Senin, 22 Maret 2010

Tentang Penyair Taufiq Ismail


Ibunda Penyair Nasional Taufiq Ismail, Tinur Muhammad Nur (1914-1982), berasal dari Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, sedangkan ayahnya, A. Gaffar Ismail (1911-1998) berasal dari Jambu Air, Bukittinggi.

Ibunya merupakan alumni angkatan pertama Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang (pimpinan Rahmah El Yunusiyah), ayahnya alumnus Perguruan Thawalib Parabek Bukitinggi (pimpinan Syekh Ibrahim Musa). Sebagai angkatan muda Minangkabau yang bercita-cita mencapai Indonesia merdeka, mereka aktif dalam gerakan politik, bergabung dalam Partai PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), berasas Islam dan Nasionalisme, pimpinan Mochtar Lutfi.

Keaktifan PERMI menyadarkan masyarakat terhadap kemerdekaan bangsa, menyebabkan pemerintah kolonial bertindak represif terhadap pimpinannya. Dua orang aktivis PERMI, alumni Diniyyah Puteri, Rasuna Said dan Rasimah Ismail (ketika itu masih berumur 20-an tahun), yang terkenal karena pidato-pidato mereka yang menggelorakan massa ke seantero Sumbar, ditangkap, diadili dan masuk penjara perempuan di Semarang. Mereka adalah pemimpin pergerakan politik perempuan pertama Indonesia yang masuk penjara kolonial. Rasimah Ismail adalah etek Taufiq Ismail.

Empat pimpinan PERMI dibuang pemerintah Belanda. Tiga orang yang senior, yaitu Mochtar Lutfi, Iljas Ja’cub dan H. Jalaludin dibuang ke Boven Digul. A. Gaffar Ismail, yang termuda (21 tahun), diusir ke luar Minangkabau. Gaffar boleh memilih tempat pembuangan di luar Sumatra Barat. Dia memilih Pekalongan, Jawa Tengah, yang basis masyarakat muslimnya kuat (industri batik dan sarung palekat) dan adanya wiraswastawan Minang dan Mandailing di kota itu.

Menjelang keputusan dibuang ke Pekalongan, A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur menikah lebih dahulu (di tahun 1932). Mereka mengajar di Pekalongan, pernah pindah ke Solo, Semarang, Yogya, Jakarta, Bogor, tetapi kembali lagi ke Pekalongan, sampai wafat di kota itu. Bila di Sumatra Barat beliau disapa dengan panggilan Buya, di Jawa beliau disapa dengan panggilan Kiyai. Kawan sekolah beliau dulu di Parabek antara lain adalah anak Maninjau Abdul Malik, belakangan dikenal dengan nama HAMKA. Teman seperjuangan dan seusia beliau antara lain Sukiman Wirjosandjojo, M. Natsir, A. Wahid Hasjim (ayah Gus Dur), Kartosuwirjo, Sjafruddin Prawiranegara, dan beberapa lainnya. Salah seorang murid beliau di Solo adalah Kahar Muzakkar.

Buya Gaffar mengajarkan Tafsir Alquran di rumahnya, dalam Pengajian Malam Selasa, tepatnya di Jalan Bandung 60, Pekalongan (1933-1940 dan 1954-1998). Ustazah Tinur mengajar Tafsir Alquran untuk kaum ibu, pada siang hari. Mereka menyebarkan ilmu yang diperoleh dari Parabek dan Padangpanjang di Pekalongan sekitar 50 tahun lamanya. Ustazah Tinur wafat dalam usia 68 tahun, pada 21 Desember 1982. Sementara Kiyai A. Gaffar Ismail wafat dalam usia 87 tahun, pada 16 Agustus 1998. Mereka dimakamkan di Sapuro, Pekalongan.


Taufiq Ismail

Anak pertama A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur, Taufiq Ismail, lahir di Pekalongan, 2 Februari 1934. Seminggu kemudian, Taufiq Ismail bayi ini meninggal dunia. Ketika hamil kedua, Tinur dipanggil pulang oleh ibu dan mintuonya di Pandai Sikek dan Jambu Air, agar melahirkan anak di kampung.

Bayi kedua, laki-laki, lahir di rumah sakit Bukittinggi, 25 Juni 1935. Ibu muda ini mengirim telegram kepada suaminya di Pekalongan, menyampaikan berita gembira dan menanyakan apa nama yang akan dilekatkan pada bayi ini. “Beri nama Taufiq pada anak kita,” jawab telegram itu. Ketika diumumkan di kampung, kedua belah pihak keluarga memberi respons bahwa tidak baik memberi nama anak yang telah meninggal dunia.

“Jan diagiah namo anak nan alah mati. Singkek umuanya baiko!” demikian reaksi yang terjadi, yang tidak setuju, karena dianggap bayi ini akan cepat menyusul abang sulungnya yang baru meninggal. Reaksi orang kampung itu dilaporkan ke Pekalongan. Telegram balasan berbunyi, “Tetap nama anak kita Taufiq. Allah yang menentukan panjang pendek umur, bukan nama!” Demikianlah rasa tauhid dalam praktik kehidupan disampaikan ke masyarakat, melawan tahayul dan tradisi yang tidak Islami. Bayi itu mencapai umur 74 tahun kini, bernama Taufiq Ismail yang telah menjadi penyair besar.

Taufiq Ismail bersekolah (SR, kini namanya SD) di Solo, Semarang, Yogya, (SMP) di Bukittinggi, (SMA) di Pekalongan dan Whitefish Bay, Wisconsin, A.S. Dia bercita-cita jadi sastrawan sejak kecil, dan untuk menopang nafkah sebagai sastrawan dia ingin memiliki usaha peternakan. Karena itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, UI (kini IPB) di Bogor, tamat 1963. Dia gagal jadi pengusaha ternak, tapi berhasil jadi penyair.

Dia salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966), kini redaktur seniornya. Dia ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta (1968). Menulis 14 judul buku sastra, sejak 1966 hingga kini, antara lain kumpulan puisinya Tirani & Benteng, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (jilid 1-4) dan beberapa lainnya.

Kerjasama dengan musisi dilakoninya sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo, juga dengan Ian Antono, Chrisye, Dwiki Dharmawan dan lain-lain, menghasilkan mendekati 100 lagu-lagu yang dinyanyikan.

Dia juga pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota Asia, Amerika, Australia, Eropa dan Afrika sejak 1970.

Sebagai akumulasi kegiatannya meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis generasi muda bangsa selama 10 tahun terakhir ini di seluruh Indonesia, akhir Desember 2008 Taufiq dan isterinya Ati Ismail mendirikan Rumah Puisi di Aie Angek, Tanahdatar.

Anugerah yang diterima sebagai sastrawan, antara lain dari Pemerintah RI, Australia, Thailand, dan Malaysia. Gelar Doktor Honoris Causa dianugerahkan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (2003) dalam Pendidikan Sastra, dan dari Universitas Indonesia, Jakarta (2009) dalam Sastra.

Dari Kerajaan Pagaruyung (2009), bersama 8 tokoh masyarakat ia mendapat anugerah gelar Tuanku Pujangga Diraja, sebagai penghargaan kontribusinya dalam karya sastra.

Pada hari Jumat, 27 Maret 2009 lalu kepada sastrawan ini, di kampung halamannya ia dianugerahi gelar Datuk. Gelar Datuk ini dianugerahkan oleh Pangulu Nan Sapuluah, Suku Koto Sungai Guruah. Meski telah berusia lanjut, namun semangatnya tetap membara terutama keprihatinannya melihat budaya membaca dan menulis pada generasi muda yang semakin rendah. (muhammad subhan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar