Jumat, 30 April 2010

Susah Jadi ‘Orang Susah'

Susah Jadi ‘Orang Susah'
Oleh: Muhammad Subhan

KATA orang susah, sangat susah jadi ‘orang susah’. Ya, jelas saja, semuanya serba susah. Tak punya rumah susah, anak banyak susah, utang berserak susah, anak tak sekolah susah, tak punya kerja susah. Lalu kesusahan demi kesusahan pun menghantui setiap hari.

Tapi salahkah orang susah menjadi susah hidupnya karena terhempas dari beratnya persaingan hidup? Kata pepatah, “bukan salah bunda mengandung”. Lalu, siapa yang disalahkan? Tuhan? Bukan! Jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Bisa ‘cilako’ awak!

Tuhan Maha Besar. Maha Bijaksana. Maha Pengasih dan Penyayang. Tak sedikit pun Tuhan ingin melihat hamba-hamba-Nya hidup di dalam kesusahan. Agama mengajarkan; “fiddun ya hasanah, wafil akhirati hasanah”. Kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lalu, siapa yang menyusahkan hidup orang susah? Kata seorang Buya dalam ceramahnya di masjid; diri ‘awak’ lah yang membuat ‘awak’ susah. Awak menyusahkan diri sendiri!.

Seorang jemaah protes, “baa model tu kaji Buya? Sia pulo yang ingin dirinyo susah? Tapi kesusahan tu bana yang tibo tanpa awak undang,” sanggah si jemaah.

Buya tersenyum. Lalu dengan bijaksana menjawab; beristighfarlah kita pada Allah. Bermohon ampunlah. Jangan sekali-kali kufur akan nikmat yang diberikan-Nya. Bersyukurlah.

Lalu Buya membaca ayat-ayat Alquran, surat Ar-Rahman. Ayat yang berulang-ulang. Artinya ditafsirkan Buya; ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’ Allah telah memberikan mata, telinga, tangan, kaki, namun manusia sering tidak menggunakan semua itu secara baik. Bahkan, karena lemah menghadapi kesusahan, banyak pula orang yang menjual harga diri; meminta-minta, jadi pengemis, bahkan melacur. Padahal, tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Memberi lebih baik dari menerima.

Panjang lebar Buya mengaji. Buya ingin menekankan pentingnya rasa syukur. Manusia jangan mudah kalah pada lika liku hidup. Semuanya proses yang harus dihadapi. Manusia harus berjuang.

Jemaah menekur. Mengangguk-angguk. Sebagian ‘takantuak-kantuak’.

Tapi itulah jadinya kalau awak kurang ‘tamakan kaji’. Ketika Buya ceramah di masjid semangat tiba-tiba bergairah kembali. Tapi ketika keluar masjid, kadang kalah lagi awak hadapi kesusahan hidup. Di masjid Buya kaji teori, di luar masjid awak menghadapi realitas hidup hari ini.

Di negeri ini siapa bilang tak ada orang susah. Di mana-mana orang pun sering mengaku hidupnya susah. Kalau tidak percaya, cobalah sekali-kali ‘tes’ awak meminjam ‘pitih’. Jawaban yang akan awak dengar, “Wah, lagi susah. Awak lagi butuh ini itu, segala macam. Susah, lah. Jangan sekarang pinjamnya. Lain waktu saja.” Begitulah kira-kira.

Gambaran orang susah yang sebenar susah pun dapat dilihat jika awak berjalan di kawasan pasar. Hitunglah berapa banyak peminta-minta di sana. Ada pengemis yang dipapah istrinya, dituntun anaknya. Ada yang mengemis sendiri dengan papan roda didudukinya. Ada pula yang berbaring. Ada yang setengah memaksa meminta sedekah. Wah, benar-benar pemandangan susah yang menyusahkan hati orang-orang yang melihatnya.

Konon kabarnya, orang-orang susah itu bukan orang kota. Datang dari kota-kota pinggiran. Datang pagi pulang sore. Begitu saban hari. Tapi kok teganya pemerintah membiarkan begitu terus. Katanya ada petugas yang menertibkan. Tapi kenapa orang-orang susah itu semakin banyak saja di lapangan. Siapa yang salah? Orang susah yang mencari hidup ke kota atau petugas yang setengah hati menertibkan mereka? Walah, serba susah juga.

Yang jelas, Kota Padang yang cantik ini bukan hanya untuk orang-orang yang senang saja hidupnya. Multi kehidupan ada di sini. Dan, alangkah indahnya dunia ini, jika orang-orang senang bermurah hati menyantuni yang susah, dan yang susah pun bersyukur akan nikmat yang didapatkannya dari pemberian orang-orang senang. Melalui pembinaan, pendidikan, kasih sayang, sehingga orang-orang susah itu tidak lagi meminta-minta di tengah kesusahannya. Wallahu a’llam. []

Kamis, 29 April 2010

BIMBANG

Muhammad Subhan

aku menatap harap dalam gelap
di kisi waktu yang membeku
bukan jiwa kehilangan rasa
hanya hati yang tak yakin diri

Padang Panjang, 2010

Rabu, 28 April 2010

Gempa Pemikiran

Oleh: Muhammad Subhan

TERBAKARNYA Ustano Basa Pagaruyung di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar, banyak orang mempredeksi sebagai awal bencana demi bencana yang terjadi di Sumbar. Sepekan paska kebakaran Ustano yang kini di polemikkan banyak pihak, gempa bumi berkekuatan 6,2 SR menguncang Sumbar.

Musibah yang tak diduga itu, mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia, ratusan luka-luka, ribuan rumah dan fasilitas umum rusak, tak terkecuali masjid dan musalla, roboh pula dihoyak gempa.

Ustano Pagaruyung terbakar pada Selasa (27/2/2007), dan gempa besar mengguncang Sumbar juga pada Selasa (6/3/2007). Bedanya, Ustano terbakar pada Selasa malam, sedangkan gempa terjadi pada Selasa siang. Saya tak dapat membayangkan jika gempa terjadi pada malam hari, ketika masyarakat lelap dalam mimpi, entah berapa nyawa pula yang melayang. Beryukurlah karena Tuhan masih sayang pada kita.

Sebelum Ustano terbakar, banyak orang tua di Pagaruyung kaget melihat ribuan lebah yang bersarang di bawah atap bagian depan Ustano menghilang. Pergi entah kemana. Peristiwa itupun menjadi pertanda bahwa akan ada musibah besar yang menimpa Tanah Datar, Sumbar umumnya.

Wartawan Kompas Yurnaldi jauh hari sebelum terbakarnya Ustano menulis tentang keberadaan lebah itu yang menarik perhatian pengunjung. Lebah yang akrab dan tak mengganggu orang-orang yang datang mengagumi keindahan Ustano. Bahkan, Puti Reno Raudha Thaib yang diwawancarai Yurnaldi mengatakan, jika lebah itu berpindah tempat akan ada pertanda buruk, ada bencana yang akan datang.

