjata
menggoreskan luka dan duka
pada lembaran kelam sejarah bangsa

cerita itu
aku baca dari buku yang telah berdebu

Padang Panjang, 2009

Puisi Pendek

Muhammad Subhan

Jika kata bisa disampaikan satu baris
kenapa harus menulis dua baris
Itu sangat merepotkan!

Padang Panjang, 2009

Surat Buat Tuan Presiden

Muhammad Subhan

Tuan Presiden, anak itu mengirim surat ini kepadamu
seorang pemuda miskin di Padang Panjang
sebuah kota kecil di Ranah Minang.

Tuan Presiden, jangan marah jika surat ini engkau terima
anggap saja ini pengganti tubuhnya
yang tak punya ongkos datang ke istana
menjabat tangan Tuan yang mulia.

Tuan Presiden, dia cerita kepadaku untukmu
sekolahnya hanya sampai SMA saja
ia ingin kuliah tapi tak punya biaya
pupuslah harapan jadi sarjana.

Tuan Presiden, dia mengenalmu tapi engkau tak kenal dia
tentu saja, sebab pemilu Pilpres lalu
nama engkau yang dia coblos di kertas suara
dia tahu dari wajahmu ada kharisma
yang punya wibawa dan tanggung jawab
membangun bangsa dan negeri ini.

Tuan Presiden, dia mengeluhkan padamu
kenapa biaya pendidikan masih juga tinggi
dia memang tak sarjana, tapi dia punya tiga orang adik
yang tak lagi berbapak karena telah tiada
sebagai kakak tertua dia ingin adiknya jadi sarjana
agar kelak bisa mengabdi untuk bangsa dan negara.

Tuan Presiden, susah ya jadi orang susah
makan susah sekolah juga susah
pandangan orang sebelah mata saja.

Tuan Presiden, mungkinkah ada sekolah gratis di negeri ini?
iklan di tivi agaknya cuma slogan
untuk menyenang-nyenangkan hati orang susah saja
uang masuk mungkin gratis, tapi buku, sepatu, baju, uang ekstrakurikuler, uang ini-itu tetap juga menyusahkan
ah, agaknya mustahil jika ada sekolah yang benar-benar
gratis di negeri ini.

Tuan Presiden, katanya dia ingin pula kelak jadi presiden
seperti tuanlah agaknya
gagah dan berwibawa
tapi dia ingin jadi presiden untuk orang susah saja
kunkernya tidak ke luar negeri, tapi ke desa-desa
dia ingin bagi-bagi uang untuk anak-anak miskin
yang kurang prestasi tapi mau sekolah
agar mereka tak ikut-ikutan jadi dukun ponari
yang menjual khasiat batu
yang katanya menyembuhkan segala penyakit

Dan, juga untuk santri yang rajin mengaji
akan dia kirim ke arab saudi
agar setelah sukses mereka nanti
tak sungkan membangun negeri.

Tuan Presiden, negara kita tinggi angka kriminalnya
di penjara, pelakunya orang miskin semua
dia tanya kenapa mereka mencuri
mereka bilang terpaksa karena tak punya uang beli nasi
mendengar itu sedih hati pemuda itu
teringatlah dia kepada diri sendiri
andai dia khilaf, akankah pula dia berbuat seperti mereka.

Tuan Presiden, harga BBM memang telah turun
tapi harga bahan pokok masih melambung tinggi
Tuan punya menteri ekonomi, suruhlah ia menstabilkan harga
agar terjangkau rakyat jelata.

Tuan Presiden, panjang sudah surat yang dititipkannya ini
janganlah tuan marah karena tak ada niat dia
menyinggung perasaan tuan yang duduk di tahta istana
dia yakin tuan seorang arif dan bijaksana
tak ingin melihat rakyat negeri ini menderita.

Tuan Presiden, andai suatu saat tuan dan dia bersua
dia akan kabarkan lagi tentang cerita lainnya
tentang nasib orang-orang miskin yang tak terlihat dari jendela istana
namun mereka ada di mana-mana.

Tuan Presiden, doanya untuk Tuan dan ibu negara
doa keselamatan dan doa panjang umur
semoga Tuhan memudahkan tugas-tugas Tuan
menjadi pelayan rakyat dan abdi umat.

Dari sudut Kota Padang Panjang Ranah Minang
nama tuan ia eja dan kenang

Wassalam.

