Jumat, 26 Maret 2010

Tebing Betapa Curam, Jurang Betapa Dalam, Tak Tampak Kedua-duanya'.

Taufiq Ismail

Desa kami terletak di kaki gunung yang sangat indahnya
Berpagar perbukitan dengan deretan pohon cemara
Sawah luas terhampar, hijau muda dalam warna
Ladang palawija sangat subur pula keadaannya
Dari jauh tampak ternak kerbau, sapi, ayam dan domba
Kemudian kawanan burung terbang di udara
Tampak menembus awan tanpa suara
Walaupun alam desa kami indah keadaannya
Tapi kami belum makmur sesuai dengan cita-cita
Kemisikinan tidak teratasi seperti semestinya
Berbagai penyakit datang dan pergi bergantian saja
Beri-beri, diaere, cacar, busung lapar, juga penyakit mata
Anehnya banyak warga sakit katarak dan radang glaukoma
Sehingga banyak yang rabun bahkan sampai buta
Sehingga dokter Puskesmas kami sibuk mengobati warga desa
Di barat desa ada sebuah tebing yang curam
Dibatasi setengah lingkaran oleh jurang yang dalam
Di atas tebing ini terhampar datrar lapangan lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil berkejar-kejaran dengan leluasa
Bermain-main, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa
Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, sudah tua, terbatas kukuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana
Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuni lembahnya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya
Nah, pada suatu hari
Ada sebagian kecil penduduk desa berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni
"Kami menolak pagar tebing itu, apa pun bentuknya
Pagar itu kan untuk anak-anak di bawah usia
Itu tak perlu untuk kami yang dewasa
Bahkan juga untuk anak-anak biarkan saja
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Tidak perduli alasan lama kalian dari zaman kuna
Pagar ini produk fikiran masa dahulu sudah lama
Cabut pagar itu, buang ke keranjang sampah saja
Pagar tebing itu adalah bentuk diskriminasi kuna
Kini waktunya orang menghargai kebebasan sebebas-bebasnya
Kita harus meniru negeri luar agar maju pula
"Apa itu pagar? Kenapa pelararan ini dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuna, melawan kebebasan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"
Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, lho ini ada apa?
Kok jadi tegang suasana?
Ada yang bersikeras mau mencabut pagar semua
Tapi yang bertahan tidak sudi membiarkan mereka
Di tepi tebing beregang-reganganlah mereka
"Hei, hei, hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!
Hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!"
Mendadak mereka berhenti bersama
Ketika itu muncul seorang laki-laki dengan pengiringnya
Dia kelihatan tua dan agak berwibawa
"Para hadirin, ini Nabi kami."
Orang-orang desa terkejur, mulut mereka terkunci
Belum sempat pula seorang perempuan dengan ajudannya
Bergaun panjang, berhiasan macam-macam di kepalanya
"para hadirin, ini Malaikat kami."
Orang-orang desa terkejut, mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang perempuan dengan ajudannya
Bergaun panjang, berhiasan macam-macam di kepalanya
"Para hadirin, ini Malaikat kami."
Orang-orang desa terkejut, mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang laki-laki dengan pengawalnya
Dia kelihatan tua dan tidak berwibawa
"Para hadirin, ini Tuhan kami."
Dengan kedatangan tiga orang luar ini
Penduduk desa jadi sibuk mengamati
Kemudian ada warga yang menajukan interogasi
"Lho Pak Nabi, ente kan dari desa Gunung Bunder, tidak jauh dari sini?
Waa, Bu Malaikat rumahnya di Betawi kan dekat Gang Arimbi?
Pak Tuhan, antum dari kecamatan Mundu, nama Ahmad Tantowi?
Tidak ada jawaban sama sekali
Menyaksikan hadirnya yang mengaku Tuhan, Nabi dan Malaikat
Lalu seseorang berkata dengan cermat
"Kita bingung ini dan harus mendapat solusi
Mari kita hunungi orang yang ahli
Yang ahli itu pastilah orang luar negeri
Yang jago dalam teori dan kita kagumi
Dengan retorika penuh erudisi
Yang penting liberal, walau kolonial, kita tak peduli
Sehingga mata kita jadi silau sama sekali
Tunggu, tunggu, tak ada hubungan ini
Dengan mental orang bekas jajahan koloni
Tidak ada hubungan ini
Dengan warna kulit karena pigmentasi
Tidak ada hubungan ini
Dengan imperialisme ideologi
Tidak ada hubungan ini
Dengan sikap mental rasa rendah diri
Ini semata-mata, semata-mata, ulangi
Ya, semata-mata, ya karena ini."
Setelah selesai ucapan yang kacau begini
Hadirin yang tadinya tenang, menjadi ribut kembali
Kembali beregang-regang, tarik-tarikan ke sana ke sini
Tiba-tiba di ujung keributan ini
Muncullah dokter Puskesmas penuh wibawa
Bersama seorang anak muda di sampingnya
Dia melihat ke kanan dan ke kiri
Ketika itu penduduk desa tenang semua.
Kemudian dia angkat bicara:
"Saya telah melihat demonstrasi kalian
Saya kecewa dan geleng-geleng kepala
Kalian semua pasien saya
Lebih dari separuh kalian kena kelainan pada mata
Kalau tidak rabun, ya buta
Kenapa kalian menghabiskan waktu berdemo juga
Padahal mata tidak bisa melihat dengan sempurna
Kasusnya katarak dan glaukoma
Gawat ini situasinya penyakit instrumen mata
Virus datang dari negeri lain rupanya
Bukan cuma dari luar desa
Begini, kita sembuhkan dulu sumber etiologinya
Gawat lho, ini situasi kesehatannya,"
Dengan hormat orang desa terdiam mendengarnya
Kemudian anak muda di samping dokter itu bicara
Dia santun, cerdas dan logis cara berfikirnya:
"Bapak-bapak, paman-paman, ibu-ibu semua
Saya minta nmaaf urun berkata-kata
Saya heran kenapa dipandang enteng tebing curam kita ini
Tingginya 50 meter, sangat tinggi
Di bawahnya batu-batu besar, dalam kali
Kalau terjatuh, bakal patah-patah, gegar otak kanan dan kiri
Jadi kalau tidak dipagar, berbahaya sekali
Maaf ya, maaf, kalian yang mau cabut pagar ini
Kalau tidak rabun atau buta, ya gila
Tebing betapa curam
Jurang betapa dalam
Kok tak tampak kedua-duanya
Konsep tebing dan jurang tak masuk akal rupanya
Gara-gara katarak dan glaukoma menuju buta
Nah, tentang pagar yang memang sudah tua keadaannya
Mari kita gotong-royong menggantinya
Kita bikin yang kukuh untuk semua
Sehingga anak-anak dan remaja
Bisa bermain-main, berlari-lari ke sini dan ke sana
Dengan aman dan gembira."
Kepala desa akhirnya muncul paling akhir lalu bicara:
"Sedulur, masih seabreg-abreg urusan di desa kita,
Kebodohan dan kemiskinan kita, kapan akan selesainya?"

