Taufiq Ismail
Desa kami terletak di kaki gunung yang sangat indahnya
Berpagar perbukitan dengan deretan pohon cemara
Sawah luas terhampar, hijau muda dalam warna
Ladang palawija sangat subur pula keadaannya
Dari jauh tampak ternak kerbau, sapi, ayam dan domba
Kemudian kawanan burung terbang di udara
Tampak menembus awan tanpa suara
Walaupun alam desa kami indah keadaannya
Tapi kami belum makmur sesuai dengan cita-cita
Kemisikinan tidak teratasi seperti semestinya
Berbagai penyakit datang dan pergi bergantian saja
Beri-beri, diaere, cacar, busung lapar, juga penyakit mata
Anehnya banyak warga sakit katarak dan radang glaukoma
Sehingga banyak yang rabun bahkan sampai buta
Sehingga dokter Puskesmas kami sibuk mengobati warga desa
Di barat desa ada sebuah tebing yang curam
Dibatasi setengah lingkaran oleh jurang yang dalam
Di atas tebing ini terhampar datrar lapangan lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil berkejar-kejaran dengan leluasa
Bermain-main, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa
Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, sudah tua, terbatas kukuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana
Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuni lembahnya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya
Nah, pada suatu hari
Ada sebagian kecil penduduk desa berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni
"Kami menolak pagar tebing itu, apa pun bentuknya
Pagar itu kan untuk anak-anak di bawah usia
Itu tak perlu untuk kami yang dewasa
Bahkan juga untuk anak-anak biarkan saja
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Tidak perduli alasan lama kalian dari zaman kuna
Pagar ini produk fikiran masa dahulu sudah lama
Cabut pagar itu, buang ke keranjang sampah saja
Pagar tebing itu adalah bentuk diskriminasi kuna
Kini waktunya orang menghargai kebebasan sebebas-bebasnya
Kita harus meniru negeri luar agar maju pula
"Apa itu pagar? Kenapa pelararan ini dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuna, melawan kebebasan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"
Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, lho ini ada apa?
Kok jadi tegang suasana?
Ada yang bersikeras mau mencabut pagar semua
Tapi yang bertahan tidak sudi membiarkan mereka
Di tepi tebing beregang-reganganlah mereka
"Hei, hei, hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!
Hati-hati, jangan sampai jatuh ke jurang sana!"
Mendadak mereka berhenti bersama
Ketika itu muncul seorang laki-laki dengan pengiringnya
Dia kelihatan tua dan agak berwibawa
"Para hadirin, ini Nabi kami."
Orang-orang desa terkejur, mulut mereka terkunci
Belum sempat pula seorang perempuan dengan ajudannya
Bergaun panjang, berhiasan macam-macam di kepalanya
"para hadirin, ini Malaikat kami."
Orang-orang desa terkejut, mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang perempuan dengan ajudannya
Bergaun panjang, berhiasan macam-macam di kepalanya
"Para hadirin, ini Malaikat kami."
Orang-orang desa terkejut, mulut mereka terkunci
Belum sempat mereka menatapnya dengan hati-hati
Muncul pula seorang laki-laki dengan pengawalnya
Dia kelihatan tua dan tidak berwibawa
"Para hadirin, ini Tuhan kami."
Dengan kedatangan tiga orang luar ini
Penduduk desa jadi sibuk mengamati
Kemudian ada warga yang menajukan interogasi
"Lho Pak Nabi, ente kan dari desa Gunung Bunder, tidak jauh dari sini?
Waa, Bu Malaikat rumahnya di Betawi kan dekat Gang Arimbi?
Pak Tuhan, antum dari kecamatan Mundu, nama Ahmad Tantowi?
Tidak ada jawaban sama sekali
Menyaksikan hadirnya yang mengaku Tuhan, Nabi dan Malaikat
Lalu seseorang berkata dengan cermat
"Kita bingung ini dan harus mendapat solusi
Mari kita hunungi orang yang ahli
Yang ahli itu pastilah orang luar negeri
Yang jago dalam teori dan kita kagumi
Dengan retorika penuh erudisi
Yang penting liberal, walau kolonial, kita tak peduli
Sehingga mata kita jadi silau sama sekali
Tunggu, tunggu, tak ada hubungan ini
Dengan mental orang bekas jajahan koloni
Tidak ada hubungan ini
Dengan warna kulit karena pigmentasi
Tidak ada hubungan ini
Dengan imperialisme ideologi
Tidak ada hubungan ini
Dengan sikap mental rasa rendah diri
Ini semata-mata, semata-mata, ulangi
Ya, semata-mata, ya karena ini."
Setelah selesai ucapan yang kacau begini
Hadirin yang tadinya tenang, menjadi ribut kembali
Kembali beregang-regang, tarik-tarikan ke sana ke sini
Tiba-tiba di ujung keributan ini
Muncullah dokter Puskesmas penuh wibawa
Bersama seorang anak muda di sampingnya
Dia melihat ke kanan dan ke kiri
Ketika itu penduduk desa tenang semua.
Kemudian dia angkat bicara:
"Saya telah melihat demonstrasi kalian
Saya kecewa dan geleng-geleng kepala
Kalian semua pasien saya
Lebih dari separuh kalian kena kelainan pada mata
Kalau tidak rabun, ya buta
Kenapa kalian menghabiskan waktu berdemo juga
Padahal mata tidak bisa melihat dengan sempurna
Kasusnya katarak dan glaukoma
Gawat ini situasinya penyakit instrumen mata
Virus datang dari negeri lain rupanya
Bukan cuma dari luar desa
Begini, kita sembuhkan dulu sumber etiologinya
Gawat lho, ini situasi kesehatannya,"
Dengan hormat orang desa terdiam mendengarnya
Kemudian anak muda di samping dokter itu bicara
Dia santun, cerdas dan logis cara berfikirnya:
"Bapak-bapak, paman-paman, ibu-ibu semua
Saya minta nmaaf urun berkata-kata
Saya heran kenapa dipandang enteng tebing curam kita ini
Tingginya 50 meter, sangat tinggi
Di bawahnya batu-batu besar, dalam kali
Kalau terjatuh, bakal patah-patah, gegar otak kanan dan kiri
Jadi kalau tidak dipagar, berbahaya sekali
Maaf ya, maaf, kalian yang mau cabut pagar ini
Kalau tidak rabun atau buta, ya gila
Tebing betapa curam
Jurang betapa dalam
Kok tak tampak kedua-duanya
Konsep tebing dan jurang tak masuk akal rupanya
Gara-gara katarak dan glaukoma menuju buta
Nah, tentang pagar yang memang sudah tua keadaannya
Mari kita gotong-royong menggantinya
Kita bikin yang kukuh untuk semua
Sehingga anak-anak dan remaja
Bisa bermain-main, berlari-lari ke sini dan ke sana
Dengan aman dan gembira."
Kepala desa akhirnya muncul paling akhir lalu bicara:
"Sedulur, masih seabreg-abreg urusan di desa kita,
Kebodohan dan kemiskinan kita, kapan akan selesainya?"
Jumat, 26 Maret 2010
TUHAN SEMBILAN SENTI
Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
Rokok hukumnya haram!
Rokok hukumnya haram!
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghada
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
Rokok hukumnya haram!
Rokok hukumnya haram!
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghada
Kamis, 25 Maret 2010
PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI
Taufiq Ismail
Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.
Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.
Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.
Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.
Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.
Nama aslinya penyakit rokok.
Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.
Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.
2005
Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.
Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.
Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.
Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.
Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.
Nama aslinya penyakit rokok.
Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.
Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.
2005
Sajak Melankolisme Taufiq Ismail
Oleh: Aguk Irawan Mn
Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka
***
Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufiq Ismail. Maka ketika belum lama ini Taufiq Ismail membacakan sajaknya yang terbaru "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" di depan KPU— lantas media massa dengan reaksi yang cepat merekamnya— sampai sekarang kita masih ingat bahwa bait sajak di atas adalah bait pertama dari sajaknya Taufik Ismail yang baru itu.
Dalam bersastra, karya Taufiq memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufiq sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufiq sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik. Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. Ketika itu, dengan semangat yang luar biasa— melalui sajak "Tirani dan Benteng"nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba. Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufiq "malu-malu" meluncurkan buku berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.
Sajak Taufiq memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan. Dalam sajak-sajak "Tirani" terhadap Orde Lama dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meskipun sajak ini hanya berlaku satu kali saja, yakni terhadap Orde Lama. Tapi pilihan kata Taufiq tampak begitu berbobot dan ‘matang', bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain. Saya yakin bahwa sajak-sajak Tirani Taufik Ismail tetap akan bernilai universal, meskipun Taufiq hanya memilih ‘diam' dalam menghadapi kenyataan Orde Baru yang lebih tirani di permukaan Indonesia. Dengan demikian, bukankah ini lebih akan mempertegas bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus.
Kemudian tidak berlebihan jika lahir hipotesis bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus, yang kemudian citra ini lambat laun semakin pupus dan tergantikan dengan stigma negatif ketika Taufiq menciptakan sajak yang ganjil. Coba kita renungkan baat terakhir dari sajak itu.
Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku Bangsaku.
Taufiq seperti mengalami kekecewaan yang luar biasa, sangat terpukul dengan kondisi Orde Reformasi. Bahkan ia seakan telah menyesali kenyataan kehidupan berkebangsaan yang sekarang ini kita jalankan bersama. Mungkin Taufiq menganggap bahwa proses reformasi ini terlalu pahit bagi kehidupan politiknya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla, bahwa sajak Taufiq Ismail "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" adalah sajak "melankolis", meratap, melihat masa lalu seolah-olah sebagai "surga" yang tak akan kembali. Pada kenyataannya sajak Taufiq memang mencerminkan sebagian pandangan yang berkembang dalam masyarakat; pandangan yang ingin saya sebut "melankolisme-masokis".
Menjenguk sejarah memang penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia; di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada. Tapi meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya, adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab yang terpenting bagi kita sekarang adalah menciptakan "surga" di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orba. Agaknya, sajak Taufiq memang ambivalen dan hiperbolis dalam melihat masa lalu. Sementara kita pun mengerti bahwa pemilu 1955 memang tak semuanya sempurna, dan sejarah telah mencatat ada kejanggalan- kejanggalan di dalamnya yang berbelit. Selain masa itu, Pemilu 1955 militer masih belum begitu simpati terhadap kekuasaan dan belum menjadi gurita yang membelit negara.
Menurut Z. Afif. Pemilu 1955 dilaksanakan oleh para Republiken, orang-orang yang sangat merasakan penindasan kolonialisme yang juga memperalat feodalisme. Orang-orang yang bercita-cita membangun sebuah Republik yang benar-benar berlandaskan trias-politika yang sesungguhnya. Dan masa itu lepra politik uang seperti di tubuh elite politik belum berjangkit, walaupun tidak terbantahkan memang ada tikus dalam kepegawaian yang makan sedikit-sedikit milik negara untuk menombok belanja rumah.
Mungkin Taufiq lupa, bahwa ada perbedaan yang perlu diingat antara Pemilu 1955, Pemilu Orba dan Pemilu sekarang. Pemilu 1995 bertujuan untuk mewujudkan Republik yang demokratis dan parlemen yang ditempati oleh wakil-wakil rakyat. Pemilu Orba untuk memperkukuh kekuasaan otokrasi militerisme dan dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme melalui Golkar. Sementara Pemilu sekarang berusaha keras menuju masyarakat yang berkedaulatan penuh. Untuk itu, nostalgia masa lalu yang menurut Taufiq patut dibanggakan, biarlah sebagai arsip pribadi dan bahan cerita untuk anak dan cucu.
Sampai akhir sajak itu ditulis "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" Taufiq menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Ia seakan telah memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan, atau dalam bahasa Rene Wellek, Taufiq gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Menurut Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis. Tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu.
Maka bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan dan memberi semangat yang tinggi bagi pembangunan Indonesia ke depan masih tetap diperlukan sebagai lawan dari sastra melankolis yang lebih mengedepankan sikap apatis dan pesimisnya—adalah sastra heroik memang sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa "hilang rasa eling" sebagai pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Dengan demikian, lepas dari kekurangannya, sajak Taufiq, bagaimanapun adalah cermin rakyat yang bimbang menghadapi gelombang masa depan, untuk itu tetap patut dibaca di depan rakyat untuk mengkritisi sikap pemerintah terhadap pemilu.
Akhirnya saya sepakat dengan Ulil. Tak usah meratap, melihat masa lampau terus-menerus sebagai "firdaus" yang hilang. Gejala ini tidak sehat untuk membangun negeri ini di masa depan. Karena ada banyak perkembangan positif di negeri kita yang harus diberi apresiasi; dan perkembangan itu hanya mungkin karena ada reformasi. Nilai, harga, dan bobot sebagai hasil yang diperoleh selama reformasi tak kalah dengan Proklamasi Kemerdekaan, Pemilu 1955, Sidang Konstituante, atau pidato-pidato Bung Karno yang menyulut "adrenalin" masyarakat kecil. Hasil-hasil selama reformasi juga tak kalah bobotnya dengan pembangunan selama periode Soeharto.
Bagaimanapun kita memang harus mengakui, kecuali kalau kita masih ingin terus memberi napas pada status quo (Orde Baru). []
Kairo, 9 April 2004
Penulis adalah Staf Peneliti Kebudayaan LKiS Yogyakarta, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Al Azhar Kairo, Mesir.
Dimuat di: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0807/bud2.html
Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka
***
Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufiq Ismail. Maka ketika belum lama ini Taufiq Ismail membacakan sajaknya yang terbaru "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" di depan KPU— lantas media massa dengan reaksi yang cepat merekamnya— sampai sekarang kita masih ingat bahwa bait sajak di atas adalah bait pertama dari sajaknya Taufik Ismail yang baru itu.
Dalam bersastra, karya Taufiq memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufiq sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufiq sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik. Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. Ketika itu, dengan semangat yang luar biasa— melalui sajak "Tirani dan Benteng"nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba. Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufiq "malu-malu" meluncurkan buku berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.
Sajak Taufiq memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan. Dalam sajak-sajak "Tirani" terhadap Orde Lama dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meskipun sajak ini hanya berlaku satu kali saja, yakni terhadap Orde Lama. Tapi pilihan kata Taufiq tampak begitu berbobot dan ‘matang', bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain. Saya yakin bahwa sajak-sajak Tirani Taufik Ismail tetap akan bernilai universal, meskipun Taufiq hanya memilih ‘diam' dalam menghadapi kenyataan Orde Baru yang lebih tirani di permukaan Indonesia. Dengan demikian, bukankah ini lebih akan mempertegas bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus.
Kemudian tidak berlebihan jika lahir hipotesis bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus, yang kemudian citra ini lambat laun semakin pupus dan tergantikan dengan stigma negatif ketika Taufiq menciptakan sajak yang ganjil. Coba kita renungkan baat terakhir dari sajak itu.
Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku Bangsaku.
