Senin, 15 Maret 2010

Fenomena Lafadz Allah

Oleh : Muhammad Subhan

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tampaknya harus memiliki badan khusus yang bertugas meneliti, mengkaji dan menyiarkan kepada umat tentang fenomena pemberitaan munculnya "lafadz Allah" di berbagai kejadian. Sebab, di samping umat awam bertanya-tanya tentang fenomena itu, sebagian lainnya mengkhawatirkan akan terjadinya kemusyrikan baru jika ada oknum-oknum tertentu yang berkepentingan merekayasa tulisan "Lafdhul Jalalal Allah" yang suci itu pada benda-benda mati maupun makhluk bernyawa, apalagi sampai mengkultuskannya untuk kepentingan-kepentingan di luar syariat.

Seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, banyak pemberitaan munculnya lafadz Allah, mulai dari jilatan api di Lapindo Brantas, pohon di Pekanbaru, bulu kucing di Tangerang, awan di Jakarta, Jogyakarta maupun di Padang, tulisan Laa Ilaha Ilallah di tempat pembakaran lemang di Pasaman, di dinding bukit di Padang Panjang dan telinga bayi, getah pohon di Tilatang Kamang, Agam, bulu kambing, kulit telur dan mungkin masih banyak lagi.

Fenomena seperti itu, saya kira, memang sering kali ditemui. Misalnya pohon-pohon atau benda lainnya yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip "lafdhul-jalalal, Allah". Namun pertanyaannya, pertanda apakah semua itu? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?

Menurut hemat saya, fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu dicermati secara teliti dan hati-hati. Sebab kemudahan rekayasa di zaman digital memungkinkan apa saja dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa teknologi. Tapi yang perlu dipertimbangkan, seberapa besar nilai positif dan produktif pada manusia yang melihatnya dari semua penampakan itu. Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin salat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, judi, korupsi dan berbuat zhalim? Dan apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan? Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?

Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh manusia sendiri, dan juga seluruh alam ini, sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alqur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53) Ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda-tanda itu adalah berbentuk ‘tulisan Allah'. Tanda-tanda itu maksudnya adalah ‘tanda kebesaran' Allah SWT. Orang-orang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan Allah itu.

"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran: 191)

Namun, kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir perjalanan para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Alquran yang merupakan miracle-pun mereka ingkari.

Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) Kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Alquran yang tak terbantahkan. Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon, kulit telur, dinding bukit, telinga bayi dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak akan menambah apa-apa. ***

http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20070805110525

Tidak ada komentar:

Posting Komentar