Padang Panjang, 2009

Bertanya Aku kepada Teroris

Muhammad Subhan

kepada teroris aku bertanya
mengapa teror tak sudah-sudah kau cipta
lalu begitu mudah kau katakan jihad
tapi jihadmu membunuh orang-orang tak berdosa
bukankah jihad sebenar jihad
adalah jihad di medan perang?

kepada teroris aku bertanya
mengapa kau ledakkan dirimu sendiri
yakinkah engkau bahwa sorga telah menantimu
sementara Tuhan melarang manusia menganiaya dirinya sendiri
di mana logika sorga yang akan kau dapat?
atau jangan-jangan nerakalah tempat akhirmu nanti.

kepada teroris aku bertanya
andai saja orang-orang yang kau bunuh adalah keluargamu sendiri
bagaimana perasaanmu?
atau memang kau sudah tak lagi punya perasaan
sebab jiwamu telah dirasuki nafsu setan.

oh, kawan sadarlah
jalan yang kau tempuh salah!

Padang Panjang, 2009

Mengapa

Muhammad Subhan

Tuhan telah menciptakan negeri yang makmur
Lalu mengapa jadi TKI ke negeri orang lain

Tuhan telah menyediakan rezeki buat kita
Lalu mengapa mengambilnya sedikit saja

Tuhan telah menghalalkan istri empat pun bisa
Lalu mengapa menikahi seorang saja

Tuhan telah menunjukkan jalan yang benar
Lalu mengapa memilih jalan yang salah

Tuhan telah mengajarkan agama
Lalu mengapa memilih menjadi ateis

Ketika Tuhan menimpakan bencana
Lalu mengapa menyalahkan Dia?

Padang Panjang, 2009

Puisi Hari Ini

Muhammad Subhan

Puisi hari ini
hanya satu judul saja
yang bisa kutulis
selebihnya cuma kata-kata
usang!

Padang Panjang, 2009

Kemenangan Itu

Muhammad Subhan

Jika Tuhan berkehendak
Kemenangan itu tetap berpihak
Kepada yang haq

Lalu
Untuk apa menghujat

Lalu
Untuk apa mencaci maki
Menerorkan dendam dan benci

Bercerminlah!

Padang Panjang, 2009

Menanti

Muhammad Subhan

Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Empat jam lebih

Aku menantimu
Di halte ini

Hingga bosan membawaku pergi

Padang Panjang, 2009

Kabut Asap

Muhammad Subhan

Langitku memutih
menutupi gunung dan bebukitan
kukira mendung
rupanya kabut asap
yang datang entah dari mana

Mengapa tak sudah-sudah
langitku dikotori
tangan-tangan jahil yang membakari hutan
rumah berlindung marga satwa
hingga bencana mendera

Kabut asap yang membawa pilu
menghapus langitku yang biru
hatiku kelabu

Padang Panjang, 2009

Dalam Gundahku

Muhammad Subhan

Dalam susah dan gundah
kuingat Tuhanku
sungguh kutakut
ketika tiba senangku
aku lupakan Dia

Wahai Dzat yang
membolak-balik hati
tetapkan jiwa hamba
dalam cahaya iman
lindungi hamba dari kemaksiatan
yang membinasakan amal
dan keikhlasan
yang membutakan hati
dari mengingatmu

Rabbi, izinkan hamba
selalu menggapai
kasih sayangMu

Padang Panjang, 2009

Batu Ponari

Muhammad Subhan

klenik
kekalkan mitos
seorang bocah
ponari kecil, ponari lugu

pada batu; batu ponari
si sakit merindu

Rumah Puisi, 2009

Semalam

Muhammad Subhan

Engkaukah yang semalam mendekapku
dalam dingin yang menusuk
dan menampar-nampar kaca jendela
cottage tempat kita berbulan madu

Mungkinkah ingatanku telah tua
renta bersama angan yang
senantiasa mengguncang tubuh
membangunkanku dari mimpi panjang
berabad-abad silam

Rumah Puisi, 2009

Romansa setelah Hujan

Muhammad Subhan

Hai, mengapa masih di luar
Masuklah ke rumahku
Hujan yang belum reda
Membawa gigil dan tubuhmu
Pergilah ke perapian
Cari kehangatan di sana

Hai, mengapa masih diam
Bakarlah kayu-kayu kering itu
Buka dan ganti bajumu
Keringkan di samping tungku

Hei, kau di mana
Aku di mana
Kenapa ranjang itu basah?

Rumah Puisi, 2009

Menanti Hujan Berhenti

Muhammad Subhan

Menanti hujan berhenti
Kau termenung sendiri
Merenungi bumi
Merenungi langit
Merenungi awan yang menurunkan air
Adakah pertanda kota akan banjir?

Menanti hujan berhenti
Kau menghitung tetes-tetes air
Diantara pucuk kamboja
dan saluran air yang bocor

Rumah Puisi, 2009

Sajak Wajah

Muhammad Subhan

Kutemui wajah bapakku pada wajahku
Dia tersenyum haru
Kutemui wajah ibuku pada wajahku
Dia tersenyum rindu
Kutemui wajah adikku pada wajahku
Dia tersenyum lugu
Kutemui wajahmu pada wajahku
Kau tersipu malu

Rumah Puisi, 2009

Taman Cinta

Muhammad Subhan

Bunga
Di taman
Menawarkan cinta
Di hatimu

Rumah Puisi, 2009

Pasar Padang Panjang

Muhammad Subhan

Ketenangan yang syahdu
Bau bunga di etalase toko
Buah-buahan
Suara telapak kaki kuda
Dan asap bahan bakar
Yang begitu akrab

Rumah Puisi, 2009

Sajak Mulut

Muhammad Subhan

Mulut tikus
Mulut kakus
Sama-sama rakus
Melahap kotoran

Rumah Puisi, 2009

Sajak Tangis

Muhammad Subhan

Lindap
Sunyi senyap
Dalam ratap

Rumah Puisi, 2009

Jumat, 08 Januari 2010

Profil Lembaga Keuangan Mikro BUKP Kecamatan Prambanan DIY


Oleh: Muhammad Subhan

Berbagai anggapan miring, dicuekin warga, hingga teror dari para rentenir mewarnai perjalanan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Usaha Kredit Pedesaan (BUKP) Kecamatan Prambanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun demikian, dengan semangat ikhlas dan optimisme yang tinggi, BUKP pimpinan Nur Khoironi ini menoreh hasil yang memuaskan. Lebih dari 300 warga ekonomi lemah telah menjadi nasabahnya. BUKP Prambanan pun menjadi lembaga keuangan terdepan di Kecamatan Prambanan.

Kantor BUKP Prambanan tidaklah luas. Bahkan dari luar terlihat sangat kecil sebab berdampingan dengan sebuah toko. Di dalam kantor BUKP yang beralamat di Jalan Prambanan Km 5, Madurejo, Kecamatan Prambanan ini, hanya sekitar 3 x 5 meter saja luasnya. Di ruang sekecil inilah semua transaksi kredit mikro dilakukan.

Ketika penulis mengunjungi kantor BUKP Prambanan, Sabtu (27/6/2009), siang itu, suasana di kantor BUKP terlihat sepi. Belum ada transaksi. Menurut Kepala BUKP Prambanan Nur Khoironi, transaksi biasanya dilakukan nasabah pada pagi atau sore hari. Sebab umumnya warga yang menjadi nasabah di BUKP ini berprofesi sebagai petani dan pedagang.

BUKP Prambanan merupakan satu diantara 75 BUKP di Propinsi DIY. BUKP ini berdiri sejak 1989, bersamaan dengan BUKP lainnya. Sebelum menempati kantor sekarang, BUKP Prambanan telah beberapa kali pindah kantor. Status kantor sekarang masih sewa.

Seperti halnya kegiatan usaha BUKP lainnya di DIY, BUKP Prambanan membuka layanan pemberian kredit usaha, menghimpun tabungan, deposito serta menerima titipan surat-surat/benda berharga. Sejak berdiri, BUKP Prambanan mendapat subsidi dari Pemerintah Propinsi DIY sebesar Rp200 juta sebagai modal awal BUKP. Karena kegigihan pengelola, dari modal awal Rp200 juta sekarang telah memiliki tabungan Rp800 juta. Di samping itu, hingga Juni 2009 BUKP Prambanan telah menyalurkan kredit kepada masyarakat sebesar Rp1,2 Miliar.

“Alhamdulillah, tutup buku di tahun 2008 kami mendapatkan laba bersih sebesar Rp70-an juta,” ujar Nur Khoironi.

Jumlah laba itu menurut Nur Khoirani masih terbilang kecil jika dibanding dengan pendapatan BUKP lainnya. Namun sebagai pihak pengelola dirinya bangga bahwa lembaga yang dipimpinnya mendapatkan untung yang terbilang lumayan.