Taufiq seperti mengalami kekecewaan yang luar biasa, sangat terpukul dengan kondisi Orde Reformasi. Bahkan ia seakan telah menyesali kenyataan kehidupan berkebangsaan yang sekarang ini kita jalankan bersama. Mungkin Taufiq menganggap bahwa proses reformasi ini terlalu pahit bagi kehidupan politiknya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla, bahwa sajak Taufiq Ismail "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" adalah sajak "melankolis", meratap, melihat masa lalu seolah-olah sebagai "surga" yang tak akan kembali. Pada kenyataannya sajak Taufiq memang mencerminkan sebagian pandangan yang berkembang dalam masyarakat; pandangan yang ingin saya sebut "melankolisme-masokis".
Menjenguk sejarah memang penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia; di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada. Tapi meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya, adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab yang terpenting bagi kita sekarang adalah menciptakan "surga" di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orba. Agaknya, sajak Taufiq memang ambivalen dan hiperbolis dalam melihat masa lalu. Sementara kita pun mengerti bahwa pemilu 1955 memang tak semuanya sempurna, dan sejarah telah mencatat ada kejanggalan- kejanggalan di dalamnya yang berbelit. Selain masa itu, Pemilu 1955 militer masih belum begitu simpati terhadap kekuasaan dan belum menjadi gurita yang membelit negara.
Menurut Z. Afif. Pemilu 1955 dilaksanakan oleh para Republiken, orang-orang yang sangat merasakan penindasan kolonialisme yang juga memperalat feodalisme. Orang-orang yang bercita-cita membangun sebuah Republik yang benar-benar berlandaskan trias-politika yang sesungguhnya. Dan masa itu lepra politik uang seperti di tubuh elite politik belum berjangkit, walaupun tidak terbantahkan memang ada tikus dalam kepegawaian yang makan sedikit-sedikit milik negara untuk menombok belanja rumah.
Mungkin Taufiq lupa, bahwa ada perbedaan yang perlu diingat antara Pemilu 1955, Pemilu Orba dan Pemilu sekarang. Pemilu 1995 bertujuan untuk mewujudkan Republik yang demokratis dan parlemen yang ditempati oleh wakil-wakil rakyat. Pemilu Orba untuk memperkukuh kekuasaan otokrasi militerisme dan dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme melalui Golkar. Sementara Pemilu sekarang berusaha keras menuju masyarakat yang berkedaulatan penuh. Untuk itu, nostalgia masa lalu yang menurut Taufiq patut dibanggakan, biarlah sebagai arsip pribadi dan bahan cerita untuk anak dan cucu.
Sampai akhir sajak itu ditulis "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" Taufiq menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Ia seakan telah memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan, atau dalam bahasa Rene Wellek, Taufiq gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Menurut Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis. Tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu.
Maka bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan dan memberi semangat yang tinggi bagi pembangunan Indonesia ke depan masih tetap diperlukan sebagai lawan dari sastra melankolis yang lebih mengedepankan sikap apatis dan pesimisnya—adalah sastra heroik memang sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa "hilang rasa eling" sebagai pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Dengan demikian, lepas dari kekurangannya, sajak Taufiq, bagaimanapun adalah cermin rakyat yang bimbang menghadapi gelombang masa depan, untuk itu tetap patut dibaca di depan rakyat untuk mengkritisi sikap pemerintah terhadap pemilu.
Akhirnya saya sepakat dengan Ulil. Tak usah meratap, melihat masa lampau terus-menerus sebagai "firdaus" yang hilang. Gejala ini tidak sehat untuk membangun negeri ini di masa depan. Karena ada banyak perkembangan positif di negeri kita yang harus diberi apresiasi; dan perkembangan itu hanya mungkin karena ada reformasi. Nilai, harga, dan bobot sebagai hasil yang diperoleh selama reformasi tak kalah dengan Proklamasi Kemerdekaan, Pemilu 1955, Sidang Konstituante, atau pidato-pidato Bung Karno yang menyulut "adrenalin" masyarakat kecil. Hasil-hasil selama reformasi juga tak kalah bobotnya dengan pembangunan selama periode Soeharto.
Bagaimanapun kita memang harus mengakui, kecuali kalau kita masih ingin terus memberi napas pada status quo (Orde Baru). []
Kairo, 9 April 2004
Penulis adalah Staf Peneliti Kebudayaan LKiS Yogyakarta, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Al Azhar Kairo, Mesir.
Dimuat di: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0807/bud2.html
INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN
Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.
Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.
Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.
Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.
Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,
"Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah."
Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.
"Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo ... "
Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.
2000 , 2002
Indonesia adalah sorga luarbiasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.
Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.
Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.
Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.
Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,
"Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah."
Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.
"Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo ... "
Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.
2000 , 2002
Senin, 22 Maret 2010
Ujian Nasional
Oleh: Muhammad Subhan
Mata gadis itu menerawang. Ia baru saja keluar kelas. Rona wajahnya menyiratkan suasana hatinya yang was-was. Akankah ia lulus UN tahun ini. Kecemasan yang berulang terjadi. Ya Allah, tolong hamba, gumamnya.
Di luar sinar matahari terik menyengat. Gadis itu berjalan gontai. Meski ia melihat kawan-kawannya santai, tapi sorot mata mereka tak mampu berdusta. Ya, ada keresahan. Terasa meski tak teraba.
Gadis itu ingat akan nasib kakaknya yang tidak lulus UN dua tahun lalu. Kakaknya mengalami depresi. Padahal kakaknya siswa berprestasi. Kabar tidak lulus UN bagai sengatan listrik berpuluh-puluh volt. Menusuk hingga hulu hati. Seorang anak periang, cerdas, dan selalu rangking lima besar di kelas, tiba-tiba terpuruk di jurang paling dalam, tidak lulus Ujian Nasional.
Meski ketika itu ada ujian ulangan, tapi mental kakaknya terlanjur kena. Ia merasa menjadi siswa tak berguna. Tiga tahun sekolah, hancur dalam waktu tiga hari. Ia kehilangan harga diri. Malu kepada teman-teman, lalu berhari-hari bungkam mendekam di dalam kamar.
Kedua orang tuanya cemas melihat derita yang dialami anaknya. Siapa yang harus disalahkan, tanya mereka. Rasanya tak ada kekurangan anaknya. Jauh-jauh hari jelang UN, putrinya itu ikut pelajaran tambahan di sekolah. Di luar itu, ia juga dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar. Guru privat pun didatangkan ke rumah. Buku-buku pelajaran lengkap. Apa yang kurang dibeli.
Dan, garis nasib menyurat lain. Kakak gadis itu akhirnya kehilangan akal. Ia menjadi tidak waras. Ayah ibunya cemas. Akhirnya dibawa berobat ke Jakarta. Tak lama sesudah itu, ia menghabisi hidupnya. Menegak racun serangga. Cita-citanya agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah perguruan tinggi ternama pupus sudah. Meninggalkan duka nestapa dan air mata keluarga.
Gadis itu tak ingin nasib serupa menimpa dirinya. Cukuplah kakaknya menjadi korban sejarah sepanjang UN ada di Republik ini. Ia tidak ingin menambah daftar korban selanjutnya. Ketika sekolah mengadakan zikir dan doa bersama jelang UN, ia duduk di shaf paling depan. Bersimpuh dengan khusyuk. Ketika ustaz memimpin doa di mihrab masjid sekolah, di sudut matanya mengalir butiran bening bak mutiara manikam. Jatuh membasahi pipinya yang putih. Bibirnya bergetar. Lalu isak tangisnya meledak. Tak mampu ia tahan.
Ya Rabbana, hamba lemah. Kuatkan hamba dengan ketegaran. Berikan hamba kesabaran dan kemampuan menghadapi ujian ini. Hamba yakin, Engkau tidak akan memberikan ujian yang tidak mampu hamba menanggungnya, doa gadis itu. Sesegukannya menambah khusyuk doanya. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Zikir terus berkumandang di masjid itu. Hingga waktu shalat Zuhur masuk. Lalu ia membasuh wajahnya lagi dengan air wudhu. Tangisnya belum reda hingga usai shalat berjemaah. Namun ketenangan jiwa ia temukan, rasa optimis menghadapi UN yang telah menjadi momok itu muncul juga. Ia harus tegar. Setegar karang yang dihantam ombak di lautan.
Ujian hari ini usai sudah. Meski kecemasan tersemburat di wajahnya akan hasil jawaban yang ia tulis, tapi ia merasa lega. Satu masalah telah ia selesaikan. Entahlah, apa ia mampu menghadapi ujian hari esok. Hingga ia keluar dari gerbang sekolah, nama Tuhan selalu terucap di bibirnya yang basah. []
Mata gadis itu menerawang. Ia baru saja keluar kelas. Rona wajahnya menyiratkan suasana hatinya yang was-was. Akankah ia lulus UN tahun ini. Kecemasan yang berulang terjadi. Ya Allah, tolong hamba, gumamnya.
Di luar sinar matahari terik menyengat. Gadis itu berjalan gontai. Meski ia melihat kawan-kawannya santai, tapi sorot mata mereka tak mampu berdusta. Ya, ada keresahan. Terasa meski tak teraba.
Gadis itu ingat akan nasib kakaknya yang tidak lulus UN dua tahun lalu. Kakaknya mengalami depresi. Padahal kakaknya siswa berprestasi. Kabar tidak lulus UN bagai sengatan listrik berpuluh-puluh volt. Menusuk hingga hulu hati. Seorang anak periang, cerdas, dan selalu rangking lima besar di kelas, tiba-tiba terpuruk di jurang paling dalam, tidak lulus Ujian Nasional.
Meski ketika itu ada ujian ulangan, tapi mental kakaknya terlanjur kena. Ia merasa menjadi siswa tak berguna. Tiga tahun sekolah, hancur dalam waktu tiga hari. Ia kehilangan harga diri. Malu kepada teman-teman, lalu berhari-hari bungkam mendekam di dalam kamar.
Kedua orang tuanya cemas melihat derita yang dialami anaknya. Siapa yang harus disalahkan, tanya mereka. Rasanya tak ada kekurangan anaknya. Jauh-jauh hari jelang UN, putrinya itu ikut pelajaran tambahan di sekolah. Di luar itu, ia juga dimasukkan ke lembaga bimbingan belajar. Guru privat pun didatangkan ke rumah. Buku-buku pelajaran lengkap. Apa yang kurang dibeli.
Dan, garis nasib menyurat lain. Kakak gadis itu akhirnya kehilangan akal. Ia menjadi tidak waras. Ayah ibunya cemas. Akhirnya dibawa berobat ke Jakarta. Tak lama sesudah itu, ia menghabisi hidupnya. Menegak racun serangga. Cita-citanya agar bisa kuliah di Fakultas Kedokteran di sebuah perguruan tinggi ternama pupus sudah. Meninggalkan duka nestapa dan air mata keluarga.
Gadis itu tak ingin nasib serupa menimpa dirinya. Cukuplah kakaknya menjadi korban sejarah sepanjang UN ada di Republik ini. Ia tidak ingin menambah daftar korban selanjutnya. Ketika sekolah mengadakan zikir dan doa bersama jelang UN, ia duduk di shaf paling depan. Bersimpuh dengan khusyuk. Ketika ustaz memimpin doa di mihrab masjid sekolah, di sudut matanya mengalir butiran bening bak mutiara manikam. Jatuh membasahi pipinya yang putih. Bibirnya bergetar. Lalu isak tangisnya meledak. Tak mampu ia tahan.
Ya Rabbana, hamba lemah. Kuatkan hamba dengan ketegaran. Berikan hamba kesabaran dan kemampuan menghadapi ujian ini. Hamba yakin, Engkau tidak akan memberikan ujian yang tidak mampu hamba menanggungnya, doa gadis itu. Sesegukannya menambah khusyuk doanya. Ia merasa sangat dekat dengan Tuhan.
Zikir terus berkumandang di masjid itu. Hingga waktu shalat Zuhur masuk. Lalu ia membasuh wajahnya lagi dengan air wudhu. Tangisnya belum reda hingga usai shalat berjemaah. Namun ketenangan jiwa ia temukan, rasa optimis menghadapi UN yang telah menjadi momok itu muncul juga. Ia harus tegar. Setegar karang yang dihantam ombak di lautan.
Ujian hari ini usai sudah. Meski kecemasan tersemburat di wajahnya akan hasil jawaban yang ia tulis, tapi ia merasa lega. Satu masalah telah ia selesaikan. Entahlah, apa ia mampu menghadapi ujian hari esok. Hingga ia keluar dari gerbang sekolah, nama Tuhan selalu terucap di bibirnya yang basah. []
KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni
Taufiq Ismail
Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini
1998
Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini
1998
Tentang Penyair Taufiq Ismail

Ibunda Penyair Nasional Taufiq Ismail, Tinur Muhammad Nur (1914-1982), berasal dari Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, sedangkan ayahnya, A. Gaffar Ismail (1911-1998) berasal dari Jambu Air, Bukittinggi.
Ibunya merupakan alumni angkatan pertama Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang (pimpinan Rahmah El Yunusiyah), ayahnya alumnus Perguruan Thawalib Parabek Bukitinggi (pimpinan Syekh Ibrahim Musa). Sebagai angkatan muda Minangkabau yang bercita-cita mencapai Indonesia merdeka, mereka aktif dalam gerakan politik, bergabung dalam Partai PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia), berasas Islam dan Nasionalisme, pimpinan Mochtar Lutfi.
Keaktifan PERMI menyadarkan masyarakat terhadap kemerdekaan bangsa, menyebabkan pemerintah kolonial bertindak represif terhadap pimpinannya. Dua orang aktivis PERMI, alumni Diniyyah Puteri, Rasuna Said dan Rasimah Ismail (ketika itu masih berumur 20-an tahun), yang terkenal karena pidato-pidato mereka yang menggelorakan massa ke seantero Sumbar, ditangkap, diadili dan masuk penjara perempuan di Semarang. Mereka adalah pemimpin pergerakan politik perempuan pertama Indonesia yang masuk penjara kolonial. Rasimah Ismail adalah etek Taufiq Ismail.
Empat pimpinan PERMI dibuang pemerintah Belanda. Tiga orang yang senior, yaitu Mochtar Lutfi, Iljas Ja’cub dan H. Jalaludin dibuang ke Boven Digul. A. Gaffar Ismail, yang termuda (21 tahun), diusir ke luar Minangkabau. Gaffar boleh memilih tempat pembuangan di luar Sumatra Barat. Dia memilih Pekalongan, Jawa Tengah, yang basis masyarakat muslimnya kuat (industri batik dan sarung palekat) dan adanya wiraswastawan Minang dan Mandailing di kota itu.