Wallahu a’llam. Tak ingin saya mengkait-kaitkan soal perginya lebah dan terjadinya kebakaran Ustano yang sepekan kemudian Sumbar dihoyak gempa. Namun, semua perestiwa yang terjadi itu, setidaknya mengingatkan kita bahwa bencana yang diturunkan Tuhan terkait erat dengan perbuatan manusia, hamba-hamba-Nya.

Gempa di Sumbar memang tak sedahsyat gempa 6,8 SR disusul tsunami yang terjadi di Aceh tiga tahun silam. Ratusan ribu nyawa manusia melayang di Aceh. Takjubnya, ribuan masjid yang dihoyak gempa dan dihantam tsunami tetap berdiri kokoh, utuh. Lalu masjid pun dijadikan tempat berlindung.

Di Sumbar, gempa tanpa tsunami telah merobohkan banyak masjid. Bahkan jemaah yang menunaikan salat di dalam masjid, nyaris di”impok” reruntuhan masjid. Beberapa hari lamanya, orang ‘tak berani’ mendatangi masjid.

Dan, paska gempa di Sumbar, timbul bencana baru yang lebih dahsyat; “gempa pemikiran” (istilah saya—red). Nyaris, hampir setiap hari, baik di media massa maupun di lapau-lapau, orang meributkan soal pembangunan kembali Ustano. Tampaknya Ustano lebih penting daripada Masjid Agung di Padang yang entah kapan pula mulai dibangun.

Yang lebih parah, “gempa pemikiran” itu sudah melangkahi norma-norma keintelektualan yang bermuara pada hujat-menghujat, caci memaki, dan fitnah memfitnah. Sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang ‘netral’ belum pula bersuara untuk menengahi.

Padahal, sebagai orang Minang, budaya duduk mufakat, “raso jo pareso, kato nan ampek, maluruihan nan kusuik”, sangat dijunjung tinggi. Begitupula, “mancaliak ka nan sudah”—musibah gempa yang terjadi—hendaknya menjadi bahan perenungan, bukan olok-olokan yang mengundang ‘gempa-gempa’ baru. Dan, kita berharap, dengan perenungan itu, berjayalah kembali “Minangkabau”! []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Harian Haluan, 28 Maret 2007)

SENJA DI DERMAGA

Muhammad Subhan

kulabuhkan rindu
pada dermaga berlaut biru
tapi tak kutemukan kata
di riaknya yang menawar cinta
angin berbisik
elang mengulik
sudah nampakkah tanah daratan itu?
entahlah
biduk kehilangan kayuh
sauh pun tak mampu menggapai dasar laut
kalut
jalan kehilangan arah
resah

Padangpanjang, 2010

Bukittinggi Pulih

Oleh: Muhammad Subhan

IBARAT sembuh dari sakit, Bukittinggi kembali pulih pascagempa 6,2 SR di Sumbar, Selasa (6/3/2007) lalu, yang ikut mengguncang kota wisata ini. Empat sektor unggulan yang menjadi andalan Bukittinggi, seperti pariwisata, perdagangan, pendidikan dan kesehatan, sempat terganggu dan membuat kota ini menjadi sorotan luas masyarakat luar Sumbar.

Di sektor pariwisata, meski sejumlah objek wisata rusak, seperti Lobang Japang dan Jenjang Seribu, demikian pula dengan beberapa hotel, namun tidak menyurutkan keinginan turis Malaysia untuk berkunjung ke kota Bukittinggi. Bahkan, negeri jiran itu bersimpati membantu meringankan beban korban gempa dengan memberikan sejumlah bantuan.

Di sektor pendidikan, aktivitas belajar mengajar kembali berjalan normal meski beberapa sekolah harus menggelar tenda di pekarangan sekolah akibat gedung mereka rusak dihoyak gempa. Siswa kelas tiga masing-masing tingkatan diimbau pula untuk meningkatkan jam belajar sehingga pada Ujian Nasional mendatang mendapatkan nilai terbaik.

Begitu pula di sektor perdagangan, sempat lumpuh akibat terbakarnya Pasar Wisata yang termasuk kawasan terpadat di Bukittinggi. Di beberapa pasar lainnya, para pedagang telah mulai membuka toko mereka. Suasana yang menggembirakan, terlihat di Pasar Bawah dan Pasar Aur Kuning yang sangat ramai dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Apalagi, suasana pasar disemarakkan pula dengan banyaknya PKL yang menggelar dagangan.

Di sektor kesehatan, meski soal darah dan keterbatasan pen (besi) untuk korban patah tulang masih dipermasalahkan, namun setidaknya pasien tak lagi terlihat di pekarangan maupun di jalan-jalan depan rumah sakit. Pasien sudah dimasukkan kembali ke bilik-bilik rumah sakit yang bersih dan nyaman. Namun, untuk kesiagaan, seperti di RSAM dan RS Yarsi, tenda-tenda darurat masih dibentang.

Gempa memang dahsyat. Warga sangat trauma dengan bencana yang sebenarnya merupakan dampak informasi pada peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam. Tapi, untunglah di Sumbar tidak ada tsunami dan bangunan rusak akibat gempa tidak terlalu memprihatinkan seperti halnya Aceh.

Di Bukittinggi, yang sangat fenomenal dari bencana ini, adalah ketika RAPBD Kota Bukittinggi akan disahkan. Berawal dari beberapa masukan dari fraksi-fraksi di DPRD dan menit-menit menjelang ‘ketuk palu’, ketika itu pula gempa menghoyak kota wisata ini. Mungkin, secara tersirat, Tuhan cuma mau bilang, “jangan main-main sama uang rakyat”.

Wallahu a’llam, hanya Dia yang tahu. Namun yang jelas, banyak hikmah yang terkandung dari bencana yang Tuhan berikan. Meski kadangkala, dalam memberi hikmah itu, ada yang menjadi korban adapula yang membantu korban.

Tapi itulah realita kehidupan. Mungkin, selama ini yang kuat (pemimpin) lupa pada yang lemah (rakyat). Atau pula kezaliman dan kemaksiatan makin pula merajalela. Dan, janji Tuhan dalam kitab-Nya, ada ujian bagi yang beriman, petaka bagi yang ‘melawan’.

Bersyukurlah kita, dalam hitungan hari, Bukittinggi kembali berbenah. Bangkit dari ‘sakit’. Menatap masa depan. Dan, kembali berbuat yang terbaik untuk masyarakat kota ini.

Di sela-sela semangat itu, terdengar sayup-sayup doa dari bibir warga-warga di pengungsian. Mereka yang kedinginan di kala malam, kepanasan pula di kala siang. “Tuhan, ringankan langkah pemimpin kami, luaskan rezekinya, dan jadikan ia pemimpin yang sayang pada kami…”. []

Bencana dan Angka

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sebenarnya tidak begitu percaya pada angka-angka. Tapi ternyata, hidup ini juga penuh dengan angka-angka. Ibarat Matematika pula kata orang. Penuh misteri.