TUHAN SEMBILAN SENTI

Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
Rokok hukumnya haram!

Rokok hukumnya haram!

25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghada

Kamis, 25 Maret 2010

PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI

Taufiq Ismail

Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

2005

Sajak Melankolisme Taufiq Ismail

Oleh: Aguk Irawan Mn

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka

***

Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufiq Ismail. Maka ketika belum lama ini Taufiq Ismail membacakan sajaknya yang terbaru "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" di depan KPU— lantas media massa dengan reaksi yang cepat merekamnya— sampai sekarang kita masih ingat bahwa bait sajak di atas adalah bait pertama dari sajaknya Taufik Ismail yang baru itu.

Dalam bersastra, karya Taufiq memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufiq sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufiq sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik. Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. Ketika itu, dengan semangat yang luar biasa— melalui sajak "Tirani dan Benteng"nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba. Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufiq "malu-malu" meluncurkan buku berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.

Sajak Taufiq memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan. Dalam sajak-sajak "Tirani" terhadap Orde Lama dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meskipun sajak ini hanya berlaku satu kali saja, yakni terhadap Orde Lama. Tapi pilihan kata Taufiq tampak begitu berbobot dan ‘matang', bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain. Saya yakin bahwa sajak-sajak Tirani Taufik Ismail tetap akan bernilai universal, meskipun Taufiq hanya memilih ‘diam' dalam menghadapi kenyataan Orde Baru yang lebih tirani di permukaan Indonesia. Dengan demikian, bukankah ini lebih akan mempertegas bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus.

Kemudian tidak berlebihan jika lahir hipotesis bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus, yang kemudian citra ini lambat laun semakin pupus dan tergantikan dengan stigma negatif ketika Taufiq menciptakan sajak yang ganjil. Coba kita renungkan baat terakhir dari sajak itu.

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku Bangsaku.

Taufiq seperti mengalami kekecewaan yang luar biasa, sangat terpukul dengan kondisi Orde Reformasi. Bahkan ia seakan telah menyesali kenyataan kehidupan berkebangsaan yang sekarang ini kita jalankan bersama. Mungkin Taufiq menganggap bahwa proses reformasi ini terlalu pahit bagi kehidupan politiknya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla, bahwa sajak Taufiq Ismail "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" adalah sajak "melankolis", meratap, melihat masa lalu seolah-olah sebagai "surga" yang tak akan kembali. Pada kenyataannya sajak Taufiq memang mencerminkan sebagian pandangan yang berkembang dalam masyarakat; pandangan yang ingin saya sebut "melankolisme-masokis".