Menjelang keputusan dibuang ke Pekalongan, A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur menikah lebih dahulu (di tahun 1932). Mereka mengajar di Pekalongan, pernah pindah ke Solo, Semarang, Yogya, Jakarta, Bogor, tetapi kembali lagi ke Pekalongan, sampai wafat di kota itu. Bila di Sumatra Barat beliau disapa dengan panggilan Buya, di Jawa beliau disapa dengan panggilan Kiyai. Kawan sekolah beliau dulu di Parabek antara lain adalah anak Maninjau Abdul Malik, belakangan dikenal dengan nama HAMKA. Teman seperjuangan dan seusia beliau antara lain Sukiman Wirjosandjojo, M. Natsir, A. Wahid Hasjim (ayah Gus Dur), Kartosuwirjo, Sjafruddin Prawiranegara, dan beberapa lainnya. Salah seorang murid beliau di Solo adalah Kahar Muzakkar.
Buya Gaffar mengajarkan Tafsir Alquran di rumahnya, dalam Pengajian Malam Selasa, tepatnya di Jalan Bandung 60, Pekalongan (1933-1940 dan 1954-1998). Ustazah Tinur mengajar Tafsir Alquran untuk kaum ibu, pada siang hari. Mereka menyebarkan ilmu yang diperoleh dari Parabek dan Padangpanjang di Pekalongan sekitar 50 tahun lamanya. Ustazah Tinur wafat dalam usia 68 tahun, pada 21 Desember 1982. Sementara Kiyai A. Gaffar Ismail wafat dalam usia 87 tahun, pada 16 Agustus 1998. Mereka dimakamkan di Sapuro, Pekalongan.
Taufiq Ismail
Anak pertama A. Gaffar Ismail dan Tinur M. Nur, Taufiq Ismail, lahir di Pekalongan, 2 Februari 1934. Seminggu kemudian, Taufiq Ismail bayi ini meninggal dunia. Ketika hamil kedua, Tinur dipanggil pulang oleh ibu dan mintuonya di Pandai Sikek dan Jambu Air, agar melahirkan anak di kampung.
Bayi kedua, laki-laki, lahir di rumah sakit Bukittinggi, 25 Juni 1935. Ibu muda ini mengirim telegram kepada suaminya di Pekalongan, menyampaikan berita gembira dan menanyakan apa nama yang akan dilekatkan pada bayi ini. “Beri nama Taufiq pada anak kita,” jawab telegram itu. Ketika diumumkan di kampung, kedua belah pihak keluarga memberi respons bahwa tidak baik memberi nama anak yang telah meninggal dunia.
“Jan diagiah namo anak nan alah mati. Singkek umuanya baiko!” demikian reaksi yang terjadi, yang tidak setuju, karena dianggap bayi ini akan cepat menyusul abang sulungnya yang baru meninggal. Reaksi orang kampung itu dilaporkan ke Pekalongan. Telegram balasan berbunyi, “Tetap nama anak kita Taufiq. Allah yang menentukan panjang pendek umur, bukan nama!” Demikianlah rasa tauhid dalam praktik kehidupan disampaikan ke masyarakat, melawan tahayul dan tradisi yang tidak Islami. Bayi itu mencapai umur 74 tahun kini, bernama Taufiq Ismail yang telah menjadi penyair besar.
Taufiq Ismail bersekolah (SR, kini namanya SD) di Solo, Semarang, Yogya, (SMP) di Bukittinggi, (SMA) di Pekalongan dan Whitefish Bay, Wisconsin, A.S. Dia bercita-cita jadi sastrawan sejak kecil, dan untuk menopang nafkah sebagai sastrawan dia ingin memiliki usaha peternakan. Karena itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, UI (kini IPB) di Bogor, tamat 1963. Dia gagal jadi pengusaha ternak, tapi berhasil jadi penyair.
Dia salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966), kini redaktur seniornya. Dia ikut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta (1968). Menulis 14 judul buku sastra, sejak 1966 hingga kini, antara lain kumpulan puisinya Tirani & Benteng, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit (jilid 1-4) dan beberapa lainnya.
Kerjasama dengan musisi dilakoninya sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo, juga dengan Ian Antono, Chrisye, Dwiki Dharmawan dan lain-lain, menghasilkan mendekati 100 lagu-lagu yang dinyanyikan.
Dia juga pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota Asia, Amerika, Australia, Eropa dan Afrika sejak 1970.
Sebagai akumulasi kegiatannya meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis generasi muda bangsa selama 10 tahun terakhir ini di seluruh Indonesia, akhir Desember 2008 Taufiq dan isterinya Ati Ismail mendirikan Rumah Puisi di Aie Angek, Tanahdatar.
Anugerah yang diterima sebagai sastrawan, antara lain dari Pemerintah RI, Australia, Thailand, dan Malaysia. Gelar Doktor Honoris Causa dianugerahkan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (2003) dalam Pendidikan Sastra, dan dari Universitas Indonesia, Jakarta (2009) dalam Sastra.
Dari Kerajaan Pagaruyung (2009), bersama 8 tokoh masyarakat ia mendapat anugerah gelar Tuanku Pujangga Diraja, sebagai penghargaan kontribusinya dalam karya sastra.
Pada hari Jumat, 27 Maret 2009 lalu kepada sastrawan ini, di kampung halamannya ia dianugerahi gelar Datuk. Gelar Datuk ini dianugerahkan oleh Pangulu Nan Sapuluah, Suku Koto Sungai Guruah. Meski telah berusia lanjut, namun semangatnya tetap membara terutama keprihatinannya melihat budaya membaca dan menulis pada generasi muda yang semakin rendah. (muhammad subhan)
BAYI LAHIR BULAN MEI 1998
Taufiq Ismail
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
1998
Senin, 15 Maret 2010
Seminar Sastra dan Launching Antologi Puisi - Padangpanjang
[MAJALAH GONG] - Himpunan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMA BASINDO) FKIP/ Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhamadiyah Kauman Padangpanjang, Sumatera Barat, akan melaksanakan acara Seminar Sastra Nasional dan Lounching Antologi Puisi “Lautan Sajadah”, pada hari Sabtu, 25 April 2009, Pukul 9.00 sampai dengan selesai, bertempat di Gedung Kuliah FKIP Kauman Padangpanjang. Tutur Ketua Panitia Sandy Octaria.
Sandy menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan sastra. Acara seminar nasional berencana menghadirkan pembicara para sastrawan nasional, seperti; DR. (HC) Taufik Ismail dengan judul makalahnya ”Paradigma Baru Kesusasteraan Indonesia”, Gus Tf. Sakai (Sastrawan nasional) dengan materi “Proses Kreatif dalam menulis Prosa”, dan Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet) dengan makalah bertajuk “Proses Kreatif Penulisan Puisi”. Kegiatan ini untuk memacu dan meningkatkan kreatifitas guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses belajar mengajar di sekolah, serta memacu semangat rekan-rekan mahasiswa untuk berproses kreatif, tambahnya.
Ketua HIMA BASINDO Immatul Jannah menambahkan, Acara seminar sastra nasional ini, pesertanya diharapkan dari kalangan guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum. Selain Seminar Sastra, juga dilaksanakan Lounching perdana antologi puisi berjudul ‘lautan sajadah’. Antologi ini berisikan 104 puisi religius penyair asal mahasiswa FKIP/Bahasa dan sastra Indonesia UMSB. Antologi puisi ini dieditori oleh Penyair Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan. Ini tahap awal kerja serius yang dilakukan rekan-rekan mahasiswa, untuk ke depan masih banyak kerja-kerja yang berguna bagi masyarakat yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Tuturnya didampingi Sandy Octaria di ruang kerjanya.
Immatul Jannah menambahkan, para pembicara seperti sastrawan Gus Tf. Sakai dan Sulaiman Juned sudah berkenan untuk hadir menjadi pembicara. Begitu juga Sastrawan Senior DR (HC) Taufik Ismail berkenan untuk menjadi pembicara dalam acara tersebut. []
Sumber:
http://www.gong.tikar.or.id/?mn=agendabudaya&kd=157&to=view
Sandy menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan sastra. Acara seminar nasional berencana menghadirkan pembicara para sastrawan nasional, seperti; DR. (HC) Taufik Ismail dengan judul makalahnya ”Paradigma Baru Kesusasteraan Indonesia”, Gus Tf. Sakai (Sastrawan nasional) dengan materi “Proses Kreatif dalam menulis Prosa”, dan Sulaiman Juned (Penyair, Sutradara dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet) dengan makalah bertajuk “Proses Kreatif Penulisan Puisi”. Kegiatan ini untuk memacu dan meningkatkan kreatifitas guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses belajar mengajar di sekolah, serta memacu semangat rekan-rekan mahasiswa untuk berproses kreatif, tambahnya.
Ketua HIMA BASINDO Immatul Jannah menambahkan, Acara seminar sastra nasional ini, pesertanya diharapkan dari kalangan guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum. Selain Seminar Sastra, juga dilaksanakan Lounching perdana antologi puisi berjudul ‘lautan sajadah’. Antologi ini berisikan 104 puisi religius penyair asal mahasiswa FKIP/Bahasa dan sastra Indonesia UMSB. Antologi puisi ini dieditori oleh Penyair Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan. Ini tahap awal kerja serius yang dilakukan rekan-rekan mahasiswa, untuk ke depan masih banyak kerja-kerja yang berguna bagi masyarakat yang harus dilakukan oleh mahasiswa. Tuturnya didampingi Sandy Octaria di ruang kerjanya.
Immatul Jannah menambahkan, para pembicara seperti sastrawan Gus Tf. Sakai dan Sulaiman Juned sudah berkenan untuk hadir menjadi pembicara. Begitu juga Sastrawan Senior DR (HC) Taufik Ismail berkenan untuk menjadi pembicara dalam acara tersebut. []
Sumber:
http://www.gong.tikar.or.id/?mn=agendabudaya&kd=157&to=view
Fenomena Lafadz Allah
Oleh : Muhammad Subhan
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tampaknya harus memiliki badan khusus yang bertugas meneliti, mengkaji dan menyiarkan kepada umat tentang fenomena pemberitaan munculnya "lafadz Allah" di berbagai kejadian. Sebab, di samping umat awam bertanya-tanya tentang fenomena itu, sebagian lainnya mengkhawatirkan akan terjadinya kemusyrikan baru jika ada oknum-oknum tertentu yang berkepentingan merekayasa tulisan "Lafdhul Jalalal Allah" yang suci itu pada benda-benda mati maupun makhluk bernyawa, apalagi sampai mengkultuskannya untuk kepentingan-kepentingan di luar syariat.
Seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, banyak pemberitaan munculnya lafadz Allah, mulai dari jilatan api di Lapindo Brantas, pohon di Pekanbaru, bulu kucing di Tangerang, awan di Jakarta, Jogyakarta maupun di Padang, tulisan Laa Ilaha Ilallah di tempat pembakaran lemang di Pasaman, di dinding bukit di Padang Panjang dan telinga bayi, getah pohon di Tilatang Kamang, Agam, bulu kambing, kulit telur dan mungkin masih banyak lagi.
Fenomena seperti itu, saya kira, memang sering kali ditemui. Misalnya pohon-pohon atau benda lainnya yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip "lafdhul-jalalal, Allah". Namun pertanyaannya, pertanda apakah semua itu? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?
Menurut hemat saya, fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu dicermati secara teliti dan hati-hati. Sebab kemudahan rekayasa di zaman digital memungkinkan apa saja dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa teknologi. Tapi yang perlu dipertimbangkan, seberapa besar nilai positif dan produktif pada manusia yang melihatnya dari semua penampakan itu. Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin salat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, judi, korupsi dan berbuat zhalim? Dan apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan? Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?
Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh manusia sendiri, dan juga seluruh alam ini, sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alqur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53) Ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda-tanda itu adalah berbentuk ‘tulisan Allah'. Tanda-tanda itu maksudnya adalah ‘tanda kebesaran' Allah SWT. Orang-orang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan Allah itu.
"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran: 191)
Namun, kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir perjalanan para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Alquran yang merupakan miracle-pun mereka ingkari.
Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) Kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Alquran yang tak terbantahkan. Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon, kulit telur, dinding bukit, telinga bayi dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak akan menambah apa-apa. ***
http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20070805110525
MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) tampaknya harus memiliki badan khusus yang bertugas meneliti, mengkaji dan menyiarkan kepada umat tentang fenomena pemberitaan munculnya "lafadz Allah" di berbagai kejadian. Sebab, di samping umat awam bertanya-tanya tentang fenomena itu, sebagian lainnya mengkhawatirkan akan terjadinya kemusyrikan baru jika ada oknum-oknum tertentu yang berkepentingan merekayasa tulisan "Lafdhul Jalalal Allah" yang suci itu pada benda-benda mati maupun makhluk bernyawa, apalagi sampai mengkultuskannya untuk kepentingan-kepentingan di luar syariat.
Seperti yang diberitakan berbagai media akhir-akhir ini, banyak pemberitaan munculnya lafadz Allah, mulai dari jilatan api di Lapindo Brantas, pohon di Pekanbaru, bulu kucing di Tangerang, awan di Jakarta, Jogyakarta maupun di Padang, tulisan Laa Ilaha Ilallah di tempat pembakaran lemang di Pasaman, di dinding bukit di Padang Panjang dan telinga bayi, getah pohon di Tilatang Kamang, Agam, bulu kambing, kulit telur dan mungkin masih banyak lagi.
Fenomena seperti itu, saya kira, memang sering kali ditemui. Misalnya pohon-pohon atau benda lainnya yang kalau dilihat dari sudut pandang tertentu akan membentuk tulisan mirip "lafdhul-jalalal, Allah". Namun pertanyaannya, pertanda apakah semua itu? Apakah ada isyarat tertentu dari Allah SWT, ataukah peristiwa alam biasa yang terjadi secara kebetulan?
Menurut hemat saya, fenomena munculnya tulisan Allah SWT ini perlu dicermati secara teliti dan hati-hati. Sebab kemudahan rekayasa di zaman digital memungkinkan apa saja dilakukan, meski bukan berarti kita menuduh semua itu adalah rekayasa teknologi. Tapi yang perlu dipertimbangkan, seberapa besar nilai positif dan produktif pada manusia yang melihatnya dari semua penampakan itu. Apakah kalau ada kucing yang bulunya bertuliskan Allah, lalu umat Islam semakin rajin salat dan ibadah? Apakah kalau api di Lapindo secara kebetulan ditangkap kamera dan bertuliskan Allah, lalu umat Islam berhenti dari melakukan maksiat, judi, korupsi dan berbuat zhalim? Dan apakah kalau ada susunan awan di langit membentuk tulisan Allah, lalu keadilan bisa ditegakkan? Kalau tidak, lalu apa manfaat dari semua fenomena itu?
Sesungguhnya, tanpa harus ada tulisan lafadz Allah, pada tubuh manusia sendiri, dan juga seluruh alam ini, sudah lengkap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Alqur'an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fushshilat: 53) Ayat ini, tidak disebutkan hanya pada tempat tertentu, tetapi di semua tempat, bahkan di semua diri manusia. Pada semua itu ada tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan bahwa tanda-tanda itu adalah berbentuk ‘tulisan Allah'. Tanda-tanda itu maksudnya adalah ‘tanda kebesaran' Allah SWT. Orang-orang cerdas dan tahu teknologi akan berdecak kagum atas semua kesempurnaan ciptaan Allah itu.
"Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi; Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imran: 191)
Namun, kekaguman itu hanya berlaku buat orang-orang yang mengerti dan bisa mengambil pelajaran. Dengan memikirkan semua kesempurnaan ciptaan Allah itu, akhir perjalanan para ilmuwan yang beriman akan semakin bertambah imannya. Semakin cinta dan patuh kepada Allah, serta semakin kuat dalam mengejar kebahagiaan negeri akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang hatinya kesat dan beku, jangankan renungan tentang kebesaran Allah dan ciptaan-Nya, bahkan Alquran yang merupakan miracle-pun mereka ingkari.
Jadi kesimpulannya, Allah sudah menurunkan begitu banyak tanda kekuasaannya, baik dalam bentuk ayat (tanda) Kauniyah seperti fenomena kesempurnaan ciptaan-Nya, atau pun ayat Qauliyah, yaitu 6000-an ayat, 114 surat dan 30 juz ayat Alquran yang tak terbantahkan. Logikanya, kalau yang 6000-an ayat itu saja diacuhkan, apalagi yang hanya tulisan lafadz Allah di awan, api, bulu kucing, pohon, kulit telur, dinding bukit, telinga bayi dan sebagainya. Tentunya, nyaris tidak akan menambah apa-apa. ***
http://www.kabarindonesia.com/beritaprint.php?id=20070805110525
Rabu, 10 Maret 2010
Perda Rokok Padangpanjang
Catatan: Muhammad Subhan
Pemerintah Kota Padangpanjang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Tertib Rokok. Perda itu telah disahkan pada 5 November 2008 lalu. Gebrakan Padangpanjang itu diharapkan diikuti pula oleh kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat.
Meski baru dilahirkan, namun dampak positif adanya Perda tersebut membuat masyarakat di Padangpanjang mulai menyadari bahaya serta ancaman rokok. Dan, Walikota Padangpanjang dr. H. Suir Syam menginstruksikan seluruh pegawai di lingkungan Pemko Padangpanjang untuk tidak merokok di ruangan kerja. Jikapun ada pegawai yang merokok dan sudah ketergantungan terhadap rokok, di kantor-kantor pemerintahan disediakan ruangan khusus bagi perokok (smoking area).
Setahun ke depan, Perda itu disosialisasikan kepada masyarakat Kota Padangpanjang bahkan konon kabarnya, perusahaan rokok tidak diperkenankan lagi mensponsori kegiatan-kegiatan tertentu di Padangpanjang termasuk pemasangan iklan/reklame di Kota Serambi Mekah itu.
Di Indonesia, bahaya rokok masih menjadi isu pinggiran. Pemerintah dan tokoh masyarakat (seperti ulama) masih setali tiga uang. Bahkan umumnya ulama di Indonesia hanya menganggap rokok hukumnya makruh (parahnya banyak ulama di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat merokok!) berbeda dengan kebanyakan ulama di Timur Tengah, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz, Muhammad al-Utsaimin, Yusuf al-Qardhawi, termasuk ulama di Malaysia dan Brunai Darussalam, memanfawakan bahwa rokok haram hukumnya.
Dari kesehatan bahaya rokok sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi, lebih dari 70 artikel ilmiah serta penelitian sejumlah ahli membuktikan itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4.000 racun kimia berbahaya, dan 43 di antaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Akibatnya berbagai penyakit kanker mengintai, seperti: kanker paru-paru (90% kanker paru pada laki-laki disebabkan oleh rokok, dan 70% untuk perempuan), kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronkitis, mati mendadak pada bayi, impoten pada pria, bahkan rusaknya kesuburan wanita.
Memang tidak ada yang mati mendadak ketika menghisap rokok. Dampak rokok baru terasa setelah 10-20 tahun pasca penggunaannya. Dan, dampak rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (active smoker) saja, bahkan punya dampak yang sangat serius bagi yang tidak merokok (passive smoker). Yaitu, para perokok pasif ini akan mendapat racun dua kali lipat dari perokok aktif. Sangat tidak adil; tidak merokok tapi menghirup racun dua kali lipat. Menyikapi semua ancaman itu, Padangpanjang menyatakan komitmennya untuk berkata “tidak” terhadap rokok. Yang telah terlanjur dihimbau untuk segera “sadar” sebelum kematian mengancam.
Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya di Sumbar? Agak sulit kiranya membuat kebijakan seperti yang dilakukan Pemko Padangpanjang, jika mungkin saja gubernur merokok, atau bupati dan walikota juga merokok. Wallahu a’lam. []
Pemerintah Kota Padangpanjang menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok dan Kawasan Tertib Rokok. Perda itu telah disahkan pada 5 November 2008 lalu. Gebrakan Padangpanjang itu diharapkan diikuti pula oleh kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Barat.
Meski baru dilahirkan, namun dampak positif adanya Perda tersebut membuat masyarakat di Padangpanjang mulai menyadari bahaya serta ancaman rokok. Dan, Walikota Padangpanjang dr. H. Suir Syam menginstruksikan seluruh pegawai di lingkungan Pemko Padangpanjang untuk tidak merokok di ruangan kerja. Jikapun ada pegawai yang merokok dan sudah ketergantungan terhadap rokok, di kantor-kantor pemerintahan disediakan ruangan khusus bagi perokok (smoking area).
Setahun ke depan, Perda itu disosialisasikan kepada masyarakat Kota Padangpanjang bahkan konon kabarnya, perusahaan rokok tidak diperkenankan lagi mensponsori kegiatan-kegiatan tertentu di Padangpanjang termasuk pemasangan iklan/reklame di Kota Serambi Mekah itu.
Di Indonesia, bahaya rokok masih menjadi isu pinggiran. Pemerintah dan tokoh masyarakat (seperti ulama) masih setali tiga uang. Bahkan umumnya ulama di Indonesia hanya menganggap rokok hukumnya makruh (parahnya banyak ulama di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat merokok!) berbeda dengan kebanyakan ulama di Timur Tengah, seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz, Muhammad al-Utsaimin, Yusuf al-Qardhawi, termasuk ulama di Malaysia dan Brunai Darussalam, memanfawakan bahwa rokok haram hukumnya.
Dari kesehatan bahaya rokok sudah tidak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi, lebih dari 70 artikel ilmiah serta penelitian sejumlah ahli membuktikan itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4.000 racun kimia berbahaya, dan 43 di antaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Akibatnya berbagai penyakit kanker mengintai, seperti: kanker paru-paru (90% kanker paru pada laki-laki disebabkan oleh rokok, dan 70% untuk perempuan), kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronkitis, mati mendadak pada bayi, impoten pada pria, bahkan rusaknya kesuburan wanita.
Memang tidak ada yang mati mendadak ketika menghisap rokok. Dampak rokok baru terasa setelah 10-20 tahun pasca penggunaannya. Dan, dampak rokok bukan hanya untuk si perokok aktif (active smoker) saja, bahkan punya dampak yang sangat serius bagi yang tidak merokok (passive smoker). Yaitu, para perokok pasif ini akan mendapat racun dua kali lipat dari perokok aktif. Sangat tidak adil; tidak merokok tapi menghirup racun dua kali lipat. Menyikapi semua ancaman itu, Padangpanjang menyatakan komitmennya untuk berkata “tidak” terhadap rokok. Yang telah terlanjur dihimbau untuk segera “sadar” sebelum kematian mengancam.
Lalu, bagaimana dengan daerah lainnya di Sumbar? Agak sulit kiranya membuat kebijakan seperti yang dilakukan Pemko Padangpanjang, jika mungkin saja gubernur merokok, atau bupati dan walikota juga merokok. Wallahu a’lam. []
Rabu, 03 Maret 2010
Warga Bukittinggi Asal Aceh
Oleh: Muhammad Subhan
Bukittinggi sebagai Kota Perdagangan di Sumatera menyebabkan banyak orang datang untuk berniaga dan bermukim di daerah ini. Itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ketika Bukittinggi masih menjadi daerah jajahan Belanda bersamaan dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera. Keberadaan Jam Gadang yang dibangun Belanda serta adanya Pasar Atas dan Pasar Lereng telah menghipnotis banyak orang diluar Bukittinggi untuk datang ke kota ini.
Salah satu kelompok masyarakat yang datang bermukim di Bukittinggi adalah warga asal Aceh. Saat ini jumlah mereka mencapai sekitar 900 Kepala Keluarga atau lebih kurang 3.000-an jiwa. Mereka bekerja di berbagai sektor, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, TNI/Polri, Dokter, Perdagangan/Jasa, mahasiswa, dan lapangan pekerjaan lainnya.
Menurut sesepuh warga Bukittinggi asal Aceh, Teungku Ali Basya, yang saat ini usianya sudah lebih 80 tahun, mulanya warga Bukittinggi asal Aceh bermukim di kota wisata ini semata untuk menuntut ilmu agama, khususnya di Pesantren Thawalib Parabek dan Canduang. Banyak santri-santri yang berdatangan ke pesantren-pesantren ternama ini dari berbagai daerah di pelosok Aceh. Sepulang dari menuntut ilmu banyak di antara mereka yang menjadi ulama, salah seorangnya almarhum Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh.
Seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, keindahan Kota Bukittinggi di mata santri-santri asal Aceh menyebar ke berbagai pelosok kampung halaman mereka.. Dari mulut ke mulut, banyak orang Aceh lainnya yang tertarik untuk datang ke kota ini. Maka selanjutnya terjadilah gelombang kedatangan warga asal Aceh yang tidak hanya menuntut ilmu agama di sejumlah pesantren di Bukittinggi dan sekitarnya, namun juga bermukim di kota ini dalam waktu lama, bahkan berasimilasi lewat perkawinan dengan penduduk pribumi.
Meski sejarah mencatat konflik berkepanjangan terjadi di Aceh, namun warga Bukittinggi asal Aceh yang tinggal di kota berhawa sejuk ini hidup dalam kondisi aman dan nyaman. Suasana ini tentu tidak didapatkan di kampung halaman yang di masa itu mereka sangat akrab dengan ledakan mesiu dan selongsong peluru. Tapi syukurlah, Aceh kini telah damai dan mampu bangkit dari ketertinggalan dan siap menjadi daerah terdepan di sektor pembangunannya.
Sebagai warga Bukittinggi yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) Bukittinggi, pada pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Walikota dan Wakil Walikota) Bukittinggi, warga asal Aceh juga turut serta berpartisipasi. Namun kemana pandangan politik warga Bukittinggi asal Aceh ini, tentu kembali kepada individu mereka masing-masing. Tidak ada intervensi organisasi keluarga Aceh (Ikatan Keluarga Aceh Taman Syiah Kuala) dalam hal satu ini. Yang pasti, warga Bukittinggi asal Aceh akan memilih calon walikota dan calon wakil walikota yang amanah, bertanggung jawab, jujur, dan mampu mensejahterakan masyarakat secara umum. Tidak memilah dan memilih kepentingan satu kelompok masyarakat saja, tetapi benar-benar menyamakan seluruh kepentingan warga Bukittinggi meski mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda.
Memang, Bukittinggi menjadi “kota yang hidup” hari ini lantaran dihuni oleh berbagai macam suku di Indonesia. Semua hidup dalam suasana rukun dan damai. Warna kulit, ras, dan agama boleh berbeda, namun semangat toleransi, hormat menghormati, harus tetap terjaga, walau siapapun yang memimpin kota ini nanti. Selamat menyongsong Pilkada Bukittinggi. []
Bukittinggi sebagai Kota Perdagangan di Sumatera menyebabkan banyak orang datang untuk berniaga dan bermukim di daerah ini. Itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu ketika Bukittinggi masih menjadi daerah jajahan Belanda bersamaan dengan daerah-daerah lainnya di Sumatera. Keberadaan Jam Gadang yang dibangun Belanda serta adanya Pasar Atas dan Pasar Lereng telah menghipnotis banyak orang diluar Bukittinggi untuk datang ke kota ini.
Salah satu kelompok masyarakat yang datang bermukim di Bukittinggi adalah warga asal Aceh. Saat ini jumlah mereka mencapai sekitar 900 Kepala Keluarga atau lebih kurang 3.000-an jiwa. Mereka bekerja di berbagai sektor, mulai dari Pegawai Negeri Sipil, TNI/Polri, Dokter, Perdagangan/Jasa, mahasiswa, dan lapangan pekerjaan lainnya.
Menurut sesepuh warga Bukittinggi asal Aceh, Teungku Ali Basya, yang saat ini usianya sudah lebih 80 tahun, mulanya warga Bukittinggi asal Aceh bermukim di kota wisata ini semata untuk menuntut ilmu agama, khususnya di Pesantren Thawalib Parabek dan Canduang. Banyak santri-santri yang berdatangan ke pesantren-pesantren ternama ini dari berbagai daerah di pelosok Aceh. Sepulang dari menuntut ilmu banyak di antara mereka yang menjadi ulama, salah seorangnya almarhum Ali Hasymi, mantan Gubernur Aceh.
Seiring pergantian masa dan pertukaran waktu, keindahan Kota Bukittinggi di mata santri-santri asal Aceh menyebar ke berbagai pelosok kampung halaman mereka.. Dari mulut ke mulut, banyak orang Aceh lainnya yang tertarik untuk datang ke kota ini. Maka selanjutnya terjadilah gelombang kedatangan warga asal Aceh yang tidak hanya menuntut ilmu agama di sejumlah pesantren di Bukittinggi dan sekitarnya, namun juga bermukim di kota ini dalam waktu lama, bahkan berasimilasi lewat perkawinan dengan penduduk pribumi.
Meski sejarah mencatat konflik berkepanjangan terjadi di Aceh, namun warga Bukittinggi asal Aceh yang tinggal di kota berhawa sejuk ini hidup dalam kondisi aman dan nyaman. Suasana ini tentu tidak didapatkan di kampung halaman yang di masa itu mereka sangat akrab dengan ledakan mesiu dan selongsong peluru. Tapi syukurlah, Aceh kini telah damai dan mampu bangkit dari ketertinggalan dan siap menjadi daerah terdepan di sektor pembangunannya.
Sebagai warga Bukittinggi yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) Bukittinggi, pada pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Walikota dan Wakil Walikota) Bukittinggi, warga asal Aceh juga turut serta berpartisipasi. Namun kemana pandangan politik warga Bukittinggi asal Aceh ini, tentu kembali kepada individu mereka masing-masing. Tidak ada intervensi organisasi keluarga Aceh (Ikatan Keluarga Aceh Taman Syiah Kuala) dalam hal satu ini. Yang pasti, warga Bukittinggi asal Aceh akan memilih calon walikota dan calon wakil walikota yang amanah, bertanggung jawab, jujur, dan mampu mensejahterakan masyarakat secara umum. Tidak memilah dan memilih kepentingan satu kelompok masyarakat saja, tetapi benar-benar menyamakan seluruh kepentingan warga Bukittinggi meski mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda.
Memang, Bukittinggi menjadi “kota yang hidup” hari ini lantaran dihuni oleh berbagai macam suku di Indonesia. Semua hidup dalam suasana rukun dan damai. Warna kulit, ras, dan agama boleh berbeda, namun semangat toleransi, hormat menghormati, harus tetap terjaga, walau siapapun yang memimpin kota ini nanti. Selamat menyongsong Pilkada Bukittinggi. []
Rabu, 24 Februari 2010
Sinopsis Novel ”Cinta di Kota Serambi” karya Irzen Hawer

Aku, Syamsu, hari itu diusir dari ruang kelas. Alasannya sepele, karena terlambat membayar uang SPP. Bukan itu saja, uang pembangunan yang jumlahnya lebih besar dari SPP tidak aku serahkan pada bendahara sekolah, karena telah aku habiskan buat jajan.
Sabtu itu, aku ingin menyerahkan uang pembangunan pada Bu Annisa Sorga, sang bendahara sekolah. Tetapi Bu Annisa Sorga sibuk mengurus pertandingan sepakbola. Dan kami disuruh ke lapangan untuk memberi semangat kesebelasan sekolah kami melawan kesebelasan sekolah lain. Maka aku berencana menyerahkan uang itu pada hari Senin saja.
Sepulang menonton pertandingan sepakbola, hujan turun sangat lebat. Aku berteduh di emperan toko. Sampai setengah tiga sore tanda-tanda hujan akan berhenti tidak nampak. Perutku sangat lapar, sementara tak jauh dari tempatku berteduh ada kedai bakso yang sebentar-sebentar aroma uap kuah bakso yang keluar dari periuk besar menari-nari di penciumanku.
Di saku celana hanya ada uang yang rencananya akan aku serahkan pada hari Senin ke bendahara sekolah. Ya, uang pembangunan. Maka berkecamuklah perang dalam diriku. Pikiranku melarang untuk tidak membelanjakan uang itu. Sementara perutku heboh meronta-ronta minta diisi. Akhirnya kehendak perutkulah yang menang. Tanpa rasa berdosa uang itu aku belanjakan. Makan bakso sepuasnya.
Tapi mulai saat itu, dalam pikiranku, sang bendahara sekolah berubah menjadi bentuk yang menakutkan. Tidurku mulai diganggu mimpi-mimpi buruk.
Dan, terjadilah peristiwa yang memalukan hari itu. Karena aku tak membayar uang pembangunan, akupun diusir dari ruang kelas secara tidak hormat. Aku pergi meninggalkan kelas diiringi tatapan wajah kawan-kawanku.
Ketika diusir dari kelas aku takut pulang. Aku keluyuran di pasar. Ketika hari beranjak siang perutku mulai lapar. Aku pun mengais-ngais sampah mencari apa yang bisa dimakan. Aku menemukan sepotong kue yang gepeng sebelah karena diinjak kaki orang. Kue itu aku makan. Setelah itu aku pergi ke rumah kakak dari ibuku yang tinggal di Jalan Kantin dekat pasar. Aku memanggilnya Mak Tuo. Mak Tuoku ini sangat pelit orangnya. Aku bekerja keras di rumahnya tanpa diberi makan, hanya diberi uang sedikit setelah itu aku disuruh pulang.
Tapi hari itu aku tidak langsung pulang. Aku main-main di persimpangan jalan raya memperhatikan kendaraan yang lewat. Waktu aku mau jajan ternyata uang yang diberikan Mak Tuo hilang. Lalu aku mencari-carinya ke tempat di mana aku lewat tadi. Tiba-tiba lenganku dicengkeram seorang lelaki dewasa, rupanya ayahku. Aku diseret pulang. Tiba di rumah aku disiksa ayah. Ayah benar-benar murka karena uang untuk sekolah aku habiskan buat jajan. Kemarahan ayah masuk akal, karena hidup kami susah, usaha ayah tidak berjalan normal.
Setelah ayah melunasi hutangku di sekolah, aku pun mulai terbebas dari himpitan perasaan bersalah dan dikejar-kejar dosa. Aku kembali masuk sekolah. Untuk menambah-nambah uang jajan, aku mulai jualan kue ’pinukuik’ yang diajak Lukman, sepupuku yang duduk di kelas enam. Kami jualan di Subuh hari jelang sekolah. Induk semangku adalah Tek Janah, ibu Minah teman sekelasku. Tek Janah berfamili dengan ayahku. Maka aku dan Minah sangat akrab.
Suatu hari aku menginap di rumah Mak Tuo bersama Lukman. Mak Tuoku itu bernama Asma. Dulu ia tamatan Diniyyah Puteri, dan sangat pandai berkisah. Malam itu kami mendengarkan kisahnya, tentang awal mula ia bertemu dengan Syamsuddin yang sekarang jadi suaminya. Kami memanggil suaminya dengan sebutan Pak Tuo. Pak Tuo tamatan Thawalib Putra Padangpanjang.
Di masa mudanya, setamat Thawalib, Syamsuddin berniat melanjutkan kuliah ke IAIN di Padang. Dia pulang kampung meminta biaya pada mamaknya (kakak ibunya), karena bapaknya telah meninggal dunia. Seluruh sawah ladang dikuasai mamaknya. Tapi, jangankan uang yang didapat, pertengkaranlah yang terjadi. Mamaknya karena emosi ingin mencelakai Syamsuddin. Syamsuddin bukanlah pemuda biasa saja, selama dia tinggal di asrama Thawalib dia juga belajar pencak silat pada seorang guru silat tua di Padangpanjang. Anak mamaknya juga ingin mencelakai dirinya, tetapi berhasil diatasinya. Karena Syamsuddin urung kuliah, dia jadi garin (penjaga masjid) di Kampung Manggis tempat dimana Asma tinggal.
Di Kampung Manggis adat istiadatnya sangat kuat. Di sinilah Asma, Mak Tuoku ini, menjalin cinta kasih dengan Syamsuddin. Tapi karena keduanya memiliki latar belakang pendidikan agama, dan status Syamsuddin sebagai garin masjid pula, percintaan mereka adalah percintaan tidak biasa. Ibarat menarik rambut dalam tepung, tepung tidak terserak rambut tidak putus. Cinta mereka adalah cinta monolog. Perasaan hati hanya tertuang dalam goresan pena dalam surat-surat cinta mereka yang romantis. Hal ini mereka lalui selama lima tahun. Penuh perjuangan dan pengorbanan.
Setelah aku duduk di bangku kelas tiga di SMP Negeri 1 Padangpanjang, datanglah musibah itu...
Tek Janah, emak Minah yang juga induk semangku meninggal dunia. Sepeninggal emaknya Minah hidup sebatang kara. Mengetahui emak Minah sudah meninggal, bapaknya yang telah bercerai dengan emaknya dan tinggal di Medan, datang ke Padangpanjang menjemput Minah dan membawanya ikut ke Medan. Bapak Minah ini telah lama tidak pulang-pulang karena telah beristri pula di negeri orang. Minah tidak mau, dia ingin menamatkan sekolahnya yang telah kelas tiga dan sebentar lagi tamat. Tetapi bapaknya tetap memaksa.
Sebelum Minah berangkat, Minah ingin menemuiku. Dia datang ke rumahku, tapi ketika itu aku belum pulang sekolah. Dia menyongsongku ke jalan dimana biasanya aku lewat pulang, juga mendatangi tempat-tempat dimana kami pernah bermain bersama.
Di sekolah, ketika sudah beberapa hari menemui bangku kosong tempat biasa Minah duduk, perasaanku mulai tak tenang. Aku was-was kalau-kalau telah terjadi sesuatu terhadap diri Minah. Belum usai pelajaran akupun beranjak pulang dan mencari Minah di rumahnya. Tapi Minah tidak kutemui di sana, hanya ada sebuah mobil sedan yang siap-siap akan berangkat. Dari seorang tetangga kuketahui bahwa Minah mencariku ke rumah sementara ketika itu aku masih di sekolah. Aku pun menyusulnya ke rumah, tapi lagi-lagi aku tak menemukannya.
Akupun menyusulnya ke tempat-tempat di mana kami biasa bersua dan bermain-main menghabiskan hari bersama kawan-kawan. Dengan berlari-lari kecil aku menuju jalan yang mungkin ia tempuh ketika mencariku. Tapi Minah tidak juga kelihatan. Aku cepat berlari kembali ke rumahnya. Dari jauh aku lihat mobil sedan di depan rumahnya tadi tidak ada lagi. Ternyata Minah telah berangkat. Kata familinya yang aku kenal, mungkin mobil yang membawa Minah itu singgah di Bukit Surungan, karena disana rumah orang tua bapaknya.
Aku pun meninggalkan Kampung Manggis dan berlari menuju Bukit Surungan di perbatasan kota. Tetapi tetap sia-sia. Minah telah berangkat, meninggalkan Padangpanjang. Aku terhenyak menghadapi realita itu. Di bawah tugu batas kota, dengan nafas yang tersenggal-senggal dan kepala yang berat, batinku berkecamuk. Pikiranku menerawang ke masa beberapa tahun silam ketika aku dan Minah masih bersama.
Air mataku tumpah. Setelah Minah pergi, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.
Apa yang terjadi pada diri Syamsu sepeninggal Minah? Akankah mereka bertemu kembali setelah dewasa nanti?
Dapatkan novel “Cinta di Kota Serambi” dengan harga murah sekaligus menyaksikan peluncurannya oleh Wakil Walikota Padangpanjang dan mengikuti Seminar “Cara Hebat Jadi Penulis Novel” bersama Dianing Widya Yudhistira (Jakarta), Minggu 14 Maret 2010 di Gedung M. Syafei Padangpanjang.
Novel ini akan dibedah tuntas oleh Hj. Roidah (penulis 17 novel best seller asal Padang) dan Sulaiman Juned, S.Sn, M.Sn (penyair dan Dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang).
Segera daftar sekarang juga di Radio Bahana FM Padangpanjang. Informasi lebih lanjut tentang acara ini di nomor 081374442075.
Jumat, 12 Februari 2010
Saya, di Sebuah Persimpangan Titik Balik Hidup

Oleh: Muhammad Subhan
Sejak kecil, saya terobsesi ingin menjelajahi dunia. Maka, menjadi wartawan adalah pilihan hidup saya. Meski saya tahu, dunia wartawan bukanlah dunia yang bisa mewujudkan impian dalam sekejap. Berbagai tantangan pasti akan saya hadapi. Bahkan, ibu kandung saya, awalnya tak merestui niat saya menjadi wartawan. Dalam benak ibu, menjadi wartawan artinya saya harus siap menjadi ‘orang miskin’.
Meski tidak selalu benar, namun logika ibu masuk akal. Delapan tahun melanglang buana diberbagai media, hidup saya biasa-biasa saja. Bahkan selama empat tahun saya sempat berjalan kaki memburu berita. Tak punya sepeda motor, alat komunikasi, apalagi komputer. Gaji pas-pasan. Namun empat tahun kemudian, sesudah masa-masa ujian itu, alhamdulillah hidup saya mulai menampakkan perobahan. Bahkan, setelah ibu menjanda, kebutuhan ibu dan tiga orang adik sayalah yang menafkahi. Semua dari hasil keringat saya sebagai wartawan. Cita-cita yang semula tidak direstui ibu itu.
Meski tidak restu, tapi kasih ibu terhadap saya tidak berkurang. Ia benar-benar sangat menyayangi saya, juga kepada ketiga adik saya. Ibulah yang selalu memotivasi saya agar giat bekerja. Meski ia sedih tak bisa membantu lantaran sakit, tapi keteguhan jiwanya, kesabaran dan kesalehannya, menjadi pemicu semangat saya untuk dapat membahagiakannya kelak, membuatkan rumah, atau mewujudkan impiannya agar bisa menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji ke Tanah Suci.
Saya lahir di Medan 3 Desember 1980. Sejak kelas 2 SMP saya telah menulis. Di SMP pula, saya sempat memprakarsai terbitnya majalah dinding. Hobi menulis berlanjut hingga SMA dan kuliah. Masa SMP dan SMA saya habiskan di Kruenggeukueh, Aceh Utara. Meski gelar sarjana tidak mampu saya raih hingga kini, namun setidaknya saya pernah mengenyam dunia kampus, khususnya di Jurusan Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perdagangan, Padang dan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, Sekolah Tinggi Agama Islam, Yayasan Kebangkitan Islam (STAI-YKI), Sumatera Barat di Padang.
Seringkali orang bertanya, mengapa saya tidak menyelesaikan kuliah. Saya menjawab, ketika itu saya benar-benar fokus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ibu dan ketiga adik saya yang masih sekolah. Memang, sebuah pilihan pahit. Hasrat hati ingin kuliah, tapi selalu berbenturan dengan masalah keuangan. Kuliah tidak sedikit menghabiskan uang, sementara di rumah ibu butuh obat, makanan, dan adik-adik juga harus sekolah agar masa depan mereka lebih baik dari saya. Setiap kali orang bertanya tentang kuliah, saya merasa sedih. Bahkan, setiap kali meliput acara wisuda beberapa perguruan tinggi, tak jarang diam-diam saya menahan air mata.
Bisa dibilang, sejak kecil saya belum pernah merasakan hidup berkecukupan. Almarhum ayah saya, Abdul Manaf, hanya seorang pekerja kasar. Ibu saya seorang buruh cuci yang mengharapkan upah dari satu rumah ke rumah lain. Penghasilan kedua orang tua saya hanya cukup untuk sehari makan dan menyimpan sedikit uang untuk membayar kontrakan rumah. Kami tidak pernah memiliki rumah sendiri, selalu pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya.
Meski hidup miskin, saya sangat bangga dengan kedua orang tua yang pekerja keras. Nasihat ayah yang sangat saya cintai selalu memotivasi saya. Ayah sering bilang, jangan pernah menyerah dengan keadaan, terus berjuang, dan jangan meminta-minta. Kata-kata itu lekat terpatri dalam benak saya untuk merobah keadaan. Saya bertekad, suatu saat nanti saya harus bisa membahagiakan orang tua.
Sampai kelas 2 SD, saya tinggal bersama orang tua di Medan. Ketika naik kelas 3 SD, kami pindah ke Lhokseumawe, Aceh Utara. Di kota itu ayah bekerja sebagai tukang sol sepatu. Setiap pagi, usai sarapan dan minum secangkir kopi, saya lihat ayah menyandang ransel berisi peralatan menjahit sepatu. Pekerjaan itu dilakukan ayah karena ayah bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi. Ayah tidak tamat SMP, begitu juga ibu, hanya tamatan SD.
Di awal-awal bekerja sebagai tukang sol sepatu di daerah yang baru, benar-benar terasa sangat berat dan sulit. Bahkan seharian tak ada orang yang memanfaatkan jasa ayah. Dengan raut wajah sedih, ayah sering pulang dengan tangan hampa, tanpa membawa apa-apa. Sering pula saya dengar ayah dan ibu cekcok hanya gara-gara persoalan tak ada uang untuk belanja. Namun ayah adalah seorang yang sangat sabar. Ibadahnya rajin, doanya panjang, dan ayah sangat menyayangi saya dan adik-adik.
Ketika duduk di bangku SMA, dengan inisiatif sendiri saya membantu ayah bekerja. Saya pun belajar menjahit sepatu. Awalnya ayah tidak setuju, namun karena keseriusan saya membantu ayah, akhirnya pekerjaan itu pun kami lakoni berdua. Terkadang, ketika ayah sakit, sayalah yang menggantikannya bekerja.
Bekerja sebagai tukang sol sepatu bukanlah pekerjaan menjanjikan. Nasib-nasiban. Terkadang ada orang, terkadang pula tidak ada sama sekali. Sehari hanya dua tiga orang yang memanfaatkan jasa tukang sol sepatu. Uang yang paling banyak dibawa pulang sehari tidak lebih dari Rp15.000. Dengan penghasilan yang sangat kecil itulah ayah menafkahi kami dan menyekolahkan saya dan adik-adik.
***
Tanggal 15 Maret 2000, adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Orang yang paling saya cintai, ayah, berpulang ke Rahmatullah dalam usia 62 tahun. Ujian yang teramat berat kami rasakan. Pupuslah harapan saya untuk membahagiakan ayah kelak. Ketika itu usia saya masih sangat belia.
Sebelum ayah meninggal, saya pernah menyampaikan kepada ayah bahwa saya akan melanjutkan pendidikan ke kota Padang, Sumatera Barat. Saya ingin kuliah di sana. Namun agaknya ayah tidak setuju. Ayah berharap saya dapat membantunya bekerja setamat SMA karena usia ayah telah lanjut dan sering sakit-sakitan. Agaknya persoalan itu menjadi pikiran ayah. Beberapa hari setelah itu ayah jatuh sakit. Ia terkena stroke. Tiga hari kemudian ayah meninggal dunia.
Ketika itu, saya, ibu, dan ketiga orang adik benar-benar tidak siap kehilangan ayah, tulang punggung keluarga. Pendidikan saya di SMA tinggal beberapa bulan lagi tamat. Sempat saya berniat untuk memutuskan sekolah karena tak punya uang membayar biaya sekolah. Namun, atas motivasi guru-guru di sekolah serta kemauan untuk terus belajar, saya berhasil menamatkan SMA dengan hasil memuaskan.
Sepeninggal ayah, Nurhayati, ibu saya, juga mulai sakit-sakitan. Rematik dan asam urat menyerang tubuhnya. Mulanya ibu bekerja sebagai buruh cuci dan sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang camat. Namun sejak ibu sakit, tak ada lagi orang yang membantu mencari nafkah. Siang malam saya berpikir apa yang bisa saya kerjakan untuk membantu ibu dan adik-adik yang masih kecil dan harus bersekolah. Seorang adik laki-laki saya ketika itu masih duduk di kelas 2 MAN (Madrasah Aliyah Negeri), dan dua adik perempuan saya, satu di kelas 6 SD dan satu lagi kelas 2 SD. Saya sangat berharap mereka mampu menyelesaikan pendidikan meski hanya sampai sekolah menengah.
***
Setamat SMA, saya menyampaikan kepada ibu agar pulang saja ke Sumatera Barat. Ayah saya asal Aceh, ibu Minang. Kampung halaman ibu di sebuah desa kecil bernama Kajai di Pasaman Barat. Mulanya ibu menolak pulang kampung. Namun, setelah saya berangkat sendiri melihat kampung ibu, saya lihat banyak sanak famili ibu. Namun, sayangnya kampung itu berada di kawasan pedalaman dan bukan daerah berkembang. Mayoritas masyarakatnya juga berpenduduk miskin.
Setelah bermusyawarah dengan sanak famili ibu di kampung dan menceritakan keadaan keluarga di Aceh sepeninggal ayah, mereka setuju agar ibu dan adik-adik dibawa saja ke kampung. Akhirnya saya kembali ke Aceh menjemput ibu dan adik-adik. Setelah saya yakinkan bahwa keadaan hidup akan berobah di Sumatera Barat, akhirnya dengan berat hati ibu pun berkenan pulang kampung. Sakit asam urat ibu yang sudah akut menyulitkan ibu berjalan jauh. Ibu harus dipapah naik turun bis. Biaya keberangkatan itu, pada pertengahan 2000, semua perabotan yang ada di rumah kontrakan peninggalan almarhum ayah kami jual sebagai bekal perjalanan.
Setelah membawa ibu dan adik-adik pulang kampung, saya pun merantau ke kota Padang. Kota yang baru pertama kali saya jamah seumur hidup itu terasa menyeramkan, karena disana saya tak punya siapa-siapa. Berbagai pekerjaan pun saya coba lakukan. Mulanya saya menjadi salesman menjual barang-barang yang saya ambil dari sebuah perusahaan. Namun pekerjaan itu saya rasakan bertentangan dengan nurani. Beberapa perusahaan tempat saya bekerja saya tinggalkan begitu saja. Selain gaji kecil, kerja yang dilakoni pun terasa sangat berat.
***
Sejak kecil, ayah telah mengajarkan kami anaknya ilmu agama. Saya juga sempat belajar mengaji di sebuah balai pengajian. Dengan kemampuan sedikit ilmu agama itulah, ketika merantau di Kota Padang, saya berinisiatif bekerja menjadi gharin di sebuah mushalla di kawasan Air Tawar Barat, Padang. Tugas gharin adalah membersihkan mushalla, azan, imam, bahkan ceramah agama disaat ustaz yang diundang berhalangan hadir.
Pilihan menjadi gharin saya lakukan lantaran saya tidak juga menemukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya sering merasakan pedihnya menahan lapar. Dengan menjadi gharin saya pun mendapat jatah beras dan sedikit uang lauk pauk. Saya juga mengajarkan anak-anak sekitar mengaji. Selama menjadi gharin itulah kematangan diri saya mulai terasah.
Pengabdian menjadi gharin saya jalani sejak tahun 2000 hingga 2004. Di akhir tahun 2000, selain tetap menjadi gharin saya mulai menulis di surat kabar, khususnya di sejumlah koran mingguan yang ada di kota itu. Di akhir tahun itu pula saya mencoba melamar menjadi wartawan di sebuah surat kabar mingguan.
Pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mulanya saya berpikir pekerjaan wartawan adalah kerja yang menjanjikan dengan gaji besar. Ternyata harapan saya keliru, jauh panggang dari api. Sepanjang tahun 2000-2004, beberapa koran mingguan tempat saya bekerja itu tak satupun yang memberikan gaji layak selayaknya seorang pekerja profesional. Bahkan pernah saya berpikir untuk berhenti menjadi wartawan, namun keinginan itu cepat-cepat saya pupus karena dunia wartawan setelah saya renungi memiliki banyak kelebihan. Dengan menjadi wartawan, wawasan saya terus bertambah karena informasi terbaru selalu saya dapat setiap hari di media. Begitu pula, menjadi wartawan saya menemukan banyak kawan. Dan menjadi wartawan, saya pun berkesempatan mengunjungi daerah-daerah yang belum pernah saya datangi, baik di Sumatera Barat maupun beberapa daerah lainnya di Indonesia dalam berbagai perjalanan jurnalistik yang ditugaskan kepada saya.
Di tahun 2004, saya meninggalkan pekerjaan sebagai gharin. Hal itu saya lakukan semata untuk memfokuskan bekerja menjadi wartawan. Pilihan yang berat karena awalnya jemaah mushalla tempat saya tinggal keberatan melepas kepergian saya. Namun karena tekad yang kuat akhirnya saya pun berhenti menjadi gharin.
Di tahun itu pula, saya bekerja di Harian Mimbar Minang Padang. Namun hanya dua tahun saya mampu bertahan lantaran koran itu bangkrut dan menjadi koran mingguan. Jika saya kembali bekerja di koran mingguan, itu artinya saya gagal dan tidak ada kemajuan. Bersama beberapa kawan, usai melakukan perjalanan jurnalistik ke Aceh pascatsunami, saya pun mendirikan koran Harian Serambi Minang Padang. Namun koran itu hanya bertahan 3 bulan lantaran kehabisan modal.
Di akhir tahun 2004, saya diterima bekerja di Harian Haluan Padang, yang merupakan surat kabar tertua di Sumatera Barat. Mulanya saya tidak menyangka akan diterima di koran itu karena saya tidak memiliki ijazah sarjana, namun lantaran surat lamaran yang saya kirimkan banyak melampirkan sertifikat dan piagam penghargaan belasan pelatihan jurnalistik yang pernah saya ikuti, atas pertimbangan itulah saya diterima bekerja.
Selama bekerja di Harian Haluan kemampuan jurnalistik saya semakin terasah. Saya pun sering ditugaskan meliput kegiatan-kegiatan penting ke sejumlah daerah. Beberapa kali kunjungan Presiden dan Wakil Presiden serta menteri-menteri ke Sumatera Barat, sayalah yang diberikan tugas meliput. Alhamdulillah, kemahiran saya sedikit di bidang fotografi menghantarkan saya menjadi fotografer koran Haluan selama lebih kurang dua tahun. Begitu pun kesenangan saya menulis feature yang mengangkat berbagai persoalaan human interest masyarakat kelas grassroot membuat nama saya cepat dikenal.
Di awal 2007, oleh Pemimpin Redaksi Haluan saya ditugaskan ke Kota Bukittinggi dan diangkat menjadi Kepala Perwakilan Haluan di Kota Wisata itu. Penugasan itu tentu saja saya terima. Selama di kota itu pulalah saya mengembangkan diri. Di sisa-sisa waktu luang saya menjelajah dunia melalui internet. Saya pun berkawan dengan banyak orang di berbagai belahan dunia.
Awal 2009 lalu, saya mendapat kesempatan bergabung dalam manajemen Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Sastrawan besar Indonesia asal Sumatera Barat itu membangun rumah yang didedikasikan khusus untuk pengembangan dunia sastra Indonesia khususnya di Sumatera Barat. Di Rumah Puisi ini saya diamanahkan jabatan sebagai Manager Program. Saya pun bisa bertemu dengan banyak sastrawan dan guru-guru sastra yang berkunjung ke sana. Di sampung itu, 7.000-an judul buku koleksi Taufiq Ismail, merangsang minat baca saya yang selama ini haus lantaran tak mengecap pendidikan tinggi.
***
Orang yang paling bahagia atas semua perobahan hidup saya itu, tentulah ibu. Ibu yang kasihnya sepanjang jalan tak pernah berhenti berdoa siang malam untuk kebahagiaan saya. Bahkan, ketika saya menikah ibu ingin tinggal di kampung saja bersama famili di sana. Ibu ingin melihat saya bahagia bersama istri dan tidak memberatkan saya. Tentu saja, keinginan ibu itu tidak saya kabulkan. Ibu tetap saya bawa ikut bersama saya, tinggal di rumah saya meski kami masih tinggal di rumah kontrakan, pindah dari satu rumah ke rumah lainnya jika habis tahun. Sekarang kami tinggal di Kota Padangpanjang, kota kecil berhawa sejuk di kaki gunung Merapi.
Satu hal lagi yang saya kagumi dari sosok ibu, adalah ibadahnya yang sungguh luar biasa. Shalat Dhuhanya tak pernah tinggal. Bahkan, kebiasaan ibu bangun setiap pukul 3.00 dini hari, shalat tahajud, shalat hajat, zikir dan doa yang khusyuk dan panjang. Usai shalat malam itu, ibu tidak tidur lagi, ia tilawah Alquran hingga jelang Subuh. Bahkan, di Subuh itu pula, ibu menyempatkan memasak untuk sarapan saya dan istri. Saya selalu melarang ibu bangun terlalu pagi karena saya kuatir akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Tapi ibu tetap melaksanakan semua pekerjaan itu yang seharusnya dikerjakan oleh istri buat saya.
Ya Allah, satu permohonan saya kepada Engkau, panjangkan usia ibu dan kabulkan doa-doa saya agar dapat membawa orang yang saya kasihi itu ke Tanah Suci Mekah. Sebagaimana impian ibu dan juga impian saya. Sungguh, saya dan ibu ingin mencium Hajar Aswad, menggelilingi Ka’bah dan juga wukuf di Arafah… []
Padang Panjang, Februari 2010
Sebuah Testimoni Tentang Novel “Cinta di Kota Serambi”

Oleh: Muhammad Subhan
Mulanya, saya tidak begitu memperhatikan naskah Novel yang ditulis Pak Irzen Hawer berjudul “Cinta di Kota Serambi” ketika ia menyerahkannya kepada saya di Rumah Puisi Taufiq Ismail beberapa bulan lalu. Saya hanya menyarankan, cobalah dikirimkan ke Jakarta. Mana tahu ada penerbit yang berminat.
Tapi setelah saya baca keseluruhan isi novel tersebut, alangkah kagetnya saya bahwa ini adalah novel yang benar-benar luar biasa, yang ditulis oleh seorang putra Padangpanjang, Kota Serambi Mekah. Saya bawa novel itu ke Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang dimana sehari-hari saya berkecimpung berdiskusi sastra bersama kawan-kawan “senasib”, lalu membedahnya. Kesimpulan saya, novel ini layak mendapat tempat di hati pembaca.
Maka saya berpikir pula, kenapa harus menerbitkannya di Jakarta? Sedikit-sedikit Jakarta, apa hebatnya Jakarta? Padangpanjang meski sebuah kota kecil di wilayah administratif Propinsi Sumatera Barat namun saya kira juga memiliki potensi penerbitan buku. Pak Irzen Hawer pun berharap agar bukunya bisa diterbitkan oleh Komunitas Seni Kuflet melalui Divisi Penerbitannya, Kuflet Publishing. Dengan dana seadanya, kawan-kawan pun mulai bergerak. Komit, dan siap mengangkat novel ini hingga diterbitkan.
Maka, ketika covernya didesain oleh seorang anggota Kuflet, lalu dipromosikan melalui facebook dan situs jejaring sosial lainnya, dalam sekejab mendapat respon luar biasa dari berbagai kalangan, tidak hanya masyarakat umum, namun juga teman-teman sastrawan yang cukup senior di Tanah Air, termasuk mancanegara. Pemesan pun mulai mengalir. Dan siapa sangka, kalau novel ini mendapat komentar luar biasa dari novelis besar Ahmad Tohari, Dianing Widya Yudhistira, Mustafa Ismail, D. Kemalawati, dan sejumlah nama lainnya.
Sampai saat ini, saya dan Kanda Sulaiman Juned, S.Sn, M.Sn belum dibayar sebagai tenaga editor dan yang menerbitkan novel ini. Dan, kami juga siap tidak dibayar asalkan penulis generasi baru (meski usia Pak Irzen Hawer sudah 50-an tahun) Padangpanjang ini bisa terekspose ke permukaan. Dia bisa menjadi “pahlawan” bagi Padangpanjang sebagai kota seni dan seniman serta gudangnya penulis di masa dahulunya.