Begitupula soal bencana yang akhir-akhir ini beruntun menimpa tanah air. Tak hanya sekali dua kali. Sudah berkali-kali pula. Berulang. Berbilang dan selalu banyak nyawa melayang.

Anehnya, soal angka tadi, dari satu tragedi dengan tragedi lainnya, angka pada tanggal, bulan dan tahunnya, hampir ada pula kemiripan. Begitupula dengan bilangan-bilangan lainnya terkait bencana itu sendiri. Entahlah, apa bisa pula dikait-kaitkan, mana tahulah awak.

Dan, tiada niat hendak mendahului Tuhan atau ingin pula seperti ahli Astrologi berbicara soal tragedi dan angka-angka ini. Tapi, setidaknya beberapa fakta bencana di tanah air berikut ini, sedikit banyak terkait pula soal angka-angka.

Sebagai contoh, pada tanggal 1 bulan 1, pesawat Adam Air dan KM Senopati kecelakaan. Satu lawan satu, meski satu di udara dan satu di laut. Semua penumpang Adam Air belum ditemukan dan begitu pula sebagian penumpang KM Senopati juga belum ada kabar beritanya.

Tanggal 2 bulan 2, banjir hebat melanda Jakarta dan beberapa kota lainnya. Sekitar 70 nyawa melayang. Puluhan triliun untuk nilai infrastruktur yang rusak.

Begitupula, tanggal 3 bulan 3, KM Levina I juga merenggut nyawa manusia. Tak hanya penumpang, tapi juga wartawan yang meliput ke TKP. Dan, pada tanggal itu pula galodo terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Masih ada lagi, tanggal 7 bulan 3 tahun 2007 (7-3-07), pesawat Garuda Boeing “737” kecelakaan dan menewaskan 21 orang. Garuda terbakar pada jarak 400 meter dari landasan. Lagi-lagi tragedi pesawat udara.

Dan sehari sebelumnya, tanggal 6 bulan 3, gempa bumi berkekuatan 6,3 menghoyak Sumatra Barat. Sedikitnya 73 korban meninggal dunia. Ribuan rumah, gedung perkantoran, masjid, sekolah, rusak parah. Ranah Minang berduka.

Sekilas diperhatikan semua angka-angka itu, ada angka kembar dan punya kecocokan. Dan, semuanya terjadi pula setiap bulannya. Tak tahu kita, apapula bencana pada bulan 4 mendatang. Semoga saja tidak ada lagi bencana yang selalu menghadirkan air mata.

Namun yang jelas, sebagai umat beriman, hendaknya Tuhan kembali kita hadirkan di masing-masing hati kita. Sebab, bencana bukan hanya karena ada “niat” alam bosan bersahabat dengan manusia, tapi juga karena ada “kesempatan” kita melupakan Tuhan. Waspadalah, waspadalah!

Ya, agar jangan ada lagi angka-angka yang dikait-kaitkan dengan bencana. Bisa syirik kita. Semoga, selalu damailah dunia… Wallahu a’llam. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 15 Maret 2007)

Bus Khusus Perempuan

Oleh: Muhammad Subhan

PEKANBARU bukan kota yang menerapkan Syariat Islam. Namun, apa yang dilakukan pemerintah kota itu dengan meresmikan pemakaian bus kota khusus perempuan (Antara, 17 Februari 2007), nampaknya perlu ditiru oleh daerah-daerah yang menjalankan Qanun Syariat Islam. Bahkan setahu saya, Nanggroe Aceh Darussalam yang telah memulai Syariat Islam, bus kota di daerah itu belum ada pemisahan tempat duduk antara laki-laki dan perempuan, apalagi mengkhususkan untuk laki-laki atau perempuan.

Pekanbaru setidaknya memulai alaf baru bagi dunia transportasinya. Ide mengadakan bus khusus perempuan itu, mengingat ‘nasib’ kaum hawa yang sering menjadi sasaran empuk kejahatan di dalam bus, seperti objek pelaku kriminal dan tindak pelecehan seksual.

Begitupun, pemakai bus umumnya adalah para wanita produktif dari kelas ekonomi bawah. Karena penumpang angkutan umum itu adalah perempuan semua, maka pemerintah kota itupun harus melengkapi bus khusus perempuan dengan fasilitas alarm serta menempelkan nomor-nomor penting kepolisian.

Keberadaan bus khusus perempuan ini tentu saja pertama ada di Indonesia. Karena khusus bagi perempuan, jelas saja kaum lelaki ‘dilarang’ naik--meski sopir dan kondekturnya masih laki-laki. Namun, pemerintah setempat juga berencana membuka lowongan sopir dan kondektur dari kaum hawa. Weleh!

Kehadiran bus kota tersebut juga dengan sendirinya memberikan kenyamanan dan keamanan bagi kaum perempuan di Pekanbaru yang banyak bekerja di luar rumah untuk berbagai keperluan.

Sampai saat ini, jumlah bus khusus itu masih terbatas. Baru 5 unit dan melayani rute yang jarang dilalui angkutan umum. Dan, setiap penumpang yang mempergunakan bus kota itu dikenai ongkos Rp2.000 per orang atau sama dengan tarif bus kota lainnya.

Dengan adanya bus itu, jelas saja kaum perempuan di Pekanbaru tidak ragu lagi keluar rumah, meski kejahatan tidak saja ada di dalam bus kota. Tapi setidaknya, kaum perempuan di sana merasa lebih leluasa karena di dalam bus itu hanya ada kaumnya.

Di Sumatra Barat, Kota Padang khususnya, keadaan bus kota sangat memprihatinkan. Jangankan mengadakan bus khusus perempuan, menata bus kota atau angkot saja Pemerintah Kota Padang sering kewalahan. Maka, keluhan penumpang di Kota Padang tidak lain; suara musik keras yang memekakkan gendang telinga, sopir ugal-ugalan dan kebut-kebutan, serta dinding bus atau angkot menggunakan kaca film sehingga memberi peluang bagi ‘anak bola’ untuk mencopet.

Beberapa kali teman-teman saya di Padang ‘dikompas’ di atas bus kota. Bahkan yang sangat berbahaya, oknum preman dalam bus kota membawa pisau lipat. Mereka tak pandang korban laki-laki atau perempuan. Semua disikat!