Menjenguk sejarah memang penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia; di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada. Tapi meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya, adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab yang terpenting bagi kita sekarang adalah menciptakan "surga" di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orba. Agaknya, sajak Taufiq memang ambivalen dan hiperbolis dalam melihat masa lalu. Sementara kita pun mengerti bahwa pemilu 1955 memang tak semuanya sempurna, dan sejarah telah mencatat ada kejanggalan- kejanggalan di dalamnya yang berbelit. Selain masa itu, Pemilu 1955 militer masih belum begitu simpati terhadap kekuasaan dan belum menjadi gurita yang membelit negara.

Menurut Z. Afif. Pemilu 1955 dilaksanakan oleh para Republiken, orang-orang yang sangat merasakan penindasan kolonialisme yang juga memperalat feodalisme. Orang-orang yang bercita-cita membangun sebuah Republik yang benar-benar berlandaskan trias-politika yang sesungguhnya. Dan masa itu lepra politik uang seperti di tubuh elite politik belum berjangkit, walaupun tidak terbantahkan memang ada tikus dalam kepegawaian yang makan sedikit-sedikit milik negara untuk menombok belanja rumah.

Mungkin Taufiq lupa, bahwa ada perbedaan yang perlu diingat antara Pemilu 1955, Pemilu Orba dan Pemilu sekarang. Pemilu 1995 bertujuan untuk mewujudkan Republik yang demokratis dan parlemen yang ditempati oleh wakil-wakil rakyat. Pemilu Orba untuk memperkukuh kekuasaan otokrasi militerisme dan dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme melalui Golkar. Sementara Pemilu sekarang berusaha keras menuju masyarakat yang berkedaulatan penuh. Untuk itu, nostalgia masa lalu yang menurut Taufiq patut dibanggakan, biarlah sebagai arsip pribadi dan bahan cerita untuk anak dan cucu.

Sampai akhir sajak itu ditulis "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" Taufiq menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Ia seakan telah memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan, atau dalam bahasa Rene Wellek, Taufiq gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Menurut Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis. Tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu.

Maka bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan dan memberi semangat yang tinggi bagi pembangunan Indonesia ke depan masih tetap diperlukan sebagai lawan dari sastra melankolis yang lebih mengedepankan sikap apatis dan pesimisnya—adalah sastra heroik memang sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa "hilang rasa eling" sebagai pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Dengan demikian, lepas dari kekurangannya, sajak Taufiq, bagaimanapun adalah cermin rakyat yang bimbang menghadapi gelombang masa depan, untuk itu tetap patut dibaca di depan rakyat untuk mengkritisi sikap pemerintah terhadap pemilu.

Akhirnya saya sepakat dengan Ulil. Tak usah meratap, melihat masa lampau terus-menerus sebagai "firdaus" yang hilang. Gejala ini tidak sehat untuk membangun negeri ini di masa depan. Karena ada banyak perkembangan positif di negeri kita yang harus diberi apresiasi; dan perkembangan itu hanya mungkin karena ada reformasi. Nilai, harga, dan bobot sebagai hasil yang diperoleh selama reformasi tak kalah dengan Proklamasi Kemerdekaan, Pemilu 1955, Sidang Konstituante, atau pidato-pidato Bung Karno yang menyulut "adrenalin" masyarakat kecil. Hasil-hasil selama reformasi juga tak kalah bobotnya dengan pembangunan selama periode Soeharto.

Bagaimanapun kita memang harus mengakui, kecuali kalau kita masih ingin terus memberi napas pada status quo (Orde Baru). []

Kairo, 9 April 2004
Penulis adalah Staf Peneliti Kebudayaan LKiS Yogyakarta, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Al Azhar Kairo, Mesir.

Dimuat di: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0807/bud2.html

INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN

Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.

Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.

Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,

"Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah."

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.

"Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo ... "

Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.

2000 , 2002

Senin, 22 Maret 2010

Ujian Nasional

Oleh: Muhammad Subhan

Mata gadis itu menerawang. Ia baru saja keluar kelas. Rona wajahnya menyiratkan suasana hatinya yang was-was. Akankah ia lulus UN tahun ini. Kecemasan yang berulang terjadi. Ya Allah, tolong hamba, gumamnya.

