Minggu, 10 Januari 2010

Kumpulan Cerita Pendek Forum Lingkar Pena


Judul : Luka Adalah Cinta
Penulis : M. Irfan Hidayatullah, Dkk.
Penerbit : Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, Agustus 2009
Tebal : 104 halaman
ISBN : 978-979-1397-57-5

“Dialah tubuh yang akrab dengan debu. Dialah sosok yang tak punya esok. Seorang gadis tergeletak di trotoar. Kendaraan hanya menderu seperti angin yang tak pernah singgah...”

M. Irfan Hidayatullah menulis alur mundur dalam cerpennya Gadis yang Tergeletak di Trotoar yang dikutip pada kalimat pembuka di atas. Cerpen ini bercerita tentang dunia seorang gadis remaja berusia 17 tahun, yang hari-harinya penuh dengan keceriaan. Kedua orang tuanya pekerja sukses yang terlalu sibuk mengurusi kerjanya. Doktrin kepada anaknya, Bintang, agar selalu berprestasi di sekolah, aktif berorganisasi, cepat pulang ke rumah, dan rajin belajar. Namun siapa sangka, semua doktrin itu menjadikan si anak jenuh dan merasa terkungkung dengan rutinitas kehidupannya. “Namun, pada benak gadis itu berjejal cita-cita sederhana dari sebuah kecemburuan. Ia ingin seperti anak-anak tetangganya yang tertawa lepas...” (hal. 7)

Ending cerpen ini tragis. “Siang itu ia hanya menjerit sedikit. Ia tidak sempat berbuat apa. Ia dibekap kemudian terlelap. Di lorong parkir sebuah mall kehidupannya terhenti, padahal beberapa jam sebelumnya ia adalah gadis ceria yang mulai menemukan teman atau bahkan sahabat. Mereka mencari-cari cuaca di mall…” (hal. 8)

Cerpen Gadis yang Tergeletak di Trotoar adalah salah satu cerpen sederhana yang memiliki latar cerita menarik. Alur maju-mundur yang ditulis pengarang memberikan warna artistik dalam penulisan cerpen itu. Sejak awal membacanya sudah mengundang tanda tanya dan penasaran pembaca untuk terus membacanya hingga akhir. Sayang, cerpen ini terlalu pendek.

Dalam buku ini terdapat 11 cerpen lainnya, selain yang ditulis M. Irfan Hidayatullah. Cerpenis-cerpenis itu adalah, Sakti Wibowo (Lutut), Afifah Afra (Menanti Cinta Sejati), Rahmadiyanti (Kepak Maut Kelelawar Hitam), Fahri Asiza (Ini Bukan Gerimis Terakhir), Gola Gong (Backpaker Surprise), Muthmainnah (Refund yang No Fund), Ifa Avianty (Keabadian), Rianna Wati (Aroma Masakan Tetangga), Aries Adenata (Wanita dan Air Surga), Deasylawati P (Pengangguran), dan Denny Prabowo (Dilarang Menjala Ikan di Hari Sabtu).

Cerpen lainnya yang cukup menarik berjudul “Lutut” yang ditulis Sakti Wibowo. Cerpen ini bercerita tentang seorang penjudi bernama Dirjo yang melihat keanehan pada lututnya. Lututnya membengkok ke belakang, sehingga susah berjalan. Ending dialognya sebagai berikut;

“ Ada apa dengan lututmu?”

“Tempurungnya berpindah ke belakang.”

“Oh, Tuhan! Lantas bagaimana kau rukuk dan sujud kepada Tuhan jika tempurungmu berada di belakang?”

“Aku tak pernah rukuk dan sujud.”

“Kalau begitu, bagaimana kau akan bertemu Tuhan?”

“Aku…”

“Kalau kau tak mau rukuk dan sujud, untuk apa kau menuntut takdir lututmu sekarang?”

“…!!!” (Cerpen Lutut, Sakti Wibowo, hal. 16)

Secara keseluruhan ke-12 cerpen yang dimuat dalam buku ini sangat menarik. Temanya beragam. Alur ceritanya pun dikemas secara sederhana namun memiliki kedalaman makna. Tak salah buku ini menjadi bahan bacaan keluarga anda. []

Resensiator: Muhammad Subhan, wartawan dan peminat buku, berdomisili di kota Padang Panjang, Sumatera Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar