Sabtu, 31 Juli 2010

Hikmah Dibalik Bencana

Oleh Muhammad Subhan

BANYAK benar musibah yang melanda negeri ini. Gempa berkekuatan 6,2 skala richter yang terjadi Selasa (6/3/2007) lalu, telah membuat masyarakat Sumatra Barat trauma, tak terkecuali di Bukittinggi. Sejumlah insfrastruktur hancur; perkantoran, sekolah, gedung-gedung tua, bahkan rumah ibadah sekalipun, rusak dihoyak gempa.

Yang menyedihkan, gempa juga merenggut korban jiwa, puluhan banyaknya. Data di Satkorlak Provinsi, korban meninggal di seluruh kabupaten dan kota mencapai 73 orang. Di Bukittinggi korban meninggal 10 orang. Sementara yang luka berat, ringan serta kerusakan bangunan, ratusan banyaknya.

Beberapa kali terjadi gempa di tahun-tahun sebelumnya di Sumbar, mungkin, gempa kali ini terasa yang paling kuat. Apalagi getaran gempanya tidak terjadi sekali, melainkan berkali-kali meski dalam waktu yang tidak bersamaan. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Padang Panjang mencatat, setidaknya selama tiga hari paska gempa, terjadi 686 kali gempa susulan, baik yang dirasakan maupun tidak.

Di hari pertama gempa, banyak peristiwa-peristiwa human interest yang begitu merenyuh perasaan. Pekik tangis para pedagang di Pasar Wisata Bukittinggi yang petak-petak toko mereka terbakar. Wajah-wajah pasi warga yang berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum lagi ratusan warga pinggiran ngarai yang dilanda kecemasan paska longsornya hampir seluruh tebing Ngarai “Diam” (Sianok) yang tak lagi diam itu.

Bukittinggi pun berduka. Kota wisata yang cantik ini dalam hitungan detik berubah kusam dan muram. Kedamaian Bukittinggi terusik. Namun kabar yang terbetik, Bukittinggi masih lebih baik daripada Solok, Batusangkar, Agam maupun Padang Panjang.

Tapi, yang sungguh disedihkan, dalam hitungan detik itu pula, keempat sektor unggulan Bukittinggi terganggu total. Di sektor pariwisata, puluhan hotel rusak, banyak kamar retak-retak dihoyak gempa. Yang terparah Novotel, sehingga manajemen hotel memilih menutup sementara daripada menanggung resiko fatal.

Objek wisata apalagi. Kantor Persenibud Bukittinggi memerintahkan petugas menutup Lobang Japang yang disinyalir rusak parah. Taman Panorama juga terganggu dengan runtuhnya Ngarai Sianok. Pasar Wisata di Pasar Putih ludes dimamah si jago merah. Pasa Lereang nyaris rata dengan tanah. Jam Gadang sebagai simbolnya Koto Rang Bukittinggi dikabarkan pula mengalami retak di dinding bagian bawah, dan jarum jam berhenti berdetak.

Di sektor pendidikan, puluhan sekolah juga rusak. Sarana dan prasarana sekolah nyaris cair dihondoh gempa. Yang terparah, gedung SMK Negeri 3 Bukittinggi nyaris ambruk karena gedung bertingkat itu mengalami retak yang cukup parah. Sementara, ribuan pelajar Bukittinggi bulan depan mengikuti Ujian Nasional.

Di sektor kesehatan begitu pula. Gedung RSAM yang selama ini damai tiba-tiba menjadi gedung yang menakutkan paska gempa. Ratusan pasien terpaksa diungsikan di halaman dan jalan di depan rumah sakit. Begitupula di RS Yarsi Ibnu Sina dan RSUP Bukittinggi. Puluhan korban luka-luka akibat gempa, harus rela kedinginan di luar ruangan, meski berteduh di bawah tenda.

Sektor perdagangan yang paling menyedihkan. Ekonomi masyarakat Bukittinggi lumpuh total paska gempa dan kebakaran di Pasar Wisata. Ribuan toko tutup, PKL tak berani lagi berdagang. Bukan takut dikejar-kejar petugas Yustisi, tapi tak mau ambil resiko terhadap gempa yang diprediksi bakal berulang.

Lengkaplah sudah cerita tentang duka di Bukittinggi paska gempa. Namun, kedukaan tak pernah menyelesaikan masalah. Pak Wali selalu mewanti-wanti, kita harus bangkit membangun kota ini kembali.

Dan, kebersamaan itu pula yang saat ini begitu terasa di Bukittinggi, yang mungkin selama ini, sebelum gempa terjadi, suasana itu belum tentu ditemui.

Terharu saya, ketika Pak Wali bersama jajarannya sigap dan tanggap mendata korban, menyalurkan bantuan, tak pandang masyarakatnya miskin atau berada. Semua mendapat jatah rata. Posko Satkorlak dibentuk, bahkan hingga kecamatan dan kelurahan.