Di luar sinar matahari terik menyengat. Gadis itu berjalan gontai. Meski ia melihat kawan-kawannya santai, tapi sorot mata mereka tak mampu berdusta. Ya, ada keresahan. Terasa meski tak teraba.

Gadis itu ingat akan nasib kakaknya yang tidak lulus UN dua tahun lalu. Kakaknya mengalami depresi. Padahal kakaknya siswa berprestasi. Kabar tidak lulus UN bagai sengatan listrik berpuluh-puluh volt. Menusuk hingga hulu hati. Seorang anak periang, cerdas, dan selalu rangking lima besar di kelas, tiba-tiba terpuruk di jurang paling dalam, tidak lulus Ujian Nasional.

Meski ketika itu ada ujian ulangan, tapi mental kakaknya terlanjur kena. Ia merasa menjadi siswa tak berguna. Tiga tahun sekolah, hancur dalam waktu tiga hari. Ia kehilangan harga diri. Malu kepada teman-teman, lalu berhari-hari bungkam mendekam di dalam kamar.

Kedua orang tuanya cemas melihat derita yang dialami anaknya. Siapa yang harus disalahkan, tanya mereka. Rasanya tak ada kekurangan anaknya. Jauh-jauh hari jelang UN, putrinya itu ikut pelajaran tambahan di sekolah. Di luar itu, ia juga dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar. Guru privat pun didatangkan ke rumah. Buku-buku pelajaran lengkap. Apa yang kurang dibeli.

Dan, garis nasib menyurat lain. Kakak gadis itu akhirnya kehilangan akal. Ia menjadi tidak waras. Ayah ibunya cemas. Akhirnya dibawa berobat ke Jakarta. Tak lama sesudah itu, ia menghabisi hidupnya. Menegak racun serangga. Cita-citanya agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah perguruan tinggi ternama pupus sudah. Meninggalkan duka nestapa dan air mata keluarga.

Gadis itu tak ingin nasib serupa menimpa dirinya. Cukuplah kakaknya menjadi korban sejarah sepanjang UN ada di Republik ini. Ia tidak ingin menambah daftar korban selanjutnya. Ketika sekolah mengadakan zikir dan doa bersama jelang UN, ia duduk di shaf paling depan. Bersimpuh dengan khusyuk. Ketika ustaz memimpin doa di mihrab masjid sekolah, di sudut matanya mengalir butiran bening bak mutiara manikam. Jatuh membasahi pipinya yang putih. Bibirnya bergetar. Lalu isak tangisnya meledak. Tak mampu ia tahan.

Ya Rabbana, hamba lemah. Kuatkan hamba dengan ketegaran. Berikan hamba kesabaran dan kemampuan menghadapi ujian ini. Hamba yakin, Engkau tidak akan memberikan ujian yang tidak mampu hamba menanggungnya, doa gadis itu. Sesegukannya menambah khusyuk doanya. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Zikir terus berkumandang di masjid itu. Hingga waktu shalat Zuhur masuk. Lalu ia membasuh wajahnya lagi dengan air wudhu. Tangisnya belum reda hingga usai shalat berjemaah. Namun ketenangan jiwa ia temukan, rasa optimis menghadapi UN yang telah menjadi momok itu muncul juga. Ia harus tegar. Setegar karang yang dihantam ombak di lautan.

Ujian hari ini usai sudah. Meski kecemasan tersemburat di wajahnya akan hasil jawaban yang ia tulis, tapi ia merasa lega. Satu masalah telah ia selesaikan. Entahlah, apa ia mampu menghadapi ujian hari esok. Hingga ia keluar dari gerbang sekolah, nama Tuhan selalu terucap di bibirnya yang basah. []

KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni

Taufiq Ismail

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

1998

Tentang Penyair Taufiq Ismail


Ibunda Penyair Nasional Taufiq Ismail, Tinur Muhammad Nur (1914-1982), berasal dari Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, sedangkan ayahnya, A. Gaffar Ismail (1911-1998) berasal dari Jambu Air, Bukittinggi.

Ibunya merupakan alumni angkatan pertama Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang (pimpinan Rahmah El Yunusiyah), ayahnya alumnus Perguruan Thawalib Parabek Bukitinggi (pimpinan Syekh Ibrahim Musa). Sebagai angkatan muda Minangkabau yang bercita-cita mencapai Indonesia merdeka, mereka aktif dalam gerakan politik, bergabung dalam Partai PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), berasas Islam dan Nasionalisme, pimpinan Mochtar Lutfi.