Produk unggulan yang dimiliki BUKP Prambanan, jelas Nur Khoironi, salah satunya adalah tabungan dan deposito. Dengan menabung di BUKP warga akan mendapat akses langsung pada kredit usaha. Selain bisa mendapatkan jaminan kredit, warga yang menabung di BUKP Prambanan juga memperoleh bunga yang dihitung atas dasar saldo terendah setiap bulannya. Frekuensi penarikan penabung juga tidak dibatasi, bunga dibayarkan setiap bulan dan suku bunga ditetapkan menurut perkembangan pasar.

Untuk mengantisipasi terjadinya kredit macet yang menjadi permasalahan hampir seluruh lembaga keuangan, BUKP Prambanan menetapkan jaminan bagi peminjam berupa sertifikat atau BPKP yang akan dijadikan agunan. Agunan juga diutamakan atas nama sendiri, sementara jika agunan belum atas nama sendiri harus menyertakan surat kerelaan bermaterai Rp6.000,- yang blangkonya sudah disediakan BUKP. “Pinjaman yang diajukan nasabah besarannya relatif, mulai Rp1 juta hingga Rp50 juta,” ujar Khoironi.

Namun demikian jelas Khoironi, setiap peminjam kredit terlebih dahulu harus mengajukan permohonan dengan membuat proposal usaha. Dalam proposal itu juga melampirkan surat permohonan kredit yang blangkonya disediakan di kantor BUKP. Blangko ini harus diketahui dan ditandatangani oleh suami/istri dan jika perlu dimintakan legalisasinya kepada aparat desa setempat. Disamping itu juga fotocopy KTP yang masih berlaku, fotocopy C1 bagi yang sudah berkeluarga. Jika syarat-syarat tersebut telah lengkap pemohonan dapat mendatangi kantor BUKP Prambanan untuk mengajukan pinjaman kredit. Proposal peminjam selanjutnya akan dianalisis lebih lanjut dan diadakan survei kelayakan usaha sesuai alamat peminjam yang tertera di dalam KTP.

Dijelaskan Nur Khoironi, dari analisa pengelola atas kelayakan usaha nasabah, sebagian nasabah berprofesi sebagai tukang batu (genteng), berdagang di pasar, tani palawija, ternak ayam/itik/kambing, serta ada juga yang berprofesi sebagai polisi dan pegawai negeri sipil (PNS). Khusus bagi kredit pegawai pemohon harus mengajukan permohonan dengan terlebih dahulu meminta rekomendasi dari bendara/pimpinan pemohon serta melampirkan slip gaji.

Sementara itu, dalam memberikan pelayanannya BUKP Prambanan buka kantor dari hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Selama ini BUKP Prambanan masih memakai sistem manual. Dalam waktu dekat semua transaksi akan dilakukan dengan sistem komputerisasi sehingga transaksi nasabah lebih praktis, cepat dan mudah. Meski masih dengan sistem manual, sejauh ini tingkat kemacetan nasabah hanya di bawah 10 persen.

Benarkah keberadaan BUKP Prambanan memberi manfaat bagi masyarakat? Salah seorang nasabah BUKP Prambanan, Waluyo, 41 tahun, yang berprofesi sebagai tukang jahit pakaian yang berlokasi tidak jauh dari kantor BUKP Prambanan mengungkapkan perkembangan usahanya setelah mendapat pinjaman kredit usaha dari BUKP Prambanan. “Saya sangat terbantu dengan pinjaman modal usaha di BUKP. Mulanya saya hanya punya satu unit mesin jahit, tapi sekarang sudah punya 3 unit,” ujar Waluyo didampingi istri dan kedua anaknya.

Waluyo menjadi nasabah BUKP Prambanan sejak lima tahun lalu. Mulanya dia hanya menabung mengingat jarak kantor bank dari tempat tinggalnya sangat jauh. Sebelumnya ia tidak tahu menahu tentang manfaat BUKP, namun setelah melihat hasil usaha yang diperoleh seorang temannya, ia pun tertarik menabung lalu mengajukan permohonan kredit.

“Saya meminjam Rp5 juta, dan saya gunakan untuk membeli 1 unit mesin bekas. Dari satu unit mesin ini bertambah menjadi dua unit, dan saya dibantu dua orang tenaga kerja,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, jika nanti cicilan pinjamannya telah selesai dia berniat akan mengajukan permohonan kredit lagi untuk membuat kios jahit baru yang agak luas. Dengan demikian dia harapkan usahanya semakin berkembang dan dapat mempekerjakan tenaga kerja baru sehingga warga di daerahnya terlepas dari pengangguran. []

[Tulisan ini sebagai bahan dalam buku “Kredit Mikro Nagari (KMN) yang diterbitkan Bappeda Provinsi Sumatera Barat]