Sewajarnya, saya kira, ide bernas Pemerintah Kota Pekanbaru itu pantas pula ditiru Pemko Padang serta kota-kota lainnya di Sumbar. Memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan, mencerminkan juga budaya keislaman yang bermuara pada kenyamanan penumpang. []

(Dimuat di Kolom Refleksi Koran Haluan, 22 Februari 2007)

Menata yang ‘Ketek’

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA sepakat komentar Bung Kasra Scorpi yang menulis di kolom ini dua hari lalu bahwa orang-orang ‘ketek’ (Pedagang Kaki Lima—red), jangan digusur melainkan diatur. Sebab, keberadaan orang-orang ‘ketek’ itu sedikit banyak ikut pula berjasa bagi kemajuan Bukittinggi sebagai kota tujuan wisata di Sumatra Barat.

Dan, PKL yang orang ‘ketek’ itu, di kota manapun keberadaan mereka tak dapat dipungkiri. Di kawasan Tanah Abang Jakarta, Pasar Tembung Medan maupun di kawasan Malioboro Yogjakarta, banyak pula PKL yang berasal dari Minang dan sebagian besarnya orang Bukittinggi. Di sana, PKL diatur karena siapapun berhak mencari nafkah di bumi Allah ini.

Kalau di negeri orang PKL asal negeri kita diatur, kenapa pula PKL yang mencari nafkah di negeri sendiri digusur? Ini ironis kiranya. Bahkan, saya menemukan beberapa PKL paska Operasi Yustisi yang tertekan dan stres akibat gerobak atau barang dagangan mereka disita petugas. Belum lagi yang tertangkap dan nyata-nyata dianggap melanggar Perda. Mereka diminta membayar denda pula yang bagi mereka tidak kecil jumlahnya.

Saya termasuk yang tidak berharap persoalan orang-orang ‘ketek’ terangkat menjadi persoalan besar. Sebab, tak seorang pun dari warga kota ini—dan, siapapun kita—yang dulunya tiba-tiba menjadi orang besar (sukses, hebat, lebih baik, kaya, dll) tanpa lebih dulu menjalani masa-masa sulit yang sedang dihadapi orang-orang ‘ketek’ hari ini.

Wakil Walikota Bukittinggi H. Ismet Amzis sendiri kepada saya mengatakan bahwa beliau juga berasal dari keluarga ‘ketek’. Orang tua beliau adalah pedagang ‘ketek’ di kawasan Pasar Aur Kuning. Tentunya, saya kira, sebagai salah seorang pimpinan di pemerintahan kota yang berlatarbelakang keluarga orang ‘ketek’, Pak Wawa—demikian beliau akrab disapa—sangat peka terhadap nasib orang-orang ‘ketek’ lainnya. Apalagi Pak Walikota yang konon sosoknya sangat bijaksana dan berwibawa.

Menumpahkan kesalahan sepenuhnya kepada pemerintah kota, saya kira tak adil pula. Sebab, sudah tugas dan tanggung jawab pemerintah kota menata kotanya menjadi kota yang baik, tertib, aman, dan nyaman. Tujuannya, tidak lain untuk ketentraman warga juga. Karena sesungguhnya, penegakan aturan adalah wujud kewibawaan dan harga diri pemerintah, dimanapun ia diamanahkan untuk menerapkan aturan.

Dan, pemerintah Kota Bukittinggi telah menyatakan pula bahwa tak ada niat Pemko hendak ‘mematikan’ usaha PKL (Haluan, 9 Februari 2007). Namun, Pemko Bukittinggi saat ini seolah memakan buah simalakama. Satu sisi, PKL adalah juga warga kota (dan daerah sekitarnya—red) yang harus sejahtera, di sisi lain aktivitas PKL yang memakai fasilitas umum sebagai tempat berjualan semakin tidak bisa ditolelir. Maka itu Operasi Yustisi digelar.

Bayangkan, kata Pemko, pertumbuhan PKL di Bukittinggi tidak saja terjadi setiap bulan melainkan sudah tiap hari. Tak salah kalau pasar-pasar di Bukittinggi dan sejumlah kawasan umum lainnya ‘dipenuhsesaki’ PKL. Jalan sering macet, sampah berserak, gerak pejalan kaki terhambat, sehingga menimbulkan berbagai efek negatif lainnya.

Menyaksikan semua fenomena itu, menurut hemat saya, sudah sewajarnyalah pemerintah kota mengeluarkan kebijakan menata PKL—bukan menggusur. Ide memeratakan wilayah dagang PKL tak salah kiranya diterapkan. Tentu, pemerintah kota bekerjasama dengan Assosiasi PKL dan instansi terkait lainnya harus memiliki data berapa jumlah PKL di kota ini. Adanya izin berdagang, penyebaran wilayah dagang ke lokasi-lokasi yang tidak terlalu padat, serta membatasi jumlah PKL baru, sudah mendesak dilakukan. Tentunya, tetap melalui jalur musyawarah mufakat, mengkaji untung rugi, baik buruk, dan jangan sampai ada yang terzalimi.

Memang, persoalan nasib orang-orang ‘ketek’ selalu ada di mana saja. Mereka butuh ‘pembinaan’, bukan ‘pembinasaan’. Mereka butuh ‘perhatian, bukan ‘hardikan’. Dan, mereka butuh ‘cinta kasih’, bukan ‘pilih-pilih kasih’. ***

(Kolom Detak Jam Gadang Koran Haluan, 10 Februari 2007)

Senin, 26 April 2010

Waspada Demam Berdarah

Oleh: Muhammad Subhan

SAYA kaget ketika seekor nyamuk hinggap dan hendak menggigit lengan saya, sore kemarin. Ukuran tubuh nyamuk itu lebih besar dibanding nyamuk-nyamuk ‘usil’ lainnya yang berukuran kecil dan memang sudah sering ‘langganan’ menggigit tatkala saya nyenyak tidur.

Sekilas saya amati, tubuh nyamuk itu agak ‘seksi’, berwarna hitam dan belang-belang putih. Tiba-tiba saya ingat kata guru SD saya dulu bahwa itu adalah ciri nyamuk Aedes Aegypti, istilah lain nyamuk Demam Berdarah yang membawa virus Dengue yang berbahaya.
Spontan, nyamuk itu saya tepis. Tidak saya bunuh—karena kebetulan saya punya rasa ‘kepribinatangan’ sedikit. Terbanglah nyamuk itu, dan entah hinggap ke tubuh siapa lagi.

Namun, sejenak saya merenung, Padang Panjang yang kotanya bersih dan sesejuk ini kok masih ada nyamuk Demam Berdarah? Biasanya, daerah-daerah tropis dan bertemperatur udara tinggilah yang lebih berpotensi nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) hidup dan berkembang biak.

Saya memang belum sempat mencari data berapa kasus DBD di Dinas Kesehatan setempat. Namun, DBD sejak tahun-tahun sebelumnya sudah diurutkan pemerintah sebagai kasus Kejadian Luar Biasa (KLB). Ya, sebab angka penderitanya benar-benar luar biasa! Ribuan kasus dilaporkan terjadi di 14 provinsi. Dari jumlah itu, 75 di antaranya berujung maut.

Sebenarnya, kenapa DBD diurutkan menjadi penyakit dengan kategori KLB? Secara etiologi, DBD adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus. Jika terserang virus itu, maka akan terjadi gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah sehingga mengakibatkan perdarahan yang juga menimbulkan kematian. Karena menggangu pembuluh darah, terjadi pula perdarahan-perdarahan.

Pembawa virus itu, nyamuk Aedes Aegypti, tidak dapat berkembang biak di selokan/got atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah. Nyamuk ini biasanya pula menggigit manusia pada pagi atau sore hari.

Namun, Aedes Aegypti dapat berkembang biak di tempat penampungan air dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang, seperti: bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, ban bekas, kaleng minuman, dll.

Gejala penyakit ini, biasanya penderita mendadak panas tinggi selama 2-7 hari, tampak lemah lesu, suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih. Selain itu, juga tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. Kadang pula terjadi perdarahan di hidung (mimisan) dan memungkinkan terjadi muntah darah atau berak darah.

Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, berkeringat, perdarahan selaput lendir mukosa, alat cerna gastrointestinal, tempat suntikan atau di tempat lainnya. Kalau tak bisa juga disembuhkan, maka ajal tak segan-segan menjemput.

Karena berujung pada kematian itulah pemerintah mengkategorikan penyakit ini sebagai KLB. Pada setiap kesempatan, pemerintah melalui Dinas Kesehatan mengimbau, bila masyarakat menjumpai anggota keluarga atau tetangga di lingkungannya menderita DBD, segera dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan trombosit.

Mencegah memang lebih mudah dari mengobati. Istilah 3M; Menguras, Menutup, Mengubur barang bekas yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk, adalah cara efektif untuk pencegahan.

Sebab, DBD tak pandang nyamuk ini berdomisili di mana; Padang Panjang, Medan, Jakarta, Irian Jaya, atau Bukittinggi sekalipun, si nyamuk akan tetap mencari mangsa. Mungkin sudah itu pula tugas yang diberikan Tuhan kepadanya.

Namun yang terpenting, saya kira, DBD bukan saja terjadi karena ada ‘niat’ si nyamuk hinggap di tubuh manusia, tapi juga karena ada ‘kesempatan’ binatang kecil itu menggigit. Karena itu, waspadalah, waspadalah! []

Menatap Poso dari Sumbar

Catatan: Muhammad Subhan

PERTEMUAN di Malino pada akhir Desember 2001 yang kemudian menghasilkan Deklarasi Malino, sebenarnya, merupakan upaya rekonsiliasi yang dilakukan pemerintah untuk kelompok yang bertikai guna menciptakan Poso yang aman dan damai. Namun, tampaknya, beberapa pekan terakhir, Poso kembali bergejolak.

Gejolak itu, mengingatkan kita bahwa lebih dari 7 tahun Poso terus dilanda konflik. Perundingan dan kesepakatan damai pun terus dilakukan pemerintah. Namun, keadaan baik yang selama ini dicita-citakan rakyat Poso, nampaknya tak kunjung diraih.

Konflik itu berawal dari penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Antiteror terhadap 29 DPO (Daftar Pencarian Orang) yang diduga sebagai penyebab terjadinya kerusuhan Poso. Siapa kira, penggerebekan itu akhirnya berbuntut panjang dan awal pangkal bala.

Sejak peristiwa itu, rakyat Poso selalu dicekam ketakutan yang tiada henti. Yang menyedihkan, rakyat sipil selalu menjadi korban. Dan, konflik dimanapun, konon pula di Aceh dulu, korban rakyat sipil selalu berada dalam daftar panjang deretan para korban.

Sudah seharusnya, penyelesaian Poso ditindaklanjuti secara cepat dan tepat waktu. Masyarakat Poso saat ini dilanda kecemasan, sebab nyawa mereka ikut terancam.

Pemerintah, saya kira, dan juga pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab memulihkan Poso kembali, diharapkan kesungguhan dan keseriusannya. Bukan sekedar klise dan retorika. Pemerintah ditantang untuk menciptakan Poso yang aman dan damai. Harga diri pemerintah, sudah tentu, dipertaruhkan untuk keamanan Poso.

Begitu pula, tokoh masyarakat maupun tokoh agama di Poso hendaknya meningkatkan komunikasi dan memberikan pengertian antara kelompok-kelompok yang bertikai. Sebab, penyelesaikan Poso tidak harus selalu mengedepankan otot dan senjata, tapi juga nurani dan akal sehat.

Meski konflik Poso telah mengarah pada konflik SARA, namun, budaya komunikasi meski terus diupayakan. Masyarakat harus bisa saling menerima segala perbedaan; keragaman suku, budaya maupun agama yang ada.

Menurut saya, penyelesaian persoalan Poso bukan hanya sekedar melakukan perundingan atau negosiasi. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana pemerintah hadir sepanjang waktu untuk memberi kedamaian bagi rakyat Poso.

Secara historis, memang, tak ada kaitan Poso dengan Sumbar. Namun, secara geografis, Poso dan Sumbar sama-sama berada di antara pulau-pulau yang menghiasi bumi Khatulistiwa. Begitu pula, sejujurnya, masyarakat Negeri Minang ini, merindukan kedamaian itu kembali ada di Poso. Dan, semoga, negeri ini akan selalu damai, selamanya. []

(Catatan Dibuang Sayang, dimuat di Haluan, kolom Refleksi, 4 Februari 2007)

Bahaya SUTET

Oleh: Muhammad Subhan

PROTES warga Kenagarian Gadut, Tilatang, Kabupaten Agam, tentang rencana PLN membangun jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di daerah mereka, saya kira perlu disikapi secara bijaksana. Pertanyaan sederhana, mungkin, apa keuntungan keberadaan SUTET bagi warga dan apa pula dampak yang akan ditimbulkannya?

Apalagi, konon kabarnya, pemasangan pancang-pancang rencana jaringan SUTET itu, tidak pula sepengetahuan warga. Berdasarkan laporan wartawan koran ini, setidaknya ada sekitar 15 tonggak pancang telah dipasang dengan kode ‘PLN BKT’ di beberapa jorong di Kenagarian Gadut (Haluan, 31 Januari 2007).

Keberadaan tonggak-tonggak pancang itu, tak seorang warga atau pejabat jorong setempat tahu siapa yang memancang. Akibatnya, beberapa warga merusak tonggak-tonggak yang dipancang itu. Warga cemas, jika benar daerah mereka dijadikan lokasi pemasangan jaringan SUTET, kesehatan warga merasa terancam.

Meski belum bisa dipastikan secara ilmiah bahaya dari SUTET, namun sebenarnya, ada sederetan bahaya serius yang mengintai bagi warga sekitar. Dari beragam kajian medis yang saya rangkum, ada pro dan kontra ihwal imbas negatif SUTET terhadap kesehatan manusia.

Studi yang dilakukan Wertheimer dan Leeper (1979) di AS, digambarkan adanya hubungan kenaikan risiko kematian akibat kanker pada anak dengan jarak tempat tinggal yang dekat jaringan transmisi listrik tegangan tinggi. Tapi, studi ini dikoreksi oleh ilmuwan lain, yakni Savitz dan Fulton yang justru menyatakan tidak ada hubungan antara tempat tinggal yang berdekatan dengan SUTET terhadap risiko kematian.

SUTET merupakan saluran atau hantaran udara untuk mentransmisikan daya elektrik pada tegangan 500.000 volt atau 500 kilo volt (kv). Tegangan setinggi ini diperlukan untuk menekan susut daya dan susut tegangan di saluran transmisi yang panjang.

Tegangan ekstra tinggi banyak dipakai di Eropa dan Asia . Tegangan ultra tinggi, 765 kv dan 1.100 kv dipakai di Amerika dan Rusia. Pada tegangan yang sangat tinggi ini, saluran udara dipilih karena biaya konstruksinya jauh lebih murah dibanding bila menggunakan kabel bawah tanah.

Bahaya elektrik pertama yang harus dihindari adalah sentuhan atau sengatan listrik. Tingkatan bahaya akibat sengat elektrik sebanding dengan besarnya arus yang mengalir melalui tubuh manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus sengat baru akan terasa jika besarnya lebih dari 1 ma atau seperseribu Ampere.

Bahaya kedua adalah panas dan daya ledak SUTET saat terjadi hubungan singkat akibat kecelakaan atau kerusakan alat. Karena tegangannya sangat tinggi, arus yang sangat besar akan mengalir jika SUTET mengalami hubungan singkat.

Bahaya lain, adanya risiko tegangan bocor yang mungkin saja terjadi. Pada 1970-an di Kanada, Amerika dan Australia , sempat heboh adanya tegangan bocor dan pengaruhnya pada hewan ternak. Di sepanjang saluran transmisi terdapat konduktansi dan kapasitansi bocor. Arus mengalir melalui kapasitansi bocor dan kembali melalui tanah. Studi tentang tegangan bocor sampai hari ini belum pernah dilakukan di Indonesia .

Protes warga Gadut itu, membuktikan bahwa warga sudah cerdas dengan bahaya yang akan ditimbulkan SUTET. Jikapun rencana itu dilaksanakan juga, pejabat terkait, PLN khususnya, mesti melakukan sosialisasi, duduk mufakat dengan warga, sehingga tidak terjadi benturan-benturan yang tak diinginkan dikemudian hari. Bak pepatah Minang pula, “mengurai benang dalam tepung”. Benang tak putus, tepung pun tak berserak pula. []

(Dimuat di Haluan kolom Detak Jam Gadang Bukittinggi, 1 Februari 2007)

Memanusiakan Manusia

Oleh: Muhammad Subhan

ENTAH di mana, suatu kali saya pernah membaca sebuah tulisan seorang filsuf. Katanya, ‘kematian seribu orang adalah statistik, sedangkan kematian satu orang adalah tragedi’.

Sebuah ungkapan yang menarik saya kira. Kalimat itu tiba-tiba saya ingat ketika kematian seorang lelaki berusia 41 tahun dan dianggap ‘tidak waras’ saya baca di koran. Tidak headline memang, tapi berita itu begitu menggugah. Hampir setiap tempat yang saya kunjungi kemarin, orang-orang pun membincangkan soal itu.

Syahdan, disebutkan lelaki itu mulanya diantarkan orang ke Padang Hijau, Gadut. Tak jelas di mana pula lelaki yang dianggap berpanyakit gangguan jiwa itu ditemukan. Warga Padang Hijau resah, diantar pula lelaki itu ke Mapolresta Bukittinggi.

Nasib baik, memang, kadangkala jarang berpihak pada orang-orang susah. Di Mapolres, lelaki itu ‘diopor’ pula ke Kantor Dinas Sosial setempat. Mungkin, soal penanganan orang-orang terlantar, Dinas Sosial-lah yang bertanggung jawab.

Untung tak dapat diraih, rugi tak pula dapat di tolak. Mungkin sudah takdir, lelaki itu menghembuskan nafasnya di Kantor Dinas Sosial, tempatnya terakhir ‘diopor-opor’ orang. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.

Oleh Dinas Sosial, jenazah lelaki malang itu diantar pula ke RSAM Bukittinggi. Tiga hari lamanya, jenazah lelaki itu membisu dalam hening dan dinginnya kamar jenazah RSAM Bukittinggi.

Kemarin, pihak keluarga dari mayat lelaki di RSAM yang kemudian diketahui bernama Khairulman alias Buyung, datang menjemput jenazahnya. Almarhum Khairulman dibawa pulang ke kampung halamannya di Padang Pariaman. Tak ada pengibaran bendera setengah tiang, karena lelaki itu ‘bukan siapa-siapa’.

Konon pula, usut punya usut, ternyata Khairulman adalah mantan fotografer amatir di Taman Margasatwa Kinantan. Hampir semua teman seprofesinya kenal dengan ‘lelaki baik itu’. Hanya saja, konon pula ia kehilangan kamera sehingga tak bisa lagi bekerja. Malang menimpa, penyakit ayan hinggap pula di tubuhnya.

Sampai kini, belum ada yang bertanggung jawab atas kematian lelaki malang itu. Konon, pihak kepolisian akan memintai keterangan beberapa saksi terkait kematian orang yang telah lama menjadi warga kota ini.

Susah memang menjadi ‘orang susah’. Apalagi, sampai dianggap orang tidak waras. Kematian yang menimpa almarhum Khairulman, mantan tukang ‘kodak-kodak’ itu, adalah sebuah ‘tragedi’ yang memilukan.

Di kota manapun di negeri ini, saya lihat, penanganan terhadap orang-orang terlantar, anak jalanan, fakir miskin, apalagi orang tidak waras, begitu sangat lemah. Kadang pula, saya malu membaca Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 ayat 1 yang menyebutkan, ‘fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara’. Kenyataannya, semua ‘orang-orang susah’ itu seringkali terlantar dan ‘tak terpelihara oleh negara’.

Di Bukittinggi, pemerintah kotanya, saya kira, turut pula bertanggung jawab atas tragedi kematian lelaki malang itu. Lemahnya penanganan Dinas Sosial terhadap orang-orang terlantar, membuat kota ini, mau tidak mau, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ‘orang-orang terlantar’ akan terus bertambah setiap hari. Dan, mereka akan menjadi ‘pemandangan’ baru kota yang sangat ‘cantik’ ini.

Jika mau jujur, kadangkala, sulit kita ‘memanusiakan manusia’. Dan, sulit pula kita tidak menyusahkan ‘orang susah’. Padahal, sesungguhnya, orang yang kita anggap susah dan terlantar itu, adalah juga manusia. []

(Dimuat di Haluan, kolom Detak Jam Gadang Bukittinggi, 25 januari 2007)

CATATAN TIGA HARI DI SEMEULUE: Dari Diskusi Jurnalistik Hingga Kagumi Pantai Babang yang Eksotik



Oleh: Muhammad Subhan

BANDARA Lasikin Pulau Simeulue masih basah ketika pesawat penumpang Susi Air berukuran kecil mendarat di landasannya Jumat, 16 April 2010, pagi itu. Jam baru menunjukkan pukul 7.45 WIB. Belum tampak aktivitas yang terlalu mencolok. Hanya beberapa petugas bandara dan penyambut tamu terlihat di ruang tunggu.

Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di Pulau Simeulue, Provinsi Aceh setelah sekian lama kerinduan itu membuncah dalam jiwa saya. Selama ini Simeulue hanya ada dalam mimpi-mimpi saya. Dan alhamdulillah mimpi itu terwujud setelah Pemimpin Redaksi Surat Kabar Simeulue (SKS) Awaluddin Kahar mengundang saya secara pribadi dalam rangka memberikan pelatihan jurnalistik sebagai upaya meningkatkan SDM karyawan dan wartawan SKS yang ia pimpin. Selain didampingi Bang Awkar–demikian saya akrab menyapa Awaluddin Kahar—ikut pula bersama kami Sekretaris Redaksi SKS Joni Kusma, putra Simeulue yang selama ini beraktivitas di Padang, Sumatera Barat.

Dari dalam pesawat ketika masih di udara, aura eksotisnya Pulau Simeulue telah terlihat. Mengenangkan saya pada Pulau Bali yang beberapa kali pernah saya singgahi. Sama-sama memiliki keindahan alam yang luar biasa. Hanya saja bedanya Bali telah berkembang pesat di sektor pariwisata dan mendatangkan banyak wisatawan, sedangkan Simeulue baru bangkit mengejar ketertinggalannya. Simeulue baru 10 tahun menjadi kabupaten definitif, bagian dari Provinsi Aceh. Tak mustahil kalau beberapa puluh tahun kemudian Simeulue bisa menjadi “Pulau Bali”nya Sumatera.

Tentu saja itu tidak sekedar mimpi. Simeulue memiliki potensi yang layak dikembangkan di sektor pariwisata. Keindahan pantai berbatu karang (pantai Babang), sebagian pantai berpasir putih dan landai (khususnya di Teupah Selatan), kekayaan laut baik lobster, ikan, maupun terumbu karang, serta kemajemukan budaya lokalnya, menjadikan Simeulue bernilai “layak jual”.

Semua potensi itulah yang kiranya menjadi jawaban atas pertanyaan saya selama ini, mengapa sosok Awaluddin Kahar berminat “pulang kampung” lalu membangun media di sebuah kabupaten yang masih muda. Rupanya, tekad pengabdian itu yang menggerakkan hati mantan wartawan Harian Singgalang Padang ini untuk ikut bersama pemerintah daerah mencerdaskan kehidupan masyarakat Simeulue agar melek media dan menggalakkan budaya membaca-menulis di kalangan generasi muda. Tentu saja, daerah-daerah yang berkembang pesat pembangunannya di luar Simeulue, adalah daerah yang masyarakatnya adiksi buku, suka membaca dan menulis.

Upaya mencerdaskan masyarakat lewat media massa ini pula yang mendasari saya tertarik berbagi pengalaman dengan kru SKS selama dua hari, sejak Jumat, 16 April 2010 hingga Sabtu, 17 April 2010, di kantor SKS Jalan Teungku Diujung, Desa Amiria Bahagia, Kota Sinabang. Disinilah saya bertemu langsung dengan wartawan-wartawan SKS yang sebagian besar berusia relatif muda namun punya potensi luar biasa menjadi jurnalis profesional.

Meski baru pertama kali ke Simeulue, namun saya tidak asing dengan kawan-kawan wartawan SKS, sebab sejak 2009 saya diamanahkan Pemred SKS Awaluddin Kahar menjadi editor “jarak jauh” koran ini. Dari Kota Padang Panjang, Sumatra Barat tempat saya tinggal, saya selalu memonitor perkembangan Simeulue melalui berita yang ditulis kawan-kawan. Tiga nama yang cukup saya kenal lantaran produktivitas mereka menulis adalah Tarmizi, Asmadi MS dan Sumadi. Di Simeulue itu saya bersua langsung dengan mereka. Membaca masing-masing karakter, serta berbagi pengalaman di bidang penulisan. Selain mereka, juga ada beberapa wartawan baru dan bagian distribusi/iklan, salah seorangnya Roni Aminesta yang selama di Padang saya cukup dekat dengannya.

Di antara wartawan SKS hanya Tarmizi yang terbilang senior karena ia juga bekerja sebagai koresponden salah satu koran harian terbitan Medan. Di SKS jabatannya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Tulisannya cukup baik dan sering diangkat menjadi berita utama (headline). Yang paling produktif adalah Asmadi MS, wartawan muda yang energik. Hanya saja dari segi penulisan berita yang ditulisnya masih perlu terus diasah, baik tata bahasa, ejaan, penggunaan kata serapan, maupun efektivitas kata dalam sebuah berita. Namun demikian, Asmadi seringkali menjadi “dewa penyelamat” ketika berita yang akan dilayout jumlahnya kurang. Asmadi inilah yang sering berkoordinasi dengan saya khususnya via telepon seluler. Tentu saja karena jabatannya cukup strategis, yaitu sebagai Koordinator Liputan (Korlip) yang membawahi tugas wartawan SKS lainnya.

Satu lagi wartawan SKS, namanya Sumadi. Oleh kawan-kawannya sering disapa dengan sebutan “Pak Keuchik”. Perawakannya tinggi besar. Murah senyum dan suka bercanda. Meski dalam menulis berita ia mengakui masih perlu banyak belajar, namun saya menilai Sumadi punya bakat jadi wartawan. Satu dua berita featurenya telah dimuat SKS, dan perlahan ia mulai memahami teknik penulisan feature. Yang mengagumkan saya, Sumadi tidak sungkan-sungkan bertanya jika ia benar-benar tidak tahu tentang suatu persoalan.

Selama dua hari itu saya konsentrasi memberikan materi pendalaman jurnalistik, masing-masingnya Teknik Menulis Berita, Kiat Wawancara, Teknik Menulis Feature, dan Foto Jurnalistik. Selain saya, materi juga diberikan Pemred SKS, Awaluddin Kahar, khususnya tentang manajemen media sekaligus memberikan motivasi kepada karyawan dan wartawan SKS agar lebih profesional bekerja.