Keaktifan PERMI menyadarkan masyarakat terhadap kemerdekaan bangsa, menyebabkan pemerintah kolonial bertindak represif terhadap pimpinannya. Dua orang aktivis PERMI, alumni Diniyyah Puteri, Rasuna Said dan Rasimah Ismail (ketika itu masih berumur 20-an tahun), yang terkenal karena pidato-pidato mereka yang menggelorakan massa ke seantero Sumbar, ditangkap, diadili dan masuk penjara perempuan di Semarang. Mereka adalah pemimpin pergerakan politik perempuan pertama Indonesia yang masuk penjara kolonial. Rasimah Ismail adalah etek Taufiq Ismail.

Empat pimpinan PERMI dibuang pemerintah Belanda. Tiga orang yang senior, yaitu Mochtar Lutfi, Iljas Ja’cub dan H. Jalaludin dibuang ke Boven Digul. A. Gaffar Ismail, yang termuda (21 tahun), diusir ke luar Minangkabau. Gaffar boleh memilih tempat pembuangan di luar Sumatra Barat. Dia memilih Pekalongan, Jawa Tengah, yang basis masyarakat muslimnya kuat (industri batik dan sarung palekat) dan adanya wiraswastawan Minang dan Mandailing di kota itu.

Menjelang keputusan dibuang ke Pekalongan, A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur menikah lebih dahulu (di tahun 1932). Mereka mengajar di Pekalongan, pernah pindah ke Solo, Semarang, Yogya, Jakarta, Bogor, tetapi kembali lagi ke Pekalongan, sampai wafat di kota itu. Bila di Sumatra Barat beliau disapa dengan panggilan Buya, di Jawa beliau disapa dengan panggilan Kiyai. Kawan sekolah beliau dulu di Parabek antara lain adalah anak Maninjau Abdul Malik, belakangan dikenal dengan nama HAMKA. Teman seperjuangan dan seusia beliau antara lain Sukiman Wirjosandjojo, M. Natsir, A. Wahid Hasjim (ayah Gus Dur), Kartosuwirjo, Sjafruddin Prawiranegara, dan beberapa lainnya. Salah seorang murid beliau di Solo adalah Kahar Muzakkar.

Buya Gaffar mengajarkan Tafsir Alquran di rumahnya, dalam Pengajian Malam Selasa, tepatnya di Jalan Bandung 60, Pekalongan (1933-1940 dan 1954-1998). Ustazah Tinur mengajar Tafsir Alquran untuk kaum ibu, pada siang hari. Mereka menyebarkan ilmu yang diperoleh dari Parabek dan Padangpanjang di Pekalongan sekitar 50 tahun lamanya. Ustazah Tinur wafat dalam usia 68 tahun, pada 21 Desember 1982. Sementara Kiyai A. Gaffar Ismail wafat dalam usia 87 tahun, pada 16 Agustus 1998. Mereka dimakamkan di Sapuro, Pekalongan.


Taufiq Ismail

Anak pertama A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur, Taufiq Ismail, lahir di Pekalongan, 2 Februari 1934. Seminggu kemudian, Taufiq Ismail bayi ini meninggal dunia. Ketika hamil kedua, Tinur dipanggil pulang oleh ibu dan mintuonya di Pandai Sikek dan Jambu Air, agar melahirkan anak di kampung.

Bayi kedua, laki-laki, lahir di rumah sakit Bukittinggi, 25 Juni 1935. Ibu muda ini mengirim telegram kepada suaminya di Pekalongan, menyampaikan berita gembira dan menanyakan apa nama yang akan dilekatkan pada bayi ini. “Beri nama Taufiq pada anak kita,” jawab telegram itu. Ketika diumumkan di kampung, kedua belah pihak keluarga memberi respons bahwa tidak baik memberi nama anak yang telah meninggal dunia.

“Jan diagiah namo anak nan alah mati. Singkek umuanya baiko!” demikian reaksi yang terjadi, yang tidak setuju, karena dianggap bayi ini akan cepat menyusul abang sulungnya yang baru meninggal. Reaksi orang kampung itu dilaporkan ke Pekalongan. Telegram balasan berbunyi, “Tetap nama anak kita Taufiq. Allah yang menentukan panjang pendek umur, bukan nama!” Demikianlah rasa tauhid dalam praktik kehidupan disampaikan ke masyarakat, melawan tahayul dan tradisi yang tidak Islami. Bayi itu mencapai umur 74 tahun kini, bernama Taufiq Ismail yang telah menjadi penyair besar.

Taufiq Ismail bersekolah (SR, kini namanya SD) di Solo, Semarang, Yogya, (SMP) di Bukittinggi, (SMA) di Pekalongan dan Whitefish Bay, Wisconsin, A.S. Dia bercita-cita jadi sastrawan sejak kecil, dan untuk menopang nafkah sebagai sastrawan dia ingin memiliki usaha peternakan. Karena itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, UI (kini IPB) di Bogor, tamat 1963. Dia gagal jadi pengusaha ternak, tapi berhasil jadi penyair.

Dia salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966), kini redaktur seniornya. Dia ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta (1968). Menulis 14 judul buku sastra, sejak 1966 hingga kini, antara lain kumpulan puisinya Tirani & Benteng, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (jilid 1-4) dan beberapa lainnya.

Kerjasama dengan musisi dilakoninya sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo, juga dengan Ian Antono, Chrisye, Dwiki Dharmawan dan lain-lain, menghasilkan mendekati 100 lagu-lagu yang dinyanyikan.

Dia juga pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota Asia, Amerika, Australia, Eropa dan Afrika sejak 1970.

Sebagai akumulasi kegiatannya meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis generasi muda bangsa selama 10 tahun terakhir ini di seluruh Indonesia, akhir Desember 2008 Taufiq dan isterinya Ati Ismail mendirikan Rumah Puisi di Aie Angek, Tanahdatar.

Anugerah yang diterima sebagai sastrawan, antara lain dari Pemerintah RI, Australia, Thailand, dan Malaysia. Gelar Doktor Honoris Causa dianugerahkan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (2003) dalam Pendidikan Sastra, dan dari Universitas Indonesia, Jakarta (2009) dalam Sastra.

Dari Kerajaan Pagaruyung (2009), bersama 8 tokoh masyarakat ia mendapat anugerah gelar Tuanku Pujangga Diraja, sebagai penghargaan kontribusinya dalam karya sastra.

Pada hari Jumat, 27 Maret 2009 lalu kepada sastrawan ini, di kampung halamannya ia dianugerahi gelar Datuk. Gelar Datuk ini dianugerahkan oleh Pangulu Nan Sapuluah, Suku Koto Sungai Guruah. Meski telah berusia lanjut, namun semangatnya tetap membara terutama keprihatinannya melihat budaya membaca dan menulis pada generasi muda yang semakin rendah. (muhammad subhan)

BAYI LAHIR BULAN MEI 1998

Taufiq Ismail

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta

Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing

Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.

1998

Senin, 15 Maret 2010

Seminar Sastra dan Launching Antologi Puisi - Padangpanjang

[MAJALAH GONG] - Himpunan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA BASINDO) FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhamadiyah Kauman Padangpanjang, Sumatera Barat, akan melaksanakan acara Seminar Sastra Nasional dan Lounching Antologi Puisi “Lautan Sajadah”, pada hari Sabtu, 25 April 2009, Pukul 9.00 sampai dengan selesai, bertempat di Gedung Kuliah FKIP Kauman Padangpanjang. Tutur Ketua Panitia Sandy Octaria.

Sandy menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan sastra. Acara seminar nasional berencana menghadirkan pembicara para sastrawan nasional, seperti; DR. (HC) Taufik Ismail dengan judul makalahnya ”Paradigma Baru Kesusasteraan Indonesia”, Gus Tf. Sakai (Sastrawan nasional) dengan materi “Proses Kreatif dalam menulis Prosa”, dan Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet) dengan makalah bertajuk “Proses Kreatif Penulisan Puisi”. Kegiatan ini untuk memacu dan meningkatkan kreatifitas guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses belajar mengajar di sekolah, serta memacu semangat rekan-rekan mahasiswa untuk berproses kreatif, tambahnya.

Ketua HIMA BASINDO Immatul Jannah menambahkan, Acara seminar sastra nasional ini, pesertanya diharapkan dari kalangan guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum. Selain Seminar Sastra, juga dilaksanakan Lounching perdana antologi puisi berjudul ‘lautan sajadah’. Antologi ini berisikan 104 puisi religius penyair asal mahasiswa FKIP/Bahasa dan sastra Indonesia UMSB. Antologi puisi ini dieditori oleh Penyair Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan. Ini tahap awal kerja serius yang dilakukan rekan-rekan mahasiswa, untuk ke depan masih banyak kerja-kerja yang berguna bagi masyarakat yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Tuturnya didampingi Sandy Octaria di ruang kerjanya.

Immatul Jannah menambahkan, para pembicara seperti sastrawan Gus Tf. Sakai dan Sulaiman Juned sudah berkenan untuk hadir menjadi pembicara. Begitu juga Sastrawan Senior DR (HC) Taufik Ismail berkenan untuk menjadi pembicara dalam acara tersebut. []

Sumber:
http://www.gong.tikar.or.id/?mn=agendabudaya&kd=157&to=view

Fenomena Lafadz Allah

Oleh : Muhammad Subhan

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tampaknya harus memiliki badan khusus yang bertugas meneliti, mengkaji dan menyiarkan kepada umat tentang fenomena pemberitaan munculnya "lafadz Allah" di berbagai kejadian. Sebab, di samping umat awam bertanya-tanya tentang fenomena itu, sebagian lainnya mengkhawatirkan akan terjadinya kemusyrikan baru jika ada oknum-oknum tertentu yang berkepentingan merekayasa tulisan "Lafdhul Jalalal Allah" yang suci itu pada benda-benda mati maupun makhluk bernyawa, apalagi sampai mengkultuskannya untuk kepentingan-kepentingan di luar syariat.

Seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, banyak pemberitaan munculnya lafadz Allah, mulai dari jilatan api di Lapindo Brantas, pohon di Pekanbaru, bulu kucing di Tangerang, awan di Jakarta, Jogyakarta maupun di Padang, tulisan Laa Ilaha Ilallah di tempat pembakaran lemang di Pasaman, di dinding bukit di Padang Panjang dan telinga bayi, getah pohon di Tilatang Kamang, Agam, bulu kambing, kulit telur dan mungkin masih banyak lagi.

Fenomena seperti itu, saya kira, memang sering kali ditemui. Misalnya pohon-pohon atau benda lainnya yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip "lafdhul-jalalal, Allah". Namun pertanyaannya, pertanda apakah semua itu? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?

Menurut hemat saya, fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu dicermati secara teliti dan hati-hati. Sebab kemudahan rekayasa di zaman digital memungkinkan apa saja dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa teknologi. Tapi yang perlu dipertimbangkan, seberapa besar nilai positif dan produktif pada manusia yang melihatnya dari semua penampakan itu. Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin salat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, judi, korupsi dan berbuat zhalim? Dan apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan? Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?

Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh manusia sendiri, dan juga seluruh alam ini, sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alqur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53) Ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda-tanda itu adalah berbentuk ‘tulisan Allah'. Tanda-tanda itu maksudnya adalah ‘tanda kebesaran' Allah SWT. Orang-orang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan Allah itu.

"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran: 191)

Namun, kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir perjalanan para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Alquran yang merupakan miracle-pun mereka ingkari.

Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) Kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Alquran yang tak terbantahkan. Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon, kulit telur, dinding bukit, telinga bayi dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak akan menambah apa-apa. ***

http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20070805110525

Rabu, 10 Maret 2010

Perda Rokok Padangpanjang

Catatan: Muhammad Subhan

Pemerintah Kota Padangpanjang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Tertib Rokok. Perda itu telah disahkan pada 5 November 2008 lalu. Gebrakan Padangpanjang itu diharapkan diikuti pula oleh kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat.

Meski baru dilahirkan, namun dampak positif adanya Perda tersebut membuat masyarakat di Padangpanjang mulai menyadari bahaya serta ancaman rokok. Dan, Walikota Padangpanjang dr. H. Suir Syam menginstruksikan seluruh pegawai di lingkungan Pemko Padangpanjang untuk tidak merokok di ruangan kerja. Jikapun ada pegawai yang merokok dan sudah ketergantungan terhadap rokok, di kantor-kantor pemerintahan disediakan ruangan khusus bagi perokok (smoking area).

Setahun ke depan, Perda itu disosialisasikan kepada masyarakat Kota Padangpanjang bahkan konon kabarnya, perusahaan rokok tidak diperkenankan lagi mensponsori kegiatan-kegiatan tertentu di Padangpanjang termasuk pemasangan iklan/reklame di Kota Serambi Mekah itu.

Di Indonesia, bahaya rokok masih menjadi isu pinggiran. Pemerintah dan tokoh masyarakat (seperti ulama) masih setali tiga uang. Bahkan umumnya ulama di Indonesia hanya menganggap rokok hukumnya makruh (parahnya banyak ulama di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat merokok!) berbeda dengan kebanyakan ulama di Timur Tengah, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz, Muhammad al-Utsaimin, Yusuf al-Qardhawi, termasuk ulama di Malaysia dan Brunai Darussalam, memanfawakan bahwa rokok haram hukumnya.

Dari kesehatan bahaya rokok sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi, lebih dari 70 artikel ilmiah serta penelitian sejumlah ahli membuktikan itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4.000 racun kimia berbahaya, dan 43 di antaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Akibatnya berbagai penyakit kanker mengintai, seperti: kanker paru-paru (90% kanker paru pada laki-laki disebabkan oleh rokok, dan 70% untuk perempuan), kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronkitis, mati mendadak pada bayi, impoten pada pria, bahkan rusaknya kesuburan wanita.