Kami harapkan, dengan penerbitan novel ini nantinya dapat memotivasi generasi muda Padangpanjang khususnya untuk membudayakan gemar membaca dan menulis sebagai simbol peradaban bangsa-bangsa besar di dunia. Tak soal kita berdomisili di kota kecil namun kota kecil ini kelak bisa menjadi gerbang dunia yang didatangi banyak orang, layaknya Pulau Belitong yang terangkat potensinya lewat Novel Adrea Hirata, “Laskar Pelangi”.
Untuk itu, kami mengajak kerjasama berbagai pihak, khususnya tokoh-tokoh Padangpanjang baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan untuk memberikan bantuan baik moril maupun spirituil sehingga acara Peluncuran ini dapat berlangsung sukses dan membanggakan, bukan bagi kami saja di Komunitas Seni Kuflet namun juga bagi Padangpanjang tercinta. Insya Allah.
Berikut Proposal yang kami ajukan dan semoga mengetuk pintu hati Bapak/Ibu/Saudara/Sahabat untuk menjalin kerjasama (sekali lagi bukan buat kami) tapi buat masa depan Padangpanjang yang lebih baik. Klik Proposal di: http://penamuhammadsubhan.blogspot.com/2010/02/proposal-seminar-cara-hebat-jadi_11.html
Kamis, 11 Februari 2010
Proposal Seminar “Cara Hebat Jadi Penulis Novel”

PROPOSAL
SEMINAR “CARA HEBAT JADI PENULIS NOVEL”
BERSAMA NOVELIS DIANING WIDYA YUDHISTIRA (JAKARTA)
DAN LAUNCHING NOVEL “CINTA DI KOTA SERAMBI”
KARYA PUTRA PADANGPANJANG, IRZEN HAWER
MINGGU, 14 MARET 2010 DI GEDUNG M. SYAFE’I
I. LATAR BELAKANG
Fenomena Tetralogi Novel Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata menyentak banyak kalangan pecinta sastra Tanah Air. Ternyata, penulis yang lahir di Belitong, Kepulauan Bangka Belitung itu, mampu menghipnotis pembaca novelnya hingga berujung pada popularitas daerah kelahirannya, Belitong. Belitong pun, oleh pemerintah setempat, menobatkan diri sebagai “Negeri Laskar Pelangi” yang tidak sedikit mendongkrak potensi pariwisata daerah itu.
Ternyata, dengan menulis novel seseorang bisa menjadi “pahlawan” bagi daerah yang diangkatnya dalam cerita-cerita di dalam novelnya itu. Dan, Andrea Hirata membuktikan bahwa dia mampu menjadi “pahlawan” yang tidak saja bagi Belitong namun juga bagi perkembangan sastra Indonesia di era millenium ini. Tetralogi Laskar Pelangi menjadi salah satu novel yang booming di pasaran hingga mendapat cetak ulang beberapa kali.
Mengikuti jejak Andrea Hirata itu, di Kota Serambi Mekah Padangpanjang, yang terkenal juga negeri tempat lahir dan besarnya sejumlah penulis ternama Minangkabau, seperti AA Navis, Hamka, Inyiak DR, Zainuddin Labay, Rahmah El Yunusiyah, H. Abdullah Ahmad, Syekh Jamil Jaho, dan sederet nama besar lainnya, menyimpan potensi luar biasa. Salah seorang diantaranya, penulis generasi kini, adalah Irzen Hawer putra Padangpanjang yang mengabdikan dirinya sebagai Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Batipuh, mampu menulis novel bertema lokal berjudul Cinta di Kota Serambi.
Cinta di Kota Serambi adalah novel pertama dari dua novel yang diselesaikannya sepanjang tahun 2009 dalam kurun waktu relatif singkat, enam bulan. Sebuah lompatan luar biasa di usianya yang telah memasuki kepala lima, dan sebelumnya tak pernah ia menulis novel apapun. Dan, motivasi menulis novel itu, katanya, terinspirasi setelah mengikuti pelatihan Menulis, Membaca dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Nagari Aie Angek.
Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang sebagai satu-satunya komunitas yang menaungi aktivitas dan kreativitas penulis muda Padangpanjang, melalui Divisi Penerbitan Kuflet Publishing memberanikan diri menerbitkan Novel karya Irzen Hawer ini, Cinta di Kota Serambi. Kami yakin dan percaya, novel ini tidak kalah kualitasnya dari Novel Laskar Pelangi yang kelak, Insya Allah, akan mengangkat citra Padangpanjang di mata dunia sebagai gudangnya penulis.
Atas dasar itu, dalam rangka peluncuran Novel Cinta di Kota Serambi, kami bermaksud menggelar acara Seminar bertema Cara Hebat Menjadi Penulis Novel bersama Novelis Dianing Yushistira (Jakarta), Novelis Roidah (Padang), sekaligus Launching Novel Cinta di Kota Serambi yang rencananya dilakukan oleh Bapak Wakil Walikota Padangpanjang.
II. MAKSUD DAN TUJUAN
1. Memperkenalkan penulis novel asal Kota Padangpanjang;
2. Menarik minat masyarakat untuk membudayakan membaca dan menulis;
3. Memotivasi siswa/mahasiswa menulis novel;
4. Sebagai media pembelajaran bagi penulis-penulis pemula Padangpanjang;
5. Media promosi bagi Kota Padangpanjang.
III. SASARAN
Peserta yang mengikuti Seminar dan Launching ini adalah:
1. Dosen/Guru se Sumatera Barat,
2. Mahasiswa se Sumatera Barat,
3. Pelajar se Sumatera Barat,
4. Masyarakat umum pecinta sastra se Sumatera Barat dan sekitarnya.
IV. WAKTU DAN TEMPAT
Seminar dan Launching Novel ini direncanakan pada:
Hari : Minggu
Tanggal : 14 Maret 2010
Pukul : 09.00 WIB s/d 16.00 WIB
Tempat : Gedung M. Syafe’i Padangpanjang
V. PEMBICARA/PEMBEDAH
1. Dianing Widya Yudhistira (Novelis/Jakarta)
2. Roidah (Novelis/Padang)
VI. PELAKSANA ACARA
Acara ini sepenuhnya diorganisasi oleh Kuflet Even Organizer, yang merupakan EO dari Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, dengan struktur kepanitiaan:
Penanggung Jawab : 1. Penasihat Komunitas Seni Kuflet
2. Ketua Komunitas Seni Kuflet
Ketua Panitia : Muhammad Subhan
Sekretaris/Bendahara : Vivi Astari
SEKSI-SEKSI
1. Seksi Acara : Zaki Mandala Putra (Koordinator)
Sandy
Noevza Wetri
Wessy
2. Seksi Tempat/Perlengkapan/Humas/Dokumentasi
: Afdhal (Koordinator)
Syarif Hidayatullah
Yulhendra
Rika S
Ipunk
3. Seksi Konsumsi : Afleni (Koordinator)
Erna
Riri
Yeni
4. Seksi Bazaar : Rika M (Koordinator)
Dona
VII. PERKIRAAN ANGGARAN YANG DIBUTUHKAN
Untuk suksesnya pelaksanaan kegiatan ini panitia membutuhkan sejumlah dana, yang diperkirakan sebagai berikut:
1. Sewa Gedung : Rp 800.000,-
2. Pembuatan Pamflet 1 rem : Rp 800.000,-
3. Pembuatan Baliho Ukuran 4 m x 6 m : Rp 600.000,-
4. Spanduk Rentang Ukuran 1 m x 5 m : Rp 300.000,-
5. Honor Pembicara 1 (Jakarta) : Rp 2.000.000,-
6. Honor Pembicara 2 (Padang) : Rp 1.000.000,-
7. Honor Baca Puisi 3 Penyair Cilik : Rp 200.000,-
8. Konsumsi + Snack 200 Peserta @Rp10.000,- : Rp 2.000.000,-
9. Cetak Piagam 200 lbr @Rp1.500,- : Rp 300.000,-
10. Administrasi + Transportasi Panitia : Rp 1.000.000,-
TOTAL : Rp 9.000.000,-
Terbilang: Sembilan Juta Rupiah
VIII. PENGHARGAAN KERJASAMA
Pihak-pihak yang membantu kegiatan ini, maka panitia memberikan penghargaan dalam bentuk:
1. Pemuatan Logo/Lambang Instansi/Perusahaan pada Spanduk/Baliho/Banner/Brosur Acara
2. Penyebutan Nama Sponsor oleh MC
3. Mendapatkan Piagam Penghargaan Sebagai Tanda Terima Kasih
4. Dan lain-lain
IX. PENUTUP
Demikian Proposal ini kami buat dengan sebenarnya, harapan kami Bapak/Ibu berkenan membantu sehingga acara ini dapat berjalan baik dan berakhir sukses.
Atas perhatian dan kerjasama yang diberikan sebelumnya kami sampaikan terima kasih.
Wassalam
Kuflet Even Organizer
MUHAMMAD SUBHAN
Ketua
VIVI ASTARI
Sekretaris
Mengetahui:
Penasihat/Pembina
Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang
SULAIMAN JUNED, S.Sn, M.Sn
Siapa Penulis Penulis Novel ”Cinta di Kota Serambi?”


Dialah Irzen Hawer. Ia lahir di Padangpanjang 19 September 1959. Tamatan IKIP Padang pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas FPBS ini, sekarang mengajar bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 1 Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Semasa kuliah ia aktif di Sanggar Prakarsa FPBS IKIP Padang. Aktif menulis cerpen, puisi, esai di sejumlah surat kabar, di antaranya Harian Haluan dan Harian Singgalang, Padang. Setiap tahun ia mengikuti lomba menulis cerita pendek ”LMCP Program Reguler” untuk guru-guru Bahasa Indonesia SMTA tingkat nasional. ”Cinta di Kota Serambi” adalah novel pertamanya yang diterbitkan Kuflet Publishing, Divisi Penerbitan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Kuflet menilai novelnya layak mendapatkan pasar dan diyakini bakal ’booming’, layaknya novel-novel yang ditulis penulis-penulis hebat lainnya. Sejak mengikuti pelatihan di Rumah Puisi Taufiq Ismail Irzen Hawer termotivasi menulis novel. Selain ”Cinta di Kota Serambi” novel keduanya adalah ”Gerhana di Kota Serambi” (akan terbit). Dua novel berkultur Minang dan ditulis dengan gaya yang sangat memikat. Bersama istri dan anak-anak tercinta ia tinggal di Jalan Rasuna Said RT 8, Kelurahan Kampung Manggis, Padangpanjang. (Muhammad Subhan)
Senin, 08 Februari 2010
Perantau Ongeh
Oleh: Muhammad Subhan
Mulia benar pepatah awak, “Karakatau Madang Diulu, Babauah Babungo Balun. Marantau Bujang Daulu, di Kampuang Paguno Balun”. Karena pepatah itu pula ‘urang saisuak’ di masa muda mereka beramai-ramai meninggalkan kampung halaman menuju daerah-daerah perantauan di berbagai pelosok tanah air, bahkan keluar negeri. Mengadu nasib. Dan, memang banyak yang berhasil.
Sutan Ongeh salah seorangnya. Beberapa tahun lalu dia tinggalkan kampung halaman merantau ke Jakarta ikut semendanya berdagang di pasar Tanah Abang. Dia merantau bukan karena belum berguna di kampung, tapi memang tidak berguna sama sekali. Semasa di kampung kerjanya cuma berjudi saja di lepau, mengganggu anak gadis orang yang lewat ke surau, menyabung ayam, dan suka begadang sambil mabuk-mabukan sesama teman sebayanya yang tak berguna pula.
Penat sudah orang kampung melihat perangai dia. Bermacam nasihat tak lagi termakan olehnya. Pak Kapolsek sudah bosan pula menangani kasusnya yang itu keitu saja. Tak jera-jera dia. Tak peduli dia sudah buat malu ninik mamaknya di kampung. Hukum adat pun hendak ditalakkan kepada dirinya, tapi menimbang raso dan pareso juga lembaga adat masih memberi belas kasihan. Maka, ketika semendanya pulang kampung, seorang mamaknya berbisik agar Sutan Ongeh diajak serta merantau ke Jakarta. Semendanya setuju. Sutan Ongeh setuju pula.
Di Jakarta Sutan Ongeh membantu semendanya berdagang kain. Singkat cerita, seiring tahun berganti, sukseslah dia berniaga di Ibukota. Sudah punya toko kain pula dia sekarang. Mainnya ekspor-impor. Jiwa bagaknya semasa di kampung dulu menjadikan dia orang cukup disegani di Tanah Abang. Tak seorang jua preman mengganggu usaha dia.
Karena sudah merasa berhasil di negeri orang, teringatlah Sutan Ongeh pada kampung halaman. Apalagi sekarang sudah berbini pula dia. Gadis Betawi pilihannya. Cantik tentunya. Buah perkawinannya itu dapatlah dia dua orang putra, gagah-gagah perawakannya. Seperti dirinya semasa muda dulu.
Sebagai perantau sukses tentu telah necis pula gayanya. Pulang ke kampung beroto sedan. Ada ajudan pula yang jadi sopirnya. Dasar Sutan Ongeh, ongeh pula cara dia bicara, berjalan, dan makan. Melihat orang dengan sudut mata saja. Karena dia sudah jadi orang kaya segan juga orang kampung kepadanya.
Salah seorang kawannya di masa muda dulu, Sutan Ongok, tak mau berdekat-dekat dengan dia. Takut tertular sifat “ongeh” si Sutan Ongeh. Biarlah mancalik-calik saja dari jauh, katanya. Sejak “jadi orang” di rantau, Sutan Ongeh memilih-milih kawan pula. Begitupun, kalau diminta menderma di surau, dia sebutkan kepada pengurus surau agar menulis namanya besar-besar di papan pengumuman; “Infak dari Sutan Ongeh (Jakarta) sebesar Rp15 juta”. Meski pengurus tahu itu riya, tapi karena surau juga butuh uang, diterima saja permintaan Sutan Ongeh. Yang penting ada pemasukan. Kalau tidak siapa pula yang akan menyumbang ke surau, pikir pengurus. Jemaah biasa paling beri infak uang recehan.
Semakin muaklah Sutan Ongok melihat perangai Sutan Ongeh. Dari dulu hingga sekarang tak lepas-lepas ongehnya. Tercium juga kalau Sutan Ongeh berminat pula jadi calon “kada”, maksudnya calon kepala daerah. Ya, helat Pilkada tak lama lagi digelar. Gelagatnya itu terlihat sejak akhir-akhir ini dia sering pulang kampung, membuat acara ini-itu. Jika benar maksudnya ingin jadi “kada”, ini yang membuat resah Sutan Ongok. Akan jadi apa negeri ini kalau punya pemimpin ongeh seperti itu?