“SKS ini perusahaan kita bersama. Untuk itu harus sama-sama kita hidupi, dengan bekerja bersungguh-sungguh,” ujarnya mengingatkan.

Dalam materi Teknik Menulis Berita saya menekankan pentingnya memasukkan unsur 5W + 1H (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, bagaimana). Unsur ini sangat urgen untuk mengetahui fakta dan data sebuah berita. Bagi wartawan pemula seringkali rumus ini tak diindahkan yang mengakibatkan berita menjadi kering data.

Pada materi Kiat Wawancara, kawan-kawan diarahkan untuk memahami teknik melakukan wawancara yang baik, agar narasumber bebas memberikan jawaban yang diajukan wartawan tanpa merasa diinterogasi. Di antara kiat itu, adalah pentingnya kesiapan wartawan dalam melakukan wawancara, baik siap fisik, mental, membuat daftar pertanyaan, buat daftar janji, dan juga kelengkapan alat tulis/perekam. Tentu akan tidak profesional ketika wawancara berlangsung si wartawan meminjam pena kepada nara sumber.

Dalam hal membuat janji seringkali wartawan tidak disiplin soal waktu. Ketidakdisiplinan ini akan berakibat fatal. Sebab umumnya narasumber dari kalangan pejabat hanya punya waktu sedikit. Mereka orang super sibuk. Maka jika wartawan berjanji akan melakukan wawancara pukul 9.00 pagi, hendaknya telah tiba di lokasi yang dijanjikan sebelum waktu yang ditentukan. Ya, wartawan harus lebih dulu tiba dari orang yang ditunggunya (narasumber).

Dalam materi Teknik Menulis Feature, kawan-kawan diarahkan untuk memahami pentingnya nilai sebuah feature di media massa. Media-media besar seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, tidak pernah meninggalkan feature masuk di setiap lembar halaman koran mereka. Umumnya feature mendapat tempat di kolom bagian kaki.

Secara sederhana, features ialah tulisan kreatif yang dirancang guna memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian dan situasi, atau aspek kehidupan seseorang. Features cenderung dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas, kadang-kadang dengan sentuhan subjektivitas si penulis terhadap peristiwa dan situasi. Bahasa yang digunakan pun khas, bahasa sastrawi, tidak sama dengan berita biasa (hard news, dll). Bahkan, Majalah Tempo hampir seluruh halamannya bergaya feature. Dan yang terpenting, feature lebih awet dan tahan lama dibanding berita biasa.

Materi terakhir adalah Foto Jurnalistik. Disini dijelaskan pentingnya menguasai seluk beluk kamera dan teknik pengambilan foto (fokus). Sebab, layaknya berita, sebuah foto sama nilainya dengan seribu kata. Foto bisa berbicara meski tanpa teks yang menyertai. Namun demikian, pemuatan teks foto bisa lebih mewarnai nilai sebuah foto jurnalistik.

Yang menarik, kawan-kawan juga saya berikan contoh beberapa foto hasil jepretan fotografer dunia yang memenangkan penghargaan Pulitzer, maupun juga foto pemenang Anugerah Adinegoro 2009, yaitu foto korban gempa hasil jepretan fotografer Harian Singgalang Padang, Muhammad Fitrah. Ternyata, hanya dengan keterampilan “mengkodak-kodak” seorang wartawan foto bisa sangat profesional setelah mendapat penghargaan nasional maupun internasional. Wartawan SKS tentu juga mempunyai peluang seperti itu.

Keempat materi itu tentu saja tidak cukup didalami selama waktu dua hari. Saya membaca ketidakpuasan kawan-kawan lantaran singkatnya waktu. Tapi apa hendak dikata, hasrat hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Keempat materi itu setidaknya menjadi pedoman dasar bagi kawan-kawan untuk mengembangkan tulisan yang lebih baik agar pembaca SKS puas dan menjadikan SKS sebagai media referensi di Simeulue.

Usai memberi pelatihan, semua kru SKS rehat di Pantai Babang, sebuah objek wisata yang dibuka TNI melalui kegiatan manunggal. Pantai yang cantik, meski masih banyak kekurangan, seperti tidak adanya pondokan tempat beristirahat pengunjung, MCK dengan air yang memadai, akses jalan masuk yang belum diaspal, serta tidak adanya kios-kios yang menjual minuman, makanan maupun souvenir. Namun yang pasti pantai ini bisa terus dikembangkan dan menjadi salah satu ikon pariwisata Simeulue.

Waktu yang tersisa sehari kami habiskan di Teupah Selatan, kampungnya Joni Kusma, salah seorang kawan saya. Inilah daerah yang menjadi pusat tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Kami berangkat malam hari melintasi jalan sisi pantai yang gelap. Awaluddin Kahar berboncengan dengan Joni Kusma, sedangkan saya sendiri dibonceng Roni Aminesta. Perjalanan yang mencekam dan membutuhkan waktu lebih kurang sejam. Yang lebih fatal, motor yang saya boncengi tidak berlampu depan, untung saja sepeda motor kami diiringi motor yang dibawa Joni Kusma.

Yang mendebarkan, malam itu kami juga melintasi pemukiman yang tak lagi dihuni penduduknya. Terlihat di kiri kanan jalan rumah-rumah kosong, gedung sekolah, dan juga masjid dalam kondisi tak terawat. “Dulunya pemukiman disini ramai, sekarang sudah ditinggalkan pascatsunami,” ujar Joni Kusma. Jelas saja ditinggalkan, karena pemungkiman itu dekat laut, dan pusat gempa serta tsunami enam tahun lalu. Hanya saja masyarakat Simeulue punya kearifan lokal dalam kesiagaan menghadapi gempa dan tsunami. Saat terjadi gempa besar semua penduduk lari gunung menyelamatkan diri, sehingga saat terjadi tsunami korban jiwa tidak seberapa.

Di Teupah Selatan inilah kami bermalam, di rumah orang tua Joni Kusma. Makan gulai ikan yang masih segar. Lalu paginya menanti kedatangan fajar yang menyingsing di ufuk timur. Lanscap alam yang sangat indah. Menggundang rasa yang mengharu biru. Mendatangkan kedamaian.

Hingga Minggu, 18 April 2010, siang, saya dan Awaluddin Kahar harus meninggalkan Simeulue, bertolak ke Medan lalu ke Banda Aceh. Di Bandara Lasikin Sinabang, ketika pesawat Susi Air meninggalkan landasan, ada perasaan yang tak bisa saya lukisan dengan kata-kata. Entah mengapa, saya merasa rindu untuk berlama-lama disini.

Dan, dari dalam pesawat yang terbang rendah, saya melihat seolah pulau itu melambai-lambaikan tangan meminta saya datang kembali. Ya, Simeulue Ate Fulawan, suatu saat saya berjanji akan datang lagi, meski entah kapan. []