Memang tidak ada yang mati mendadak ketika menghisap rokok. Dampak rokok baru terasa setelah 10-20 tahun pasca penggunaannya. Dan, dampak rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (active smoker) saja, bahkan punya dampak yang sangat serius bagi yang tidak merokok (passive smoker). Yaitu, para perokok pasif ini akan mendapat racun dua kali lipat dari perokok aktif. Sangat tidak adil; tidak merokok tapi menghirup racun dua kali lipat. Menyikapi semua ancaman itu, Padangpanjang menyatakan komitmennya untuk berkata “tidak” terhadap rokok. Yang telah terlanjur dihimbau untuk segera “sadar” sebelum kematian mengancam.

Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya di Sumbar? Agak sulit kiranya membuat kebijakan seperti yang dilakukan Pemko Padangpanjang, jika mungkin saja gubernur merokok, atau bupati dan walikota juga merokok. Wallahu a’lam. []

Rabu, 03 Maret 2010

Warga Bukittinggi Asal Aceh

Oleh: Muhammad Subhan

Bukittinggi sebagai Kota Perdagangan di Sumatera menyebabkan banyak orang datang untuk berniaga dan bermukim di daerah ini. Itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ketika Bukittinggi masih menjadi daerah jajahan Belanda bersamaan dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera. Keberadaan Jam Gadang yang dibangun Belanda serta adanya Pasar Atas dan Pasar Lereng telah menghipnotis banyak orang diluar Bukittinggi untuk datang ke kota ini.

Salah satu kelompok masyarakat yang datang bermukim di Bukittinggi adalah warga asal Aceh. Saat ini jumlah mereka mencapai sekitar 900 Kepala Keluarga atau lebih kurang 3.000-an jiwa. Mereka bekerja di berbagai sektor, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, TNI/Polri, Dokter, Perdagangan/Jasa, mahasiswa, dan lapangan pekerjaan lainnya.

Menurut sesepuh warga Bukittinggi asal Aceh, Teungku Ali Basya, yang saat ini usianya sudah lebih 80 tahun, mulanya warga Bukittinggi asal Aceh bermukim di kota wisata ini semata untuk menuntut ilmu agama, khususnya di Pesantren Thawalib Parabek dan Canduang. Banyak santri-santri yang berdatangan ke pesantren-pesantren ternama ini dari berbagai daerah di pelosok Aceh. Sepulang dari menuntut ilmu banyak di antara mereka yang menjadi ulama, salah seorangnya almarhum Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh.

Seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, keindahan Kota Bukittinggi di mata santri-santri asal Aceh menyebar ke berbagai pelosok kampung halaman mereka.. Dari mulut ke mulut, banyak orang Aceh lainnya yang tertarik untuk datang ke kota ini. Maka selanjutnya terjadilah gelombang kedatangan warga asal Aceh yang tidak hanya menuntut ilmu agama di sejumlah pesantren di Bukittinggi dan sekitarnya, namun juga bermukim di kota ini dalam waktu lama, bahkan berasimilasi lewat perkawinan dengan penduduk pribumi.

Meski sejarah mencatat konflik berkepanjangan terjadi di Aceh, namun warga Bukittinggi asal Aceh yang tinggal di kota berhawa sejuk ini hidup dalam kondisi aman dan nyaman. Suasana ini tentu tidak didapatkan di kampung halaman yang di masa itu mereka sangat akrab dengan ledakan mesiu dan selongsong peluru. Tapi syukurlah, Aceh kini telah damai dan mampu bangkit dari ketertinggalan dan siap menjadi daerah terdepan di sektor pembangunannya.

Sebagai warga Bukittinggi yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) Bukittinggi, pada pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Walikota dan Wakil Walikota) Bukittinggi, warga asal Aceh juga turut serta berpartisipasi. Namun kemana pandangan politik warga Bukittinggi asal Aceh ini, tentu kembali kepada individu mereka masing-masing. Tidak ada intervensi organisasi keluarga Aceh (Ikatan Keluarga Aceh Taman Syiah Kuala) dalam hal satu ini. Yang pasti, warga Bukittinggi asal Aceh akan memilih calon walikota dan calon wakil walikota yang amanah, bertanggung jawab, jujur, dan mampu mensejahterakan masyarakat secara umum. Tidak memilah dan memilih kepentingan satu kelompok masyarakat saja, tetapi benar-benar menyamakan seluruh kepentingan warga Bukittinggi meski mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Memang, Bukittinggi menjadi “kota yang hidup” hari ini lantaran dihuni oleh berbagai macam suku di Indonesia. Semua hidup dalam suasana rukun dan damai. Warna kulit, ras, dan agama boleh berbeda, namun semangat toleransi, hormat menghormati, harus tetap terjaga, walau siapapun yang memimpin kota ini nanti. Selamat menyongsong Pilkada Bukittinggi. []