Tapi dia tak mau ambil pusing. Usai shalat Ashar di surau, Sutan Ongok berdoa dengan amat khusyuk: “Ya Rabbi, pertemukan kami kepada pemimpin-pemimpin yang amanah. Bertanggung jawab dan berjiwa mulia. Jauhkan kami dari pemimpin-pemimpin jahat yang mementingkan diri dan kelompoknya saja. Ya Allah, jadikan kami rakyat yang pandai bersyukur dan bersabar dalam menghadapi setiap ujian, amin tsumma amin… []
Mulia benar pepatah awak, “Karakatau Madang Diulu, Babauah Babungo Balun. Marantau Bujang Daulu, di Kampuang Paguno Balun”. Karena pepatah itu pula ‘urang saisuak’ di masa muda mereka beramai-ramai meninggalkan kampung halaman menuju daerah-daerah perantauan di berbagai pelosok tanah air, bahkan keluar negeri. Mengadu nasib. Dan, memang banyak yang berhasil.
Sutan Ongeh salah seorangnya. Beberapa tahun lalu dia tinggalkan kampung halaman merantau ke Jakarta ikut semendanya berdagang di pasar Tanah Abang. Dia merantau bukan karena belum berguna di kampung, tapi memang tidak berguna sama sekali. Semasa di kampung kerjanya cuma berjudi saja di lepau, mengganggu anak gadis orang yang lewat ke surau, menyabung ayam, dan suka begadang sambil mabuk-mabukan sesama teman sebayanya yang tak berguna pula.
Penat sudah orang kampung melihat perangai dia. Bermacam nasihat tak lagi termakan olehnya. Pak Kapolsek sudah bosan pula menangani kasusnya yang itu keitu saja. Tak jera-jera dia. Tak peduli dia sudah buat malu ninik mamaknya di kampung. Hukum adat pun hendak ditalakkan kepada dirinya, tapi menimbang raso dan pareso juga lembaga adat masih memberi belas kasihan. Maka, ketika semendanya pulang kampung, seorang mamaknya berbisik agar Sutan Ongeh diajak serta merantau ke Jakarta. Semendanya setuju. Sutan Ongeh setuju pula.
Di Jakarta Sutan Ongeh membantu semendanya berdagang kain. Singkat cerita, seiring tahun berganti, sukseslah dia berniaga di Ibukota. Sudah punya toko kain pula dia sekarang. Mainnya ekspor-impor. Jiwa bagaknya semasa di kampung dulu menjadikan dia orang cukup disegani di Tanah Abang. Tak seorang jua preman mengganggu usaha dia.
Karena sudah merasa berhasil di negeri orang, teringatlah Sutan Ongeh pada kampung halaman. Apalagi sekarang sudah berbini pula dia. Gadis Betawi pilihannya. Cantik tentunya. Buah perkawinannya itu dapatlah dia dua orang putra, gagah-gagah perawakannya. Seperti dirinya semasa muda dulu.
Sebagai perantau sukses tentu telah necis pula gayanya. Pulang ke kampung beroto sedan. Ada ajudan pula yang jadi sopirnya. Dasar Sutan Ongeh, ongeh pula cara dia bicara, berjalan, dan makan. Melihat orang dengan sudut mata saja. Karena dia sudah jadi orang kaya segan juga orang kampung kepadanya.
Salah seorang kawannya di masa muda dulu, Sutan Ongok, tak mau berdekat-dekat dengan dia. Takut tertular sifat “ongeh” si Sutan Ongeh. Biarlah mancalik-calik saja dari jauh, katanya. Sejak “jadi orang” di rantau, Sutan Ongeh memilih-milih kawan pula. Begitupun, kalau diminta menderma di surau, dia sebutkan kepada pengurus surau agar menulis namanya besar-besar di papan pengumuman; “Infak dari Sutan Ongeh (Jakarta) sebesar Rp15 juta”. Meski pengurus tahu itu riya, tapi karena surau juga butuh uang, diterima saja permintaan Sutan Ongeh. Yang penting ada pemasukan. Kalau tidak siapa pula yang akan menyumbang ke surau, pikir pengurus. Jemaah biasa paling beri infak uang recehan.
Semakin muaklah Sutan Ongok melihat perangai Sutan Ongeh. Dari dulu hingga sekarang tak lepas-lepas ongehnya. Tercium juga kalau Sutan Ongeh berminat pula jadi calon “kada”, maksudnya calon kepala daerah. Ya, helat Pilkada tak lama lagi digelar. Gelagatnya itu terlihat sejak akhir-akhir ini dia sering pulang kampung, membuat acara ini-itu. Jika benar maksudnya ingin jadi “kada”, ini yang membuat resah Sutan Ongok. Akan jadi apa negeri ini kalau punya pemimpin ongeh seperti itu?
Tapi dia tak mau ambil pusing. Usai shalat Ashar di surau, Sutan Ongok berdoa dengan amat khusyuk: “Ya Rabbi, pertemukan kami kepada pemimpin-pemimpin yang amanah. Bertanggung jawab dan berjiwa mulia. Jauhkan kami dari pemimpin-pemimpin jahat yang mementingkan diri dan kelompoknya saja. Ya Allah, jadikan kami rakyat yang pandai bersyukur dan bersabar dalam menghadapi setiap ujian, amin tsumma amin… []
Minggu, 07 Februari 2010
Festival Serambi Mekah Padang Panjang Apa Kabarnya?
Catatan: Muhammad Subhan
Apa kabarnya Festival Serambi Mekah Padang Panjang? Belum terbetik berita akan digelar. Dulu direncanakan akhir tahun 2009. Mungkin karena menghormati korban gempa. Memang, gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009 lalu masih menyisakan trauma, tak terkecuali di Padang Panjang. Tapi sayang juga kalau tidak digelar. Soalnya tahun-tahun sebelumnya festival tersebut cukup menarik perhatian masyarakat. Nilai promosinya bagi Padang Panjang tentu akan tinggi pula. Orang akan melirik negeri awak.
Festival Pedati Nusantara Bukittinggi akhir tahun lalu rencananya juga batal digelar. Tapi Bukittinggi tidak ingin kehilangan momen. Pedati tetap diadakan di Lapangan Kantin Bukittinggi dengan mengangkat tema spirit baru Sumatera Barat pascagempa. Ya, semacam motivasi agar rakyat Sumatera Barat tidak terus menerus larut dalam duka. Orang yang datang ramai juga. Meski tidak seramai seperti tahun-tahun sebelumnya.
Nah, Padang Panjang kapan menggelar Festival Serambi Mekah? Atau memang tidak ada sama sekali? Tidak baik pula berlarut-larut dalam duka. Dinas terkait yang berwenang terhadap kegiatan yang telah dicetus ini harus merencanakan kembali. Walau waktu kegiatan yang direncanakan sebelumnya sudah lewat, tidak soal, dan masyarakat maklum juga.
Dan, nanti dalam festival ini apa yang akan “dijual” Padang Panjang? Apa yang menjadi ciri khas Padang Panjang sehingga perlu didatangi orang dari berbagai daerah, tak hanya di Sumatera Barat namun juga dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air bahkan luar negeri? Tentu ini kerja keras panitia penyelanggara. Semua pihak yang layak diminta sumbang sarannya diajak duduk bersama. Tunjuannya, tentu, agar Festival Serambi Mekah memiliki nilai plus dari tahun-tahun sebelumnya.
Di Indonesia, negeri berjulukan Serambi Mekah cuma dua, yaitu Daerah Istimewa Aceh dan Kota Padang Panjang. Aceh sebuah Provinsi yang menaungi sejumlah kabupaten/kota di dalamnya yang melaksanakan penegakan Syariat Islam secara kaffah. Sedangkan Padang Panjang sebuah kota di dalam administratif Provinsi Sumatera Barat. Namun kedua-duanya memiliki nilai plus, sama-sama Kota Serambi Mekah, yang benar-benar istimewa dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air.
Karena berjuluk Serambi Mekah ini pula, pada setiap momen Festival Serambi Mekah di Padang Panjang diagendakan pula kegiatan-kegiatan berbau “Mekah” (baca: Islami). Misal, lomba busana muslim antarpegawai perempuan di masing-masing SKPD, lomba MCK terbersih baik di kantor pemerintahan, swasta, hotel/rumah makan, maupun rumah-rumah warga. Bukankah Islam suka dengan kebersihan? “Kebersihan sebahagian dari iman,” kata hadis. Selayaknya yang kecil-kecil seperti ini harus menjadi perhatian.
Ada yang mengeluh, seorang pengunjung masuk ke rumah makan di pasar Padang Panjang, kebelet buang air lalu menumpang di kamar kecil di rumah makan tersebut. Namun alangkah kagetnya ia karena kamar kecil itu joroknya minta ampun. Bau! Padahal dari luar rumah makan itu cukup bersih. Tapi kenapa di belakangnya tak mencerminkan kebersihan di luarnya? Masalah-masalah sepele seperti ini tentu akan merusak citra Padang Panjang sebagai Kota Serambi Mekah. Kata pepatah, “gara-gara setitik nila rusak susu sebelanga”.
Festival Serambi Mekah yang dipusatkan di Lapangan Kantin Padang Panjang (atau di lapangan manapun), saya kira hanya “simbol pemersatu” semangat dari seluruh warna dan kegiatan Islami di Kota Padang Panjang. Yang terpenting dari itu adalah, seluruh warga bahu membahu mewujudkan Padang Panjang benar-benar sebagai daerah yang menjunjung Syariat Islam di dalam kehidupan sehari-hari.
Bagus juga nanti, dalam rangkaian Festival itu diberikan juga Award kepada rumah makan yang benar-benar bersih WC/kamar kecilnya, termasuk juga WC/kamar kecil kantor-kantor SKPD yang tentu jarang “di-Sidak” oleh pimpinan kota. Memang sepele, tapi dampaknya akan cukup besar jika tidak mendapat perhatian.
Kita berharap, semoga Padang Panjang tetap menjadi kota Serambi Mekah sepanjang masa. Tentu bukan tugas pemerintah kota saja, melainkan juga didukung penuh oleh sikap dan perilaku masyarakat yang Islami. Kita tunggu gebrakan itu dalam Festival Serambi Mekah. Tabik!
Apa kabarnya Festival Serambi Mekah Padang Panjang? Belum terbetik berita akan digelar. Dulu direncanakan akhir tahun 2009. Mungkin karena menghormati korban gempa. Memang, gempa bumi yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009 lalu masih menyisakan trauma, tak terkecuali di Padang Panjang. Tapi sayang juga kalau tidak digelar. Soalnya tahun-tahun sebelumnya festival tersebut cukup menarik perhatian masyarakat. Nilai promosinya bagi Padang Panjang tentu akan tinggi pula. Orang akan melirik negeri awak.
Festival Pedati Nusantara Bukittinggi akhir tahun lalu rencananya juga batal digelar. Tapi Bukittinggi tidak ingin kehilangan momen. Pedati tetap diadakan di Lapangan Kantin Bukittinggi dengan mengangkat tema spirit baru Sumatera Barat pascagempa. Ya, semacam motivasi agar rakyat Sumatera Barat tidak terus menerus larut dalam duka. Orang yang datang ramai juga. Meski tidak seramai seperti tahun-tahun sebelumnya.
Nah, Padang Panjang kapan menggelar Festival Serambi Mekah? Atau memang tidak ada sama sekali? Tidak baik pula berlarut-larut dalam duka. Dinas terkait yang berwenang terhadap kegiatan yang telah dicetus ini harus merencanakan kembali. Walau waktu kegiatan yang direncanakan sebelumnya sudah lewat, tidak soal, dan masyarakat maklum juga.
Dan, nanti dalam festival ini apa yang akan “dijual” Padang Panjang? Apa yang menjadi ciri khas Padang Panjang sehingga perlu didatangi orang dari berbagai daerah, tak hanya di Sumatera Barat namun juga dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air bahkan luar negeri? Tentu ini kerja keras panitia penyelanggara. Semua pihak yang layak diminta sumbang sarannya diajak duduk bersama. Tunjuannya, tentu, agar Festival Serambi Mekah memiliki nilai plus dari tahun-tahun sebelumnya.
Di Indonesia, negeri berjulukan Serambi Mekah cuma dua, yaitu Daerah Istimewa Aceh dan Kota Padang Panjang. Aceh sebuah Provinsi yang menaungi sejumlah kabupaten/kota di dalamnya yang melaksanakan penegakan Syariat Islam secara kaffah. Sedangkan Padang Panjang sebuah kota di dalam administratif Provinsi Sumatera Barat. Namun kedua-duanya memiliki nilai plus, sama-sama Kota Serambi Mekah, yang benar-benar istimewa dari daerah-daerah lainnya di Tanah Air.
Karena berjuluk Serambi Mekah ini pula, pada setiap momen Festival Serambi Mekah di Padang Panjang diagendakan pula kegiatan-kegiatan berbau “Mekah” (baca: Islami). Misal, lomba busana muslim antarpegawai perempuan di masing-masing SKPD, lomba MCK terbersih baik di kantor pemerintahan, swasta, hotel/rumah makan, maupun rumah-rumah warga. Bukankah Islam suka dengan kebersihan? “Kebersihan sebahagian dari iman,” kata hadis. Selayaknya yang kecil-kecil seperti ini harus menjadi perhatian.
Ada yang mengeluh, seorang pengunjung masuk ke rumah makan di pasar Padang Panjang, kebelet buang air lalu menumpang di kamar kecil di rumah makan tersebut. Namun alangkah kagetnya ia karena kamar kecil itu joroknya minta ampun. Bau! Padahal dari luar rumah makan itu cukup bersih. Tapi kenapa di belakangnya tak mencerminkan kebersihan di luarnya? Masalah-masalah sepele seperti ini tentu akan merusak citra Padang Panjang sebagai Kota Serambi Mekah. Kata pepatah, “gara-gara setitik nila rusak susu sebelanga”.
Festival Serambi Mekah yang dipusatkan di Lapangan Kantin Padang Panjang (atau di lapangan manapun), saya kira hanya “simbol pemersatu” semangat dari seluruh warna dan kegiatan Islami di Kota Padang Panjang. Yang terpenting dari itu adalah, seluruh warga bahu membahu mewujudkan Padang Panjang benar-benar sebagai daerah yang menjunjung Syariat Islam di dalam kehidupan sehari-hari.
Bagus juga nanti, dalam rangkaian Festival itu diberikan juga Award kepada rumah makan yang benar-benar bersih WC/kamar kecilnya, termasuk juga WC/kamar kecil kantor-kantor SKPD yang tentu jarang “di-Sidak” oleh pimpinan kota. Memang sepele, tapi dampaknya akan cukup besar jika tidak mendapat perhatian.
Kita berharap, semoga Padang Panjang tetap menjadi kota Serambi Mekah sepanjang masa. Tentu bukan tugas pemerintah kota saja, melainkan juga didukung penuh oleh sikap dan perilaku masyarakat yang Islami. Kita tunggu gebrakan itu dalam Festival Serambi Mekah. Tabik!
Langganan:
Postingan (Atom)