Lengkaplah kebersamaan itu. Tuhan selalu memberi hikmah dibalik bencana. Semoga selamanya. Dan, meminjam istilah partai Pak Wali pula, “bersama kita bisa”. []

(Dimuat di Kolom Detak Jam Gadang Koran Harian Haluan, 9 Maret 2007)

Kunjungi: www.korandigital.com

Antara Cut Tari, Luna Maya dan Saya


Oleh Muhammad Subhan

Saya tidak memasukkan nama Ariel pada judul diatas. Pertama, alasannya, terlalu panjang. Kedua, Ariel sudah cukup terkenal. Apalagi setelah terseret skandal vidoe seks, yang kebetulan, baru diributkan media massa. Dan, ketiga, mungkin saja saya bisa ikut numpang terkenal ketika menderetkan nama saya dengan para selebritis populer seperti Cut Tari dan Luna Maya.

Tapi apakah saya ikut-ikutan terseret skandal itu, ah, entahlah. Jujur, saya kenal dekat dengan Cut Tari dan Luna Maya, karena setiap pagi diam-diam saya ikut nguping tayangan gosip di televisi swasta yang diputar istri saya. Tapi apakah Cut Tari dan Luna Maya kenal saya, ini persoalan juga saya kira. Lalu apakah ada beredar pula video saya dengan kedua wanita itu, wah, tak tahu saya kalau itu sampai terjadi dan bagaimana bisa.

Terlepas ada tidaknya video saya dengan Cut Tari dan Luna Maya, saya benar-benar prihatin melihat penghakiman luar biasa yang dilakukan media massa terhadap kedua perempuan itu. Hampir setiap hari di televisi cerita tentang mereka menjadi berita utama, mengalahkan issue Century yang makin redup, lebih wah dari kasus pembantaian aktivis pro Palestina, lebih semarak dibanding perhelatan Pilkada kepala daerah yang tinggal menghitung hari.

Tentu, itu terjadi lantaran Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan sejumlah nama artis yang dikaitkan lainnya adalah publik figur di dunia hiburan yang gemerlap dan sering diperbincangkan dan menjadi idola sejumlah orang. Dan, persoalan seks sejak zaman baheula selalu menarik diperbincangkan karena terkait moral. Apalagi ketika skandal itu diekspose dan beredar, diunduh oleh jutaan orang, dimuat menjadi berita utama di koran-koran, atau menjadi kupasan bibir pembawa acara tayangan infotaintmen di layar kaca.

Tapi persoalannya apakah itu cukup penting menjadi tontonan publik yang juga punya hak privasi untuk dilindungi, khususnya anak-anak dan remaja? Selayak pertanyaan, apakah Ariel, Cut Tari dan Luna Maya masihkah punya moral, demikian pula apakah cukup bermoral media yang saban hari menyiarkan aib mereka? Siapakah yang paling bermoral, artis pelaku skandal seks atau media massa yang mengungkap skandal itu?

Siapapun tahu, dunia artis yang gemerlap rentan penyimpangan seks meski tidak semua mereka melakukan itu. Dan, kasus Ariel, Cut Tari, Luna Maya, hanya gunung es dari sekian kasus lainnya yang tak terungkap. Sama halnya dengan kasus suap menyuap yang melibatkan oknum aparat, kasus korupsi yang dilakoni oknum pejabat, maupun kasus-kasus lainnya yang terjadi di belahan bumi Nusantara yang menyebabkan orang miskin bertambah miskin dan bencana melanda dimana-mana.

Saya tidak paham benar apakah pemberitaan tentang skandal seks Ariel, Cut Tari, Luna Maya itu salah satu bentuk hiburan semata yang disuguhkan media massa atau berupaya memberikan pendidikan seks kepada generasi muda. Ya, pendidikan disertai contoh bahwa apa yang diungkapkan media adalah salah satu jenis dampak seks yang menyimpang plus akibat yang terjadi jika dilakukan. Tapi cukup pentingkah bagi generasi muda yang selama ini mereka masih pusing memikirkan biaya pendidikan yang cukup tinggi, lapangan kerja yang sulit, atau biaya hidup yang kian melangit?

Atau pemberitaan itu malah melahirkan kasus-kasus serupa yang dilakoni para remaja kita seperti yang sebelumnya pernah dihebohkan di berbagai daerah; remaja usia pelajar yang melakukan mesum di bilik kost lalu direkam di dalam kamera handphone, bahkan ada pula yang berani melakukannya di ruang kelas mereka sendiri? Entah kenistaan apa lagi yang pantas diungkapkan.

Tapi inilah wajah Indonesia yang sulit ditutupi lantaran topeng yang membalut bopeng itu telah rusak dan diinjak-injak. Media massa yang seharusnya berfungsi edukasi malah lebih senang ngerumpi. Walau tidak semua media terjebak di lobang yang sama, setidaknya sebagian besar pengelola media di negeri ini ‘sepakat’ menayangkan aib demikian dengan alasan mendongkrak rating dan pasar.

Entahlah, pening saya. Walau sejujurnya saya kenal dekat dengan Ariel, Cut Tari dan Luna Maya, saya tidak mau mempersoalkan apakah mereka kenal atau tidak dengan saya. Yang pasti, kalau profesi saya sebagai Penghulu, saya akan nikahkah mereka, meski tak segampang yang saya kira. []

Sumber: http://korandigital.com/?pg=articles&article=7560